- Beranda
- Stories from the Heart
Tanaka, Aku Padamu!!!
...
TS
Wah Cantiknya
Tanaka, Aku Padamu!!!
Quote:
WARNING!!!Cerita yang ada dalam thread ini adalah fiksi semua. Jadi gue saranin supaya kalian bacanya jangan terlalu baper.

Kalo gag sibuk, cerita bisa TS update setiap hari, kalo sibuk ya minimal seminggu sekali insya Allah update.




RULES :
JANGAN NGEFLAME!
JANGAN NGEFLAME!
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Wah Cantiknya 08-02-2017 21:50
anasabila memberi reputasi
1
16.7K
Kutip
124
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Wah Cantiknya
#39
Sepotong Cerita Penuh Tanya
Quote:
Semalaman Ayu memeluk Tanaka, sampai2 mereka berdua ketiduran dilantai. Pelukan Tanaka membuat Ayu tenang, sampai bisa tertidur pulas walau dilantai yg dingin.
Ayu yang pertama bangun. Menyadari dirinya masih dalam pelukan Tanaka, Ayupun segera melepaskan diri. Teringat lagi kejadian semalam saat kenangan mengerikan itu kembali menyerang.
“Kamu sudah bangun?” Tanya Tanaka yg baru sadar dari tidurnya.
Ayu hanya mengangguk tanpa suara.
“Kau mau makan?”
Lagi2 tanpa suara, Ayu hanya menggeleng.
“Baiklah… Bilang saja kalau kau perlu apa2.”
“Gue.. Gue.. Gue rindu ibu..” Kata Ayu terbata2.
“Kalau kau merindukannya, kau bisa mendoakannya.”
Ayu mulai menangis mengingat ibunya.”Setiap keadaan seperti semalam, bayangan ibu yg tergolek tak berdaya karna luka tembak dikepalanya, kembali terngiang. Rasanya sakit.”
Tanaka tak tau harus bicara apa, tapi ia yakin betul dari nada bicara Ayu yg begitu penuh luka dan kepedihan, Ayu memiliki masa lalu yang sangat perih. Rasanya aneh juga melihat gadis periang seperti Ayu, berubah jd gadis yg pemurung yg menyimpan luka.
Tanpa pikir panjang, Tanaka kembali memeluk Ayu, dari pada Ayu terus mengenang hal buruk dalam hidupnya.
“Jangan diingat lagi kalau itu menyakitkan. Cukup jalani hidupmu saat ini dengan bahagia.”
Ayu masih menangis, walau tidak sehisteris semalam.
“Kita memang belum lama kenal, tapi kamu bisa mengandalkanku sebagai seorang teman.”
Ayu tersenyum. Perlahan tangisnya mulai terhenti.
“Terima kasih, Tanaka. Lo udah banyak menolong. Dan maaf tentang kata2 gue beberapa hari yg lalu.”
“Tidak masalah. Aku sangat memakluminya. Bagaimana rasanya kalau ada orang asing tiba2 masuk ke hidup kita dengan gerak gerik yg aneh. Kalau posisi kita dibalik mungkin aku juga akan melakukan hal yg sama.”
Ayu mengangguk pelan. “Tapi, tentang pekerjaan lo, apa benar lo seorang..?”
Tanaka tertawa kecil. “Ya, aku pengawal pribadi seorang bos mafia disingapur. Dulunya aku memang prajurit, tapi karna gagal menjalankan misi, aku dipecat dan aku menerima tawaran ini dari seseorang. Pekerjaan dengan gaji besar.”
“Tapi resikonya sangat besar. Kenapa lo bisa kenal sama mafia sih?” Tanya Ayu penasaran.
“Kau sudah banyak tau. Aku belum mau cerita soal yg itu.” Tanaka beranjak bangun.
“Hey! Mau kemana?”
“Ke kamar mandi.” Kata Tanaka sambil berjalan ke belakang.
“Dia selalu begitu.” Gerutu Ayu.
Sementara itu dikamar mandi, Tanaka sedang meringis kesakitan. Kepalanya terasa seperti dihantam batu besar. Ia sengaja meninggalkan Ayu diruang depan, supaya Ayu tidak melihat kondisinya.
“Ya Tuhan, kenapa aku? Ini rasanya sakit sekali. Argh!”
Kembali ke Ayu yg tiba2 teringat Dean, teman masa kecilnya. Ayu mengeluarkan secarik kertas dari dalam dompetnya. Kertas yg sudah lusuh karena disimpan belasan tahun dalam dompet. Kertas yg berisikan ungkapan hati Dean untuk Ayunda.
