- Beranda
- Stories from the Heart
Aku dan Gadis Lugu
...
TS
spv7hqfj
Aku dan Gadis Lugu
SELAMAT DATANG

Cover by Agan Yushito13
Sebelumnya ane minta maaf buat para reader kalo tulisan ane acak acakan. Ane cuma berharap para readers bisa mengambil hikmah dari cerita ane ini.
Jangan lupa baca Sticky Rules SFTH ya gan? ane males kalo harus nulis ulang,
Jangan lupa juga buat ninggalin jejak sekedar ngasih kritik dan saran,
atau nebak2 jalan cerita BANTU RATE YA GAN hehehehe.
KASIH CENDOL JUGA BOLEH

ASALKAN JANGAN ADA BATA DIANTARA KITA GAN

AND THEN, DILARANG OOT

Spoiler for Top Thread:
Spoiler for CHAPTER 1:
Spoiler for CHAPTER 2:
Quote:
Diubah oleh spv7hqfj 22-07-2016 13:16
anasabila memberi reputasi
1
251.5K
902
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
spv7hqfj
#734
Eps. 36 - Maaf Na
Sebelum membaca, marilah kita sejenak mendengarkan sebuah lagu dari Anji mantan (Vokalis) Rini Idol. Eh salah, mantan (Vokalis) Drive yang berjudul..................... DIA.
Apa ane yang harus ngasih Embed lagu tersebut biar ente bisa langsung puter tanpa harus searching dulu di mbah Yusup? Heh heh (ketawa ala Dodit) Enak amat jadi ente gan.
Abaikan. Jangan bata TS
Ratna semakin gencar menyerangku. Dengan berbagai jurus bernama modus. Lebih kuat daripada sebelumnya, sebelum dulu aku menolaknya. Mungkin karena sekarang dia menggunakan kombinasi antara modus dan Sage Mode. Menyerap kekuatan alam kedalam dirinya. Juga pancaran Rinnegan dari matanya seolah membuatku terjebak dalam genjutsu nya. Aku gagal paham. Budhe penjual gudeg di dekat rumahku juga dibuat bingung oleh sikapnya padaku. Macaciiihhhh
“Bi.”
“hmmmmm.”
“Anu....”
“anu..???”
“anuuu...mmmhh...”
Aku tidak mendongak kearahnya. Malah sibuk melahap nasi dan gudeg yang sekarang tersaji didepanku.
“anu apa siih Na?”
“a..anu bi..” Ratna mendadak gagu. Kurang makan sambel. Akibatnya saraf penggerak lidahnya menjadi beku. Alright!
“kamu masih belum bisa buka hatimu buatku Bi?"
Aku tersedak mendengar pertanyaaanya. Beberapa kunyahan nasi dan gudeg yang sebagian sudah bercampur dimulutku dan akan terjun bebas ke perut melalui kerongkongan, tiba-tiba keluar begitu saja. Sialnya, mengenai sebagian baju dan wajah Ratna yang cantik.
Brakk!!! Ratna langsung mengambil tas sekolahnya dan pergi meninggalkanku. Sembari membersihkan sisa-sisa yang mengotorinya. Tega kamu Bi, TEGA!
“et et tunggu Na. Maap maap gak sengaja.” Pasang muka innocent. Memegang tangannya supaya tidak pergi ala ala sinetron. Tapi memang begitu kejadiannya bos.
“mending pergi aja dari pada ngadepin cowok gak pe...” CUT!!!
“ngobrolnya ditempat laen aja ya? Gak enak banyak orang2 Na.” Senyum ala malaikat pencabut nyawa.
Bayar dua nasi gudeg, tempe mendoan 2 dan teh anget. Lalu cabuuutt....
Ini hari minggu. Kemarin Ratna mengajakku jalan-jalan berdua keliling jogja. Entah
“kemana Na?”
“terserah.”
Kulihat raut wajahnya dari kaca spion motorku, tampak cemberut. Huhu dasar makhluk ciptaan Tuhan yang membingungkan. Ku geber motor bebek yang kami tumpangi berdua. Menuju kesebuah tempat nan indah jika bisa sampai disana ketika Senja tiba.
-SKIP-
Di tepi Pantai Ngrumput. Aku dan Ratna berdiri memandang indahnya Matahari yang akan tenggelam. Tersungging senyum tipis dari bibir Ratna. Ahhhh.. akhirnya senyum lagi kan.
