- Beranda
- Stories from the Heart
Tanaka, Aku Padamu!!!
...
TS
Wah Cantiknya
Tanaka, Aku Padamu!!!
Quote:
WARNING!!!Cerita yang ada dalam thread ini adalah fiksi semua. Jadi gue saranin supaya kalian bacanya jangan terlalu baper.

Kalo gag sibuk, cerita bisa TS update setiap hari, kalo sibuk ya minimal seminggu sekali insya Allah update.




RULES :
JANGAN NGEFLAME!
JANGAN NGEFLAME!
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Wah Cantiknya 08-02-2017 21:50
anasabila memberi reputasi
1
16.7K
Kutip
124
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Wah Cantiknya
#26
Sepi dan Hampa Tanpanya
Quote:
Pagi ini saat Ayu membuka mata, rasanya ada yg berbeda dirumahnya. Pagi ini terasa sepi, tak seperti biasanya setiap pagi Ayu bangun, Tanaka sudah asik dengan barbelnya diteras rumah. Tanpa sadar Ayu mencari2 keberadaan Tanaka. Dari teras, dapur sampai kamarnya tapi hasilnya nihil.
“Ayu!” Panggil nenek manghampiri Ayu yg sedang terduduk lesu diruang makan.
Ayu menoleh lalu tersenyum. “Iya, nek.. Kenapa?”
“Kamu lagi berantem sama Tanaka? Kok pagi2 buta tadi dia pamit pergi tanpa izin ke kamu?”
Ayu garuk2 kepala, bingung mau jawab apa.
“Jangan membiarkan masalah jadi berlarut2, kalo ada masalah segera diselesaikan, jangan mengambil keputusan disaat marah. Karna saat kita marah, 90% keputusan yg kita ambil adalah berdasarkan emosi.”
Ayu terdiam, kelihatan berpikir mendengar kata2 nenek. Ya, mungkin benar apa kata nenek, Ayu terlalu terbawa emosi sampai mengusir Tanaka pergi dari rumah, tanpa mau menerima penjelasan dari Tanaka.
“Iya, nek.. Nanti aku temuin dia, segera.”
Ayu merangkul sang nenek agar tidak khawatir
“Ya sudah kalau begitu, kamu lebih baik mandi terus sarapan sana.” Nenek berlalu pergi ke halaman depan untuk menyiram bunga.
Ayu mengangguk pelan. Dalam hatinya berpikir, bagaimana caranya dia bisa menghubungi Tanaka, bahkan nomor hpnya pun tak aktif. Ya, selama disini juga nomornya jarang diaktifkan, kecuali pada jam2 tertentu. Ah, lagi pula Ayu gengsi kalau harus menelpon duluan, setelah malam kemarin ia marah2, menuding Tanaka ingin membahayakan mereka.
Saat bekerjapun Ayu sedikit tak konsen, sampai harus ditegur oleh koki senior direstorant. Yang ada dipikirannya hanya Tanaka. Dimana dia sekarang? Apa dia makan dengan baik? Apa dia tertangkap musuhnya lalu.. Ahh.. Ayu benar2 ingin tau kabar pria itu.
“Lo kayaknya gag konsen banget kerja, Yu. Ada apa?” Tanya Vina, teman baik Ayu diresto.
Ayu menghela nafas. “Hufftt..”
“Biar gue tebak, pasti ada masalah sama pacar lo yg orang Jepang itu ya?”
Goda Ibu satu anak itu.
“Dia bukan pacar gue. Tapi emang gue lagi ada masalah sama dia.”
“Hmm.. Sudah kuduga.. Ayo cerita ada apa.”
Ayu menghela napas lagi. “Intinya sih dia udah bohongin gue. Dan gue gag suka dibohongin.”
“Bohonginnya atas dasar apa nih? Dia selingkuh atau dia nipu bawa lari uang lo?”
“Dia gag selingkuh, wong dia bukan pacar gue. Dan dia juga gag nipu gue”
“Lha terus kenapa dong lu ngerasa diboongin?”
“Ya intinya dia ketauan boong sama gue tentang beberapa hal, memang secara langsung gue gag dirugiin dalam hal ini. Tapi gue gag terima udah dibohongin, apapun alasannya. Mau karna melindungi kek, jaga perasaan kek.” Jelas Ayu masih agak kesal.