Ayu ingat saat kejadian penyerangan itu, saat Ayu kembali membawa bantuan.
DEAN <3 NDA
DEAN SAYANG NDA
DEAN CINTA NDA
DEAN MAU JADI SUAMI NDA
TUNGGU DEAN SUKSES YA, NDA. :*
Ayu jadi terharu lagi. Ayu ingat Dean dulu sangat perhatian pada Ayu, Dean sangat peduli pada Ayu, Dean mengorbankan nyawanya demi Ayu. Dulu, Dean bisa saja pergi lebih dulu untuk menyelamatkan diri, tapi ia malah memilih membantu Ayu dulu untuk keluar dari rumah yg sedang dibantai itu.
“Kak, kamu dimana sebenernya? Kalau kamu sudah tiada, kenapa jenazahmu tidak ditemukan, kalau kamu masih hidup, kenapa tidak mencariku.” Kata Ayu bicara sendiri.
Tak lama kemudian Tanaka kembali, wajahnya terlihat lebih segar karna cuci muka. Ayu langsung memasukksn kertas itu kembali kedalam dompetnya.
“Tanaka, selama lo pergi dari rumah, lo tinggal dimana?” Ayu mencoba berbasa basi agar suasana tidak tegang lagi.
“Aku tidak akan memberi tahumu.”
“Kenapa begitu?”
“Aku takut kau akan mencariku setiap hari.” Kata Tanaka dengan nada mengejek.
“Hahh.. Besar kepala banget lo! Siapa juga yg mau nyariin lo!”
“Hahaha.. Beginilah Ayunda yg seharusnya, orangnya berisik! Bukan pemurung yg hidupnya penuh luka.”
Ayu tertunduk malu. Wajahnya memerah.
“Dengar, Ayu. Semua orang punya masa lalu yg tidak menyenangkan. Aku tidak tau seberat apa memori masa lalumu, yang aku ingin katakan adalah biarkan masa lalu tetap menjadi masa lalu, jangan bawa dia ke masa kini ataupun ke masa depan.”
Ayu nyengir.
“Kenapa?” Tanya Tanaka bingung.
“Dari pada jadi pengawal mafia, kenapa lo gag jadi motivator aja.”
“Bukan passionku.”
“Tanaka, lo kayaknya setia banget sama bos lo yg mafia itu, sampe lo nurut banget sama semua perintahnya. Apa lo gag takut kalo paket itu isinya sesuatu yg ilegal?”
Tanaka menghela nafasnya. “Meskipun aku bukan lagi seorang prajurit, aku terap harus memegang teguh prinsip seorang prajurit dimanapun aku bekerja. Aku harus disiplin, aku harus konsisten, aku harus setia pada orang yg mempercayaiku memberi pekerjaan ini. Perintah adalah amanat, aku tidak punya hak untuk menawar atau protes. Selama ini aku bekerja, aku sering mendapat tugas untuk mengantar paket ke banyak tempat dibeberapa negara tanpa aku tau apa isinya, dan semua berjalan lancar. Aku menjalankan tugasku sebagaimana mestinya, mereka yg akan melindungiku.”
“Gini lho.. Yg gue gag habis pikir, kok elo bisa2nya gag tau apa isi paket itu.”
“Bukan kapasitasku untuk tau soal isi paket itu, tugasku hanya mengantar, itu saja.”
Ayu menatap Tanaka curiga. Pasti ada sesuatu yg pria itu sembunyikan darinya.
“Ah.. Tapi kan..”
“Sssttt.. Kau terlalu kepo, Ayu.” Potong Tanaka sebelum Ayu banyak bertanya lagi.
“Ya ampun.. Ribet amat lo.”
“Sekarang biarkan aku yg bertanya.” Kata Tanaka
“Apa?”
“Dimana tas ranselmu yg berwarna hijau?” Tanya Tanaka to the point.
“Yang hijau?”
“Iya, yg sering kau pakai bekerja.”
“Ah yg itu. Ada dirumah. Kenapa emang? Lo pengen tukeran tas juga? Ambil deh, tapi beliin gue tas gucci model terbaru.”
“Tidak, Ayu. Jangan kesenangan dulu.”
“Terus kenapa?”
“Apa kau ingat malam ketika kau mengikutiku? Kita bertemu dengan seorang pria berwajah sangar.”
“Ya, ya. Gue ingat.”
“Dia dulu sahabatku saat aku duduk dibangku SMA, tapi sekarang kami ada diarah yg berbeda. Namanya Edrick. Aku tidak tau apa pekerjaannya, ini kali pertama aku bertemu dengannya, setelah sepuluh tahun berpisah.”
“Kenapa kalian bisa berpisah? Jangan2 dia polisi atau intel
