- Beranda
- Stories from the Heart
Why Should I Love You ? (True Story)
...
TS
whykevin
Why Should I Love You ? (True Story)
Holla gan, lama jadi silent reader gue pengen coba cerita sedikit tentang pengalaman gue sewaktu sekolah dulu, it is all about love. Disini semua nama gue samarkan kecuali nama gue sendiri dan nama panggilan joe joe. oh ya gan gue ini newbie di kaskus, gue minta saran sama bantuan-nya ya thanks. terus masalah update gue gak bisa nentuin kapan2nya... sorry juga kalo tulisannya acak-acakan hehe. so... let's get start!
Ilustration girls character.
All picture here bukan foto asli mereka, itu cuma foto foto yang gue dapat dari sosmed, gue cari yang semirip mungkin dengan postur tubuh, warna kulit, dan bentuk wajah berdasarka character asli. dan menurut gue ini semua sudah yang paling resemble. terus foto foto yang gue pajang disini hanya sekedar untuk ilustrasi dan untuk imajinasi pembaca agar semakin bermain, gakada niatan lain. satu lagi menurut gue foto yang paling persis mirip disini adalah foto untuk character natasha dan chika.
Spoiler for Index:
Ilustration girls character.
All picture here bukan foto asli mereka, itu cuma foto foto yang gue dapat dari sosmed, gue cari yang semirip mungkin dengan postur tubuh, warna kulit, dan bentuk wajah berdasarka character asli. dan menurut gue ini semua sudah yang paling resemble. terus foto foto yang gue pajang disini hanya sekedar untuk ilustrasi dan untuk imajinasi pembaca agar semakin bermain, gakada niatan lain. satu lagi menurut gue foto yang paling persis mirip disini adalah foto untuk character natasha dan chika.
Spoiler for Natasha:
Spoiler for Chika:
Spoiler for Salsa:
Spoiler for Febi:
Spoiler for Ayu:
Spoiler for Sarah:
Spoiler for Sally:
Diubah oleh whykevin 14-07-2016 09:26
0
44.5K
236
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
whykevin
#151
Part 18 - Kiss
Hujan masih turun sangat deras diluar sana, gue dan salsa yang terguyur hujan mengelap tubuh kami yang basah kuyup dengan handuk.
karna gue sudah meresa gak nyaman dengan keadaan gue, gue izin kepada salsa untuk pergi mandi, dan menyuruhnya juga pergi mandi untuk membersihkan tubuh.
"sal, aku mau mandi" ucap gue yang berdiri di depan kamar gue "kamu mandi juga gih, tuh di kamar sana" lanjut gue sambil menunjuk ke arah kamar bunda
"iya vin" jawabnya lalu mulai bangkit dan berjalan ke arah kamar bunda.
Gue pun membersihkan tubuh hingga benar benar clean. setelah selesai gue bergegas mengambil baju di lemari lalu memakainya. gue memakai kaos hitam polos biasa dan celana pendek. ohya, gak lupa gue bawain juga baju untuk salsa, mengingat baju seragam yang tadi ia kenakan sudah sangat basah dan gak bisa di pakai lagi. gue mengambil kemeja lengan panjang putih polos dan celana training panjang untuknya, ya apa lagi? gue gak punya baju cewek, baju bunda pun pada di bawa semua, ada juga baju pesta milik bunda? kan gak mungkin kalo gue kasih baju pesta.
Gue pun keluar dengan membawa sepasang baju&celana yang terlipat rapih sambil berjalan menuju kamar bunda, terlihat pintunya tertutup rapat, dari luar gue panggil salsa.
"sal? udah mandinya" panggil gue dengan suara agak keras.
"udah vin!" jawabnya
"nih baju buat kamu"
pintu pun terbuka sedikit sekali, hanya terlihat lengan kirinya saja yang keluar dan mencoba menggapai baju yang gue kasih, setelah dia ambil lalu pintu di tutup kembali. gue memutuskan untuk pergi menyalakan komputer di kamar mengingat ada tugas kelompok yang harus gue selesaikan, mungkin seharusnya tugas kelompok yang harus "kami" selesaikan, gatau deh si rangga sama dimas masih kejebak hujan kayaknya.
setelah menyalakan komputer gue pergi kedapur dan membuat 2 gelas hot chocolate untuk gue dan salsa, yah lumayan untuk sekedar menghangatkan tenggorokan.
