- Beranda
- Stories from the Heart
Tanaka, Aku Padamu!!!
...
TS
Wah Cantiknya
Tanaka, Aku Padamu!!!
Quote:
WARNING!!!Cerita yang ada dalam thread ini adalah fiksi semua. Jadi gue saranin supaya kalian bacanya jangan terlalu baper.

Kalo gag sibuk, cerita bisa TS update setiap hari, kalo sibuk ya minimal seminggu sekali insya Allah update.




RULES :
JANGAN NGEFLAME!
JANGAN NGEFLAME!
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Wah Cantiknya 08-02-2017 21:50
anasabila memberi reputasi
1
16.7K
Kutip
124
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Wah Cantiknya
#41
Mencari tahu yang sebenarnya
Quote:
Sejak perbincangannya dengan Tanaka divilla diBandung beberapa hari yg lalu, Ayunda semakin penasaran dengan sosok Tanaka. Setiap pria itu menceritakan tentang dirinya, selalu berakhir dengan teka teki. Dia tak pernah mau jujur sepenuhnya tentang dirinya. Apa iya Ayu jatuh cinta pada orang asing yg tak jelas asal usulnya seperti ini.
Hal inilah yg membuat Ayu galau lagi dan membawanya pergi menemui Vina, temannya direstoran dulu. Keduanya bertemu disebuah cafe yg adas dimall kota.
“Jadi sekarang lo galau, lo bingung sama perasaan lo sendiri?” Tanya Vina
“Iya lah, Vin. Gue bingung yg gue rasain ini cinta apa bukan, secara udah lama banget gag jatuh cinta.” Kata Ayu sambil mengaduk2 minumannya.
Vina tertawa kecil. “Lo mau denger saran gue gag?”
“Iya mau. Apaan?”
“Gini.. Lo kan bilang kalo dia itu gag jelas asal usulnya, lahir diIndonesia, sekolah diJepang, kerja diSingapore. Lo jangan telan mentah2 apa yg lo denger dari dia. Coba lo cari tau dulu deh asal usulnya tu cowo, dari pada ntar perasaan lo makin dalem, terus tau2 dia udah punya anak bini lagi dikampungnya. Atau cowok ganteng kayak dia minimal punya pacar cantik seksi bak model lah.”
Ayu mengernyitkan dahi. “Gimana cara gue cari taunya, gue gag tau dia asalnya dari mana, temen2nya siapa.”
“Coba lo pake caranya anak alay, Yu. Lo cari sosmednya terus lo stalking deh. Kalo susah, coba search digoogle pake nama dia, tar keluar deh semua yg ada nama dianya, entah sosmednya atau blognya.” Jelas Vina sambil tertawa kecil.
Ayu kelihatan sedang mempertimbangkan ide Vina.
“Ya, nanti deh.”
“Pokoknya kalo sampe nanti ketauan dia ternyata punya pacar atau bahkan istri, lo tau kan mesti gimana?” Tanya Vina meyakinkan Ayu.
“Iya. Gue bakal jauhin dia. Ogah banget punya fair sama cowok yg udah punya pasangan.”
“Cakeepp dah. Itu baru Ayunda..”
Ayu sebenarnya malas mengikuti saran Vina untuk stalking akun sosial media milik Tanaka. Ayu hanya takut jika kenyataannya Tanaka sudah memiliki pasangan, Ayu harus pergi meninggalkan pria keturunan Jepang itu.
Tapi saking rasa penasarannya lebih besar dari rasa takutnya, benar saja, saat dirumah, Ayu langsung membuka laptopnya untuk mencari tau tentang Tanaka. Ayu mencari langsung lewat google dengan mengetikkan nama Tanaka Sumadireja.
Hanya ada satu hasil pencarian yg sesuai dengan yang dimaksud Ayu, Tanaka Sumadireja. Sisanya hanya artikel tentang tokoh anime dan artis2 Jepang. Sepertinya Tanaka memang tak punya akun sosial media, mengingat pekerjaannya yg cukup berbahaya, pasti dia akan menyembunyikan idetintitasnya sebaik mungkin.
