- Beranda
- Stories from the Heart
YES, I AM D.I.D!
...
TS
rafa.alfurqan
YES, I AM D.I.D!
Quote:
-0o0-
Ane datang lagi membawa sebuah cerita baru, cerita yang sempat ane sampaikan akan ane posting di sini untuk kalian para kaskuser yang gak ada kerjaan baca-baca cerita orang. Salam damai

Jujur baru jalan 2 chapter + 1 intro awal ane posting cerita ini, sudah cukup banyak respon masuk yang cukup membuat ane surprised! Setidaknya jika dibandingkan dengan beberapa cerita yang pernah ane posting sebelumnya.
Quote:
Update review komentar pembaca
Quote:
Nih ane kasih lagi komentar para reader terbaru biar bisa bikin agan-agan yang baru masuk trit ini jadi yakin kalau cerita di trit ini menarik buat di baca
Quote:
ane tambahin lagi deh komen-komen reader biar semakin mempertegas cerita ini beneran keren atau cuma begaya keren
Quote:
IMPORTANT NOTED!
Quote:
Quote:
Jika para readers sekalian, bebas mau yang aktif atau yang cuma silent tapi pure suka sama cerita TS ini, maka disini TS berharap feedback dari para readers sekalian baik berupa rate ataupun sharenya. Jika cerita ini memang layak untuk disukai kalian kenapa gak bantu TS sekalian buat melebarkan sayap cerita ini biar semakin terbang tinggi? 



Polling
Poll ini sudah ditutup. - 3 suara
Siapa tokoh "aku" yang menulis cerita ini?
D
33%
H
0%
R
0%
Bukan ketiganya
67%
Diubah oleh rafa.alfurqan 28-08-2017 10:25
sakkahashira467 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
34.6K
290
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rafa.alfurqan
#6
CHAPTER 1
1
Emotional Guy
Sebelum aku memulai menulis cerita ini apakah kalian sudah bisa menebak bagaimana jalan cerita ini?
Kalian tidak bisa?
Baiklah akan aku sederhanakan lagi pertanyaannya, kalian sudah tahu siapa aku yang menulis cerita ini? Dan mengapa aku menulisnya?
Kalian juga tidak tahu?
Ah ayolah, mainkanlah imajinasi kalian! Aku mempercayai bahwa imajinasi manusia itu tak berbatas namun jika ada yang membatasinya, maka itu hanyalah rasa percaya dirinya.
Cerita ini tidak akan bedanya dengan cerita lain jika kalian tidak mau ikut masuk ke dalam cerita ini seutuhnya. Aku ingin kalian fokus dan serius saat kalian sedang membaca cerita ini. Aku tidak meminta kalian untuk melakukan hal-hal yang sulit tapi hanya meminta kalian untuk berhenti bersikap tidak mau tahu.
Bayangkanlah kemudian proyeksikanlah cerita ini di dalam kepala kalian seakan-akan kalian sedang menyaksikan cerita ini di dalam sebuah layar bioskop yang besar dan hanya ada kalian disana…
Senin, 13 Maret 2014
Pagi hari di hari senin yang terik ini aku kembali membuat ulah lagi. Ah tidak, kalau seperti itu seakan-akan akulah yang menyebabkan keributan. Bukan aku yang memulai, tapi mereka yang mengajakku ribut terlebih dahulu. Aku bukan merasa jagoan, aku hanya membela diriku.
Tapi para dosen-dosen bodoh itu tidak pernah mau mempercayaiku. Mereka selalu menganggapku sebagai biang onar dan anak yang nakal. Bagaimana bisa mereka seperti itu? Padahal mereka itu seharusnya digugu dan ditiru tapi mereka tidak pernah mau tahu kenapa aku seperti ini.
Aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba dihadang oleh segerombolan orang itu entah apa yang sudah aku lakukan. Ya aku memang tidak menyangkal kalau aku punya banyak musuh, banyak orang yang tidak suka padaku dan tentu saja aku tidak perduli. Jadi seharusnya dosen-dosen itu harusnya menyalahkan mereka dan bukan menghukumku.
Kalau seperti ini terus aku ingin berhenti saja dari kampus ini, aku tidak perduli dengan kuliah atau apa lah. Ah tapi tak akan mungkin bisa, pak tua itu akan menghukumku jika aku berhenti.
“Pak tua sialan! Berani sekali dia memperlakukanku seperti ini!”