Setelah selesai gue berjalan ke arah kamar sambil membawa 2 gelas coklat panas. gue berjalan melewati ruang tengah, dan gue lihat ada salsa disana sedang duduk di atas sofa sambil memainkan hp miliknya, anehnya... dia malah menggunakan short pants.
"ini sal, diminum" ujar gue sambil meletakan kedua gelas di atas meja, lalu duduk di sofa yang lain.
"wahh!! makasih vin. tau aja aku suka hot chocolate" ujar nya sambil tersenyum ke arah gue
"mungkin kebetulan hehe" jawab gue "itu, celana yang aku kasih kemana?" lanjut gue
"gak aku pake vin, aku gak suka celana panjang gitu, gak nyaman"
"ohh, terus itu celana dari mana?"
"ini aku pake celana pendek yang aku beli di ayu tadi disekolah, kebetulan gak basah ada di dalem tas hehe" jelasnya
"ohh gitu"
salsa pun mengambil segelas hot chocolate dan mulai meniupinya perlahan dengan sangat lembut. tak lama dia menyimpan kembali gelas miliknya dimeja lalu berkata.
"vin... kaki kamu!"
"hah?" gue melihat ke arah lutut, dan ternyata lutut gue masih mengeluarkan darah, sumpah dari tadi gue sama sekali gak nyadar.
"sini deh kamu" ujarnya menyuruh gue duduk disebelahnya.
Gue pun duduk mendekat mengikuti apa yang dia suruh.
"kotak obat dimana?" tanya-nya
"di dapur" jawab gue
Salsa pun bangkit dan berjalan menuju dapur, tak lama dia pun kembali dengan membawa kain kasa, perban, obat merah, dan perekat lalu menyimpan semua itu di atas meja dan berjalan ke kamar bunda, dia pun kembali lagi dengan membawa segayung air panas. Lalu salsa duduk tepat disebelah gue. ya gue udah tau pasti dia mau obatin luka gue.
"sini vin kakinya naikin" ucapnya menyuruh gue menaikan kaki, posisi gue saat itu duduk menyender pada lengan sofa dengan kedua kaki gue yang diselonjorkan berada di atas paha salsa. sumpah, hati gue gak karuan, saat kulit kaki gue menyentuh kulit paha salsa, gue jadi agak risih.
"relax vin, kakinya jangan di kerasin gini" ucapnya sambil memegang kaki gue
"eh iya sorry"
Salsa mulai dengan membersihkan luka di lutut gue dengan air panas, dilanjutkan dengan memberikan obat merah. dan seterusnya hingga perban dan kain kasa tersusun benar benar rapih di lutut kaki kiri gue.
"sip udah beres"
"makasih ya, gak nyangka kamu bisa kayak ginian"
"iyalah! aku kan anak pmr!"
"wah, pantesan"
"chika sama ayu juga sama eskul pmr"
"mereka juga?"
"iya"
salsa pun mengambil cangkir berisi coklat panas miliknya, dengan perlahan dia mulai meniupinya kembali.
"sini biar aku aja" ucap gue mengambil cangkir miliknya
"eh... kenapa"
"udah.."
niat gue hanya sekedar membalas perbuatannya, ya walaupun tidak sebanding, yang penting ada usaha lah.
setelah gue rasa sudah cukup hangat gue memberikannya kembali pada salsa.
"nih, udah agak dinginan kayaknya" ujar gue
"iya vin, makasih"
seperti masih ragu akan suhu panas di minuman tersebut, dia hanya mencicipinya sedikit dan ternyata memang sudah hangat, dia pun meneguknya.
sementara gue? dari tadi gue malah merhatiin salsa yang lagi minum. jarak gue dengan salsa waktu itu hanya sekitar 2jengkal tangan doang lah.
"kok malah ngeliatin?" tanya-nya sambil tersenyum dan menyimpan cangkir di meja
"eh.. engga sal"
gue mengalihkan pandangan pura pura melihat ke atap rumah, gatau deh pokoknya ga jelas banget tengok sana sini.
"vin?"
"iya?" jawab gue yang sedang melihat ke atap lalu menengok ke arahnya.