Hasil pencarian tersebut merujuk pada artikel yang berjudul : Menganiaya anak pejabat, seorang prajurit muda TNI AD, Tanaka Sumadireja dipecat tidak hormat.
Isi artikelnya menyebutkan bahwa Tanaka memukuli seorang anak pejabat daerah dengan alasan tidak suka ada orang yg membuang puntung rokok sembarangan. Alasan yg sepele untuk menghajar orang. Apakah memang Tanaka orang yg setemperamental seperti itu? Siapa yg tau.
“Penganiayaan cuma gara2 gag suka liat orang buang puntung rokok sembarangan? Ini orang bener2 susah dimengerti. Disatu sisi dia orangnya lembut dan penyayang, tapi disisi lain dia jadi seperti monster. Tanaka, siapa lo sebenernya.” Kata Ayu pada cermin dihadapannya.
Baiklah. Untuk sementara ini Ayu akan pura2 tidak tau saja, sampai tiba waktu yg tepat untuk bertanya tentang kasus yg membuat Tanaka kehilangan pekerjaannya.
Ayu kembali dengan aktifitasnya sendiri. Sejak dipecat dari pekerjaannya, Ayu jadi lebih sering diam dirumah. Mengerjakan pekerjaan rumah dan terkadang mencoba bereksperimen dengan resep masakan baru. Kalau pagi ia hanya sendirian dirumah, karena Kakek dan Nenek sibuk dirumah makan milik mereka yg setiap hari selalu ramai.
“Tok.. Tok.. Tok..”
Ayu segera berlari dengan sumringah, mengira yg datang adalah Tanaka, karna mereka sudah janji akan makan siang bersama dengan resep baru masakan Ayu.
“Cepet banget, Tan.”
Taraa ternyata yg datang bukan Tanaka, melainkan Bram, mantan pacar yg tidak tau diri. Sudah menikah masih mengharapkan Ayu jadi istrinya, sudah ditolak masih saja datang lagi.
“Bram.” Kata Ayu datar
Bram langsung mendorong tubuh Ayu kedalam rumah, memeluknya paksa.
“Ayu.. Jangan tolak aku pliss.. Ayo nikah sama aku, Yu.”
“Kamu gila, Bram! Lepasin aku.” Sentak Ayu.
“Aku pengen kita jadi keluarga yg bahagia, kita dan anak2 kita nanti, Yu.”
“Bram, plis. Jauhin aku. Jangan cari aku lagi. Urus aja keluarga kamu. Aku gag mau ada hubungan lagi sama kamu.”
Bram tidak menjawab, ia mendorong tubuh Ayu ke sofa. Memeluk Ayu lagi dengan kasar membuat Ayu kesakitan.
“Sakit, Bram! Lepasin aku.”
Tepat saat itulah Tanaka datang. Ya, Tanaka sudah seperti pahlawan dihidup Ayu, selalu datang tepat saat Ayu sedang membutuhkan pertolongan.
“BUG!” Tanaka mendaratkan bogem mentah diwajah Bram.
Bram membalasnya cepat dan perkelahian pun tak terelakkan lagi. Tapi sayang Bram bukan tandingan Tanaka yg seorang mantan prajurit yg sudah jelas ahli dalam ilmu bela diri.
“Tanaka, udah cukup!” Seru Ayu yg ngeri melihat Tanaka terus memukuli Bram yg sudah tersungkur.
Tanaka masih memukuli Bram dengan membabi buta. Ayu sampai harus menariknya untuk berhenti.
“Udah cukup.” Ucap Ayu takut.
Tanakapun mengatur emosinya kembali. Nafasnya memburu karna kesal melihat tingkah laku Bram.
“PERGI DARI SINI SEBELUM AKU MENGHABISIMU!” Teriak Tanaka marah besar.
Bram memandang Tanaka dengan tatapan dingin. Dengan susah payah ia berdiri sendiri.
“BAKA! Jangan ganggu dia lagi kalau tidak mau hidup cacat seumur hidup.” Ancam Tanaka dengan menatap tajam kearah Bram.
Merasa sudah kalah telak, Bram memilih pergi dari sana, dengan terpincang2 dan wajah penuh luka ia berjalan keluar rumah dan pergi dengan mobilnya.
