- Beranda
- Stories from the Heart
Legend of Seal Online {The Prologue}
...
TS
dragonregure
Legend of Seal Online {The Prologue}
Sebelumnya salam buat all Kaskuser, ane newbie yang hanya ingin meng-share cerita Asli karangan ane 100% 
Cerita ini terinspirasi dari salah satu game Online kesayangan ane dahulu, sekarang udah engga soalnya cheat dimana-mana

Seal Online Indonesia
Ya itu nama game yang sukses ngebuat TS menjadi seorang gamers
Maaf ya kalau Thread TS engga sengaja melanggar Rules mohon di tegur krn TS baru disini
Cerita ini hanya 100% karangan TS dan fiksi belaka, mohon maaf apabila tidak sesuai dengan story di game nya. Emang sengaja dibikin beda dengan aslinya (Story digamenya
)
dan buat kaskuser lainnya mohon patuhi Rules STFH sebelum post
Chapter 1: Woke Up
Chapter 2: Titan Skull
Chapter 3: Elme
Chapter 4: Shiltz
Chapter 5: Thousand Years
Chapter 6: Oracle
Chapter 7: Man With No Magic
Chapter 8: Destinied Showdown
Chapter 9: Dragon's Pupil
Chapter 10: 251
Chapter 11: Deadly Friday
Chapter 12: CamaPro
Chapter 13: Captain Jay
Chapter 14: Captain Jay?!
Chapter 15: Captain Jay?! 2
Chapter 16: Jikael Dual Blade
Chapter 17: Training!
Oh iya sekarang sudah ada Side Storynya loh!
Legend of Seal Online {Ryankakku}
Jika berkenan


Cerita ini terinspirasi dari salah satu game Online kesayangan ane dahulu, sekarang udah engga soalnya cheat dimana-mana

Seal Online Indonesia
Ya itu nama game yang sukses ngebuat TS menjadi seorang gamers

Spoiler for Sebelum Baca, Baca ini dulu gan!:
Maaf ya kalau Thread TS engga sengaja melanggar Rules mohon di tegur krn TS baru disini

Cerita ini hanya 100% karangan TS dan fiksi belaka, mohon maaf apabila tidak sesuai dengan story di game nya. Emang sengaja dibikin beda dengan aslinya (Story digamenya
)dan buat kaskuser lainnya mohon patuhi Rules STFH sebelum post
Spoiler for Indeks:
Chapter 1: Woke Up
Chapter 2: Titan Skull
Chapter 3: Elme
Chapter 4: Shiltz
Chapter 5: Thousand Years
Chapter 6: Oracle
Chapter 7: Man With No Magic
Chapter 8: Destinied Showdown
Chapter 9: Dragon's Pupil
Chapter 10: 251
Chapter 11: Deadly Friday
Chapter 12: CamaPro
Chapter 13: Captain Jay
Chapter 14: Captain Jay?!
Chapter 15: Captain Jay?! 2
Chapter 16: Jikael Dual Blade
Chapter 17: Training!
Oh iya sekarang sudah ada Side Storynya loh!
Legend of Seal Online {Ryankakku}
Jika berkenan
Quote:

Diubah oleh dragonregure 24-10-2017 12:12
anasabila memberi reputasi
1
17.5K
Kutip
109
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dragonregure
#67
Sorry agan2, ane baru bisa Update, baru bisa buka Kaskus hahaha 
Sudah lebih dari satu jam Will dan Jim saling serang satu sama lain, tak ada tanda-tanda tumbangnya Will membuat para penonton semakin panas. Matahari mulai menunduk dibarat menandakan batas waktu perjanjian kebebasan Will hampir terpenuhi.
Will mencoba terus menjaga jarak dari Jim dan melakukan serangan-serangan yang dapat memperlambat pergerakan Jim.
"Ada apa Will? Naga kecil terlalu takut mendapatkan luka?" Tantang Jim.
Will hanya diam, gerakan kakinya yang sangat cepat membuat Jim kewalahan mengikutinya, namun Will lengah, ia tak sadar Jim menggiringnya ke sisi selatan arena dan memojokkannya. Will mencoba memutar arah dan kembali menjauh tapi tebasan pedang Jim tepat mengenai tubuh bagian kirinya.
"Shock Impact!"
