- Beranda
- Stories from the Heart
(Horror) Diary [TAMAT]
...
TS
ayanokouji
(Horror) Diary [TAMAT]
![(Horror) Diary [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/08/12/8901141_20160812100754.jpg)
Illustration courtesy of Awayaye
Halo, dan salam kenal buat agan-agan semua.
Perkenalkan saya anggota lama kaskus tapi newbie di forum SFTH.
Nah, berhubung saya lihat banyak yang menceritakan pengalamannya terutama untuk yang berbau-bau mistis. kebetulan saya dekat dengan seseorang yang memang punya kemampuan lebih untuk melihat yang semacam itu.
Cerita ini adalah berdasarkan kisah nyata, yang memang diambil langsung dari Diary dia
Langsung saja dimulai lah ya
Untuk Postingan pertama saya langsung Posting 2 part deh, karena prologue blum masuk ke cerita
Spoiler for Rules:
Atas permintaan yang punya Diary, mohon dibaca RULESnya sebelum membaca Diary ini ya :
1. Diary ini adalah hasil convert dari catatan di kertas menjadi bentuk elektronik. Jadi ini adalah benar-benar berasal dari Diary asli, kalau sampai ada yang baca dan tidak percaya, it's OK, tidak masalah tapi mohon jangan coba2 menantang apapun 'mahluk' yang disebutkan di Diary ini. Apabila terjadi sesuatu kami tidak bisa menolong.
2. Ini memang bukan urusan TS, tapi usahakan kalau sampai merasakan sesuatu yang tidak beres setelah baca isi Diary teman saya, harap dekatkan diri ke Tuhan segera. Karena seberapa besar Tuhan menolong itu tergantung dari iman kita ketika meminta. Dan percayalah, meminta saat belum melihat apapun dan ketika 'mereka' ada di depanmu itu akan menyebabkan bedanya besar Iman bagi yang tidak terbiasa.
Terimakasih sebelumnya, dan ingat baik2, jangan bermain-main dengan sesuatu dari dunia lain
Part I - Prologue (tanggal Diary - 3 September 2010)
Spoiler for Part I:
3 September 2010
Hallo Diary..
Mulai hari ini aku akan sedikit merubah apa yang aku tulis di dalam lembarmu yach..
Sebenarnya aku sih berniat tidak pernah berkeinginan untuk mengungkapkan rahasia ini, karena aku pasti akan dicap sebagai orang aneh..
Hanya kamu yang mau mendengarkan semua cerita aku tanpa mengeluh, mulai dari aku menyukai siapapun sampai sendirian seperti sekarang (hiks..hiks.. yahh aku tau, trims anyway)
Okay, jadi aku akan menceritakan pengalaman hari ini.. yaah ini kesekian kalinya sudah terjadi padaku, dan untuk teman sejatiku yaitu kamu my Diary, aku akan menuliskan ini, rahasiakan ini yaah..
Ceritanya aku akan mulai dari pengalaman tadi pagi..
Oh ya, sebelumnya aku akan kasihtau sedikit rahasia kepada kamu..
Kamu tau.. ehm.. aku ini bisa melihat hantu atau semacamnya.. guru Agamaku berkata ini adalah anugrah, menurutku lebih seperti kutukan.
Kamu tau, Diary? Mungkin tidak banyak orang yang tau, tapi hantu itu berbeda dengan setan atau semacamnya. Kalau misalkan diumpamakan, hantu itu lebih ke arwah orang-orang yang meninggal atau dalam Bahasa Inggris disebut dengan Ghost. Sedangkan setan bukan arwah, atau mungkin saja tadinya mereka arwah, yang pasti setan itu sudah lebih melewati tingkat keseraman dari Hantu. Dan diatas itu, masih ada lagi yang aku namakan jejadian. Nah, apabila setan itu bentuknya tidak dapat dikatakan bentuk apakah itu, kalau jejadian ini setidaknya sebagian besar dari bentuknya adalah bagian dari hewan-hewan.
Dan diary, dari kesialanku mendapatkan kutukan kemampuan ini, syukurlah aku hanya bisa melihat hantu saja. Yaah, kadang memang ada sedikit pengecualian, yang membuatku enggak tau kenapa bisa melihat yang lebih aneh daripada hantu.
But I tell you my Diary, melihat hantu saja sudah cukup menakutkan lho. Jangan dikira penampilan mereka itu normal-normal saja.. yahh, memang ada yang normal dan tersamar tapi hampir disetiap kejadian mereka akan menunjukkan wujud asli mereka kalau mereka tau kita bisa melihat mereka, dan mereka selalu tau kalau aku bisa melihat mereka.
Upps… sudah jam 11 ternyata, tadinya aku mau menceritakan kejadian penglihatan yang kulihat hari ini, tapi sudah terlalu malam nih, besok aku janji pasti akan cerita padamu dehhh, jangan ngambek yahh
See you tomorrow my Diary, Mulai hari ini aku akan melaporkannya padamu kalau aku melihat sesuatu yang aneh itu, hehe.. Nite
Part II - Misteri Toilet Wanita di lantai 7 - catatan tanggal 4 September 2010
Spoiler for Part II:
4 September 2010
Hallo friend,
As my promise stated, aku bakal ceritain hal yang kemarin terjadi sama aku. Jangan takut yaah, karena aku sudah cukup takut untuk mengingat-ingat ini, jadi tolong semangati aku (he..he..)
Oookay, cerita ini bermulai waktu aku bersama cindy sedang ada ditoilet di lantai 7 kampus kemarin siang setelah kuliah pak Zainul.
Ingatkan aku untuk memarahi Cindy nanti karena dia meninggalkan aku sendirian di toilet itu..
Kau dengar? Meninggalkan aku!
Berkat dia aku jadi melihat.. yahh, sesuatu yang jauh dari menyenangkan..
Sewaktu aku keluar dari bilik toilet dan mencari-cari Cindy, aku tidak menemukannya dimana-mana, aku rasa sih dia pergi buru-buru menemui pacarnya.. ya Tuhan, persahabatan kita hanya sebatas selama pacar tidak mengganggu.
Lalu aku berpikir, ya sudahlah, aku akan membetulkan make-up sebentar dan akan pergi ke food court, sepertinya #### belum datang menjemputku deh, setidaknya aku harus terlihat cantik kaan (he-he-he)
Tiba-tiba aku merasakan udara menjadi dingin, cukup untuk membuat bibirmu bergetar secara reflek.
Dan itu jelas-jelas tidak benar, toilet ini kan jelas-jelas pengap dan tanpa AC dimanapun. Dan otakku baru saja berpikir kalau ada yang tidak beres nih..
Tiba-tiba sudah berdiri seorang wanita dibelakangku, rambutnya panjang dan menutupi separuh mukanya, dia memakai baju kaus berwarna merah menyala dan celana jeans.
