- Beranda
- Stories from the Heart
(Horror) Diary [TAMAT]
...
TS
ayanokouji
(Horror) Diary [TAMAT]
![(Horror) Diary [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/08/12/8901141_20160812100754.jpg)
Illustration courtesy of Awayaye
Halo, dan salam kenal buat agan-agan semua.
Perkenalkan saya anggota lama kaskus tapi newbie di forum SFTH.
Nah, berhubung saya lihat banyak yang menceritakan pengalamannya terutama untuk yang berbau-bau mistis. kebetulan saya dekat dengan seseorang yang memang punya kemampuan lebih untuk melihat yang semacam itu.
Cerita ini adalah berdasarkan kisah nyata, yang memang diambil langsung dari Diary dia
Langsung saja dimulai lah ya
Untuk Postingan pertama saya langsung Posting 2 part deh, karena prologue blum masuk ke cerita
Spoiler for Rules:
Atas permintaan yang punya Diary, mohon dibaca RULESnya sebelum membaca Diary ini ya :
1. Diary ini adalah hasil convert dari catatan di kertas menjadi bentuk elektronik. Jadi ini adalah benar-benar berasal dari Diary asli, kalau sampai ada yang baca dan tidak percaya, it's OK, tidak masalah tapi mohon jangan coba2 menantang apapun 'mahluk' yang disebutkan di Diary ini. Apabila terjadi sesuatu kami tidak bisa menolong.
2. Ini memang bukan urusan TS, tapi usahakan kalau sampai merasakan sesuatu yang tidak beres setelah baca isi Diary teman saya, harap dekatkan diri ke Tuhan segera. Karena seberapa besar Tuhan menolong itu tergantung dari iman kita ketika meminta. Dan percayalah, meminta saat belum melihat apapun dan ketika 'mereka' ada di depanmu itu akan menyebabkan bedanya besar Iman bagi yang tidak terbiasa.
Terimakasih sebelumnya, dan ingat baik2, jangan bermain-main dengan sesuatu dari dunia lain
Part I - Prologue (tanggal Diary - 3 September 2010)
Spoiler for Part I:
3 September 2010
Hallo Diary..
Mulai hari ini aku akan sedikit merubah apa yang aku tulis di dalam lembarmu yach..
Sebenarnya aku sih berniat tidak pernah berkeinginan untuk mengungkapkan rahasia ini, karena aku pasti akan dicap sebagai orang aneh..
Hanya kamu yang mau mendengarkan semua cerita aku tanpa mengeluh, mulai dari aku menyukai siapapun sampai sendirian seperti sekarang (hiks..hiks.. yahh aku tau, trims anyway)
Okay, jadi aku akan menceritakan pengalaman hari ini.. yaah ini kesekian kalinya sudah terjadi padaku, dan untuk teman sejatiku yaitu kamu my Diary, aku akan menuliskan ini, rahasiakan ini yaah..
Ceritanya aku akan mulai dari pengalaman tadi pagi..
Oh ya, sebelumnya aku akan kasihtau sedikit rahasia kepada kamu..
Kamu tau.. ehm.. aku ini bisa melihat hantu atau semacamnya.. guru Agamaku berkata ini adalah anugrah, menurutku lebih seperti kutukan.
Kamu tau, Diary? Mungkin tidak banyak orang yang tau, tapi hantu itu berbeda dengan setan atau semacamnya. Kalau misalkan diumpamakan, hantu itu lebih ke arwah orang-orang yang meninggal atau dalam Bahasa Inggris disebut dengan Ghost. Sedangkan setan bukan arwah, atau mungkin saja tadinya mereka arwah, yang pasti setan itu sudah lebih melewati tingkat keseraman dari Hantu. Dan diatas itu, masih ada lagi yang aku namakan jejadian. Nah, apabila setan itu bentuknya tidak dapat dikatakan bentuk apakah itu, kalau jejadian ini setidaknya sebagian besar dari bentuknya adalah bagian dari hewan-hewan.
Dan diary, dari kesialanku mendapatkan kutukan kemampuan ini, syukurlah aku hanya bisa melihat hantu saja. Yaah, kadang memang ada sedikit pengecualian, yang membuatku enggak tau kenapa bisa melihat yang lebih aneh daripada hantu.
