YANG HILANG DI MEI '98 (Based on Several True Stories)
TS
manhalfgod
YANG HILANG DI MEI '98 (Based on Several True Stories)
Halo agan dan aganwati sekalian! TS mau share cerita pendek baru nih, semoga pada berkenan
Ceritanya ngangkat tema kerusuhan di Jakarta, Mei 1998. Temanya sensitif isu SARA, jadi TS pengen bilang dari awal kalo cerita yang TS buat ini murni cuma buat refleksi, sama sekali ngga ada maksud buat memancing emosi dari pihak manapun. Jadi TS harap jangan sampai ada yang coba-coba jadi provokator di sini
Berhubung ceritanya udah selesai di-publish di situs lain (Wattpad), agan dan aganwati bisa baca langsung sampe abis di sana, tapi TS janji bakal update satu bab setiap hari di thread ini - harap maklum TS masih newbie di Kaskus hehe.
SINOPSIS - Yang Hilang di Mei '98
Untuk 15 tahun ke atas.
12-14 Mei 1998 merupakan salah satu masa terkelam di Indonesia. Akibat permainan elit politik, masyarakat yang kecewa dan tertekan oleh kondisi ekonomi harus merendahkan martabatnya dengan melakukan penjarahan, pembunuhan, pembakaran, dan pemerkosaan. Akibatnya sesama warga Indonesia harus menanggung kehilangan yang begitu besar baik secara material (kerusakan infrastruktur, kerugian finansial) maupun non-material (kematian, cedera fisik maupun kejiwaan). Sayangnya sampai saat ini dalang maupun pihak yang mengambil kesempatan dalam kerusuhan tidak diusut secara tuntas.
Cerita pendek ini mengisahkan sebuah keluarga sederhana yang terjebak dalam tragedi Mei 1998 di Jakarta.
Cerita ini sudah tamat! Bagi Anda yang ingin menyaksikan film dokumentasi maupun liputan berita seputar kerusuhan Mei '98, bisa dilihat di Wattpad. Selamat menikmati!!
Diubah oleh manhalfgod 12-07-2016 13:02
anasabila memberi reputasi
4
30.4K
Kutip
123
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Segala yang ada di sekitarku serba putih - langit-langit, tirai, dan tempat tidur yang kutempati putih cemerlang dalam terpaan cahaya matahari pagi. Kuseka mataku. Walaupun aku baru terjaga, seluruh tubuhku terasa letih dan kepalaku seakan diisi oleh bongkahan timah panas.
Kalau aku di surga, seharusnya aku ngga merasa sakit lagi. Dalam satu helaan napas, kupaksakan badanku untuk bangkit dan turun dari kasur.
"Mamaa?"
Ruangan itu lebih luas dari dugaanku. Kira-kira ada lima ranjang lain, tiga di seberang dan dua di sebelah ranjangku. Selain tempat tidurku, semua ranjang setengah terselubung di balik tirai putih. Masing-masing penghuni tempat tidur tampaknya masih tidur. Kuharap mereka hanya tidur karena aku tak dapat mendengar napas mereka.
"Maa? Papa?!" panggilku lebih keras. Mendadak aku merasa begitu kesepian, aku mengedarkan pandang - panik.
Kemudian ingatan itu kembali.
Malam hari, tiga puluh orang dengan tongkat dan batu berdesakan di dalam rumahku. Mama, Kak Rudi.
Bang Iskak ...
Kubuka satu-satunya pintu di ruangan. Samar-samar terdengar suara percakapan, langkah kaki, dan suara-suara lainnya. Di hadapanku, dua orang pria dewasa duduk bersandar pada tembok. Yang badannya lebih jangkung bertatapan mata denganku. "Lim, Lim, anak kamu sudah bangun!" desahnya lega. Pria di sisinya menengadahkan wajah dari kedua telapak tangannya.
"Andri!"
Aku berlari dan menubruk Papa, memeluk pinggangnya erat-erat. Papa mengangkatku ke dalam dekapannya. Kumis maupun janggutnya yang tak dicukur bergesekan dengan pipiku, dan saat itulah aku benar-benar merasa aman, tentram. "Pa ... Kak Rudi, Pa! Mama juga ..." aku memulai ceritaku, namun bingung bagaimana harus menjelaskannya.
"Mama sama Kak Rudi baik-baik saja," sela Papa, menggendongku sambil berjalan. "Kak Rudi sudah sarapan lebih dulu pagi ini terus kembali istirahat. Luka-lukanya cukup berat - tapi ngga ada yang fatal. Mama mungkin masih ada di kantin, pasti dia mau lihat kamu ... ayo, sekalian kamu juga harus makan!"
Ketika melihatku memasuki kantin rumah sakit, Mama langsung berlari menubruk dan memelukku. Tak peduli berapa banyak pasien dan tamu di kantin yang memperhatikan kami.
"Ma!" keluhku sambil mendorongnya. Tapi Mama tak mendengar atau mungkin terlalu hanyut dalam emosinya sendiri, sehingga aku pasrah saja. Di belakangku Papa bercakap-cakap singkat dengan Om Haris, adiknya. Om Haris beranjak ke etalase kantin, mengecek aneka makanan yang tersedia.