"Ugh!" Erang Will
Will terpental jauh kekiri, ia berusaha berdiri namun tubuhnya tidak dapat digerakan karena efek paralyze. Jim kembali berlari kearah Will dengan pedang bersiap untuk serangan berikutnya. Will berusaha melompat kebelakang untuk menghindari serangan yang akan ia terima namun tubuhnya masih sulit untuk bergerak.
"Deadly Crash!"
Kembali pedang Jim telak mengenai perut Will diikuti dengan ledakan besar. Will terlempar jauh ke sisi timur arena dan terjatuh. Penonton bersorak.
Will berusaha bangun, darah bercucuran dari kepala dan mulutnya, perutnya menghitam.
"Haha, menghadapi seorang knight yang menguasai teknik Destroyer dan Paladin benar-benar sulit." Ucap Will.
Ia berusaha menahan sakit yang tak tertahankan dari perutnya. Dari kejauhan Jim hanya menatapnya dingin.
"Katakan Will, kenapa kau bersikeras menentang Order of Holy Knights? Kita berdua bisa saja menjadi dua knights tertinggi di Shiltz."
"Di dunia ini.." Jawab Will, "Aku dan juga kau pernah sumpah setia kepada satu orang, sahabat kita, apa kau lupa?"
Jim terdiam, raut wajahnya berubah sedih.
"Kau mengejar orang yang sudah tidak a-"
"JANGAN PERNAH! JANGAN SEKALI-KALI KAU BERKATA CLOUD SUDAH MATI!" Raung Will. Dengan kesusahan ia mengatur nafasnya lalu menatap langit yang mulai gelap.
"Aku tau dia masih hidup Jim. Aku tau dia masih ada diluar sana, dia tidak mungkin mati dengan mudah didunianya sendiri." lanjut Will
"Sudah lima tahun Will.."
"Aku tidak peduli bahkan jika harus menunggu seumur hidup, sampai aku melihat mayatnya."
"Tak ada gunanya aku berbicara padamu.. Menyerah sekarang dan bersumpah akan setia pada Holy Knights dan aku akan mengampuni nyawamu atau mati ditanganku sebagai pengkhianat."
"Kau mengancam murid dari seekor naga?" Will kembali serius, ia memasang kuda-kuda dengan pedang Gaia di belakang tubuhnya seolah-olah siap menebas udara.
"Slash? dari jarah sejauh itu? kau bercanda."
Will terdiam, ia bernafas panjang dan pelan. Dari kejauhan Jim kembali berlari kearah Will.
"Original Dragon Technique: Dragon Slash!!" Will mengayunkan pedangnya dan mengeluarkan Gelombang hitam panjang yang sangat besar dan dengan cepat melesat kearah Jim.
Gelombang itu mengaum seperti naga yang hidup. Jim sadar kalau gelombang itu terlalu kuat untuk ia tahan, ia berlari kekanan berharap sempat menghindari Gelombang itu. Namun usahanya sia-sia.
"Infinite Guard!" Jim berusaha meminimalisir kerusakan yang akan ia terima. Kembali bola hijau muncul menyelubungi tubuh Jim dan melindunginya dari serangan Will. Jim terkejut melihat ada satu lagi bola pelindung berwarna emas melindungi tubuhnya. Ia melihat ke tribun para raja dan menemukan Veurish menyatukan kedua tangannya membentuk pola casting Magic.
Gelombang naga Will menghantam tubuh Jim dan melewatinya seolah-olah pelindung Jim tidak ada apa-apanya, gelombang itu terus melesat kesisi Barat dan membentur tembok Arena. Gelombang itu menghilang dan membuat lubang sempurna ditembok arena, lubang itu begitu besar dan dalam sehingga memperlihatkan kota Elim yang berada diluar Colosseum. Seketika tribun barat penonton ambruk.
Kejadian itu begitu cepat, para bantuan medis menolong orang-orang yang jatuh dari tribun yang ambruk. kepulan debu masih sangat tebal, dan tidak memperlihatkan dimana sang Knight tertinggi. Veurish dan penonton sudah mulai panik. Ketika debu sudah mulai menipis para penonton terkejut dengan apa yang ada didepan mata mereka, hampir seluruh lantai arena Colosseum hancur berkeping-keping, namun bukan itu yang membuat mereka terkejut.
Terlihat Will bertumpu pada pedangnya dan Jim berada dibelakangnya dengan pedang yang menempel di leher Will.
