Kaskus

Story

p.p.p.Avatar border
TS
p.p.p.
KESURUPAN (Komedi anti-Mainstream)
SEMANGKOK BAKSO PERSAHABATAN (Bab 1)

PERSAHABATAN dapat terjalin dalam berbagai cara. Bahkan jika itu adalah cara yang paling aneh sekalipun, atas nama persahabatan itu tetap dilegalkan. Dan apa yang akan terjadi beberapa saat lagi akan menjadi bukti bahwa persahabatan dapat terjalin dalam situasi baik ataupun buruk, normal ataupun aneh.

Saat itu, di kantin SD yang akan menjadi tempat di mana cerita ini dimulai, di salah satu meja dua anak laki-laki tengah menyantap semangkok bakso. Ada perbedaan yang kentara sekali di antara mereka pada saat itu, meskipun pada dasarnya mereka berada dalam situasi yang sama: Hari pertama masuk SD.

Sementara anak yang di sebelahnya mengunyah baksonya dengan tersedu-sedu, Doni dengan percaya diri tampak sangat menikmati setiap suapan yang masuk ke dalam mulutnya. Dia anak yang cenderung gampang bergaul, tak pernah pilih-pilih teman. Bahkan dia sering main lompat tali sama anak perempuan di kompleks tanpa harus jadi tersesat dalam menentukan jenis kelamin-nya.

Beberapa waktu yang lalu dia juga sempat menyapa anak kelas tiga, “Apa kabar, Coy? Tadi pagi minum susu, kan?”

“Ha?” kata anak kelas tiga yang disapa, heran.

“Susu bubuk, susu cair, atau susu kental manis, Bro?” tanya Doni sok asyik.

Anak kelas tiga itu pun lari. Mungkin menanyakan jenis susu yang dikonsumsi adalah topik yang cukup tabu bagi umur-umur anak SD. Atau mungkin Doni sudah bergaul dengan cara yang salah...

Anak laki-laki di sebelah Doni masih menangis. Entah sudah berapa banyak air matanya masuk ke dalam mangkok baksonya, sebelum akhirnya tersentak ketika bel masuk berdering. Dia memandang berkeliling, mengamati murid-murid yang berlarian ke dalam kelas. Sesaat dia tampak hendak melakukan apa yang dilakukan kebanyakan murid, tetapi ketika kesadarannya kembali, ketika kekagetannya sirna, ingatan tentang rumah kembali terngiang dan dia pun kembali duduk. Dia terlalu sedih untuk berdiri kembali, terlalu sedih untuk menghadapi agenda kelas yang terasa mengerikan baginya. Sama halnya dengan Doni, yang ternyata memilih untuk diam di tempat seraya menyantap semangkok baksonya yang tak kunjung habis, namun dengan wajah yang cerah serta alasan yang jelas berbeda.

Sebenarnya hal ini sudah Doni pertimbangkan sejak tadi. Sejak awal datangnya waktu istirahat sebenarnya dia sudah membuat rangkaian kegiatannya sendiri. Dia sudah punya rencana yang akan terlaksana persis ketika mangkok baksonya kosong, dan sebentar lagi, tepatnya tak lebih dari lima suap, dia akan berdiri. Dia sangat yakin bahwa satu-satunya kegiatan yang akan dia lakukan di kelas adalah perkenalan, seperti beberapa jam yang lalu, dan baginya itu tidaklah lebih baik ketimbang menelusuri setiap jengkal halaman sekolah, ataupun melewati koridor sendirian dan kemudian tersesat, lalu panik.

Saking semangatnya memikirkan apa-apa saja yang akan dia lakukan setelah mangkok baksonya habis, Doni menambahkan sesendok penuh cabe rawit meskipun sebelumnya dia sudah menaruh satu sendok penuh cabe rawit ke dalam mangkok baksonya. Saking sedihnya memikirkan waktu pulang yang masih sangat lama, anak laki-laki yang duduk di sebelah Doni mengunyah baksonya perlahan-lahan, lalu semakin pelan dan lebih pelan lagi. Sesungguhnya dia seperti halnya kebanyakan anak kecil yang tak siap menghadapi lingkungan sekolah, namun lebih melankolis.

Doni menatap mangkok baksonya. Sebentar lagi... tinggal tiga suap lagi dan petualangan besarnya bisa dimulai... peduli amat dengan acara perkenalan antara murid baru. Toh nanti mereka juga akan kenal sendiri seiring berjalannya waktu. Saat ini ada petualangan besar yang sedang menunggu, dan dia sudah tak sabar untuk...

