- Beranda
- Stories from the Heart
Pursuit between Death and Life
...
TS
kabelrol
Pursuit between Death and Life
Pendahuluan
Hidup gue ini seperti teenlit.
Pagi ini, jauh sebelum gue bangun, HP gue dibanjiri ucapan selamat ulang tahun; berikut dari orang yang gue kenal deket, kenal aja, sampe ngga kenal. Gue mesti bersiap bawa baju ganti, temen-temen gue mesti udah siapin juga soal telur, tepung, dan air comberan.
Sebelum cek pesan di HP, gue matiin alarm. Pagi ini pun, gue bangun lima belas menit sebelum alarm nyala. Gue menemukan kunci berlogo oval dan secarik kertas, "Selamat Ulang Tahun, Har!". Lima detik setelah alarm gue nyala, pintu kamar gue diketuk.
"Selamat ulang tahun, Har"
"Makasih, Mah," --pipi gue dikecup di kanan dan di kiri, kemudian didoakan yang baik-baik.
"Papa ngga bisa ngga berangkat tadi jam 3, semoga kamu suka kadonya. Udah siuman, kan, Har? Ayo liat mobilnya ke garasi depan?"
Gue tersenyum sembari menggeleng pelan,
"Nanti aja, Mah, sekalian berangkat sekolah,"
Pun begitu, gue tetap memacu sepeda gunung gue untuk ke sekolah. Gue pikir, meski bukan tujuan kado itu ada, belum saatnya gue bawa mobil itu ke sekolah. Sombong nantinya. Yang gue sebut Mamah nanya berkali-kali soal keputusan itu pas gue matiin mobil habis manasin, sembari ngambil sepeda yang keparkir.
"Iya, Mah. Belum juga dikasih nama, masa udah dibawa-bawa," kata gue cengengesan.
Yang gue sebut Mamah cuma ngunyeng-ngunyengrambut gue. Dan gue pun berlalu. Gue pasang handsfree, lagu "Mengejar Matahari" memang selalu jadi penyemangat gue berangkat ke sekolah. Apalagi, ini hari pertama sejak liburan kenaikan semester. Semester 3, alias semester 1 di kelas 2 SMA ini semacam sesuatu yang gue tunggu-tunggu. Sejak jadi siswa pindahan tahun lalu, waktu-waktu seperti ini yang bakal jadi ajang aktualisasi diri gue, yang jika berhasil, bakal manis untuk dikenang di masa pensiun nanti.
Sekolah yang gue tuju berjarak sekitar 4 kilometer. Gowesan lima belas menit cukup, apalagi bisa lebih cepet kalo ngga ada angkot yang udah sembarangan ngetem, ini baru aja jam 6.05. Gue terlalu semangat teuing emang. Ngga kerasa gue udah kerasan tinggal di kota ini selama setahun belakangan. Gue ngerasa keputusan kepindahan gue ini udah tepat. Ngga ada lagi yang ketinggalan di sana.
Spoiler for dulu:
Rem sepeda berdecit.
"Oi, Har!"
"Weit, Ncop!"
"Pagi banget?"
"Iyalah, mau gerak badan dulu,"
Encop ngangguk, petugas keamanan sekolah itu salah satu sahabat gue paling baik di sekolah ini. Dia orang pertama yang gue kenal dan bantu gue. Gue lari-lari kecil ke ruang kecil di sisi belakang gedung sekolah. Gue buka kunci dan gue salah satu bola basket. Ini salah dua alasan gue seneng dateng pagi-pagi ke sekolah. Memulai hari dengan sepeda dan basket, bikin hari gue lebih cerah. Yah, ini juga yang ngebawa gue dan temen-temen tim lolos seleksi kota. Bulan depan, kompetisi antar kota, untuk lolos di provinsi lantas ditandingkan nasional, akan dimulai. Tiga minggu lagi, waktu sekolah gue akan lebih panjang dua jam, untuk nyiapin olimpiade fisika semester depan. Ya, kan? Hidup gue ini seperti teenlit.
****
"Maaf--"
Jam segini, yang nyapa gue mestilah kalo ngga Mail, ya, Nae. Gue hafal suara mereka, intonasi mereka menyapa, tapi "Maaf--" bukan punya mereka.
"--ruang guru dimana, ya? Nyasar..."
Gue menoleh dan benerlah dia bukan Mail atau Nae, suaranya ngga gue kenal, apalagi wajahnya.
"Anak kelas satu bukannya lagi MOS di (nyebutin suatu lapangan yang biasa dipake untuk penyambutan siswa baru)," sapa gue balik.
"Oh, bukan--" anak ini sering sekali kalimatnya berhenti seperti tercekat. Dia menggeleng-gelengkan rambutnya yang semi merah itu, "--aku kelas 2. pindahan--"
"Oh..," gue membiarkan bola yang memantul seenaknya, gue keluar dari aula, "...masuk dari pintu belakang, ya? dari sini lorong ini, belok kanan, lurus dikit, terus kiri, nanti ada kok plangnya,"
Dia melihat gue sambil mengerinyitkan dahi.