Lalu kenapa saat bertemu kembali kalian seperti musuh yg saling ingin menerkam.” Tanya Ayu tertarik dengan cerita tentang Edrick, pria berwajah sangar yg pernah bertemu Tanaka dan memperingatkan tentang pekerjaan ini.
“Ayu, aku tidak akan mengenang masa lalu bersamamu. Dengarkan aku, malam itu dia sempat menyentuh tasmu, aku yakin dia sudah memasang alat penyadap ditasmu. Lambat laun mereka akan mendatangimu untuk mencariku.”
Ayu terperangah. “Apa artinya ini gue udah terlibat dalam pekerjaan ini?”
Tanya Ayu merasa ngeri.
“Ya, sedikit. Itulah kenapa sampai aku menyusulmu kesini. Aku takut mereka akan membahayakanmu. Syukurlah kau tidak memakai tas itu.”
“Aku jadi takut.” Kata Ayu masih merasa ngeri
“Maaf sudah menyeretmu dalam urusanku. Aku janji tidak akan membiarkanmu dalam bahaya.”
“Udah jelaslah, harus itu. Yang gue takutin itu kalo nanti elo ketangkep polisi, terus nama gue kebawa, kan serem.”
“Selama 5 tahun aku bekerja, aku tidak pernah gagal, apalagi sampai tertangkap. Kalo pun itu terjadi, mereka tidak akan membiarkan itu terjadi.”
Ayu diam, hanya batinnya saja yg bicara sendiri.
Gue harusnya pergi, gue harusnya lari, gue harusnya tinggalin dia. Dan seharusnya gue laporin dia ke polisi sejak awal, orang ini kerja buat mafia tapi kenapa gue malah diem aja, apa gue udah jatuh cinta sama orang asing ini? Sampe logika gue gag jalan. Untuk jatuh cinta sama Bram aja gue butuh waktu satu tahun, tujuh bulan, dua puluh sembilan hari. Dan gag tau kenapa, gue ngerasa dia sebenernya bukan orang jahat, gue bs rasain itu, tapi gue belum bisa jelasin itu. Ah, ini benar2 sulit dijelaskan oleh logila. Ada apa sama gue!?
Ayu yang pertama bangun. Menyadari dirinya masih dalam pelukan Tanaka, Ayupun segera melepaskan diri. Teringat lagi kejadian semalam saat kenangan mengerikan itu kembali menyerang.
“Kamu sudah bangun?” Tanya Tanaka yg baru sadar dari tidurnya.
Ayu hanya mengangguk tanpa suara.
“Kau mau makan?”
Lagi2 tanpa suara, Ayu hanya menggeleng.
“Baiklah… Bilang saja kalau kau perlu apa2.”
“Gue.. Gue.. Gue rindu ibu..” Kata Ayu terbata2.
“Kalau kau merindukannya, kau bisa mendoakannya.”
Ayu mulai menangis mengingat ibunya.”Setiap keadaan seperti semalam, bayangan ibu yg tergolek tak berdaya karna luka tembak dikepalanya, kembali terngiang. Rasanya sakit.”
Tanaka tak tau harus bicara apa, tapi ia yakin betul dari nada bicara Ayu yg begitu penuh luka dan kepedihan, Ayu memiliki masa lalu yang sangat perih. Rasanya aneh juga melihat gadis periang seperti Ayu, berubah jd gadis yg pemurung yg menyimpan luka.
Tanpa pikir panjang, Tanaka kembali memeluk Ayu, dari pada Ayu terus mengenang hal buruk dalam hidupnya.
“Jangan diingat lagi kalau itu menyakitkan. Cukup jalani hidupmu saat ini dengan bahagia.”
Ayu masih menangis, walau tidak sehisteris semalam.
“Kita memang belum lama kenal, tapi kamu bisa mengandalkanku sebagai seorang teman.”
Ayu tersenyum. Perlahan tangisnya mulai terhenti.
“Terima kasih, Tanaka. Lo udah banyak menolong. Dan maaf tentang kata2 gue beberapa hari yg lalu.”
“Tidak masalah. Aku sangat memakluminya. Bagaimana rasanya kalau ada orang asing tiba2 masuk ke hidup kita dengan gerak gerik yg aneh. Kalau posisi kita dibalik mungkin aku juga akan melakukan hal yg sama.”
Ayu mengangguk pelan. “Tapi, tentang pekerjaan lo, apa benar lo seorang..?”
