- Beranda
- Buat Latihan Posting
Warung Kopi BLP Raya ! - Part 2
...
TS
pfapb
Warung Kopi BLP Raya ! - Part 2
Welcome To
Warung Kopi BLP Raya!
Warung Kopi BLP Raya!
Quote:
Disini tempat buat kongkow dan buat chit-chat antar kaskuser 
Perlu diperhatikan,disini dilarang post yang mengandung sara dan jangan debat disini!

Perlu diperhatikan,disini dilarang post yang mengandung sara dan jangan debat disini!

- PERATURAN UMUM :
1. No SARA
2. No Personal Insult
3. No Nude Picture
4. Menggunakan bahasa yang baik saat berbincang dengan member lain.
5. PRIME ONLY![Clone hanya boleh post disini tiap hari minggu,dan ID clone juga harus terdaftar di warkop ini.]
6. Jika Melanggar Peraturan No.5 = Delete Post
SANKSI :
1. Pelanggaran Pertama Kali : Teguran & Delete Post
2. Pelanggaran Kedua Kali : Banned
3. SARA , PERSONAL INSULT : BANNED (TANPA TOLERANSI)
4. TIDAK DIPERKENANKAN UNTUK JUALAN , PROMOSI BLOG , PROMOSI WEB : Hapus Post (TANPA TOLERANSI)
Quote:
Aturan main
1. Wajib ngejunk
2. Tidak melakukan Insult terhadap kaskuser lainnya
3. Wajib Rate 5 Thread ini.
4. Jika ada masalah pribadi dengan kaskuser disini,silahkan selesaikan via PM dgn ybs
5. Upload foto DP = BANNED
6. Upload foto nude = Delete post (Tergantung pertimbangan dari TS
)
7. Biasakan Single Quote! Multi quote digunakan hanya untuk kepepet
1. Wajib ngejunk
2. Tidak melakukan Insult terhadap kaskuser lainnya
3. Wajib Rate 5 Thread ini.
4. Jika ada masalah pribadi dengan kaskuser disini,silahkan selesaikan via PM dgn ybs

5. Upload foto DP = BANNED
6. Upload foto nude = Delete post (Tergantung pertimbangan dari TS
)7. Biasakan Single Quote! Multi quote digunakan hanya untuk kepepet

Siapa pun yang melanggar aturan,akan terkena banned 3 Hari atau Permanent 

Quote:
Buat yang mau gabung disini Wajib Isini Biodata dibawah ini
1. ID Prime :
2. ID Clone :
3. Nama Asli :
4. Nama panggilan :
5. Umur :
6. Jenis Kelamin :
7. Twitter/Line/Instagram (optional) :

1. ID Prime :
2. ID Clone :
3. Nama Asli :
4. Nama panggilan :
5. Umur :
6. Jenis Kelamin :
7. Twitter/Line/Instagram (optional) :

Semoga betah nongkrong terus dimari 
#SalamBLP

#SalamBLP

0
243.3K
Kutip
8.4K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Buat Latihan Posting
35.7KThread•1.9KAnggota
Tampilkan semua post
ndemun75
#5377
JUWANDANA
part 8:
bersambung...
part 8:
Quote:
Sambil tetap memegang pisau yang masih menancap di leher musuhnya, kebo mbranang tidak mengalihkan pandangan dari wajah orang yang sudah dibunuhnya. Terbaca dari raut mukanya, orang kedua di juwandana itu begitu geram dengan cara kerajaan keling yang mengirim mata-mata untuk membunuhnya.
"Bodoh sekali, kau kira bisa membunuhku dengan mudah? ilmumu masih seujung jariku, yang kau lakukan adalah sebuah tindakan bunuh diri", kebo mbranang berkata dalam hati.
Sebenarnya, kebo mbranang tidak sekedar duduk-duduk saja di pantai, ia sejatinya sedang memancing datangnya mata-mata keling yang berencana untuk membunuhnya. Kebo mbranang yang sudah berpengalaman dalam hal perang dan mata-mata mampu menebak saat apa orang itu akan menampakkan batang hidungnya, mata-mata itu pasti akan melakukan rencananya saat ia sedang lengah dan sedang sendiri serta berada dalam jarak yang amat dekat, benar saja, saat ia memancingnya keluar dengan cara duduk sendiri di tepi pantai, orang dari keling itupun muncul, dan tak terlalu sulit bagi kebo mbranang untuk meringkusnya, lantaran ilmu kanuragan yang dimilikinya terlampau jauh di atas mata-mata itu.