"Kenapa?"
"Eh... barusan aku dari sana... tapi, katanya itu ruang guru SMP...,"
Hmm, gue paham. Berhubung gue mengerti perasaan jadi anak baru yang ngga tau arah di sekolah yang bentuknya perguruan ini, gue mencoba bersimpati,
"Ya, udah, lo tunggu sini dulu, ya. Gue mau balikin bola dulu. Sekalian, deh, gue anterin,"
tanpa nunggu jawaban, gue balik badan dan lari-lari ambil bola. Lima menit kemudian, gue balik dan gue liat anak itu nongkrong di semacam selasar yang ada di sekitar aula.
"Yok?"
"Eh-- kita belum kenalan... Yuri,"
"Har, yok, Yur?"
sambil jalan, di tengah sekolah yang semi-sepi ini, gue mencoba mencairkan suasana.
"Pindahan dari mana, Yur?"
"S******a--"
"Ooh.. ya, ya. Sampe sini dari kapan?"
"Kemarin.. Pas daftar ulang kemaren agak bolak-balik, jadi memang belum hafal-hafal, hehe,"
dan akhirnya, gue sampe juga di ruang guru, kita menuju ke guru yang jadi Wakasek kesiswaan. Gue pun kaget, Si guru itu nyapa Yuri pake bahasa yang dia jadi mata pelajaran yang dia ampu. Yuri pun balas dengan bahasa yang sama. Yuri lebih faseh daripada si guru. Gue jadi curiga, Yuri ini murid pindahan apa guru pindahan

"Har, kamu anter dia ke kelas, ya,"
"Siap, Bu."
"Oh, ya, nanti istirahat, kamu diminta ngadep ke Bu Sri, ya, Har,"
"Siap, Bu."
dan kita pun keluar ruang guru. Pertanyaan-pertanyaan itu ngga ketahan untuk keluar. Sepanjang gue ke beberapa kota untuk kompetisi, gue semacam punya hipotesis. Ngga ada maksud ofensif untuk SARA. Beda daerah, maka beda suku, maka beda juga bahasa dan dialeknya. Di setiap daerah, mesti ada peranakan dari bangsa (negara) lain, dan ngebawa bahasa aslinya, misalnya Tiongkok. Orang-orang Tiongkok ini, meski ngebaur sama lingkungannya dimana ia menjejak, pastilah masih punya dialek yang kentel. Anehnya, ini ngga berlaku di kota asalnya Yuri ini. Mendok banget dah pokoknya.
"Lu dari S******a atau Jepang sih, Yur?"
Yuri cengengesan.
"Udah setahun, kok. Tapi si Ibu itu pasti baca SMP aku dimana, kan?"
"Iya, sih...,"
"Eh, kelas 11 IPA 2 dimana?"
"Lah, kelas gue, tuh, Yur. Wah..."
"...sekelas kita, berarti. Aku udah takut aja udah ngga ada temennya. Emang jodoh kali yah,"
Nah, Yuri ngga ada mendok-mendok dialek kota asalnya itu. Emang, sih, dia cadel huruf S. (ngga ada hubungannya sik
)"Eh, ya, tadi kata ibu itu, ada satu anak pindahan juga, loh,"
Spoiler for disklaimer:
Quote:
Diubah oleh kabelrol 09-07-2016 13:45
anasabila memberi reputasi
1
3.9K
15
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kabelrol
#5
bajak laut, matematika di depan kelas, dan kue ulang tahun
Ruang kelas berjalan seperti ekspektasi, ngga ada apa-apa. Pas istirahat, anak-anak ngerubungin tempat duduk kita. Sebagian ngucapin ultah buat gue, sebagian besar keheran-heran sama anak baru-duduk sama gue-satu matanya ditutup pake perban-dan di belakang namanya ada marga ‘Nakamura’. Gue relatif masuk lingkungan baru di sini. Temen gue di kelas satu, kayak Norma, Nae, atau Mail lain kelas semua. Pun ada yang lanjut sekelas dari kelas 10 dulu, itu ngga deket. Sehingga, ulang tahun gue di kelas ini ngga se-euforia SMS-SMS tadi subuh. Atau mereka diem karena mau ngerjain gue, entahlah. Gue juga enggan pergi ke kantin. Takut dipalakin
Juga, bu Sri bilang via ketua kelas kalo gue disuruh ngadepnya bukan pas istirahat, tapi pas balik sekolah.
“Uwi, uwi, duduk sama gue aja, dong. Sebelah gue masih kosong,” begitu kata Serli—yang memang kemudian gue tau dia adalah cewek paling oportunis yang paling gue kenal. Dan dia duduk sendirian karena memang sudah terkenal begitu sejak kelas 10.