Tanaka tertawa kecil. “Ya, aku pengawal pribadi seorang bos mafia disingapur. Dulunya aku memang prajurit, tapi karna gagal menjalankan misi, aku dipecat dan aku menerima tawaran ini dari seseorang. Pekerjaan dengan gaji besar.”
“Tapi resikonya sangat besar. Kenapa lo bisa kenal sama mafia sih?” Tanya Ayu penasaran.
“Kau sudah banyak tau. Aku belum mau cerita soal yg itu.” Tanaka beranjak bangun.
“Hey! Mau kemana?”
“Ke kamar mandi.” Kata Tanaka sambil berjalan ke belakang.
“Dia selalu begitu.” Gerutu Ayu.
Sementara itu dikamar mandi, Tanaka sedang meringis kesakitan. Kepalanya terasa seperti dihantam batu besar. Ia sengaja meninggalkan Ayu diruang depan, supaya Ayu tidak melihat kondisinya.
“Ya Tuhan, kenapa aku? Ini rasanya sakit sekali. Argh!”
Kembali ke Ayu yg tiba2 teringat Dean, teman masa kecilnya. Ayu mengeluarkan secarik kertas dari dalam dompetnya. Kertas yg sudah lusuh karena disimpan belasan tahun dalam dompet. Kertas yg berisikan ungkapan hati Dean untuk Ayunda.
Ayu ingat saat kejadian penyerangan itu, saat Ayu kembali membawa bantuan.
Quote:
Flash Back
Ayu berlari kebelakang mencari Dean yg terjatuh yg tadi berjanji akan menunggu dibatu dipinggir sungai. Tapi Dean tidak ada disana.
“KAK DEAN! KAK DEAN!” Teriak Ayu sambil mengamati sungai dibawah sana yg masih deras arusnya. “KAKAK, JAWAB AKU KAK! INI AKU DATANG BAWA BANTUAN!” Tapi jangankan jawaban dari Dean, tubuh Deanpun entah ada dimana.
Ayu putus asa memanggil2 Dean selama sejam. Didepan polisi sudah mulai berdatangan, dan warga setempatpun mulai ramai berkumpul, penasaran dengan kejadian naas semalam.
Ayu masuk kekamar, mengambil tasnya. Sekilas Ayu melihat jenazah kedua orang tuanya sedang diangkat menuju mobil ambulans. Diruang tv tak sengaja Ayu menemukan secarik kertas yg berisikan tulisan tangan Dean, tulisan yg sepertinya baru semalam dia tulis dengan tangannya sendiri.
Ayu berlari kebelakang mencari Dean yg terjatuh yg tadi berjanji akan menunggu dibatu dipinggir sungai. Tapi Dean tidak ada disana.
“KAK DEAN! KAK DEAN!” Teriak Ayu sambil mengamati sungai dibawah sana yg masih deras arusnya. “KAKAK, JAWAB AKU KAK! INI AKU DATANG BAWA BANTUAN!” Tapi jangankan jawaban dari Dean, tubuh Deanpun entah ada dimana.
Ayu putus asa memanggil2 Dean selama sejam. Didepan polisi sudah mulai berdatangan, dan warga setempatpun mulai ramai berkumpul, penasaran dengan kejadian naas semalam.
Ayu masuk kekamar, mengambil tasnya. Sekilas Ayu melihat jenazah kedua orang tuanya sedang diangkat menuju mobil ambulans. Diruang tv tak sengaja Ayu menemukan secarik kertas yg berisikan tulisan tangan Dean, tulisan yg sepertinya baru semalam dia tulis dengan tangannya sendiri.
DEAN <3 NDA
DEAN SAYANG NDA
DEAN CINTA NDA
DEAN MAU JADI SUAMI NDA
TUNGGU DEAN SUKSES YA, NDA. :*
Ayu jadi terharu lagi. Ayu ingat Dean dulu sangat perhatian pada Ayu, Dean sangat peduli pada Ayu, Dean mengorbankan nyawanya demi Ayu. Dulu, Dean bisa saja pergi lebih dulu untuk menyelamatkan diri, tapi ia malah memilih membantu Ayu dulu untuk keluar dari rumah yg sedang dibantai itu.
“Kak, kamu dimana sebenernya? Kalau kamu sudah tiada, kenapa jenazahmu tidak ditemukan, kalau kamu masih hidup, kenapa tidak mencariku.” Kata Ayu bicara sendiri.
Tak lama kemudian Tanaka kembali, wajahnya terlihat lebih segar karna cuci muka. Ayu langsung memasukksn kertas itu kembali kedalam dompetnya.
“Tanaka, selama lo pergi dari rumah, lo tinggal dimana?” Ayu mencoba berbasa basi agar suasana tidak tegang lagi.
“Aku tidak akan memberi tahumu.”
“Kenapa begitu?”

