- Beranda
- Stories from the Heart
Punya Banyak Mantan Kekasih = Murahan? (from woman side)
...
TS
lovelymbekmpus
Punya Banyak Mantan Kekasih = Murahan? (from woman side)
Hai Kaskusers..
Ane newbie banget ini, setelah sekian lama jadi SR (dengan akun lain), akhirnya kali ini ane beraniin diri buat ceritain pengalaman ane, terutama dalam berhubungan dengan lawan jenis (baca: kekasih).
Perkenalkan, sebut saja ane Kirana. Usia 26 tahun, sudah lulus kuliah, sekarang sedang meniti bisnis dengan (calon) suami. Berhubung akhir tahun ini ane mau menikah, tiba-tiba ane inget janji ke diri sendiri, bahwasanya "sebelum menikah, kita selesaikan dulu urusan kita dengan mantan masing-masing". Calon suami ane pun setuju - setelah berdebat lama soal ini tentunya. Bagi dia, urusan dengan mantan cukuplah sampai di situ saja, sementara bagi ane gak bisa, harus diselesaikan sampai tuntas jadi silaturahimnya terjaga.
Ane pernah nonton film Barat (lupa judulnya) yang berkesimpulan bahwa "your ex is your very-best friend ever, actually". Secara dia yang udah kenal kita, tau banget siapa kita, bahkan TERKADANG lebih kenal sama kita dibanding diri kita sendiri. Jujur sampai detik ini dari sekian deretan mantan pacar ane, masih berhubungan baik dengan ane dan keluarga. Cuma ada 2 yang kabarnya gak jelas, dan status keihklasannya masih ane pertanyakan.
Buat ane, urusan kayak gini sangat mengganjal. Baik itu hati, pikiran, perasaan.. yang akhirnya juga mempengaruhi keberuntungan ane di dunia nyata. Banyak hal yang saat ini masih terganjal, misal kelapangan hati orang tua kami (calon mertua doang sih sebenernya), kondisi keuangan kami yang mepet, beberapa urusan kecil yang makin hari makin aneh dan bersifat mengganggu kelancaran persiapan kami... Semua itu ane yakini disebabkan oleh ada salah satu pintu rejeki yang masih belum pas bukaannya, mungkin dari silaturahim dengan teman dan mantan. Ane bukan orang suci, begitupun calon suami. Kami punya banyak salah, entah itu disengaja atau tidak. Gak sedikit juga yang menyimpan dendam atau maaf yang mereka berikan gak begitu tulus ikhlas lahir batin, alias cuma di mulut aja. Maka dari itu ane membuat misi ini dengan calon suami.
Ngomongin soal mantan kekasih, ane dengan calon suami punya cerita dan pengalaman berbeda. Yang bakal ane beberin di SFTH ini cuma yang dari sisi ane aja ya.. Terkait jumlahnya, bagaimana pengalaman ane dengan mereka, hikmah apa aja yang bisa ane ambil dari beberapa kejadian, dan soal bagaimana persepsi masyarakat pada umumnya terhadap wanita yang punya banyak mantan pacar, kenapa? karena ini sempat sangat mengganggu kehidupan ane di RL.
Semoga para reader semua bisa membimbing dan bekerjasama dengan ane demi kelangsungan thread ini sampai endingnya nanti
RULES:
- Ngikut rule yang berlaku di KASKUS dan SFTH aja deh ya..
- Kepo silakan PM tapi jangan dibocorin.
- Dilarang OOT.
NB:
- Ane update sekali sehari kalo selo banget, paling telat sekali dalam dua hari.
- Semua tokoh dan tempat ane samarkan jauh-jauh. Jadi gak usah ngabisin tenaga dan pikiran untuk nebak yaa..
- Ini real story, ditambah bumbu penyedap biar enak dibaca dan ane ceritakan bergaya cerita untuk anak muda.