Kebo mbranang kemudian berdiri dan menyeret mayat orang keling itu dengan cara diangkat kedua kakinya, kepala dan badannya dibiarkan dibawah. Kebo mbranang menyusuri tepi pantai gringsing yang saat itu sudah tak nampak seorangpun yang berada di luar rumah, orang-orang yang tadinya mengobrol di depan rumah sekarang sudah tak terlihat.
Rembulan tampak gagah menampakkan sinarnya yang jatuh di atas permukaan laut. Ombak terus bergulung-gulung menuju pantai, malam itu adalah saat bulan purnama, bulan terlihat begitu bundar dan besar, bintangpun nampak bertebaran seolah-olah ingin memamerkan keindahannya. Semilir angin yang berhembus kencang membawa udara yang dingin membuat para penduduk pedukuhan lebih memilih untuk segera tidur berselimutkan kain jarik. Angin itu jugalah yang dirasa mendendangkan lagu kematian bagi mata-mata keling, saksi atas loncatnya selembar nyawa yang keluar dari raganya.
Kebo mbranang membawa mayat musuhnya mengarah ke pelabuhan, tampak dari kejauhan ada beberapa prajurit jaga yang berlalu lalang dan sebagian mengobrol dengan sesamanya.
Setelah semakin dekat, prajurit pun tau kalau ada orang yang berjalan dengan menyeret mayat, seorang prajurit yang pada mulanya duduk kemudian berdiri memperhatikan siapa yang berjalan ke arahnya. Karena malam, wajah orang itupun tak terlalu bisa dilihat. Tapi ia bisa mengenali dari bentuk tubuhnya, orang yang berbadan tegap dan kekar serta berkumis tebal, ia sangat mengenalinya.
"Ki patih? siapa itu yang dibawanya, jangan-jangan yang diseret orang keling", prajurit itu bicara sendiri.
"Hei lihat, itu mahapatih sedang membawa seseorang", seorang prajurit yang juga mengetahui kedatangan atasannya memberitahu teman-temannya kalau ada kebo mbranang yang berjalan dengan menyeret orang mati.
Tak lama kemudian, kebo mbranang menjulurkan tangannya menunjuk seorang prajurit untuk mendekatinya, prajurit yang ditunjuk itupun datang dengan dua orang temannya. Mereka bertiga pun diselimuti rasa penasaran dengan seseorang yang dibawa dengan cara diseret oleh atasannya.
"Apa dia mata-mata keling mahapatih?", salah seorang prajurit bertanya sambil memandangi dan menyentuh wajah orang yang sudah mati itu. Prajurit itu mengamati leher mayat itu yang terdapat sebuah luka tusukan yang dalam, darahnya pun masih mengalir keluar.
"Ya, tadi dia berusaha membunuhku, aku sudah bisa menebaknya", kata kebo mbranang yang sedang berusaha menenangkan diri dari amarahnya.
"Bagaimana kalau potong saja kepalanya, lalu biarkan para telik sandi untuk mengirimnya ke istana keling mahapatih", celetuk seorang prajurit.
Dengan segera, alis kebo mbranang langsung mencuat, ia nampak tidak setuju dengan omongan bawahannya.
"Kalau kau memotong kepala orang ini dan mengirimnya ke sana, itu sama saja kita membuat perang akan mendatangi kita lebih cepat, keling pasti tidak terima dan akan langsung menyerang juwandana. Sementara kita masih belum terlalu siap untuk menghadapinya", kata kebo mbranang menjelaskan kepada para prajuritnya.
Sejenak, para prajurit itu pun berpikir, apa yang dikatakan oleh patihnya itu adalah benar. Akan sangat berbahaya jika memotong kepala mata-mata dan mengirimnya pulang, itu sama saja dengan menantang kerajaan keling.
Seorang prajurit manggut-manggut mendengar penjelasan dari kebo mbranang.
"benar juga apa yang dikatakan mahapatih, itu sama saja mengundang bahaya", ia berkata dalam hati.
"Buang ke tengah laut, sudah cukup satu bangkai orang keling yang dikubur di sini, aku tidak mau tanah juwandana menjadi kotor karena ada bangkai ini di dalamnya, biar saja nanti jadi makanan ikan-ikan besar", kebo mbranang memerintah prajuritnya. Sentimen terhadap kerajaan keling yang sangat tinggi membuatnya merasa gusar dengan apapun yang berhubungan dengan kerajaan yang letaknya jauh di barat juwandana itu. Kebo mbranang kemudian berjalan ke gubuknya, ia berniat untuk beristirahat sejenak karena besok pagi-pagi buta harus kembali ke kotaraja bersama dengan warga pedukuhan gringsing yang ingin menyumbangkan tenaganya untuk menjadi prajurit.
