- Beranda
- Stories from the Heart
Legend of Seal Online {The Prologue}
...
TS
dragonregure
Legend of Seal Online {The Prologue}
Sebelumnya salam buat all Kaskuser, ane newbie yang hanya ingin meng-share cerita Asli karangan ane 100% 
Cerita ini terinspirasi dari salah satu game Online kesayangan ane dahulu, sekarang udah engga soalnya cheat dimana-mana

Seal Online Indonesia
Ya itu nama game yang sukses ngebuat TS menjadi seorang gamers
Maaf ya kalau Thread TS engga sengaja melanggar Rules mohon di tegur krn TS baru disini
Cerita ini hanya 100% karangan TS dan fiksi belaka, mohon maaf apabila tidak sesuai dengan story di game nya. Emang sengaja dibikin beda dengan aslinya (Story digamenya
)
dan buat kaskuser lainnya mohon patuhi Rules STFH sebelum post
Chapter 1: Woke Up
Chapter 2: Titan Skull
Chapter 3: Elme
Chapter 4: Shiltz
Chapter 5: Thousand Years
Chapter 6: Oracle
Chapter 7: Man With No Magic
Chapter 8: Destinied Showdown
Chapter 9: Dragon's Pupil
Chapter 10: 251
Chapter 11: Deadly Friday
Chapter 12: CamaPro
Chapter 13: Captain Jay
Chapter 14: Captain Jay?!
Chapter 15: Captain Jay?! 2
Chapter 16: Jikael Dual Blade
Chapter 17: Training!
Oh iya sekarang sudah ada Side Storynya loh!
Legend of Seal Online {Ryankakku}
Jika berkenan


Cerita ini terinspirasi dari salah satu game Online kesayangan ane dahulu, sekarang udah engga soalnya cheat dimana-mana

Seal Online Indonesia
Ya itu nama game yang sukses ngebuat TS menjadi seorang gamers

Spoiler for Sebelum Baca, Baca ini dulu gan!:
Maaf ya kalau Thread TS engga sengaja melanggar Rules mohon di tegur krn TS baru disini

Cerita ini hanya 100% karangan TS dan fiksi belaka, mohon maaf apabila tidak sesuai dengan story di game nya. Emang sengaja dibikin beda dengan aslinya (Story digamenya
)dan buat kaskuser lainnya mohon patuhi Rules STFH sebelum post
Spoiler for Indeks:
Chapter 1: Woke Up
Chapter 2: Titan Skull
Chapter 3: Elme
Chapter 4: Shiltz
Chapter 5: Thousand Years
Chapter 6: Oracle
Chapter 7: Man With No Magic
Chapter 8: Destinied Showdown
Chapter 9: Dragon's Pupil
Chapter 10: 251
Chapter 11: Deadly Friday
Chapter 12: CamaPro
Chapter 13: Captain Jay
Chapter 14: Captain Jay?!
Chapter 15: Captain Jay?! 2
Chapter 16: Jikael Dual Blade
Chapter 17: Training!
Oh iya sekarang sudah ada Side Storynya loh!
Legend of Seal Online {Ryankakku}
Jika berkenan
Quote:

Diubah oleh dragonregure 24-10-2017 12:12
anasabila memberi reputasi
1
17.5K
Kutip
109
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dragonregure
#62
Sorry ya gan agak lama, lebaran makin deket ane makin sibuk 
Plus baru kena PHP kayaknya ane, ane ga yakin soalnya ga pernah kena sebelumnya wakakaak..
Rasanya gini ya? Sakit perih gatenang gimana gitu
Eh malah curhat wkwkw
Great City of Elim, sebuah kota raksasa yang namanya diambil dari dewa pelindung Shiltz yakni para Elim. Kota ini dikelilingi oleh tembok-tembok raksasa sehingga orang yang melihat dari luar hanya akan membayangkan bagaimana isi dan bentuk kota. Lain hal nya apabila dilihat dari sisi dalam, kota yang penuh dengan warna dan tidak mengenal malam. Semua makhluk dari penjuru Shiltz berada dalam kota ini tanpa melihat Status Sosial, Gender, Class, atau Ras.
Istana yang berada dibagian utara kota menambah kesan besarnya kota ini, istana tersebut ditinggali oleh keturunan ke lima belas dari Raja Arus, yakni Ratu Veurish yang juga merupakan bangsa Forest Elf.
Dua puluh kilometer dari istana terdapat Alun-alun kota dan juga Colosseum, tempat para pejuang bertarung hingga tetes darah terakhir untuk berbagai macam tujuan, Kebanggaan, Cinta, Uang, atau bahkan hanya untuk bersenang-senang. Colloseum tidak pernah sepi pengunjung, terutama pada Minggu sore ini, dua petarung yang dianggap orang terkuat dalam dunia Shiltz sekarang akan saling berhadapan dalam permainan Deatmatch one on one. Sehingga Elim dibuka untuk pengunjung dari seluruh Shiltz, namun pengamanan Elim bukanlah sesuatu yang harus dipertanyakan, sebuah ungkapan:
"Elim the Guardian of Shiltz"
Bukan hanya sebuah ungkapan.
Bagaimana tidak, di Elim lah tiga pelatihan Class utama berada. Priest, Mage, dan Holy Knight, tiga tempat pelatihan ini membuat Elim menjadi salah satu kota dengan pengamanan terketat di Shiltz
Siang itu tidak seperti siang di hari minggu biasanya, para Bangsawan dan konglomerat semakin memadati kota, merek datang bukan untuk menghambur-hamburkan uang seperti biasanya tetapi hanya untuk bertaruh kepada Jim sang Jendral tertiggi dari Holy Knight. Seluruh Bar dalam kota pun penuh sesak dengan orang-orang yang sudah tidak mendapatkan tiket untuk menonton langsung atau memang tidak mempunyai uang untuk membeli tiket. Mereka tidak berhenti berdebat mangadu kekuatan dari jagoan masing-masing.
**********************************************************************************************************
Jim menatap dirinya didalam cermin, ia melihat luka panjang mulai dari bahu kiri ke pinggang kanannya. Ia masih sangat ingat siapa yang memberinya dan menyembuhkan luka itu. Ia mendapatkan luka itu dari ayunan pedang yang katanya hanya berada dalam legenda, ia tidak akan lupa pedang itu, sebuah pedang besar dengan warna biru tua dan terdapat ukiran emas pada mata pedangnya. Dan Will tidak pernah berhenti memikirkannya setiap malam sejak ia siuman di Temple of Priestess dua tahun lalu.