Tiba tiba! dia mendekatkan wajahnya ke wajah gue, bibirnya yang ranum bersentuhan dengan bibir gue. Gue benar benar kaget! kalian tau kan? waktu chika nyenderin kepalanya di pundak gue aja udah bikin gue super dek dekan. apalagi ini? pokokya, it's really happened on that day! gue gak bisa lupa kejadian itu, it's really wild! gue yang pengen ngehindar juga gak bisa, badan gue ngefreeze, stuck deh!
Sebagai laki laki gue gak bisa bohong, yang gue rasakan saat itu bisa di bilang "nikmat". dan juga perasaan yang sama sekali gak bisa gue jelaskan disini. gue sama sekali gak munafik tentang yang gue rasakan. tetapi tentu saja gue benar benar sangat kaget akan yang dia lakukan saat itu.
Salsa sepertinya sudah pernah melakukan ini sebelumnya, terasa dari bibir dan lidahnya yang sudah lihai bermain di bibir gue, lidah kami saling bertemu saat itu. gue bisa merasakan rasa coklat di lidah salsa mungkin dari coklat panas yang tadi dia minum, dan bibir kami masih saling bersentuhan satu sama lain. diantara kami berdua yang aktif adalah salsa, sementara gue hanya terdiam, kayak di hipnotis mata terbuka. kejadian itu gak berlangsung lama, hanya sekitar -+10 detik.
Dengan sangat pelan dan perlahan salsa mulai melepaskan bibirnya dari bibir gue, setelah itu kami berdua jadi salah tingkah, tak lama salsa bicara.
"ma..maaf ya.. vin"
"e..ehm... dimas sama rangga mana ya? aku telphone bentar deh" ujar gue mencoba mengalihkan pembicaraan
"aku.... aku mau nyimpan cangkir ini ke dapur, dapurnya sebelah mana?" tanya salsa
"oh.. da.. dapur? tuh disana.." ujar gue sambil menunjuk ke arah dapur dengan suara terbata bata, lah? kan dia tadi ngambil barang-barang buat obatin lutut gue di dapur? masa udah lupa? ah udah lah..
salsa pun berjalan menuju dapur, sementara gue masih duduk di sofa dan mencoba memikirkan apakah kejadian tadi benar benat terjadi. gue cubit tangan gue terasa sakit, lalu gue pegang bibir gue dan masih terasa basah. ternyata tadi bukan mimpi.
Gue yang udah mati gaya memutuskan untuk pergi keluar rumah, sekedar ngecheck hujan apakah sudah berhenti. terlihat hujan sudah mereda, hanya gerimis kecil yang turun dari langit. gue mencoba menelphone dimas beberapa kali, tidak ada jawaban darinya. gue putuskan untuk masuk ke dalam rumah lalu pergi ke kamar dan duduk di depan komputer. tak lama salsa berjalan menghampiri gue.
"dimas sama rangga mana vin?"
"gak tau sal, aku telphone ga aktif"
"ohh.. vin?"
"iya?"
"soal tadi.. maaf ya"
"i.. iya sal" gue gak tau harus jawab apa lagi, setiap teringat kejadian tadi gue jadi nervous di depan salsa.
tak lama bel rumah berbunyi, terdengar suara dimas dan rangga dari arah luar. gue yang dari tadi tegang, sedikit agak lega akan kedatangan mereka. pintu pun gue buka, terlihat rambut dan jacket mereka yang sedikit basah, lalu mereka berdua mulai berjalan masuk.
kami berempat pun segera mengerjakan tugas, di sepanjang pengerjaan tugas sikap gue dan salsa biasa saja, seakan tidak ada apapun yang terjadi. sekitar 40menit lamanya tugas pun selesai. salsa, dimas, dan rangga pamit untuk pulang. gue mengantar mereka sampai depan rumah.
"vin kita pulang ya" ujar salsa sambil tersenyum manis
"thanks-nya vin makanannya hehe" ujar dimas
"ah maneh mah useless! ga kerja, gak usah di tulisin vin" timpal rangga
"enak aja! yang nganter maneh kesini saha?!" balas dimas ( maneh=lo, saha=siapa)
"ah itu mah naik angkot oge bisa" ujar rangga (oge=juga)
"udah udah ih kalian!! mau pulang gak nih?" ujar salsa
"hahaha" gue hanya tertawa pelan
mereka pun pergi menaiki kendaraan masing masing, sebelum salsa memasuki mobilnys dia menatap gue dan memberikan senyuman ke arah gue, gue hanya membalas dengan senyum tipis.
setelah mereka berlalu pergi terlihat natasha di sebrang jalan yang masih menggunakan seragam sekolahnya. dia pun menghampiri gue.