Ketiga prajurit yang mendapat perintah dari kebo mbranang segera membawa mayat mata-mata keling itu untuk dinaikkan ke atas perahu, mereka juga membawa beberapa batu yang digunakan sebagai pemberat agar nantinya mayat itu langsung tenggelam di dasar laut, tak lama setelahnya mereka mendayung perahu ke tengah lautan, laut utara jawa.
Setelah sampai di tengah laut, mayat itu diikat dengan batu-batu yang sudah disediakan tadi, kemudian langsung diceburkan begitu saja ke laut. Merasa sudah melakukan tugasnya, para prajurit juwandana mendayung perahu menembus gelapnya malam di tengah lautan untuk kembali ke pedukuhan gringsing.
Angin malam yang tadinya berhembus kencang, kini menjadi pelan dan membawa hawa ngantuk menyelimuti daerah pedukuhan gringsing, semakin melelapkan seluruh penghuninya. Di sebelah selatan pedukuhan terdapat hutan rimbun dan bukit yang menjulang dihuni oleh para demit dan jin serta sebangsanya, tempat itu memang terkenal banyak penunggunya. Suara setan yang berwujud perempuan melengking keras membedah gendang telinga membuat takut siapapun yang mendengarnya, ia tertawa terbahak-bahak, ada juga tuyul yang berlari-larian hinggap di beberapa pohon, juga setan yang berbentuk seperti kera hitam menampakkan wujudnya, tak terkecuali yang tinggal di atas bukit, mereka terbang mengelilingi pedukuhan. Para demit itu mengira semua manusia takut akan kehadirannya. Padahal, tak ada yang bisa melihat mereka. Semuanya bersuka cita di malam bulan purnama yang mereka anggap sebagai malam digelarnya pesta untuk para sebangsanya.
Adalah kebo mbranang, yang walaupun malam sudah larut dan sudah mencoba memejamkan mata, nyatanya ia tetap tidak bisa tidur. Pikirannya dibelenggu oleh permasalahan yang akan dihadapi tanah kelahirannya, sebuah perang besar yang mungkin mustahil untuk dihindari. Ia mengkhawatirkan keselamatan para keluarga istana, terutama raja, istri raja dan para sekar kedaton yaitu putri dwarakinasih dan ambarwati. Jika juwandana kalah, maka dua orang sekar kedaton pasti akan mendapat hal yang tak mengenakkan, yang pertama, mungkin mereka akan dijadikan istri oleh raja adhirata. Sedangkan yang kedua, mereka bisa dirudapaksa ramai-ramai oleh para pasukan keling.
Keling dulunya adalah sebuah kerajaan yang tidak terlalu besar. Namanya diambil dari salah satu jenis gelung rambut, yaitu gelung keling. Raja pertama atau pendiri kerajaan keling yang bernama mahawira respati mempunyai rambut yang panjang dan tidak pernah digelung, tetapi saat dia dinobatkan menjadi raja rambutnya ia gelung dan memilih jenis gelung keling. Dari situlah mahawira respati mendapat ide untuk menamai kerajaan barunya, rambut yang banyak diibaratkan sebagai rakyat, sedangkan ikatannya dimaknai sebagai pemimpin atau raja. Bisa diartikan raja harus menjaga dan melindungi rakyatnya dan rakyat serta rajanya mempunyai ikatan dan hubungan yang kuat untuk sama-sama mencapai tujuan kesejahteraan bersama, hubungan antara rakyat dan pemimpinnya yang terikat kuat akan menjadikan sebuah kerajaan yang makmur serta menjadi kerajaan yang kuat dalam menghadapi apapun.
Mahawira respati juga memaknai letak rambut yang berada di atas, mengartikan kalau kerajaan yang sedang dibangunnya ini harus menjadi kerajaan yang berada di atas kerajaan lain, menjadi kerajaan yang membawahi kerajaan lainnya. Keling harus menjadi kerajaan yang adikuasa.