"Syukurlah ... syukur ... puji Tuhan ...!" isak Mama di tengah tangisannya, aku jadi salah tingkah. "Mama lihat kamu dipukulin pakai batu malam itu ... Mama kira kamu ngga bakal bangun lagi, Mama ngga rela kalau harus kehilangan kamu ...."
Butuh beberapa menit sebelum Papa menenangkan Mama sepenuhnya, dan membawa kami semua kembali ke meja makan. Sementara kami menunggu sarapan yang dipesan Om Haris, Papa menceritakan kepadaku apa yang telah terjadi.
"Pukul empat pagi tadi, Papa sama Om Haris langsung ke rumah. Ngga tenang sama sekali ninggalin kalian sendiri," kata Papa. "Waktu kami menghentikan mobil di depan rumah, Papa betul-betul kaget: pagar rumah kita sudah ambruk. Bayangin aja besi-besi itu bisa sampai bengkok rata dengan tanah! Belum lagi waktu lihat tetangga-tetangga kita berkerumun di depan, kaki Papa udah langsung lemas waktu itu - pikir kalian kenapa-kenapa."
"Kalian bertiga sudah dibawa ke rumah sakit sebelum kami datang," lanjut Om Haris, duduk bergabung bersama kami sembari membawa secarik bon dan secangkir kopi. Lidahnya didecakkan keras-keras setelah menyeruput kopi hitamnya. "Nanti kamu jangan lupa berterimakasih sama om-om yang tinggal di sebelah rumah kamu, yang badannya tato-an itu. Dia yang panggil teman-teman polisinya begitu lihat rumah kamu diserang. Untunglah polisi datang tepat waktu sebelum orang-orang jahanam itu bikin celaka ke kalian!"
"Om Gendut?" celetukku tak percaya.
"Om Junaedi," koreksi Papa. "Jangan panggil dia begitu nanti," tambahnya geli.
"Katanya malam itu heboh deh!" kata Om Haris semakin menggebu-gebu setelah meneguk kopinya lebih banyak. "Ibu RT cerita kalo sempat ada baku-hantam waktu polisi tiba di rumah kalian. Penjarah-penjarah itu jelas ngga ada yang rela diringkus begitu aja. Sebagian dari mereka benar-benar licin - masih bisa kabur dari situ, tetapi sebagian besar bisa ketangkep. Mereka diangkut pergi dalam satu truk gede. Udah kayak ikan-ikan sarden."
Papa mengetuk-ngetuk buku jari ke tepi meja. "Nah, nasib kalian ternyata beruntung lagi setelahnya. Rumah sakit ini sudah hampir penuh waktu kalian dibawa masuk. Makanya kamu, Mama, sama Kak Rudi masing-masing ditempatin di kamar yang berbeda - ngga banyak kasur yang sisa. Dalam satu hari kemarin katanya ada ratusan orang yang dibawa ke sini."
Aku mendengarkan cerita Papa dan Om Haris cuma setengah-setengah saja. Kepalaku masih pening bukan main, tetapi aku ngga bilang apa-apa supaya Papa dan Mama ngga tambah khawatir. Papa dan Om Haris sedang berdiskusi tentang mengecek dan mengambil beberapa barang di rumah ketika aku teringat sesuatu yang lain. "Bang Iskak!" seruku. "Bagaimana Bang Iskak?! Bagaimaan kabarnya?"
Om Haris mengusap wajahnya sebelum menjawab pertanyaanku, barulah sekarang aku sadar ia juga tampak sangat letih. "Abang itu dibawa ke sini juga bersama kalian. Luka di kepalanya sangat parah ..."
Pandangan Papa dan Mama menerawang jauh, menghindari tatapanku. Sebagai gantinya, mereka memerhatikan pramusaji yang baru datang meletakkan pesanan kami satu-per-satu di atas meja. Aku segera paham, bahkan sebelum aku mendengar Om Haris menyelesaikan ceritanya.
"... meskipun langsung dilarikan ke UGD, begitu tubuhnya dibaringkan di atas meja operasi Bang Iskak terlanjur menghembuskan napasnya yang terakhir."
***
14 Mei 1998 merupakan hari yang terpanjang dalam hidupku.
Siang itu juga kami sekeluarga (kecuali Kak Rudi yang masih harus beristirahat) mengunjungi rumah Bang Iskak, yang mengadakan upacara Brobosan secara sederhana. Kalau saja bukan karena tatapan dari sanak-sanak keluarga dan kenalan Bang Iskak pada aku dan orangtuaku, mungkin aku juga turut menangis tersedu-sedu seperti istri dan ketiga putra-putri Bang Iskak. Kami tidak berlama-lama di sana, terutama karena khalayak yang hadir semakin ramai - dan Papa tidak ingin kesedihan maupun kecewa yang kerabat Bang Iskak alami dilampiaskan kepada kami, yang secara tidak langsung menjadi alasan kepergian Bang Iskak.