Enjoy
INDEKS
1. Permainan Dimulai
2. It's Time to War!
3. Definisi Pertama tentang Pacaran
4. Mimpikah?
5. Mengapa Tuhan Memilihkanmu Untukku?
6. Moving
7. Babak Baru
8. Are You Kidding Me?
9. Hilangnya Harapan
10. Menanti Cahaya
11. Lelaki Ketiga
12. Apa yang Aku Tak Tahu
13. Lelaki Cadangan
14.Renungan
15. Perpisahan Kedua
16. Titipan
17. Bila Aku Harus Tanpamu
18. Pahit -- UPDATED
Ane newbie banget ini, setelah sekian lama jadi SR (dengan akun lain), akhirnya kali ini ane beraniin diri buat ceritain pengalaman ane, terutama dalam berhubungan dengan lawan jenis (baca: kekasih).
Perkenalkan, sebut saja ane Kirana. Usia 26 tahun, sudah lulus kuliah, sekarang sedang meniti bisnis dengan (calon) suami. Berhubung akhir tahun ini ane mau menikah, tiba-tiba ane inget janji ke diri sendiri, bahwasanya "sebelum menikah, kita selesaikan dulu urusan kita dengan mantan masing-masing". Calon suami ane pun setuju - setelah berdebat lama soal ini tentunya. Bagi dia, urusan dengan mantan cukuplah sampai di situ saja, sementara bagi ane gak bisa, harus diselesaikan sampai tuntas jadi silaturahimnya terjaga.
Ane pernah nonton film Barat (lupa judulnya) yang berkesimpulan bahwa "your ex is your very-best friend ever, actually". Secara dia yang udah kenal kita, tau banget siapa kita, bahkan TERKADANG lebih kenal sama kita dibanding diri kita sendiri. Jujur sampai detik ini dari sekian deretan mantan pacar ane, masih berhubungan baik dengan ane dan keluarga. Cuma ada 2 yang kabarnya gak jelas, dan status keihklasannya masih ane pertanyakan.
Buat ane, urusan kayak gini sangat mengganjal. Baik itu hati, pikiran, perasaan.. yang akhirnya juga mempengaruhi keberuntungan ane di dunia nyata. Banyak hal yang saat ini masih terganjal, misal kelapangan hati orang tua kami (calon mertua doang sih sebenernya), kondisi keuangan kami yang mepet, beberapa urusan kecil yang makin hari makin aneh dan bersifat mengganggu kelancaran persiapan kami... Semua itu ane yakini disebabkan oleh ada salah satu pintu rejeki yang masih belum pas bukaannya, mungkin dari silaturahim dengan teman dan mantan. Ane bukan orang suci, begitupun calon suami. Kami punya banyak salah, entah itu disengaja atau tidak. Gak sedikit juga yang menyimpan dendam atau maaf yang mereka berikan gak begitu tulus ikhlas lahir batin, alias cuma di mulut aja. Maka dari itu ane membuat misi ini dengan calon suami.
Ngomongin soal mantan kekasih, ane dengan calon suami punya cerita dan pengalaman berbeda. Yang bakal ane beberin di SFTH ini cuma yang dari sisi ane aja ya.. Terkait jumlahnya, bagaimana pengalaman ane dengan mereka, hikmah apa aja yang bisa ane ambil dari beberapa kejadian, dan soal bagaimana persepsi masyarakat pada umumnya terhadap wanita yang punya banyak mantan pacar, kenapa? karena ini sempat sangat mengganggu kehidupan ane di RL.
Semoga para reader semua bisa membimbing dan bekerjasama dengan ane demi kelangsungan thread ini sampai endingnya nanti
RULES:
- Ngikut rule yang berlaku di KASKUS dan SFTH aja deh ya..
- Kepo silakan PM tapi jangan dibocorin.
- Dilarang OOT.
NB:
- Ane update sekali sehari kalo selo banget, paling telat sekali dalam dua hari.