“Orang yang sudah tua itu memang seperti itu, suka berbuat seenak hatinya.” celetuk seseorang dibelakangku.
“Benar, dunia ini akan lebih baik jika diisi dengan jiwa-jiwa muda yang penuh energi.” ucapku setuju.
…
“Astaga! Sejak kapan kakek dibelakangku!?” ucapku kaget.
“Kakek? Kakek siapa? Yang ada hanya seorang pak tua disini.”
“Ha ha ha, ah kakek bisa aja nih. Kakek ini masih muda tapi ya sedikit kelihatan tua sih.”
“Keluar kamu dari rumah ini anak sialan!” ucap kakek sambil mencoba menyerangku dengan tongkatnya.
“Kek jangan kek!” aku langsung kabur melarikan diri dari kamarku.
“Jadi apa lagi yang kamu sudah kamu lakukan kemarin?” tanya kakek padaku.
“Entahlah kek”
Kakek kemudian melingkarkan tangannya ke leherku sekencang yang dia bisa namun cukup untuk membuatku tidak bisa bernafas.
“Kek, nyerah kek! Nyerah nyerah!” ucapku yang hampir kehabisan nafas.
“Kakekmu ini meskipun sudah tua tapi masih sanggup melayani 10 orang sepertimu!” ucap kakek sambil melepaskan kunciannya padaku.
“Iya iya, kek gak baik umur seperti kakek ini masih suka mengunci cucunya seperti tadi. Nanti encoknya kambuh terus darah tingginya kumat lagi lho!?”
“Berisik kamu!” ucap kakek sambil memukulkan tongkatnya ke kepalaku.
“Aduh!”
“Jadi siapa lawanmu? Berapa banyak?”
“5 orang ada yang tingginya 3 meter, ada yang pendek setinggi kambingnya mang ucup, ada yang tangannya 6 ada juga yang jenggotan kaya kakek tapi lebih panjang sampai sedengkul kaki terus mukanya kaya serangga.”
“Memangnya musuh kamu alien!?” tanya kakek kesal diikuti jeweran ke telingaku.
“Adduuuh kek!”
“Tapi kamu menang kan!?”
“Kalau aku gak menang aku bukan cucu kakek.”
“Bagus! Kamu tau caranya biar gak malu-maluin kakek. Ha ha ha…”
…
“Dengar, hidup ini tidak lebih dari sebab dan akibat.” ucap kakek serius
“Iya kek, seperti kakek dilahirkan karena perbuatan ayah kakek ke ibu kakek kan?”
“Memangnya kamu lahir karena ibu kamu lagi batuk-batuk apa!?” ucap kakek sambil memukulkan kembali tongkatnya ke kepalaku.
“Aduuhh!”
“Jika ada orang yang berusaha melukai kita, itu karena kita yang telah terlebih dahulu melakukan sesuatu pada mereka.”
“Apapun yang telah kita perbuat pada mereka baik atau buruk pasti akan ada balasannya kepada kita. Kamu mengerti?” ucap kakek padaku.
“Iya kek, aku mengerti.”
“Yang kuatlah Dilan, apapun yang kamu hadapi. Meski kamu yakin bukan kamu yang memulainya, tetaplah kuat menghadapinya.”
“Lakukanlah apa saja yang kamu bisa, jangan pernah lari dari masalah-masalah itu. Dan jangan pernah kalah! Kamu mengerti!?” tanya kakek padaku.
“Iya, aku ngerti kek. Aku juga gak suka kalah."
Begitulah pak tua ini, meskipun dia kadang kasar tapi aku sangat menyukainya karena kupikir dia sama sepertiku. Dia juga tahu benar bagaimana menundukkanku dan karena itu juga aku sangat menghormatinya.
Jujur saja dia bukan kakek kandungku, dia menceritakan semuanya padaku setelah beberapa hari dia menemukan diriku tak sadarkan diri di pinggir jalan yang tak jauh dari rumahnya.
Setelah beberapa hari aku ditemukan aku tidak mengingat siapa diriku dan kenapa aku bisa ada disana. Dan jangankan hal itu siapa orang tuaku dan dimana keluargaku berada saja juga aku tidak bisa mengingatnya.
“Baiklah, tidak usah menyusahkan diri untuk mengingat sesuatu yang sulit untuk kamu ingat.”
“Jika memang kedua orang tuamu atau bahkan tidak ada satu orangpun dari keluargamu yang mencarimu, kamu boleh tinggal disini denganku.”
…
“Hey bocah, kamu mau kupanggil apa?”