"banyak orang kayaknya tadi?" tanya-nya
"nggak kok nat, cuma bertiga doang"
"abis ngapain emang?"
"ngerjain tugas kelompok tadi"
"ohh... perempuan tadi namanya salsa ya vin?"
"kok kamu tau?"
"aku kan pernah kenalan sama dia waktu di rumah sakit"
"oh iya aku lupa"
"dia cantik juga ya vin?"
"cantik itu relatif nat, kamu juga cantik"
"ih" dia tersenyum sambil mencubit pelan pipi gue "hmm... aku penasaran sama perempuan yang namanya chika" lanjutnya
"penasaran gimana?"
"eh nggak vin, udah ah masuk yuk, bikinin aku hot chocolate donggg" pintanya dengan manja. huptt!! hot chocolate?? ....
Gue dan natasha mengobrol panjang lebar di dalam rumah, di susul dengan sally yang baru pulang dari rumah oma dengan kaki yang kotor. setiap natasha menanyakan tentang salsa, terbesit di benak gue akan kejadian tadi.
hingga natasha pulang dan malam hari tiba, gue pun segera pergi tidur.
karna gue sudah meresa gak nyaman dengan keadaan gue, gue izin kepada salsa untuk pergi mandi, dan menyuruhnya juga pergi mandi untuk membersihkan tubuh.
"sal, aku mau mandi" ucap gue yang berdiri di depan kamar gue "kamu mandi juga gih, tuh di kamar sana" lanjut gue sambil menunjuk ke arah kamar bunda
"iya vin" jawabnya lalu mulai bangkit dan berjalan ke arah kamar bunda.
Gue pun membersihkan tubuh hingga benar benar clean. setelah selesai gue bergegas mengambil baju di lemari lalu memakainya. gue memakai kaos hitam polos biasa dan celana pendek. ohya, gak lupa gue bawain juga baju untuk salsa, mengingat baju seragam yang tadi ia kenakan sudah sangat basah dan gak bisa di pakai lagi. gue mengambil kemeja lengan panjang putih polos dan celana training panjang untuknya, ya apa lagi? gue gak punya baju cewek, baju bunda pun pada di bawa semua, ada juga baju pesta milik bunda? kan gak mungkin kalo gue kasih baju pesta.
Gue pun keluar dengan membawa sepasang baju&celana yang terlipat rapih sambil berjalan menuju kamar bunda, terlihat pintunya tertutup rapat, dari luar gue panggil salsa.
"sal? udah mandinya" panggil gue dengan suara agak keras.
"udah vin!" jawabnya
"nih baju buat kamu"
pintu pun terbuka sedikit sekali, hanya terlihat lengan kirinya saja yang keluar dan mencoba menggapai baju yang gue kasih, setelah dia ambil lalu pintu di tutup kembali. gue memutuskan untuk pergi menyalakan komputer di kamar mengingat ada tugas kelompok yang harus gue selesaikan, mungkin seharusnya tugas kelompok yang harus "kami" selesaikan, gatau deh si rangga sama dimas masih kejebak hujan kayaknya.
setelah menyalakan komputer gue pergi kedapur dan membuat 2 gelas hot chocolate untuk gue dan salsa, yah lumayan untuk sekedar menghangatkan tenggorokan.
Setelah selesai gue berjalan ke arah kamar sambil membawa 2 gelas coklat panas. gue berjalan melewati ruang tengah, dan gue lihat ada salsa disana sedang duduk di atas sofa sambil memainkan hp miliknya, anehnya... dia malah menggunakan short pants.
"ini sal, diminum" ujar gue sambil meletakan kedua gelas di atas meja, lalu duduk di sofa yang lain.
"wahh!! makasih vin. tau aja aku suka hot chocolate" ujar nya sambil tersenyum ke arah gue
"mungkin kebetulan hehe" jawab gue "itu, celana yang aku kasih kemana?" lanjut gue
"gak aku pake vin, aku gak suka celana panjang gitu, gak nyaman"
"ohh, terus itu celana dari mana?"