"jadi kau sempat menghindar didetik terakhir?" Ucap Will tenang.
Jim terengah-engah.
"Ada kata-kata terakhir?" Ucap Jim kesusahan.
Will tersenyum.
"Aku akan menemukan Cloud bagaimanapun caranya"
Jim mengangkat pedangnya dan bersiap menebas leher sahabatnya sendiri. Para penonton bahkan yang terluka menahan nafas ingin melihat momen terakhir dari sang Dragon Slayer. Tapi tiba-tiba Will berbalik.
"STOOOOOOOOOOP!!!" Teriak Will.
Jim terperanjat.
"Hahahaha, pertarungan yang menyenangkan kawan tapi waktu perjanjian sudah habis." Ucap Will santai.
Jim tersadar ia terlalu asik dengan pertarungannya, ia menoleh kepada Mogdoon untuk meminta kepastian. Dengan ekspresi yang kecewa Mogdoon mengangguk menandakan apa yang dikatakan Will benar. Mogdoon menarik nafas dalam-dalam, dengan lantang ia mengumumkan pertarungan dimenangkan oleh Will.
mendengar keputusan itu para penonton bersorak dan mengeluarkan sumpah serapah bersamaan.
"Hahahahahaha, ngomong-ngomong yang terakhir itu sakit sekali." Ucap will sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
Jim menepis tangan will dan berjalan menuju salah satu pintu Colosseum kemudian menghilang dikegelapan.
"Mati sana Sampah!"
"Jangan pikir dengan kau menang kami dapat menerima mu!"
Kembali satu persatu sumpah penonton tertuju pada Will. Namun Will tidak peduli, ia melihat Gaia yang berada ditangannya.
"Terima kasih guru." Ucapnya lembut. Dengan keras ia menancapkan Gaia ketanah dan berbalik kepada Veurish.
"Hey Veur!! Kumohon jaga pedang milik pak tua ya! dan Jubah ini pemberian pak tua kepadaku, jadi aku akan membawanya. Hahahaha!"
Veurish menatap Will dingin dan segera beranjak pergi diikuti oleh Mogdoon. Will tersenyum kemudian berjalan menuju salah satu pintu Colosseum dengan sesekali menghindari lemparan batu kearahnya.
Ia pun menghilang kedalam kegelapan pintu Colosseum.
******************************************************************************************************
Jim menyusuri lorong kastil, sesekali ia tersenyum ketika beberapa knight berpapasan dan menunduk padanya. Ia sampai disuatu aula besar dan disapa oleh segerombolan knight dengan Armor of Daylight.
"Hey Captain! Pertandingan yang luar biasa, sayang kau tidak mengakhirinya disaat-saat terakhir.." ucap salah satu knight dengan rambut pendek hitam gelap.
Will menatap tajam padanya.
"Demetrian! beraninya kau mengejek Captain!" ucap seorang Knight perempuan sambil memukul kepala Knight berambut gelap.
"Ouch! Sakit Mel! Kau tidak bisa diajak bercanda, ya kan Ghauz?" Ucap Demetrian sambil menoleh kepada Knight bertubuh sangat besar.
Knight bernama Ghouz itu hanya terdiam lalu pergi meninggalkan mereka.
"Ada apa dengan semua orang hari ini, kalian terlalu serius!" Protes Demetrian.
Melinda kembali memukul kepala Demetrian.
"Tidakah kau mengerti Captain baru saja melawan Sahabatnya sendiri?!"
Jim meninggalkan mereka berdua saling adu mulut. Ia kembali menyusuri lorong dan terkejut saat melihat Veursih telah menunggu didepan kamarnya.
"Yang Mulia." Ucap Jim refleks sembari berlutut.
"Bangun, ikut aku." Perintah Veurish.
Jim mengikuti Ratunya menyusuri lorong dan koridor dan akhirnya sampai didalam kamar pribadi Veurish.
"Veur, kita akan dapat masalah ap-"
"PLAK!!"
Veurish menampar keras pipi Jim.
"Sudah kubilang aku tidak peduli kau menang atau kalah!" Ucap Veurish dengan penuh anda kesal. "Kau hampir saja membunuh dirimu sendiri tadi!"
"Maafkan aku.."
"Maaf tidak akan mengembalikanmu jika kau mati!" Balas Veurish berusaha menahan jatuh air matanya.
Jim menunduk.