Bertahun-tahun setelah kematian raja pertama keling, semangat membuat kerajaan untuk menjadi yang paling berkuasa terus diwarisi oleh keturunan dan juga rakyatnya hingga saat ini. Itulah yang membuat mereka selalu ingin menguasai kerajaan lain termasuk kerajaan juwandana.
Sekarang, kerajaan keling sudah menjadi kerajaan yang besar. Bisa diibaratkan seorang raksasa yang sangat kuat dan siap untuk menghabisi semua lawan-lawannya.
Kebo mbranang yang tidak bisa tidur akhirnya memilih untuk duduk bersemedi sebentar untuk menenangkan pikirannya dan mencari petunjuk untuk mengatasi masalah yang harus segera dicari jalan keluarnya. Malam yang semakin larut membuatnya larut juga dalam persemedian, hanya suasana hening yang ada di pedukuhan saat ini.
Tidak terasa setelah beberapa tabuh kebo mbranang bersemedi, pagi mulai datang walaupun matahari belum memamerkan sinarnya. Sebagian warga pedukuhan yang menjadi nelayan mulai mendayung perahunya dari pantai menuju lautan. Tetapi ada sebagian juga yang bergerombol di dekat rumah gubuk kecil yang ditempati oleh kebo mbranang.
Mereka adalah orang-orang yang ingin menjadi prajurit dan sedang menunggu aba-aba atau perintah dari mahapatihnya untuk berangkat menuju kotaraja dan berlatih ilmu keprajuritan. Terlihat juga beberapa kereta kuda yang nantinya akan dijadikan kendaraan bagi para warga.
Tak lama menunggu, orang yang ditunggu para warga pun keluar. Kebo mbranang tampil dengan senyum ramahnya, warga pun senang karena tidak perlu menunggu lama untuk segera berangkat ke kotaraja.
Kebo mbranang mengawali pembicaraan.
"Ki sanak semua apa sudah siap berangkat?", kebo mbranang bertanya.
"Sudah tuan, kami semuanya sudah siap"
"Baiklah, untuk mempersingkat waktu kita langsung berangkat saja, senopati gumbaran kau ikut denganku"
"Baik mahapatih", senopati gumbaran mengangguk.
Kebo mbranang kemudian memanggil salah seorang senopati lalu membisiki sebuah pesan, "jaga pedukuhan ini baik-baik, bila ada mata-mata lagi langsung bunuh saja. Tapi ingat, jangan sampai kau kubur mayatnya di sini, aku tidak mau ada bangkai orang keling disini".
"Laksanakan mahapatih"
senopati itupun lalu kembali ke tempatnya.
"Baiklah, kita berangkat!", Kebo mbranang memerintah para warga pedukuhan.
Semua warga naik ke kereta kuda mereka masing-masing, begitu juga dengan kebo mbranang, senopati gumbaran dan lima orang prajurit pilihannya juga menaiki kuda mereka masing-masing.
Rombongan itu mulai bergerak ke arah barat kemudian membelok ke selatan keluar dari pedukuhan gringsing. Di sepanjang jalan, para warga itupun sangat bersemangat dan tidak sabar untuk memulai latihan khas prajurit juwandana, ada rasa bangga di benak mereka bahwa sebentar lagi akan menjadi prajurit yang gagah.
Jauh dari tempat kebo mbranang di waktu yang bersamaan, jayasegara terus melanjutkan perjalanannya. Murid kesayangan dang hyang kencono itu kini memasuki hutan lebat yang jalanannya tidak terlalu bagus, sehingga beberapa kali ia harus turun dan menuntun kudanya.
Medan yang sulit tak membuatnya mengeluh sedikitpun, didorong oleh rasa penasarannya yang tinggi akan hutan keramat itu, jayasegara seakan tak merasa lelah menempuh perjalanan jauh meskipun saat ini ia sebenarnya sudah merasakan lapar.
"Luas sekali hutan ini, sedari malam sampai pagi belum ketemu juga batas hutannya, ayo jalan terus ayo...", jayasegara berbicara pada diri sendiri sembari menuntun dan mengajak kudanya agar jalan terus melewati jalan yang sempit dan penuh pepohonan yang rantingnya melintang di sana sini.
Setelah cukup lama berada di dalam hutan, akhirnya sampailah jayasegara di batas hutan itu. Terbentanglah bulak panjang yang diujungnya terdapat sebuah pedukuhan yang sudah nampak dari kejauhan.