Aku hanya diam dan menatapnya dengan tajam.
“Aku suka dengan tatapanmu, ha ha ha. Kamu mengingatkanku dengan diriku yang dulu.”
“Enggak, aku lebih ganteng!” ucapku tiba-tiba.
“Heh! Jaga omonganmu ya bocah! Memangnya kamu tahu bagaimana rupaku dulu!?”
“Tau kok, kaya yang di foto itu kan?” ucapku sambil menunjuk sebuah foto yang berada di meja kecil itu.
“Ah, itu fotoku dulu memang. Memangnya jelek ya? Tapi itu mungkin pengaruh kamera zaman dulu saja!”
Aku mengerutkan dahiku dan tetap menatap tajam wajahnya seolah-olah ingin memperlihatkan ketidak percayaanku padanya.
“Anak ini nyari musuh ya!?” kakek kemudian melingkarkan tangannya keleherku dan memberikanku beberapa pukulan kecil ke kepalaku.
“Addduuhh sakit!” tak mau kalah aku menggigit tangannya.
“Aaaarrgghhh!” teriak kakek.
“Kamu berani sama orang tua ya!?”
“Aku tidak berani, aku hanya membela diri!”
Mendengar jawabanku kakek hanya tersenyum.
“Membela diri ya…”
“Kamu bisa bela diri?” tanya kakek padaku.
“Enggak”
“Terus gimana kamu mau membela dirimu?”
“Gigit! Hantam! Jambak! Cakar!”
“Ha ha ha, cakar memangnya kamu itu kucing!? Mulai sekarang kamu akan aku ajari bela diri”
“Bela diri?”
“Iya, kenapa? Kamu gak mau?”
“Memangnya aku harus mau?”
“Wah ini anak ngeselin ya!? Masih bocah udah tahu gimana bikin orang tua darah tinggi!”
Aku masih diam mendengarkannya bicara.
“Kamu masih lupa dengan namamu?”
Aku menganggukkan kepalaku.
“Hhhmm, ya sudah gak usah dipikirkan lagi. Mulai sekarang nama kamu Dilan!” ucap kakek padaku.
“Dilan?”
“Iya, Dilan! Kenapa? Kamu gak suka?”
“Suka.”
Semenjak hari itu, aku resmi dijadikan cucu olehnya. Aku dirawat, dijaga, dilatih dan dibesarkan olehnya seorang diri dari semenjak aku berusia 8 tahun sampai dengan sekarang. Dia benar-benar menyayangiku. Selain memberikanku tempat tinggal dan makanan, dia juga memberikanku nama Dilan. Nama yang menurut dia cocok denganku yang sering emosional dan susah diatur. Ah, padahal kupikir cuma karena dia suka pada nama itu.
Kakek juga satu-satunya orang yang sampai dengan saat ini tahu mengenai kelainan mental yang aku alami. Karena itu dia tahu persis apa yang terjadi padaku seperti hari ini semata-semata bukan karena “aku” yang memulai tapi karena “aku” yang lain. Entah itu karena perbuatan si “H” atau itu si “R”.
Emotional Guy
Sebelum aku memulai menulis cerita ini apakah kalian sudah bisa menebak bagaimana jalan cerita ini?
Kalian tidak bisa?
Baiklah akan aku sederhanakan lagi pertanyaannya, kalian sudah tahu siapa aku yang menulis cerita ini? Dan mengapa aku menulisnya?
Kalian juga tidak tahu?
Ah ayolah, mainkanlah imajinasi kalian! Aku mempercayai bahwa imajinasi manusia itu tak berbatas namun jika ada yang membatasinya, maka itu hanyalah rasa percaya dirinya.
Cerita ini tidak akan bedanya dengan cerita lain jika kalian tidak mau ikut masuk ke dalam cerita ini seutuhnya. Aku ingin kalian fokus dan serius saat kalian sedang membaca cerita ini. Aku tidak meminta kalian untuk melakukan hal-hal yang sulit tapi hanya meminta kalian untuk berhenti bersikap tidak mau tahu.
Bayangkanlah kemudian proyeksikanlah cerita ini di dalam kepala kalian seakan-akan kalian sedang menyaksikan cerita ini di dalam sebuah layar bioskop yang besar dan hanya ada kalian disana…
-0o0-
Senin, 13 Maret 2014
Pagi hari di hari senin yang terik ini aku kembali membuat ulah lagi. Ah tidak, kalau seperti itu seakan-akan akulah yang menyebabkan keributan. Bukan aku yang memulai, tapi mereka yang mengajakku ribut terlebih dahulu. Aku bukan merasa jagoan, aku hanya membela diriku.