- Semua tokoh dan tempat ane samarkan jauh-jauh. Jadi gak usah ngabisin tenaga dan pikiran untuk nebak yaa..
- Ini real story, ditambah bumbu penyedap biar enak dibaca dan ane ceritakan bergaya cerita untuk anak muda.
Enjoy
INDEKS
1. Permainan Dimulai
2. It's Time to War!
3. Definisi Pertama tentang Pacaran
4. Mimpikah?
5. Mengapa Tuhan Memilihkanmu Untukku?
6. Moving
7. Babak Baru
8. Are You Kidding Me?
9. Hilangnya Harapan
10. Menanti Cahaya
11. Lelaki Ketiga
12. Apa yang Aku Tak Tahu
13. Lelaki Cadangan
14.Renungan
15. Perpisahan Kedua
16. Titipan
17. Bila Aku Harus Tanpamu
18. Pahit -- UPDATED
Diubah oleh lovelymbekmpus 27-08-2016 16:52
anasabila memberi reputasi
1
12.4K
56
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
lovelymbekmpus
#28
5. Mengapa Tuhan Memilihkanmu Untukku?
Hari ini seleksi untuk lomba pidato tiga bahasa, dan sesuai jadwal Bahasa Inggris yang diseleksi duluan. Seleksi diadakan di aula sekolah ane. Oiya, sekolahku (yang cewek) punya sebutan Angel, mungkin karena semua penghuninya berparas jelita berhati selembut kapas bak malaikat kali ya. 
Ternyata banyak juga yang dipanggil untuk ikut seleksi ini. Utusan dari Zordon ada 10 orang, dari Angel 7 orang. Yang paling banyak dipanggil adalah kandidat Bahasa Indonesia, salah satunya juga Sam. Sementara sainganku di Bahasa Inggris ada Kak Rere dari kelas 3 A Angel, Kak Insan dari kelas 2 B Zordon, dan... eh serius? Ternyata si gembul juga jadi sainganku! Dan ternyata lagi dia seangkatan sama aku, dia anak kelas 1 A Zordon. Ummm.. Anak pintar rupanya, tapi masa kalah sih sama aku di rangking paralelnya.
(congkak banget ane waktu itu!)
Para kandidat Bahasa Inggris mulai bersiap-siap di barisan meja yang ada di samping panggung. Kandidat dari bahasa lain dengan santai menonton kami dari depan. Sheila sudah mulai mencak-mencak menyemangatiku. Seleksi ini dinilai oleh 3 juri: guru Bahasa Inggris SMP, guru Bahasa Inggris SMA, dan salah satu guru besar yayasan sekolah kami yang jago banget Bahasa Inggris-nya.
Kak Rere maju pertama. Urusan maju ini gak ada ketentuannya, kami bebas memilih urutan penampilan kami. Dalam seleksi ini, kami masih diperbolehkan membaca naskah pidatonya. Aku memilih maju ketiga, daripada terakhir malah jadi pusat perhatian anak-anak, lebih aman di tengah, lagi pas mereka bosen-bosennya kan. Aku emang cerdik.
Kak Insan maju kedua, dan dia terlihat kurang pede karena penampilan Kak Rere sebelumnya. Ternyata Kak Rere ini tahun lalu ada di posisi cadangan untuk lomba di SMA X, jadi itu artinya dia menempati juara 2 di seleksi seperti ini. Kak Insan terdengar terbata-bata dalam membaca naskah, dan suaranya tidak begitu jelas terdengar. Sangat berbeda dengan Kak Rere yang juga melakukan kontak mata dengan para hadirin, dan terlihat sangat menguasai materi pidatonya.
Tibalah giliranku. Aku melangkah ke tengah panggung dan menatap seluruh hadirin sambil tersenyum. Aku ingat pesan Kak Fahri, aku gak boleh takut atau minder dengan sainganku, yang penting aku harus melakukan yang terbaik, tidak peduli apapun hasilnya nanti, kalaupun aku berhasil itu adalah bonus dari usahaku. Memang 2 hari kemarin Kak Fahri membantuku mempelajari naskah pidato yang panjangnya 4 lembar dan tulisannya kecil-kecil nan rapat itu. Aku liat judulnya aja udah ngantuk!
