- Beranda
- Stories from the Heart
Sembunyi Sembunyi Sayang
...
TS
chocolavacake
Sembunyi Sembunyi Sayang
“
No one can separate us
No one
- TSH -
No one can separate us
No one
- TSH -
Spoiler for Index:
Prolog
Gelembung 1: Ficus benjamina
Gelembung 2: Postulat Einstein
Gelembung 3: Hujan di Bulan Juni
Gelembung 4: Pesan Pertama
Gelembung 5: Jangan Kecewakan Hati yang Sedang Berlindung Kepadamu
Gelembung 6: Dipisah Jarak
Gelembung 7: Tuan Putri
Gelembung 8: Liontin
Gelembung 9: Ini Punyaku
Gelembung 10: Kecupan Kedua
Gelembung-11: Lik Tik
Gelembung 12: Begundal
Gelembung 13: Cemburu
Gelembung 14: Pengakuan
Gelembung 15: Rika dan Mutmainah
Gelembung 16: Janji
Gelembung 17: Alun-alun
Gelembung 18: Ultimatum Nafla
Gelembung 19: Gulana
Gelembung 20: Ihsan
Gelembung 21: Surat Merah Muda
Gelembung 22: Getir Kekalahan
Gelembung 23: Teman SD
Gelembung 24: Radisty Ayu Anindya
Gelembung 25: Gerimis
Gelembung 26: Erupsi
Gelembung 27: Selamat Ulang Tahun
Gelembung 28: Rencana
Gelembung 1: Ficus benjamina
Gelembung 2: Postulat Einstein
Gelembung 3: Hujan di Bulan Juni
Gelembung 4: Pesan Pertama
Gelembung 5: Jangan Kecewakan Hati yang Sedang Berlindung Kepadamu
Gelembung 6: Dipisah Jarak
Gelembung 7: Tuan Putri
Gelembung 8: Liontin
Gelembung 9: Ini Punyaku
Gelembung 10: Kecupan Kedua
Gelembung-11: Lik Tik
Gelembung 12: Begundal
Gelembung 13: Cemburu
Gelembung 14: Pengakuan
Gelembung 15: Rika dan Mutmainah
Gelembung 16: Janji
Gelembung 17: Alun-alun
Gelembung 18: Ultimatum Nafla
Gelembung 19: Gulana
Gelembung 20: Ihsan
Gelembung 21: Surat Merah Muda
Gelembung 22: Getir Kekalahan
Gelembung 23: Teman SD
Gelembung 24: Radisty Ayu Anindya
Gelembung 25: Gerimis
Gelembung 26: Erupsi
Gelembung 27: Selamat Ulang Tahun
Gelembung 28: Rencana
Spoiler for Prolog:
Apa sihyang terlintas di pikiran kalian ketika mendengar kota 'Jember'?
Anang Hermansyah? Dewi Persik? Opick? Atau Tembakau? Benar, mereka berasal dari Jember dan deretan nama itu sudah jadi langganan saat aku mencoba memperkenalkan diri dengan menyisipkan kota asalku.
Kalau kalian punya waktu, datanglah kemari. Bagiku dan mungkin bagi siapapun yang lahir di tanah ini, Jember adalah sebuah mahakarya. Kalau Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum, maka menurutku Jember diciptakan ketika Tuhan sedang berbahagia. Lihat saja, kabupaten ini memiliki wilayah dari pegunungan hingga lautan. Di daerah utara sana, membentang gagah Pegunungan Hyang dengan Gunung Argopuro sebagai atapnya. Di bagian timur, berjajar rangkaian Pegunungan Ijen yang selalu mewarnai keindahan matahari terbit di waktu fajar. Sedangkan di wilayah selatan terhampar Samudra Hindia yang katanya menjadi teritorial Ratu Pantai Selatan. Tak hanya itu, mungkin karena benar saat itu Tuhan sedang berbahagia, wilayah kami dikaruniai tanah yang subur. Padi, jagung, tembakau, kopi, kakao, serta beragam jenis tanaman dapat tumbuh di sini. Sungai Bedadung yang mengalir dari Pegunungan Hyang di bagian Tengah, Sungai Mayang yang bersumber dari Pegunungan Raung di bagian timur, dan Sungai Bondoyudo yang bersumber dari Pegunungan Semeru di bagian barat, bahu membahu membantu kami mengairi irigasi para petani. Banyak hal yang harus kalian ketahui tentang tempat kelahiranku ini, nanti akan aku ceritakan.
Tapi, selain besarnya kekayaan alam yang dianugrahkan Yang Maha Agung, ada satu hal yang membuatku selalu rindu untuk pulang.
Kenangan.
Benar, sehebat dan seagung apapun seseorang pasti memiliki kenangan, yang akan selalu tersimpan di otaknya, mambantu dalam bertahan, atau bahkan sebagai motivator untuk berjuang. Masa laluku, yang selanjutnya tertata rapi dalam gelembung-gelembung kenangan, membekas indah pada dinding-dinding putih sebuah sekolah.
Mungkin kalian sudah berulang kali membaca novel, cerpen, atau menonton film, sinetron, FTV, dengan latar belakang SMA. Akupun tidak membantah, karena seperti orang-orang bilang, SMA merupakan masa yang paling indah. Betapa tidak, topik tak terhingga selalu dapat dibahas dan menjadi gelak tawa saat reuni berlangsung. Tawa, tangis, canda, lara, cinta, setiap dari kalian pasti mengalaminya. Begitu juga aku.
Ada berjuta kisah berlatar SMA yang jauh lebih baik dan tersaji dengan apik di luar sana. Tapi ini kisahku, aku hanya ingin bercerita, berbagi gelembung kenangan yang selalu aku tutup rapat sebelumnya.
Spoiler for Gelembung 1: Ficus benjamina:
Yang aku ingat, hari itu bukanlah hari terbaikku. Karena sejak awal, aku bingung harus bagaimana.
Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah. Bukan dalam artian masuk kelas lalu belajar tentunya. Hari ini dan tiga hari setelahnya, aku dan teman-teman se angkatanku akan menjalani kegiatan tidak terlalu penting bin membosankan nomor satu, bernama Masa Orientasi Sekolah, atau yang sering kalian sebut dengan akronim ospek. Tidak terlalu penting karena mungkin hanya 25% dari kegiatan yang diselenggarakan memberi output yang langsung dirasakan oleh siswa baru. Membosankan karena hampir semua sekolah dan hampir setiap kepanitiaan mengemasnya dengan seragam. Ada sih beberapa sekolah yang melakukan kegiatan tersebut dengan kegiatan yang bermanfaat, tapi tidak banyak.