Jim mulai mengenakan pakaiannya, bersiap untuk duel yang dinantikan oleh semua orang sejak satu bulan yang lalu.
"Tuan, Armor anda telah siap." Ucap seorang pelayan yang baru saja datang dengan mengetuk pintu.
Jim bergidik.
"Tinggalkan saja disitu, biarkan aku sendiri yang memakainya" Balas Jim datar.
"Baik Tuan." Ucap pelayan itu, ia menunduk rendah dan berlalu pergi.
Jim menatap armornya, armor itu sudah melindunginya selama bertahun-tahun dan pernah gagal melindunginya ketika peperangan Ryaakakku.
Jim mendekati helm armor tersebut.
"Jangan menyalahkan dirimu Astreus, kau sudah melakukan yang terbaik." Bisiknya kepada armor berwarna merah menyala yang ada didepannya.
"Kebiasaan lama tidak bisa hilang?" Celetuk seseorang dari arah pintu.
Jim terkejut, ia berbalik dan mendapatkan seorang Forest Elf bersandar di bingkai pintu kamarnya dan tersenyum kearahnya.
"Ya.. Yang Mulia!" Ucap Jim Refleks dan segera berlutut melihat Elf tersebut.
"Tidak perlu berlutut Jim, bangun dan lanjutkan persiapanmu." Ucap Sang Ratu dan berjalan dengan anggun mendekatinya.
Jim terlihat sangat gugup saat bangun, ia terus menunduk, mengambil Celana Armornya dan mulai memakainya namun ia menjaga kepalanya agar menunduk. Sesekali tangannya licin dan tak sengaja melepaskan Armornya membuat armor itu terjatuh dan menimbulkan suara yang amat berisik.
Sang Ratu cekikikan melihat tingkah Jim salah memasang Armor Boots nya terbalik. "Apakah kehadiranku mengganggu mu, Jim?"
Wajah Jim merah padam mendengar itu, konsentrasinya benar-benar buyar sehingga ia sulit mengeratkan pengaman pada Armor Bajunya
"Ti.. Tidak Yang Mulia, hany-"
Elf itu berjalan cepat kearahnya dengan wajah cemberut dan pipi yang sengaja dikembungkan, ia menepis tangan Jim yang sedang sibuk mengencangkan pengaman Armornya, Elf cantik itu menarik kuat pengaman Armor Jim sehingga membuat Jim kesulitan bernafas.
"Ouch.. Yang Mulia.. Apa kata-kataku ada yang menyinggung And- Ouch!" Ucap Jim dengan bersusah payah.
Si Elf tidak menjawab, ia justru mengikatnya lebih kuat dan semakin menggembungkan pipinya.
"Sudah kubilang, panggil namaku jika hanya ada kita berdua!" Oceh si Elf kesal.
Sekarang Jim mengerti kenapa Ratu Elf yang ada didepannya ini begitu kesal.
"Maafkan aku Veur, tapi kita berada dalam istana, bisa saja seseorang mendengar kita." Balas Jim.
Mendengar namanya diucap, Veurish menahan tawa dan membetulkan pengaman Jim yang terlalu ketat.
"Aku lebih menyukai sikapmu terhadapku ketika aku masih seorang Putri, bukan Ratu.."
Setelah pengamannya terpasang sempurna, tangan lentik Elf itu tidak berpindah dari dada bidang Jim. Ia memegang bahu kiri Jim dan dengan pelan mengusap-usap melalui dadanya.
"Aku tau luka ini masih sakit.." Lanjut Veurish dengan nada yang sedih.
"Tidak Veur, tidak sedikitpun"
Veurish terdiam, ia melihat kearah Jim, tinggi Jim yang mencapai dua meter membuat Seorang Forest Elf pun harus mendongak keatas. Mata mereka saling bertemu dan Jim segera mengalihkan pandangannya kearah lain, ia tidak akan bisa menahan rasa kagumnya pada Elf yang ada didepannya. Mata Veurish yang biru terang membuat Jim seperti berada dalam Air yang sangat Jernih, rambut panjang lurus dan berwarna kuning keemasan mempunyai wangi ciri khas yang sangat disukai oleh Jim, kulit putih dan bentuk tubuh sempurna untuk seukuran seorang wanita membuat Jim sangat ingin menjaganya dari seluruh bahaya yang mengancam.
"Bukan luka luar Jim." Ucap Veurish pelan. "Kau tidak bisa menyalahkankan dirimu selamanya.. Itu bukan sepenuhnya salahmu.."
Mata mereka kembali bertemu, raut wajah Jim berubah sangat sedih.
"Tidak apa Jim, tidak perlu menanggung semua ini sendirian.." Lanjut Veurish.
Veurish berjalan mengambil Armor yang tersisa yaitu Helm of Astreus dan kembali kearah Jim, ia berjinjit berusaha memasangkan Helm tersebut kepada pria setinggi dua meter. Jim sedikit tersenyum melihat usahanya dan segera sedikit berlutut sehingga jarak antara wajah mereka hanya beberapa senti. Wajah mereka berdua sama-sama memerah ketika sadar mata mereka saling bertemu, Jim segera menutup matanya agar matanya tidak tergores saat mengenakan Helm nya.
Veurish menjatuhkan helm tersebut, ia justru memeluk leher Jim dan menariknya hingga bibir mereka saling bertemu. Jim terkejut dengan serangan mendadak itu, ia membuka mata dan mendapatkan Elf yang ia kagumi itu memejamkan mata sedang menikmati apa yang ia lakukan. Jim ingin segera mendorong Veurish agar menghentikannya, tapi ia sangat takut menyentuh tubuh orang yang selama ini ia jaga.
Setelah beberapa detik, akhirnya Veurish melepaskan kecupannya. Namun jarak mereka masih tidak berubah.
"Kau seharusnya tidak melakukan itu Veur, aku adalah First Knight mu.. Terlebih kita berada dalam Istana.."
Veur melepaskan pelukannya, ia berbalik memunggung Jim.
"Kau tau bagaimana perasaanku selama ini. Aku tidak memintamu untuk menang, aku hanya ingin kau kembali tersenyum dan selalu baik-baik saja.. Seperti Jim yang kukenal dulu.. Orang yang akan kau lawan adalah orang yang membunuh Ayahku dan Juga Paman Aiqtiham, dan juga dia hampir membunuhmu. Kumohon jagalah dirimu."