Kata demi kata meluncur dari mulutku dengan lancar tanpa ada kendala. Suaraku juga terdengar jelas, meski tidak selantang Kak Rere. Terlihat para juri tersenyum sambil mengangguk-angguk. Begitu aku selesai membacakan pidato tersebut, aku sempat melirik Eja yang sedang bersiap di tepi panggung. Ia hanya bermuka masam penuh dendam, muak banget aku ngeliatnya. Geng kami yang lagi di depan sana apa kabar? Mereka bersorak-sorai kegirangan meneriakkan namaku. Aku malu banget waktu itu, gak biasa dibegituin sih aku.
Aku turun panggung dengan langkah ringan. Ah yang penting aku udah berusaha yang terbaik, apapun hasilnya biarlah Tuhan dan para juri yang menentukan, meskipun aku sadar peluangku untuk lolos sangat besar, mengingat penampilan Kak Insan yang tidak begitu maksimal tadi. Nanti hanya soal urutannya saja. Aku sih yakin Kak Rere yang maju untuk di SMA X, tinggal aku sama si Eja aja yang bersaing memperebutkan posisi kedua yang honorable untuk siswa kelas 1 seperti kami ini.
Eja mulai membacakan pidatonya. Ia juga tampil maksimal, aku gak bohong ataupun dengki ya sama dia, jujur aku sempat takut dikalahkan dia, ternyata Bahasa Inggrisnya fasih, bahkan lebih keren dariku. Yaiyalah, orang aku cuma belajar Bahasa Inggris dari lagu sama film doang, gak pernah les. Ini juga berkat diajarin Kak Fahri, mentok udah segini.
Saat Eja turun panggung, ia melirikku sambil tersenyum licik. Waaah aku langsung kepancing jadinya. Dalam hati aku ngebatin, liat aja lo gembul, kaga bakal bisa lo ngalahin gue (sambil berwajah kejam ala sinetron)
Daaaan.. tak lama guru besar yayasan naik panggung untuk mengumumkan hasilnya. Ane yang duduk bareng Nian, Itun dan Sheila, deg-degan abis! Dari kejauhan tampak Kak Fahri berdiri di dekat pintu aula, dan pandangan kami bertemu. Ia mengangguk sambil tersenyum padaku, dan aku membalas dengan bermuka memelas ke arahnya.
Serentak seisi gedung bergemuruh. Teman-temanku bersorak-sorai gembira, Nian memelukku sambil memukul punggungku (sial, tangannya Nian sih kurus kering, berasa ditusuk-tusuk pisau itu punggung ane!
), Itun dan Sheila berpelukan sambil lompat kegirangan. Kakak kelas jutek yang tadi melototin Sheila pun ikut larut dalam kegembiraan kami.
Aku mencari sosok Kak Fahri melalui pandangan. Dia masih berdiri di sana dan mengacungkan dua jempol tangannya padaku sambil tersenyum lebar. Terlihat Ayub pun ada di sana dan menyalami Kak Fahri, entah sambil ngomong apa. Kak Fahri lalu memberi isyarat untuk bertemu di Gaza.
Eja apa kabar? Dia menatapku dengan penuh kebencian, yang langsung diredam oleh Kak Dion. Sam menghampiriku dan menyalamiku erat-erat sambil bercerita betapa ia puas melihatku masih bisa menang dari Eja.
Skip, yang di Gaza ketemuan sama Kak Fahri juga skip, karena standar aja.
Berhari-hari kemudian aku, Kak Rere dan Eja berlatih di ruangan guru besar yayasan yang jadi juri itu. Namanya Bu Hani. Beliau sangat ramah dan baik, selalu menyuguhkan kami makanan dan minuman yang banyak dan enak.
