Kaskus

Story

p.p.p.Avatar border
TS
p.p.p.
KESURUPAN (Komedi anti-Mainstream)
SEMANGKOK BAKSO PERSAHABATAN (Bab 1)

PERSAHABATAN dapat terjalin dalam berbagai cara. Bahkan jika itu adalah cara yang paling aneh sekalipun, atas nama persahabatan itu tetap dilegalkan. Dan apa yang akan terjadi beberapa saat lagi akan menjadi bukti bahwa persahabatan dapat terjalin dalam situasi baik ataupun buruk, normal ataupun aneh.

Saat itu, di kantin SD yang akan menjadi tempat di mana cerita ini dimulai, di salah satu meja dua anak laki-laki tengah menyantap semangkok bakso. Ada perbedaan yang kentara sekali di antara mereka pada saat itu, meskipun pada dasarnya mereka berada dalam situasi yang sama: Hari pertama masuk SD.

Sementara anak yang di sebelahnya mengunyah baksonya dengan tersedu-sedu, Doni dengan percaya diri tampak sangat menikmati setiap suapan yang masuk ke dalam mulutnya. Dia anak yang cenderung gampang bergaul, tak pernah pilih-pilih teman. Bahkan dia sering main lompat tali sama anak perempuan di kompleks tanpa harus jadi tersesat dalam menentukan jenis kelamin-nya.

Beberapa waktu yang lalu dia juga sempat menyapa anak kelas tiga, “Apa kabar, Coy? Tadi pagi minum susu, kan?”

“Ha?” kata anak kelas tiga yang disapa, heran.

“Susu bubuk, susu cair, atau susu kental manis, Bro?” tanya Doni sok asyik.

Anak kelas tiga itu pun lari. Mungkin menanyakan jenis susu yang dikonsumsi adalah topik yang cukup tabu bagi umur-umur anak SD. Atau mungkin Doni sudah bergaul dengan cara yang salah...

Anak laki-laki di sebelah Doni masih menangis. Entah sudah berapa banyak air matanya masuk ke dalam mangkok baksonya, sebelum akhirnya tersentak ketika bel masuk berdering. Dia memandang berkeliling, mengamati murid-murid yang berlarian ke dalam kelas. Sesaat dia tampak hendak melakukan apa yang dilakukan kebanyakan murid, tetapi ketika kesadarannya kembali, ketika kekagetannya sirna, ingatan tentang rumah kembali terngiang dan dia pun kembali duduk. Dia terlalu sedih untuk berdiri kembali, terlalu sedih untuk menghadapi agenda kelas yang terasa mengerikan baginya. Sama halnya dengan Doni, yang ternyata memilih untuk diam di tempat seraya menyantap semangkok baksonya yang tak kunjung habis, namun dengan wajah yang cerah serta alasan yang jelas berbeda.

Sebenarnya hal ini sudah Doni pertimbangkan sejak tadi. Sejak awal datangnya waktu istirahat sebenarnya dia sudah membuat rangkaian kegiatannya sendiri. Dia sudah punya rencana yang akan terlaksana persis ketika mangkok baksonya kosong, dan sebentar lagi, tepatnya tak lebih dari lima suap, dia akan berdiri. Dia sangat yakin bahwa satu-satunya kegiatan yang akan dia lakukan di kelas adalah perkenalan, seperti beberapa jam yang lalu, dan baginya itu tidaklah lebih baik ketimbang menelusuri setiap jengkal halaman sekolah, ataupun melewati koridor sendirian dan kemudian tersesat, lalu panik.

Saking semangatnya memikirkan apa-apa saja yang akan dia lakukan setelah mangkok baksonya habis, Doni menambahkan sesendok penuh cabe rawit meskipun sebelumnya dia sudah menaruh satu sendok penuh cabe rawit ke dalam mangkok baksonya. Saking sedihnya memikirkan waktu pulang yang masih sangat lama, anak laki-laki yang duduk di sebelah Doni mengunyah baksonya perlahan-lahan, lalu semakin pelan dan lebih pelan lagi. Sesungguhnya dia seperti halnya kebanyakan anak kecil yang tak siap menghadapi lingkungan sekolah, namun lebih melankolis.