Aku langsung berbalik dan reflek berkata kalau dia membuatku kaget. Dan hal berikutnya yang terjadi membuatku hampir saja mengompol
Dia menempelkan mukanya tepat didepan mukaku, kulitnya benar-benar mengerikan, kau tau karpet yang ada tonjolan-tonjolannya begitu? Mukanya dan seluruh kulitnya penuh dengan seperti itu. Dan warna kulitnya sangat pucat, seperti warna krem kekuningan. Dan yang paling mengerikan dari semuanya adalah bola matanya, warna urat darah dibola matanya berwarna coklat kekuningan dan pupil matanya hitam dan bebercak merah.
Dari situ aku langsung tau kalau aku sedang bertemu dengan hantu, dan kali ini bukan hantu yang baik.
Perlahan-lahan dia mendekati aku, tapi tidak pernah menempel pada badanku, mukanya sangat dekat pada mukaku, dan tangannya yang dipenuhi dengan tonjolan-tonjolan itu juga menggapai tubuhku seakan ingin menyentuhku, tapi sentuhan itu tidak pernah terjadi.
Aku merasakan bahwa sekitar 1 jam dia hanya memandangiku saja, berkali-kali berusaha menempelkan dirinya pada badanku, tapi tidak pernah berhasil. Jujur Diary, aku tidak tau kenapa dia tidak bisa menyentuhku, tapi syukurlah karena disaat itu, aku sama sekali tidak bisa bergerak.
Setelah sekitar 1 jam itu, dia akhirnya mundur, kemudian matanya membelalak. Lebih besar dari lebar mata yang bisa dibuka oleh manusia normal, sepertinya seakan-akan semua kelopak matanya tertelan ke dalam rongga matanya. Kemudian warnanya bola matanya perlahan-lahan menjadi merah tua dan kemudian akhirnya menjadi hitam.
Kemudian dia berteriak sambil melompat kehadapanku, dan menghilang tepat didepan mukaku. Aku yakin aku mengompol sedikit kemarin.
Setelah itu suhu di toilet itu kembali pengap. Kakiku terasa kehilangan tulangnya dan aku terduduk di lantai toilet tanpa tenaga.
Kemudian suara handphoneku berbunyi mengagetkan aku, aku mengangkatnya dan #### ternyata menelponku. Dia mengatakan bahwa sudah 5 menit dia mencoba menelponku dan tidak diangkat-angkat. Aku meminta maaf dan berkata mungkin aku tidak mendengarnya tadi.
Ngomong-ngomong… waktu yang berlalu hanya 15 menit, tapi terasa seperti satu jam saat kejadian tadi..
Lain kali ingatkan aku jangan pernah lagi masuk di toilet lantai 7 sendirian ya.
UPDATED!!! PART XLV - "Serangan yang disengaja - II"
Spoiler for INDEX:
part III- Melayat
Part IV - Siapa yang mengikuti aku?
Part V - Bagaimana kutukan ini dimulai
Part VI - Perkemahan SMP
Part VII - Jurit Malam 1
Part VIII - Jurit Malam 2
Part IX - Penghuni Kampusku
Part X - Wanita dress putih
Part X (Final) - Wanita dress putih (lanjutan)
Part XI - Mereka ada di sekeliling kita
Part XII - Kalau kau jahat
Part XIII - Lauren dan ketiga anaknya
Part XIV- WARNING!! Baca catatan saya sebelum lanjut baca - Si Nenek dan Cucunya 1
Part XV - Si Nenek dan Cucunya 2
Part XVI - Wanita Dress Putih is back
Part XVII - Lift kampusku
Part XVIII - Tiga anak lauren kembali
Part XIX - Mahluk aneh
Part XX - Kampus sarang Kunti
Part XXI - Sang "dewa" jahat
Part XXII - Curiousity Kills the Cat
Part XXII - Bagian 2 - Robert and the Devil 1
Part XXII - Bagian 3 - Robert and the Devil 2
Part XXIII - Kembalinya si mahluk aneh
Part XXIV - Part I - si "dewa" jahat kembali 1
Part XXIV - Part II - si "dewa" jahat kembali 2
Part XXV - Robert
Part XXVI - aku dan kegelapan
part XXVII - Wewe Hitam
Part XXVIII - Wewe Hitam dan Wewe Putih
Part XXIX (bagian pertama) - He and Me (bag 1)
Part XXX (Bagian kedua) - He and Me (bag 2)
Part XXXI - sang pelindung
Part XXXII - Villa di gunung 1
Part XXXIII - Villa di gunung 2
Part XXXIV - Villa di gunung 3
Part XXXV - Villa di gunung (tamat) bag awal
Part XXXV - bagian akhir - Villa di gunung (tamat) bag akhir
Part XXXVI - Kutukan baru
Part XXXVI - Tambahan - Kutukan baru (tambahan)
Part XXXVII - Bagian Pertama - Iblis bag 1 -(Ketika dia terluka)
Part XXXVIII - bagian kedua - Iblis bag 2 - (si pemilik mata)
Part XXXIX - Cermin
Part XL - Ketika Ayano sakit
Part XLI - Goodbye
PART XLII - Mahluk di Jendela
PART XLIII - Akhir si "dewa" jahat
PART XLIII (lanjutan) - Akhir si "dewa" jahat (bag Akhir)
Part XLIV - Serangan yang disengaja - I
PART XLV - Serangan yang disengaja - 2 UPDATE
Bonus Story : Pengalaman TS dan yang punya Diary
Pengalaman bersama dia yang menulis Diary I
Bonus Story II Ketika yang tidak biasa melihat diperlihatkan
BONUS STORY III - Pengalaman Horror ketika main game
BONUS STORY IV : Kejadian di Malam Jumat Kliwon[
*SPECIAL* Bonus Story IV - part 2 - Elisa's POV
Bonus Story V - Part I
Bonus Story V - Part 2
Bonus Story V - part 3
Bonus Story VI
Bonus Story VII #awasbebehplusplus
Bonus Story VIII
Bonus Story IX
Bonus Story X
Bonus Story XI
BONUS PART XII - Bagian ketiga (Elisa POV)
Kiriman cerita dari para pembaca :
Kiriman cerita dari agan Gent4r - 1 (Gent4r, Romi vs Miss K)
Pengalaman agan Gent4r kedua
Kiriman cerita dari pembaca
Thread lainnya tentang saya dan Elisa
Saya dan Gadis bermata Indigo
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 39 suara
Berhubung banyak yang nyaranin Untuk ganti judul Thread, mohon masukan terkait itu :
Judul Thread tetap, soalnya daripada ribet nyari Threadnya lagi
56%
Judul Thread diganti ke judul Thread yang di dalem
33%
Judul Thread kudu diganti ke judul Thread yang beda dan lebih menarik
10%
Diubah oleh ayanokouji 19-11-2016 12:18
radorada dan 23 lainnya memberi reputasi
24
1.1M
Kutip
2.2K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanokouji
#100
Karena menurut Informasi dari agan-agan yang sudah baca katanya sudah aman karena Nama mahluknya sudah disensor, maka kita lanjut ke part ke -2 nya :
8 Maret 2011
Seperti janjiku kemarin aku akan lanjutkan. Hehe.. baru kali ini aku menulis Diary pagi-pagi..