Ayu menatap Tanaka ngeri.
"Kamu baik2 saja, Ayu?" Tanya Tanaka sedikit khawatir.
Ayu hanya mengangguk pelan.
“Ini seperti bukan Tanaka.” Gumam Ayu.
“Maafkan aku Ayu. Aku sangat marah tadi melihatnya memperlakukanmu seperti itu.”
“Ya, terima kasih sudah menolong. Gue cuma takut dia mati karna dihajar sama lo.”
“Bisa saja, kalau kau tidak menghalangiku tadi.” Tanaka tertawa kecil.
Ayu menghela nafas. “Semoga dia kapok, gag berani deketin gue lagi. Kemaren gue dipecat gara2 istrinya datang kerestoran buat ngelabrak gue, ujung2nya gue yg dipecat gara2 pemberitaan dikoran yg berbanding terbalik dengan fakta.”
Tanaka mengusap2 pundak Ayu. “Tenanglah, masalah itu akan membuat kita semakin kuat. Jangan takut karna sudah kehilangan sesuatu, tapi takutlah disaat kita tidak menyadari kalau kita memiliki sesuatu yg berharga dalam hidup kita.”
Ayu tersenyum. Jantungnya berdebar kencang saat Tanaka menyentuh pundaknya. Sedangkan Tanaka tiba2 saja merasakan sakit yg luar biasa dikepalanya. Sampai2 ia tak bisa menyembunyikan ekspresi sakitnya.
“Lo kenapa? Lo sakit?” Tanya Ayu khawatir.
Tanaka mencoba menenangkan diri dengan memijat2 dahinya, sakitnya berkurang walau masih terasa.
“Aku tidak apa2, Ayu. Hanya kurang tidur saja.”
“Apa lo mau minum obat?”
“Tidak usah, Ayu. Mana tasmu sini, berikan padaku.” Kata Tanaka mengalihkan pembicaraan.
“Sebentar.” Ayu berjalan ke belakang ke tempat penyimpanan tas dan sepatu.
Ayu mencari2 ke sekeliling ruangan, tapi tas itu tidak ada. Harusnya tas itu ada disana. Terakhir dia pakai, dia langsung menyimpannya disana.
Ayu kembali ke Tanaka dengan wajah cemas.
“Tasnya gag ada disini.” Kata Ayu khawatir.
“Apa hilang?”
“Gag mungkin kalo ilang. Gue inget banget kemaren abis pake langsung gue balikin kesitu lagi.”
“Mungkin kamu lupa sedang meminjamkannya pada orang lain.”
Ayu tampak berpikir. Lalu teringat sesuatu. “Nenek. Nenek biasanya pinjam tas itu buat bawa makanan lebih kerumah makan.”
“Coba ditelepon dulu, pastikan memang tas itu ada pada nenek.”
Ayu segera menelepon nenek. Namun nomor hp nenek sedang tidak aktif, begitupun dengan nomor Kakek. Ayu mulai diserang panik.
“Gag aktif, gimana ini, Tan.”
“Ayo kita susul.”
Merekapun pergi kerumah makan dengan motor ninja hitam milik Tanaka. Sampai dirumah makan, ternyata tutup. Ayu heran, padahal tadi pagi Kakek dan Nenek jelas pamit akan berjualan hari ini.
“Kok tutup, tadi pagi mereka bilang mau jualan kok.” Kata Ayu bingung.
“Coba telepon lagi, mungkin sudah aktif.”
Ayu kembali mencoba menghubungi Kakek dan neneknya, namun hasilnya tetap sama, tidak aktif. Ayu semakin panik dan takut.
“Gag aktif juga.”
Ayu pun langsung bertanya pada tukang becak yg biasa mangkal didekat situ.
“Pak, nenek saya dari pagi gag jualan?” Tanya Ayu cemas.
“Tadi pagi buka kok, mbak. Tapi pas jam10an gitu, ada segerombolan orang dateng pake baju hitam2 kesini, gag lama mereka dibawa pergi naik mobil.”
Ayu terbelalak. Apa Kakek dan neneknya sudah diculik? Atau dirampok. Ayu benar2 tak bisa berpikir jernih.