“Dia kenapa? Kamu apain dia?” tanya mamang bakso, yang mendadak muncul dengan tampang setengah panik.

Doni pasti sangat bingung jika saja tak menoleh ke samping, dan terkejut menyaksikan apa yang terjadi pada anak laki-laki di sampingnya. Doni hampir pasti tak pernah melihat pemandangan seperti ini. Dia sangat kaget. Dia kaget mengetahui kalau ternyata seseorang sedang kejang-kejang sementara dia asyik dalam pikirannya sendiri.

“Kamu ngasih racun, ya? Iya, kan!” tuduh mamang bakso, menunjuk mangkok bakso anak laki-laki yang kejang-kejang. “Ngaku!”

Bukan salah siapa-siapa kalau tak ada yang sadar bahwa anak laki-laki yang kejang itu sebenarnya kesurupan. Wajahnya lebih mirip orang keracunan daripada kesurupan.

“Saya gak ngelakuin apa-apa,” kata Doni, memandang heran anak laki-laki di sampingnya. Anehnya anak laki-laki itu menatap balik, meski kepalanya godek-godek.

“Lihat, kan! Kamu lihat kan tatapan matanya!” kata mamang bakso, yakin. “Anak ini mulutnya emang gak bisa dipake... tapi matanya masih bisa menunjukkan siapa pelakunya. Dan pelakunya adalah...”

Tiba-tiba anak laki-laki di samping Doni menatap mamang bakso. Kepalanya masih godek-godek.

“Harusnya saya sadar sejak tadi,” ujar mamang bakso serius. “Ini lebih serius dari dugaan saya...” Dia berputar-putar di tempat, matanya menyipit tajam memperhatikan Doni. “Racun yang kamu gunakan memberikan efek halusinasi dan membuat hilangnya kontrol diri. Dalam hal ini kita tidak bisa mempercayai gerakan tubuh korban... racun jenis apa yang kamu gunakan? Ngaku!”

“Saya gak ngelakuin apa-apa,” jawab Doni ogah-ogahan. Dia masih terlalu kecil untuk memahami tuduhan dari mamang bakso. Yang dia tahu adalah dia harus segera pergi. Terserah mau itu di kelas atau di luar kelas, yang pasti bukan di kantin.

“Jadi kamu nuduh saya? Jadi kamu mau nuduh kalau saya yang ngeracunin? Maksud kamu bakso bikinan saya beracun? Asal kamu tau, saya sudah lama banget gak pake yang namanya ‘formalin’! Dan sudah enam bulan semenjak terakhir saya pake daging tikus! Saya pake daging ayam sekarang. Da-ging a-yam!”

Doni memandang ngeri kepada mamang bakso.

“Jadi... ada banyak yang harus kamu jelasin,” desis mamang bakso dengan nada mengancam, matanya menyipit tajam dari seberang meja, “terutama sama orang tua anak ini...”

Persis ketika mamang bakso menunjuk anak laki-laki di samping Doni, tiba-tiba anak laki-laki itu menepuk bagian pinggir mangkok baksonya dan tumpah mengenai wajahnya. Doni panik, buru-buru dia menyeka wajah anak laki-laki itu dengan tangannya dan, ajaibnya...

“Kamu harus jelasin sama orang tua anak ini, kenapa anaknya bisa... sembuh. Kamu gak ngeracunin dia...”

Mamang bakso nyengir, kemudian pergi.

“B-b-bakso... b-baksonya,” rengek anak laki-laki di samping Doni, menunjuk mangkok baksonya yang kosong.

Doni menghela napas panjang. Tangan gemuknya menyodorkan mangkok baksonya ke samping, tepat ke arah anak laki-laki di sampingnya. Dia tersenyum saat mangkok baksonya diterima.

“P-p-pedas,” kata anak laki-laki di samping Doni. Dia menangis.

“Tadi pake cabe rawit,” balas Doni seraya terkekeh, “dua sendok penuh.”