Tidak salah bila banyak yang mengatakan bahwa ospek merupakan ajang balas dendam dari pengalaman kakak kelas pada saat mereka melaksanakan ospek. Nyatanya, tidak sedikit kasus siswa atau mahasiswa baru yang mengalami cedera bahkan meninggal saat melaksanakan kegiatan tersebut. Belum lagi kasus-kasus yang tidak mendapat sorotan media. Who knows?
Jarak rumahku ke sekolah tidak terlalu jauh. Sekali naik angkot, kira-kira 20 menit. Mengenakan baju putih lengan panjang, celana bahan warna hitam, dan sepatu hitam polos, aku berangkat menuju sekolah tanpa ditemani satu temanpun. Miris bukan? Sebenarnya ada satu orang teman SD ku yang tinggal di dekat rumah dan masuk ke sekolah itu juga, namun latar belakang SMP merubah derajat kita.
Aku satu-satunya siswa dari SMP ku yang masuk ke sekolah ini. Dari sebelas orang yang mendaftar, sepuluh orang tereliminasi. Dan akhirnya, di sinilah aku berada. Terdiam sendiri di tengah hiruk pikuk siswa yang bercengkrama, tertawa, dan bergembira satu dengan lainnya.
Tiba-tiba, terdengar suara bel panjang. Para siswa baru berhamburan menuju lapangan basket setelah beberapa kakak kelas (panitia) berteriak untuk berbaris di lapangan. Kami berbaris, tidak butuh waktu lama untuk menyusun barisan. Selanjutnya, dilaksanakanlah apel pembukaan.
Aku lupa, ternyata hari itu adalah hari Pra-MOS, yang artinya hari itu belum seperti ospek yang biasanya, istilah kerennya Warming Up. Tidak ada yang menarik di hari itu. Sebelum dhuhur, kami diperbolehkan pulang, tidak lupa dengan bermacam-macam penugasan yang harus dibawa keesokan hari tentunya.
Hari itu aku mendapatkan beberapa teman baru, aku lupa siapa saja mereka. Hanya satu orang yang aku ingat, namanya Ilham.
***
Di bangku sekolah dasar, aku tergolong siswa yang pandai. Terserah kalian menganggap aku sombong atau bangga, bagiku memang tidak jelas batas antara keduanya. Sering aku didaftarkan mengikuti lomba cerdas cermat atau olimpiade tingkat kecamatan dan kabupaten. Beberapa kali aku pulang membawa piala, meskipun tidak pernah menorehkan juara satu. Aku sering curiga karena di setiap lomba pemenangnya selalu dari sekolah kota.
Waktu itu kami sedang intensif belajar menghadapi UN. Jadi hanya mata pelajaran UN saja yang diajarkan. Di tengah pelajaran, seseorang mengetuk pintu kelas, Bu Iriantini, kepala sekolah. Lalu beliau meminta ijin untuk memanggil aku dan seorang temanku ke ruang kepala sekolah.
"Ada lomba, Olimpiade MIPA tingkat karesidenan. Kalau kalian ibu daftarkan, mau?"
Aku menghela nafas, lomba lomba lomba. Kami saling beradu pandang.
"Ibu yakin kalian bisa. Hitung-hitung lomba terakhir sebelum kalian lulus. Ini lomba dari universitas, jurinya pasti netral dan soalnya pasti aman, Ji."
Ah, tahu saja Ibu apa yang ada di pikiranku.
"Yasudah, kalian boleh kembali ke kelas. Nanti ibu kabari lagi teknis lombanya bagaimana."
Kami pun kembali ke kelas. Seperti kerbau yang dicongkel hidungnya, tanpa ada pembelaan dan kata-kata, kami secara sepihak terpaksa menerima apa yang sudah direncanakan kepada kami. Hari-hari selanjutnya aku dan temanku, Yoga, harus menambah jam belajar di sekolah, karena sore harinya kami mendapat tambahan les untuk menghadapi olimpiade terkhir kami.
***
Apa faedahnya menggunakan besek (wadah tape yang terbuat dari bambu) dikepala? Apa gunanya menggunakan tali rafia sebagai pengganti ikat pinggang? Apa manfaatnya menggunakan kaos kaki berbeda warna serta tali sepatu yang berbeda warna pula? Melatih mental? Yaelah, bro,kita disini MAU menuntut ilmu, bukan mau berperang.
Aku sempat kesal melihat daftar penugasan yang diberikan kakak-kakak panitia terhormat itu. Belum lagi mereka menyajikan dengan teka teki. Contohnya manusia salju, parabola terbalik, atau buku terang. Dan yang paling aku tidak habis pikir, kami disuruh membuat kalung berliontin bawang putih. Hello, emang kita mau ngusir drakula?
***
Namanya Yoga. Lelaki bulan Januari ini kami kenal sebagai pelukis ulung. Tulisan tangannya bagus, jauh diatas rata-rata tulisan tangan kami siswa lelaki di usia itu. Sampai kami lulus SD, belum ada yang menyaingi keluwesan tangannya dalam menggores pensil atau kuas. Dari tahun ke tahun, Yoga tidak pernah lupa meninggalkan catatan sejarah dengan memajang hasil karyanya di dinding kelas. Entah kenapa ketika lulus kuliah, pria berkulit putih dengan rambut kriting ini memutuskan untuk masuk SMK, jurusan otomotif pula yang diambilnya. Aku tidak sempat bertanya karena kami berbeda sekolah saat SMP. Tapi di sini kalian jangan terlalu memikirkan Yoga. Dia hanya pemain figuran yang hanya muncul saat kami mengikuti Olimpiade MIPA.
Jam di tanganku menunjukkan pukul sebelas kurang lima menit. Ada waktu sekitar 20 menit lagi untuk menunggu pengumuman siapa saja yang lolos tahap dua kualifikasi. Aku, Yoga, dan dua guru pendampingku duduk menunggu di sebuah ruangan mirip aula. Aku mulai bosan, riuh rendah suara peserta lain tak mau kalah dengan suara deras hujan. Ah, Januari tak pernah ingkar, aku percaya hujan yang dibawanya berasal dari percik sungai di surga firdaus, nyaman dan menentramkan.
Aku keluar aula. Tak jauh berbeda dengan kondisi di dalam, di luar siswa dan guru-guru berbicara sedikit agak lantang, tak mau kalah dengan nyanyian hujan. Untungnya kampus ini memiliki koridor-koridor yang menghubungkan antar gedung, sehingga mobilitas civitasnya tak terganggu hal-hal seperti hujan ini. Aku kagum dengan tata kelolanya. Bersih dan rindang. Sejauh mata memandang, warna hijau dari dedaunan mendominasi. Aku berjalan menyusuri koridor. Sesekali mengintip ruang kuliah melalui jendela. Aneh rasanya, berbeda dengan kelas kami yang memiliki meja dan kursi, di sini setiap orang memiliki kursi sendiri-sendiri, di setiap kursi terdapat papan penopang sebagai tempat untuk menulis. Keren sekali.
