- Beranda
- Sejarah & Xenology
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
...
TS
plonard
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Semua yang saya tulis pada posting #1 sampai posting #10 adalah terjemahan bebas dari artikel Khalid ibn Al-Walid di en.wikipedia.org Oktober 2012. Saya tambahkan juga sedikit daftar istilah untuk membantu Agan-agan yang belum terlalu memahami istilah militer dan geografis di zaman bersangkutan hidup. Jika ada ketikan saya dengan format "[angka]", kode ini adalah nomor footnote atau catatan kaki. Contoh: [1] dan [25].
Semoga bermanfaat.
Khalid ibn Al-Walid
Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.
Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleedkarya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)
Daftar Istilah Penting
Al-Hirah
Arabia
Bizantin
Double Envelopment
Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Garnisun
Ghassan
Imperium
Kavaleri
Kekhalifahan
Khalifah
Levant
Mesopotamia
Negara Vasal
Persia-Sassanid
Romawi
Syam
Garis Besar Biografi
Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl(Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]
Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.
(bersambung)...
Semoga bermanfaat.
Khalid ibn Al-Walid
Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.
Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleedkarya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)
Daftar Istilah Penting
Al-Hirah
Kerajaan yang berlokasi di Iraq Modern (Mesopotamia), negara vasal Imperium Persia-Sassanid, dengan mayoritas warga adalah orang Arab dari suku Bani Lakhm.
Arabia
Wilayah yang terbentang dari Syam dan Mesopotamia sampai Jazirah Arab, dihuni oleh mayoritas orang Arab serta minoritas orang Israel, Eropa (Romawi), Persia, dan Ethiopia.
Bizantin
Imperium superpowerlanjutan dari Romawi, sering juga dikenal sebagai Imperium Romawi Timur. Bizantin beribukota di Konstantinopel (Istanbul Modern) dan menjadi satu-satunya penerus Romawi sejak dihancurkannya Imperium Romawi Barat (beribukota di Roma) pada Abad ke-4. Warga negaranya menganggap mereka adalah warga Romawi dan warga negara lain di masa itu pun memanggil mereka sebagai orang-orang Romawi. Di masa Khalid, wilayah kekuasaan mereka membentang dari daerah Balkan di Eropa, sebagian Libya dan Mesir di Eropa, serta Jazirah Turki, Armenia, dan Levant (Syam) di Asia.
Double Envelopment
Sebuah manuver lapangan dalam pertempuran di mana sebuah pasukan berupaya untuk melingkupi musuh sehingga dapat menyerangnya dari segala arah. Biasanya, pertempuran akan dimulai dalam garis pembeda yang jelas antara dua pasukan yang bertempur. Dengan memanfaatkan kondisi maupun penggunaan taktik tertentu, pasukan musuh dapat diserang dari samping dan belakang. Contoh penggunaan taktik ini ada pada Pertempuran Cannae dan Pertempuran Walaja.
Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Kavaleri ringan pasukan Muslim awal, dibangun oleh Khalid ibn Al-Walid dengan tujuan menjadi penyeimbang kelemahan infantri Muslim yang berbaju baja ringan. Gerakannya cepat, menerapkan taktik hit and run, efektif melawan kavaleri berat, dan sering menjadi garda depan pendahulu pasukan utama. Khalid dipecat saat menjabat sebagai komandan garda khusus ini. Penggantinya adalah Dhirar ibn Azwar.
Garnisun
Pasukan yang berkedudukan atau memiliki tempat pertahanan yang tetap, misalnya dalam benteng atau sebuah kota.
Ghassan
Kerajaan yang berlokasi di Syam Selatan, negara vasal Imperium Bizantin. Mayoritas warga negaranya adalah orang Arab beragama Kristen dari suku Bani Ghassan.
Imperium
Sebuah negara yang terdiri atas sekelompok bangsa, memiliki sebuah wilayah geografi yang luas, dipimpin oleh seorang kaisar atau sekelompok elit.