Kita lanjutkan…
Ketika menyadari Cindy menghilang, aku merasakan sedikit ketakutan. Aku tidak mau lebih lama lagi di kamar ini, bagaimana kalau nenek itu kembali.
Aku berpikir mungkin saja Cindy sedang pergi mengambil minum atau apa. Tapi aku tidak menemukan dia padahal dispenser terletak tepat di depan kamarku.
Awalnya aku sedikit kesal padanya, kenapa sih dia meninggalkan aku begitu saja, setidaknya bangunkan aku kek.
Tapi kemudian aku menyadari hal yang aneh.
Ini terlalu sepi, dan hanya lampu redup yang menyala sedangkan semua lampu utama mati.
Aneh…
Tidak mungkin semua teman-temanku yang berisik itu tidur. Jelas-jelas mereka berkata ingin begadang sampai pagi.
Lebih anehnya lagi, bahkan tidak terdengar suara apapun.
Aku berjalan ke kamar sebelah kamarku, mungkin mereka melanjutkan acara begadang di dalam kamar dan bisa jadi Cindy juga ada di dalam karena tidak bisa tidur.
Terkunci…
Aneh… tidak mungkin mereka semua ada di kamar anak-anak cowok.
BETT…
Aku dengan cepat menoleh ke belakang karena sepertinya sesuatu baru saja lewat dibelakangku..
Tidak ada apa-apa, mungkin kesunyian membuatku jadi parno…
Setelah berpikir beberapa saat, aku memutuskan untuk menaiki tangga ke lantai 3, ke kamar para cowok.
Aku memeriksa kedua kamar milik para cowok. Sama, terkunci…
Tidak mungkin kan mereka semua pergi meninggalkanku sendiri?
Sendirian dan frustasi aku berjalan mondar-mandir di depan kamar sampai akhirnya aku memutuskan untuk turun dan kembali ke kamarku.
BLUK..
Terdengar suara pelan, tapi aku sangat yakin itu datang dari gang sempit yang mengarah ke teras lantai 3.
Aku kembali berlari ke atas, dan segera menghampiri gang sempit itu.
Disana, di gang sempit itu duduk dengan mata tertutup semua teman-temanku yang setelah kuhitung ulang, Bobby dan Cindy tidak ada di sana.
Belum beres aku memikirkan keanehan ini, tiba-tiba terdengar suara pintu bergeser di lantai bawah.
Datangnya dari kamarku…
Aku takut, jujur saja waktu itu aku sudah sangat ketakutan. Tapi apa boleh buat, ini harus kulakukan. Tidak mungkin aku hanya ikut duduk dengan teman-temanku kan?
Sekilas aku melirik ke jam dinding yang tergantung di aula besar yang dapat terlihat dari lantai 3 ini.
Jam 4:00? Perasaan tadi aku bangun juga jam 4 pas deh… pikirku saat itu.
Tapi aku tidak ambil pusing, karena bisa saja jam itu rusak. Lagipula kalau diingat-ingat, sepertinya yang membangunkanku itu suara lonceng jam deh.
Akupun menuruni tangga ke lantai-2, tempat kamarku berada.
Di sana, di depan kamarku terbaring Bobby dengan mata tertutup seperti tertidur dengan posisi telentang.
Sebelah kakinya terlipat sedangkan kedua tangannya diangkat ke atas kepalanya.
Aku mendekatinya dan berusaha membangunkannya.
Tidak, dia tidak membuka matanya walaupun aku sudah menampar sedikit pipinya.
Tapi nafasnya masih ada, dia seperti.. tertidur..
Lalu pandanganku melihat suatu tanda di pergelangan kakinya yang mengenakan celana pendek. Tepat di bagian atas mata-kakinya aku melihat suatu bekas… tangan?
Lalu aku tersadar dan lebih memperhatikan lagi kalau memang ada jejak seakan Bobby diseret seseorang… atau ‘sesuatu’ sampai ke depan kamarku ini.
Pikiranku beralih ke nenek yang tadi mendatangiku, apa mungkin nenek itu juga menghampiri mereka? Lalu apa maksudnya dia menyirap teman-temanku?
Pandanganku kemudian beralih lagi ke pintu kamarku yang terbuka lebar.
Aku mendengar ketukan pelan dari dalam kamarku.
Tapi itu hanya terjadi hanya sekali saja, jadi aku tidak yakin apakah aku benar mendengarnya atau tidak.
Memberanikan diri, aku melangkah masuk ke kamar. Setidaknya aku sudah melihat rupa nenek itu tadi. Jadi setidaknya aku tidak akan terlalu terkejut lagi.
Perlahan-lahan aku melangkah masuk ke kamarku.
Suasana masih gelap, aku berusaha menghidupkan lampu. Tapi tidak ada yang terjadi walaupun aku sudah menekan saklar berulang kali.
“Yah… klasik…” gumamku.
Aku mendengar ketukan lagi, lebih pelan..
Aku melihat ke jendela… tidak ada apapun..
Lalu pandanganku jatuh pada lemari kayu tempatku dan Cindy menaruh baju kami.
Aku teringat pada cerita Andy…
Tidak tidak tidak tidak…
Sudah jelas aku tidak akan melakukan hal bodoh dengan membuka lemari itu.
Suara ketukan lagi.. dan aku yakin memang suaranya berasal dari dalam lemari.
Aku berpikir sekali lagi dan menggumam.. “Oh.. ini betulan klasik”
“Lis!!”
Nah, kali itu aku sangat yakin suaranya terdengar dari dalam lemari.
Aku mendekati lemari itu untuk mendengar sekali lagi.
“Lis!!”
Yap, itu memang suara Cindy.
Aku mengulurkan tangan untuk memegang pintu lemari itu perlahan.
Kemudian membuka sedikit pintu lemari itu.
“Lis!! Jangan!!!!”
Aku terkejut dan menoleh, suara Cindy bukan berasal dari dalam lemari, aku menoleh dan melihat Cindy berada di tempat tidurnya. Telentang tapi dengan posisi tidur yang aneh, tangannya rapat dan kakinya juga lurus rapat satu sama lainnya, seakan dia sedang terikat di tempat tidur itu.
Aku bersumpah kalau waktu aku masuk, aku tidak melihat Cindy disitu. Sumpah mati deh.
“LARI!!!” teriak Cindy, yang meneriakkan itu dengan suara seperti menahan sakit.
Aku berbalik dan bermaksud untuk jalan ke Cindy.