Ketika akan kembali menuju aula, pandanganku tertahan pada sebuah pohon Ficus benjamina yang ditanam di antara taman-taman dekat ruang kuliah. Aku tidak peduli dengan ratusan akar gantung yang bergelayut diterpa angin atau akarnya yang menjalar tak tahu arah, mataku melekat pada sesosok perempuan di bawahnya. Perempuan, perempuan asli, asal kalian tahu kesadaranku masih mampu membedakan mana perempuan asli mana perempuan jadi-jadian.
Aku kenal seragam yang ia kenakan. Sekilas memang aneh mengapa seorang perempuan duduk di bawah pohon beringin asyik membaca sebuah buku, di tengah hujan pula. Orang-orang di sekitar kelihatannya tidak terlalu peduli apa yang ia lakukan. Tapi aku melihat berbeda. Di usiaku yang saat itu baru 13 tahun, aku hanya penasaran apa yang dia lakukan. Cantik, putih kulitnya, wajahnya tak acuh melihat sekitar kakinya basah akibat percikan air hujan. Sesekali rambut panjang bergelombangnya diaturnya agar tak menutup telinga.
Lalu sedetik kemudian, panorama pohon yang dicap angker oleh masyarakat awam itu mendadak bercahaya. Otot pipi di sekitar mulutku bergerak tanpa komando, aku tersenyum. Betapa tidak, di sana, delapan meter dari tempat aku berdiri, perempuan itu seketika tersenyum di tengah ia membaca. Aih, apa pula itu sepasang lesung pipi muncul tiba-tiba.
Manisnya.
***
Karena semalam aku tidur agak larut dari biasanya, hari ini aku datang hampir telat. Menyiapkan segala penugasan bukan hal yang mudah. Ayah ibuku sedang di rumah saudara rewang pernikahan sepupuku. Rumah Ilham jauh, buang waktu juga bila aku harus kesana. Akhirnya aku persiapkan sendiri semuanya.
Meskipun hari pertama, sejak langkah kami masuk gerbang sekolah sudah disuguhkan dengan teriakan dan tatapan tajam senior. Sebenarnya aku tidak terlalu terpengaruh karena aku sudah hafal jalan ceritanya. Namun daripada aku dianggap berbuat onar, aku terima saja apa yang mereka lakukan.
Hari itu kami full di luar. Setelah apel pagi, kami diajak berkeliling mengenal berbagai ruangan yang ada di sana. Satu setengah jam kami berdiri dan berjalan sambil mencatat apa saja yang kami temukan.
Agak bingung sebenarnya ketika kegiatan selanjutnya dimulai. Kami dibagi menjadi beberapa regu lalu disuruh berlari kembali menuju lapangan. Aku dan Ilham ada di regu yang sama. Lalu datanglah dua senior yang mengambil alih barisan. Ya, di tengah sinar matahari yang mulai terik, kami dikomando untuk berlatih baris-berbaris.
Sayang, hari itu bukan hari baikku. Awalnya aku biasa saja dan mengikuti setiap komando yang diberikan. Tapi setelah 15 menit, aku merasa ada yang aneh. Berkali-kali aku menelan ludah. Sinar matahari berasa sangat tajam menusuk kulit. Keringat dingin tiba-tiba keluar tanpa diduga.
“Ji, kenapa?”
Aku menggelengkan kepala menjawab bisikan Ilham. Baru ingat ternyata sejak kemarin sore aku belum makan sesuap nasi.
Sial. Sakit kepala menggerogoti kesadaranku. Seketika rasa sakit dari lambung tak mau kalah menyiksa. Aku mencoba bertahan, berharap kegiatan konyol ini segera berakhir. Tapi apa daya, pandanganku tiba-tiba diambil alih oleh sebuah cahaya hitam, semakin lama semakin menutup kelopak mataku. Bruk! Aku terjatuh. Di tengah gelap aku sempat mendengar suara Ilham memanggil namaku. Aku pingsan.
Ketika tersadar, aku sedang berbaring di UKS sekolah. Menyadari aku sudah siuman, petugas UKS menghampiriku.
“Belum makan ya, Mas?”
Aku nyengir, malu sendiri pingsan hanya gara – gara belum mengisi perut. Lalu mbak-mbak petugas UKS tadi memeriksa tekanan darahku.
“Normal kok,” katanya sambil melepas tensimeter dari lenganku.
“Mau makan apa? Bubur mau? Yaudah saya beli dulu di kantin,” seketika mbak-mbak UKS pergi tanpa sempat aku menjawab pertanyaannya.
Hhhhh...
Aku mencoba untuk duduk meski pusing masih terasa. Ah, harusnya aku tidak lupa sarapan tadi. Ibu sih, pake acara rewang segala. Jadi ngerepotin banyak orang kan.
Ngomong-ngomong soal pingsan, aku penasaran apa hanya aku yang ada di ruangan ini. Dua tempat tidur di sebrang tempatku tidak ada siapa-siapa. Cuma seorang perempuan yang rupanya belum siuman terbaring di samping tempat tidurku. Kasihan, mungkin dia belum makan juga sepertiku.
Ruangan UKS ini tidak terlalu besar. Hanya dapat menampung empat tempat tidur. Ruangan mbak-mbak tadi dipisah dengan menggunakan sekat. Bersih. Dan layaknya ruang medis, baunya sangat khas.
Ketika mengamati ruangan ini, kepalaku sekejap seperti terkena setrum. Aku teringat sesuatu.
Perempuan, perempuan di sampingku ini, aku tidak asing dengan wajahnya. Tapi siapa. Aku mencoba mengingat-ingat siapa dia. Dahi ku kernyitkan, mata ku pejamkan, ayolah, ingat!
Kembali aku amati wajahnya. Putih. Samar-samar aku mulai mengingat. Rambut panjang bergelombang. Sepintas muncul ingatan seseorang mengatur rambut di sela telinganya. Bibir itu.
Ya!
Ficus benjamina. Lesung pipi.
Benar!
Itu pasti dia.
Gelembung 2: Postulat Einstein
Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah. Bukan dalam artian masuk kelas lalu belajar tentunya. Hari ini dan tiga hari setelahnya, aku dan teman-teman se angkatanku akan menjalani kegiatan tidak terlalu penting bin membosankan nomor satu, bernama Masa Orientasi Sekolah, atau yang sering kalian sebut dengan akronim ospek. Tidak terlalu penting karena mungkin hanya 25% dari kegiatan yang diselenggarakan memberi output yang langsung dirasakan oleh siswa baru. Membosankan karena hampir semua sekolah dan hampir setiap kepanitiaan mengemasnya dengan seragam. Ada sih beberapa sekolah yang melakukan kegiatan tersebut dengan kegiatan yang bermanfaat, tapi tidak banyak.