Belum tau Pantai Ngrumput? Jalan aja dari Pantai Drini kearah Timur, nanti pasti ketemu. Pantainya cukup sepi dan Natural. Memang tempat wisata anti Mainstream. Gak tau Pantai Drini?? Pura-pura tau aja deh ya? TS bingung ngejelasinnya
“Aaaaaaaaaaahhhhhhhkkkkk....” aku berteriak kearah laut luas sambil mengangkat kedua tangan. Saking senangnya melihat kanvas luas bernama langit yang dilukis oleh Tuhan.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhkkkkk.......” Ratna ikut teriak.
“hahhaha.hahaha,haaa” kami saling menatap dan tertawa bersama. Walau tidak ada yang lucu. Mungkin karena tertawa senang.
“keatas yuk?”
“kemana?”
“udah ikut aja Na.” Ku pegang tangan Ratna agar mengikutiku.
Dan sampailah kami disebuah bukit bernama Kosakora. Asli!!!! Ini viewnya edun banget.
“Baru kali ini liat pemandangan indah kyak gini Bi. Makasih ya.”
“hehe iya.”
Krik..krikk.kriik
Dudukk berdua berlawanan arah dengan posisi punggung kami saling menempel.
Kami sibuk memandangi indahnya senja sampai tak keluar satu patah katapun dari mulut kami. Hingga akhirnya...
“Bi...”
“hmmm.”
“maaf ya.”
“maaf apaan Na???”
“maaf karena aku cinta kamu.”
Aku diam tak menjawab.
“aku tau masih ada Tika dihati kamu. Dan gak akan pernah hilang.”
“Na....”
“Na...maaf.” aku mengubah posisi dudukku dan kini kami berdua duduk berdampingan memandang kedepan.
“maaf udah bikin kamu nunggu selama ini. Aku juga cinta kamu.” Kataku sambil memegang tangan kirinya.
Dag..dig..dug jantungku berdegup kencang. Nafasku berhenti sejenak karena mengatakan sebuah kalimat yang menurutku tak kalah sakral dengan ijab qobul. Matanya memandang kearahku, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan padanya. Isak tangis diiringi aliran peluh dipipinya semakin bertambah frekuensi produksinya. Ratna memelukku erat dan akupun membalas pelukannya. Walaupun ada beberapa anak muda disekitarku, aku tak peduli mereka berpikir apa. Yang penting kan gak mesum
(Saran : jangan sekali-kali mesum di pantai Selatan ya
)
“makasih Bi.”
“uaaaa uaaa huaaaa... huhu” buseeett nangisnya tambah kenceng. Ratne menangis didadaku. Ku tengok kanan dan kiri, semua orang melihatku dengan tatapan curiga. Seakan menganggap diriku adalah pria tidak bertanggung jawab yang telah menghamili si cewek yang sekarang sedang menangis keras di dadaku.
“Pulang yuk Na? Udah hampir maghrib.” Aku berdiri dari tempatku, mengulurkan tangan kearahnya supaya Ratna bisa dengan mudah beranjak.
“iiihhh kok manggil nama sih?, kan udah pacaran” lengan atasku jadi samsak.
“hhehe terus apaan dong?”
“sayang atau apa gitu ih.” Cemberut sambil melipat tangan di dadanya.
“hehe iya sayang, yuk pulang?”
Kamipun pulang, dengan wajah berseri-seri. Gembira. Sumringah, entahlah bercampur aduk. Aku anggap diriku sudah berhasil melupakan Tika.
Perjalanan pulang lumayan lama, karena harus melewati beribu-ribu kelokan. Dan jalanan pun sedikit gelap karena minim lampu penerangan di kiri dan kanan.
-SKIP-
Aku pun sampai di rumah Ratna setelah berkali-kali dia menunjukkan jalan kearah yang benar. Lumyan jauh dari rumahku.
“mampir dulu sini.”
“gak ah Na udah malem hehhe.”
Raut wajah Ratna langsung berubah.
“manggil apa barusan?” Mata Ratna langung melotot.
“ohh hehe maap maap belum biasa, sayaaaaaang.” Jawabku nyengir kuda.
“Yaudah sampe rumah sms ya sayang?”
“iya, heehe.”
Ratna kembali mengeluarkan jurusnya, tatapan sayu mirip2 bikips yang sering ditonton Dodi dikelas. Akkkk aku gak tahan. Kedua mata kami saling menatap.. Dan...
“EHMMM.” Suara bapak-bapak dari arah teras rumah Ratna.