BRUAKK
Tiba-tiba pintu lemari kayu itu membanting terbuka.
Dari dalam lemari, kelebatan bayangan melompat dan mendorong tubuhku hingga terjatuh.
Dan aku berhadapan dengan ‘mahluk’ paling mengerikan yang pernah kulihat hingga sekarang.
Hampir seluruh wajah mahluk itu membusuk dan dipenuhi oleh belatung, sebagian wajahnya yang masih selamat seperti mengenakan tinta merah di seluruh mukanya karena penuh dengan luka. Guratan luka seperti dicakar berkali-kali di tempat yang sama.
Mata kiri mahluk itu terbelah bersama-sama dengan luka bacokan yang membujur dari pangkal kepala sampai ke rahangnya, mata yang terbelah itu masih mengeluarkan darah merah yang pekat yang menetes-netes pada bajuku.
Sebelah matanya lagi melihatku dengan pandangan yang mengerikan..
Mulut mahluk itu dipenuhi oleh darah sehingga giginya terlihat seperti barisan merah darah, dengan bibir kiri dan kanannya terbelah sehingga pipi atas dan bawahnya terpisah dengan lebar.
Aku melihat lehernya yang terkena luka gorok yang masih menetes-netes, juga pada bajunya yang tercabik-cabik.
Kemudian aku juga melihat alat kelamin dari ‘mahluk’ itu, aku tidak sanggup menggambarkannya, tapi mahluk itu dulunya adalah manusia pria, dan alat kelaminnya benar-benar dalam keadaan rusak mengerikan.
Seluruh tubuhnya menggambarkan luka potong di mana-mana, seakan seekor binatang liar telah mencakari semua bagian tubuhnya tanpa kecuali.
Dia menggabungkan kedua tanganku untuk dipegangi oleh satu tangannya, tenaganya amat kuat aku bahkan tidak bisa bergerak sama sekali semenjak diduduki olehnya.
Perlahan-lahan, dengan sebelah tangannya yang bebas dia menusuk perutku perlahan.
“Aduhh..Aduuhhh.. aww..” teriakku kesakitan saat tangannya menekan perutku dengan kuat hingga kulit perutku mungkin sudah mengenai organ di dalamnya.
“S*******!!!!!!!!”
Tiba-tiba dengan teriakan menggelegar, si hantu nenek datang.
“S*******!!!!!!!!”
Teriaknya lagi sambil menerjang ke arah ‘mahluk’ yang mendudukiku sambil menyabet-nyabetkan pisaunya.
‘Mahluk’ yang mendudukiku meloncat berdiri dan meraung ke arah nenek itu seperti raungan binatang.
“S*******!!!!!!!!” Teriak nenek itu lagi “SILUMAN!!! MATI SEKARANG!!!”
Kemudian sang ‘nenek’ berteriak dan menyabetkan pisaunya ke ‘mahluk’ itu sementara ‘mahluk’ itu hanya bisa meraung-raung dan menangkis serangan-serangan pisau nenek itu ke tubuhnya.
Darah bercipratan kemana-mana…
Aku hanya bisa duduk melihat pertempuran mereka.
Akhirnya dengan pekik raungan, cakar mahluk itu menyambar kepala si ‘nenek’ hingga putus, sementara si ‘nenek’ yang sudah dalam posisi menerjang berhasil menusuk tenggorokan mahluk itu bersamaan dengan putusnya kepala ‘nenek’ itu dari tubuhnya.
‘Mahluk’ itu terdorong hingga menembus dinding dan menghilang.
Aku menatap wajah si ‘nenek’ dari kepala yang sudah terpisah dari badannya.
Seketika itu, wajahnya yang mengerikan karena kemarahan perlahan-lahan melembut… hingga akhirnya tersenyum sebelum kepala itu menghilang.
Kemudian dengan lonjakan aku terbangun..
Teman-temanku mengelilingi aku..
“Lisa juga sudah sadar nih!!” teriak Ani.
Aku menengok dan melihat para cowok juga mengelilingi Cindy yang sedang duduk dan diselimuti oleh selimut sedang meminum sesuatu.
Begitu melihatku, Cindy memberikan gelas yang dipegangnya kepada cowok di sebelahnya dan segera melompat ke arahku dan memelukku erat-erat.
“Gua takut banget Lis….untung kita bisa balik, untung lu bisa balik” ujarnya sambil menangis memelukku.
Aku tidak bisa berkata apa-apa waktu itu hanya bisa memeluk Cindy kembali dan menangis juga.
Setelah dua jam berlalu dan kami sudah cukup tenang, Cindy berkata kalau dia terbangun sekitar jam 4:00 karena merasa tempat tidurnya bergoyang-goyang. Kemudian dia terbangun, dan ketika hendak turun dari tempat tidurnya, sebuah tangan memegang kakinya.
‘Mahluk’ itu bersembunyi di bawah tempat tidurnya. Kemudian menariknya hingga masuk ke dalam lemari, mengurungnya di dalam.
Dia berusaha untuk memanggil-manggilku namun katanya aku tetap tertidur diam.
Kemudian dia melihat aku terbangun dan melihatku keluar kamar.
Saat itu Cindy bilang dia baru akan berteriak kepadaku ketika ‘mahluk’ itu tiba-tiba berada di sampingnya dan menutup mulutnya.
Setelah beberapa saat, mahluk itu menarik Cindy ke tempat tidurnya dan meletakkannya disana. Tubuhnya bagaikan terikat walaupun tidak ada apapun pada tubuhnya. Kemudian dia melihat ‘mahluk’ itu keluar dan dari pintu kamar yang terbuka Cindy melihat Bobby diseret hingga depan pintu kamar kami oleh ‘mahluk’ itu.
Kemudian tak lama ia melihat aku masuk ke kamar, namun bagaimanapun dia mencoba memanggilku tidak ada suara yang keluar. Sampai akhirnya dia melihat bayangan ‘nenek’ itu di jendela baru dia menemukan suaranya dan berteriak padaku.
Dan dia terbangun lebih dulu dariku segera setelah ‘nenek’ itu menyerang ‘mahluk’ itu dengan melompati ranjangnya.
Dan selanjutnya, dia dan teman-teman yang lain melihat aku yang sedang terlihat sedang tertidur seperti mencoba meronta-ronta, dan kemudian bajuku yang berwarna putih mulai dibasahi oleh warna merah darah.
Beberapa temanku yang perempuan mencoba melihat apakah aku terluka, namun mereka tidak menemukan apapun, sepertinya warna merah darah itu muncul begitu saja.
Lalu mereka juga menyaksikan kulit perutku menjadi cekung perlahan-lahan, seakan sedang ditekan oleh sesuatu.
Kemudian tiba-tiba aku terdiam, dan sedikit demi sedikit noda merah menghilang dari bajuku.