Gue cuma ngerespon *sigh* aja. Kalo Uwi pindah tempat duduk, gue bakal duduk sendirian. Jumlah anak di kelas ini ganjil. Tapi, itu ngga masalah sama gue. Karena hidup gue seperti teenlit, percayalah, ngga sampe seminggu bangku kosong itu udah ada yang ngisi lagi.
“Hmm, makasih tawarannya, Ser. Tapi, aku mau duduk sama Har aja,”
Gue menyium aroma senyum Uwi tiga senti ke kanan dan kiri. Baru gue mau respon sesuatu, bunyi bel tanda masuk berdentang, seiring masuknya Bu Sugi, guru matematika yang lebih baik lo ditodong bajak laut buat jalan mundur nyebur ke laut dan di bawah lo penuh ikan hiu, ketimbang ketemu tatapan sama tuh guru. Kalo bukan karena Bu Sugi galak, mungkin gue ikut olimpiade matematika. Akhirnya, gue nyimpen respon gue atas omongan Uwi ke Serli barusan.
Kebiasaan Bu Sugi setelah kalimat salam adalah menyapu seluruh kelas dengan tatapannya itu. Dia nyari muka-muka ketakutan yang biasa dia jadiin sampel sebelum mulai pelajaran itu. Mekanismenya gini. Bu Sugi bakal nyari 2-3 anak—biasanya anak dengan muka yang paling keder—yang kemudian bakal dia minta ngerjain suatu soal yang dia kasih di papan tulis. Kita beneran diuji secara pengetahuan, terlebih mental. Kadang kita tau gimana cara jawabnya, tapi itu ilang ketika di depan kelas. Ya, itu, sob. Karena udah keburu ngeri duluan. Bu Sugi ngga ada nyantai-nyantainya.
Walopun berkilas-kilas caranya itu nakutin, gue ngerti caranya ngukur kemampuan siswa di kelasnya yang akan dia ajar. Dengan ‘nguji’ begitu, Bu Sugi tau bakal seberapa dalem materi yang bakal dia beri. Ngga peduli itu hari pertama masuk sekolah di tahun ajaran baru atau gimana. Bu Sugi statistikawan handal. Tapi, ya, itu, sob. Ngeri.
“Itu mata kamu kenapa?”—Bu Sugi tertarik di bangku kita.
“Lagi penyembuhan, Bu. Semoga beberapa hari ke depan sembuh,”—Uwi enteng banget jawabnya, gue lupa wanti-wanti soal ini. Dasar anak baru
“Oh— oke, kalau begitu kamu, kamu, dan kamu maju,”—salah satu kamunya adalah Uwi, anak yang mukanya paling kalem di kelas pagi itu. Uwi sempet nengok ke gue, konfirmasi. Gue ngangguk. Iya, artinya lo disuruh maju ke depan.
Maka, dua dari tiga anak jalan ke depan gontai. Uwi dengan santai menerima lembaran kertas yang dikasih bu Sugi. Sambil tiga anak itu baca lembaran soal, Bu Sugi masang soal yang dikasih di proyekter kelas, maksudnya kita sekelas ikut ngerjain juga; jaga-jaga kalo ada yang pingsan di depan
Gue lagi asik ngerjain soal statistik ini. Masih terjangkau, soal tentang bikin grafik bar dari 30 data. Artinya, kita disuruh nyari jangkauan, rata-rata, tentuin kelas, sama selang atas dan bawah dari masing-masing kelas. Sebenernya, soal macam gini ngga sesusah limit atau logaritma. Ngerjain soal begini mesti sabar dan teliti. Masalahnya, Bu Sugi ngga ngasih kita banyak waktu, dan sekali lagi, soal begini ngga cocok dikerjain buru-buru di bawah tekanan tatapan Bu Sugi.
“Ada yang sudah selesai?”—itu tanda siswa mesti naro pulpen atau spidol. Sial, gue selesai kalo ada tambahan waktu 60 detik lagi. Gue tinggal gambar grafiknya doang.
“Hmm,” Bu Sugi menggumam. Jarang banget, biasanya dia bakal semacam meng-ehem, tanda dia mulai nyeramahin kita lima belas menit sebelum pelajaran asli dimulai.
Gue tertarik liat ke arah depan. Dua dari tiga kepayahan, satu diantara dua malah baru bikin turus selama sepuluh menit waktu ini. –tapi, Uwi udah beres dong. Malah dia sempet bikin standar deviasi, sob—sesuatu yang keknya ngga masuk bahan ajar.
“Kalian boleh duduk,”—kata-kata Bu Sugi ke dua orang yang kepayahan ini bikin hampir sekelas nganga. Nanti siang bakal ujan es. Di sisi lain, artinya Bu Sugi punya perhatian lebih ke Uwi.