Kavaleri
Secara harfiah berarti pasukan berkuda, namun dalam prakteknya di masa kuno, unta dan gajah juga digunakan. Dalam peperangan modern, pasukan berkendara lapis baja maupun bukan juga termasuk dalam kavaleri. Di masa Khalid, kavaleri Bizantin dan Persia merupakan kavaleri berat, memakai baju besi tebal (termasuk kudanya) dan menutupi hampir seluruh tubuh. Kavaleri Muslim awal merupakan kavaleri ringan, berbaju baja dan bersenjata ringan.
Kekhalifahan
Sebuah sistem pemerintahan berbasis Islam yang menunjukkan kesatuan politik ummat Islam. Sistem ini dapat berupa sistem musyawarah perwakilan ataupun monarki konstitusional, dengan konstitusinya berupa Syariah. Karena dalam kekhalifahan ada kesatuan ummat, kekhalifahan selalu melingkupi banyak bangsa sehingga bisa dikategorikan sebagai bentuk Imperium.
Khalifah
Kepala negara dan pemerintahan sistem negara kekhalifahan, dapat dipilih oleh khalifah sebelumnya, ditunjuk oleh komite terpilih, dipilih langsung oleh rakyat, atau diturunkan pada keluarga khalifah sebelumnya.
Levant
Disebut juga Syam, daerah yang meliputi pantai timur Laut Mediterania, antara Anatolia (Jazirah Turki Modern) dan Mesir. Daerah ini meliputi wilayah-wilayah negara modern: Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina (Otoritas maupun yang dijajah oleh Israel), Siprus, Provinsi Hatay (Turki Tenggara) dan sebagian wilayah Iraq-Jazirah Sinai.
Mesopotamia
Daerah yang meliputi daerah aliran Sungai Tigris dan Eufrat, yaitu wilayah-wilayah modern: Iraq, sedikit daerah timur laut Suriah, sebagian Turki Tenggara, dan sebagian kecil barat daya Iran.
Negara Vasal
Negara yang tunduk kepada entitas politik lain yang lebih besar dan biasanya lebih kuat, tetapi diberi otoritas untuk mengurus negaranya sendiri.
Persia-Sassanid
Imperium superpowerdi Asia Barat pada Abad ke-4 sampai Abad ke-7, juga disebut oleh warga negaranya sendiri sebagai Ērānshahr atau Ērān, berdiri tahun 224 dan diruntuhkan oleh Kekhalifahan Islam pada tahun 651. Saat Khalid hidup, imperium ini menguasai wilayah modern Iran, sebagian Asia Tengah dan barat laut India, serta sebagian pantai timur dan selatan Jazirah Arab.
Romawi
Lihat Bizantin.
Syam
Lihat Levant.
Garis Besar Biografi
Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl(Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]
Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.
(bersambung)...
Diubah oleh plonard 16-08-2016 13:52
0
76.5K
287
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.5KThread•11.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
plonard
#222
Terjemahan dari bahasa asli, Bahasa Inggris. Ebook dapat diakses di:
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed
Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
(Halaman 7)
Semua kriminal pembunuh dibariskan. Pengadilan Khalid berlangsung lugas. Masing-masing pembunuh dihukum mati dengan cara yang sama dengan cara mereka masing-masing ketika membunuh Muslim. Di antara mereka ada yang dipenggal, beberapa yang lain dibakar hidup-hidup, dan sebagian lagi dirajam. Sejumlah kriminal pembunuh dijatuhkan dari puncak jurang dan sebagian yang lain dibunuh dengan tembakan panah. Sejumlah kecil ditenggelamkan di dalam sumur.[1] Mata dibalas dengan mata!
Setelah menyelesaikan tugasnya ini, Khalid mengirim surat kepada Abu Bakr berisi laporan lengkap tentang semua yang telah korpsnya capai. Khalifah membalas suratnya dengan isi pujian dan ucapan selamat atas kesuksesannya, persetujuan atas keputusan lapangan Khalid, serta doa untuk keberhasilan dalam kelanjutan tugasnya.