Dan kurang lebih 10 menit setelahnya aku terbangun…
Setelah aku menceritakan yang terjadi padaku pada mereka, Andy angkat bicara, katanya tepat jam 3:55 lonceng jam di aula besar berbunyi. Kemudian Gerald mengatakan kalau dia melihat seseorang sedang berdiri di luar jendela dan memandangi mereka.
Bobby yang sok berani bermaksud untuk menangkap “kemungkinan pencuri” itu dan membuka pintu villa kami.
Sewaktu Bobby membuka pintu villa, sebuah potongan kain hitam tertiup ke dalam ruangan.
Bobby tidak menemukan seseorangpun dan menutup pintu kembali.
Tepat ketika itu, dia berteriak histeris dan mengatakan kalau ‘sesuatu’ ada yang berdiri di antara jaket-jaket kami yang digantung di rak.
Yang lain menengok ke belakang dan mereka mengatakan tidak teringat apa-apa lagi dan tersadar ketika mendengar suara teriakan Cindy memanggil namaku. Saat itu posisi mereka semua tertidur di sofa aula lantai dasar villa.
Setelah kejadian itu, tidak ada seorangpun dari kami yang masih berniat melanjutkan semalam lagi di Villa ini. Kemudian kami semua buru-buru berkemas dan pulang.
Ketika pulang, kami semua mampir dulu untuk makan di restoran R**** A*** karena kami merasa lapar.. jelas sih kami sama sekali belum makan kalau dipikir-pikir dari kemarin sore.
Saat kami semua makan, Handphone milik Deasy berbunyi.
Kebetulan juga aku sedang memperhatikan dia.
Aku mengamatinya menjawab panggilan telepon itu dengan muka bingung, kemudian dia berkata pada orang di telepon itu “sebentar mas, suaranya kurang kedengeran”
Kemudian Deasy mengisyaratkan kepada kami semua untuk diam dan kemudian dia mengaktifkan speakerphonenya.
“Ya mas, coba diulang lagi yang tadi” ujar Deasy pada orang yang meneleponnya.
“Iya Mbak, tadi saya nanya mbak Deasy tidak jadi datang ke Villa kami? Karena ada yang ingin menyewanya kalau mbak batal”
Deasy menjawab “Kami udah sempat nginap semalam mas”
Orang di seberang telepon diam sebentar dan menjawab “Lho, justru saya kemarin datang ke villa hendak mengecek, tapi ternyata kondisi villa masih terkunci dan listrik belum dinyalakan”
Kami semua berpandangan “Mungkin pas malam-malam saat lampu kami matikan mas?” tanya Deasy
“Enggak ada mobil diparkir juga mbak” jawab pria itu “Lagian orang villa sebelah mbak juga bilang enggak ada orang sama sekali dari pagi”
Kami semua berpandangan lagi, Akhirnya Deasy berkata “Iya mas, kalau gitu batalkan saja mas enggak apa-apa” kata Deasy lagi sambil menutup pembicaraan.
Setelah itu kami semua ramai membicarakan hal itu sepanjang perjalanan pulang. Kecuali aku dan Cindy yang hanya berkata sedikit saja.
Sosok penuh luka itu terlalu mengerikan untuk disebutkan dan diingat oleh kami…
Mengenai kasus ini, setelah kami coba lacak ternyata NamaS******** dikenal di penduduk sekitar situ.
Tapi ini baru kami ketahui setelah kali berikutnya Elisa dan teman-temannya berlibur kembali ke daerah itu (beda villanya tapi, trauma juga kaleee).
Waktu itu secara enggak sengaja pas lagi makan, salah satu temen si Elisa (lupa katanya siapa yang waktu itu ngomong) dan lagi nyebut nama S********** itu ada ibu2 tua yang punya restoran Padang denger. Dia kasihtau katanya Nama itu adalah nama Bocah yang waktu kecil katanya ilang diculik sama dewa harimau, dulu pas si ibu itu masih remaja, katanya waktu itu bocah ilang itu cukup ramai, sampai polisi2 juga nyariin.
Terus enggak berapa lama, kedengeran lagi berita kalau nenek dari si bocah yang ilang itu ditangkep polisi karena dituduh yang membunuh bocah itu setelah diumpetin. Karena ada orang dari daerah itu yang liat si nenek bocah sedang sabet2 pisau ke sesuatu di pinggiran kebun cengkeh. Setelah di deketin, ternyata si nenek lagi sabet2 mayat bocah yang udah enggak keruan bentuknya. Dari tanda lahir di punggung tangan si bocah, dipastiinlah mayat itu adalah mayat bocah yang ilang dulu.
Akhirnya si nenek ditangkep dan kasus ditutup.
Tapi enggak lama kemudian, katanya muncul 'mahluk' yang disebut orang pinter didaerah itu sebagai siluman yang katanya nyuri ternak-ternak warga, ama kadang2 ngejar2 anak-anak kecil. Nah enggak lama, kedengeran lagi berita nenek si bocah yang ketangkep itu meninggal di penjara.
Semenjak itu, penampakannya jadi berubah. Orang-orang banyak yang jadi saksi mata bilang ada nenek-nenek bawa pisau dapur gede selalu ribut sama suatu mahluk yang punya muka separuh macan separuh orang pakai baju hitam.
Kata ibu itu, dulu pas dia remaja banyak yang liat itu, tapi enggak lama kemudian dusun mereka dibeli oleh pengembang untuk dijadiin villa, akhirnya cerita itu udah ngilang begitu aja.
Gangguan2 yang dialami :
1. Terasa banget ada orang yang ngeliatin dari belakang plus suara nafasnya.
2. Sering ada suara netes-netes gitu entah darimana.
3. Pas lagi ngaca, kayaknya dibelakang jauh ada orang tapi begitu balik badan enggak ada
4. Pas lagi ngetik sebelum namanya disensor semua kedengeran sangat jelassuara ketukan 3 kali dari lemari
(abis itu langsung ngacir ke kost si Elisa, akhirannya di 7eleven ampe pagi)
5. Sering kebangun tepat jam 4:00 pagi.
6. Anjing saya jadi sangat berisik setiap saya ngetik ulang naskahnya.
7. Yang lebih horror lagi lantaran si Elisa bilang "kamu jangan lanjutin, aku ada firasat buruk banget soalnya"
Akhirnya setelah melalui diskusi seharian penuh, kita coba tulis ulang naskahnya dengan sensor di nama. (Elisa juga coret pake spidol di Diarynya sebelum di scan ulang n kasih ke saya. Lumayan sih, gangguan berkurang tinggal no 1 dan 6 yang masih kejadian. Tapi sisanya udah enggak ada.
Akhirnya kita putuskan untuk membagi 2 part cerita, yaitu sebelum kemunculan si "S*********" dan sesudah kemunculannya. Dengan harapan bisa lihat apakah yang akan kita post ini membahayakan orang atau tidak. Semoga sih tidak ada yang mengalami pengalaman saya diatas
Spoiler for Part XV:
8 Maret 2011
Seperti janjiku kemarin aku akan lanjutkan. Hehe.. baru kali ini aku menulis Diary pagi-pagi..