Dan sejak saat itu sesuatu yang baru dimulai. Mereka tidak tahu bahwa takdir akan mengikat mereka lebih erat dari yang bisa dibayangkan, bahkan oleh seorang pengkhayal sekalipun. Dan Doni tak sadar kalau yang dia tawarkan bukanlah semangkok bakso, ataupun semangkok sisa bakso, melainkan persahabatan.


ng
gimana gan? bagusnya gue lanjut atau enggak? btw, gue baru main kaskus:v emoticon-thumbsup emoticon-Wowcantik

BAB 2: Anak Laki-Laki yang Kesurupan
BAB 3: Awal yang Buruk
BAB 4: Mbah Sugeng
BAB 5: Sektor Enam Belas

Bab terakhir Kesurupan ada di sini

btw, baca juga cerita komedi gue yang judulnya ORANG BODOH
Diubah oleh p.p.p. 17-07-2016 10:46
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
6.9K
59
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
p.p.p.Avatar border
TS
p.p.p.
#19
ANAK LAKI-LAKI YANG KESURUPAN (bab 2)

BARU beberapa menit yang lalu Doni diantar ayahnya, namun ketika dia menatap kelas-kelas yang berjejer, menatap dinding kusam yang sebenarnya sama sekali tak ada istimewanya, seluruh sendi-sendi di tubuhnya menyentak dan berteriak, “PETUALANGAN! PETUALANGAN!”
Doni mengangguk-angguk seolah menyetujui ajakan sendi-sendi di tubuhnya. Dia baru setengah jalan menuju kelasnya, berharap bahwa hari ini dia bisa mencuri beberapa menit untuk memulai petualangan yang tertunda, atau beberapa jam. Dia boleh-boleh saja berharap para guru tak memergokinya berada di luar kelas seperti kemarin, dan berpura-pura tersesat ketika mencari WC. Tetapi hari ini, lagi-lagi dia akan gagal. Percayalah.

“Idih, sombong banget dia!” seru salah seorang anak perempuan sambil memandang kedua temannya. “Kok bisa sih?”

“iya, dia cuma godek-godek gak jelas,” jawab temannya. “Jahat, kan? Padahal sudah disapa baik-baik!”

“Kok bisa anak kayak gitu ada di 1-B?” ujar anak perempuan yang ketiga. “Kok kita bisa sekelas sama dia?”

Langkah Doni terhenti. Peristiwa di kantin, mamang bakso tikus, dan anak anak laki-laki dengan tampang keracunan memenuhi kepalanya. 1-B? Itu kan persis di sebelah 1-A, persis di sebelah kelasnya! Dan anak yang godek-godek itu... jangan-jangan...

“Pergi yuk,” kata ketiga anak perempuan itu serempak. “Eh, samaan! Eh, samaan lagi! Eh, samaan lagi! Eh, samaan lagi!”
Mereka pun pergi sambil cekikikan, terus mengulang ucapan yang sama seraya melalui koridor, dan segera lenyap di belokan. Seluruh sendi-sendi di tubuh Doni kembali berteriak, sehingga peristiwa di kantin, mamang bakso tikus, dan anak laki-laki dengan tampang keracunan segera terlupakan. Dia melanjutkan langkahnya.

Namun lagi-lagi langkah Doni terhenti. Kali ini sekerumunan murid keluar dari kelasnya, tak menyisakan ruang untuk menyusup masuk ke dalam kelas. Dia memandang heran ekspresi mereka yang kebanyakan takjub sementara beberapa lainnya pasrah terseret arus. Akhirnya Doni bisa melanjutkan kembali langkahnya, meskipun nasibnya persis sama dengan beberapa murid dengan ekspresi pasrah tadi—dia terbawa arus kerumunan yang mendadak muncul dari belakang. Dia pasrah.

Pada awalnya Doni berharap seseorang bersedia menjelaskan ke mana dirinya akan dibawa, dan tepat beberapa detik berselang harapannya terkabul. Beberapa orang bersedia menjelaskan ke mana mereka akan pergi, meskipun secara tidak langsung.

“Kita ke UKS? Dia anak kelas satu?”

“Iya! Kan gue sudah bilang dari tadi!”

“Masa sih kepalanya godek-godek?”

“Astaganaga!”

“Jadi beneran ada anak kelas satu yang kesurupan, kepalanya godek-godek, dan dibawa ke UKS?”

“IYA!”

“Tapi kesurupan itu apa, ya?”

“Gak tau.”

Akhirnya, tibalah mereka di depan UKS. Doni terdampar ke salah satu jendela UKS. Ingatan mengenai kantin, mamang bakso tikus, dan anak laki-laki dengan tampang keracunan kembali jelas, dan matanya kini tertuju ke salah satu tempat tidur. Ternyata firasatnya benar, ternyata anak yang dibicarakan sejak tadi adalah dia, adalah anak laki-laki yang kemarin.