"ini aku pake celana pendek yang aku beli di ayu tadi disekolah, kebetulan gak basah ada di dalem tas hehe" jelasnya
"ohh gitu"
salsa pun mengambil segelas hot chocolate dan mulai meniupinya perlahan dengan sangat lembut. tak lama dia menyimpan kembali gelas miliknya dimeja lalu berkata.
"vin... kaki kamu!"
"hah?" gue melihat ke arah lutut, dan ternyata lutut gue masih mengeluarkan darah, sumpah dari tadi gue sama sekali gak nyadar.
"sini deh kamu" ujarnya menyuruh gue duduk disebelahnya.
Gue pun duduk mendekat mengikuti apa yang dia suruh.
"kotak obat dimana?" tanya-nya
"di dapur" jawab gue
Salsa pun bangkit dan berjalan menuju dapur, tak lama dia pun kembali dengan membawa kain kasa, perban, obat merah, dan perekat lalu menyimpan semua itu di atas meja dan berjalan ke kamar bunda, dia pun kembali lagi dengan membawa segayung air panas. Lalu salsa duduk tepat disebelah gue. ya gue udah tau pasti dia mau obatin luka gue.
"sini vin kakinya naikin" ucapnya menyuruh gue menaikan kaki, posisi gue saat itu duduk menyender pada lengan sofa dengan kedua kaki gue yang diselonjorkan berada di atas paha salsa. sumpah, hati gue gak karuan, saat kulit kaki gue menyentuh kulit paha salsa, gue jadi agak risih.
"relax vin, kakinya jangan di kerasin gini" ucapnya sambil memegang kaki gue
"eh iya sorry"
Salsa mulai dengan membersihkan luka di lutut gue dengan air panas, dilanjutkan dengan memberikan obat merah. dan seterusnya hingga perban dan kain kasa tersusun benar benar rapih di lutut kaki kiri gue.
"sip udah beres"
"makasih ya, gak nyangka kamu bisa kayak ginian"
"iyalah! aku kan anak pmr!"
"wah, pantesan"
"chika sama ayu juga sama eskul pmr"
"mereka juga?"
"iya"
salsa pun mengambil cangkir berisi coklat panas miliknya, dengan perlahan dia mulai meniupinya kembali.
"sini biar aku aja" ucap gue mengambil cangkir miliknya
"eh... kenapa"
"udah.."
niat gue hanya sekedar membalas perbuatannya, ya walaupun tidak sebanding, yang penting ada usaha lah.
setelah gue rasa sudah cukup hangat gue memberikannya kembali pada salsa.
"nih, udah agak dinginan kayaknya" ujar gue
"iya vin, makasih"
seperti masih ragu akan suhu panas di minuman tersebut, dia hanya mencicipinya sedikit dan ternyata memang sudah hangat, dia pun meneguknya.
sementara gue? dari tadi gue malah merhatiin salsa yang lagi minum. jarak gue dengan salsa waktu itu hanya sekitar 2jengkal tangan doang lah.
"kok malah ngeliatin?" tanya-nya sambil tersenyum dan menyimpan cangkir di meja
"eh.. engga sal"
gue mengalihkan pandangan pura pura melihat ke atap rumah, gatau deh pokoknya ga jelas banget tengok sana sini.
"vin?"
"iya?" jawab gue yang sedang melihat ke atap lalu menengok ke arahnya.
Tiba tiba! dia mendekatkan wajahnya ke wajah gue, bibirnya yang ranum bersentuhan dengan bibir gue. Gue benar benar kaget! kalian tau kan? waktu chika nyenderin kepalanya di pundak gue aja udah bikin gue super dek dekan. apalagi ini? pokokya, it's really happened on that day! gue gak bisa lupa kejadian itu, it's really wild! gue yang pengen ngehindar juga gak bisa, badan gue ngefreeze, stuck deh!
Sebagai laki laki gue gak bisa bohong, yang gue rasakan saat itu bisa di bilang "nikmat". dan juga perasaan yang sama sekali gak bisa gue jelaskan disini. gue sama sekali gak munafik tentang yang gue rasakan. tetapi tentu saja gue benar benar sangat kaget akan yang dia lakukan saat itu.