Kita lanjutkan…
Ketika menyadari Cindy menghilang, aku merasakan sedikit ketakutan. Aku tidak mau lebih lama lagi di kamar ini, bagaimana kalau nenek itu kembali.
Aku berpikir mungkin saja Cindy sedang pergi mengambil minum atau apa. Tapi aku tidak menemukan dia padahal dispenser terletak tepat di depan kamarku.
Awalnya aku sedikit kesal padanya, kenapa sih dia meninggalkan aku begitu saja, setidaknya bangunkan aku kek.
Tapi kemudian aku menyadari hal yang aneh.
Ini terlalu sepi, dan hanya lampu redup yang menyala sedangkan semua lampu utama mati.
Aneh…
Tidak mungkin semua teman-temanku yang berisik itu tidur. Jelas-jelas mereka berkata ingin begadang sampai pagi.
Lebih anehnya lagi, bahkan tidak terdengar suara apapun.
Aku berjalan ke kamar sebelah kamarku, mungkin mereka melanjutkan acara begadang di dalam kamar dan bisa jadi Cindy juga ada di dalam karena tidak bisa tidur.
Terkunci…
Aneh… tidak mungkin mereka semua ada di kamar anak-anak cowok.
BETT…
Aku dengan cepat menoleh ke belakang karena sepertinya sesuatu baru saja lewat dibelakangku..
Tidak ada apa-apa, mungkin kesunyian membuatku jadi parno…
Setelah berpikir beberapa saat, aku memutuskan untuk menaiki tangga ke lantai 3, ke kamar para cowok.
Aku memeriksa kedua kamar milik para cowok. Sama, terkunci…
Tidak mungkin kan mereka semua pergi meninggalkanku sendiri?
Sendirian dan frustasi aku berjalan mondar-mandir di depan kamar sampai akhirnya aku memutuskan untuk turun dan kembali ke kamarku.
BLUK..
Terdengar suara pelan, tapi aku sangat yakin itu datang dari gang sempit yang mengarah ke teras lantai 3.
Aku kembali berlari ke atas, dan segera menghampiri gang sempit itu.
Disana, di gang sempit itu duduk dengan mata tertutup semua teman-temanku yang setelah kuhitung ulang, Bobby dan Cindy tidak ada di sana.
Belum beres aku memikirkan keanehan ini, tiba-tiba terdengar suara pintu bergeser di lantai bawah.
Datangnya dari kamarku…
Aku takut, jujur saja waktu itu aku sudah sangat ketakutan. Tapi apa boleh buat, ini harus kulakukan. Tidak mungkin aku hanya ikut duduk dengan teman-temanku kan?
Sekilas aku melirik ke jam dinding yang tergantung di aula besar yang dapat terlihat dari lantai 3 ini.
Jam 4:00? Perasaan tadi aku bangun juga jam 4 pas deh… pikirku saat itu.
Tapi aku tidak ambil pusing, karena bisa saja jam itu rusak. Lagipula kalau diingat-ingat, sepertinya yang membangunkanku itu suara lonceng jam deh.
Akupun menuruni tangga ke lantai-2, tempat kamarku berada.
Di sana, di depan kamarku terbaring Bobby dengan mata tertutup seperti tertidur dengan posisi telentang.
Sebelah kakinya terlipat sedangkan kedua tangannya diangkat ke atas kepalanya.
Aku mendekatinya dan berusaha membangunkannya.
Tidak, dia tidak membuka matanya walaupun aku sudah menampar sedikit pipinya.
Tapi nafasnya masih ada, dia seperti.. tertidur..
Lalu pandanganku melihat suatu tanda di pergelangan kakinya yang mengenakan celana pendek. Tepat di bagian atas mata-kakinya aku melihat suatu bekas… tangan?
Lalu aku tersadar dan lebih memperhatikan lagi kalau memang ada jejak seakan Bobby diseret seseorang… atau ‘sesuatu’ sampai ke depan kamarku ini.
Pikiranku beralih ke nenek yang tadi mendatangiku, apa mungkin nenek itu juga menghampiri mereka? Lalu apa maksudnya dia menyirap teman-temanku?
Pandanganku kemudian beralih lagi ke pintu kamarku yang terbuka lebar.
Aku mendengar ketukan pelan dari dalam kamarku.
Tapi itu hanya terjadi hanya sekali saja, jadi aku tidak yakin apakah aku benar mendengarnya atau tidak.
Memberanikan diri, aku melangkah masuk ke kamar. Setidaknya aku sudah melihat rupa nenek itu tadi. Jadi setidaknya aku tidak akan terlalu terkejut lagi.
Perlahan-lahan aku melangkah masuk ke kamarku.
Suasana masih gelap, aku berusaha menghidupkan lampu. Tapi tidak ada yang terjadi walaupun aku sudah menekan saklar berulang kali.
“Yah… klasik…” gumamku.
Aku mendengar ketukan lagi, lebih pelan..
Aku melihat ke jendela… tidak ada apapun..
Lalu pandanganku jatuh pada lemari kayu tempatku dan Cindy menaruh baju kami.
Aku teringat pada cerita Andy…
Tidak tidak tidak tidak…
Sudah jelas aku tidak akan melakukan hal bodoh dengan membuka lemari itu.
Suara ketukan lagi.. dan aku yakin memang suaranya berasal dari dalam lemari.
Aku berpikir sekali lagi dan menggumam.. “Oh.. ini betulan klasik”
“Lis!!”
Nah, kali itu aku sangat yakin suaranya terdengar dari dalam lemari.
Aku mendekati lemari itu untuk mendengar sekali lagi.
“Lis!!”
Yap, itu memang suara Cindy.
Aku mengulurkan tangan untuk memegang pintu lemari itu perlahan.
Kemudian membuka sedikit pintu lemari itu.
“Lis!! Jangan!!!!”
Aku terkejut dan menoleh, suara Cindy bukan berasal dari dalam lemari, aku menoleh dan melihat Cindy berada di tempat tidurnya. Telentang tapi dengan posisi tidur yang aneh, tangannya rapat dan kakinya juga lurus rapat satu sama lainnya, seakan dia sedang terikat di tempat tidur itu.
Aku bersumpah kalau waktu aku masuk, aku tidak melihat Cindy disitu. Sumpah mati deh.
“LARI!!!” teriak Cindy, yang meneriakkan itu dengan suara seperti menahan sakit.
Aku berbalik dan bermaksud untuk jalan ke Cindy.
BRUAKK
Tiba-tiba pintu lemari kayu itu membanting terbuka.
Dari dalam lemari, kelebatan bayangan melompat dan mendorong tubuhku hingga terjatuh.