Doni menatap mangkok baksonya. Sebentar lagi... tinggal tiga suap lagi dan petualangan besarnya bisa dimulai... peduli amat dengan acara perkenalan antara murid baru. Toh nanti mereka juga akan kenal sendiri seiring berjalannya waktu. Saat ini ada petualangan besar yang sedang menunggu, dan dia sudah tak sabar untuk...

“Dia kenapa? Kamu apain dia?” tanya mamang bakso, yang mendadak muncul dengan tampang setengah panik.

Doni pasti sangat bingung jika saja tak menoleh ke samping, dan terkejut menyaksikan apa yang terjadi pada anak laki-laki di sampingnya. Doni hampir pasti tak pernah melihat pemandangan seperti ini. Dia sangat kaget. Dia kaget mengetahui kalau ternyata seseorang sedang kejang-kejang sementara dia asyik dalam pikirannya sendiri.

“Kamu ngasih racun, ya? Iya, kan!” tuduh mamang bakso, menunjuk mangkok bakso anak laki-laki yang kejang-kejang. “Ngaku!”

Bukan salah siapa-siapa kalau tak ada yang sadar bahwa anak laki-laki yang kejang itu sebenarnya kesurupan. Wajahnya lebih mirip orang keracunan daripada kesurupan.

“Saya gak ngelakuin apa-apa,” kata Doni, memandang heran anak laki-laki di sampingnya. Anehnya anak laki-laki itu menatap balik, meski kepalanya godek-godek.

“Lihat, kan! Kamu lihat kan tatapan matanya!” kata mamang bakso, yakin. “Anak ini mulutnya emang gak bisa dipake... tapi matanya masih bisa menunjukkan siapa pelakunya. Dan pelakunya adalah...”

Tiba-tiba anak laki-laki di samping Doni menatap mamang bakso. Kepalanya masih godek-godek.

“Harusnya saya sadar sejak tadi,” ujar mamang bakso serius. “Ini lebih serius dari dugaan saya...” Dia berputar-putar di tempat, matanya menyipit tajam memperhatikan Doni. “Racun yang kamu gunakan memberikan efek halusinasi dan membuat hilangnya kontrol diri. Dalam hal ini kita tidak bisa mempercayai gerakan tubuh korban... racun jenis apa yang kamu gunakan? Ngaku!”

“Saya gak ngelakuin apa-apa,” jawab Doni ogah-ogahan. Dia masih terlalu kecil untuk memahami tuduhan dari mamang bakso. Yang dia tahu adalah dia harus segera pergi. Terserah mau itu di kelas atau di luar kelas, yang pasti bukan di kantin.

“Jadi kamu nuduh saya? Jadi kamu mau nuduh kalau saya yang ngeracunin? Maksud kamu bakso bikinan saya beracun? Asal kamu tau, saya sudah lama banget gak pake yang namanya ‘formalin’! Dan sudah enam bulan semenjak terakhir saya pake daging tikus! Saya pake daging ayam sekarang. Da-ging a-yam!”

Doni memandang ngeri kepada mamang bakso.

“Jadi... ada banyak yang harus kamu jelasin,” desis mamang bakso dengan nada mengancam, matanya menyipit tajam dari seberang meja, “terutama sama orang tua anak ini...”

Persis ketika mamang bakso menunjuk anak laki-laki di samping Doni, tiba-tiba anak laki-laki itu menepuk bagian pinggir mangkok baksonya dan tumpah mengenai wajahnya. Doni panik, buru-buru dia menyeka wajah anak laki-laki itu dengan tangannya dan, ajaibnya...

“Kamu harus jelasin sama orang tua anak ini, kenapa anaknya bisa... sembuh. Kamu gak ngeracunin dia...”

Mamang bakso nyengir, kemudian pergi.

“B-b-bakso... b-baksonya,” rengek anak laki-laki di samping Doni, menunjuk mangkok baksonya yang kosong.

Doni menghela napas panjang. Tangan gemuknya menyodorkan mangkok baksonya ke samping, tepat ke arah anak laki-laki di sampingnya. Dia tersenyum saat mangkok baksonya diterima.

“P-p-pedas,” kata anak laki-laki di samping Doni. Dia menangis.

“Tadi pake cabe rawit,” balas Doni seraya terkekeh, “dua sendok penuh.”