Veur berjalan pelan menuju pintu hendak pergi meninggalkan Jim.
"Veur.." Celetuk Jim tiba-tiba.
"Dan dia juga seorang sahabat yang luarbiasa.."
**********************************************************************************************************
Sore itu alun-alun kota sangat padat, orang-orang berusaha masuk kedalam Colosseum yang sudah melebihi batas maksimal. Colosseum pun tak jauh berbeda dari alun-alun kota, para penonton sibuk mencari kursi yang masih bersisa, terkadang ada perkelahian kecil demi mendapat sebuah kursi. Tak sedikit para petarung tangguh sudah siap untuk menyaksikan pertarungan kedua monster Shiltz.
Di sisi dalam tribun terdapat kursi yang agak sedikit lebih tinggi dari tempat duduk lainnya, kursi itu dikhususkan untuk para Raja-raja dari berbagai belahan Dunia Shiltz beserta para Knight-knightnya. terlihat Veurish sudah duduk disalah satu kursi tersebut ditemani oleh seorang knight dengan setelah Armor of Daylight, terkadang ia berdiri hanya untuk memberi hormat kepada Raja yang lewat dan menyapanya. Veurish mengenakan Gaun berwarna Merah Delima yang sesuai dengan Mahkota yang ia pakai, terdapat simbol aneh tertulis di Mahkotanya.
Colosseum itu berbentuk Oval raksasa yang diperkirakan luasnya mencapai sepuluh ribu meter persegi dengan daya tampung penonton seratus ribu orang. Tembok-tembok bagian dalam Colosseum dihiasi dengan pintu-pintu yang tertutup oleh pagar tempat para petarung memasuki arena. Diatas setiap pintu itu terdapat simbol yang sama seperti pada Mahkota Veurish.
Para penonton bersorak ketika salah satu pintu terbuka dan General dari Holy Knight keluar melalui pintu itu. Ia berjalan menuju pertengahan Colosseum dan melihat kearah kursi para Raja, ia melihat Veurish dan menunduk dengan maksud memberi hormat padanya. Veurish tersenyum dan balas penghormatannya kepada sang General.
Colosseum seketika sunyi saat salah satu pintu Colosseum mulai terbuka, pintu itu berbeda dari pintu yang lainnya, terdapat tiga simbol berbeda diatas pintu tersebut. Dari pintu tersebut keluar seorang pria dengan tangan terbelenggu dan hanya memakai celana pendek berwarna hitam, ia dikawal oleh dua orang bertubuh besar. Terlihat luka disekujur tubuhnya menggambarkan siksaan yang telah ia dapatkan, tak sedikit luka-luka itu terlihat yang masih baru. Sesekali ia ditendang oleh pengawalnya agar dapat berjalan lebih cepat.
"Mati saja kau pengkhianat!"
"Kujamin sang General akan mencabikmu perlahan-lahan!"
"Semoga dosamu akan menarikmu keneraka!"
Tak henti-hentinya para penonton mencemooh laki-laki tersebut sampai pada akhirnya mereka berhenti saat Second Knight Veurish menaikan tangannya.
"William the Kings Slayer! Engkau disini karena kemurahan hati para Elim!" Ucap Second Knight Veurish dengan lantang. "Sebutkan peralatan yang akan engkau gunakan! Selama peralatan tersebut dapat Istana penuhi kami akan memberikannya padamu untuk menyelesaikan pertarungan suci ini!"
"UWOOOOOOOOOOOOOOOOOOOGHHHHH!!!!!!!!" Raung Will tiba-tiba.
Raungannya begitu besar mengerikan sehingga menggema kesuluruh Colosseum dan membuat para penonton terdiam.
Will mengalihkan pandangannya ketempat para Raja dan berhenti saat melihat Ratu Elim. Ia kemudian mengangkat tangannya membentuk pose casting magic circle. Para knight refleks maju kedepan masing-masing tuan mereka berharap monster itu tidak menyerang tuannya.
"Hey Veuriiiiiiiish! Lama tak jumpa! Dua tahun ya? Hahahahahaha! Aku tadi sedikit mengantuk, maaf jika aku mengagetkanmu! Hahaha!" Celetuk Will sambil menggoyang-goyangkan tangannya yang ia angkat tadi.
Semua orang Colosseum tertegun melihat aksinya itu.
"Ah! Teman macam apa aku ini? Jim! Tentu saja! Hey kawan! Lama tak berjumpa!" Lanjut Will yang tiba-tiba mengalihkan pandangan kepada Jim.
Will maju menawarkkan pelukan dengan dadanya yang penuh luka. Namun Jim segera mengangkat Pedangnya.
"Selangkah lagi, akan kupenggal kepalamu" Ancamnya
"Woah.. Begitukah caramu memperlakukan seorang teman? Hey ini aku Will! Dua tahum tak bertemu tak kusangka kau sedingin ini!" Jawab Will dengan sedikit tertawa.
"Yang perlu kau lakukan adalah menjawab pertanyaan dari Istana, maka aku akan menganggapmu sebagai lawan yang setara"
Will terdiam, raut wajahnya berubah menjadi sangat serius.
"Hey Mogdoon, perjanjiannya masih sama kan?"
"Ya, kau pilih peralatan, setiap peralatan yang diberi akan menambah waktu pertarungan sebanyak satu jam." Ucap Second Knight yang bernama Mogdoon.
"Lalu, aku hanya harus bertahan hidup sampai waktu itu habis kan?" Lanjut Will
"Kebebasan akan diberikan kepadamu jika kau berhasil seperti yang dijanjikan."
Will tersenyum puas.
"Aku hanya membutuhkan dua hal. Cape pemberian Guruku sebagai pakaian tambahan dan Pedang milik Guruku, Great Sword of Gaia."
Mendengar itu para penonton kembali meneriaki Will.
"Manusia rendahan! Kau harusnya malu!"
"Semoga Elim dapat mengampunimu!"
Mogdoon menoleh kepada Veur menunggu persetujuannya. Veur mengangguk kecil menyutujui permintaan Will, ia tidak bisa berbohong kalau benda-benda yang Will minta berada ditangan Holy Knights.
Belenggu pada Will tiba-tiba menghilang dengan sendirinya. Dua orang Knight masuk Arena Colosseum dengan membawa dua peralatan yang Will minta. Will segera memakai Capenya dan mengambil pedang yang dulu adalah milik gurunya. Cape itu berwarna hitam gelap dengan Lambang Naga berwarna emas dipunggung Cape tersebut. Pedangnya pun berwarna hitam dengan ukiran emas berbunyi.