Tapi para dosen-dosen bodoh itu tidak pernah mau mempercayaiku. Mereka selalu menganggapku sebagai biang onar dan anak yang nakal. Bagaimana bisa mereka seperti itu? Padahal mereka itu seharusnya digugu dan ditiru tapi mereka tidak pernah mau tahu kenapa aku seperti ini.
Aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba dihadang oleh segerombolan orang itu entah apa yang sudah aku lakukan. Ya aku memang tidak menyangkal kalau aku punya banyak musuh, banyak orang yang tidak suka padaku dan tentu saja aku tidak perduli. Jadi seharusnya dosen-dosen itu harusnya menyalahkan mereka dan bukan menghukumku.
Kalau seperti ini terus aku ingin berhenti saja dari kampus ini, aku tidak perduli dengan kuliah atau apa lah. Ah tapi tak akan mungkin bisa, pak tua itu akan menghukumku jika aku berhenti.
“Pak tua sialan! Berani sekali dia memperlakukanku seperti ini!”
“Orang yang sudah tua itu memang seperti itu, suka berbuat seenak hatinya.” celetuk seseorang dibelakangku.
“Benar, dunia ini akan lebih baik jika diisi dengan jiwa-jiwa muda yang penuh energi.” ucapku setuju.
…
“Astaga! Sejak kapan kakek dibelakangku!?” ucapku kaget.
“Kakek? Kakek siapa? Yang ada hanya seorang pak tua disini.”
“Ha ha ha, ah kakek bisa aja nih. Kakek ini masih muda tapi ya sedikit kelihatan tua sih.”
“Keluar kamu dari rumah ini anak sialan!” ucap kakek sambil mencoba menyerangku dengan tongkatnya.
“Kek jangan kek!” aku langsung kabur melarikan diri dari kamarku.
-0o0-
“Jadi apa lagi yang kamu sudah kamu lakukan kemarin?” tanya kakek padaku.
“Entahlah kek”
Kakek kemudian melingkarkan tangannya ke leherku sekencang yang dia bisa namun cukup untuk membuatku tidak bisa bernafas.
“Kek, nyerah kek! Nyerah nyerah!” ucapku yang hampir kehabisan nafas.
“Kakekmu ini meskipun sudah tua tapi masih sanggup melayani 10 orang sepertimu!” ucap kakek sambil melepaskan kunciannya padaku.
“Iya iya, kek gak baik umur seperti kakek ini masih suka mengunci cucunya seperti tadi. Nanti encoknya kambuh terus darah tingginya kumat lagi lho!?”
“Berisik kamu!” ucap kakek sambil memukulkan tongkatnya ke kepalaku.
“Aduh!”
“Jadi siapa lawanmu? Berapa banyak?”
“5 orang ada yang tingginya 3 meter, ada yang pendek setinggi kambingnya mang ucup, ada yang tangannya 6 ada juga yang jenggotan kaya kakek tapi lebih panjang sampai sedengkul kaki terus mukanya kaya serangga.”
“Memangnya musuh kamu alien!?” tanya kakek kesal diikuti jeweran ke telingaku.
“Adduuuh kek!”
“Tapi kamu menang kan!?”
“Kalau aku gak menang aku bukan cucu kakek.”
“Bagus! Kamu tau caranya biar gak malu-maluin kakek. Ha ha ha…”
…
“Dengar, hidup ini tidak lebih dari sebab dan akibat.” ucap kakek serius
“Iya kek, seperti kakek dilahirkan karena perbuatan ayah kakek ke ibu kakek kan?”
“Memangnya kamu lahir karena ibu kamu lagi batuk-batuk apa!?” ucap kakek sambil memukulkan kembali tongkatnya ke kepalaku.
“Aduuhh!”
“Jika ada orang yang berusaha melukai kita, itu karena kita yang telah terlebih dahulu melakukan sesuatu pada mereka.”
“Apapun yang telah kita perbuat pada mereka baik atau buruk pasti akan ada balasannya kepada kita. Kamu mengerti?” ucap kakek padaku.
“Iya kek, aku mengerti.”
“Yang kuatlah Dilan, apapun yang kamu hadapi. Meski kamu yakin bukan kamu yang memulainya, tetaplah kuat menghadapinya.”