Dan sejak saat itu sesuatu yang baru dimulai. Mereka tidak tahu bahwa takdir akan mengikat mereka lebih erat dari yang bisa dibayangkan, bahkan oleh seorang pengkhayal sekalipun. Dan Doni tak sadar kalau yang dia tawarkan bukanlah semangkok bakso, ataupun semangkok sisa bakso, melainkan persahabatan.


ng
gimana gan? bagusnya gue lanjut atau enggak? btw, gue baru main kaskus:v emoticon-thumbsup emoticon-Wowcantik

BAB 2: Anak Laki-Laki yang Kesurupan
BAB 3: Awal yang Buruk
BAB 4: Mbah Sugeng
BAB 5: Sektor Enam Belas

Bab terakhir Kesurupan ada di sini

btw, baca juga cerita komedi gue yang judulnya ORANG BODOH
Diubah oleh p.p.p. 17-07-2016 10:46
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
6.8K
59
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
p.p.p.Avatar border
TS
p.p.p.
#32
MBAH SUGENG (bab 4)

HANYA dalam beberapa hari desas-desus mengenai Andi menyebar. Sekarang kemungkinan menjadi populer sirna. Andi mendapat julukan Andi Pengebiri. Tiap murid laki-laki yang secara tak sengaja ditemuinya hampir pasti menutup selangkangannya, berusaha menjaga sesuatu yang pantas dijaga. Pada minggu pertama Doni dan Andi sukses menjadi anak yang paling dihindari. Dalam artian lain: Dikucilkan.

“Salah kita apa?” protes Andi.

“Mungkin kita terlalu istimewa untuk mereka,” balas Doni. Dia memandang setiap murid laki-laki yang menutupi selangkangannya.

“Gue capek kayak gini terus. Gue capek kesurupan terus. Gue cuma mau jadi normal...”

Doni hanya mengangguk, kali ini dia tak punya apa-apa untuk dikatakan. Sama dengan Andi, yang tak punya apa-apa untuk diharapkan. Dia sudah menurunkan targetnya. Menjadi normal rasanya sudah luar biasa.

“Mau ikut gak?” kata Andi.

“Ke mana?”

“Ke WC, gue mau pipis. Pipis. Pipis... pipis, pipis, pipis, pipis, pipis,” kata Andi, terus begitu dengan nada yang konsisten. Makhluk yang merasukinya sepertinya belum pernah pipis selama seabad.

“Bisa gak sih ngomong lain selain pipis!”

Hening sejenak. Andi, atau entah siapa nama makhluk yang merasuki Andi, jatuh terduduk di lantai. Tapi kemudian dia tersenyum.

“Kencing... pipis, kencing, pipis, kencing, pipis,” ucap Andi terus menerus, dan diulang tanpa berhenti.

Setengah jengkel Doni mengambil semprotan air garam dari sakunya, menyemprotkannya ke wajah Andi dan mengusap alisnya. Seperti yang sudah-sudah, kesadaran Andi kembali.

“Gue kesurupan lagi?” tanya Andi.

Doni mengangguk lemah.

“Bahkan gue gak bisa pipis dengan tenang—yah, bocor deh...”

*****

Masalah hadir untuk jawaban. Terkadang banyak dari kita yang melupakan hal itu. Banyak dari kita dengan pasrah menganggap suatu masalah tak akan terpecahkan, abadi, dan beranak-pinak. Barangkali sebenarnya jawaban dari masalah itu ada di dekat kita, hanya saja terinjak, berada di bawah kaki kita tanpa disadari. Dan dalam kesempatan ini, tepatnya di koridor sekolah persis setelah pelajaran terakhir selesai, jawaban dari permasalahan Andi tepat berada di bawah kakinya, atau setidaknya begitulah yang tertulis pada selebaran:

“MENGATASI MASALAH TANPA MASALAH”

Anda punya masalah? Atau Anda dianggap biang masalah? Silahkan hubungi MBAH SUGENG: 085XXXXXX

“Mungkin ini jawaban dari masalah kita!” seru Andi.

“Mungkin,” jawab Doni ragu. “Kenapa gak coba hubungi aja nomornya?”