But I tell you my Diary, melihat hantu saja sudah cukup menakutkan lho. Jangan dikira penampilan mereka itu normal-normal saja.. yahh, memang ada yang normal dan tersamar tapi hampir disetiap kejadian mereka akan menunjukkan wujud asli mereka kalau mereka tau kita bisa melihat mereka, dan mereka selalu tau kalau aku bisa melihat mereka.
Upps… sudah jam 11 ternyata, tadinya aku mau menceritakan kejadian penglihatan yang kulihat hari ini, tapi sudah terlalu malam nih, besok aku janji pasti akan cerita padamu dehhh, jangan ngambek yahh
See you tomorrow my Diary, Mulai hari ini aku akan melaporkannya padamu kalau aku melihat sesuatu yang aneh itu, hehe.. Nite
Part II - Misteri Toilet Wanita di lantai 7 - catatan tanggal 4 September 2010
Spoiler for Part II:
4 September 2010
Hallo friend,
As my promise stated, aku bakal ceritain hal yang kemarin terjadi sama aku. Jangan takut yaah, karena aku sudah cukup takut untuk mengingat-ingat ini, jadi tolong semangati aku (he..he..)
Oookay, cerita ini bermulai waktu aku bersama cindy sedang ada ditoilet di lantai 7 kampus kemarin siang setelah kuliah pak Zainul.
Ingatkan aku untuk memarahi Cindy nanti karena dia meninggalkan aku sendirian di toilet itu..
Kau dengar? Meninggalkan aku!
Berkat dia aku jadi melihat.. yahh, sesuatu yang jauh dari menyenangkan..
Sewaktu aku keluar dari bilik toilet dan mencari-cari Cindy, aku tidak menemukannya dimana-mana, aku rasa sih dia pergi buru-buru menemui pacarnya.. ya Tuhan, persahabatan kita hanya sebatas selama pacar tidak mengganggu.
Lalu aku berpikir, ya sudahlah, aku akan membetulkan make-up sebentar dan akan pergi ke food court, sepertinya #### belum datang menjemputku deh, setidaknya aku harus terlihat cantik kaan (he-he-he)
Tiba-tiba aku merasakan udara menjadi dingin, cukup untuk membuat bibirmu bergetar secara reflek.
Dan itu jelas-jelas tidak benar, toilet ini kan jelas-jelas pengap dan tanpa AC dimanapun. Dan otakku baru saja berpikir kalau ada yang tidak beres nih..
Tiba-tiba sudah berdiri seorang wanita dibelakangku, rambutnya panjang dan menutupi separuh mukanya, dia memakai baju kaus berwarna merah menyala dan celana jeans.
Aku langsung berbalik dan reflek berkata kalau dia membuatku kaget. Dan hal berikutnya yang terjadi membuatku hampir saja mengompol
Dia menempelkan mukanya tepat didepan mukaku, kulitnya benar-benar mengerikan, kau tau karpet yang ada tonjolan-tonjolannya begitu? Mukanya dan seluruh kulitnya penuh dengan seperti itu. Dan warna kulitnya sangat pucat, seperti warna krem kekuningan. Dan yang paling mengerikan dari semuanya adalah bola matanya, warna urat darah dibola matanya berwarna coklat kekuningan dan pupil matanya hitam dan bebercak merah.
Dari situ aku langsung tau kalau aku sedang bertemu dengan hantu, dan kali ini bukan hantu yang baik.
Perlahan-lahan dia mendekati aku, tapi tidak pernah menempel pada badanku, mukanya sangat dekat pada mukaku, dan tangannya yang dipenuhi dengan tonjolan-tonjolan itu juga menggapai tubuhku seakan ingin menyentuhku, tapi sentuhan itu tidak pernah terjadi.
Aku merasakan bahwa sekitar 1 jam dia hanya memandangiku saja, berkali-kali berusaha menempelkan dirinya pada badanku, tapi tidak pernah berhasil. Jujur Diary, aku tidak tau kenapa dia tidak bisa menyentuhku, tapi syukurlah karena disaat itu, aku sama sekali tidak bisa bergerak.
Setelah sekitar 1 jam itu, dia akhirnya mundur, kemudian matanya membelalak. Lebih besar dari lebar mata yang bisa dibuka oleh manusia normal, sepertinya seakan-akan semua kelopak matanya tertelan ke dalam rongga matanya. Kemudian warnanya bola matanya perlahan-lahan menjadi merah tua dan kemudian akhirnya menjadi hitam.