Maka, ketika Uwi balik ke tempat duduk, dia diiringi pandangan melongo temen sekelas. Soal peluang sampe limit yang dicoba dari Bu Sugi bisa Uwi jawab dengan asik. Gue liatin Uwi, kayaknya dia agak bingung gitu. Dan kejutan ini belum beres, seberes pelajaran, Bu Sugi bilang,
“Nama kamu Uwi, ya? Nanti sepulang sekolah ke meja saya dulu, ya,”—Uwi ngangguk terus noleh ke gue, minta ditemenin ke sana. Ya, sekalian gue ngadep ke Bu Sri, sih.
“Oke,”—ya, gue bisa jawab apalagi, sob—walaupun masih setengah bengong, sih. Segitunya Uwi ngerjain soal Bu Sugi pake satu mata, sob.
Gimana kalo dua mata, ya?
Gue salah untuk satu hal hari ini. Ngga ada tepung dan air comberan dari anak-anak yang mampir. Nae sama Mail (sekarang bareng Uwi juga) nyulik gue. Dua (atau sekarang tiga) sahabat gue bawa gue secara dramatis kerumah Mail yang masih keiitung di belakang sekolah. Tapi, sebelum itu, jalan cerita mundur sedikit ketika gue nganter Uwi ke ruang guru, ke mejanya. Sekalian gue ke Bu Sri, sih, menuhin undagannya tadi pagi. Ini alasan pertama gue kena bully khas ulang tahun.
Gue ngga terlalu merhatiin ke arah Uwi. Tapi, gue sempet ngeh kalo ada orang lain yang dipanggil sama Bu Sugi. Dari perawakannya kayaknya cowok. Gue ngga liat jelas, sih. Dia datang setelah gue ngadep Bu Sri dan pergi sebelum Bu Sri ngasih pengarahan soal olimpiade di depan. Uwi juga udah ngga ada ketika gue beranjak dari kursi meja Bu Sri. Pas gue melintas, selintas gue ngeliat gerombolan anak-anak yang udah siap ngehadang gue.
“Awas maneh, awas maneh,”
“Kita disuruh beli bahan praktikum sama Bu Sri, eh. Minggir-minggir,”
Sahut-sahutan Mail sama Nae (dan Uwi yang cuma ikut-ikutan doang sebenernya
) bikin anak-anak beringsut mundur, bareng-bareng peralatannya. Gue yang langsung dirangkul gitu sama Mail. Pelarian ini sesimpel itu. Dalam hati gue udah pasrah, gue bakal dikerjain lebih parah sama mereka berdua (dan Uwi yang ngga ngerti apa-apa sebenernya, cuma ngikut doang).
“Hahaha, udah ngga jaman, sob, ulang tahun disiram-siram,” –kata Mail lima belas meter dari sekolah. Di belakang, Uwi kikuk walaupun Nae nyoba beramah-tamah sama dia.
“’Tul,”—kata Nae nambahin.
Gue rasa, selain kikuk, Uwi juga bingung apa yang sedang terjadi, kok barusan anak-anak pengen ngegebukin gue. Gue kira, dia belum tau tradisi di mari dimana yang ulang tahun bisa aja ngalamin ulang tahunnya yang terakhir
"Kita udah bikin kue buat lo, Har. Kita jujur-jujuran aja. Bosen ngga, sih, mainstream gitu ngerayain ulang tahunnya,"
Kecurigaan gue yang barusan ilang. Nae emang jago soal masaknya. Kita paling sering nongkrong di rumah Mail, buat masak. Kalo gue sama Mail masak nasi goreng dan bikin restoran dari situ, kita bakal ngasih nama restorannya "Nasi Goreng Semoga Enak". Kalo Nae yang masak, nama restorannya jadi "Nasi Goreng Emang Enak Banget". Iyah, sob. Nae jago banget masaknya dan itu ngga sekadar nasi goreng. Terakhir, pas tengah-tengah liburan kemaren, Nae masakin kita seafood asam manis. Segala seafood, dari kepiting, cumi, sampe udang galah. Kalo gue umur 25-26, gue bakal ngelamar Nae jadi... pembantu
Maka, gue membayangkan seenak apakah kue yang dipanggang sama Nae bareng Mail, barangkali kemaren, untuk nyiapin ulang tahun gue hari ini.
Curiga gue beneran luntur ketika gue sampe rumah Mail. Jadi, karena gue naik sepeda, dateng gue agak telat. Mereka yang naik angkot jelas sampe lebih dulu. Mana lagi, pas udah pisah sama mereka, gue baru ngeh kalo ban sepeda gue kempes. Gue curiga sih dikempesin sama anak-anak. Akhirnya, gue dorong-dorong sepeda dulu sekitar sekilo-dua kilo.
"Happy Birthday, Har!!"