Kami berdua menoleh kearah sumber suara dan ternyata,
“ehh bapak kirain belom pulang.” Ucap Ratna gugup.
“kamu ini aneh tho nduk, ini kan hari minggu ya bapak dirumah aja tho.”
Sekilas tentang Bapaknya Ratna, panggil aja Pak Fuad (samaran). Doi ini guru Matematika di sekolahku. Dulu waktu kelas 1 sempat diajar oleh beliau. Pembawaannya lumayan mengasikkan, tidak tegang. Malah banyak murid yang menjadi suka dengan matematika jika yang mengajar adalah Pak Fuad.
“Suruh masuk tho nduk temen kamu itu.”
“iya pak, ayo sayang masuk.” Kata Ratna padaku bisik-bisik. Cuma pas di kata ‘sayang’ aja dia bisiknya.
Dan terpaksa aku masuk. Aku sekarang duduk di ruang tamu, didepanku ada Ratna dan Pak Fuad. Walaupun aku sering bertemu beliau di sekolah, tapi rasanya canggung banget sekarang. Mungkin karena sekarang aku berada dirumahnya dan status anakanya yang sekarang menjadi pacarku. Tanpa sepengetahuannya.
“Kamu Tobi ya kelas 11 IPA 1??” tanya Pak Fuad memecah kesunyian. Kulihat sedikit Ratna malah senyum2 melihatku yang sedang salah tingkah.
“i..i..iya Pak. Kok bapak bisa tau kelas saya?” basa basi.
“yaaa bapak taulah, kan kamu murid terpandai bapak waktu kelas 1 dulu.” Jawab Pak Fuad bangga.
“ahh bapak bisa aja,” mungkin wajahku jadi merah saat itu. Entah tersipu karena dipuji, atau malu sama Bapak pacar sekaligus guru sekolahku.
“gimana sekolah kamu?”
“lancar pak.”
“belajar yang bener ya, pacaran boleh asal sekolah kamu ndak terganggu.” Waaaakk!!!! Belum apa-apa udah bisa tau kalo aku dan Ratna pacaran.
Aku hanya tersenyum renyah mendengar sindirannya. Ratna hanya senyum-senyum melihatku.
“Yaudah Bapak kedalem dulu ya. Ratna, itu Tobi bikinin minum kasian keringetan gitu.” Sindir Pak Fuad. Lalu beliau masuk kedalam rumah.
Huhuuu suka banget sih nyindir orang.
“mau minum apa Yang?” tanya Ratna.
“aku langsung pulang aja Na...eh Yang.” Jawabku.
“hmmm”
“heheh udah malem Yang, gak enak ah sama tetangga.”
Setelah lama berdebat (hehe) akhirnya aku diijinkan pulang.
“ati-ati” Ratna melambaikan tangan padaku.
“iya.”
Brmmmmmm.... motor pun ku pacu menuju Home Sweet Home.
-Bersambung-
Apa ane yang harus ngasih Embed lagu tersebut biar ente bisa langsung puter tanpa harus searching dulu di mbah Yusup? Heh heh (ketawa ala Dodit) Enak amat jadi ente gan.

Abaikan. Jangan bata TS

Ratna semakin gencar menyerangku. Dengan berbagai jurus bernama modus. Lebih kuat daripada sebelumnya, sebelum dulu aku menolaknya. Mungkin karena sekarang dia menggunakan kombinasi antara modus dan Sage Mode. Menyerap kekuatan alam kedalam dirinya. Juga pancaran Rinnegan dari matanya seolah membuatku terjebak dalam genjutsu nya. Aku gagal paham. Budhe penjual gudeg di dekat rumahku juga dibuat bingung oleh sikapnya padaku. Macaciiihhhh
“Bi.”
“hmmmmm.”
“Anu....”
“anu..???”
“anuuu...mmmhh...”
Aku tidak mendongak kearahnya. Malah sibuk melahap nasi dan gudeg yang sekarang tersaji didepanku.
“anu apa siih Na?”
“a..anu bi..” Ratna mendadak gagu. Kurang makan sambel. Akibatnya saraf penggerak lidahnya menjadi beku. Alright!
“kamu masih belum bisa buka hatimu buatku Bi?"
Aku tersedak mendengar pertanyaaanya. Beberapa kunyahan nasi dan gudeg yang sebagian sudah bercampur dimulutku dan akan terjun bebas ke perut melalui kerongkongan, tiba-tiba keluar begitu saja. Sialnya, mengenai sebagian baju dan wajah Ratna yang cantik.