Setelah aksinya melawan Bani Sulaym di Naqra, Khalid tinggal di Buzakha selama tiga pekan untuk menerima penyerahan diri suku-suku dan menghukum para kriminal pembunuh. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke Zafar, lokasi sang perempuan yang memerlukan perhatiannya. Khalid dengan bersemangat menyambut pertemuan ini dan perempuan itu pun telah menunggunya dengan penuh persiapan!
Salma, alias Ummu Ziml, adalah sepupu kandung ‘Uyaynah. Ayahnya juga merupakan salah satu tetua penting Ghathfan yang bernama Malik bin Hudzayfah. Tidak hanya ayahnya, ibunya yang bernama Ummu Qirfah, juga adalah perempuan terpandang di sukunya. Di masa Sang Nabi masih hidup, ibunya ikut serta dalam pertempuran melawan Muslim dan ia tertangkap dan terbunuh, namun ingatan orang-orang Ghathfan pada perempuan ini masih ada di kepala mereka. Salma juga ditawan dan dibawa ke Madinah. Sebagai budak, ia dihadiahkan oleh nabi kepada A’isyah. Tetapi Salma tidak bisa terima sehingga A’isyah membebaskannya, kemudian Salma pun pulang ke sukunya.
Setelah kematian kedua orang tuanya, kedudukan Salma semakin tinggi di sukunya. Ia mulai mendapatkan kehormatan dan kecintaan dari anggota sukunya seperti apa yang ibunya dulu dapatkan. Di luar kebiasaan orang Arab, perempuan ini menjadi salah satu tetua suku Ghathfan. Ibunya memiliki seekor unta yang sangat sempurna bentuknya dan sekarang telah diwariskan kepada Salma. Karena Salma sangat mirip dengan ibunya, kemanapun ia pergi mengendarai unta ini, orang-orang teringat kembali dengan ibunya yang juga mereka hormati.
Salma menjadi salah satu pemimpin kaum murtad dan salah satu musuh Islam yang keras kepala. Setelah Pertempuran Buzakha dan aksi militer di Ghamra, sejumlah pasukan yang melarikan diri, bersama sisa-sisa pasukan Hawazin dan Bani Sulaym, bergegas menuju Zafar di ujung barat Pegunungan Salma. Mereka bergabung dengan pasukan Salma.[2] (Lihat Peta 8) Salma mencaci maki mereka tanpa ampun karena kekalahan mereka dan tindakan mereka membiarkan ‘Uyaynah tertangkap. Mereka justru terkagum-kagum dengan perempuan ini, dan mereka menerima caci maki ini tanpa membalas sepatah kata pun. Dengan kekuasaannya, Salma membentuk sekumpulan pasukan ini menjadi pasukan yang bersatu dan dalam beberapa hari, ia menjadi sebuah ancaman bagi Islam. Ia tahu bahwa Khalid yang sekarang telah menyelesaikan tugasnya di Buzakha, akan datang memeranginya. Ia pun mempersiapkan diri menghadapi gempuran Sang Pedang Allah.
Khalid bergerak bersama korpsnya dari Buzakha menuju Zafar. Di Zafar, tentara Islam kembali berhadapan dengan pasukan orang-orang yang tidak beriman. Khalid mengambil inisiatif dan menyerang terlebih dahulu.
Namun pertempuran tersebut tidak mudah. Khalid berhasil menekan kedua sayap musuh, namun ia tidak memperoleh kemajuan di bagian tengah. Pasukan tengan musuh bertahan mati-matian. Di lokasi ini, Salma dengan baju perang berkilauan, duduk di atas unta terkenal warisan ibunya. Dari lokasi ini, ia memberikan komando kepada pasukannya. Di sekitar untanya, berkumpullah prajurit-prajurit terbaiknya. Mereka siap mengorbankan nyawa mereka untuk melindungi pemimpin yang mereka muliakan.