"Seberapa parah lukanya?" Tanya Veurish
Jim hanya terdiam.
"Perlihatkan padaku!" Bentak Veurish.
Dengan perlahan Jim membuka Armor lengan kirinya dan menjatuhkannya. Terlihat tangan kiri Jim menggantung hampir terputus dari pundaknya.
"Teknik itu.. Bukan teknik sembarangan." Ucap Jim, "Aku tidak tau kenapa tapi seolah-olah luka-luka ini menghisap semua energi yang ada dalam tubuhku. Bahkan tak ada satu tetes pun darah yang keluar. Aku kapok melawan Murid Seekor Naga."
"PLAK!!"
Sekali lagi Veursih menampar Jim.
"Maafkan ak-" Belum sempat Jim menyelesaikan kalimatnya. Bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Veurish.
Jim merasakan energi Vinagh mengalir kedalam tubuhnya dan merasakan reaksi dari tangan kirinya.
Veurish melepaskan kecupannya dan menatap hangat kepada Jim.
Jim tersenyum tipis, "Aku masih tak bisa berhenti kagum dengan cara Forest Elf menyembuhkan luka."
"Ma-mau bagaimana lagi, ini cara Forest Elf yang terbaik.. La-lagi pula ini lebih efektif dengan kekuatan Vinagh." Balas Veurish dengan wajah yang mulai memerah.
Veurish menarik tangan kanan Jim dan menuntunnya menuju tempat tidurnya.
"Luka mu sangat parah.. Aku bahkan tidak tau apakah aku bisa menyembuhkannya."
"Ini akan berlangsung lama."
Veurish kembali mencium Jim.
Monggo..

Quote:
Dragon's Pupil
Sudah lebih dari satu jam Will dan Jim saling serang satu sama lain, tak ada tanda-tanda tumbangnya Will membuat para penonton semakin panas. Matahari mulai menunduk dibarat menandakan batas waktu perjanjian kebebasan Will hampir terpenuhi.
Will mencoba terus menjaga jarak dari Jim dan melakukan serangan-serangan yang dapat memperlambat pergerakan Jim.
"Ada apa Will? Naga kecil terlalu takut mendapatkan luka?" Tantang Jim.
Will hanya diam, gerakan kakinya yang sangat cepat membuat Jim kewalahan mengikutinya, namun Will lengah, ia tak sadar Jim menggiringnya ke sisi selatan arena dan memojokkannya. Will mencoba memutar arah dan kembali menjauh tapi tebasan pedang Jim tepat mengenai tubuh bagian kirinya.
"Shock Impact!"
"Ugh!" Erang Will
Will terpental jauh kekiri, ia berusaha berdiri namun tubuhnya tidak dapat digerakan karena efek paralyze. Jim kembali berlari kearah Will dengan pedang bersiap untuk serangan berikutnya. Will berusaha melompat kebelakang untuk menghindari serangan yang akan ia terima namun tubuhnya masih sulit untuk bergerak.
"Deadly Crash!"
Kembali pedang Jim telak mengenai perut Will diikuti dengan ledakan besar. Will terlempar jauh ke sisi timur arena dan terjatuh. Penonton bersorak.
Will berusaha bangun, darah bercucuran dari kepala dan mulutnya, perutnya menghitam.
"Haha, menghadapi seorang knight yang menguasai teknik Destroyer dan Paladin benar-benar sulit." Ucap Will.
Ia berusaha menahan sakit yang tak tertahankan dari perutnya. Dari kejauhan Jim hanya menatapnya dingin.
"Katakan Will, kenapa kau bersikeras menentang Order of Holy Knights? Kita berdua bisa saja menjadi dua knights tertinggi di Shiltz."
"Di dunia ini.." Jawab Will, "Aku dan juga kau pernah sumpah setia kepada satu orang, sahabat kita, apa kau lupa?"
Jim terdiam, raut wajahnya berubah sedih.
"Kau mengejar orang yang sudah tidak a-"
"JANGAN PERNAH! JANGAN SEKALI-KALI KAU BERKATA CLOUD SUDAH MATI!" Raung Will. Dengan kesusahan ia mengatur nafasnya lalu menatap langit yang mulai gelap.
"Aku tau dia masih hidup Jim. Aku tau dia masih ada diluar sana, dia tidak mungkin mati dengan mudah didunianya sendiri." lanjut Will
"Sudah lima tahun Will.."