Dan aku berhadapan dengan ‘mahluk’ paling mengerikan yang pernah kulihat hingga sekarang.
Hampir seluruh wajah mahluk itu membusuk dan dipenuhi oleh belatung, sebagian wajahnya yang masih selamat seperti mengenakan tinta merah di seluruh mukanya karena penuh dengan luka. Guratan luka seperti dicakar berkali-kali di tempat yang sama.
Mata kiri mahluk itu terbelah bersama-sama dengan luka bacokan yang membujur dari pangkal kepala sampai ke rahangnya, mata yang terbelah itu masih mengeluarkan darah merah yang pekat yang menetes-netes pada bajuku.
Sebelah matanya lagi melihatku dengan pandangan yang mengerikan..
Mulut mahluk itu dipenuhi oleh darah sehingga giginya terlihat seperti barisan merah darah, dengan bibir kiri dan kanannya terbelah sehingga pipi atas dan bawahnya terpisah dengan lebar.
Aku melihat lehernya yang terkena luka gorok yang masih menetes-netes, juga pada bajunya yang tercabik-cabik.
Kemudian aku juga melihat alat kelamin dari ‘mahluk’ itu, aku tidak sanggup menggambarkannya, tapi mahluk itu dulunya adalah manusia pria, dan alat kelaminnya benar-benar dalam keadaan rusak mengerikan.
Seluruh tubuhnya menggambarkan luka potong di mana-mana, seakan seekor binatang liar telah mencakari semua bagian tubuhnya tanpa kecuali.
Dia menggabungkan kedua tanganku untuk dipegangi oleh satu tangannya, tenaganya amat kuat aku bahkan tidak bisa bergerak sama sekali semenjak diduduki olehnya.
Perlahan-lahan, dengan sebelah tangannya yang bebas dia menusuk perutku perlahan.
“Aduhh..Aduuhhh.. aww..” teriakku kesakitan saat tangannya menekan perutku dengan kuat hingga kulit perutku mungkin sudah mengenai organ di dalamnya.
“S*******!!!!!!!!”
Tiba-tiba dengan teriakan menggelegar, si hantu nenek datang.
“S*******!!!!!!!!”
Teriaknya lagi sambil menerjang ke arah ‘mahluk’ yang mendudukiku sambil menyabet-nyabetkan pisaunya.
‘Mahluk’ yang mendudukiku meloncat berdiri dan meraung ke arah nenek itu seperti raungan binatang.
“S*******!!!!!!!!” Teriak nenek itu lagi “SILUMAN!!! MATI SEKARANG!!!”
Kemudian sang ‘nenek’ berteriak dan menyabetkan pisaunya ke ‘mahluk’ itu sementara ‘mahluk’ itu hanya bisa meraung-raung dan menangkis serangan-serangan pisau nenek itu ke tubuhnya.
Darah bercipratan kemana-mana…
Aku hanya bisa duduk melihat pertempuran mereka.
Akhirnya dengan pekik raungan, cakar mahluk itu menyambar kepala si ‘nenek’ hingga putus, sementara si ‘nenek’ yang sudah dalam posisi menerjang berhasil menusuk tenggorokan mahluk itu bersamaan dengan putusnya kepala ‘nenek’ itu dari tubuhnya.
‘Mahluk’ itu terdorong hingga menembus dinding dan menghilang.
Aku menatap wajah si ‘nenek’ dari kepala yang sudah terpisah dari badannya.
Seketika itu, wajahnya yang mengerikan karena kemarahan perlahan-lahan melembut… hingga akhirnya tersenyum sebelum kepala itu menghilang.
Kemudian dengan lonjakan aku terbangun..
Teman-temanku mengelilingi aku..
“Lisa juga sudah sadar nih!!” teriak Ani.
Aku menengok dan melihat para cowok juga mengelilingi Cindy yang sedang duduk dan diselimuti oleh selimut sedang meminum sesuatu.
Begitu melihatku, Cindy memberikan gelas yang dipegangnya kepada cowok di sebelahnya dan segera melompat ke arahku dan memelukku erat-erat.
“Gua takut banget Lis….untung kita bisa balik, untung lu bisa balik” ujarnya sambil menangis memelukku.
Aku tidak bisa berkata apa-apa waktu itu hanya bisa memeluk Cindy kembali dan menangis juga.
Setelah dua jam berlalu dan kami sudah cukup tenang, Cindy berkata kalau dia terbangun sekitar jam 4:00 karena merasa tempat tidurnya bergoyang-goyang. Kemudian dia terbangun, dan ketika hendak turun dari tempat tidurnya, sebuah tangan memegang kakinya.
‘Mahluk’ itu bersembunyi di bawah tempat tidurnya. Kemudian menariknya hingga masuk ke dalam lemari, mengurungnya di dalam.
Dia berusaha untuk memanggil-manggilku namun katanya aku tetap tertidur diam.
Kemudian dia melihat aku terbangun dan melihatku keluar kamar.
Saat itu Cindy bilang dia baru akan berteriak kepadaku ketika ‘mahluk’ itu tiba-tiba berada di sampingnya dan menutup mulutnya.
Setelah beberapa saat, mahluk itu menarik Cindy ke tempat tidurnya dan meletakkannya disana. Tubuhnya bagaikan terikat walaupun tidak ada apapun pada tubuhnya. Kemudian dia melihat ‘mahluk’ itu keluar dan dari pintu kamar yang terbuka Cindy melihat Bobby diseret hingga depan pintu kamar kami oleh ‘mahluk’ itu.
Kemudian tak lama ia melihat aku masuk ke kamar, namun bagaimanapun dia mencoba memanggilku tidak ada suara yang keluar. Sampai akhirnya dia melihat bayangan ‘nenek’ itu di jendela baru dia menemukan suaranya dan berteriak padaku.
Dan dia terbangun lebih dulu dariku segera setelah ‘nenek’ itu menyerang ‘mahluk’ itu dengan melompati ranjangnya.
Dan selanjutnya, dia dan teman-teman yang lain melihat aku yang sedang terlihat sedang tertidur seperti mencoba meronta-ronta, dan kemudian bajuku yang berwarna putih mulai dibasahi oleh warna merah darah.
Beberapa temanku yang perempuan mencoba melihat apakah aku terluka, namun mereka tidak menemukan apapun, sepertinya warna merah darah itu muncul begitu saja.
Lalu mereka juga menyaksikan kulit perutku menjadi cekung perlahan-lahan, seakan sedang ditekan oleh sesuatu.
Kemudian tiba-tiba aku terdiam, dan sedikit demi sedikit noda merah menghilang dari bajuku.
Dan kurang lebih 10 menit setelahnya aku terbangun…
Setelah aku menceritakan yang terjadi padaku pada mereka, Andy angkat bicara, katanya tepat jam 3:55 lonceng jam di aula besar berbunyi. Kemudian Gerald mengatakan kalau dia melihat seseorang sedang berdiri di luar jendela dan memandangi mereka.