“Hmm.. Gue sih gag ngerti ya inti masalahnya apa, tapi saran gue, selesaikan masalah ini baik2, jangan ambil keputusan disaat marah, karna disaat marah logika kita gag jalan say. Hati kita dikuasai emosi, yg keluar dari mulut kita tuh cuma hal negatif aja, percaya deh. Jangan sampe kita nyesel karna ngikutin emosi.”
Ayu kembali merenungkan kata2 sahabatnya, kata2 yg hampir sama yg diucapkan nenek pagi tadi. Ayu tiba2 rindu pada Tanaka. Biasanya setiap hari mereka bertemu, biasanya setiap hari mereka makan bersama. Ayu hampir setiap menit mengecek ponselnya, berharap ada pesan masuk dari Tanaka, tapi nihil. Sesekali Ayupun mencoba menghubunginya, nomornya tidak aktif.
Saking rindunya yang ada diotak Ayu hanya Tanaka. Melihat pria digerbang restoran berpakaian hitam, Ayu langsung menghambur dengan wajah sumringah.
“Tanaka?” Tanya Ayu senang.
“Ha?”
Kata pria yg ternyata satpam restoran yg hendak pulang.
“Maaf, pak. Kirain temen saya.”
Kata Ayu nyengir
Ayu pergi membawa kecewa. Dimana Tanaka sekarang? Apa mereka tidak akan bisa bertemu lg? Seandainyapun mereka tidak berjodoh, Ayu hanya berharap perpisahan mereka bisa menjadi kenangan yg indah, bukan disertai kesalah pahaman seperti ini.
Dirumahpun Ayu jadi tak bersemangat. Setiap pulang kerja hanya mengurung diri dikamar, mendengarkan lagu dari laptopnya dan sesekali mengecek ponselnya yang masih sepi bak kuburan.
Sejak Tanaka pergi dari rumah, sejak saat itulah Ayu jadi lebih sering curhat pada Vina, sahabatnya diresto. Kadang Ayu lupa makan karna keasikan curhat. Selama Tanaka belum kembali, mungkin selama itu pula Ayu akan dilanda kegalauan.
“Lo bilang dia bukan pacar lo, tapi lo kayaknya kehilangan banget dia pergi.” Kata Vina
Mereka sedang ngobrol diruang loker.
“Gag kok. Gimana ya.. Gue cuma ngerasa bersalah aja karena udah marah2 sama dia.” Elak Ayu
“Halah, gag usah ngeles lo, Yu. Gue tau banget mana tatapan orang yang emang lagi jatuh cinta.”
“Dih, sotoy banget deh lo.”
“Gag usah pura2 lo, tar nyesel.” Canda Vina seraya bangkit dari kursinya.
“Yu, ada yang nyariin tuh diparkiran.” Kata seorang koki pria yg melintas.
Ayu sumringah, ia menduga yang datang adalah Tanaka. Ia pun segera berlari ke parkiran. Namun, ternyata yang datang adalah Ester dan anak perempuannya (istri dan anak Bram, mantan pacar Ayu). Perasaan Ayu langsung tak enak saat itu juga.
“Ada apa ?” Tanya Ayu malas2n.
Ester tanpa bicara langsung maju dan menampar pipi Ayu. “PLAKK!”
Ayu kaget bukan main. Ujung bibirnya berdarah terkena gelang emas yg dipergelangan tangan Ester, Ayu menahan sakit dan berusaha mengontrol emosinya.
“Lo kenapa? Dateng2 langsung nampar orang? Waras lo?” Tanya Ayu ketus.
Anak Ester yang masih berusia 4 tahun hanya plangak plongok melihat dua wanita dewasa dihadapannya bertengkar.
“Jangan ganggu suami orang, dasar wanita jalang!” Sentak Ester mulai menangis.
“Astaga Ester.. Gue dari kemaren ketemu lo, gue jaga emosi gue karna ada anak lo yg masih kecil, gue gag mau ngomong kasar didepan anak kecil. Tapi ibu kandungnya sendiri malah ngeluarin kata2 kotor.”
“Gag usah banyak omong lo! Lo liat gag sih gue lagi hamil tua, tega lo ya mau rebut suami gue, apa lo mau bales dendam karna dulu gue ambil Bram dari lo, iya!?”
Ayu tertawa sinis. “Maksud lo apa sih? Gue? Mau rebut si Bram dari lo?” Tanya Ayu bingung.
Keributan itu mulai menarik perhatian pengunjung yang baru datang diparkiran.