Khalid menyadari bahwa moral pasukan musuh sangat bergantung pada keberadaan Salma dan selama ia masih memimpin mereka, pertempuran ini akan terus berlanjut menjadi pemandian darah. Perempuan ini harus disingkirkan. Oleh karena itu, Khalid dengan sejumlah prajurit pilihannya maju menusuk ke arah unta Salma dan dengan perjuangan berat, mereka berhasil mendekati posisi Salma. Dengan sejumlah tebasan pedang pada unta terkenalnya, jatuhlah Salma. Ia pun langsung dibunuh. Di sekitarnya, 100 tubuh pengikutnya yang berusaha melindungi pemimpin mereka, telah bergelimpangan.
Catatan Kaki Halaman 7
[1] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 490.
[2] Meskipun lokasi Zafar secara umum disebutkan, lokasi pastinya masih belum bisa dipastikan. Ath-Thabari menerangkan Zafar sebagai lokasi pertempuran dan ia juga menyebutkan sebuah kota bernama Ark yang menjadi tempat Salma memerintah. Ark pada zaman sekarang adalah sebuah desa bernama Rakka, 35 mil (56 km-pent) dari Hayl, tepat di kaki bukit bagian utara Pegunungan Salma. Dua belas mil (19 km-pent) di selatan Rakka, sebuah bukit berdiri juga dengan nama Zafar, di turunan barat pegunungan yang sama. Saya berpendapat bahwa di Zafar inilah pertempuran berlangsung.
____________________________________________________________________________
(Halaman 8)
Dengan kematian Salma, semua perlawanan kelompoknya lumpuh dan mereka melarikan diri ke berbagai arah. Salma memberikan perlawanan yang paling keras sejak pertempuran korps Khalid melawan Thulayhah.
Pegunungan Salma-sebuah pegunungan dari batuan yang kasar dan hitam 40 mil (64 km-pent) di tenggara Kota Hayl-dipercaya telah dinamakan berdasarkan namanya, sebuah penghargaan yang cocok bagi seorang perempuan bangsawan sepertinya yang dengan gagah berani bertahan dan bertempur sampai titik darah penghabisan melawan prajurit terbaik di masa tersebut.
Pertempuran Zafar berlangsung pada akhir bulan Oktober 632 M (akhir Rajab 11 H). Selama beberapa hari, Khalid mengistirahatkan pasukannya. Kemudian ia memberikan perintah kepada mereka untuk berangkat menuju Butah demi memerangi Malik bin Nuwayrah.
Fase pertama Perang Riddah berakhir dengan tewasnya Salma. Suku-suku besar di Utara-Tengah Arabia yang sebelumnya memberontak dengan memberi dukungan pada Thulayhah, sekarang telah menyerah dan ditaklukkan. Pemimpin-pemimpin mereka telah dibunuh atau ditangkap atau terusir. Tidak ada lagi kepala-kepala suku yang memberontak di wilayah ini.
Tetapi masih ada satu orang jahat lagi yang tersisa, yaitu seorang bandit, bukan kepala suku. Ia menimbulkan keresahan bagi Muslimin. Orang itu bernama Ayas (bin Abdullah-pent) bin Abd Yalil, tetapi lebih dikenal dengan sebutan Al-Faja`ah. Dia adalah seorang petualang.
Tepat ketika Khalid berkonsolidasi setelah kemenangannya di Buzakha, Al-Faja`ah datang kepada Abu Bakr. Ia berkata, “Aku adalah seorang Muslim. Berikanlah aku persenjataan dan aku akan memerangi orang-orang kafir.”[1]
Abu Bakr sangat senang dengan tawaran ini dan memberikannya persenjataan. Al-Faja`ah kemudian pergi dari Madinah, membentuk sebuah kawanan bandit dan mulai merampok musafir-musafir yang tidak hati-hati, kebanyakan dari mereka dibunuh. Kawanan bandit ini beroperasi di wilayah timur Makkah dan Madinah. Orang-orang kafir pun menjadi korban kejahatan kawanan Al-Faja`ah.