Maklum, anak asrama biasanya makanannya itu lagi itu lagi, gak jauh-jauh dari sop sayur, lauk yang digoreng, atau oseng-oseng, atau kalo mau bervariasi dikit ya mi instan.
Kami berlatih di sana setelah selesai jam sekolah, kira-kira mulai jam 3 sampai jam 5. Begituuu terus setiap hari. Yang kami lakukan di sana adalah mempelajari naskah pidatonya secara detail, melatih pengucapannya mulai pronunciation sampai intonasinya, serta melatih penampilan kami.
Karena latihannya setiap hari non stop, gak ada liburnya, otomatis aku juga jadi jarang banget ketemu Kak Fahri. Kadang Kak Fahri nyempetin ikut bolos biar bisa ketemu denganku di Jalur Gaza, tapi terus kuomelin, masa gara-gara aku Kak Fahri jadi ketularan bolosan. Padahal Kak Fahri terkenal disiplin dan rajin sekolah.
Dan seperti yang bisa kalian tebak, setiap hari itu pula aku harus ketemu si gembul Eja. Ketebak banget ya arah ceritanya kalo sampe di sini? Entar hubunganku dengan Kak Fahri merenggang perlahan tapi pasti, terus aku damai dan jadi suka-sukaan sama Eja... Hahahaha tenang Sodara-sodara, aku gak segampang itu kok pindah ke lain hati.
Hubunganku dan Kak Fahri baik-baik saja, bahkan terlalu baik-baik saja. Dia selalu jadi tempat sampah bagiku, karena setiap kali ketemu (padahal cuma bentar) aku sibuk nyerocos perihal kelakuannya Eja saat latihan. Nah ini nih, kebencian Eja padaku semakin menjadi-jadi. Ia lalu berani mengkonfrontasiku di depan Kak Rere dan Bu Hani, dan ujung-ujungnya kami bertengkar sampai Bu Hani turun tangan mendamaikan kami.
Sampai pada hari itu, 2 hari sebelum hari perlombaan di SMA X dan SMA Y. Kami sedang istirahat setelah berlatih untuk hari tersebut. Eja tiba-tiba duduk di hadapanku, sementara Kak Rere ikut ke dapur untuk membantu Bu Hani menyiapkan makanan.
Skip, karena waktu itu kami makan doang, trus Bu Hani ngasih wejangan standar buat persiapan lomba lusa, besok kami libur latihan, disuruh istirahat total biar kondisinya prima di hari H.
Di hari perlombaan, aku dan Kak Rere berangkat ke SMA X dengan Bu Hani, dan Eja ke SMA Y dengan guru Bahasa Inggris SMP. Di rombongan yang ke SMA X, Nian dan Sheila ikutan, sementara Itun ikut ke SMA Y. Lalu skip aja ya, pas lomba gak ada yang seru kecuali kami jajan sepuasnya di sana, karena jajanannya beda sama yang ada di kantin sekolah kami.
Menjelang sore, kami menunggu pengumuman perlombaan. Guru yang mendampingi siswa di SMA Y mengabarkan pada Bu Hani bahwa sekolah kami kembali menjadi juara umum di perlombaan tersebut. Itu artinya ketiga utusan dari sekolah kami menang semua juara 1. Eh, Eja juga dong berarti? Ah dia tetep gak bisa congkak, skala perlombaan di SMA Y kan lebih kecil dibanding di SMA X.
Kira-kira 1 jam kemudian, rombongan yang dari SMA Y menyusul kami ke SMA X, juga ada Kepala Sekolah kami. Beliau berkata bahwa setelah pengumuman di SMA X ini kami akan diajak makan malam bersama di salah satu rumah makan bergengsi di kota ini. Aku, Nian, Sheila dan Itun mencak-mencak kegirangan. Begitu nikmat hidup kami bulan ini.