Jayasegara sudah tidak bisa lagi menahan rasa laparnya, apalagi bekal yang dibawanya juga sudah habis. Segeralah ia memacu kencang kudanya menuju pedukuhan tersebut. Saat sampai di pedukuhan, orang-orang sudah ramai berlalu lalang, kebetulan sekali saat itu ada pasar kaget yang buka di pagi hari dan banyak penjaja makanan yang berada disana.
Tanpa basa-basi jayasegara langsung membeli banyak makanan ke salah seorang pedagang, ia pun langsung memakannya dengan lahap. Pedagang itupun dibuat tertegun oleh tingkah jayasegara, ia melihat bahwa pembelinya makan dengan penuh nafsu seperti orang yang sudah lama tak makan.
"Pelan-pelan makannya ki sanak, nanti kau bisa tersedak", kata pedagang itu.
"Aku lapar sekali ki sanak, butuh makanan yang banyak untuk mengisi perutku lagi, tolong minumnya segelas ki", jayasegara menanggapi omongan pedagang itu dan meminta segelas air, bicaranya tidak terlalu jelas karena banyak makanan yang menyumpal mulutnya.
Pedagang itupun menuangkan air ke dalam gelas yang terbuat dari bambu kepada jayasegara.
"Kau sedang dalam perjalanan?"
Jayasegara tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya karena sedang konsentrasi ke makan besarnya. Pedagang makanan itupun geleng-geleng melihat porsi makanan yang dimakan pembelinya, sungguh sangat banyak.
Setelah cukup lama, keponakan dari patih juwandana itu selesai makan ia segera membayar biaya semua makanan yang sudah dilahapnya dan kemudian bergegas pergi melanjutkan perjalanan.
"Terimakasih ki", jayasegara langsung melompat menaiki tunggangannya.
"Iya, sama-sama", pedagang itupun terheran-heran melihat tingkah jayasegara.
"Bodoh sekali, kau kira bisa membunuhku dengan mudah? ilmumu masih seujung jariku, yang kau lakukan adalah sebuah tindakan bunuh diri", kebo mbranang berkata dalam hati.
Sebenarnya, kebo mbranang tidak sekedar duduk-duduk saja di pantai, ia sejatinya sedang memancing datangnya mata-mata keling yang berencana untuk membunuhnya. Kebo mbranang yang sudah berpengalaman dalam hal perang dan mata-mata mampu menebak saat apa orang itu akan menampakkan batang hidungnya, mata-mata itu pasti akan melakukan rencananya saat ia sedang lengah dan sedang sendiri serta berada dalam jarak yang amat dekat, benar saja, saat ia memancingnya keluar dengan cara duduk sendiri di tepi pantai, orang dari keling itupun muncul, dan tak terlalu sulit bagi kebo mbranang untuk meringkusnya, lantaran ilmu kanuragan yang dimilikinya terlampau jauh di atas mata-mata itu.
Kebo mbranang kemudian berdiri dan menyeret mayat orang keling itu dengan cara diangkat kedua kakinya, kepala dan badannya dibiarkan dibawah. Kebo mbranang menyusuri tepi pantai gringsing yang saat itu sudah tak nampak seorangpun yang berada di luar rumah, orang-orang yang tadinya mengobrol di depan rumah sekarang sudah tak terlihat.
Rembulan tampak gagah menampakkan sinarnya yang jatuh di atas permukaan laut. Ombak terus bergulung-gulung menuju pantai, malam itu adalah saat bulan purnama, bulan terlihat begitu bundar dan besar, bintangpun nampak bertebaran seolah-olah ingin memamerkan keindahannya. Semilir angin yang berhembus kencang membawa udara yang dingin membuat para penduduk pedukuhan lebih memilih untuk segera tidur berselimutkan kain jarik. Angin itu jugalah yang dirasa mendendangkan lagu kematian bagi mata-mata keling, saksi atas loncatnya selembar nyawa yang keluar dari raganya.
Kebo mbranang membawa mayat musuhnya mengarah ke pelabuhan, tampak dari kejauhan ada beberapa prajurit jaga yang berlalu lalang dan sebagian mengobrol dengan sesamanya.
Setelah semakin dekat, prajurit pun tau kalau ada orang yang berjalan dengan menyeret mayat, seorang prajurit yang pada mulanya duduk kemudian berdiri memperhatikan siapa yang berjalan ke arahnya. Karena malam, wajah orang itupun tak terlalu bisa dilihat. Tapi ia bisa mengenali dari bentuk tubuhnya, orang yang berbadan tegap dan kekar serta berkumis tebal, ia sangat mengenalinya.