Ketika Abu Bakr mendengar perbuatan Al-Faja`ah, ia memutuskan untuk menghukumnya atas perbuatan jahatnya dan tipuannya kepada Khalifah. Abu Bakr mengirim pasukan untuk menangkap bandit itu hidup-hidup, dan beberapa hari kemudian, ia dibawa ke Madinah dengan tangan diborgol.
Abu Bakr memerintahkan agar kayu bakar ditumpukkan di depan masjid. Setelah siap, tumpukan kayu ini dibakar. Ketika kayu bakar itu mulai meretih dan api membumbung tinggi, Al-Faja`ah yang masih diborgol dilemparkan ke nyala api tersebut!
Di akhir hidup Abu Bakr, yaitu dua tahun kemudian, ia menyatakan penyesalannya. Ia berkata, ada tiga hal yang ia sesalkan telah ia lakukan dan tiga hal yang ia sesalkan belum ia kerjakan. Satu dari hal tersebut berkaitan dengan Al-Faja`ah, “Dahulu, aku seharusnya membunuh Al-Faja`ah secara langsung dan tidak membakarnya hidup-hidup.”[2]
Catatan Kaki Halaman 8
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 492.
[2] Ibid: Vol. 2, hlm. 619; Baladzuri: hlm. 112; Mas’udi: Muruj, Vol. 2, hlm. 308.
--Akhir dari Bab 13--
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed
Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
(Halaman 7)
Semua kriminal pembunuh dibariskan. Pengadilan Khalid berlangsung lugas. Masing-masing pembunuh dihukum mati dengan cara yang sama dengan cara mereka masing-masing ketika membunuh Muslim. Di antara mereka ada yang dipenggal, beberapa yang lain dibakar hidup-hidup, dan sebagian lagi dirajam. Sejumlah kriminal pembunuh dijatuhkan dari puncak jurang dan sebagian yang lain dibunuh dengan tembakan panah. Sejumlah kecil ditenggelamkan di dalam sumur.[1] Mata dibalas dengan mata!
Setelah menyelesaikan tugasnya ini, Khalid mengirim surat kepada Abu Bakr berisi laporan lengkap tentang semua yang telah korpsnya capai. Khalifah membalas suratnya dengan isi pujian dan ucapan selamat atas kesuksesannya, persetujuan atas keputusan lapangan Khalid, serta doa untuk keberhasilan dalam kelanjutan tugasnya.
Setelah aksinya melawan Bani Sulaym di Naqra, Khalid tinggal di Buzakha selama tiga pekan untuk menerima penyerahan diri suku-suku dan menghukum para kriminal pembunuh. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke Zafar, lokasi sang perempuan yang memerlukan perhatiannya. Khalid dengan bersemangat menyambut pertemuan ini dan perempuan itu pun telah menunggunya dengan penuh persiapan!
Salma, alias Ummu Ziml, adalah sepupu kandung ‘Uyaynah. Ayahnya juga merupakan salah satu tetua penting Ghathfan yang bernama Malik bin Hudzayfah. Tidak hanya ayahnya, ibunya yang bernama Ummu Qirfah, juga adalah perempuan terpandang di sukunya. Di masa Sang Nabi masih hidup, ibunya ikut serta dalam pertempuran melawan Muslim dan ia tertangkap dan terbunuh, namun ingatan orang-orang Ghathfan pada perempuan ini masih ada di kepala mereka. Salma juga ditawan dan dibawa ke Madinah. Sebagai budak, ia dihadiahkan oleh nabi kepada A’isyah. Tetapi Salma tidak bisa terima sehingga A’isyah membebaskannya, kemudian Salma pun pulang ke sukunya.