Gue disambut pake karpet merah, eh, ngga deng. Gue disambut pake apa-sih-tuh-namanya yang kalo ujungnya kita puter, nanti ujung satunya bakal nyembur kertas-kertas kecil. Nae sama Mail beneran niat, balkon tempat biasa kita main disulap jadi asli-hits-banget-buat-difoto. Uwi udah senyum-senyum sekarang. Kayaknya, dia udah dijelasin penuh sama Nae ama Mail. Gue seneng juga Uwi bisa ngebaur sama sabahat-sahabat gue--lengkap dengan perban di matanya
Udah ngga ada selah lagi untuk curiga ketika Uwi ngasihin kado dari mereka (dua tambah satu
) buat gue. Gue agak dikerjain di sini, bungkusnya gede, sekitar empat puluh senti di panjang, lebar, dan tingginya. Taunya, kertas korannya banyak banget dan diselotip di semua sisi, ngga ada celah kertas supaya gampang disobek. Mail bilang gue parah banget kalo minjem gunting. Gue harus buka semua sendiri. Selagi gue sibuk buka kado, Nae udah dateng dari bawah, bawa blackforrest
dan itu kayak dua kue ditumpuk ke atas. Panjang dan besar banget.
"Nih, kesukaan lo, Har. Coklat. Gue banyakin krim coklatnya,"
"Lo beresin dulu buka kado, baru boleh nyicip, nih, kue,"--Dan Uwi pun dateng, bawa kue kesukaan gue nomor dua. Kue sus.
Lima menit, ada sedikit darah yang keluar dari ujung kuku telunjuk. Abisan susah dan gue lagi ngga ada kuku. Gue nyengir aja pas buka lapisan terakhir. Isinya handuk merek swan selembar.
"Bisaan lo. Goceng dibagi tiga," kata gue nyengir--dan mereka pun ikut cengegesan.
"Har, potong kue, dong. Laper, nih,"
"Ya, elah, Il, dari tadi lo ngemil kue sus udah berapa?"
"Lo aja yang lama, buruan,"
"Iyee,"
Gue ambil pisau yang ada di sebelah kue itu.
"Eh, bentar, bentar, Har. Gue ambil posisi foto dulu. Wi, bantu, ya,"--kata Nae sambil ngasih instruksi buat Uwi ngambil HP-nya buat moto saat-saat gue motong kue. Posisi mereka agak jauh dari seharusnya, gue ngerasa ada yang aneh di sini, tapi...
Begitu sadar apa yang terjadi, gue tau gue lagi dikerjain. Gue barusan nusuk kue diisi balon gas. Tambahan krim coklat di atasnya cuma kamuflase buat nutupin. Muka gue penuh krim, buat melek aja ngga ada tempat. Tapi kuping gue sebagian kebuka buat ngedenger mereka bertiga ngakak
"Ngga boleh marah, ngga boleh bales!"--kata mereka berdua bersiap ngehindar. Terus Uwi pake ikut-ikutan. Lah, gue juga ngga bisa ngapa-ngapain, karena aturan itu gue juga yang buat pas mereka berdua ulang tahun--dan kemudian jadi budaya angkatan kita.
"Nih, Har, handuk,"--kata Uwi nyodorin kado yang barusan susah-payah gue buka. Oh, jadi ini, toh, maksudnya...
Pas gue udah agak rapi dikit, gue gabung duduk sama mereka yang kayaknya lagi bergosip di balkon.
"Har, kalo mau balikin, cuci dulu, ye,"
"Eh, elah, nanggung amat lo ngasih kado handuk doang. Kaos sekalian ngapa? Masih minjem-minjemin aja," kata gue merenggut denger Mail yang masih cengegesan aja.
Gue mencoba gabung di obrolan mereka, coba ngerti apa yang mereka lagi bicarain.
"Wih, murid pindahan sekarang banyak yang sakti juga berarti,"
"Ngomongin apa, sih, lu pada?"
"Iya, lo tau ngga, Har, di kelas kita (Nae sama Mail) ada anak baru yang naklukin Bu Sugi di hari pertamanya?"
Gue gusrek-gusrek rambut yang masih agak basah karena habis keramas, ngga tertarik,
"Ooh, dia ngerjain tugas Bu Sugi pake mata satu juga? atau malah sambil merem?" --kata gue setengah sinis, masih agak kesel.
"Har, udah atuh, jangan bete, makan dulu, tuh, kue susnya," gue nurut kata Nae, emang tinggal satu-satunya. Gue comot deh tuh kue, terus gue gigit,
"Kagak merem, sih, Har, tapi tadi dia dikasih soal sampe logaritma di depan kelas, bener semua,"
Gue ngelepeh,
"Njir, mayones!" Mereka bertiga ngakak-ngakak. Kena jebakan lagi gue, kali ini kue sus isi mayones.
Juga, bu Sri bilang via ketua kelas kalo gue disuruh ngadepnya bukan pas istirahat, tapi pas balik sekolah.“Uwi, uwi, duduk sama gue aja, dong. Sebelah gue masih kosong,” begitu kata Serli—yang memang kemudian gue tau dia adalah cewek paling oportunis yang paling gue kenal. Dan dia duduk sendirian karena memang sudah terkenal begitu sejak kelas 10.