Tidak salah bila banyak yang mengatakan bahwa ospek merupakan ajang balas dendam dari pengalaman kakak kelas pada saat mereka melaksanakan ospek. Nyatanya, tidak sedikit kasus siswa atau mahasiswa baru yang mengalami cedera bahkan meninggal saat melaksanakan kegiatan tersebut. Belum lagi kasus-kasus yang tidak mendapat sorotan media. Who knows?
Jarak rumahku ke sekolah tidak terlalu jauh. Sekali naik angkot, kira-kira 20 menit. Mengenakan baju putih lengan panjang, celana bahan warna hitam, dan sepatu hitam polos, aku berangkat menuju sekolah tanpa ditemani satu temanpun. Miris bukan? Sebenarnya ada satu orang teman SD ku yang tinggal di dekat rumah dan masuk ke sekolah itu juga, namun latar belakang SMP merubah derajat kita.
Aku satu-satunya siswa dari SMP ku yang masuk ke sekolah ini. Dari sebelas orang yang mendaftar, sepuluh orang tereliminasi. Dan akhirnya, di sinilah aku berada. Terdiam sendiri di tengah hiruk pikuk siswa yang bercengkrama, tertawa, dan bergembira satu dengan lainnya.
Tiba-tiba, terdengar suara bel panjang. Para siswa baru berhamburan menuju lapangan basket setelah beberapa kakak kelas (panitia) berteriak untuk berbaris di lapangan. Kami berbaris, tidak butuh waktu lama untuk menyusun barisan. Selanjutnya, dilaksanakanlah apel pembukaan.
Aku lupa, ternyata hari itu adalah hari Pra-MOS, yang artinya hari itu belum seperti ospek yang biasanya, istilah kerennya Warming Up. Tidak ada yang menarik di hari itu. Sebelum dhuhur, kami diperbolehkan pulang, tidak lupa dengan bermacam-macam penugasan yang harus dibawa keesokan hari tentunya.
Hari itu aku mendapatkan beberapa teman baru, aku lupa siapa saja mereka. Hanya satu orang yang aku ingat, namanya Ilham.
***
Di bangku sekolah dasar, aku tergolong siswa yang pandai. Terserah kalian menganggap aku sombong atau bangga, bagiku memang tidak jelas batas antara keduanya. Sering aku didaftarkan mengikuti lomba cerdas cermat atau olimpiade tingkat kecamatan dan kabupaten. Beberapa kali aku pulang membawa piala, meskipun tidak pernah menorehkan juara satu. Aku sering curiga karena di setiap lomba pemenangnya selalu dari sekolah kota.
Waktu itu kami sedang intensif belajar menghadapi UN. Jadi hanya mata pelajaran UN saja yang diajarkan. Di tengah pelajaran, seseorang mengetuk pintu kelas, Bu Iriantini, kepala sekolah. Lalu beliau meminta ijin untuk memanggil aku dan seorang temanku ke ruang kepala sekolah.
"Ada lomba, Olimpiade MIPA tingkat karesidenan. Kalau kalian ibu daftarkan, mau?"
Aku menghela nafas, lomba lomba lomba. Kami saling beradu pandang.
"Ibu yakin kalian bisa. Hitung-hitung lomba terakhir sebelum kalian lulus. Ini lomba dari universitas, jurinya pasti netral dan soalnya pasti aman, Ji."
Ah, tahu saja Ibu apa yang ada di pikiranku.
"Yasudah, kalian boleh kembali ke kelas. Nanti ibu kabari lagi teknis lombanya bagaimana."
Kami pun kembali ke kelas. Seperti kerbau yang dicongkel hidungnya, tanpa ada pembelaan dan kata-kata, kami secara sepihak terpaksa menerima apa yang sudah direncanakan kepada kami. Hari-hari selanjutnya aku dan temanku, Yoga, harus menambah jam belajar di sekolah, karena sore harinya kami mendapat tambahan les untuk menghadapi olimpiade terkhir kami.
***
Apa faedahnya menggunakan besek (wadah tape yang terbuat dari bambu) dikepala? Apa gunanya menggunakan tali rafia sebagai pengganti ikat pinggang? Apa manfaatnya menggunakan kaos kaki berbeda warna serta tali sepatu yang berbeda warna pula? Melatih mental? Yaelah, bro,kita disini MAU menuntut ilmu, bukan mau berperang.
Aku sempat kesal melihat daftar penugasan yang diberikan kakak-kakak panitia terhormat itu. Belum lagi mereka menyajikan dengan teka teki. Contohnya manusia salju, parabola terbalik, atau buku terang. Dan yang paling aku tidak habis pikir, kami disuruh membuat kalung berliontin bawang putih. Hello, emang kita mau ngusir drakula?
***
Namanya Yoga. Lelaki bulan Januari ini kami kenal sebagai pelukis ulung. Tulisan tangannya bagus, jauh diatas rata-rata tulisan tangan kami siswa lelaki di usia itu. Sampai kami lulus SD, belum ada yang menyaingi keluwesan tangannya dalam menggores pensil atau kuas. Dari tahun ke tahun, Yoga tidak pernah lupa meninggalkan catatan sejarah dengan memajang hasil karyanya di dinding kelas. Entah kenapa ketika lulus kuliah, pria berkulit putih dengan rambut kriting ini memutuskan untuk masuk SMK, jurusan otomotif pula yang diambilnya. Aku tidak sempat bertanya karena kami berbeda sekolah saat SMP. Tapi di sini kalian jangan terlalu memikirkan Yoga. Dia hanya pemain figuran yang hanya muncul saat kami mengikuti Olimpiade MIPA.
Jam di tanganku menunjukkan pukul sebelas kurang lima menit. Ada waktu sekitar 20 menit lagi untuk menunggu pengumuman siapa saja yang lolos tahap dua kualifikasi. Aku, Yoga, dan dua guru pendampingku duduk menunggu di sebuah ruangan mirip aula. Aku mulai bosan, riuh rendah suara peserta lain tak mau kalah dengan suara deras hujan. Ah, Januari tak pernah ingkar, aku percaya hujan yang dibawanya berasal dari percik sungai di surga firdaus, nyaman dan menentramkan.
Aku keluar aula. Tak jauh berbeda dengan kondisi di dalam, di luar siswa dan guru-guru berbicara sedikit agak lantang, tak mau kalah dengan nyanyian hujan. Untungnya kampus ini memiliki koridor-koridor yang menghubungkan antar gedung, sehingga mobilitas civitasnya tak terganggu hal-hal seperti hujan ini. Aku kagum dengan tata kelolanya. Bersih dan rindang. Sejauh mata memandang, warna hijau dari dedaunan mendominasi. Aku berjalan menyusuri koridor. Sesekali mengintip ruang kuliah melalui jendela. Aneh rasanya, berbeda dengan kelas kami yang memiliki meja dan kursi, di sini setiap orang memiliki kursi sendiri-sendiri, di setiap kursi terdapat papan penopang sebagai tempat untuk menulis. Keren sekali.