“Bram, kemarin minta cerai sama gue! Karna dia mau nikah sama lo! Lo gag usah pura2 bodoh deh, Yu!” Ester mendorong tubuh Ayu hingga hampir terjatuh. Ayu hampir saja emosi ingin membalasnya, tapi ia ingat Ester adalah seorang ibu yang sedang hamil dan juga membawa anak perempuannya yang masih kecil.
Ayu menghela nafas. “Itu kata dia, bukan kata gue kan? Apa lo selalu menelan mentah2 omongan orang lain? Gag pernah disaring dulu? Gag pernah dicari kebenerannya dulu?”
Mendengar jawaban Ayu, bukannya Tenang, Ester malah semakin marah, ia langsung menjambak rambut Ayu yang terkuncir rapi. Tapi Ayu sekuat tenaga tidak melawan, ia hanya melakukan pertahanan diri dengan menutupi wajahnya menggunakan telapak tangannya agar tidak terkena cakaran wanita yang seperti orang kesetanan itu. Ia sadar ia sekarang sedang berada ditempat kerja dan lagi Ayu tak ingin menyakiti anak Ester dengan menyakiti ibunya, baik itu anak perempuannya ataupun anak yg masih didalam kandungannya
“Dasar perempuan sialan! Perempuan baik! Mati aja lo! Biar Bram gag lagi inget sama lo.” Ester mencekik leher Ayu. Ayu sekuat tenaga melepaskan cengkraman Ester, namun sulit. Ester yang dilanda emosi, mengeluarkan tenaga seperti monster yang sedang mengamuk.
Orang2 mulai ramai jadi penonton. Beberapa berusaha melepaskan Ayu dari cengkraman Ester. Untunglah dibantu oleh beberapa pengunjung pria dan satpam restoran, mereka berhasil dipisahkan, kalau tidak mungkin Ayu sudah lewat.”
“Uhuk.. Uhukk.. Uhukk..” Ayu terbatuk2 mengatur napasnya. “Ester, lo boleh mencintai seseorang dengan sepenuh hati lo, tapi lo jangan jadi orang bodoh.”
“Gag usah lo nasehatin gue!” Sentak Ester
“Asal lo tau ya. Selama 4 tahun ini gue gag pernah gubris pesan atau telepon dari Bram. Karna gue menghargai pernikahan kalian. Gue menghargai anak kalian. Ya, kemarin gue memang ketemu sama Bram, tapi itu untuk membuat Bram berhenti nyari gue! Terserah lo mau percaya atau nggak! Itu pilihan lo!"
Ester terdiam. Air mata mengalir deras dipipinya. Anak perempuannya terlihat bingung melihat ibubya menangis.
"Harusnya gag perlu begini, Ester."
Sadar sudah menjadi tontonan banyak orang. Ayu memilih pergi dari sana dan buru2 masuk kedalam resto. Tinggal menghitung waktu saja sampai Ayu mendapat surat peringatan dari bosnya atas keributan siang ini.
“Ayu!” Panggil nenek manghampiri Ayu yg sedang terduduk lesu diruang makan.
Ayu menoleh lalu tersenyum. “Iya, nek.. Kenapa?”
“Kamu lagi berantem sama Tanaka? Kok pagi2 buta tadi dia pamit pergi tanpa izin ke kamu?”
Ayu garuk2 kepala, bingung mau jawab apa.
“Jangan membiarkan masalah jadi berlarut2, kalo ada masalah segera diselesaikan, jangan mengambil keputusan disaat marah. Karna saat kita marah, 90% keputusan yg kita ambil adalah berdasarkan emosi.”
Ayu terdiam, kelihatan berpikir mendengar kata2 nenek. Ya, mungkin benar apa kata nenek, Ayu terlalu terbawa emosi sampai mengusir Tanaka pergi dari rumah, tanpa mau menerima penjelasan dari Tanaka.
“Iya, nek.. Nanti aku temuin dia, segera.”
Ayu merangkul sang nenek agar tidak khawatir“Ya sudah kalau begitu, kamu lebih baik mandi terus sarapan sana.” Nenek berlalu pergi ke halaman depan untuk menyiram bunga.
Ayu mengangguk pelan. Dalam hatinya berpikir, bagaimana caranya dia bisa menghubungi Tanaka, bahkan nomor hpnya pun tak aktif. Ya, selama disini juga nomornya jarang diaktifkan, kecuali pada jam2 tertentu. Ah, lagi pula Ayu gengsi kalau harus menelpon duluan, setelah malam kemarin ia marah2, menuding Tanaka ingin membahayakan mereka.