Aku duduk di kursi paling ujung, biar jauh-jauh sama Eja. Eh ternyata entah gimanalah caranya, dia duduk di hadapanku, persis! Nian ngikik, Sheila hidungnya mulai kembang-kempis menertawakanku, Itun pura-pura tenang, padahal aku tau dia setengah mati menahan tawanya.
Tak banyak yang terjadi saat itu, yang pasti nafsu makanku yang tadinya menggebu-gebu, gara-gara ada si Eja ini aku jadi bete. Ya makan sih tetep makan, tapi terasa hambar, padahal semuanya enak.
Ah, Tuhan, mengapa Engkau memilihkan makhluk ini untuk merusak ketenangan hidupku?

Ternyata banyak juga yang dipanggil untuk ikut seleksi ini. Utusan dari Zordon ada 10 orang, dari Angel 7 orang. Yang paling banyak dipanggil adalah kandidat Bahasa Indonesia, salah satunya juga Sam. Sementara sainganku di Bahasa Inggris ada Kak Rere dari kelas 3 A Angel, Kak Insan dari kelas 2 B Zordon, dan... eh serius? Ternyata si gembul juga jadi sainganku! Dan ternyata lagi dia seangkatan sama aku, dia anak kelas 1 A Zordon. Ummm.. Anak pintar rupanya, tapi masa kalah sih sama aku di rangking paralelnya.
(congkak banget ane waktu itu!)Para kandidat Bahasa Inggris mulai bersiap-siap di barisan meja yang ada di samping panggung. Kandidat dari bahasa lain dengan santai menonton kami dari depan. Sheila sudah mulai mencak-mencak menyemangatiku. Seleksi ini dinilai oleh 3 juri: guru Bahasa Inggris SMP, guru Bahasa Inggris SMA, dan salah satu guru besar yayasan sekolah kami yang jago banget Bahasa Inggris-nya.
Kak Rere maju pertama. Urusan maju ini gak ada ketentuannya, kami bebas memilih urutan penampilan kami. Dalam seleksi ini, kami masih diperbolehkan membaca naskah pidatonya. Aku memilih maju ketiga, daripada terakhir malah jadi pusat perhatian anak-anak, lebih aman di tengah, lagi pas mereka bosen-bosennya kan. Aku emang cerdik.

Kak Insan maju kedua, dan dia terlihat kurang pede karena penampilan Kak Rere sebelumnya. Ternyata Kak Rere ini tahun lalu ada di posisi cadangan untuk lomba di SMA X, jadi itu artinya dia menempati juara 2 di seleksi seperti ini. Kak Insan terdengar terbata-bata dalam membaca naskah, dan suaranya tidak begitu jelas terdengar. Sangat berbeda dengan Kak Rere yang juga melakukan kontak mata dengan para hadirin, dan terlihat sangat menguasai materi pidatonya.
Tibalah giliranku. Aku melangkah ke tengah panggung dan menatap seluruh hadirin sambil tersenyum. Aku ingat pesan Kak Fahri, aku gak boleh takut atau minder dengan sainganku, yang penting aku harus melakukan yang terbaik, tidak peduli apapun hasilnya nanti, kalaupun aku berhasil itu adalah bonus dari usahaku. Memang 2 hari kemarin Kak Fahri membantuku mempelajari naskah pidato yang panjangnya 4 lembar dan tulisannya kecil-kecil nan rapat itu. Aku liat judulnya aja udah ngantuk!

Kata demi kata meluncur dari mulutku dengan lancar tanpa ada kendala. Suaraku juga terdengar jelas, meski tidak selantang Kak Rere. Terlihat para juri tersenyum sambil mengangguk-angguk. Begitu aku selesai membacakan pidato tersebut, aku sempat melirik Eja yang sedang bersiap di tepi panggung. Ia hanya bermuka masam penuh dendam, muak banget aku ngeliatnya. Geng kami yang lagi di depan sana apa kabar? Mereka bersorak-sorai kegirangan meneriakkan namaku. Aku malu banget waktu itu, gak biasa dibegituin sih aku.