Brakk!!! Ratna langsung mengambil tas sekolahnya dan pergi meninggalkanku. Sembari membersihkan sisa-sisa yang mengotorinya. Tega kamu Bi, TEGA!
“et et tunggu Na. Maap maap gak sengaja.” Pasang muka innocent. Memegang tangannya supaya tidak pergi ala ala sinetron. Tapi memang begitu kejadiannya bos.
“mending pergi aja dari pada ngadepin cowok gak pe...” CUT!!!
“ngobrolnya ditempat laen aja ya? Gak enak banyak orang2 Na.” Senyum ala malaikat pencabut nyawa.
Bayar dua nasi gudeg, tempe mendoan 2 dan teh anget. Lalu cabuuutt....
Ini hari minggu. Kemarin Ratna mengajakku jalan-jalan berdua keliling jogja. Entah
“kemana Na?”
“terserah.”
Kulihat raut wajahnya dari kaca spion motorku, tampak cemberut. Huhu dasar makhluk ciptaan Tuhan yang membingungkan. Ku geber motor bebek yang kami tumpangi berdua. Menuju kesebuah tempat nan indah jika bisa sampai disana ketika Senja tiba.
-SKIP-
Di tepi Pantai Ngrumput. Aku dan Ratna berdiri memandang indahnya Matahari yang akan tenggelam. Tersungging senyum tipis dari bibir Ratna. Ahhhh.. akhirnya senyum lagi kan.
Belum tau Pantai Ngrumput? Jalan aja dari Pantai Drini kearah Timur, nanti pasti ketemu. Pantainya cukup sepi dan Natural. Memang tempat wisata anti Mainstream. Gak tau Pantai Drini?? Pura-pura tau aja deh ya? TS bingung ngejelasinnya

“Aaaaaaaaaaahhhhhhhkkkkk....” aku berteriak kearah laut luas sambil mengangkat kedua tangan. Saking senangnya melihat kanvas luas bernama langit yang dilukis oleh Tuhan.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhkkkkk.......” Ratna ikut teriak.
“hahhaha.hahaha,haaa” kami saling menatap dan tertawa bersama. Walau tidak ada yang lucu. Mungkin karena tertawa senang.
“keatas yuk?”
“kemana?”
“udah ikut aja Na.” Ku pegang tangan Ratna agar mengikutiku.
Dan sampailah kami disebuah bukit bernama Kosakora. Asli!!!! Ini viewnya edun banget.
“Baru kali ini liat pemandangan indah kyak gini Bi. Makasih ya.”
“hehe iya.”
Krik..krikk.kriik
Dudukk berdua berlawanan arah dengan posisi punggung kami saling menempel.
Kami sibuk memandangi indahnya senja sampai tak keluar satu patah katapun dari mulut kami. Hingga akhirnya...
“Bi...”
“hmmm.”
“maaf ya.”
“maaf apaan Na???”
“maaf karena aku cinta kamu.”
Aku diam tak menjawab.
“aku tau masih ada Tika dihati kamu. Dan gak akan pernah hilang.”
“Na....”
“Na...maaf.” aku mengubah posisi dudukku dan kini kami berdua duduk berdampingan memandang kedepan.
“maaf udah bikin kamu nunggu selama ini. Aku juga cinta kamu.” Kataku sambil memegang tangan kirinya.
Dag..dig..dug jantungku berdegup kencang. Nafasku berhenti sejenak karena mengatakan sebuah kalimat yang menurutku tak kalah sakral dengan ijab qobul. Matanya memandang kearahku, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan padanya. Isak tangis diiringi aliran peluh dipipinya semakin bertambah frekuensi produksinya. Ratna memelukku erat dan akupun membalas pelukannya. Walaupun ada beberapa anak muda disekitarku, aku tak peduli mereka berpikir apa. Yang penting kan gak mesum
(Saran : jangan sekali-kali mesum di pantai Selatan ya
)“makasih Bi.”
“uaaaa uaaa huaaaa... huhu” buseeett nangisnya tambah kenceng. Ratne menangis didadaku. Ku tengok kanan dan kiri, semua orang melihatku dengan tatapan curiga. Seakan menganggap diriku adalah pria tidak bertanggung jawab yang telah menghamili si cewek yang sekarang sedang menangis keras di dadaku.
“Pulang yuk Na? Udah hampir maghrib.” Aku berdiri dari tempatku, mengulurkan tangan kearahnya supaya Ratna bisa dengan mudah beranjak.