Ketika akan kembali menuju aula, pandanganku tertahan pada sebuah pohon Ficus benjamina yang ditanam di antara taman-taman dekat ruang kuliah. Aku tidak peduli dengan ratusan akar gantung yang bergelayut diterpa angin atau akarnya yang menjalar tak tahu arah, mataku melekat pada sesosok perempuan di bawahnya. Perempuan, perempuan asli, asal kalian tahu kesadaranku masih mampu membedakan mana perempuan asli mana perempuan jadi-jadian.
Aku kenal seragam yang ia kenakan. Sekilas memang aneh mengapa seorang perempuan duduk di bawah pohon beringin asyik membaca sebuah buku, di tengah hujan pula. Orang-orang di sekitar kelihatannya tidak terlalu peduli apa yang ia lakukan. Tapi aku melihat berbeda. Di usiaku yang saat itu baru 13 tahun, aku hanya penasaran apa yang dia lakukan. Cantik, putih kulitnya, wajahnya tak acuh melihat sekitar kakinya basah akibat percikan air hujan. Sesekali rambut panjang bergelombangnya diaturnya agar tak menutup telinga.
Lalu sedetik kemudian, panorama pohon yang dicap angker oleh masyarakat awam itu mendadak bercahaya. Otot pipi di sekitar mulutku bergerak tanpa komando, aku tersenyum. Betapa tidak, di sana, delapan meter dari tempat aku berdiri, perempuan itu seketika tersenyum di tengah ia membaca. Aih, apa pula itu sepasang lesung pipi muncul tiba-tiba.
Manisnya.
***
Karena semalam aku tidur agak larut dari biasanya, hari ini aku datang hampir telat. Menyiapkan segala penugasan bukan hal yang mudah. Ayah ibuku sedang di rumah saudara rewang pernikahan sepupuku. Rumah Ilham jauh, buang waktu juga bila aku harus kesana. Akhirnya aku persiapkan sendiri semuanya.
Meskipun hari pertama, sejak langkah kami masuk gerbang sekolah sudah disuguhkan dengan teriakan dan tatapan tajam senior. Sebenarnya aku tidak terlalu terpengaruh karena aku sudah hafal jalan ceritanya. Namun daripada aku dianggap berbuat onar, aku terima saja apa yang mereka lakukan.
Hari itu kami full di luar. Setelah apel pagi, kami diajak berkeliling mengenal berbagai ruangan yang ada di sana. Satu setengah jam kami berdiri dan berjalan sambil mencatat apa saja yang kami temukan.
Agak bingung sebenarnya ketika kegiatan selanjutnya dimulai. Kami dibagi menjadi beberapa regu lalu disuruh berlari kembali menuju lapangan. Aku dan Ilham ada di regu yang sama. Lalu datanglah dua senior yang mengambil alih barisan. Ya, di tengah sinar matahari yang mulai terik, kami dikomando untuk berlatih baris-berbaris.
Sayang, hari itu bukan hari baikku. Awalnya aku biasa saja dan mengikuti setiap komando yang diberikan. Tapi setelah 15 menit, aku merasa ada yang aneh. Berkali-kali aku menelan ludah. Sinar matahari berasa sangat tajam menusuk kulit. Keringat dingin tiba-tiba keluar tanpa diduga.
“Ji, kenapa?”
Aku menggelengkan kepala menjawab bisikan Ilham. Baru ingat ternyata sejak kemarin sore aku belum makan sesuap nasi.
Sial. Sakit kepala menggerogoti kesadaranku. Seketika rasa sakit dari lambung tak mau kalah menyiksa. Aku mencoba bertahan, berharap kegiatan konyol ini segera berakhir. Tapi apa daya, pandanganku tiba-tiba diambil alih oleh sebuah cahaya hitam, semakin lama semakin menutup kelopak mataku. Bruk! Aku terjatuh. Di tengah gelap aku sempat mendengar suara Ilham memanggil namaku. Aku pingsan.
Ketika tersadar, aku sedang berbaring di UKS sekolah. Menyadari aku sudah siuman, petugas UKS menghampiriku.
“Belum makan ya, Mas?”
Aku nyengir, malu sendiri pingsan hanya gara – gara belum mengisi perut. Lalu mbak-mbak petugas UKS tadi memeriksa tekanan darahku.
“Normal kok,” katanya sambil melepas tensimeter dari lenganku.
“Mau makan apa? Bubur mau? Yaudah saya beli dulu di kantin,” seketika mbak-mbak UKS pergi tanpa sempat aku menjawab pertanyaannya.
Hhhhh...
Aku mencoba untuk duduk meski pusing masih terasa. Ah, harusnya aku tidak lupa sarapan tadi. Ibu sih, pake acara rewang segala. Jadi ngerepotin banyak orang kan.
Ngomong-ngomong soal pingsan, aku penasaran apa hanya aku yang ada di ruangan ini. Dua tempat tidur di sebrang tempatku tidak ada siapa-siapa. Cuma seorang perempuan yang rupanya belum siuman terbaring di samping tempat tidurku. Kasihan, mungkin dia belum makan juga sepertiku.
Ruangan UKS ini tidak terlalu besar. Hanya dapat menampung empat tempat tidur. Ruangan mbak-mbak tadi dipisah dengan menggunakan sekat. Bersih. Dan layaknya ruang medis, baunya sangat khas.
Ketika mengamati ruangan ini, kepalaku sekejap seperti terkena setrum. Aku teringat sesuatu.
Perempuan, perempuan di sampingku ini, aku tidak asing dengan wajahnya. Tapi siapa. Aku mencoba mengingat-ingat siapa dia. Dahi ku kernyitkan, mata ku pejamkan, ayolah, ingat!
Kembali aku amati wajahnya. Putih. Samar-samar aku mulai mengingat. Rambut panjang bergelombang. Sepintas muncul ingatan seseorang mengatur rambut di sela telinganya. Bibir itu.
Ya!
Ficus benjamina. Lesung pipi.
Benar!
Itu pasti dia.
Gelembung 2: Postulat Einstein
Diubah oleh chocolavacake 21-11-2020 20:55
anasabila memberi reputasi
1
35.9K
Kutip
295
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
chocolavacake
#197
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H !
Mohon maaf lahir batin buat kaskuser semua. Punten kalo ane ada salah2 kata sama sering telat apdet hehe
Semoga kita masih dipertemukan Ramadhan tahun depan Aamiin
Mohon maaf lahir batin buat kaskuser semua. Punten kalo ane ada salah2 kata sama sering telat apdet hehe
Semoga kita masih dipertemukan Ramadhan tahun depan Aamiin

Spoiler for Gelembung 20: Ihsan:
Sesuai dengan waktu yang telah kujanjikan pada Rama kemarin, aku bertandang ke sekolah Ihsan. Kukayuh cepat sepedaku menuju sebuah SMA di bilangan Sumbersari. Namun aku datang di waktu yang kurang tepat, sengatan terik matahari berada pada titik tertinggi. Kuputuskan menempuh Jalan Sumatra agar dapat melewati jembatan Geladak kembar dan mempersingkat waktu tempuh.