“Apa mereka penjahat, pak?” Tanya Ayu
“Saya gag tau tho mbak, mereka cuma datang, terus gag lama pergi sm Kakek dan neneknya mbak’e. Saya kira saudaranya mbak.”
Ayu terdiam, takut. Tidak mungkin kala saudara. Saudara mereka semua ada diBandung, kalaupun datang keBogor pasti memberi kabar terlebih dahulu dan pasti datangnya kerumah bukan kerumah makan.
Sementara itu Tanaka kelihatan sedang berpikir.
“Edrick.” Gumamnya
Hal inilah yg membuat Ayu galau lagi dan membawanya pergi menemui Vina, temannya direstoran dulu. Keduanya bertemu disebuah cafe yg adas dimall kota.
“Jadi sekarang lo galau, lo bingung sama perasaan lo sendiri?” Tanya Vina
“Iya lah, Vin. Gue bingung yg gue rasain ini cinta apa bukan, secara udah lama banget gag jatuh cinta.” Kata Ayu sambil mengaduk2 minumannya.
Vina tertawa kecil. “Lo mau denger saran gue gag?”
“Iya mau. Apaan?”
“Gini.. Lo kan bilang kalo dia itu gag jelas asal usulnya, lahir diIndonesia, sekolah diJepang, kerja diSingapore. Lo jangan telan mentah2 apa yg lo denger dari dia. Coba lo cari tau dulu deh asal usulnya tu cowo, dari pada ntar perasaan lo makin dalem, terus tau2 dia udah punya anak bini lagi dikampungnya. Atau cowok ganteng kayak dia minimal punya pacar cantik seksi bak model lah.”
Ayu mengernyitkan dahi. “Gimana cara gue cari taunya, gue gag tau dia asalnya dari mana, temen2nya siapa.”
“Coba lo pake caranya anak alay, Yu. Lo cari sosmednya terus lo stalking deh. Kalo susah, coba search digoogle pake nama dia, tar keluar deh semua yg ada nama dianya, entah sosmednya atau blognya.” Jelas Vina sambil tertawa kecil.
Ayu kelihatan sedang mempertimbangkan ide Vina.
“Ya, nanti deh.”
“Pokoknya kalo sampe nanti ketauan dia ternyata punya pacar atau bahkan istri, lo tau kan mesti gimana?” Tanya Vina meyakinkan Ayu.
“Iya. Gue bakal jauhin dia. Ogah banget punya fair sama cowok yg udah punya pasangan.”
“Cakeepp dah. Itu baru Ayunda..”
Ayu sebenarnya malas mengikuti saran Vina untuk stalking akun sosial media milik Tanaka. Ayu hanya takut jika kenyataannya Tanaka sudah memiliki pasangan, Ayu harus pergi meninggalkan pria keturunan Jepang itu.
Tapi saking rasa penasarannya lebih besar dari rasa takutnya, benar saja, saat dirumah, Ayu langsung membuka laptopnya untuk mencari tau tentang Tanaka. Ayu mencari langsung lewat google dengan mengetikkan nama Tanaka Sumadireja.
Hanya ada satu hasil pencarian yg sesuai dengan yang dimaksud Ayu, Tanaka Sumadireja. Sisanya hanya artikel tentang tokoh anime dan artis2 Jepang. Sepertinya Tanaka memang tak punya akun sosial media, mengingat pekerjaannya yg cukup berbahaya, pasti dia akan menyembunyikan idetintitasnya sebaik mungkin.
Hasil pencarian tersebut merujuk pada artikel yang berjudul : Menganiaya anak pejabat, seorang prajurit muda TNI AD, Tanaka Sumadireja dipecat tidak hormat.
Isi artikelnya menyebutkan bahwa Tanaka memukuli seorang anak pejabat daerah dengan alasan tidak suka ada orang yg membuang puntung rokok sembarangan. Alasan yg sepele untuk menghajar orang. Apakah memang Tanaka orang yg setemperamental seperti itu? Siapa yg tau.
“Penganiayaan cuma gara2 gag suka liat orang buang puntung rokok sembarangan? Ini orang bener2 susah dimengerti. Disatu sisi dia orangnya lembut dan penyayang, tapi disisi lain dia jadi seperti monster. Tanaka, siapa lo sebenernya.” Kata Ayu pada cermin dihadapannya.