"Aku tidak peduli bahkan jika harus menunggu seumur hidup, sampai aku melihat mayatnya."
"Tak ada gunanya aku berbicara padamu.. Menyerah sekarang dan bersumpah akan setia pada Holy Knights dan aku akan mengampuni nyawamu atau mati ditanganku sebagai pengkhianat."
"Kau mengancam murid dari seekor naga?" Will kembali serius, ia memasang kuda-kuda dengan pedang Gaia di belakang tubuhnya seolah-olah siap menebas udara.
"Slash? dari jarah sejauh itu? kau bercanda."
Will terdiam, ia bernafas panjang dan pelan. Dari kejauhan Jim kembali berlari kearah Will.
"Original Dragon Technique: Dragon Slash!!" Will mengayunkan pedangnya dan mengeluarkan Gelombang hitam panjang yang sangat besar dan dengan cepat melesat kearah Jim.
Gelombang itu mengaum seperti naga yang hidup. Jim sadar kalau gelombang itu terlalu kuat untuk ia tahan, ia berlari kekanan berharap sempat menghindari Gelombang itu. Namun usahanya sia-sia.
"Infinite Guard!" Jim berusaha meminimalisir kerusakan yang akan ia terima. Kembali bola hijau muncul menyelubungi tubuh Jim dan melindunginya dari serangan Will. Jim terkejut melihat ada satu lagi bola pelindung berwarna emas melindungi tubuhnya. Ia melihat ke tribun para raja dan menemukan Veurish menyatukan kedua tangannya membentuk pola casting Magic.
Gelombang naga Will menghantam tubuh Jim dan melewatinya seolah-olah pelindung Jim tidak ada apa-apanya, gelombang itu terus melesat kesisi Barat dan membentur tembok Arena. Gelombang itu menghilang dan membuat lubang sempurna ditembok arena, lubang itu begitu besar dan dalam sehingga memperlihatkan kota Elim yang berada diluar Colosseum. Seketika tribun barat penonton ambruk.
Kejadian itu begitu cepat, para bantuan medis menolong orang-orang yang jatuh dari tribun yang ambruk. kepulan debu masih sangat tebal, dan tidak memperlihatkan dimana sang Knight tertinggi. Veurish dan penonton sudah mulai panik. Ketika debu sudah mulai menipis para penonton terkejut dengan apa yang ada didepan mata mereka, hampir seluruh lantai arena Colosseum hancur berkeping-keping, namun bukan itu yang membuat mereka terkejut.
Terlihat Will bertumpu pada pedangnya dan Jim berada dibelakangnya dengan pedang yang menempel di leher Will.
"jadi kau sempat menghindar didetik terakhir?" Ucap Will tenang.
Jim terengah-engah.
"Ada kata-kata terakhir?" Ucap Jim kesusahan.
Will tersenyum.
"Aku akan menemukan Cloud bagaimanapun caranya"
Jim mengangkat pedangnya dan bersiap menebas leher sahabatnya sendiri. Para penonton bahkan yang terluka menahan nafas ingin melihat momen terakhir dari sang Dragon Slayer. Tapi tiba-tiba Will berbalik.
"STOOOOOOOOOOP!!!" Teriak Will.
Jim terperanjat.
"Hahahaha, pertarungan yang menyenangkan kawan tapi waktu perjanjian sudah habis." Ucap Will santai.
Jim tersadar ia terlalu asik dengan pertarungannya, ia menoleh kepada Mogdoon untuk meminta kepastian. Dengan ekspresi yang kecewa Mogdoon mengangguk menandakan apa yang dikatakan Will benar. Mogdoon menarik nafas dalam-dalam, dengan lantang ia mengumumkan pertarungan dimenangkan oleh Will.
mendengar keputusan itu para penonton bersorak dan mengeluarkan sumpah serapah bersamaan.
"Hahahahahaha, ngomong-ngomong yang terakhir itu sakit sekali." Ucap will sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
Jim menepis tangan will dan berjalan menuju salah satu pintu Colosseum kemudian menghilang dikegelapan.
"Mati sana Sampah!"
"Jangan pikir dengan kau menang kami dapat menerima mu!"
Kembali satu persatu sumpah penonton tertuju pada Will. Namun Will tidak peduli, ia melihat Gaia yang berada ditangannya.