Sepanjang jalan kulihat deretan toko-toko tak seperti biasanya. Mereka menjelma menjadi nyonya-nyonya tua yang selalu berwajah sinis dan mulai lapuk ditelan zaman. Gigi palsu yang mereka pasang diantara gigi lainnya yang berwarna kecoklatan, mengkilat-kilat memantulkan cahaya dari matahari yang juga tak suka pada jajaran wanita paruh baya itu. Sombong dan tak tahu diri.
Sementara langit curiga kepada angin dan angin membenci gunung, alam penuh angkara murka.
Lalu jejeran Mimusops elengikini tak lagi rapat sesuai tujuan adiluhungnya sebagai peneduh jalan. Mereka pecah kongsi, membuat aku sebagai pengguna jalan masih merasakan terik matahari. Usust punya usut, kawanan pohon itu terbagi jadi dua kubu lantaran adanya perbedaan dukungan kepada para nyonya tua untuk menggugat sang matahari.
Setelah berbelok dari Jalan Jawa dan memasuki Jalan Sumatera, sepedaku mendadak menjadi berat. Bukan karena tim sukses Ihsan ingin menjegalku dengan menambatkan bongkahan batu kali yang seukuran gajah pada sepedaku, namun nyaliku yang menciut drastis memandang nyonya-nyonya tak tahu diri di sepanjang jalan.
Saat ban sepedaku baru memasuki delapan putaran, nyonya butik muslimah melirik ketus:
“Oh, ternyata begini lelaki udik itu? Hitam bukan buatan. Mau apa dia?”
Lalu wanita paruh baya swalayan berwarna biru menambahkan:
“Yaelah, orang macam tu mana mungkin bisa menang. Seperti pungguk merindukan purnama saja.”
Belum sempat aku melewati nyonya penjual roti, sudah disemburnya maluku dari kejauhan sana:
“Hei, hei.. Jangan kalian cemooh pemuda itu, biarkan saja si pemimpi itu. Biar hidup menamparnya, biar cinta mengelabuinya. Dasar tak tahu adat!”
Aku semakin mengelus dada melihat kawanan Mimusops elengi tiba-tiba kembali satu suara cekikian menertawaiku. Sepintas aku teringat ocehan Lik Tik tempo hari, bahwasanya jangan terlalu percaya gonjang ganjing politik, pecah kongsi itu biasa. Bisa jadi itu bagian dari skenario tengik tikus-tikus got penyelundup uang rakyat.
Memasuki tanjakan Jalan Sumatera, kukayuh sepeda dengan marah dan tergesa-gesa. Nafas memburu, hati membiru, tangan mengepal tinju, kepala penuh pikiran jahat. Setiap wajah yang kutemui mendadak kubenci tanpa sebab.
Tahu-tahu, aku telah sampai di depan SMA Ihsan dan tertegun melihat struktur bagunannya: Alay! Kutoleh suara klakson motor dan mobil yang bersahut-sahutan dekat lampu merah RRI: Kalau buru-buru ya berangkat dari kemarin saja! Sekelebat kulihat juru parkir swalayan tiba-tiba nongol sambil cengar-cengir setelah sebuah motor parkir didepannya: bedebah!
Kuberitahu satu hal, kombinasi cemburu, hopeless, dan terbakar terik matahari kadang memang membingungkan.
Sambil menunggu jam pulang sekolah, aku memesan gado-gado pesanan ibu di warung dekat sekolah itu. Aku tak turun dari sadel sepeda, dengan tujuan agar lebih leluasa mengamati pergerakan para siswa di bangunan yang ingin dibilang kekinian itu. Dan juga gado-gado sengaja kubayar lebih dahulu agar saat begundal itu keluar, aku bisa cepat-cepat menghampirinya.
Lalu,
Tak kurang dari lima menit, suara gemuruh muncul dari sudut sekolah. Desing mesin motor saling sahut Cumiakkan telinga. Murid-murid berhamburan keluar gerbang sekolah sambil petantang-petenteng membawa barang bawaan mereka yang berupa-rupa. Kawanan motor saling sikut agar cepat melewati gerbang.
Aku mengamati satu persatu siswa yang keluar, kemudian satu pertanyaan beruntun yang mestinya aku pikirkan sejak tadi, tiba-tiba mencuat begitu saja:
Ihsan ke sekolah naik apa? Kalau naik motor, apa motornya? Kalau naik mobil,apa mobilnya? Kalau naik angkot, angkot jurusan mana? Kalau naik keranda, ya bodo amat!
Ah bodoh, harusnya kutanyakan lebih dahulu pada Rama sebelum bertandang kemari.
Dari kesal sekaligus benci tadi, penderitaanku naik kelas menjadi hampa. Hatiku hampa, sehampa pekuburan yang sepi, sehampa pos-pos polisi yang hanya dioperasikan saat mudik lebaran.
Pesananku tak kunjung selesai, padahal hanya tiga orang yang ada di warung itu. Tapi baguslah, setidaknya masih ada alasan untuk tak kulepas pandangan di kejauhan sana.
Sejurus kemudian pandanganku terhalangi. Seorang pria berseragam sekolah itu dengan tanpa dosa memarkir motornya didepanku. Alisku bertemu, kuperhatikan ia dari atas ke bawah. Kombinasi helm retro dibalut kulit warna cokelat dengan sebuah kaca mata hitam besar tanpa fungsi dan sebuah Honda CB 100 hitam: Kuno!
Namun tanpa disangka dan tak dinyana-nyana, aku terperanjat melihat wajah di balik helm itu,
Ihsan!
Merasa sedang diperhatikan, ia tersenyum kecil padaku. Kulihat kepalanya sedikit mengangguk tanda permisi saat memasuki warung gado-gado. Aneh, segala perasaan dongkolku mendadak sirna seiring dengan adegan lima detik barusan.
Aku terpana melihat motor yang berada tepat didepan sepedaku, sangat berbeda dari motor klasik pada umumnya, apalagi Suzuki FR 80 butut milik Lik Tik. Ia lebih seperti model sampul majalah otomotif yang kubaca di bengkel tempo hari.
Catnya halus, hitam kecokelatan dengan satu buah garis striping di bagian tangki. Tak lupa tulisan Honda dan sebuah sayap bertengger dengan bangganya di sana. Di bawahnya, sebuah blok mesin Tiger mengkilat-kilat menyilaukan mata, kutaksir mesin itu telah di bore up hingga 400cc. Di bagian belakang, dua buah knalpot CB 125 dipasang untuk mengimbangi si dapur pacu.