Kemudian dia berteriak sambil melompat kehadapanku, dan menghilang tepat didepan mukaku. Aku yakin aku mengompol sedikit kemarin.
Setelah itu suhu di toilet itu kembali pengap. Kakiku terasa kehilangan tulangnya dan aku terduduk di lantai toilet tanpa tenaga.
Kemudian suara handphoneku berbunyi mengagetkan aku, aku mengangkatnya dan #### ternyata menelponku. Dia mengatakan bahwa sudah 5 menit dia mencoba menelponku dan tidak diangkat-angkat. Aku meminta maaf dan berkata mungkin aku tidak mendengarnya tadi.
Ngomong-ngomong… waktu yang berlalu hanya 15 menit, tapi terasa seperti satu jam saat kejadian tadi..
Lain kali ingatkan aku jangan pernah lagi masuk di toilet lantai 7 sendirian ya.
UPDATED!!! PART XLV - "Serangan yang disengaja - II"
Spoiler for INDEX:
part III- Melayat
Part IV - Siapa yang mengikuti aku?
Part V - Bagaimana kutukan ini dimulai
Part VI - Perkemahan SMP
Part VII - Jurit Malam 1
Part VIII - Jurit Malam 2
Part IX - Penghuni Kampusku
Part X - Wanita dress putih
Part X (Final) - Wanita dress putih (lanjutan)
Part XI - Mereka ada di sekeliling kita
Part XII - Kalau kau jahat
Part XIII - Lauren dan ketiga anaknya
Part XIV- WARNING!! Baca catatan saya sebelum lanjut baca - Si Nenek dan Cucunya 1
Part XV - Si Nenek dan Cucunya 2
Part XVI - Wanita Dress Putih is back
Part XVII - Lift kampusku
Part XVIII - Tiga anak lauren kembali
Part XIX - Mahluk aneh
Part XX - Kampus sarang Kunti
Part XXI - Sang "dewa" jahat
Part XXII - Curiousity Kills the Cat
Part XXII - Bagian 2 - Robert and the Devil 1
Part XXII - Bagian 3 - Robert and the Devil 2
Part XXIII - Kembalinya si mahluk aneh
Part XXIV - Part I - si "dewa" jahat kembali 1
Part XXIV - Part II - si "dewa" jahat kembali 2
Part XXV - Robert
Part XXVI - aku dan kegelapan
part XXVII - Wewe Hitam
Part XXVIII - Wewe Hitam dan Wewe Putih
Part XXIX (bagian pertama) - He and Me (bag 1)
Part XXX (Bagian kedua) - He and Me (bag 2)
Part XXXI - sang pelindung
Part XXXII - Villa di gunung 1
Part XXXIII - Villa di gunung 2
Part XXXIV - Villa di gunung 3
Part XXXV - Villa di gunung (tamat) bag awal
Part XXXV - bagian akhir - Villa di gunung (tamat) bag akhir
Part XXXVI - Kutukan baru
Part XXXVI - Tambahan - Kutukan baru (tambahan)
Part XXXVII - Bagian Pertama - Iblis bag 1 -(Ketika dia terluka)
Part XXXVIII - bagian kedua - Iblis bag 2 - (si pemilik mata)
Part XXXIX - Cermin
Part XL - Ketika Ayano sakit
Part XLI - Goodbye
PART XLII - Mahluk di Jendela
PART XLIII - Akhir si "dewa" jahat
PART XLIII (lanjutan) - Akhir si "dewa" jahat (bag Akhir)
Part XLIV - Serangan yang disengaja - I
PART XLV - Serangan yang disengaja - 2 UPDATE
Bonus Story : Pengalaman TS dan yang punya Diary
Pengalaman bersama dia yang menulis Diary I
Bonus Story II Ketika yang tidak biasa melihat diperlihatkan
BONUS STORY III - Pengalaman Horror ketika main game
BONUS STORY IV : Kejadian di Malam Jumat Kliwon[
*SPECIAL* Bonus Story IV - part 2 - Elisa's POV
Bonus Story V - Part I
Bonus Story V - Part 2
Bonus Story V - part 3
Bonus Story VI
Bonus Story VII #awasbebehplusplus
Bonus Story VIII
Bonus Story IX
Bonus Story X
Bonus Story XI
BONUS PART XII - Bagian ketiga (Elisa POV)
Kiriman cerita dari para pembaca :
Kiriman cerita dari agan Gent4r - 1 (Gent4r, Romi vs Miss K)
Pengalaman agan Gent4r kedua
Kiriman cerita dari pembaca
Thread lainnya tentang saya dan Elisa
Saya dan Gadis bermata Indigo
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 39 suara
Berhubung banyak yang nyaranin Untuk ganti judul Thread, mohon masukan terkait itu :
Judul Thread tetap, soalnya daripada ribet nyari Threadnya lagi
56%
Judul Thread diganti ke judul Thread yang di dalem
33%
Judul Thread kudu diganti ke judul Thread yang beda dan lebih menarik
10%
Diubah oleh ayanokouji 19-11-2016 12:18
radorada dan 23 lainnya memberi reputasi
24
1.1M
Kutip
2.2K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanokouji
#65
Seperti janji saya beberapa jam lalu kalau saya akan update, dan kebetulan ceritanya agak seru dan seram, tidak sadar saya sudah selesai mengetik ulang 1 script..