Baiklah. Untuk sementara ini Ayu akan pura2 tidak tau saja, sampai tiba waktu yg tepat untuk bertanya tentang kasus yg membuat Tanaka kehilangan pekerjaannya.
Ayu kembali dengan aktifitasnya sendiri. Sejak dipecat dari pekerjaannya, Ayu jadi lebih sering diam dirumah. Mengerjakan pekerjaan rumah dan terkadang mencoba bereksperimen dengan resep masakan baru. Kalau pagi ia hanya sendirian dirumah, karena Kakek dan Nenek sibuk dirumah makan milik mereka yg setiap hari selalu ramai.
“Tok.. Tok.. Tok..”
Ayu segera berlari dengan sumringah, mengira yg datang adalah Tanaka, karna mereka sudah janji akan makan siang bersama dengan resep baru masakan Ayu.
“Cepet banget, Tan.”
Taraa ternyata yg datang bukan Tanaka, melainkan Bram, mantan pacar yg tidak tau diri. Sudah menikah masih mengharapkan Ayu jadi istrinya, sudah ditolak masih saja datang lagi.
“Bram.” Kata Ayu datar
Bram langsung mendorong tubuh Ayu kedalam rumah, memeluknya paksa.
“Ayu.. Jangan tolak aku pliss.. Ayo nikah sama aku, Yu.”
“Kamu gila, Bram! Lepasin aku.” Sentak Ayu.
“Aku pengen kita jadi keluarga yg bahagia, kita dan anak2 kita nanti, Yu.”
“Bram, plis. Jauhin aku. Jangan cari aku lagi. Urus aja keluarga kamu. Aku gag mau ada hubungan lagi sama kamu.”
Bram tidak menjawab, ia mendorong tubuh Ayu ke sofa. Memeluk Ayu lagi dengan kasar membuat Ayu kesakitan.
“Sakit, Bram! Lepasin aku.”
Tepat saat itulah Tanaka datang. Ya, Tanaka sudah seperti pahlawan dihidup Ayu, selalu datang tepat saat Ayu sedang membutuhkan pertolongan.
“BUG!” Tanaka mendaratkan bogem mentah diwajah Bram.
Bram membalasnya cepat dan perkelahian pun tak terelakkan lagi. Tapi sayang Bram bukan tandingan Tanaka yg seorang mantan prajurit yg sudah jelas ahli dalam ilmu bela diri.
“Tanaka, udah cukup!” Seru Ayu yg ngeri melihat Tanaka terus memukuli Bram yg sudah tersungkur.
Tanaka masih memukuli Bram dengan membabi buta. Ayu sampai harus menariknya untuk berhenti.
“Udah cukup.” Ucap Ayu takut.
Tanakapun mengatur emosinya kembali. Nafasnya memburu karna kesal melihat tingkah laku Bram.
“PERGI DARI SINI SEBELUM AKU MENGHABISIMU!” Teriak Tanaka marah besar.
Bram memandang Tanaka dengan tatapan dingin. Dengan susah payah ia berdiri sendiri.
“BAKA! Jangan ganggu dia lagi kalau tidak mau hidup cacat seumur hidup.” Ancam Tanaka dengan menatap tajam kearah Bram.
Merasa sudah kalah telak, Bram memilih pergi dari sana, dengan terpincang2 dan wajah penuh luka ia berjalan keluar rumah dan pergi dengan mobilnya.
Ayu menatap Tanaka ngeri.
"Kamu baik2 saja, Ayu?" Tanya Tanaka sedikit khawatir.
Ayu hanya mengangguk pelan.
“Ini seperti bukan Tanaka.” Gumam Ayu.
“Maafkan aku Ayu. Aku sangat marah tadi melihatnya memperlakukanmu seperti itu.”
“Ya, terima kasih sudah menolong. Gue cuma takut dia mati karna dihajar sama lo.”
“Bisa saja, kalau kau tidak menghalangiku tadi.” Tanaka tertawa kecil.