Belum lagi sepasang shock GSX 750 menambah kesan kekar di bagian depan. Ban Cosra 90/70-17 dilapisi disc brake besar dengan cakram di kedua sisi membuatnya semakin garang. Lalu stang milik Tiger, tromol belakan copotan RX King, ban belakang FDR 110/80-17 yang dikimpoikan dengan velg DID 250-17 dan 215-17, semakin menambah nilai plus pada motor sport 4 tak keluaran Honda itu.
Semua itu tak lain hanya membuat dadaku makin berkobar.
Ia sebenarnya tak terlalu jelas dari tempatku berdiri. Selain memunggungiku, pandanganku dikaburkan oleh sinar matahari yang menyelinap di bawah terpal penutup warung.
Dipunggungnya ada sebuah gitar terbungkus softcase yang bertuliskan Fender dengan huruf latin yang meliuk-liuk. Ketika aku request lagu dan titip salam untuk Naya di suara Radio Prosalina, lalu tersenyum-senyum sendiri seperti seekor pejantan beruk merayu salah satu betina, sambil membayangkan Naya mendengarnya, di waktu yang sama, mungkin Naya tengah bersandar di pundak Ihsan dan terlena dibuai petikan gitar yang dimainkannya dengan romantis. Ya begitulah, hidup ini sungguh mengerikan kadang-kadang.
Aku sering berjumpa orang-orang macam Ihsan, namun tak pernah kubayangkan orang seperti itu akan menjadi rival terberatku. Mereka baik budinya, berparas tampan, junjungan agama, kebanggaan bangsa dan negara. Pria itu memang ganteng bukan buatan, wajahnya seperti berpendar, hidungnya kokoh, keningnya rupawan, dan matanya teduh. Tubuhnya sangat atletis. Berjiwa seni tinggi, menyukai barang klasik, dan pandai bermain alat musik semakin melengkapi dirinya dalam daftar panjang kriteria idaman wanita. Dadaku sempat sesak karena disuguhkan oleh sebuah pesona. Tak henti-hentinya kupandangi lelaki itu sambil terus berpikir bagaimana sebagian lelaki bisa begitu disukai banyak wanita sedangkan sebagian lainnya tidak.
Ihsan menoleh padaku dan tersenyum lagi. Seketika aku terkesiap, lengkap sudah penderitaanku, Rama sama sekali tak berdusta. Tiba-tiba aku mengerti, bilamana Naya meninggalkanku demi seorang lelaki rupawan yang secara jelas bibit bebet bobotnya tak bisa dibandingkan denganku.
Maka sudah seharusnyalah segala hal tersebut diatas dapat kuterima dengan akal sehat dan dada yang lapang. Kulamunkan segala kenyataan-kenyataan pahit itu dengan memanggul satu perasaan lara yang teramat dalam sambil memandangi rantai sepedaku yang tak kunjung bersih dari karat.
Diam-diam aku merasa sangat malu. Sangat malu pada Ihsan, pada Naya, pada Ibunda Naya, dan pada diriku sendiri. Dengan mengendap-endap, aku meninggalkan warung itu tanpa pamit. Bapak-bapak penjual gado-gado menyusulku.
“Mas, Mas...”
Aku pura-pura tuli. Tak kupedulikan gado-gado pesanan ibu yang mungkin telah selesai dibungkus.
Kukayuh sepeda seperti orang lupa diri, terpontang-panting pulang dengan perasaan cemburu yang meluap-luap di dalam dadaku.
Gelembung 21: Surat Merah Muda
Sepanjang jalan kulihat deretan toko-toko tak seperti biasanya. Mereka menjelma menjadi nyonya-nyonya tua yang selalu berwajah sinis dan mulai lapuk ditelan zaman. Gigi palsu yang mereka pasang diantara gigi lainnya yang berwarna kecoklatan, mengkilat-kilat memantulkan cahaya dari matahari yang juga tak suka pada jajaran wanita paruh baya itu. Sombong dan tak tahu diri.
Sementara langit curiga kepada angin dan angin membenci gunung, alam penuh angkara murka.
Lalu jejeran Mimusops elengikini tak lagi rapat sesuai tujuan adiluhungnya sebagai peneduh jalan. Mereka pecah kongsi, membuat aku sebagai pengguna jalan masih merasakan terik matahari. Usust punya usut, kawanan pohon itu terbagi jadi dua kubu lantaran adanya perbedaan dukungan kepada para nyonya tua untuk menggugat sang matahari.
Setelah berbelok dari Jalan Jawa dan memasuki Jalan Sumatera, sepedaku mendadak menjadi berat. Bukan karena tim sukses Ihsan ingin menjegalku dengan menambatkan bongkahan batu kali yang seukuran gajah pada sepedaku, namun nyaliku yang menciut drastis memandang nyonya-nyonya tak tahu diri di sepanjang jalan.
Saat ban sepedaku baru memasuki delapan putaran, nyonya butik muslimah melirik ketus:
“Oh, ternyata begini lelaki udik itu? Hitam bukan buatan. Mau apa dia?”
Lalu wanita paruh baya swalayan berwarna biru menambahkan:
“Yaelah, orang macam tu mana mungkin bisa menang. Seperti pungguk merindukan purnama saja.”
Belum sempat aku melewati nyonya penjual roti, sudah disemburnya maluku dari kejauhan sana:
“Hei, hei.. Jangan kalian cemooh pemuda itu, biarkan saja si pemimpi itu. Biar hidup menamparnya, biar cinta mengelabuinya. Dasar tak tahu adat!”
Aku semakin mengelus dada melihat kawanan Mimusops elengi tiba-tiba kembali satu suara cekikian menertawaiku. Sepintas aku teringat ocehan Lik Tik tempo hari, bahwasanya jangan terlalu percaya gonjang ganjing politik, pecah kongsi itu biasa. Bisa jadi itu bagian dari skenario tengik tikus-tikus got penyelundup uang rakyat.
Memasuki tanjakan Jalan Sumatera, kukayuh sepeda dengan marah dan tergesa-gesa. Nafas memburu, hati membiru, tangan mengepal tinju, kepala penuh pikiran jahat. Setiap wajah yang kutemui mendadak kubenci tanpa sebab.
Tahu-tahu, aku telah sampai di depan SMA Ihsan dan tertegun melihat struktur bagunannya: Alay! Kutoleh suara klakson motor dan mobil yang bersahut-sahutan dekat lampu merah RRI: Kalau buru-buru ya berangkat dari kemarin saja! Sekelebat kulihat juru parkir swalayan tiba-tiba nongol sambil cengar-cengir setelah sebuah motor parkir didepannya: bedebah!
Kuberitahu satu hal, kombinasi cemburu, hopeless, dan terbakar terik matahari kadang memang membingungkan.