"Ki patih? siapa itu yang dibawanya, jangan-jangan yang diseret orang keling", prajurit itu bicara sendiri.
"Hei lihat, itu mahapatih sedang membawa seseorang", seorang prajurit yang juga mengetahui kedatangan atasannya memberitahu teman-temannya kalau ada kebo mbranang yang berjalan dengan menyeret orang mati.
Tak lama kemudian, kebo mbranang menjulurkan tangannya menunjuk seorang prajurit untuk mendekatinya, prajurit yang ditunjuk itupun datang dengan dua orang temannya. Mereka bertiga pun diselimuti rasa penasaran dengan seseorang yang dibawa dengan cara diseret oleh atasannya.
"Apa dia mata-mata keling mahapatih?", salah seorang prajurit bertanya sambil memandangi dan menyentuh wajah orang yang sudah mati itu. Prajurit itu mengamati leher mayat itu yang terdapat sebuah luka tusukan yang dalam, darahnya pun masih mengalir keluar.
"Ya, tadi dia berusaha membunuhku, aku sudah bisa menebaknya", kata kebo mbranang yang sedang berusaha menenangkan diri dari amarahnya.
"Bagaimana kalau potong saja kepalanya, lalu biarkan para telik sandi untuk mengirimnya ke istana keling mahapatih", celetuk seorang prajurit.
Dengan segera, alis kebo mbranang langsung mencuat, ia nampak tidak setuju dengan omongan bawahannya.
"Kalau kau memotong kepala orang ini dan mengirimnya ke sana, itu sama saja kita membuat perang akan mendatangi kita lebih cepat, keling pasti tidak terima dan akan langsung menyerang juwandana. Sementara kita masih belum terlalu siap untuk menghadapinya", kata kebo mbranang menjelaskan kepada para prajuritnya.
Sejenak, para prajurit itu pun berpikir, apa yang dikatakan oleh patihnya itu adalah benar. Akan sangat berbahaya jika memotong kepala mata-mata dan mengirimnya pulang, itu sama saja dengan menantang kerajaan keling.
Seorang prajurit manggut-manggut mendengar penjelasan dari kebo mbranang.
"benar juga apa yang dikatakan mahapatih, itu sama saja mengundang bahaya", ia berkata dalam hati.
"Buang ke tengah laut, sudah cukup satu bangkai orang keling yang dikubur di sini, aku tidak mau tanah juwandana menjadi kotor karena ada bangkai ini di dalamnya, biar saja nanti jadi makanan ikan-ikan besar", kebo mbranang memerintah prajuritnya. Sentimen terhadap kerajaan keling yang sangat tinggi membuatnya merasa gusar dengan apapun yang berhubungan dengan kerajaan yang letaknya jauh di barat juwandana itu. Kebo mbranang kemudian berjalan ke gubuknya, ia berniat untuk beristirahat sejenak karena besok pagi-pagi buta harus kembali ke kotaraja bersama dengan warga pedukuhan gringsing yang ingin menyumbangkan tenaganya untuk menjadi prajurit.
Ketiga prajurit yang mendapat perintah dari kebo mbranang segera membawa mayat mata-mata keling itu untuk dinaikkan ke atas perahu, mereka juga membawa beberapa batu yang digunakan sebagai pemberat agar nantinya mayat itu langsung tenggelam di dasar laut, tak lama setelahnya mereka mendayung perahu ke tengah lautan, laut utara jawa.
Setelah sampai di tengah laut, mayat itu diikat dengan batu-batu yang sudah disediakan tadi, kemudian langsung diceburkan begitu saja ke laut. Merasa sudah melakukan tugasnya, para prajurit juwandana mendayung perahu menembus gelapnya malam di tengah lautan untuk kembali ke pedukuhan gringsing.
Angin malam yang tadinya berhembus kencang, kini menjadi pelan dan membawa hawa ngantuk menyelimuti daerah pedukuhan gringsing, semakin melelapkan seluruh penghuninya. Di sebelah selatan pedukuhan terdapat hutan rimbun dan bukit yang menjulang dihuni oleh para demit dan jin serta sebangsanya, tempat itu memang terkenal banyak penunggunya. Suara setan yang berwujud perempuan melengking keras membedah gendang telinga membuat takut siapapun yang mendengarnya, ia tertawa terbahak-bahak, ada juga tuyul yang berlari-larian hinggap di beberapa pohon, juga setan yang berbentuk seperti kera hitam menampakkan wujudnya, tak terkecuali yang tinggal di atas bukit, mereka terbang mengelilingi pedukuhan. Para demit itu mengira semua manusia takut akan kehadirannya. Padahal, tak ada yang bisa melihat mereka. Semuanya bersuka cita di malam bulan purnama yang mereka anggap sebagai malam digelarnya pesta untuk para sebangsanya.