Ayu menghela nafas. “Semoga dia kapok, gag berani deketin gue lagi. Kemaren gue dipecat gara2 istrinya datang kerestoran buat ngelabrak gue, ujung2nya gue yg dipecat gara2 pemberitaan dikoran yg berbanding terbalik dengan fakta.”
Tanaka mengusap2 pundak Ayu. “Tenanglah, masalah itu akan membuat kita semakin kuat. Jangan takut karna sudah kehilangan sesuatu, tapi takutlah disaat kita tidak menyadari kalau kita memiliki sesuatu yg berharga dalam hidup kita.”
Ayu tersenyum. Jantungnya berdebar kencang saat Tanaka menyentuh pundaknya. Sedangkan Tanaka tiba2 saja merasakan sakit yg luar biasa dikepalanya. Sampai2 ia tak bisa menyembunyikan ekspresi sakitnya.
“Lo kenapa? Lo sakit?” Tanya Ayu khawatir.
Tanaka mencoba menenangkan diri dengan memijat2 dahinya, sakitnya berkurang walau masih terasa.
“Aku tidak apa2, Ayu. Hanya kurang tidur saja.”
“Apa lo mau minum obat?”
“Tidak usah, Ayu. Mana tasmu sini, berikan padaku.” Kata Tanaka mengalihkan pembicaraan.
“Sebentar.” Ayu berjalan ke belakang ke tempat penyimpanan tas dan sepatu.
Ayu mencari2 ke sekeliling ruangan, tapi tas itu tidak ada. Harusnya tas itu ada disana. Terakhir dia pakai, dia langsung menyimpannya disana.
Ayu kembali ke Tanaka dengan wajah cemas.
“Tasnya gag ada disini.” Kata Ayu khawatir.
“Apa hilang?”
“Gag mungkin kalo ilang. Gue inget banget kemaren abis pake langsung gue balikin kesitu lagi.”
“Mungkin kamu lupa sedang meminjamkannya pada orang lain.”
Ayu tampak berpikir. Lalu teringat sesuatu. “Nenek. Nenek biasanya pinjam tas itu buat bawa makanan lebih kerumah makan.”
“Coba ditelepon dulu, pastikan memang tas itu ada pada nenek.”
Ayu segera menelepon nenek. Namun nomor hp nenek sedang tidak aktif, begitupun dengan nomor Kakek. Ayu mulai diserang panik.
“Gag aktif, gimana ini, Tan.”
“Ayo kita susul.”
Merekapun pergi kerumah makan dengan motor ninja hitam milik Tanaka. Sampai dirumah makan, ternyata tutup. Ayu heran, padahal tadi pagi Kakek dan Nenek jelas pamit akan berjualan hari ini.
“Kok tutup, tadi pagi mereka bilang mau jualan kok.” Kata Ayu bingung.
“Coba telepon lagi, mungkin sudah aktif.”
Ayu kembali mencoba menghubungi Kakek dan neneknya, namun hasilnya tetap sama, tidak aktif. Ayu semakin panik dan takut.
“Gag aktif juga.”
Ayu pun langsung bertanya pada tukang becak yg biasa mangkal didekat situ.
“Pak, nenek saya dari pagi gag jualan?” Tanya Ayu cemas.
“Tadi pagi buka kok, mbak. Tapi pas jam10an gitu, ada segerombolan orang dateng pake baju hitam2 kesini, gag lama mereka dibawa pergi naik mobil.”
Ayu terbelalak. Apa Kakek dan neneknya sudah diculik? Atau dirampok. Ayu benar2 tak bisa berpikir jernih.
“Apa mereka penjahat, pak?” Tanya Ayu
“Saya gag tau tho mbak, mereka cuma datang, terus gag lama pergi sm Kakek dan neneknya mbak’e. Saya kira saudaranya mbak.”
Ayu terdiam, takut. Tidak mungkin kala saudara. Saudara mereka semua ada diBandung, kalaupun datang keBogor pasti memberi kabar terlebih dahulu dan pasti datangnya kerumah bukan kerumah makan.
Sementara itu Tanaka kelihatan sedang berpikir.
“Edrick.” Gumamnya
Diubah oleh Wah Cantiknya 08-07-2016 09:17
0
Kutip
Balas