Setelah kematian kedua orang tuanya, kedudukan Salma semakin tinggi di sukunya. Ia mulai mendapatkan kehormatan dan kecintaan dari anggota sukunya seperti apa yang ibunya dulu dapatkan. Di luar kebiasaan orang Arab, perempuan ini menjadi salah satu tetua suku Ghathfan. Ibunya memiliki seekor unta yang sangat sempurna bentuknya dan sekarang telah diwariskan kepada Salma. Karena Salma sangat mirip dengan ibunya, kemanapun ia pergi mengendarai unta ini, orang-orang teringat kembali dengan ibunya yang juga mereka hormati.
Salma menjadi salah satu pemimpin kaum murtad dan salah satu musuh Islam yang keras kepala. Setelah Pertempuran Buzakha dan aksi militer di Ghamra, sejumlah pasukan yang melarikan diri, bersama sisa-sisa pasukan Hawazin dan Bani Sulaym, bergegas menuju Zafar di ujung barat Pegunungan Salma. Mereka bergabung dengan pasukan Salma.[2] (Lihat Peta 8) Salma mencaci maki mereka tanpa ampun karena kekalahan mereka dan tindakan mereka membiarkan ‘Uyaynah tertangkap. Mereka justru terkagum-kagum dengan perempuan ini, dan mereka menerima caci maki ini tanpa membalas sepatah kata pun. Dengan kekuasaannya, Salma membentuk sekumpulan pasukan ini menjadi pasukan yang bersatu dan dalam beberapa hari, ia menjadi sebuah ancaman bagi Islam. Ia tahu bahwa Khalid yang sekarang telah menyelesaikan tugasnya di Buzakha, akan datang memeranginya. Ia pun mempersiapkan diri menghadapi gempuran Sang Pedang Allah.
Khalid bergerak bersama korpsnya dari Buzakha menuju Zafar. Di Zafar, tentara Islam kembali berhadapan dengan pasukan orang-orang yang tidak beriman. Khalid mengambil inisiatif dan menyerang terlebih dahulu.
Namun pertempuran tersebut tidak mudah. Khalid berhasil menekan kedua sayap musuh, namun ia tidak memperoleh kemajuan di bagian tengah. Pasukan tengan musuh bertahan mati-matian. Di lokasi ini, Salma dengan baju perang berkilauan, duduk di atas unta terkenal warisan ibunya. Dari lokasi ini, ia memberikan komando kepada pasukannya. Di sekitar untanya, berkumpullah prajurit-prajurit terbaiknya. Mereka siap mengorbankan nyawa mereka untuk melindungi pemimpin yang mereka muliakan.
Khalid menyadari bahwa moral pasukan musuh sangat bergantung pada keberadaan Salma dan selama ia masih memimpin mereka, pertempuran ini akan terus berlanjut menjadi pemandian darah. Perempuan ini harus disingkirkan. Oleh karena itu, Khalid dengan sejumlah prajurit pilihannya maju menusuk ke arah unta Salma dan dengan perjuangan berat, mereka berhasil mendekati posisi Salma. Dengan sejumlah tebasan pedang pada unta terkenalnya, jatuhlah Salma. Ia pun langsung dibunuh. Di sekitarnya, 100 tubuh pengikutnya yang berusaha melindungi pemimpin mereka, telah bergelimpangan.
Catatan Kaki Halaman 7
[1] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 490.
[2] Meskipun lokasi Zafar secara umum disebutkan, lokasi pastinya masih belum bisa dipastikan. Ath-Thabari menerangkan Zafar sebagai lokasi pertempuran dan ia juga menyebutkan sebuah kota bernama Ark yang menjadi tempat Salma memerintah. Ark pada zaman sekarang adalah sebuah desa bernama Rakka, 35 mil (56 km-pent) dari Hayl, tepat di kaki bukit bagian utara Pegunungan Salma. Dua belas mil (19 km-pent) di selatan Rakka, sebuah bukit berdiri juga dengan nama Zafar, di turunan barat pegunungan yang sama. Saya berpendapat bahwa di Zafar inilah pertempuran berlangsung.