“Jangan ada yang masuk, di luar aja, ya,” ujar seorang pria dari dalam UKS yang adalah seorang guru. Kakinya yang terus bergerak-gerak jelas sekali menunjukkan bahwa dia panik, meskipun dia tampak berusaha menahannya. “Kalian harusnya sudah ada di kelas sekarang.”

Tapi tak satu pun murid yang mendengarkan.

“Mundur, Semuanya! Ini bukan kebun binatang lho!”

Doni pernah berkunjung ke kebun binatang sebelumnya. Tapi jika dibandingkan, UKS saat ini jauh lebih seru. Dia melongo menatap anak laki-laki yang kemarin, yang tampangnya masih kayak orang keracunan.

“Saya, sebagai satu-satunya orang yang ditugaskan untuk menjaga anak ini, menghimbau kepada siapa pun yang berada di depan UKS untuk pergi dengan tenang. Semuanya sudah dalam kendali saya...”

“Termasuk darah di hidung Bapak?” sela seorang murid.

“Semuanya sudah dalam kendali saya, termasuk darah di hidung saya. Saya berdarah karena... MINGGIR, SEMUANYA! SAYA BERDARAH! SAYA BERDARAH!”

Semuanya panik, murid-murid berhamburan. Namun keadaan kembali terkendali saat beberapa guru datang, dan segera menyuruh para murid kembali ke kelas.

Doni berjalan menuju kelas dengan perasaan lega. Dia yakin bahwa dia tak harus melakukan apa-apa, bahkan dia tak yakin kalau dia bisa melakukan apa-apa. Lagipula ada beberapa guru di UKS. Semuanya akan baik-baik saja.

*****

Saat itu adalah pelajaran PKN. Guru PKN sudah mengelilingi setiap penjuru kelas, memainkan intonasi suara, bahkan wajahnya pun juga dipermainkan setiap kali memberi penekanan pada beberapa kalimat, namun tak satu pun kata singgah di telinga Doni. Dia memandang jenuh ke jendela kelas, menatap ke luar dengan gelisah. Barangkali dia akan terus menulikan telinganya sampai akhir pelajaran, tapi telinganya seketika berfungsi menangkap beberapa kata, atau beberapa kalimat, atau sebenarnya dia terang-terangan menguping percakapan sepasang suami-istri di depan kelas.

“Anak kita gak pernah kayak gini sebelumnya...”

“Ini salah Mama. Anak kita pasti tetep baik-baik aja kalau dia gak ke sekolah. Dia pasti gak akan kesurupan.”

“Enggak! Ini salah Papa! Karena Papa yang ngantar ke sekolah.”

“Dia sebenarnya gak mau ke sekolah. Seandainya aja Mama gak maksa...”

Semuanya akan baik-baik saja, pikir Doni.

“Mana mungkin! Tadi Mama denger kalau sudah ada dua puluh paranormal, dan anak kita belum juga sadar. Mana mungkin semuanya akan baik-baik aja!”

Doni sering menghabiskan waktunya di depan TV, dan salah satu acara favoritnya adalah sulap. Dia pernah menonton seorang pesulap berupaya membaca pikiran, tapi dia tak pernah menduga... bahkan dia sempat kesulitan menemukan kata-kata untuk diucapkan dalam benaknya. Mustahil, pikir Doni, apa mereka bisa membaca pikiran?

“Seandainya aja bisa... seandainya aja Papa bisa membaca pikiran. Papa harap Papa bisa nemuin kalimat yang bisa bikin Mama tenang.”

Suami-istri itu pergi. Sekarang telinga Doni mampu menangkap secara utuh suara yang sejak tadi memenuhi kelasnya.

“Sebagai warga negara yang baik, kita wajib untuk membantu sesama.”

Doni merengut. Dia sebenarnya mau membantu sesama. Namun bagaimana bisa dia diharapkan mampu menyelesaikan sesuatu yang bahkan orang dewasa pun tidak bisa. Bahkan dia sendiri masih belum tahu apa itu kesurupan. Bahkan ini baru hari keduanya di sekolah.
Tiba-tiba salah seorang anak bertanya, “Kenapa kita harus membantu sesama, Pak Guru?”

“Karena tolong-menolong itu wajib, dan tidak memandang umur.”

Doni termenung.

“Jadi, siapa yang mau membantu sesama?”

Kecuali Doni, semua anak dengan ketek terangkat berseru, “SAYA!”

“Kamu kenapa gak angkat tangan? Kamu gak mau membantu sesama, Doni?”