Akan saya langsung bagikan saya ya :
Part XIII
28 February 2011
Diary…
Aku akan menceritakan kepadamu hal yang baru saja terjadi padaku, aku sangat tidak sabar daritadi untuk menuliskan segera kejadian tadi pada lembarmu.
Aku bertemu dengan sahabatku yang sudah lama sekali tidak bertemu. Temanku saat SD dulu.
Awalnya aku diajak oleh Cindy, kamu ingat kan? Teman dekatku dari SD sampai kuliah?
Iya, dia mengajakku bertemu dengan Lauren, teman SD yang lama sekali tidak pernah kudengar lagi kabarnya.
Berkat Facebook, Cindy bisa bertemu kembali dengan Lauren ini.
Singkat cerita, Lauren mengundang kami untuk merayakan ulang tahun anaknya yang paling bungsu.
Sayangnya, aku dan Cindy berhalangan untuk datang di hari minggu kemarin, karena itu kami baru bisa datang hari ini.
Kami datang menemui Lauren dan keluarganya, sayangnya suaminya sedang bekerja sehingga tidak dapat kami temui saat kami datang.
Saat kami datang, Lauren menemui kami sambil menggendong Stven anaknya. Menurut yang kudengar dari Cindy sebelum kami tiba, Stiven adalah anak Lauren yang keempat.
Stiven melihat kami dengan penuh penasaran dari gendongan mamanya, sedangkan ketiga kakaknya melihat aku dan Cindy dari atas anak tangga.
“Hai Stiven, umur berapa sekarang” tanya Cindy pada anak itu.
Stiven mengacungkan 4 jarinya. “Pintar” kata Cindy.
“Dia sudah bisa berhitung?” tanyaku pada Lauren.
“Belum sih, belum sampai tahap berhitung, baru mengajarkan angka untuk dihapal olehnya, itupun baru sampai angka 5” jawab Lauren.
“ohh, berarti sudah lumayan juga lho” kataku “Stiven anak keberapa hayo?” tanyaku.
Dia memalingkan mukanya pada kearah tangga kemudian mengajungkan tujuh jari padaku.
“Kok tujuh? Stiven anak keempat” kataku mengoreksi.
Stiven menggeleng dan mengacungkan kembali ketujuh jarinya.
Kali ini giliran Lauren yang mengoreksi anaknya “Stiven anak keempat sayang” katanya sambil memegang satu demi satu jari anaknya “Ko Sandy, Ko Salomo, ci Silvia, Stiven, semuanya empat” hitung Lauren pada anaknya.
Stiven menggeleng keras dan tetap menunjukkan tujuh jarinya sambil menangis keras.
Akhirnya Lauren menyerah dan menggendong anaknya untuk meredakan tangisnya.
“Menurutmu kenapa Stiven mengacungkan tujuh jari tadi Ren?” tanya Cindy ketika kami sudah duduk bersama setelah Lauren menidurkan Stiven pada tempat tidurnya, yang sampai dia hampir tertidur masih mengacungkan tujuh jarinya sambil merengek.
“Entahlah, yang pasti gue bahkan belum ngajarin Stiven untuk ngitung sampai tujuh lho” katanya.
“Mungkin kakak-kakaknya kali yang mengajari” usulku.