Andi tak menjawab. Tapi dari matanya menunjukkan bahwa dia jelas tergoda. Dia segera menghubungi Mbah Sugeng.

“Gak dijawab, Don.”

“Mungkin dia lagi menyelesaikan banyak masalah. Coba hubungi terus.”

Sekali lagi Andi mencoba menghubungi Mbah Sugeng, namun gagal. Andi terus mencoba tanpa henti, dan akhirnya berhasil ketika mereka tiba di luar gerbang. Yang didengar pertama kali adalah suara yang bersahabat, lengkap dengan intonasi dari orang yang terbiasa mengiklankan diri—secara garis besar mirip suara call center, “Mengatasi masalah tanpa masalah. Dengan Mbah Sugeng di sini.”

“Saya Andi.” Tiba-tiba Doni menarik lengan Andi, kemudian menunjuk pria yang membagi-bagikan selebaran. “Jangan sekarang, Don,” bisiknya.

“Wah, kamu punya aura yang bagus. Saya bisa merasakan kehadiran kamu. Suara kamu terasa sangat dekat...”

Sekali lagi Doni menarik lengan Andi, dan akhirnya dia paham maksud sahabatnya.

“Kayaknya kita emang... Mbah lagi nyebarin selebaran, ya?”

Dengan sigap pria yang membagikan selebaran itu berbalik, buru-buru mengenakan turban yang disematkan pin Hello Kitty, dan dengan gaya sok berusaha menerka, “Masalah... kalian pasti jomblo!”

“Iya! Kok tau!” timpal Doni.

“Memang betul di era globalisasi ini kita dituntut agar tegas dalam segala hal, terutama dalam bidang asmara. Bahkan, waktu saya muda, padahal belum kenal tuh yang namanya internet, tapi saya dijauhi gara-gara jomblo. Tapi waktu itu saya belum kenal pelet... intinya, kejombloan membuat orang bisa dikucilkan. Kalian pasti dikucilkan!”

“Iya!” seru Doni dengan tatapan yang seakan berkata, “Kenalin saya sama pelet dong!”

Mbah Sugeng mengangguk puas. Tebakannya tepat sasaran.

“Kami emang dikucilkan, tapi bukan karena jomblo. Masalah kami lebih serius,” kata Andi.”

“Lebih serius?” kata Mbah Sugeng, yang mengambil kursi kecil di belakangnya. “Silahkan duduk—saya saja yang duduk. Maksud saya silahkan cerita.”

Andi mendadak bingung, tak tahu harus memulai dari mana. Perjalanan sembilan tahun bersama Doni bukanlah sesuatu yang mudah dirangkum. Hampir semuanya penting. Terutama saat pertemuan pertamanya dengan Doni, yang diawali oleh semangkok bakso. Dia juga tak mungkin memotong tentang Doni yang bisa menyadarkan dirinya kembali melalui cara-cara sederhana.

Maka selama setengah jam Mbah Sugeng duduk mendengarkan Andi, dan menyesal. Dia menyesal setelah tahu bahwa apa yang dihadapinya benar-benar serius, bukan persoalan gampangan yang bisa selesai dengan wajah meyakinkan, mulut yang bergetar, dan kepura-puraan bahwa masalah sudah terselesaikan.

“Kalau gitu kalian aja yang duduk, saya berdiri,” kata Mbah Sugeng setelah Andi selesai bercerita.

Doni dan Andi duduk sekursi, menatap Mbah Sugeng yang mondar-mandir.

“Gimana, Mbah?” tanya Andi.

“Jadi persoalannya terletak di sini,” kata Mbah Sugeng, menunjuk yakin pada dada Andi, dan mendadak, tiba-tiba saja seluruh tubuhnya bergetar. Napasnya seakan tersendat beberapa saat, dan akhirnya kembali lega seraya berkata, “Barusan saya menutup pintu masuk menuju raga kamu, Andi. Gimana rasanya? Lega, kan? Lega, kan? Iya, kan!”

Andi tersenyum.

“Akhirnya,” gumam Doni, dengan tampang yang seolah berkata, “Gue bebas!”

“Mengatasi masalah tanpa masalah,” ujar Mbah Sugeng dengan gaya call center.