Adalah kebo mbranang, yang walaupun malam sudah larut dan sudah mencoba memejamkan mata, nyatanya ia tetap tidak bisa tidur. Pikirannya dibelenggu oleh permasalahan yang akan dihadapi tanah kelahirannya, sebuah perang besar yang mungkin mustahil untuk dihindari. Ia mengkhawatirkan keselamatan para keluarga istana, terutama raja, istri raja dan para sekar kedaton yaitu putri dwarakinasih dan ambarwati. Jika juwandana kalah, maka dua orang sekar kedaton pasti akan mendapat hal yang tak mengenakkan, yang pertama, mungkin mereka akan dijadikan istri oleh raja adhirata. Sedangkan yang kedua, mereka bisa dirudapaksa ramai-ramai oleh para pasukan keling.
Keling dulunya adalah sebuah kerajaan yang tidak terlalu besar. Namanya diambil dari salah satu jenis gelung rambut, yaitu gelung keling. Raja pertama atau pendiri kerajaan keling yang bernama mahawira respati mempunyai rambut yang panjang dan tidak pernah digelung, tetapi saat dia dinobatkan menjadi raja rambutnya ia gelung dan memilih jenis gelung keling. Dari situlah mahawira respati mendapat ide untuk menamai kerajaan barunya, rambut yang banyak diibaratkan sebagai rakyat, sedangkan ikatannya dimaknai sebagai pemimpin atau raja. Bisa diartikan raja harus menjaga dan melindungi rakyatnya dan rakyat serta rajanya mempunyai ikatan dan hubungan yang kuat untuk sama-sama mencapai tujuan kesejahteraan bersama, hubungan antara rakyat dan pemimpinnya yang terikat kuat akan menjadikan sebuah kerajaan yang makmur serta menjadi kerajaan yang kuat dalam menghadapi apapun.
Mahawira respati juga memaknai letak rambut yang berada di atas, mengartikan kalau kerajaan yang sedang dibangunnya ini harus menjadi kerajaan yang berada di atas kerajaan lain, menjadi kerajaan yang membawahi kerajaan lainnya. Keling harus menjadi kerajaan yang adikuasa.
Bertahun-tahun setelah kematian raja pertama keling, semangat membuat kerajaan untuk menjadi yang paling berkuasa terus diwarisi oleh keturunan dan juga rakyatnya hingga saat ini. Itulah yang membuat mereka selalu ingin menguasai kerajaan lain termasuk kerajaan juwandana.
Sekarang, kerajaan keling sudah menjadi kerajaan yang besar. Bisa diibaratkan seorang raksasa yang sangat kuat dan siap untuk menghabisi semua lawan-lawannya.
Kebo mbranang yang tidak bisa tidur akhirnya memilih untuk duduk bersemedi sebentar untuk menenangkan pikirannya dan mencari petunjuk untuk mengatasi masalah yang harus segera dicari jalan keluarnya. Malam yang semakin larut membuatnya larut juga dalam persemedian, hanya suasana hening yang ada di pedukuhan saat ini.
Tidak terasa setelah beberapa tabuh kebo mbranang bersemedi, pagi mulai datang walaupun matahari belum memamerkan sinarnya. Sebagian warga pedukuhan yang menjadi nelayan mulai mendayung perahunya dari pantai menuju lautan. Tetapi ada sebagian juga yang bergerombol di dekat rumah gubuk kecil yang ditempati oleh kebo mbranang.
Mereka adalah orang-orang yang ingin menjadi prajurit dan sedang menunggu aba-aba atau perintah dari mahapatihnya untuk berangkat menuju kotaraja dan berlatih ilmu keprajuritan. Terlihat juga beberapa kereta kuda yang nantinya akan dijadikan kendaraan bagi para warga.
Tak lama menunggu, orang yang ditunggu para warga pun keluar. Kebo mbranang tampil dengan senyum ramahnya, warga pun senang karena tidak perlu menunggu lama untuk segera berangkat ke kotaraja.
Kebo mbranang mengawali pembicaraan.
"Ki sanak semua apa sudah siap berangkat?", kebo mbranang bertanya.