"Ynag HulHur der Gaia"
Will kembali menghadap Jim dengan GS of Gaia dipundaknya.
"Hey Jim! Sedikit berawan(Cloud y) ya hari ini?" Tanya Will
"Awan-awan itu akan menjadi saksi pertarungan kita hari ini." Balas Jim datar.
Will kembali tersenyum.
"Hey Jim! Coba liat pakaianku sekarang.. Aku seperti seorang Superman, mempunyai Jubah dan hanya memakai Dalaman! Hahahaha!"
"Bagaimana kalau kita mulai saja?"
"Aku telah memulainya Jim, bahkan sebelum kau menyadarinya."
Jim terkejut melihat Will sudah sangat dekat dengan ujung mata pedang Gaia mengarah kewajahnya. Dengan cepat Jim menaikan Astreus Shield untuk berlindung dan memukul ketas serangan dari Will. Tabrakan antara dua pedang mereka membuat lentingan logam yang sangat keras, membuat GS of Gaia yang Will pegang terlepas dan tertancap dilantai arena beberapa puluh meter dari mereka. Melihat itu Jim tersenyum puas.
"Kau tersenyum Jim? Kau pikir tanpa pedang ku aku kan terbuka?"
Jim langsung menyadari kalau dirinyalah yang sedang terancam dengan tangan kanannya yang sedang terangkat ketas tidak dapat melindungi bagian dada kanannya, mengingat lawannya ini adalah Murid dari seekor Naga.
"Furious Dragon Strike: Seven Lord of Sky."
"Oh tidak.." Ucap Jim mendengar Teknik Will.
Will dengan cepat membentuk kuda-kuda dengan kedua kepalan tangannya berada didepan dada Jim.
Tangan Will melesat kearah mata kanan Jim, dengan sedikit gerakan menghindar, Jim berhasil menghindarinya walaupun sedikit terkena dibagian mata.
"Satu.." Hitung Jim dalam Hati.
Jim berusaha menghindari serangan lanjutan dari Will yang mengarah pada tubuh bagian kirinya, ia berhasil menahan dengan Perisainya.
"Dua.."
"Tiga.."
"Empat.. Sial aku harus menjauh"
"Lima"
Jim terus berusaha agar serangan dari Will tidak mengenainya dengan telak. Serangan dari kaki kiri Cloud nyaris mengenainya.
"Ena-"
"DUAK!!" Pukulan keras dari tangan kanan Will tepat mengenai Helm Will membuat bagian mata dari Helm bengkok dan menghalangi penglihatannya.
"Sial! Tendangan itu tipuan!"
Jim berusaha menyeimbangkan diri dan mencari serangan ketujuh yang paling mematikan dan menemukan kepalan tangan Will sudah menempel di dada Armor Jim dengan kuda-kuda tekniknya yang sempurna.
"BOOOOOM!" Terdengar suara ledakan keras bersamaan terlemparnya Jim sejauh seratus meter dan membentur tembok Colosseum dan membuat tembok tersebut hancur.
Will berjalan pelan kearah pedangnya yang tertancap dan segera menariknya keluar. Terlihat pula Jim yang bangun dari serangan Will dan melepas helmnya yang sudah rusak. Ia berjalan kembali menuju arena tengah.
"Aku lupa betapa sakitnya teknik itu"
"Dan aku juga lupa betapa kerasnya Armor sial itu." Balas Will.
Penonton bersorak melihat kejadian yang sangat cepat tadi.
Will kembali maju kearah Jim
"Deadly Cross!"
Jim memutar pedangnya dan menancapkannya kelantai Arena. Tak berselang beberapa detik, sebuah gempa bumi dahsyat mengguncang Arena.
"Woah!" Will mencoba menghindari retakan-retakan lantai yang mulai tidak rata, dan tanpa ia sadari pedang Jim sudah mengarah tepat padanya dari atas.
"Deadly Crash!"
"DUAR!"
Ledakan besar keluar dari pedang Jim mengenai tepat tubuh atas Will. Ledakan itu menyebabkan kepulan asap hitam pekat dari arah tempat Will, Jim mundur dan berjaga jika sesuatu akan terjadi. Perlahan kepalan asap itu menghilang dan memperlihatkan Will dalam keadaan kulit yang menghitam.
"Wow Jim! Tadi itu panas! Dan kau bisa menggunakan Teknik Destroyer? Wow!" Puji Will kepada Jim.
Darah Jim mendidih, wajahnya menunjukan betapa marahnya ia.
"Hey hey santai sobat, tadi itu benar-benar sakit.."
Jim berlari dengan langkah berat dengan pedang yang terhunus. Tanpa pilihan lain Will meladeninya dan kembali mengayunkan pedang raksasanya. Ayunan pedang Will ditepis oleh Shield Jim. Will segera memutar badannya dan mengayunkannya lagi pada kaki Jim yang terbuka lebar.
"Kena kau!"
"Ancient Paladin Technique: Infinite Shockwave!"
Will terkejut, sesuatu menahan ayunan pedangnya dan menerjangnya dari depan sehingga ia terpental beberapa meter kebelakang. Ketika Will memperbaiki kuda-kudanya, ia semakin terkejut dengan adanya ratusan bola cahaya melayang diseluruh arena Colloseum.
"Judgement? Guilty." Ucap Jim datar dan mengarahkan pedangnya kearah Will
Bola-bola cahaya itu meluncur dengan cepat kearah dimana pedang itu menunjukannya. Dengan gesit, Will menghindari serangan bola cahaya Jim yang tidak terlihat akhirnya. Setiap bola cahaya itu mengenai sesuatu, ia akan menimbulkan ledakan yang cukup menghancurkan.
"DUAR!" Salah satu bola itu terkena kaki Will
Will terjatuh.
"Matilah.." Ucap Jim dingin.
Bola-bola itu tak hentinya meluncur kearah Will selama tiga menit. Penonton pun terdiam melihat peristiwa penyiksaan mengerikan itu. Setelah bola terakhir meledak, hanya tersisa sebuah lubang hitam besar ditengah Colosseum.
Penonton bersorak kegirangan melihat sesuatu yang jarang mereka lihat. Namun sorakan kegembiraan mereka kembali meredup setelah melihat sebuah pergerakan dari lubang hitam besar. Will tebangun dengan susah payah, GS of Gaia yang tadinya hitam, kini nyala redup seolah-olah pedang itu hidup.