Saat bekerjapun Ayu sedikit tak konsen, sampai harus ditegur oleh koki senior direstorant. Yang ada dipikirannya hanya Tanaka. Dimana dia sekarang? Apa dia makan dengan baik? Apa dia tertangkap musuhnya lalu.. Ahh.. Ayu benar2 ingin tau kabar pria itu.
“Lo kayaknya gag konsen banget kerja, Yu. Ada apa?” Tanya Vina, teman baik Ayu diresto.
Ayu menghela nafas. “Hufftt..”
“Biar gue tebak, pasti ada masalah sama pacar lo yg orang Jepang itu ya?”
Goda Ibu satu anak itu.“Dia bukan pacar gue. Tapi emang gue lagi ada masalah sama dia.”
“Hmm.. Sudah kuduga.. Ayo cerita ada apa.”
Ayu menghela napas lagi. “Intinya sih dia udah bohongin gue. Dan gue gag suka dibohongin.”
“Bohonginnya atas dasar apa nih? Dia selingkuh atau dia nipu bawa lari uang lo?”
“Dia gag selingkuh, wong dia bukan pacar gue. Dan dia juga gag nipu gue”

“Lha terus kenapa dong lu ngerasa diboongin?”
“Ya intinya dia ketauan boong sama gue tentang beberapa hal, memang secara langsung gue gag dirugiin dalam hal ini. Tapi gue gag terima udah dibohongin, apapun alasannya. Mau karna melindungi kek, jaga perasaan kek.” Jelas Ayu masih agak kesal.
“Hmm.. Gue sih gag ngerti ya inti masalahnya apa, tapi saran gue, selesaikan masalah ini baik2, jangan ambil keputusan disaat marah, karna disaat marah logika kita gag jalan say. Hati kita dikuasai emosi, yg keluar dari mulut kita tuh cuma hal negatif aja, percaya deh. Jangan sampe kita nyesel karna ngikutin emosi.”
Ayu kembali merenungkan kata2 sahabatnya, kata2 yg hampir sama yg diucapkan nenek pagi tadi. Ayu tiba2 rindu pada Tanaka. Biasanya setiap hari mereka bertemu, biasanya setiap hari mereka makan bersama. Ayu hampir setiap menit mengecek ponselnya, berharap ada pesan masuk dari Tanaka, tapi nihil. Sesekali Ayupun mencoba menghubunginya, nomornya tidak aktif.
Saking rindunya yang ada diotak Ayu hanya Tanaka. Melihat pria digerbang restoran berpakaian hitam, Ayu langsung menghambur dengan wajah sumringah.
“Tanaka?” Tanya Ayu senang.
“Ha?”
Kata pria yg ternyata satpam restoran yg hendak pulang.“Maaf, pak. Kirain temen saya.”
Kata Ayu nyengirAyu pergi membawa kecewa. Dimana Tanaka sekarang? Apa mereka tidak akan bisa bertemu lg? Seandainyapun mereka tidak berjodoh, Ayu hanya berharap perpisahan mereka bisa menjadi kenangan yg indah, bukan disertai kesalah pahaman seperti ini.
Dirumahpun Ayu jadi tak bersemangat. Setiap pulang kerja hanya mengurung diri dikamar, mendengarkan lagu dari laptopnya dan sesekali mengecek ponselnya yang masih sepi bak kuburan.
Sejak Tanaka pergi dari rumah, sejak saat itulah Ayu jadi lebih sering curhat pada Vina, sahabatnya diresto. Kadang Ayu lupa makan karna keasikan curhat. Selama Tanaka belum kembali, mungkin selama itu pula Ayu akan dilanda kegalauan.
“Lo bilang dia bukan pacar lo, tapi lo kayaknya kehilangan banget dia pergi.” Kata Vina
Mereka sedang ngobrol diruang loker.
“Gag kok. Gimana ya.. Gue cuma ngerasa bersalah aja karena udah marah2 sama dia.” Elak Ayu
“Halah, gag usah ngeles lo, Yu. Gue tau banget mana tatapan orang yang emang lagi jatuh cinta.”

“Dih, sotoy banget deh lo.”

“Gag usah pura2 lo, tar nyesel.” Canda Vina seraya bangkit dari kursinya.
“Yu, ada yang nyariin tuh diparkiran.” Kata seorang koki pria yg melintas.
Ayu sumringah, ia menduga yang datang adalah Tanaka. Ia pun segera berlari ke parkiran. Namun, ternyata yang datang adalah Ester dan anak perempuannya (istri dan anak Bram, mantan pacar Ayu). Perasaan Ayu langsung tak enak saat itu juga.