“Lakukanlah apa saja yang kamu bisa, jangan pernah lari dari masalah-masalah itu. Dan jangan pernah kalah! Kamu mengerti!?” tanya kakek padaku.
“Iya, aku ngerti kek. Aku juga gak suka kalah."
Begitulah pak tua ini, meskipun dia kadang kasar tapi aku sangat menyukainya karena kupikir dia sama sepertiku. Dia juga tahu benar bagaimana menundukkanku dan karena itu juga aku sangat menghormatinya.
Jujur saja dia bukan kakek kandungku, dia menceritakan semuanya padaku setelah beberapa hari dia menemukan diriku tak sadarkan diri di pinggir jalan yang tak jauh dari rumahnya.
Setelah beberapa hari aku ditemukan aku tidak mengingat siapa diriku dan kenapa aku bisa ada disana. Dan jangankan hal itu siapa orang tuaku dan dimana keluargaku berada saja juga aku tidak bisa mengingatnya.
“Baiklah, tidak usah menyusahkan diri untuk mengingat sesuatu yang sulit untuk kamu ingat.”
“Jika memang kedua orang tuamu atau bahkan tidak ada satu orangpun dari keluargamu yang mencarimu, kamu boleh tinggal disini denganku.”
…
“Hey bocah, kamu mau kupanggil apa?”
Aku hanya diam dan menatapnya dengan tajam.
“Aku suka dengan tatapanmu, ha ha ha. Kamu mengingatkanku dengan diriku yang dulu.”
“Enggak, aku lebih ganteng!” ucapku tiba-tiba.
“Heh! Jaga omonganmu ya bocah! Memangnya kamu tahu bagaimana rupaku dulu!?”
“Tau kok, kaya yang di foto itu kan?” ucapku sambil menunjuk sebuah foto yang berada di meja kecil itu.
“Ah, itu fotoku dulu memang. Memangnya jelek ya? Tapi itu mungkin pengaruh kamera zaman dulu saja!”
Aku mengerutkan dahiku dan tetap menatap tajam wajahnya seolah-olah ingin memperlihatkan ketidak percayaanku padanya.
“Anak ini nyari musuh ya!?” kakek kemudian melingkarkan tangannya keleherku dan memberikanku beberapa pukulan kecil ke kepalaku.
“Addduuhh sakit!” tak mau kalah aku menggigit tangannya.
“Aaaarrgghhh!” teriak kakek.
“Kamu berani sama orang tua ya!?”
“Aku tidak berani, aku hanya membela diri!”
Mendengar jawabanku kakek hanya tersenyum.
“Membela diri ya…”
“Kamu bisa bela diri?” tanya kakek padaku.
“Enggak”
“Terus gimana kamu mau membela dirimu?”
“Gigit! Hantam! Jambak! Cakar!”
“Ha ha ha, cakar memangnya kamu itu kucing!? Mulai sekarang kamu akan aku ajari bela diri”
“Bela diri?”
“Iya, kenapa? Kamu gak mau?”
“Memangnya aku harus mau?”
“Wah ini anak ngeselin ya!? Masih bocah udah tahu gimana bikin orang tua darah tinggi!”
Aku masih diam mendengarkannya bicara.
“Kamu masih lupa dengan namamu?”
Aku menganggukkan kepalaku.
“Hhhmm, ya sudah gak usah dipikirkan lagi. Mulai sekarang nama kamu Dilan!” ucap kakek padaku.
“Dilan?”
“Iya, Dilan! Kenapa? Kamu gak suka?”
“Suka.”
Semenjak hari itu, aku resmi dijadikan cucu olehnya. Aku dirawat, dijaga, dilatih dan dibesarkan olehnya seorang diri dari semenjak aku berusia 8 tahun sampai dengan sekarang. Dia benar-benar menyayangiku. Selain memberikanku tempat tinggal dan makanan, dia juga memberikanku nama Dilan. Nama yang menurut dia cocok denganku yang sering emosional dan susah diatur. Ah, padahal kupikir cuma karena dia suka pada nama itu.
Kakek juga satu-satunya orang yang sampai dengan saat ini tahu mengenai kelainan mental yang aku alami. Karena itu dia tahu persis apa yang terjadi padaku seperti hari ini semata-semata bukan karena “aku” yang memulai tapi karena “aku” yang lain. Entah itu karena perbuatan si “H” atau itu si “R”.
Diubah oleh rafa.alfurqan 07-07-2016 03:37
bonita71 memberi reputasi
2
Tutup