Doni mengangguk dalam diam. Dia baru ingat bahwa masih ada yang harus dia lakukan, bahwa masih ada yang bisa dia lakukan. Dia mengangkat tangannya dengan terburu-buru.

“Saya mau izin ke WC, Pak.”

*****

Doni memang tidak tahu apa itu kesurupan. Tapi ini bukan kali pertama anak dengan tampang keracunan itu kepalanya godek-godek. Dia pernah menanganinya sekali, dan yang dia perlukan adalah semangkok bakso. Mungkin.

Kantin saat itu hampir kosong melompong, tak tampak satu pun murid sejauh mata kecilnya memandang. Doni berjalan sembunyi-sembunyi menuju mamang bakso, berharap dirinya tak dipergoki guru selagi memesan. Bisa dibilang ini adalah tindakan ilegal. Dia harus berhati-hati jika tidak ingin tertangkap seperti kemarin.

“Kamu ngapain di sini? Sekarang kan belum istirahat?”

“Shhh! Bisa kita langsung ke topik utama? Terus terang saya gak punya banyak waktu dan gak suka basa-basi,” kata Doni, dengan suara seakan-akan dia adalah kriminal kelas berat. “Saya butuh...” dia meraba-raba semua saku yang dimilikinya, “bisa beli kuahnya aja?”

“Waduh, gak bisa. Saya bisa rugi.”

“Setengah mangkok?”

“Hmm...” gumam mamang bakso seraya memejamkan matanya, seakan-akan memikirkan perhitungan yang rumit. “Bisa.”

Maka dengan mata yang masih mengawasi setiap sudut kantin, Doni menanti dengan sabar. Dia harus sabar saat melihat mamang bakso dengan amat-sangat-lelet mengambil sejumput kecil bihun dari dalam gerobaknya, terutama ketika mamang bakso menggaruk pantatnya. Dan pada saat pesanannya sudah jadi, buru-buru dia menyambar, namun gagal. Kecepatan tangannya dikalahkan oleh tangan mamang bakso yang sudah lebih dulu mencengkeram tangannya.

“Kamu anak yang kemaren, ya?” tanya mamang bakso.

Doni mengangguk lemah.

“Soal kemaren...” mamang bakso memandang waswas. “Jangan kasih tau siapa-siapa, ya!”

“Iya.”

Mamang bakso melepas cengkeramannya. Dengan segera Doni menyambar mangkok baksonya untuk dibawa pergi, namun gagal lagi. Tangan mamang bakso ternyata berhasil meraih mangkok bakso Doni.

“Terus... misalnya ada yang nanya: Kenapa bakso di kantin enak banget? Bilang aja: Karena pake daging ayam, bukan daging tikus.”

Doni mengangguk. Kilau kejahatan muncul dari matanya saat dia berkata, “Tapi saya ngutang dulu.”

Dan dengan segera Doni “lenyap” tak berbekas.

*****

Sesampainya di UKS, ternyata situasinya sudah tidak terkendali. Anak dengan tampang keracunan itu sekarang tak hanya godek-godek. Dia sudah memasuki tahap yang lebih tinggi lagi, dia memegangi celananya erat-erat sambil berteriak, “BUKA CELANA! BUKA CELANA!” dan meronta-ronta, menepis banyak tangan yang memeganginya.

Harus cepat, pikir Doni. Dia harus sesegera mungkin mengulang apa yang telah dia lakukan kemarin, sebelum anak dengan tampang keracunan itu bertindak lebih jauh. Tapi kerumunan orang menahannya untuk tidak melangkah lebih jauh. Dan sesungguhnya mereka bukan orang biasa. Mereka paranormal.

“Siapa namanya?” tanya paranormal yang kedua puluh, menunjuk anak dengan tampang keracunan.

“Andi,” jawab suami-istri itu serempak.

“Ehem... jadi, sebenernya makhluk halus yang merasuki Andi sudah gak betah. Katanya dia sudah bosan sama Andi.”

“Terus kenapa dia gak pergi-pergi?” tanya ibu Andi, sewot. “Terus bilangin sama dia, kalau Andi juga ogah dirasuki sama dia!”

“Bagaimana Anda bisa tau apa yang ingin Andi katakan?”

“Siapa sih yang mau temenan sama orang ‘sombong’?”

“Oh... itu gak penting,” kata paranormal yang kedua puluh, “yang ingin saya katakan adalah... bahwa tubuh Andi-lah yang tak membiarkan makhluk halus itu pergi. Ini kasus yang langka. Saya nyerah... gak tau mesti gimana lagi.”