“Aku takut kau akan mencariku setiap hari.” Kata Tanaka dengan nada mengejek.
“Hahh.. Besar kepala banget lo! Siapa juga yg mau nyariin lo!”

“Hahaha.. Beginilah Ayunda yg seharusnya, orangnya berisik! Bukan pemurung yg hidupnya penuh luka.”

Ayu tertunduk malu. Wajahnya memerah.
“Dengar, Ayu. Semua orang punya masa lalu yg tidak menyenangkan. Aku tidak tau seberat apa memori masa lalumu, yang aku ingin katakan adalah biarkan masa lalu tetap menjadi masa lalu, jangan bawa dia ke masa kini ataupun ke masa depan.”
Ayu nyengir.

“Kenapa?” Tanya Tanaka bingung.
“Dari pada jadi pengawal mafia, kenapa lo gag jadi motivator aja.”

“Bukan passionku.”
“Tanaka, lo kayaknya setia banget sama bos lo yg mafia itu, sampe lo nurut banget sama semua perintahnya. Apa lo gag takut kalo paket itu isinya sesuatu yg ilegal?”
Tanaka menghela nafasnya. “Meskipun aku bukan lagi seorang prajurit, aku terap harus memegang teguh prinsip seorang prajurit dimanapun aku bekerja. Aku harus disiplin, aku harus konsisten, aku harus setia pada orang yg mempercayaiku memberi pekerjaan ini. Perintah adalah amanat, aku tidak punya hak untuk menawar atau protes. Selama ini aku bekerja, aku sering mendapat tugas untuk mengantar paket ke banyak tempat dibeberapa negara tanpa aku tau apa isinya, dan semua berjalan lancar. Aku menjalankan tugasku sebagaimana mestinya, mereka yg akan melindungiku.”
“Gini lho.. Yg gue gag habis pikir, kok elo bisa2nya gag tau apa isi paket itu.”