“Ampun, Sugeeeng!” bentak Andi, yang sudah jelas bukan lagi Andi karena suaranya mendadak renta, seperti orang yang tengah menunggu ajal.

“Semprot! Cepat semprot!” ujar Mbah Sugeng kepada Doni. “SEKARANG!”

Doni dengan sigap meraih semprotan air garam di dalam sakunya, namun suara renta makhluk yang merasuki Andi membentak, “APA? Kamu berani ngusir saya? Kamu gak tau siapa saya?”

Doni menggeleng, panik.

“Saya pahlawan kemerdekaan! Kamu berani ngusir saya, setelah saya bersusah payah ngusir penjajah?”

Doni, sekali lagi, menggeleng.

“Kasih saya waktu. Saya ada urusan,” ujar Andi. Dia berbalik menatap Mbah Sugeng yang mendadak kecut. “Hiduplah sebagai orang yang berguna bagi orang lain!”

“Amm-pun, Kakek,” cicit Mbah Sugeng. “Saya berguna kok... motto saya aja mengatasi masalah tanpa masalah.” Mbah Sugeng menunjukkan isi selebaran yang dia sebarkan. “Niat saya baik kok.”

“Kamu masih ingat kan hukuman buat pembohong?”

“Ampun, Kakek... saya gak kuuath... saya gak mau makan duren sama bijinya... saya gak suka duren. Lebih enak alpokat.”

*****

Pertemuan dengan Mbah Sugeng ternyata tak banyak membantu, malah sebaliknya. Mbah Sugeng ternyata penipu ulung. Semenjak pagi tadi, sehari setelah bertemu Mbah Sugeng, Andi sudah kesurupan lima belas kali. Itu adalah rekor kesurupan terbanyak yang pernah dia lakukan dalam kurun 5 jam. Dan masih bisa bertambah lagi.

“Kita merdeka atas nama bangsa sendiri, atas nama darah pahlawan,” ujar guru sejarah. “Banyak darah yang tertumpah, dan kita harus bangga akan hal itu! Dengan gagah mereka melawan dengan bambu runcing. Banyak korban berjatuhan. Di situ letak kesalahan mereka. Kenapa gak pake pis-tolll? Ambil kek dari penjajah, nyolong kek, atau minjem kalau takut dosa.”

Tiba-tiba Andi mengangkat tangannya. Dari matanya Doni tahu Andi sedang serius. Tapi ini tetap mencurigakan.

“Ada apa, Andi?” tanya guru sejarah.

Sekarang Andi maju ke depan kelas.

“Siapa yang bilang saya pake bambu runcing? Kamu gak tau apa-apa! Jangan hina para pahlawan!” bentak Andi, seraya menunjuk guru sejarah yang sekarang meringkuk di sudut kelas.

“K-ka-mu s-siap-pa?” kata guru sejarah.

“Saya karto, pahlawan kemerdekaan.”

*****

“Itu kan bukan gue, tapi kakek Mbah Sugeng,” keluh Andi, setelah beberapa menit yang lalu didamprat guru sejarah. “Kenapa jadi nilai gue yang dikurangi.”

“Nilai gue juga,” kata Doni. “Cuma gara-gara telat nyemprot lo pake air garam... eh! Semprotannya ketinggalan di kelas!”

“Pipis?”

“Bukan! Kuping lo kemasukan apa sih?”

“Pipis.”

“Jangan bilang...”

“Pipis, pipis, pipis, pipis, pipis, pipis,” ujar Andi terus-menerus, tanpa henti. Tubuhnya lagi-lagi diambil alih makhluk yang menahan kencing selama satu abad.

“Setan pipis kembali!”

Ini adalah saat paling dilematis sebenarnya. Doni sesegera mungkin harus mengambil semprotannya di kelas dan menyadarkan Andi. Tetapi kembali ke kelas berarti meninggalkan Andi, dan itu membuka peluang terjadinya hal-hal yang tak diinginkan. Bahkan sekarang Andi berlari menghampiri siapa saja sambil menyodorkan selangkangannya. Sekarang dia lebih mirip penjahat kelamin ketimbang orang kesurupan.