"Art of Destructor Dragon Rymos: Repel"
Will meloncat tinggi, dengan menggenggam kedua pedangnya, ia menebas udara. Dari arah tebasan Gaia, keluar bola-bola cahaya persis seperti teknik milik Jim. Jim menyadari apa yang dia hadapai, tekniknya sendiri. Ia segera melindungi dirinya dengan perisai Astreusnya.
Tanpa ampun, Will terus maju dan terus menembakan bola cahaya dari pedangnya. Sedikit demi sedikit Shield Astreus Jim rusak dan melepaskan bongkahan-bongkahan besi merah menyala hingga akhirnya habis tidak bersisa.
"Infinite Guard!"
Bola hijau muncul menyelubungi tubuh Jim dan melindunginya dari serangan Will. Jim sangat terkejut saat menyadari bola cahaya yang ditembakan Will keukatan hancurnya dua kali lebih kuat daripada miliknya sendiri. Serangan Will terhenti bersamaan dengan hilangnya pelindung dari Jim. Mereka berdua saling berpandangan dengan kehabisan Tenaga.
Jim kembali mengangkat pedangnya dengan dua tangan karena perisainya telah hancur. Will menarik pedang Gaia nya dan berlari kearah Jim.
Para penonton tertegun melihat kegigihan mereka berdua.
"WILL!!!!!!!!!!!!" Raung Jim.
"JIM!!!!!!!!!!!!"
NB:
Veurish bacanya: Viris/Vilis ya
Ada komen monggo ditunggu

Plus baru kena PHP kayaknya ane, ane ga yakin soalnya ga pernah kena sebelumnya wakakaak..
Rasanya gini ya? Sakit perih gatenang gimana gitu

Eh malah curhat wkwkw
Quote:
Destinied Showdown
Great City of Elim, sebuah kota raksasa yang namanya diambil dari dewa pelindung Shiltz yakni para Elim. Kota ini dikelilingi oleh tembok-tembok raksasa sehingga orang yang melihat dari luar hanya akan membayangkan bagaimana isi dan bentuk kota. Lain hal nya apabila dilihat dari sisi dalam, kota yang penuh dengan warna dan tidak mengenal malam. Semua makhluk dari penjuru Shiltz berada dalam kota ini tanpa melihat Status Sosial, Gender, Class, atau Ras.
Istana yang berada dibagian utara kota menambah kesan besarnya kota ini, istana tersebut ditinggali oleh keturunan ke lima belas dari Raja Arus, yakni Ratu Veurish yang juga merupakan bangsa Forest Elf.
Dua puluh kilometer dari istana terdapat Alun-alun kota dan juga Colosseum, tempat para pejuang bertarung hingga tetes darah terakhir untuk berbagai macam tujuan, Kebanggaan, Cinta, Uang, atau bahkan hanya untuk bersenang-senang. Colloseum tidak pernah sepi pengunjung, terutama pada Minggu sore ini, dua petarung yang dianggap orang terkuat dalam dunia Shiltz sekarang akan saling berhadapan dalam permainan Deatmatch one on one. Sehingga Elim dibuka untuk pengunjung dari seluruh Shiltz, namun pengamanan Elim bukanlah sesuatu yang harus dipertanyakan, sebuah ungkapan:
"Elim the Guardian of Shiltz"
Bukan hanya sebuah ungkapan.
Bagaimana tidak, di Elim lah tiga pelatihan Class utama berada. Priest, Mage, dan Holy Knight, tiga tempat pelatihan ini membuat Elim menjadi salah satu kota dengan pengamanan terketat di Shiltz
Siang itu tidak seperti siang di hari minggu biasanya, para Bangsawan dan konglomerat semakin memadati kota, merek datang bukan untuk menghambur-hamburkan uang seperti biasanya tetapi hanya untuk bertaruh kepada Jim sang Jendral tertiggi dari Holy Knight. Seluruh Bar dalam kota pun penuh sesak dengan orang-orang yang sudah tidak mendapatkan tiket untuk menonton langsung atau memang tidak mempunyai uang untuk membeli tiket. Mereka tidak berhenti berdebat mangadu kekuatan dari jagoan masing-masing.
**********************************************************************************************************
Jim menatap dirinya didalam cermin, ia melihat luka panjang mulai dari bahu kiri ke pinggang kanannya. Ia masih sangat ingat siapa yang memberinya dan menyembuhkan luka itu. Ia mendapatkan luka itu dari ayunan pedang yang katanya hanya berada dalam legenda, ia tidak akan lupa pedang itu, sebuah pedang besar dengan warna biru tua dan terdapat ukiran emas pada mata pedangnya. Dan Will tidak pernah berhenti memikirkannya setiap malam sejak ia siuman di Temple of Priestess dua tahun lalu.
Jim mulai mengenakan pakaiannya, bersiap untuk duel yang dinantikan oleh semua orang sejak satu bulan yang lalu.
"Tuan, Armor anda telah siap." Ucap seorang pelayan yang baru saja datang dengan mengetuk pintu.
Jim bergidik.
"Tinggalkan saja disitu, biarkan aku sendiri yang memakainya" Balas Jim datar.
"Baik Tuan." Ucap pelayan itu, ia menunduk rendah dan berlalu pergi.
Jim menatap armornya, armor itu sudah melindunginya selama bertahun-tahun dan pernah gagal melindunginya ketika peperangan Ryaakakku.
Jim mendekati helm armor tersebut.
"Jangan menyalahkan dirimu Astreus, kau sudah melakukan yang terbaik." Bisiknya kepada armor berwarna merah menyala yang ada didepannya.
"Kebiasaan lama tidak bisa hilang?" Celetuk seseorang dari arah pintu.
Jim terkejut, ia berbalik dan mendapatkan seorang Forest Elf bersandar di bingkai pintu kamarnya dan tersenyum kearahnya.
"Ya.. Yang Mulia!" Ucap Jim Refleks dan segera berlutut melihat Elf tersebut.
"Tidak perlu berlutut Jim, bangun dan lanjutkan persiapanmu." Ucap Sang Ratu dan berjalan dengan anggun mendekatinya.
Jim terlihat sangat gugup saat bangun, ia terus menunduk, mengambil Celana Armornya dan mulai memakainya namun ia menjaga kepalanya agar menunduk. Sesekali tangannya licin dan tak sengaja melepaskan Armornya membuat armor itu terjatuh dan menimbulkan suara yang amat berisik.