Aku turun panggung dengan langkah ringan. Ah yang penting aku udah berusaha yang terbaik, apapun hasilnya biarlah Tuhan dan para juri yang menentukan, meskipun aku sadar peluangku untuk lolos sangat besar, mengingat penampilan Kak Insan yang tidak begitu maksimal tadi. Nanti hanya soal urutannya saja. Aku sih yakin Kak Rere yang maju untuk di SMA X, tinggal aku sama si Eja aja yang bersaing memperebutkan posisi kedua yang honorable untuk siswa kelas 1 seperti kami ini.
Eja mulai membacakan pidatonya. Ia juga tampil maksimal, aku gak bohong ataupun dengki ya sama dia, jujur aku sempat takut dikalahkan dia, ternyata Bahasa Inggrisnya fasih, bahkan lebih keren dariku. Yaiyalah, orang aku cuma belajar Bahasa Inggris dari lagu sama film doang, gak pernah les. Ini juga berkat diajarin Kak Fahri, mentok udah segini.
Saat Eja turun panggung, ia melirikku sambil tersenyum licik. Waaah aku langsung kepancing jadinya. Dalam hati aku ngebatin, liat aja lo gembul, kaga bakal bisa lo ngalahin gue (sambil berwajah kejam ala sinetron)

Daaaan.. tak lama guru besar yayasan naik panggung untuk mengumumkan hasilnya. Ane yang duduk bareng Nian, Itun dan Sheila, deg-degan abis! Dari kejauhan tampak Kak Fahri berdiri di dekat pintu aula, dan pandangan kami bertemu. Ia mengangguk sambil tersenyum padaku, dan aku membalas dengan bermuka memelas ke arahnya.

Quote:
Serentak seisi gedung bergemuruh. Teman-temanku bersorak-sorai gembira, Nian memelukku sambil memukul punggungku (sial, tangannya Nian sih kurus kering, berasa ditusuk-tusuk pisau itu punggung ane!
), Itun dan Sheila berpelukan sambil lompat kegirangan. Kakak kelas jutek yang tadi melototin Sheila pun ikut larut dalam kegembiraan kami.Aku mencari sosok Kak Fahri melalui pandangan. Dia masih berdiri di sana dan mengacungkan dua jempol tangannya padaku sambil tersenyum lebar. Terlihat Ayub pun ada di sana dan menyalami Kak Fahri, entah sambil ngomong apa. Kak Fahri lalu memberi isyarat untuk bertemu di Gaza.
Eja apa kabar? Dia menatapku dengan penuh kebencian, yang langsung diredam oleh Kak Dion. Sam menghampiriku dan menyalamiku erat-erat sambil bercerita betapa ia puas melihatku masih bisa menang dari Eja.
Skip, yang di Gaza ketemuan sama Kak Fahri juga skip, karena standar aja.

Berhari-hari kemudian aku, Kak Rere dan Eja berlatih di ruangan guru besar yayasan yang jadi juri itu. Namanya Bu Hani. Beliau sangat ramah dan baik, selalu menyuguhkan kami makanan dan minuman yang banyak dan enak.
Maklum, anak asrama biasanya makanannya itu lagi itu lagi, gak jauh-jauh dari sop sayur, lauk yang digoreng, atau oseng-oseng, atau kalo mau bervariasi dikit ya mi instan.
Kami berlatih di sana setelah selesai jam sekolah, kira-kira mulai jam 3 sampai jam 5. Begituuu terus setiap hari. Yang kami lakukan di sana adalah mempelajari naskah pidatonya secara detail, melatih pengucapannya mulai pronunciation sampai intonasinya, serta melatih penampilan kami.Karena latihannya setiap hari non stop, gak ada liburnya, otomatis aku juga jadi jarang banget ketemu Kak Fahri. Kadang Kak Fahri nyempetin ikut bolos biar bisa ketemu denganku di Jalur Gaza, tapi terus kuomelin, masa gara-gara aku Kak Fahri jadi ketularan bolosan. Padahal Kak Fahri terkenal disiplin dan rajin sekolah.