“iiihhh kok manggil nama sih?, kan udah pacaran” lengan atasku jadi samsak.
“hhehe terus apaan dong?”
“sayang atau apa gitu ih.” Cemberut sambil melipat tangan di dadanya.
“hehe iya sayang, yuk pulang?”
Kamipun pulang, dengan wajah berseri-seri. Gembira. Sumringah, entahlah bercampur aduk. Aku anggap diriku sudah berhasil melupakan Tika.
Perjalanan pulang lumayan lama, karena harus melewati beribu-ribu kelokan. Dan jalanan pun sedikit gelap karena minim lampu penerangan di kiri dan kanan.
-SKIP-
Aku pun sampai di rumah Ratna setelah berkali-kali dia menunjukkan jalan kearah yang benar. Lumyan jauh dari rumahku.
“mampir dulu sini.”
“gak ah Na udah malem hehhe.”
Raut wajah Ratna langsung berubah.
“manggil apa barusan?” Mata Ratna langung melotot.
“ohh hehe maap maap belum biasa, sayaaaaaang.” Jawabku nyengir kuda.
“Yaudah sampe rumah sms ya sayang?”
“iya, heehe.”
Ratna kembali mengeluarkan jurusnya, tatapan sayu mirip2 bikips yang sering ditonton Dodi dikelas. Akkkk aku gak tahan. Kedua mata kami saling menatap.. Dan...
“EHMMM.” Suara bapak-bapak dari arah teras rumah Ratna.
Kami berdua menoleh kearah sumber suara dan ternyata,
“ehh bapak kirain belom pulang.” Ucap Ratna gugup.
“kamu ini aneh tho nduk, ini kan hari minggu ya bapak dirumah aja tho.”
Sekilas tentang Bapaknya Ratna, panggil aja Pak Fuad (samaran). Doi ini guru Matematika di sekolahku. Dulu waktu kelas 1 sempat diajar oleh beliau. Pembawaannya lumayan mengasikkan, tidak tegang. Malah banyak murid yang menjadi suka dengan matematika jika yang mengajar adalah Pak Fuad.
“Suruh masuk tho nduk temen kamu itu.”
“iya pak, ayo sayang masuk.” Kata Ratna padaku bisik-bisik. Cuma pas di kata ‘sayang’ aja dia bisiknya.
Dan terpaksa aku masuk. Aku sekarang duduk di ruang tamu, didepanku ada Ratna dan Pak Fuad. Walaupun aku sering bertemu beliau di sekolah, tapi rasanya canggung banget sekarang. Mungkin karena sekarang aku berada dirumahnya dan status anakanya yang sekarang menjadi pacarku. Tanpa sepengetahuannya.
“Kamu Tobi ya kelas 11 IPA 1??” tanya Pak Fuad memecah kesunyian. Kulihat sedikit Ratna malah senyum2 melihatku yang sedang salah tingkah.
“i..i..iya Pak. Kok bapak bisa tau kelas saya?” basa basi.
“yaaa bapak taulah, kan kamu murid terpandai bapak waktu kelas 1 dulu.” Jawab Pak Fuad bangga.
“ahh bapak bisa aja,” mungkin wajahku jadi merah saat itu. Entah tersipu karena dipuji, atau malu sama Bapak pacar sekaligus guru sekolahku.
“gimana sekolah kamu?”
“lancar pak.”
“belajar yang bener ya, pacaran boleh asal sekolah kamu ndak terganggu.” Waaaakk!!!! Belum apa-apa udah bisa tau kalo aku dan Ratna pacaran.
Aku hanya tersenyum renyah mendengar sindirannya. Ratna hanya senyum-senyum melihatku.
“Yaudah Bapak kedalem dulu ya. Ratna, itu Tobi bikinin minum kasian keringetan gitu.” Sindir Pak Fuad. Lalu beliau masuk kedalam rumah.
Huhuuu suka banget sih nyindir orang.
“mau minum apa Yang?” tanya Ratna.
“aku langsung pulang aja Na...eh Yang.” Jawabku.
“hmmm”
“heheh udah malem Yang, gak enak ah sama tetangga.”
Setelah lama berdebat (hehe) akhirnya aku diijinkan pulang.
“ati-ati” Ratna melambaikan tangan padaku.
“iya.”
Brmmmmmm.... motor pun ku pacu menuju Home Sweet Home.
-Bersambung-
JabLai cOY dan fabillillah memberi reputasi
3