Sang Ratu cekikikan melihat tingkah Jim salah memasang Armor Boots nya terbalik. "Apakah kehadiranku mengganggu mu, Jim?"
Wajah Jim merah padam mendengar itu, konsentrasinya benar-benar buyar sehingga ia sulit mengeratkan pengaman pada Armor Bajunya
"Ti.. Tidak Yang Mulia, hany-"
Elf itu berjalan cepat kearahnya dengan wajah cemberut dan pipi yang sengaja dikembungkan, ia menepis tangan Jim yang sedang sibuk mengencangkan pengaman Armornya, Elf cantik itu menarik kuat pengaman Armor Jim sehingga membuat Jim kesulitan bernafas.
"Ouch.. Yang Mulia.. Apa kata-kataku ada yang menyinggung And- Ouch!" Ucap Jim dengan bersusah payah.
Si Elf tidak menjawab, ia justru mengikatnya lebih kuat dan semakin menggembungkan pipinya.
"Sudah kubilang, panggil namaku jika hanya ada kita berdua!" Oceh si Elf kesal.
Sekarang Jim mengerti kenapa Ratu Elf yang ada didepannya ini begitu kesal.
"Maafkan aku Veur, tapi kita berada dalam istana, bisa saja seseorang mendengar kita." Balas Jim.
Mendengar namanya diucap, Veurish menahan tawa dan membetulkan pengaman Jim yang terlalu ketat.
"Aku lebih menyukai sikapmu terhadapku ketika aku masih seorang Putri, bukan Ratu.."
Setelah pengamannya terpasang sempurna, tangan lentik Elf itu tidak berpindah dari dada bidang Jim. Ia memegang bahu kiri Jim dan dengan pelan mengusap-usap melalui dadanya.
"Aku tau luka ini masih sakit.." Lanjut Veurish dengan nada yang sedih.
"Tidak Veur, tidak sedikitpun"
Veurish terdiam, ia melihat kearah Jim, tinggi Jim yang mencapai dua meter membuat Seorang Forest Elf pun harus mendongak keatas. Mata mereka saling bertemu dan Jim segera mengalihkan pandangannya kearah lain, ia tidak akan bisa menahan rasa kagumnya pada Elf yang ada didepannya. Mata Veurish yang biru terang membuat Jim seperti berada dalam Air yang sangat Jernih, rambut panjang lurus dan berwarna kuning keemasan mempunyai wangi ciri khas yang sangat disukai oleh Jim, kulit putih dan bentuk tubuh sempurna untuk seukuran seorang wanita membuat Jim sangat ingin menjaganya dari seluruh bahaya yang mengancam.
"Bukan luka luar Jim." Ucap Veurish pelan. "Kau tidak bisa menyalahkankan dirimu selamanya.. Itu bukan sepenuhnya salahmu.."
Mata mereka kembali bertemu, raut wajah Jim berubah sangat sedih.
"Tidak apa Jim, tidak perlu menanggung semua ini sendirian.." Lanjut Veurish.
Veurish berjalan mengambil Armor yang tersisa yaitu Helm of Astreus dan kembali kearah Jim, ia berjinjit berusaha memasangkan Helm tersebut kepada pria setinggi dua meter. Jim sedikit tersenyum melihat usahanya dan segera sedikit berlutut sehingga jarak antara wajah mereka hanya beberapa senti. Wajah mereka berdua sama-sama memerah ketika sadar mata mereka saling bertemu, Jim segera menutup matanya agar matanya tidak tergores saat mengenakan Helm nya.
Veurish menjatuhkan helm tersebut, ia justru memeluk leher Jim dan menariknya hingga bibir mereka saling bertemu. Jim terkejut dengan serangan mendadak itu, ia membuka mata dan mendapatkan Elf yang ia kagumi itu memejamkan mata sedang menikmati apa yang ia lakukan. Jim ingin segera mendorong Veurish agar menghentikannya, tapi ia sangat takut menyentuh tubuh orang yang selama ini ia jaga.
Setelah beberapa detik, akhirnya Veurish melepaskan kecupannya. Namun jarak mereka masih tidak berubah.
"Kau seharusnya tidak melakukan itu Veur, aku adalah First Knight mu.. Terlebih kita berada dalam Istana.."
Veur melepaskan pelukannya, ia berbalik memunggung Jim.
"Kau tau bagaimana perasaanku selama ini. Aku tidak memintamu untuk menang, aku hanya ingin kau kembali tersenyum dan selalu baik-baik saja.. Seperti Jim yang kukenal dulu.. Orang yang akan kau lawan adalah orang yang membunuh Ayahku dan Juga Paman Aiqtiham, dan juga dia hampir membunuhmu. Kumohon jagalah dirimu."
Veur berjalan pelan menuju pintu hendak pergi meninggalkan Jim.
"Veur.." Celetuk Jim tiba-tiba.
"Dan dia juga seorang sahabat yang luarbiasa.."
**********************************************************************************************************
Sore itu alun-alun kota sangat padat, orang-orang berusaha masuk kedalam Colosseum yang sudah melebihi batas maksimal. Colosseum pun tak jauh berbeda dari alun-alun kota, para penonton sibuk mencari kursi yang masih bersisa, terkadang ada perkelahian kecil demi mendapat sebuah kursi. Tak sedikit para petarung tangguh sudah siap untuk menyaksikan pertarungan kedua monster Shiltz.
Di sisi dalam tribun terdapat kursi yang agak sedikit lebih tinggi dari tempat duduk lainnya, kursi itu dikhususkan untuk para Raja-raja dari berbagai belahan Dunia Shiltz beserta para Knight-knightnya. terlihat Veurish sudah duduk disalah satu kursi tersebut ditemani oleh seorang knight dengan setelah Armor of Daylight, terkadang ia berdiri hanya untuk memberi hormat kepada Raja yang lewat dan menyapanya. Veurish mengenakan Gaun berwarna Merah Delima yang sesuai dengan Mahkota yang ia pakai, terdapat simbol aneh tertulis di Mahkotanya.
Colosseum itu berbentuk Oval raksasa yang diperkirakan luasnya mencapai sepuluh ribu meter persegi dengan daya tampung penonton seratus ribu orang. Tembok-tembok bagian dalam Colosseum dihiasi dengan pintu-pintu yang tertutup oleh pagar tempat para petarung memasuki arena. Diatas setiap pintu itu terdapat simbol yang sama seperti pada Mahkota Veurish.