Dan seperti yang bisa kalian tebak, setiap hari itu pula aku harus ketemu si gembul Eja. Ketebak banget ya arah ceritanya kalo sampe di sini? Entar hubunganku dengan Kak Fahri merenggang perlahan tapi pasti, terus aku damai dan jadi suka-sukaan sama Eja... Hahahaha tenang Sodara-sodara, aku gak segampang itu kok pindah ke lain hati.
Hubunganku dan Kak Fahri baik-baik saja, bahkan terlalu baik-baik saja. Dia selalu jadi tempat sampah bagiku, karena setiap kali ketemu (padahal cuma bentar) aku sibuk nyerocos perihal kelakuannya Eja saat latihan. Nah ini nih, kebencian Eja padaku semakin menjadi-jadi. Ia lalu berani mengkonfrontasiku di depan Kak Rere dan Bu Hani, dan ujung-ujungnya kami bertengkar sampai Bu Hani turun tangan mendamaikan kami.

Sampai pada hari itu, 2 hari sebelum hari perlombaan di SMA X dan SMA Y. Kami sedang istirahat setelah berlatih untuk hari tersebut. Eja tiba-tiba duduk di hadapanku, sementara Kak Rere ikut ke dapur untuk membantu Bu Hani menyiapkan makanan.
Quote:
Skip, karena waktu itu kami makan doang, trus Bu Hani ngasih wejangan standar buat persiapan lomba lusa, besok kami libur latihan, disuruh istirahat total biar kondisinya prima di hari H.
Di hari perlombaan, aku dan Kak Rere berangkat ke SMA X dengan Bu Hani, dan Eja ke SMA Y dengan guru Bahasa Inggris SMP. Di rombongan yang ke SMA X, Nian dan Sheila ikutan, sementara Itun ikut ke SMA Y. Lalu skip aja ya, pas lomba gak ada yang seru kecuali kami jajan sepuasnya di sana, karena jajanannya beda sama yang ada di kantin sekolah kami.

Menjelang sore, kami menunggu pengumuman perlombaan. Guru yang mendampingi siswa di SMA Y mengabarkan pada Bu Hani bahwa sekolah kami kembali menjadi juara umum di perlombaan tersebut. Itu artinya ketiga utusan dari sekolah kami menang semua juara 1. Eh, Eja juga dong berarti? Ah dia tetep gak bisa congkak, skala perlombaan di SMA Y kan lebih kecil dibanding di SMA X.
Kira-kira 1 jam kemudian, rombongan yang dari SMA Y menyusul kami ke SMA X, juga ada Kepala Sekolah kami. Beliau berkata bahwa setelah pengumuman di SMA X ini kami akan diajak makan malam bersama di salah satu rumah makan bergengsi di kota ini. Aku, Nian, Sheila dan Itun mencak-mencak kegirangan. Begitu nikmat hidup kami bulan ini.

Aku duduk di kursi paling ujung, biar jauh-jauh sama Eja. Eh ternyata entah gimanalah caranya, dia duduk di hadapanku, persis! Nian ngikik, Sheila hidungnya mulai kembang-kempis menertawakanku, Itun pura-pura tenang, padahal aku tau dia setengah mati menahan tawanya.
Tak banyak yang terjadi saat itu, yang pasti nafsu makanku yang tadinya menggebu-gebu, gara-gara ada si Eja ini aku jadi bete. Ya makan sih tetep makan, tapi terasa hambar, padahal semuanya enak.

Ah, Tuhan, mengapa Engkau memilihkan makhluk ini untuk merusak ketenangan hidupku?

Diubah oleh lovelymbekmpus 09-07-2016 16:36
0