Bobby yang sok berani bermaksud untuk menangkap “kemungkinan pencuri” itu dan membuka pintu villa kami.
Sewaktu Bobby membuka pintu villa, sebuah potongan kain hitam tertiup ke dalam ruangan.
Bobby tidak menemukan seseorangpun dan menutup pintu kembali.
Tepat ketika itu, dia berteriak histeris dan mengatakan kalau ‘sesuatu’ ada yang berdiri di antara jaket-jaket kami yang digantung di rak.
Yang lain menengok ke belakang dan mereka mengatakan tidak teringat apa-apa lagi dan tersadar ketika mendengar suara teriakan Cindy memanggil namaku. Saat itu posisi mereka semua tertidur di sofa aula lantai dasar villa.
Setelah kejadian itu, tidak ada seorangpun dari kami yang masih berniat melanjutkan semalam lagi di Villa ini. Kemudian kami semua buru-buru berkemas dan pulang.
Ketika pulang, kami semua mampir dulu untuk makan di restoran R**** A*** karena kami merasa lapar.. jelas sih kami sama sekali belum makan kalau dipikir-pikir dari kemarin sore.
Saat kami semua makan, Handphone milik Deasy berbunyi.
Kebetulan juga aku sedang memperhatikan dia.
Aku mengamatinya menjawab panggilan telepon itu dengan muka bingung, kemudian dia berkata pada orang di telepon itu “sebentar mas, suaranya kurang kedengeran”
Kemudian Deasy mengisyaratkan kepada kami semua untuk diam dan kemudian dia mengaktifkan speakerphonenya.
“Ya mas, coba diulang lagi yang tadi” ujar Deasy pada orang yang meneleponnya.
“Iya Mbak, tadi saya nanya mbak Deasy tidak jadi datang ke Villa kami? Karena ada yang ingin menyewanya kalau mbak batal”
Deasy menjawab “Kami udah sempat nginap semalam mas”
Orang di seberang telepon diam sebentar dan menjawab “Lho, justru saya kemarin datang ke villa hendak mengecek, tapi ternyata kondisi villa masih terkunci dan listrik belum dinyalakan”
Kami semua berpandangan “Mungkin pas malam-malam saat lampu kami matikan mas?” tanya Deasy
“Enggak ada mobil diparkir juga mbak” jawab pria itu “Lagian orang villa sebelah mbak juga bilang enggak ada orang sama sekali dari pagi”
Kami semua berpandangan lagi, Akhirnya Deasy berkata “Iya mas, kalau gitu batalkan saja mas enggak apa-apa” kata Deasy lagi sambil menutup pembicaraan.
Setelah itu kami semua ramai membicarakan hal itu sepanjang perjalanan pulang. Kecuali aku dan Cindy yang hanya berkata sedikit saja.
Sosok penuh luka itu terlalu mengerikan untuk disebutkan dan diingat oleh kami…
Spoiler for CATATAN selanjutnya mengenai kasus ini dari TS:
Mengenai kasus ini, setelah kami coba lacak ternyata NamaS******** dikenal di penduduk sekitar situ.
Tapi ini baru kami ketahui setelah kali berikutnya Elisa dan teman-temannya berlibur kembali ke daerah itu (beda villanya tapi, trauma juga kaleee).
Waktu itu secara enggak sengaja pas lagi makan, salah satu temen si Elisa (lupa katanya siapa yang waktu itu ngomong) dan lagi nyebut nama S********** itu ada ibu2 tua yang punya restoran Padang denger. Dia kasihtau katanya Nama itu adalah nama Bocah yang waktu kecil katanya ilang diculik sama dewa harimau, dulu pas si ibu itu masih remaja, katanya waktu itu bocah ilang itu cukup ramai, sampai polisi2 juga nyariin.
Terus enggak berapa lama, kedengeran lagi berita kalau nenek dari si bocah yang ilang itu ditangkep polisi karena dituduh yang membunuh bocah itu setelah diumpetin. Karena ada orang dari daerah itu yang liat si nenek bocah sedang sabet2 pisau ke sesuatu di pinggiran kebun cengkeh. Setelah di deketin, ternyata si nenek lagi sabet2 mayat bocah yang udah enggak keruan bentuknya. Dari tanda lahir di punggung tangan si bocah, dipastiinlah mayat itu adalah mayat bocah yang ilang dulu.
Akhirnya si nenek ditangkep dan kasus ditutup.
Tapi enggak lama kemudian, katanya muncul 'mahluk' yang disebut orang pinter didaerah itu sebagai siluman yang katanya nyuri ternak-ternak warga, ama kadang2 ngejar2 anak-anak kecil. Nah enggak lama, kedengeran lagi berita nenek si bocah yang ketangkep itu meninggal di penjara.
Semenjak itu, penampakannya jadi berubah. Orang-orang banyak yang jadi saksi mata bilang ada nenek-nenek bawa pisau dapur gede selalu ribut sama suatu mahluk yang punya muka separuh macan separuh orang pakai baju hitam.
Kata ibu itu, dulu pas dia remaja banyak yang liat itu, tapi enggak lama kemudian dusun mereka dibeli oleh pengembang untuk dijadiin villa, akhirnya cerita itu udah ngilang begitu aja.
Spoiler for Pengalaman TS selama ngetik ulang cerita:
Gangguan2 yang dialami :
1. Terasa banget ada orang yang ngeliatin dari belakang plus suara nafasnya.
2. Sering ada suara netes-netes gitu entah darimana.
3. Pas lagi ngaca, kayaknya dibelakang jauh ada orang tapi begitu balik badan enggak ada
4. Pas lagi ngetik sebelum namanya disensor semua kedengeran sangat jelassuara ketukan 3 kali dari lemari
(abis itu langsung ngacir ke kost si Elisa, akhirannya di 7eleven ampe pagi)
5. Sering kebangun tepat jam 4:00 pagi.
6. Anjing saya jadi sangat berisik setiap saya ngetik ulang naskahnya.
7. Yang lebih horror lagi lantaran si Elisa bilang "kamu jangan lanjutin, aku ada firasat buruk banget soalnya"
Akhirnya setelah melalui diskusi seharian penuh, kita coba tulis ulang naskahnya dengan sensor di nama. (Elisa juga coret pake spidol di Diarynya sebelum di scan ulang n kasih ke saya. Lumayan sih, gangguan berkurang tinggal no 1 dan 6 yang masih kejadian. Tapi sisanya udah enggak ada.
Akhirnya kita putuskan untuk membagi 2 part cerita, yaitu sebelum kemunculan si "S*********" dan sesudah kemunculannya. Dengan harapan bisa lihat apakah yang akan kita post ini membahayakan orang atau tidak. Semoga sih tidak ada yang mengalami pengalaman saya diatas
johny251976 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Kutip
Balas