Gue cuma ngerespon *sigh* aja. Kalo Uwi pindah tempat duduk, gue bakal duduk sendirian. Jumlah anak di kelas ini ganjil. Tapi, itu ngga masalah sama gue. Karena hidup gue seperti teenlit, percayalah, ngga sampe seminggu bangku kosong itu udah ada yang ngisi lagi.
“Hmm, makasih tawarannya, Ser. Tapi, aku mau duduk sama Har aja,”
Gue menyium aroma senyum Uwi tiga senti ke kanan dan kiri. Baru gue mau respon sesuatu, bunyi bel tanda masuk berdentang, seiring masuknya Bu Sugi, guru matematika yang lebih baik lo ditodong bajak laut buat jalan mundur nyebur ke laut dan di bawah lo penuh ikan hiu, ketimbang ketemu tatapan sama tuh guru. Kalo bukan karena Bu Sugi galak, mungkin gue ikut olimpiade matematika. Akhirnya, gue nyimpen respon gue atas omongan Uwi ke Serli barusan.
Kebiasaan Bu Sugi setelah kalimat salam adalah menyapu seluruh kelas dengan tatapannya itu. Dia nyari muka-muka ketakutan yang biasa dia jadiin sampel sebelum mulai pelajaran itu. Mekanismenya gini. Bu Sugi bakal nyari 2-3 anak—biasanya anak dengan muka yang paling keder—yang kemudian bakal dia minta ngerjain suatu soal yang dia kasih di papan tulis. Kita beneran diuji secara pengetahuan, terlebih mental. Kadang kita tau gimana cara jawabnya, tapi itu ilang ketika di depan kelas. Ya, itu, sob. Karena udah keburu ngeri duluan. Bu Sugi ngga ada nyantai-nyantainya.
Walopun berkilas-kilas caranya itu nakutin, gue ngerti caranya ngukur kemampuan siswa di kelasnya yang akan dia ajar. Dengan ‘nguji’ begitu, Bu Sugi tau bakal seberapa dalem materi yang bakal dia beri. Ngga peduli itu hari pertama masuk sekolah di tahun ajaran baru atau gimana. Bu Sugi statistikawan handal. Tapi, ya, itu, sob. Ngeri.
“Itu mata kamu kenapa?”—Bu Sugi tertarik di bangku kita.
“Lagi penyembuhan, Bu. Semoga beberapa hari ke depan sembuh,”—Uwi enteng banget jawabnya, gue lupa wanti-wanti soal ini. Dasar anak baru

“Oh— oke, kalau begitu kamu, kamu, dan kamu maju,”—salah satu kamunya adalah Uwi, anak yang mukanya paling kalem di kelas pagi itu. Uwi sempet nengok ke gue, konfirmasi. Gue ngangguk. Iya, artinya lo disuruh maju ke depan.
Maka, dua dari tiga anak jalan ke depan gontai. Uwi dengan santai menerima lembaran kertas yang dikasih bu Sugi. Sambil tiga anak itu baca lembaran soal, Bu Sugi masang soal yang dikasih di proyekter kelas, maksudnya kita sekelas ikut ngerjain juga; jaga-jaga kalo ada yang pingsan di depan

Gue lagi asik ngerjain soal statistik ini. Masih terjangkau, soal tentang bikin grafik bar dari 30 data. Artinya, kita disuruh nyari jangkauan, rata-rata, tentuin kelas, sama selang atas dan bawah dari masing-masing kelas. Sebenernya, soal macam gini ngga sesusah limit atau logaritma. Ngerjain soal begini mesti sabar dan teliti. Masalahnya, Bu Sugi ngga ngasih kita banyak waktu, dan sekali lagi, soal begini ngga cocok dikerjain buru-buru di bawah tekanan tatapan Bu Sugi.
“Ada yang sudah selesai?”—itu tanda siswa mesti naro pulpen atau spidol. Sial, gue selesai kalo ada tambahan waktu 60 detik lagi. Gue tinggal gambar grafiknya doang.
“Hmm,” Bu Sugi menggumam. Jarang banget, biasanya dia bakal semacam meng-ehem, tanda dia mulai nyeramahin kita lima belas menit sebelum pelajaran asli dimulai.
Gue tertarik liat ke arah depan. Dua dari tiga kepayahan, satu diantara dua malah baru bikin turus selama sepuluh menit waktu ini. –tapi, Uwi udah beres dong. Malah dia sempet bikin standar deviasi, sob—sesuatu yang keknya ngga masuk bahan ajar.
“Kalian boleh duduk,”—kata-kata Bu Sugi ke dua orang yang kepayahan ini bikin hampir sekelas nganga. Nanti siang bakal ujan es. Di sisi lain, artinya Bu Sugi punya perhatian lebih ke Uwi.