"Tidak, tidak ada dendam sama sekali," ucap Mbak Nur lirih, air matanya akhirnya berhenti berlinang, "beberapa hari terakhir ini si Abang memang terlihat mencurigakan ... sering pulang terlambat, dan lekas marah setiap kali saya tanya kegiatannya. Yang sering si Abang bilang cuma 'Tenang aja Dik Nur, sebentar lagi kita bisa menyantap makanan lezat, tiga kali sehari. seperti yang dulu lagi.' Tapi saya bener-bener ngga nyangka kalau dia bakal melakukan itu." Mbak Nur sesenggukan. Mama memeluknya seperti adiknya sendiri, berbisik ke telinganya bahwa Mama juga tidak menyimpan dendam. Semua dimaafkan, dan Mama juga bilang bahwa keberanian Bang Iskak akan selalu dikenang.
"Jangan pernah lupakan hari ini, Andri," kata Papa ketika kami meninggalkan pekarangan rumah Bang Iskak, "semua orang adalah sama, dari lahir sampai matinya."
Aku mengangguk. Tetapi hari itu tidak berhenti sampai di pelayatan Bang Iskak. Kira-kira satu jam setelah kami sarapan di rumah sakit pagi ini, Mama menerima telepon dari seorang mahasiswi.
Pukul dua siang kami tiba di rumah sakit Dr. Soeharto Heerdjan.
Beberapa perawat menyambut kami di pintu utama. Salah satu perawat menyarankan kepada Papa dan Mama agar aku menunggu di luar, tetapi Papa bersikeras agar aku ikut bersamanya. "Dia perlu tahu." Perawat itu dengan enggan mengeluarkan kunci dan membukakan pagar besi di hadapan kami.
Saat kami berjalan melintasi koridor, kurang-lebih ada tiga pria dewasa mendekatiku. Yang satu mengajakku bermain, satu lagi memberikanku dedaunan kering yang dipungutnya dari halaman, dan yang terakhir hanya menatapku dalam diam, punggungnya ditekuk begitu dalam sampai aku takut kalau-kalau tulangnya patah. Mama menarikku lebih dekat bersamanya dan kami berjalan lebih cepat.
"Om, Tante," panggil seorang gadis parau ketika suster berhenti di depan sebuah kamar. Sepasang muda-mudi menghambur keluar menyambut kami. Yang gadis memeluk Mama seperti ibunya sendiri. Tangisannya tak terbendung, sama seperti ucapan maafnya kepada kami. Mama tak dapat mengucapkan apa-apa. Sisa semangat yang biasa dia tunjukkan kepadaku telah padam semenjak kemarin malam. Sebagai gantinya, Papa-lah yang bersuara.
"Tidak apa-apa, Tiara. Tidak apa-apa ..." ucap Papa takzim.
"Tapi ... saya seharusnya menahannya kemarin!" isak mahasiswi itu dengan mata terpejam, "... jam tiga sore dia bilang dia ingin bergabung dengan teman-teman mahasiswa di Trisakti setelah dengar kabar dari Sonora. Katanya dia ngga mau diam saja sementara orang lain seusianya sedang berjuang mati-matian demi reformasi. Padahal saya sudah bilang kalau dia bisa diincar ... apalagi dia begitu cantik ... begitu polos ... "
"Dia memang keras kepala, dari dulu begitu," bisik Mama sedih. "Kalau jiwanya sudah berkata, tak ada lagi yang bisa mengubahnya. Pantaslah orangtua kami menamainya Sukma."
"Kami susul Sukma kira-kira dua jam setelah kami ngga bisa menghubungi ponsel Sukma," kata si mahasiswa laki-laki, menggantikan temannya. "Kami cari di Trisakti tidak ada, jadi kami memutar kembali, memeriksa jalan-jalan yang biasa dilewati Sukma dari kampus ke kosan. Lalu kami akhirnya menemukan Sukma dan ini -" mahasiswa itu mengacungkan jaket almamater kampus Tante Sukma. Ada sisa-sisa bercak merah kecoklatan pada bagian pinggangnya. "Cuma jaket ini yang masih utuh di sebelah Sukma, tubuhnya tanpa busana sehelai-pun. Pakaiannya yang lain sobek, sementara jam tangan dan ponselnya lenyap. Waktu kami bangunin Sukma, dia sudah tidak ingat siapa dirinya lagi ... dia bahkan tidak mau bicara kepada siapapun."
Papa memegang bahu Mama, yang terlihat nyaris tumbang. "Kami akan coba bicara dengannya, mungkin masih ada harapan."
Mereka berempat berjalan ke dalam kamar, sementara aku tetap berdiri di bingkai pintu. Yang kulihat di dalam adalah sesosok perempuan berpakaian serba putih, duduk diam bagai balok kayu di atas kasur dipannya. Rambutnya kusut dan dibiarkan tergerai menutupi seluruh bagian wajah. Aku berhenti memerhatikannya sampai di situ: aku tidak ingin melupakan sosok Tante Sukma sebelum ini - yang riang dan cantik.
Kubiarkan semilir angin siang itu menemaniku, sembari aku duduk menunggu, memeluk lutut di depan kamar Tante Sukma.