- Beranda
- Stories from the Heart
ReStart Again
...
TS
vikidwic
ReStart Again
”Semua orang pasti punya impian mereka masing-masing ketika mereka masih kecil, begitu juga aku.”Thread pertama gua..
Maaf kalau kalimatnya absurb, terlalu formal, terlalu kekinian dll. Maklum tulisan pertama,,
Kalau tanya, ini fakta / fiski? masih ragu sebetulnya fakta atau fiktif, tapi di cerita kebanyakan fiktifnya sih,,
No kepo ya,,
Genrenya diawal kayak romance, tapi sebetulnya fantasi gan,,
Jadi jangan bingung bacanya,,
Nama, tempat, kejadian hanya karangan penulis semata...
Jangan lupa kripik pedasnya gan,,
Warning!!!
Mungkin ada konten dewasa yang bakalan muncul di awal cerita,,
Jadi pembaca di bawah 17 tahun jangan baca,, :v
Ambil positifnya, buang negatifnya..
Cerita 1 : Prolog
Cerita 2 : Restart (Part 1)
Diubah oleh vikidwic 01-07-2016 13:43
anasabila memberi reputasi
1
950
9
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
vikidwic
#8
ReStrat (Part 1)
“Viki, bangun nak, sudah pagi, kamu sekolah nggak?” ibu menyuruhku bangun.
“Iya bu, ini udah bangun kok,” jawabku sambil sedikit mengantuk.
“Ya sudah, ayo mandi dulu baru sarapan.”
“Iya bu,” setelah itu aku pergi ke kamar mandi.
Aku masih kepikiran, seingatku kemarin aku sudah dewasa, tapi sekarang aku kembali ke masa sekolahku. Kenapa itu bisa terjadi? Siapa yang mengembalikanku ke masa ini? Dan kenapa harus ke masa ini. Aku kembali ke masa SMP. Kelas 3 SMP tepatnya.
Setelah sarapan aku pun berangkat sekolah, untungnya aku masih ingat jalan ke sekolahku yang dulu. Sampai di sekolah, bangunannya tidak ada yang berubah, seingatku ketika aku sudah kerja banyak yang berubah. Jadi nostalgia masa SMP dulu.
Bel berbunyi, pelajaran pun dimulai, hari ini kalau tidak salah pelajarannya matematika. Wah keahlianku ini, pikirku dalam hati. Jaman masih sekolah dulu memang matematikaku hampir selalu bagus, tidak pernah dibawah 8 di rapot.
“Baik anak-anak, hari ini ada ulangan, keluarkan kertas dan taruh semua buku di tas,” Pak guru menyuruh sambil membagikan lembar soal ulangan ke masing-masing meja.
Ulangan? Apa aku bisa? Kan aku belum belajar. Ah dulu juga gak belajar juga bisa. Pikirku dalam hati. Memang dulu waktu sekolah SMP dan SMA aku tidak pernah belajar, belajar cuma buat UAS, selain itu kerjaan di rumah hanya nonton tv sama main game.
*1 jam kemudian*
“Baik, waktunya habis, kumpulkan kertasnya ke depan,” suruh Pak guru.
“Wah ulangannya sulit ya, materinya banyak banget,” kata Sava, teman sekelas yang duduknya di belakangku.
“Biasa aja sih, rumusnya aja yang banyak,” sahut Indra, teman sebangkuku. Dia memang selalu juara satu di kelas dari kelas satu, makanya aku nggak heran dia bisa selalu dapat seratus di setiap mapel saat ulangan.
Setelah istirahat, Pak guru datang ke kelas sambil membawa hasil ulangan. Biasanya aku nggak deg-degan kalau guru ngumumin hasil ulangan waktu sekolah dulu, tapi kali ini ada yang aneh sepertinya.
“Bapak umumkan hasilnya, yang remidi, Viki, Kris, Anto, Siti, Dian, Anjar, dan Shifa. Lainnya diatas KKM. Remidinya Minggu depan ya. Sekian Bapak tinggal dulu,” Setelah mengumumkan hasilnya, Pak guru kemudian lanjut mengajar ke kelas berikutnya karena sudah ganti jam pelajaran.
“Lho Vik, kamu remidi?”
“Nggak biasanya kamu begini.”
“Sukurin lu, salah sendiri sombong.”
Teman-temanku ada yang heran ada yang tidak. Karena pelajaran matematika ini pelajaran yang paling aku kuasai, dan teman sekelas tahu kalau aku memang pandai matematika.
Sampai di rumah aku heran, aku pintar matematika, tapi kenapa kok sekarang berbeda? Apa ini semua hanya imajinasiku? Atau memang benar aku kembali ke masa lalu? Semuanya nampak sama di mataku, hanya aku yang berbeda, tidak seperti yang aku ingat.
Kring... Kring... handphoneku berbunyi. Ada panggilan masuk, dari siapa?
“Halo.. sayang kamu udah pulang?” suara wanita berbicara padaku.
Ketika aku lihat kembali nama kontaknya, aku baru sadar. Dia Dwita, pacarku dari kelas 2 SMP, namun berbeda kelas.
“Sudah yang, ada apa?” jawabku sedikit gugup.
“Kamu kenapa? Gak biasanya ngomongmu seperti ini? Sakit ya?” tanyanya heran.
Maklum, aku sudah lama tidak berbicara dengan dia. Aku kehilangan kontak dengan dia semasa SMA sampai aku dewasa. Dia itu memang perhatian, tidak heran aku masih mengingatnya meski kami sudah berpisah.
“Gak papa kok yang, kamu ada waktu nggak? Aku pengen ke rumahmu.”
“Sekarang ya? Maaf ya sekarang lagi repot di rumah, Minggu depan aja gimana? Gak papa kan?” jawabnya.
“Oh iya gak papa sayang, kalau kamu repot aku maklum kok.”
“Ya udah disambung nanti ya. Love you yang.”
“Iya, Love you too,” aku memberinya salam kemudian dia menutup teleponnya.
Love you? Berapa lama aku tidak mendengar kata itu? Aku terakhir pacaran saja waktu SMA. Aku sadar, ternyata masa sekolahku penuh dengan kebahagiaan yang tidak aku dapat ketika aku sudah kerja kelak.
0