“Maksudnya Andi mau deket-deket sama makhluk sombong itu? Itu maksudnya?”

“Bukan Andi, tapi tubuhnya. Bisa dibilang itu seperti reaksi yang tak bisa ditolak. Duh... pokoknya semacam itulah.”

“Gak mungkin, gak mungkin” kata ayah Andi mendadak, menggeleng dengan gaya dramatis. “Apa ini gara-gara Papa?”

Sekarang giliran ibu Andi yang menggeleng dengan gaya dramatis, membuat kedua puluh paranormal bingung. Sedangkan Andi, yang saat ini mulai pegal memegang mangkok bakso, hanya bisa mendengarkan tanpa mampu menembus kerumunan paranormal.

“Papa ngomong apa sih?” kata ibu Andi, masih menggelengkan kepalanya, seolah memberi tanda jangan.

“Mama pasti tau apa yang Papa maksud.”

Ibu Andi masih menggeleng, malah tambah kencang.

“Ini pasti karena Papa nyebok pake tangan kanan!” ucap ayah Andi dengan penuh penyesalan.

“Tapi Papa kan kidal! Kan gak mungkin Papa makan pake tangan yang sama buat nyebok!”

Sementara ayah Andi mengangguk pelan, paranormal yang kedua puluh melirik Andi yang terus berteriak, “BUKA CELANA! BUKA CELANA!” Entah kenapa dia mendadak iba dengan anak kecil itu.

“Jadi gimana nasib anak saya? Gimana nasib Andi?” tanya ibu Andi panik.

Paranormal yang kedua puluh menghela napas, lalu dengan suara berat menjawab, “Hanya keajaiban... kita butuh keajaiban.”

“Keajaiban?”

Mereka salah. Sesungguhnya yang dibutuhkan bukan hanya keajaiban, melainkan sesuatu yang lain. Dan Doni mengetahui dengan cukup jelas, bahkan sangat jelas, bahwa apa yang dibawanya adalah jawabannya. Dia sangat yakin.

Bahkan, terlalu yakin sampai berani menjerit, “SAYA TAU!”

Semua mata memandang, menatap anak kecil yang berdiri di sudut. Kerumunan Paranormal yang menghadangnya akhirnya terbuka.

“Mungkin saya bisa bikin Andi sadar,” kata Doni. Dia berjalan mendekati Andi. Tangannya dengan lugas melakukan apa yang seharusnya dia lakukan sejak tadi: Menyiram wajah Andi dengan kuah bakso, persis seperti kemarin. Hanya saja... tak terjadi apa-apa. Andi masih kesurupan.

“Pantes anak saya gak mau ke sekolah! Jadi gara-gara kamu!” bentak ibu Andi.

Doni panik. Dia yakin apa yang dilakukannya sudah benar, tak ada yang tertinggal. Dia terus berusaha mengingat-ingat, dan tiba-tiba berseru, “OH!”

“Oh?” kata ibu Andi, bingung. “Harusnya kamu minta maaf!”

Tapi Doni tak menggubris. Dia mengagguk yakin saat menatap Andi yang dipiting empat orang. Tangan kecilnya berusaha menjangkau wajah Andi, menyeka wajahnya, dan berteriak, “AAAAHHH!” ketika ibu Andi menjewer telinganya.

“Sudah berapa kali kamu nyiram Andi pake kuah bakso?” tuduh ibu Andi.

Seperti layaknya anak kecil kebanyakan, yang hampir pasti tak tahan menerima tuduhan keras semacam ini, maka satu-satunya yang tersisa adalah menangis. Itu menjadi tangisan pertamanya di sekolah.

Ajaibnya, kesadaran Andi kembali.

“Mama? Papa?” kata Andi, heran. “Ini di mana?”

Ayah Andi dan ibu Andi saling berpandangan. Banyak pertanyaan muncul mengisi benak mereka, yang kemudian buyar saat tangisan Doni semakin kencang.

“Tanggung jawab, anak orang nangis tuh,” kata ayah Andi, menyindir istrinya.

“Cup-cup-cup, maafin Tante dong. Gimana cara Tante untuk berterima kasih,” kata ibu Andi kepada Doni.

“B-b-ba-iyaar b-bak-so... t-tad-di be-lum.”

Ibu Andi mengangguk paham.

“S-saya juga mau... p-pul-aang! MAMAAA!”




gimana gan? kalo suka minta bintang 5 yakemoticon-Big Grin biar gue semangat upload nihhhhemoticon-Wowcantik
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.