“Enggak mungkin, koko sama cicinya barengan gue pas ngajarin Stiven, kita semua baru ngajarin sampai lima kok”
“Ngomong-ngomong, Ren, kok lu gak ngenalin anak-anak lu yang lain ke kita?” ingat Cindy
Aku juga setuju dengan Cindy.
“Yah, kalian sih datangnya hari Senin, kalau kemarin aja bisa ketemu lha, laki gua juga ada. Lah hari Senin begini, anak-anak gue masih belum pulang sekolah kali, justru sebentar lagi jam 10 gue mau jemput”
Aku dan Cindy saling berpandangan heran.
Kemudian Cindy terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu sebelum akhirnya bertanya pada Lauren “Ren, sorry nih gue mau tanya aja” katanya membuka pembicaraan.
“Nanya apaan Cin? Ah lu mau nanya aja bikin gue takut deh, serius banget tampang lu” kata Lauren.
“Oh, sorry” kata Cindy salah tingkah “Gue takut lu tersinggung aja Ren, tapi gue penasaran aja”
“Yaudah, mau tanya apaan?”
“Kalau enggak salah, kata Vony kemaren ini lu sempet keguguran ya?”
Muka Lauren terlihat sedih “Iya, tadinya gue ama laki gue mikir anak cukup tiga aja, karena udah dapet cewek juga sebagai anak ketiga, makanya gue konsumsi obat-obatan supaya kagak hamil lagi” jelas Lauren.
“Enggak taunya Laki gue jadi sukses, kita jadi punya cukup rezeki, bisa beli rumah yang lumayan ini” lanjut Lauren “Nah, laki gue bujuk gue, mau enggak punya anak lagi, yang terakhir” katanya.
Aku dan Cindy hanya mendengarkan sambil manggut-manggut.
“Nah, katanya sih, karena obat-obatan KB yang gue konsumsi itu bikin rahim gue rada gimana gitu,akhirnya gue sering keguguran sebelum akhirnya dapet Stiven” jelas Lauren.
“Berapa kali keguguran Ren kalau gue boleh tau?” tanya Cindy lagi
“Tiga kali Cin, tadinya mah gue ama laki gue udah mau give up, taunya dapat Stiven” jelas Lauren sambil tersenyum sedih.
Aku dan Cindy kembali berpandangan, dan kami melihat ke arah tangga.
Di puncak tangga duduk tiga anak kecil, ketiganya lelaki yang menatap kearah kami. Cindy juga bisa melihatnya karena dia adalah salah satu temanku yang memiliki kepekaan untuk itu. Meskipun ‘kutukan’ dia tidak sebesar ‘kutukan’ku.
Kami berdua terpaku menatap ketiga anak kecil itu. Ketiganya terlihat sebagai anak-anak kecil biasa kecuali kulit mereka yang sangat pucat.
Ketiganya mengenakan baju putih-putih.
“Hei, kalian ngapain?” tanya Lauren yang langsung mengejutkan aku dan Cindy.
“Oh-eh.. enggak Ren, cuman lagi bengong aja” kata Cindy
“Bengong kok berdua, hahaha” goda Lauren “Eh, sory nih Cin, E****, gue kudu jemput anak-anak gue yang lain dari sekolah”
Kami berdua bangun dengan kikuk dan mengiyakan Lauren.
Segera Lauren menggendong Stiven yang masih tertidur dan menggendongnya sampai ke mobilnya.
Kemudian kami berpamitan dengan Lauren dan pulang dari situ.
Diperjalanan pulang aku merasakan hawa yang sangat dingin pada tengkukku.
Dengan reflek aku melihat ke cermin yang terpasang pada penghalang matahari di hadapanku.
Di kursi belakang mobil Cindy duduk ketiga anak itu berdampingan. Aku hanya bisa melihat sampai ke batas mulut mereka, ketiganya sedang tersenyum lebar.
Cindy juga menyadarinya dan melirikku.
Aku hanya menggeleng padanya dan mengisyaratkan bahwa ada yang ‘menumpang’ di belakang mobilnya.
Cindy hanya mengangguk kecil dan melanjutkan mengemudi, berusaha sekuat mungkin untuk tidak mengacuhkan ‘mereka’.
Tapi harapan kami sia-sia untuk pura-pura tidak melihat ‘mereka’.
Dengan lirih ketiganya bersuara “satu..dua..tiga..” bisiknya mereka dengan lirih namun terdengar sangat jelas di telingaku.