"Terima kasih guru." Ucapnya lembut. Dengan keras ia menancapkan Gaia ketanah dan berbalik kepada Veurish.
"Hey Veur!! Kumohon jaga pedang milik pak tua ya! dan Jubah ini pemberian pak tua kepadaku, jadi aku akan membawanya. Hahahaha!"
Veurish menatap Will dingin dan segera beranjak pergi diikuti oleh Mogdoon. Will tersenyum kemudian berjalan menuju salah satu pintu Colosseum dengan sesekali menghindari lemparan batu kearahnya.
Ia pun menghilang kedalam kegelapan pintu Colosseum.
******************************************************************************************************
Jim menyusuri lorong kastil, sesekali ia tersenyum ketika beberapa knight berpapasan dan menunduk padanya. Ia sampai disuatu aula besar dan disapa oleh segerombolan knight dengan Armor of Daylight.
"Hey Captain! Pertandingan yang luar biasa, sayang kau tidak mengakhirinya disaat-saat terakhir.." ucap salah satu knight dengan rambut pendek hitam gelap.
Will menatap tajam padanya.
"Demetrian! beraninya kau mengejek Captain!" ucap seorang Knight perempuan sambil memukul kepala Knight berambut gelap.
"Ouch! Sakit Mel! Kau tidak bisa diajak bercanda, ya kan Ghauz?" Ucap Demetrian sambil menoleh kepada Knight bertubuh sangat besar.
Knight bernama Ghouz itu hanya terdiam lalu pergi meninggalkan mereka.
"Ada apa dengan semua orang hari ini, kalian terlalu serius!" Protes Demetrian.
Melinda kembali memukul kepala Demetrian.
"Tidakah kau mengerti Captain baru saja melawan Sahabatnya sendiri?!"
Jim meninggalkan mereka berdua saling adu mulut. Ia kembali menyusuri lorong dan terkejut saat melihat Veursih telah menunggu didepan kamarnya.
"Yang Mulia." Ucap Jim refleks sembari berlutut.
"Bangun, ikut aku." Perintah Veurish.
Jim mengikuti Ratunya menyusuri lorong dan koridor dan akhirnya sampai didalam kamar pribadi Veurish.
"Veur, kita akan dapat masalah ap-"
"PLAK!!"
Veurish menampar keras pipi Jim.
"Sudah kubilang aku tidak peduli kau menang atau kalah!" Ucap Veurish dengan penuh anda kesal. "Kau hampir saja membunuh dirimu sendiri tadi!"
"Maafkan aku.."
"Maaf tidak akan mengembalikanmu jika kau mati!" Balas Veurish berusaha menahan jatuh air matanya.
Jim menunduk.
"Seberapa parah lukanya?" Tanya Veurish
Jim hanya terdiam.
"Perlihatkan padaku!" Bentak Veurish.
Dengan perlahan Jim membuka Armor lengan kirinya dan menjatuhkannya. Terlihat tangan kiri Jim menggantung hampir terputus dari pundaknya.
"Teknik itu.. Bukan teknik sembarangan." Ucap Jim, "Aku tidak tau kenapa tapi seolah-olah luka-luka ini menghisap semua energi yang ada dalam tubuhku. Bahkan tak ada satu tetes pun darah yang keluar. Aku kapok melawan Murid Seekor Naga."
"PLAK!!"
Sekali lagi Veursih menampar Jim.
"Maafkan ak-" Belum sempat Jim menyelesaikan kalimatnya. Bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Veurish.
Jim merasakan energi Vinagh mengalir kedalam tubuhnya dan merasakan reaksi dari tangan kirinya.
Veurish melepaskan kecupannya dan menatap hangat kepada Jim.
Jim tersenyum tipis, "Aku masih tak bisa berhenti kagum dengan cara Forest Elf menyembuhkan luka."
"Ma-mau bagaimana lagi, ini cara Forest Elf yang terbaik.. La-lagi pula ini lebih efektif dengan kekuatan Vinagh." Balas Veurish dengan wajah yang mulai memerah.
Veurish menarik tangan kanan Jim dan menuntunnya menuju tempat tidurnya.
"Luka mu sangat parah.. Aku bahkan tidak tau apakah aku bisa menyembuhkannya."
"Ini akan berlangsung lama."
Veurish kembali mencium Jim.
Monggo..
Diubah oleh dragonregure 18-10-2018 22:00
0
Kutip
Balas