"Sudah tuan, kami semuanya sudah siap"
"Baiklah, untuk mempersingkat waktu kita langsung berangkat saja, senopati gumbaran kau ikut denganku"
"Baik mahapatih", senopati gumbaran mengangguk.
Kebo mbranang kemudian memanggil salah seorang senopati lalu membisiki sebuah pesan, "jaga pedukuhan ini baik-baik, bila ada mata-mata lagi langsung bunuh saja. Tapi ingat, jangan sampai kau kubur mayatnya di sini, aku tidak mau ada bangkai orang keling disini".
"Laksanakan mahapatih"
senopati itupun lalu kembali ke tempatnya.
"Baiklah, kita berangkat!", Kebo mbranang memerintah para warga pedukuhan.
Semua warga naik ke kereta kuda mereka masing-masing, begitu juga dengan kebo mbranang, senopati gumbaran dan lima orang prajurit pilihannya juga menaiki kuda mereka masing-masing.
Rombongan itu mulai bergerak ke arah barat kemudian membelok ke selatan keluar dari pedukuhan gringsing. Di sepanjang jalan, para warga itupun sangat bersemangat dan tidak sabar untuk memulai latihan khas prajurit juwandana, ada rasa bangga di benak mereka bahwa sebentar lagi akan menjadi prajurit yang gagah.
Jauh dari tempat kebo mbranang di waktu yang bersamaan, jayasegara terus melanjutkan perjalanannya. Murid kesayangan dang hyang kencono itu kini memasuki hutan lebat yang jalanannya tidak terlalu bagus, sehingga beberapa kali ia harus turun dan menuntun kudanya.
Medan yang sulit tak membuatnya mengeluh sedikitpun, didorong oleh rasa penasarannya yang tinggi akan hutan keramat itu, jayasegara seakan tak merasa lelah menempuh perjalanan jauh meskipun saat ini ia sebenarnya sudah merasakan lapar.
"Luas sekali hutan ini, sedari malam sampai pagi belum ketemu juga batas hutannya, ayo jalan terus ayo...", jayasegara berbicara pada diri sendiri sembari menuntun dan mengajak kudanya agar jalan terus melewati jalan yang sempit dan penuh pepohonan yang rantingnya melintang di sana sini.
Setelah cukup lama berada di dalam hutan, akhirnya sampailah jayasegara di batas hutan itu. Terbentanglah bulak panjang yang diujungnya terdapat sebuah pedukuhan yang sudah nampak dari kejauhan.
Jayasegara sudah tidak bisa lagi menahan rasa laparnya, apalagi bekal yang dibawanya juga sudah habis. Segeralah ia memacu kencang kudanya menuju pedukuhan tersebut. Saat sampai di pedukuhan, orang-orang sudah ramai berlalu lalang, kebetulan sekali saat itu ada pasar kaget yang buka di pagi hari dan banyak penjaja makanan yang berada disana.
Tanpa basa-basi jayasegara langsung membeli banyak makanan ke salah seorang pedagang, ia pun langsung memakannya dengan lahap. Pedagang itupun dibuat tertegun oleh tingkah jayasegara, ia melihat bahwa pembelinya makan dengan penuh nafsu seperti orang yang sudah lama tak makan.
"Pelan-pelan makannya ki sanak, nanti kau bisa tersedak", kata pedagang itu.
"Aku lapar sekali ki sanak, butuh makanan yang banyak untuk mengisi perutku lagi, tolong minumnya segelas ki", jayasegara menanggapi omongan pedagang itu dan meminta segelas air, bicaranya tidak terlalu jelas karena banyak makanan yang menyumpal mulutnya.
Pedagang itupun menuangkan air ke dalam gelas yang terbuat dari bambu kepada jayasegara.
"Kau sedang dalam perjalanan?"
Jayasegara tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya karena sedang konsentrasi ke makan besarnya. Pedagang makanan itupun geleng-geleng melihat porsi makanan yang dimakan pembelinya, sungguh sangat banyak.
Setelah cukup lama, keponakan dari patih juwandana itu selesai makan ia segera membayar biaya semua makanan yang sudah dilahapnya dan kemudian bergegas pergi melanjutkan perjalanan.
"Terimakasih ki", jayasegara langsung melompat menaiki tunggangannya.
"Iya, sama-sama", pedagang itupun terheran-heran melihat tingkah jayasegara.
bersambung...

Diubah oleh ndemun75 01-07-2016 17:53
0
Kutip
Balas