Sambil menunggu jam pulang sekolah, aku memesan gado-gado pesanan ibu di warung dekat sekolah itu. Aku tak turun dari sadel sepeda, dengan tujuan agar lebih leluasa mengamati pergerakan para siswa di bangunan yang ingin dibilang kekinian itu. Dan juga gado-gado sengaja kubayar lebih dahulu agar saat begundal itu keluar, aku bisa cepat-cepat menghampirinya.
Lalu,
Tak kurang dari lima menit, suara gemuruh muncul dari sudut sekolah. Desing mesin motor saling sahut Cumiakkan telinga. Murid-murid berhamburan keluar gerbang sekolah sambil petantang-petenteng membawa barang bawaan mereka yang berupa-rupa. Kawanan motor saling sikut agar cepat melewati gerbang.
Aku mengamati satu persatu siswa yang keluar, kemudian satu pertanyaan beruntun yang mestinya aku pikirkan sejak tadi, tiba-tiba mencuat begitu saja:
Ihsan ke sekolah naik apa? Kalau naik motor, apa motornya? Kalau naik mobil,apa mobilnya? Kalau naik angkot, angkot jurusan mana? Kalau naik keranda, ya bodo amat!
Ah bodoh, harusnya kutanyakan lebih dahulu pada Rama sebelum bertandang kemari.
Dari kesal sekaligus benci tadi, penderitaanku naik kelas menjadi hampa. Hatiku hampa, sehampa pekuburan yang sepi, sehampa pos-pos polisi yang hanya dioperasikan saat mudik lebaran.
Pesananku tak kunjung selesai, padahal hanya tiga orang yang ada di warung itu. Tapi baguslah, setidaknya masih ada alasan untuk tak kulepas pandangan di kejauhan sana.
Sejurus kemudian pandanganku terhalangi. Seorang pria berseragam sekolah itu dengan tanpa dosa memarkir motornya didepanku. Alisku bertemu, kuperhatikan ia dari atas ke bawah. Kombinasi helm retro dibalut kulit warna cokelat dengan sebuah kaca mata hitam besar tanpa fungsi dan sebuah Honda CB 100 hitam: Kuno!
Namun tanpa disangka dan tak dinyana-nyana, aku terperanjat melihat wajah di balik helm itu,
Ihsan!
Merasa sedang diperhatikan, ia tersenyum kecil padaku. Kulihat kepalanya sedikit mengangguk tanda permisi saat memasuki warung gado-gado. Aneh, segala perasaan dongkolku mendadak sirna seiring dengan adegan lima detik barusan.
Aku terpana melihat motor yang berada tepat didepan sepedaku, sangat berbeda dari motor klasik pada umumnya, apalagi Suzuki FR 80 butut milik Lik Tik. Ia lebih seperti model sampul majalah otomotif yang kubaca di bengkel tempo hari.
Catnya halus, hitam kecokelatan dengan satu buah garis striping di bagian tangki. Tak lupa tulisan Honda dan sebuah sayap bertengger dengan bangganya di sana. Di bawahnya, sebuah blok mesin Tiger mengkilat-kilat menyilaukan mata, kutaksir mesin itu telah di bore up hingga 400cc. Di bagian belakang, dua buah knalpot CB 125 dipasang untuk mengimbangi si dapur pacu.
Belum lagi sepasang shock GSX 750 menambah kesan kekar di bagian depan. Ban Cosra 90/70-17 dilapisi disc brake besar dengan cakram di kedua sisi membuatnya semakin garang. Lalu stang milik Tiger, tromol belakan copotan RX King, ban belakang FDR 110/80-17 yang dikimpoikan dengan velg DID 250-17 dan 215-17, semakin menambah nilai plus pada motor sport 4 tak keluaran Honda itu.
Semua itu tak lain hanya membuat dadaku makin berkobar.
Ia sebenarnya tak terlalu jelas dari tempatku berdiri. Selain memunggungiku, pandanganku dikaburkan oleh sinar matahari yang menyelinap di bawah terpal penutup warung.
Dipunggungnya ada sebuah gitar terbungkus softcase yang bertuliskan Fender dengan huruf latin yang meliuk-liuk. Ketika aku request lagu dan titip salam untuk Naya di suara Radio Prosalina, lalu tersenyum-senyum sendiri seperti seekor pejantan beruk merayu salah satu betina, sambil membayangkan Naya mendengarnya, di waktu yang sama, mungkin Naya tengah bersandar di pundak Ihsan dan terlena dibuai petikan gitar yang dimainkannya dengan romantis. Ya begitulah, hidup ini sungguh mengerikan kadang-kadang.
Aku sering berjumpa orang-orang macam Ihsan, namun tak pernah kubayangkan orang seperti itu akan menjadi rival terberatku. Mereka baik budinya, berparas tampan, junjungan agama, kebanggaan bangsa dan negara. Pria itu memang ganteng bukan buatan, wajahnya seperti berpendar, hidungnya kokoh, keningnya rupawan, dan matanya teduh. Tubuhnya sangat atletis. Berjiwa seni tinggi, menyukai barang klasik, dan pandai bermain alat musik semakin melengkapi dirinya dalam daftar panjang kriteria idaman wanita. Dadaku sempat sesak karena disuguhkan oleh sebuah pesona. Tak henti-hentinya kupandangi lelaki itu sambil terus berpikir bagaimana sebagian lelaki bisa begitu disukai banyak wanita sedangkan sebagian lainnya tidak.
Ihsan menoleh padaku dan tersenyum lagi. Seketika aku terkesiap, lengkap sudah penderitaanku, Rama sama sekali tak berdusta. Tiba-tiba aku mengerti, bilamana Naya meninggalkanku demi seorang lelaki rupawan yang secara jelas bibit bebet bobotnya tak bisa dibandingkan denganku.
Maka sudah seharusnyalah segala hal tersebut diatas dapat kuterima dengan akal sehat dan dada yang lapang. Kulamunkan segala kenyataan-kenyataan pahit itu dengan memanggul satu perasaan lara yang teramat dalam sambil memandangi rantai sepedaku yang tak kunjung bersih dari karat.
Diam-diam aku merasa sangat malu. Sangat malu pada Ihsan, pada Naya, pada Ibunda Naya, dan pada diriku sendiri. Dengan mengendap-endap, aku meninggalkan warung itu tanpa pamit. Bapak-bapak penjual gado-gado menyusulku.
“Mas, Mas...”
Aku pura-pura tuli. Tak kupedulikan gado-gado pesanan ibu yang mungkin telah selesai dibungkus.
Kukayuh sepeda seperti orang lupa diri, terpontang-panting pulang dengan perasaan cemburu yang meluap-luap di dalam dadaku.
Gelembung 21: Surat Merah Muda
Diubah oleh chocolavacake 01-08-2016 10:53
0
Kutip
Balas