Dan telinga Cindy… karena dia juga memucat, sama sepertiku.
“..Yang keempat.. mati…” bisik satu orang dari ‘mereka’
“..yang kelima…mati…” sambung satu orang dari ‘mereka’
“..yang keenam… mati…” disambung satu orang lagi
“Stiven ketujuh… Stiven ketujuh…” bisik mereka lagi berbarengan.
Mereka terus mengulang-ulang bisikan itu. Aku merasakan seluruh badanku bergetar… gemetar karena kedinginan dan karena perasaan sangat kelam dan gelap yang menyebar di seluruh mobil kami, sementara bisikan ‘anak-anak kecil’ itu terus berkumandang.
“Satu… dua… tiga… yang keempat… mati… yang kelima… mati… yang keenam… mati… Stiven ketujuh… Stiven ketujuh…” bisik mereka terus menerus.
Sampai akhirnya kami melewati sebuah rumah sakit yang besar di daerah itu.
Ketiga menyeruak kedepan dan berseru melengking “STOPP!!” seru ketiganya, dengan campuran suara seperti suara anak kecil dan orang dewasa yang berkata berbarengan.
Cindy menginjak rem sekuatnya hingga mobil kami berhenti mendadak.
Untung saja jalanan masih berupa jalan kompleks, jadi sangat sepi.
“Kami turun disini…”
“Kami turun disini…”
“Kami turun disini…”
Bisik mereka sambil menatap bergantian ke arah kami berdua.
“Kami mati disini…”
“Kami mati disini…”
“Kami mati disini…”
Ucap mereka sambil ketiganya menunjuk ke arah rumah sakit yang besar itu.
Kemudian mereka bertiga merangkak, melewati Cindy dan aku, kemudian menembus pintu dan menghilang.
Beberapa menit kemudian Cindy dan aku baru menemukan kewarasan kami.
Jantung kami berdua masih sama berdebarnya setelah mengalami kejadian tadi.
Sampai akhirnya Cindy berkata “Ayo.. kita lanjut pulang…”
Selanjutnya perjalanan kami tidak ada gangguan lagi sampai tiba di rumah. Sesampainya di depan kostku, Cindy berkata “Nanti gue telepon Lauren, buat nyaranin dia supaya doain anak-anaknya yang keguguran itu” katanya.
Aku hanya mengangguk setuju sebelum Cindy melanjutkan perjalanannya.
Kurasa ‘ketiga anak’ itu bukanlah ‘mereka’ yang jahat, tapi seperti arwah yang masih belum bisa melanjutkan ke dunia lain sebelum ada yang mengantar mereka dengan semestinya…
Akan saya langsung bagikan saya ya :
Part XIII
Spoiler for Part XIII:
28 February 2011
Diary…
Aku akan menceritakan kepadamu hal yang baru saja terjadi padaku, aku sangat tidak sabar daritadi untuk menuliskan segera kejadian tadi pada lembarmu.
Aku bertemu dengan sahabatku yang sudah lama sekali tidak bertemu. Temanku saat SD dulu.
Awalnya aku diajak oleh Cindy, kamu ingat kan? Teman dekatku dari SD sampai kuliah?
Iya, dia mengajakku bertemu dengan Lauren, teman SD yang lama sekali tidak pernah kudengar lagi kabarnya.
Berkat Facebook, Cindy bisa bertemu kembali dengan Lauren ini.
Singkat cerita, Lauren mengundang kami untuk merayakan ulang tahun anaknya yang paling bungsu.
Sayangnya, aku dan Cindy berhalangan untuk datang di hari minggu kemarin, karena itu kami baru bisa datang hari ini.
Kami datang menemui Lauren dan keluarganya, sayangnya suaminya sedang bekerja sehingga tidak dapat kami temui saat kami datang.
Saat kami datang, Lauren menemui kami sambil menggendong Stven anaknya. Menurut yang kudengar dari Cindy sebelum kami tiba, Stiven adalah anak Lauren yang keempat.
Stiven melihat kami dengan penuh penasaran dari gendongan mamanya, sedangkan ketiga kakaknya melihat aku dan Cindy dari atas anak tangga.
“Hai Stiven, umur berapa sekarang” tanya Cindy pada anak itu.
Stiven mengacungkan 4 jarinya. “Pintar” kata Cindy.
“Dia sudah bisa berhitung?” tanyaku pada Lauren.