“Bukan kapasitasku untuk tau soal isi paket itu, tugasku hanya mengantar, itu saja.”
Ayu menatap Tanaka curiga. Pasti ada sesuatu yg pria itu sembunyikan darinya.
“Ah.. Tapi kan..”
“Sssttt.. Kau terlalu kepo, Ayu.” Potong Tanaka sebelum Ayu banyak bertanya lagi.
“Ya ampun.. Ribet amat lo.”

“Sekarang biarkan aku yg bertanya.” Kata Tanaka
“Apa?”
“Dimana tas ranselmu yg berwarna hijau?” Tanya Tanaka to the point.
“Yang hijau?”

“Iya, yg sering kau pakai bekerja.”
“Ah yg itu. Ada dirumah. Kenapa emang? Lo pengen tukeran tas juga? Ambil deh, tapi beliin gue tas gucci model terbaru.”

“Tidak, Ayu. Jangan kesenangan dulu.”

“Terus kenapa?”
“Apa kau ingat malam ketika kau mengikutiku? Kita bertemu dengan seorang pria berwajah sangar.”
“Ya, ya. Gue ingat.”

“Dia dulu sahabatku saat aku duduk dibangku SMA, tapi sekarang kami ada diarah yg berbeda. Namanya Edrick. Aku tidak tau apa pekerjaannya, ini kali pertama aku bertemu dengannya, setelah sepuluh tahun berpisah.”
“Kenapa kalian bisa berpisah? Jangan2 dia polisi atau intel
Lalu kenapa saat bertemu kembali kalian seperti musuh yg saling ingin menerkam.” Tanya Ayu tertarik dengan cerita tentang Edrick, pria berwajah sangar yg pernah bertemu Tanaka dan memperingatkan tentang pekerjaan ini.“Ayu, aku tidak akan mengenang masa lalu bersamamu. Dengarkan aku, malam itu dia sempat menyentuh tasmu, aku yakin dia sudah memasang alat penyadap ditasmu. Lambat laun mereka akan mendatangimu untuk mencariku.”
Ayu terperangah. “Apa artinya ini gue udah terlibat dalam pekerjaan ini?”
Tanya Ayu merasa ngeri.“Ya, sedikit. Itulah kenapa sampai aku menyusulmu kesini. Aku takut mereka akan membahayakanmu. Syukurlah kau tidak memakai tas itu.”
“Aku jadi takut.” Kata Ayu masih merasa ngeri
“Maaf sudah menyeretmu dalam urusanku. Aku janji tidak akan membiarkanmu dalam bahaya.”
“Udah jelaslah, harus itu. Yang gue takutin itu kalo nanti elo ketangkep polisi, terus nama gue kebawa, kan serem.”
“Selama 5 tahun aku bekerja, aku tidak pernah gagal, apalagi sampai tertangkap. Kalo pun itu terjadi, mereka tidak akan membiarkan itu terjadi.”
Ayu diam, hanya batinnya saja yg bicara sendiri.
Gue harusnya pergi, gue harusnya lari, gue harusnya tinggalin dia. Dan seharusnya gue laporin dia ke polisi sejak awal, orang ini kerja buat mafia tapi kenapa gue malah diem aja, apa gue udah jatuh cinta sama orang asing ini? Sampe logika gue gag jalan. Untuk jatuh cinta sama Bram aja gue butuh waktu satu tahun, tujuh bulan, dua puluh sembilan hari. Dan gag tau kenapa, gue ngerasa dia sebenernya bukan orang jahat, gue bs rasain itu, tapi gue belum bisa jelasin itu. Ah, ini benar2 sulit dijelaskan oleh logila. Ada apa sama gue!?
Diubah oleh Wah Cantiknya 08-07-2016 06:41
0
Kutip
Balas