____________________________________________________________________________
(Halaman 8)
Dengan kematian Salma, semua perlawanan kelompoknya lumpuh dan mereka melarikan diri ke berbagai arah. Salma memberikan perlawanan yang paling keras sejak pertempuran korps Khalid melawan Thulayhah.
Pegunungan Salma-sebuah pegunungan dari batuan yang kasar dan hitam 40 mil (64 km-pent) di tenggara Kota Hayl-dipercaya telah dinamakan berdasarkan namanya, sebuah penghargaan yang cocok bagi seorang perempuan bangsawan sepertinya yang dengan gagah berani bertahan dan bertempur sampai titik darah penghabisan melawan prajurit terbaik di masa tersebut.
Pertempuran Zafar berlangsung pada akhir bulan Oktober 632 M (akhir Rajab 11 H). Selama beberapa hari, Khalid mengistirahatkan pasukannya. Kemudian ia memberikan perintah kepada mereka untuk berangkat menuju Butah demi memerangi Malik bin Nuwayrah.
Fase pertama Perang Riddah berakhir dengan tewasnya Salma. Suku-suku besar di Utara-Tengah Arabia yang sebelumnya memberontak dengan memberi dukungan pada Thulayhah, sekarang telah menyerah dan ditaklukkan. Pemimpin-pemimpin mereka telah dibunuh atau ditangkap atau terusir. Tidak ada lagi kepala-kepala suku yang memberontak di wilayah ini.
Tetapi masih ada satu orang jahat lagi yang tersisa, yaitu seorang bandit, bukan kepala suku. Ia menimbulkan keresahan bagi Muslimin. Orang itu bernama Ayas (bin Abdullah-pent) bin Abd Yalil, tetapi lebih dikenal dengan sebutan Al-Faja`ah. Dia adalah seorang petualang.
Tepat ketika Khalid berkonsolidasi setelah kemenangannya di Buzakha, Al-Faja`ah datang kepada Abu Bakr. Ia berkata, “Aku adalah seorang Muslim. Berikanlah aku persenjataan dan aku akan memerangi orang-orang kafir.”[1]
Abu Bakr sangat senang dengan tawaran ini dan memberikannya persenjataan. Al-Faja`ah kemudian pergi dari Madinah, membentuk sebuah kawanan bandit dan mulai merampok musafir-musafir yang tidak hati-hati, kebanyakan dari mereka dibunuh. Kawanan bandit ini beroperasi di wilayah timur Makkah dan Madinah. Orang-orang kafir pun menjadi korban kejahatan kawanan Al-Faja`ah.
Ketika Abu Bakr mendengar perbuatan Al-Faja`ah, ia memutuskan untuk menghukumnya atas perbuatan jahatnya dan tipuannya kepada Khalifah. Abu Bakr mengirim pasukan untuk menangkap bandit itu hidup-hidup, dan beberapa hari kemudian, ia dibawa ke Madinah dengan tangan diborgol.
Abu Bakr memerintahkan agar kayu bakar ditumpukkan di depan masjid. Setelah siap, tumpukan kayu ini dibakar. Ketika kayu bakar itu mulai meretih dan api membumbung tinggi, Al-Faja`ah yang masih diborgol dilemparkan ke nyala api tersebut!
Di akhir hidup Abu Bakr, yaitu dua tahun kemudian, ia menyatakan penyesalannya. Ia berkata, ada tiga hal yang ia sesalkan telah ia lakukan dan tiga hal yang ia sesalkan belum ia kerjakan. Satu dari hal tersebut berkaitan dengan Al-Faja`ah, “Dahulu, aku seharusnya membunuh Al-Faja`ah secara langsung dan tidak membakarnya hidup-hidup.”[2]
Catatan Kaki Halaman 8
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 492.
[2] Ibid: Vol. 2, hlm. 619; Baladzuri: hlm. 112; Mas’udi: Muruj, Vol. 2, hlm. 308.
--Akhir dari Bab 13--
0