“Belum sih, belum sampai tahap berhitung, baru mengajarkan angka untuk dihapal olehnya, itupun baru sampai angka 5” jawab Lauren.
“ohh, berarti sudah lumayan juga lho” kataku “Stiven anak keberapa hayo?” tanyaku.
Dia memalingkan mukanya pada kearah tangga kemudian mengajungkan tujuh jari padaku.
“Kok tujuh? Stiven anak keempat” kataku mengoreksi.
Stiven menggeleng dan mengacungkan kembali ketujuh jarinya.
Kali ini giliran Lauren yang mengoreksi anaknya “Stiven anak keempat sayang” katanya sambil memegang satu demi satu jari anaknya “Ko Sandy, Ko Salomo, ci Silvia, Stiven, semuanya empat” hitung Lauren pada anaknya.
Stiven menggeleng keras dan tetap menunjukkan tujuh jarinya sambil menangis keras.
Akhirnya Lauren menyerah dan menggendong anaknya untuk meredakan tangisnya.
“Menurutmu kenapa Stiven mengacungkan tujuh jari tadi Ren?” tanya Cindy ketika kami sudah duduk bersama setelah Lauren menidurkan Stiven pada tempat tidurnya, yang sampai dia hampir tertidur masih mengacungkan tujuh jarinya sambil merengek.
“Entahlah, yang pasti gue bahkan belum ngajarin Stiven untuk ngitung sampai tujuh lho” katanya.
“Mungkin kakak-kakaknya kali yang mengajari” usulku.
“Enggak mungkin, koko sama cicinya barengan gue pas ngajarin Stiven, kita semua baru ngajarin sampai lima kok”
“Ngomong-ngomong, Ren, kok lu gak ngenalin anak-anak lu yang lain ke kita?” ingat Cindy
Aku juga setuju dengan Cindy.
“Yah, kalian sih datangnya hari Senin, kalau kemarin aja bisa ketemu lha, laki gua juga ada. Lah hari Senin begini, anak-anak gue masih belum pulang sekolah kali, justru sebentar lagi jam 10 gue mau jemput”
Aku dan Cindy saling berpandangan heran.
Kemudian Cindy terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu sebelum akhirnya bertanya pada Lauren “Ren, sorry nih gue mau tanya aja” katanya membuka pembicaraan.
“Nanya apaan Cin? Ah lu mau nanya aja bikin gue takut deh, serius banget tampang lu” kata Lauren.
“Oh, sorry” kata Cindy salah tingkah “Gue takut lu tersinggung aja Ren, tapi gue penasaran aja”
“Yaudah, mau tanya apaan?”
“Kalau enggak salah, kata Vony kemaren ini lu sempet keguguran ya?”
Muka Lauren terlihat sedih “Iya, tadinya gue ama laki gue mikir anak cukup tiga aja, karena udah dapet cewek juga sebagai anak ketiga, makanya gue konsumsi obat-obatan supaya kagak hamil lagi” jelas Lauren.
“Enggak taunya Laki gue jadi sukses, kita jadi punya cukup rezeki, bisa beli rumah yang lumayan ini” lanjut Lauren “Nah, laki gue bujuk gue, mau enggak punya anak lagi, yang terakhir” katanya.
Aku dan Cindy hanya mendengarkan sambil manggut-manggut.
“Nah, katanya sih, karena obat-obatan KB yang gue konsumsi itu bikin rahim gue rada gimana gitu,akhirnya gue sering keguguran sebelum akhirnya dapet Stiven” jelas Lauren.
“Berapa kali keguguran Ren kalau gue boleh tau?” tanya Cindy lagi
“Tiga kali Cin, tadinya mah gue ama laki gue udah mau give up, taunya dapat Stiven” jelas Lauren sambil tersenyum sedih.
Aku dan Cindy kembali berpandangan, dan kami melihat ke arah tangga.
Di puncak tangga duduk tiga anak kecil, ketiganya lelaki yang menatap kearah kami. Cindy juga bisa melihatnya karena dia adalah salah satu temanku yang memiliki kepekaan untuk itu. Meskipun ‘kutukan’ dia tidak sebesar ‘kutukan’ku.
Kami berdua terpaku menatap ketiga anak kecil itu. Ketiganya terlihat sebagai anak-anak kecil biasa kecuali kulit mereka yang sangat pucat.