Para penonton bersorak ketika salah satu pintu terbuka dan General dari Holy Knight keluar melalui pintu itu. Ia berjalan menuju pertengahan Colosseum dan melihat kearah kursi para Raja, ia melihat Veurish dan menunduk dengan maksud memberi hormat padanya. Veurish tersenyum dan balas penghormatannya kepada sang General.
Colosseum seketika sunyi saat salah satu pintu Colosseum mulai terbuka, pintu itu berbeda dari pintu yang lainnya, terdapat tiga simbol berbeda diatas pintu tersebut. Dari pintu tersebut keluar seorang pria dengan tangan terbelenggu dan hanya memakai celana pendek berwarna hitam, ia dikawal oleh dua orang bertubuh besar. Terlihat luka disekujur tubuhnya menggambarkan siksaan yang telah ia dapatkan, tak sedikit luka-luka itu terlihat yang masih baru. Sesekali ia ditendang oleh pengawalnya agar dapat berjalan lebih cepat.
"Mati saja kau pengkhianat!"
"Kujamin sang General akan mencabikmu perlahan-lahan!"
"Semoga dosamu akan menarikmu keneraka!"
Tak henti-hentinya para penonton mencemooh laki-laki tersebut sampai pada akhirnya mereka berhenti saat Second Knight Veurish menaikan tangannya.
"William the Kings Slayer! Engkau disini karena kemurahan hati para Elim!" Ucap Second Knight Veurish dengan lantang. "Sebutkan peralatan yang akan engkau gunakan! Selama peralatan tersebut dapat Istana penuhi kami akan memberikannya padamu untuk menyelesaikan pertarungan suci ini!"
"UWOOOOOOOOOOOOOOOOOOOGHHHHH!!!!!!!!" Raung Will tiba-tiba.
Raungannya begitu besar mengerikan sehingga menggema kesuluruh Colosseum dan membuat para penonton terdiam.
Will mengalihkan pandangannya ketempat para Raja dan berhenti saat melihat Ratu Elim. Ia kemudian mengangkat tangannya membentuk pose casting magic circle. Para knight refleks maju kedepan masing-masing tuan mereka berharap monster itu tidak menyerang tuannya.
"Hey Veuriiiiiiiish! Lama tak jumpa! Dua tahun ya? Hahahahahaha! Aku tadi sedikit mengantuk, maaf jika aku mengagetkanmu! Hahaha!" Celetuk Will sambil menggoyang-goyangkan tangannya yang ia angkat tadi.
Semua orang Colosseum tertegun melihat aksinya itu.
"Ah! Teman macam apa aku ini? Jim! Tentu saja! Hey kawan! Lama tak berjumpa!" Lanjut Will yang tiba-tiba mengalihkan pandangan kepada Jim.
Will maju menawarkkan pelukan dengan dadanya yang penuh luka. Namun Jim segera mengangkat Pedangnya.
"Selangkah lagi, akan kupenggal kepalamu" Ancamnya
"Woah.. Begitukah caramu memperlakukan seorang teman? Hey ini aku Will! Dua tahum tak bertemu tak kusangka kau sedingin ini!" Jawab Will dengan sedikit tertawa.
"Yang perlu kau lakukan adalah menjawab pertanyaan dari Istana, maka aku akan menganggapmu sebagai lawan yang setara"
Will terdiam, raut wajahnya berubah menjadi sangat serius.
"Hey Mogdoon, perjanjiannya masih sama kan?"
"Ya, kau pilih peralatan, setiap peralatan yang diberi akan menambah waktu pertarungan sebanyak satu jam." Ucap Second Knight yang bernama Mogdoon.
"Lalu, aku hanya harus bertahan hidup sampai waktu itu habis kan?" Lanjut Will
"Kebebasan akan diberikan kepadamu jika kau berhasil seperti yang dijanjikan."
Will tersenyum puas.
"Aku hanya membutuhkan dua hal. Cape pemberian Guruku sebagai pakaian tambahan dan Pedang milik Guruku, Great Sword of Gaia."
Mendengar itu para penonton kembali meneriaki Will.
"Manusia rendahan! Kau harusnya malu!"
"Semoga Elim dapat mengampunimu!"
Mogdoon menoleh kepada Veur menunggu persetujuannya. Veur mengangguk kecil menyutujui permintaan Will, ia tidak bisa berbohong kalau benda-benda yang Will minta berada ditangan Holy Knights.
Belenggu pada Will tiba-tiba menghilang dengan sendirinya. Dua orang Knight masuk Arena Colosseum dengan membawa dua peralatan yang Will minta. Will segera memakai Capenya dan mengambil pedang yang dulu adalah milik gurunya. Cape itu berwarna hitam gelap dengan Lambang Naga berwarna emas dipunggung Cape tersebut. Pedangnya pun berwarna hitam dengan ukiran emas berbunyi.
"Ynag HulHur der Gaia"
Will kembali menghadap Jim dengan GS of Gaia dipundaknya.
"Hey Jim! Sedikit berawan(Cloud y) ya hari ini?" Tanya Will
"Awan-awan itu akan menjadi saksi pertarungan kita hari ini." Balas Jim datar.
Will kembali tersenyum.
"Hey Jim! Coba liat pakaianku sekarang.. Aku seperti seorang Superman, mempunyai Jubah dan hanya memakai Dalaman! Hahahaha!"
"Bagaimana kalau kita mulai saja?"
"Aku telah memulainya Jim, bahkan sebelum kau menyadarinya."
Jim terkejut melihat Will sudah sangat dekat dengan ujung mata pedang Gaia mengarah kewajahnya. Dengan cepat Jim menaikan Astreus Shield untuk berlindung dan memukul ketas serangan dari Will. Tabrakan antara dua pedang mereka membuat lentingan logam yang sangat keras, membuat GS of Gaia yang Will pegang terlepas dan tertancap dilantai arena beberapa puluh meter dari mereka. Melihat itu Jim tersenyum puas.
"Kau tersenyum Jim? Kau pikir tanpa pedang ku aku kan terbuka?"
Jim langsung menyadari kalau dirinyalah yang sedang terancam dengan tangan kanannya yang sedang terangkat ketas tidak dapat melindungi bagian dada kanannya, mengingat lawannya ini adalah Murid dari seekor Naga.
"Furious Dragon Strike: Seven Lord of Sky."
