Sebelum berkata banyak, perlihatanku mulai kabur dengan linangan air mata. Aku bercerita apa adanya kepada Bibi demi untuk mencari jawaban yg pasti. Di tempat ini rasa takut ku hilang, aku merasa memiliki kembali kehidupanku. Dan aku pun mulai sedikit bercerita kepada Bibi sembari mengatur nafas ku yg terasa menyesaki dada.
"Hari itu di rumah lagi gak karuan, Ayah sama Bunda kayaknya lagi berantem. Kayak biasanya Cika cuma bisa ngasuh adek2, tapi waktu itu Bunda kayak lagi sebel banget liat Cika, padahal kerjaan rumah udah Cika kerjain semua. Cika lagi kecapean, biar gak disuruh2 lagi sama Bunda, terus Cika diem aja di rumah Uwa itupun sambil ngasuh. Tapi waktu Cika ngambil barang ke rumah pas kebetulan Bunda lagi di depan pintu, Cika sebetulnya gak pingin nanggapin omongannya Bunda. Jadi Bunda ngelempar barang ke arah Cika sambil bilang Cika itu anak yg terpaksa dilahirkan sama Mamah, Bi..."
"Bunda bilang Ayah udah cerita semuanya, kalo Mamah sama Ayah menikah hanya karena sebuah kecelakaan. Waktu itu Mamah berusaha mau gugurin kandungannya, tapi gak berhasil. Karena kesel sama Ayah, waktu Cika udah dilahirin makanya Mamah juga sekalian ngangkat rahimnya biar gak bisa punya anak lagi dari Ayah.."
Bibi :
"Enggak Ka, Cika jangan percaya sama Bunda, gak bener semua cerita itu!"
"Kenapa Cika ngerasa itu bener ya Bi? Ayah selalu pingin anak laki2, sedangkan Mamah malah ngelahirin anak perempuan. Ayah cerai dari Mamah pun karena ada faktor itu kan Bi? Mamah gak bisa hamil lagi?"
Bibi :
"Dah...gak usah didengerin kata2nya Bunda itu, dia cuma iri sama apa yg bisa Ayah kamu kasih ke Cika dibandingkan ke anak2nya.."
"Cika bingung Bi..."
Bibi :
"Bibi itu lebih tau cerita tentang Ayah sama Mamah kamu, Bunda itu bisa aja mengarang2 cerita.."
"Tapi, kenapa di foto pernikahannya Mamah sama Ayah gak ada keluarga Nenek?"
Bibi :
"Waktu itu Nenek lagi sakit, terus akhirnya keluarga datangnya setelah acara selesai karena nunggu Nenek sembuh."
Ntah siapa yg harus ku percaya, meski aku hanya mengurung diri berhari2 karena ucapan Bunda. Setelahnya, aku memiliki tekad untuk bisa menjadi yg terbaik dan berprestasi. Aku mengikhlaskan apa yg terjadi di masa lalu, aku berdoa kepada Tuhan agar terus memberiku petunjuk.