Maka, ketika Uwi balik ke tempat duduk, dia diiringi pandangan melongo temen sekelas. Soal peluang sampe limit yang dicoba dari Bu Sugi bisa Uwi jawab dengan asik. Gue liatin Uwi, kayaknya dia agak bingung gitu. Dan kejutan ini belum beres, seberes pelajaran, Bu Sugi bilang,
“Nama kamu Uwi, ya? Nanti sepulang sekolah ke meja saya dulu, ya,”—Uwi ngangguk terus noleh ke gue, minta ditemenin ke sana. Ya, sekalian gue ngadep ke Bu Sri, sih.
“Oke,”—ya, gue bisa jawab apalagi, sob—walaupun masih setengah bengong, sih. Segitunya Uwi ngerjain soal Bu Sugi pake satu mata, sob.
Gimana kalo dua mata, ya?

***
Gue salah untuk satu hal hari ini. Ngga ada tepung dan air comberan dari anak-anak yang mampir. Nae sama Mail (sekarang bareng Uwi juga) nyulik gue. Dua (atau sekarang tiga) sahabat gue bawa gue secara dramatis kerumah Mail yang masih keiitung di belakang sekolah. Tapi, sebelum itu, jalan cerita mundur sedikit ketika gue nganter Uwi ke ruang guru, ke mejanya. Sekalian gue ke Bu Sri, sih, menuhin undagannya tadi pagi. Ini alasan pertama gue kena bully khas ulang tahun.
Gue ngga terlalu merhatiin ke arah Uwi. Tapi, gue sempet ngeh kalo ada orang lain yang dipanggil sama Bu Sugi. Dari perawakannya kayaknya cowok. Gue ngga liat jelas, sih. Dia datang setelah gue ngadep Bu Sri dan pergi sebelum Bu Sri ngasih pengarahan soal olimpiade di depan. Uwi juga udah ngga ada ketika gue beranjak dari kursi meja Bu Sri. Pas gue melintas, selintas gue ngeliat gerombolan anak-anak yang udah siap ngehadang gue.
“Awas maneh, awas maneh,”
“Kita disuruh beli bahan praktikum sama Bu Sri, eh. Minggir-minggir,”
Sahut-sahutan Mail sama Nae (dan Uwi yang cuma ikut-ikutan doang sebenernya
) bikin anak-anak beringsut mundur, bareng-bareng peralatannya. Gue yang langsung dirangkul gitu sama Mail. Pelarian ini sesimpel itu. Dalam hati gue udah pasrah, gue bakal dikerjain lebih parah sama mereka berdua (dan Uwi yang ngga ngerti apa-apa sebenernya, cuma ngikut doang).“Hahaha, udah ngga jaman, sob, ulang tahun disiram-siram,” –kata Mail lima belas meter dari sekolah. Di belakang, Uwi kikuk walaupun Nae nyoba beramah-tamah sama dia.
“’Tul,”—kata Nae nambahin.
Gue rasa, selain kikuk, Uwi juga bingung apa yang sedang terjadi, kok barusan anak-anak pengen ngegebukin gue. Gue kira, dia belum tau tradisi di mari dimana yang ulang tahun bisa aja ngalamin ulang tahunnya yang terakhir

"Kita udah bikin kue buat lo, Har. Kita jujur-jujuran aja. Bosen ngga, sih, mainstream gitu ngerayain ulang tahunnya,"
Kecurigaan gue yang barusan ilang. Nae emang jago soal masaknya. Kita paling sering nongkrong di rumah Mail, buat masak. Kalo gue sama Mail masak nasi goreng dan bikin restoran dari situ, kita bakal ngasih nama restorannya "Nasi Goreng Semoga Enak". Kalo Nae yang masak, nama restorannya jadi "Nasi Goreng Emang Enak Banget". Iyah, sob. Nae jago banget masaknya dan itu ngga sekadar nasi goreng. Terakhir, pas tengah-tengah liburan kemaren, Nae masakin kita seafood asam manis. Segala seafood, dari kepiting, cumi, sampe udang galah. Kalo gue umur 25-26, gue bakal ngelamar Nae jadi... pembantu
Maka, gue membayangkan seenak apakah kue yang dipanggang sama Nae bareng Mail, barangkali kemaren, untuk nyiapin ulang tahun gue hari ini.
Curiga gue beneran luntur ketika gue sampe rumah Mail. Jadi, karena gue naik sepeda, dateng gue agak telat. Mereka yang naik angkot jelas sampe lebih dulu. Mana lagi, pas udah pisah sama mereka, gue baru ngeh kalo ban sepeda gue kempes. Gue curiga sih dikempesin sama anak-anak. Akhirnya, gue dorong-dorong sepeda dulu sekitar sekilo-dua kilo.