“Ada apa ?” Tanya Ayu malas2n.
Ester tanpa bicara langsung maju dan menampar pipi Ayu. “PLAKK!”
Ayu kaget bukan main. Ujung bibirnya berdarah terkena gelang emas yg dipergelangan tangan Ester, Ayu menahan sakit dan berusaha mengontrol emosinya.
“Lo kenapa? Dateng2 langsung nampar orang? Waras lo?” Tanya Ayu ketus.
Anak Ester yang masih berusia 4 tahun hanya plangak plongok melihat dua wanita dewasa dihadapannya bertengkar.
“Jangan ganggu suami orang, dasar wanita jalang!” Sentak Ester mulai menangis.
“Astaga Ester.. Gue dari kemaren ketemu lo, gue jaga emosi gue karna ada anak lo yg masih kecil, gue gag mau ngomong kasar didepan anak kecil. Tapi ibu kandungnya sendiri malah ngeluarin kata2 kotor.”
“Gag usah banyak omong lo! Lo liat gag sih gue lagi hamil tua, tega lo ya mau rebut suami gue, apa lo mau bales dendam karna dulu gue ambil Bram dari lo, iya!?”
Ayu tertawa sinis. “Maksud lo apa sih? Gue? Mau rebut si Bram dari lo?” Tanya Ayu bingung.
Keributan itu mulai menarik perhatian pengunjung yang baru datang diparkiran.
“Bram, kemarin minta cerai sama gue! Karna dia mau nikah sama lo! Lo gag usah pura2 bodoh deh, Yu!” Ester mendorong tubuh Ayu hingga hampir terjatuh. Ayu hampir saja emosi ingin membalasnya, tapi ia ingat Ester adalah seorang ibu yang sedang hamil dan juga membawa anak perempuannya yang masih kecil.
Ayu menghela nafas. “Itu kata dia, bukan kata gue kan? Apa lo selalu menelan mentah2 omongan orang lain? Gag pernah disaring dulu? Gag pernah dicari kebenerannya dulu?”
Mendengar jawaban Ayu, bukannya Tenang, Ester malah semakin marah, ia langsung menjambak rambut Ayu yang terkuncir rapi. Tapi Ayu sekuat tenaga tidak melawan, ia hanya melakukan pertahanan diri dengan menutupi wajahnya menggunakan telapak tangannya agar tidak terkena cakaran wanita yang seperti orang kesetanan itu. Ia sadar ia sekarang sedang berada ditempat kerja dan lagi Ayu tak ingin menyakiti anak Ester dengan menyakiti ibunya, baik itu anak perempuannya ataupun anak yg masih didalam kandungannya
“Dasar perempuan sialan! Perempuan baik! Mati aja lo! Biar Bram gag lagi inget sama lo.” Ester mencekik leher Ayu. Ayu sekuat tenaga melepaskan cengkraman Ester, namun sulit. Ester yang dilanda emosi, mengeluarkan tenaga seperti monster yang sedang mengamuk.
Orang2 mulai ramai jadi penonton. Beberapa berusaha melepaskan Ayu dari cengkraman Ester. Untunglah dibantu oleh beberapa pengunjung pria dan satpam restoran, mereka berhasil dipisahkan, kalau tidak mungkin Ayu sudah lewat.”
“Uhuk.. Uhukk.. Uhukk..” Ayu terbatuk2 mengatur napasnya. “Ester, lo boleh mencintai seseorang dengan sepenuh hati lo, tapi lo jangan jadi orang bodoh.”
“Gag usah lo nasehatin gue!” Sentak Ester
“Asal lo tau ya. Selama 4 tahun ini gue gag pernah gubris pesan atau telepon dari Bram. Karna gue menghargai pernikahan kalian. Gue menghargai anak kalian. Ya, kemarin gue memang ketemu sama Bram, tapi itu untuk membuat Bram berhenti nyari gue! Terserah lo mau percaya atau nggak! Itu pilihan lo!"
Ester terdiam. Air mata mengalir deras dipipinya. Anak perempuannya terlihat bingung melihat ibubya menangis.
"Harusnya gag perlu begini, Ester."

Sadar sudah menjadi tontonan banyak orang. Ayu memilih pergi dari sana dan buru2 masuk kedalam resto. Tinggal menghitung waktu saja sampai Ayu mendapat surat peringatan dari bosnya atas keributan siang ini.
Diubah oleh Wah Cantiknya 05-07-2016 11:23
0
Kutip
Balas