Namun... tiba-tiba saja... seorang cewek muncul seraya menyodorkan semprotan yang tertinggal di kelas. Untuk lima detik awal Doni memandang penuh terima kasih, sementara dua ratus sembilan puluh lima detik selanjutnya terpesona. Dia tersadar sewaktu Andi menawarkan selangkangannya dan berteriak, “Pipis!” dengan tarian striptis.

“Gue tau reputasi kalian,” ujar cewek yang membawa semprotan Doni, sesaat setelah Doni menyemprot Andi dengan air garam. “Gue butuh bantuan kalian.”

“Nama... siapa...” ujar Doni terpesona.

“Oh, iya! Nama gue Rina.”

*****

Rina adalah tipe cewek yang gampang terkenal. Rambutnya panjang terurai, wajahnya merah merona, tangannya ada dua, organ tubuhnya sehat-sehat, dan dia sering tersenyum tanpa perlu kehilangan kesan waras. Singkat kata: Dia adalah salah satu cewek paling populer di sekolah.

Namun di balik pesonanya yang luar biasa, ada sisi kelam yang belum terungkap. Melalui percakapan singkat di kantin Doni dan Andi tahu bahwa Rina adalah pecinta berat horor. Tapi bukan itu sisi kelam yang belum terungkap. Ternyata, karena dipengaruhi oleh tontonan ataupun bacaan horor di rumahnya, diam-diam Rina menanamkan hasrat dalam hatinya, menginginkan sesuatu yang dihindari banyak orang, terutama oleh Andi jika mungkin. Diam-diam Rina ingin mengetahui bagaimana rasanya kesurupan.

Bisa dibilang rencana Rina agak jenius kalau bukan agak dongo. Andi, yang kita tahu adalah orang yang paling mudah kesurupan, akan digunakan sebagai magnet pemanggil makhluk halus. Dengan begitu Rina berharap probabilitas dirinya dirasuki akan meningkat tajam.

“Hai, Rina,” sapa anak laki-laki berhidung mencong.

Dengan ragu-ragu Rina membalas, “Hai juga...”

“Jimmy.”

“Hai juga, Jimmy.”

Anak laki-laki berhidung mencong itu berlalu. Sejauh ini Rina sudah di-hai oleh sebelas orang. Doni, diam-diam, semakin terpesona.

“Ternyata kamu populer banget...”

“Jadi gimana?” tanya Rina, matanya memohon kepada Doni dan Andi.

“Nanti gimana kalau lo kesurupan? Siapa yang bakal tanggung jawab? Lo tau kan kalau Doni cuma bisa ngusir makhluk halus dari tubuh gue?” jawab Andi.

“Gue siap tanggung jawab...” gumam Doni sepelan mungkin.

“Kalau soal itu sudah beres. Gue tau orang yang bisa menangani orang-orang yang kesurupan. Jadi pas gue kesurupan, kalian bisa telepon dia. Jadi gimana?”

“Kenapa gak sekalian aja minta dibikin kesurupan sama dia?” kata Andi.

“’Mas, saya Rina, bikin saya kesurupan dong’. Gak mungkin kan gue ngomong kayak gitu?” sahut Rina.

“Jadi kenapa kami mau bantuin lo? Kenapa menurut lo kami bakal mau sementara orang lain enggak?”

“Karena kalian... kalian... eh...”

“Aneh?” potong Andi. “ Karena kami gak pernah punya temen?”

“Enggak, bukan kayak gitu...”

Tapi terlambat, Andi sudah pergi. Bagi Andi, yang saban hari kesurupan, menjadi normal beberapa hari, dalam artian tidak kesurupan, adalah bentuk nyata dari liburan. Dia bersedia menukar apa saja untuk itu, sementara Rina berpikir sebaliknya. Kadang sesuatu yang dihindari oleh yang satu malah dihampiri oleh yang lain, yang ditolak oleh yang satu diterima oleh yang lain. Jika ketidakcocokan adalah alasan untuk saling membenci, itu dapat ditemukan dengan sangat mudah.

“Siapa sih orang yang bisa menangani orang kesurupan yang lo maksud?” tanya Doni penasaran.

“Namanya Mbah Sugeng,” jawab Rina gampang. “Gue tau dari selebaran yang gue dapet beberapa hari yang lalu.”


sundul ganemoticon-Sundul Up
emoticon-Sundul Up emoticon-Sundul Up
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.