"Happy Birthday, Har!!"
Gue disambut pake karpet merah, eh, ngga deng. Gue disambut pake apa-sih-tuh-namanya yang kalo ujungnya kita puter, nanti ujung satunya bakal nyembur kertas-kertas kecil. Nae sama Mail beneran niat, balkon tempat biasa kita main disulap jadi asli-hits-banget-buat-difoto. Uwi udah senyum-senyum sekarang. Kayaknya, dia udah dijelasin penuh sama Nae ama Mail. Gue seneng juga Uwi bisa ngebaur sama sabahat-sahabat gue--lengkap dengan perban di matanya
Udah ngga ada selah lagi untuk curiga ketika Uwi ngasihin kado dari mereka (dua tambah satu
) buat gue. Gue agak dikerjain di sini, bungkusnya gede, sekitar empat puluh senti di panjang, lebar, dan tingginya. Taunya, kertas korannya banyak banget dan diselotip di semua sisi, ngga ada celah kertas supaya gampang disobek. Mail bilang gue parah banget kalo minjem gunting. Gue harus buka semua sendiri. Selagi gue sibuk buka kado, Nae udah dateng dari bawah, bawa blackforrest
dan itu kayak dua kue ditumpuk ke atas. Panjang dan besar banget."Nih, kesukaan lo, Har. Coklat. Gue banyakin krim coklatnya,"
"Lo beresin dulu buka kado, baru boleh nyicip, nih, kue,"--Dan Uwi pun dateng, bawa kue kesukaan gue nomor dua. Kue sus.
Lima menit, ada sedikit darah yang keluar dari ujung kuku telunjuk. Abisan susah dan gue lagi ngga ada kuku. Gue nyengir aja pas buka lapisan terakhir. Isinya handuk merek swan selembar.
"Bisaan lo. Goceng dibagi tiga," kata gue nyengir--dan mereka pun ikut cengegesan.
"Har, potong kue, dong. Laper, nih,"
"Ya, elah, Il, dari tadi lo ngemil kue sus udah berapa?"
"Lo aja yang lama, buruan,"
"Iyee,"
Gue ambil pisau yang ada di sebelah kue itu.
"Eh, bentar, bentar, Har. Gue ambil posisi foto dulu. Wi, bantu, ya,"--kata Nae sambil ngasih instruksi buat Uwi ngambil HP-nya buat moto saat-saat gue motong kue. Posisi mereka agak jauh dari seharusnya, gue ngerasa ada yang aneh di sini, tapi...
DUAR!
Begitu sadar apa yang terjadi, gue tau gue lagi dikerjain. Gue barusan nusuk kue diisi balon gas. Tambahan krim coklat di atasnya cuma kamuflase buat nutupin. Muka gue penuh krim, buat melek aja ngga ada tempat. Tapi kuping gue sebagian kebuka buat ngedenger mereka bertiga ngakak

"Ngga boleh marah, ngga boleh bales!"--kata mereka berdua bersiap ngehindar. Terus Uwi pake ikut-ikutan. Lah, gue juga ngga bisa ngapa-ngapain, karena aturan itu gue juga yang buat pas mereka berdua ulang tahun--dan kemudian jadi budaya angkatan kita.
"Nih, Har, handuk,"--kata Uwi nyodorin kado yang barusan susah-payah gue buka. Oh, jadi ini, toh, maksudnya...
***
Pas gue udah agak rapi dikit, gue gabung duduk sama mereka yang kayaknya lagi bergosip di balkon.
"Har, kalo mau balikin, cuci dulu, ye,"
"Eh, elah, nanggung amat lo ngasih kado handuk doang. Kaos sekalian ngapa? Masih minjem-minjemin aja," kata gue merenggut denger Mail yang masih cengegesan aja.
Gue mencoba gabung di obrolan mereka, coba ngerti apa yang mereka lagi bicarain.
"Wih, murid pindahan sekarang banyak yang sakti juga berarti,"
"Ngomongin apa, sih, lu pada?"
"Iya, lo tau ngga, Har, di kelas kita (Nae sama Mail) ada anak baru yang naklukin Bu Sugi di hari pertamanya?"
Gue gusrek-gusrek rambut yang masih agak basah karena habis keramas, ngga tertarik,
"Ooh, dia ngerjain tugas Bu Sugi pake mata satu juga? atau malah sambil merem?" --kata gue setengah sinis, masih agak kesel.
"Har, udah atuh, jangan bete, makan dulu, tuh, kue susnya," gue nurut kata Nae, emang tinggal satu-satunya. Gue comot deh tuh kue, terus gue gigit,
"Kagak merem, sih, Har, tapi tadi dia dikasih soal sampe logaritma di depan kelas, bener semua,"
Gue ngelepeh,
"Njir, mayones!" Mereka bertiga ngakak-ngakak. Kena jebakan lagi gue, kali ini kue sus isi mayones.
0