Ketiganya mengenakan baju putih-putih.
“Hei, kalian ngapain?” tanya Lauren yang langsung mengejutkan aku dan Cindy.
“Oh-eh.. enggak Ren, cuman lagi bengong aja” kata Cindy
“Bengong kok berdua, hahaha” goda Lauren “Eh, sory nih Cin, E****, gue kudu jemput anak-anak gue yang lain dari sekolah”
Kami berdua bangun dengan kikuk dan mengiyakan Lauren.
Segera Lauren menggendong Stiven yang masih tertidur dan menggendongnya sampai ke mobilnya.
Kemudian kami berpamitan dengan Lauren dan pulang dari situ.
Diperjalanan pulang aku merasakan hawa yang sangat dingin pada tengkukku.
Dengan reflek aku melihat ke cermin yang terpasang pada penghalang matahari di hadapanku.
Di kursi belakang mobil Cindy duduk ketiga anak itu berdampingan. Aku hanya bisa melihat sampai ke batas mulut mereka, ketiganya sedang tersenyum lebar.
Cindy juga menyadarinya dan melirikku.
Aku hanya menggeleng padanya dan mengisyaratkan bahwa ada yang ‘menumpang’ di belakang mobilnya.
Cindy hanya mengangguk kecil dan melanjutkan mengemudi, berusaha sekuat mungkin untuk tidak mengacuhkan ‘mereka’.
Tapi harapan kami sia-sia untuk pura-pura tidak melihat ‘mereka’.
Dengan lirih ketiganya bersuara “satu..dua..tiga..” bisiknya mereka dengan lirih namun terdengar sangat jelas di telingaku.
Dan telinga Cindy… karena dia juga memucat, sama sepertiku.
“..Yang keempat.. mati…” bisik satu orang dari ‘mereka’
“..yang kelima…mati…” sambung satu orang dari ‘mereka’
“..yang keenam… mati…” disambung satu orang lagi
“Stiven ketujuh… Stiven ketujuh…” bisik mereka lagi berbarengan.
Mereka terus mengulang-ulang bisikan itu. Aku merasakan seluruh badanku bergetar… gemetar karena kedinginan dan karena perasaan sangat kelam dan gelap yang menyebar di seluruh mobil kami, sementara bisikan ‘anak-anak kecil’ itu terus berkumandang.
“Satu… dua… tiga… yang keempat… mati… yang kelima… mati… yang keenam… mati… Stiven ketujuh… Stiven ketujuh…” bisik mereka terus menerus.
Sampai akhirnya kami melewati sebuah rumah sakit yang besar di daerah itu.
Ketiga menyeruak kedepan dan berseru melengking “STOPP!!” seru ketiganya, dengan campuran suara seperti suara anak kecil dan orang dewasa yang berkata berbarengan.
Cindy menginjak rem sekuatnya hingga mobil kami berhenti mendadak.
Untung saja jalanan masih berupa jalan kompleks, jadi sangat sepi.
“Kami turun disini…”
“Kami turun disini…”
“Kami turun disini…”
Bisik mereka sambil menatap bergantian ke arah kami berdua.
“Kami mati disini…”
“Kami mati disini…”
“Kami mati disini…”
Ucap mereka sambil ketiganya menunjuk ke arah rumah sakit yang besar itu.
Kemudian mereka bertiga merangkak, melewati Cindy dan aku, kemudian menembus pintu dan menghilang.
Beberapa menit kemudian Cindy dan aku baru menemukan kewarasan kami.
Jantung kami berdua masih sama berdebarnya setelah mengalami kejadian tadi.
Sampai akhirnya Cindy berkata “Ayo.. kita lanjut pulang…”
Selanjutnya perjalanan kami tidak ada gangguan lagi sampai tiba di rumah. Sesampainya di depan kostku, Cindy berkata “Nanti gue telepon Lauren, buat nyaranin dia supaya doain anak-anaknya yang keguguran itu” katanya.
Aku hanya mengangguk setuju sebelum Cindy melanjutkan perjalanannya.
Kurasa ‘ketiga anak’ itu bukanlah ‘mereka’ yang jahat, tapi seperti arwah yang masih belum bisa melanjutkan ke dunia lain sebelum ada yang mengantar mereka dengan semestinya…
Diubah oleh ayanokouji 11-07-2016 09:35
johny251976 dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Kutip
Balas