"Oh tidak.." Ucap Jim mendengar Teknik Will.
Will dengan cepat membentuk kuda-kuda dengan kedua kepalan tangannya berada didepan dada Jim.
Tangan Will melesat kearah mata kanan Jim, dengan sedikit gerakan menghindar, Jim berhasil menghindarinya walaupun sedikit terkena dibagian mata.
"Satu.." Hitung Jim dalam Hati.
Jim berusaha menghindari serangan lanjutan dari Will yang mengarah pada tubuh bagian kirinya, ia berhasil menahan dengan Perisainya.
"Dua.."
"Tiga.."
"Empat.. Sial aku harus menjauh"
"Lima"
Jim terus berusaha agar serangan dari Will tidak mengenainya dengan telak. Serangan dari kaki kiri Cloud nyaris mengenainya.
"Ena-"
"DUAK!!" Pukulan keras dari tangan kanan Will tepat mengenai Helm Will membuat bagian mata dari Helm bengkok dan menghalangi penglihatannya.
"Sial! Tendangan itu tipuan!"
Jim berusaha menyeimbangkan diri dan mencari serangan ketujuh yang paling mematikan dan menemukan kepalan tangan Will sudah menempel di dada Armor Jim dengan kuda-kuda tekniknya yang sempurna.
"BOOOOOM!" Terdengar suara ledakan keras bersamaan terlemparnya Jim sejauh seratus meter dan membentur tembok Colosseum dan membuat tembok tersebut hancur.
Will berjalan pelan kearah pedangnya yang tertancap dan segera menariknya keluar. Terlihat pula Jim yang bangun dari serangan Will dan melepas helmnya yang sudah rusak. Ia berjalan kembali menuju arena tengah.
"Aku lupa betapa sakitnya teknik itu"
"Dan aku juga lupa betapa kerasnya Armor sial itu." Balas Will.
Penonton bersorak melihat kejadian yang sangat cepat tadi.
Will kembali maju kearah Jim
"Deadly Cross!"
Jim memutar pedangnya dan menancapkannya kelantai Arena. Tak berselang beberapa detik, sebuah gempa bumi dahsyat mengguncang Arena.
"Woah!" Will mencoba menghindari retakan-retakan lantai yang mulai tidak rata, dan tanpa ia sadari pedang Jim sudah mengarah tepat padanya dari atas.
"Deadly Crash!"
"DUAR!"
Ledakan besar keluar dari pedang Jim mengenai tepat tubuh atas Will. Ledakan itu menyebabkan kepulan asap hitam pekat dari arah tempat Will, Jim mundur dan berjaga jika sesuatu akan terjadi. Perlahan kepalan asap itu menghilang dan memperlihatkan Will dalam keadaan kulit yang menghitam.
"Wow Jim! Tadi itu panas! Dan kau bisa menggunakan Teknik Destroyer? Wow!" Puji Will kepada Jim.
Darah Jim mendidih, wajahnya menunjukan betapa marahnya ia.
"Hey hey santai sobat, tadi itu benar-benar sakit.."
Jim berlari dengan langkah berat dengan pedang yang terhunus. Tanpa pilihan lain Will meladeninya dan kembali mengayunkan pedang raksasanya. Ayunan pedang Will ditepis oleh Shield Jim. Will segera memutar badannya dan mengayunkannya lagi pada kaki Jim yang terbuka lebar.
"Kena kau!"
"Ancient Paladin Technique: Infinite Shockwave!"
Will terkejut, sesuatu menahan ayunan pedangnya dan menerjangnya dari depan sehingga ia terpental beberapa meter kebelakang. Ketika Will memperbaiki kuda-kudanya, ia semakin terkejut dengan adanya ratusan bola cahaya melayang diseluruh arena Colloseum.
"Judgement? Guilty." Ucap Jim datar dan mengarahkan pedangnya kearah Will
Bola-bola cahaya itu meluncur dengan cepat kearah dimana pedang itu menunjukannya. Dengan gesit, Will menghindari serangan bola cahaya Jim yang tidak terlihat akhirnya. Setiap bola cahaya itu mengenai sesuatu, ia akan menimbulkan ledakan yang cukup menghancurkan.
"DUAR!" Salah satu bola itu terkena kaki Will
Will terjatuh.
"Matilah.." Ucap Jim dingin.
Bola-bola itu tak hentinya meluncur kearah Will selama tiga menit. Penonton pun terdiam melihat peristiwa penyiksaan mengerikan itu. Setelah bola terakhir meledak, hanya tersisa sebuah lubang hitam besar ditengah Colosseum.
Penonton bersorak kegirangan melihat sesuatu yang jarang mereka lihat. Namun sorakan kegembiraan mereka kembali meredup setelah melihat sebuah pergerakan dari lubang hitam besar. Will tebangun dengan susah payah, GS of Gaia yang tadinya hitam, kini nyala redup seolah-olah pedang itu hidup.
"Art of Destructor Dragon Rymos: Repel"
Will meloncat tinggi, dengan menggenggam kedua pedangnya, ia menebas udara. Dari arah tebasan Gaia, keluar bola-bola cahaya persis seperti teknik milik Jim. Jim menyadari apa yang dia hadapai, tekniknya sendiri. Ia segera melindungi dirinya dengan perisai Astreusnya.
Tanpa ampun, Will terus maju dan terus menembakan bola cahaya dari pedangnya. Sedikit demi sedikit Shield Astreus Jim rusak dan melepaskan bongkahan-bongkahan besi merah menyala hingga akhirnya habis tidak bersisa.
"Infinite Guard!"
Bola hijau muncul menyelubungi tubuh Jim dan melindunginya dari serangan Will. Jim sangat terkejut saat menyadari bola cahaya yang ditembakan Will keukatan hancurnya dua kali lebih kuat daripada miliknya sendiri. Serangan Will terhenti bersamaan dengan hilangnya pelindung dari Jim. Mereka berdua saling berpandangan dengan kehabisan Tenaga.
Jim kembali mengangkat pedangnya dengan dua tangan karena perisainya telah hancur. Will menarik pedang Gaia nya dan berlari kearah Jim.
Para penonton tertegun melihat kegigihan mereka berdua.
"WILL!!!!!!!!!!!!" Raung Jim.
"JIM!!!!!!!!!!!!"
NB:
Veurish bacanya: Viris/Vilis ya

Ada komen monggo ditunggu
Diubah oleh dragonregure 23-08-2017 22:32
0
Kutip
Balas