Salsa sepertinya sudah pernah melakukan ini sebelumnya, terasa dari bibir dan lidahnya yang sudah lihai bermain di bibir gue, lidah kami saling bertemu saat itu. gue bisa merasakan rasa coklat di lidah salsa mungkin dari coklat panas yang tadi dia minum, dan bibir kami masih saling bersentuhan satu sama lain. diantara kami berdua yang aktif adalah salsa, sementara gue hanya terdiam, kayak di hipnotis mata terbuka. kejadian itu gak berlangsung lama, hanya sekitar -+10 detik.
Dengan sangat pelan dan perlahan salsa mulai melepaskan bibirnya dari bibir gue, setelah itu kami berdua jadi salah tingkah, tak lama salsa bicara.
"ma..maaf ya.. vin"
"e..ehm... dimas sama rangga mana ya? aku telphone bentar deh" ujar gue mencoba mengalihkan pembicaraan
"aku.... aku mau nyimpan cangkir ini ke dapur, dapurnya sebelah mana?" tanya salsa
"oh.. da.. dapur? tuh disana.." ujar gue sambil menunjuk ke arah dapur dengan suara terbata bata, lah? kan dia tadi ngambil barang-barang buat obatin lutut gue di dapur? masa udah lupa? ah udah lah..
salsa pun berjalan menuju dapur, sementara gue masih duduk di sofa dan mencoba memikirkan apakah kejadian tadi benar benat terjadi. gue cubit tangan gue terasa sakit, lalu gue pegang bibir gue dan masih terasa basah. ternyata tadi bukan mimpi.
Gue yang udah mati gaya memutuskan untuk pergi keluar rumah, sekedar ngecheck hujan apakah sudah berhenti. terlihat hujan sudah mereda, hanya gerimis kecil yang turun dari langit. gue mencoba menelphone dimas beberapa kali, tidak ada jawaban darinya. gue putuskan untuk masuk ke dalam rumah lalu pergi ke kamar dan duduk di depan komputer. tak lama salsa berjalan menghampiri gue.
"dimas sama rangga mana vin?"
"gak tau sal, aku telphone ga aktif"
"ohh.. vin?"
"iya?"
"soal tadi.. maaf ya"
"i.. iya sal" gue gak tau harus jawab apa lagi, setiap teringat kejadian tadi gue jadi nervous di depan salsa.
tak lama bel rumah berbunyi, terdengar suara dimas dan rangga dari arah luar. gue yang dari tadi tegang, sedikit agak lega akan kedatangan mereka. pintu pun gue buka, terlihat rambut dan jacket mereka yang sedikit basah, lalu mereka berdua mulai berjalan masuk.
kami berempat pun segera mengerjakan tugas, di sepanjang pengerjaan tugas sikap gue dan salsa biasa saja, seakan tidak ada apapun yang terjadi. sekitar 40menit lamanya tugas pun selesai. salsa, dimas, dan rangga pamit untuk pulang. gue mengantar mereka sampai depan rumah.
"vin kita pulang ya" ujar salsa sambil tersenyum manis
"thanks-nya vin makanannya hehe" ujar dimas
"ah maneh mah useless! ga kerja, gak usah di tulisin vin" timpal rangga
"enak aja! yang nganter maneh kesini saha?!" balas dimas ( maneh=lo, saha=siapa)
"ah itu mah naik angkot oge bisa" ujar rangga (oge=juga)
"udah udah ih kalian!! mau pulang gak nih?" ujar salsa
"hahaha" gue hanya tertawa pelan
mereka pun pergi menaiki kendaraan masing masing, sebelum salsa memasuki mobilnys dia menatap gue dan memberikan senyuman ke arah gue, gue hanya membalas dengan senyum tipis.
setelah mereka berlalu pergi terlihat natasha di sebrang jalan yang masih menggunakan seragam sekolahnya. dia pun menghampiri gue.
"banyak orang kayaknya tadi?" tanya-nya
"nggak kok nat, cuma bertiga doang"
"abis ngapain emang?"
"ngerjain tugas kelompok tadi"
"ohh... perempuan tadi namanya salsa ya vin?"
"kok kamu tau?"
"aku kan pernah kenalan sama dia waktu di rumah sakit"
"oh iya aku lupa"
"dia cantik juga ya vin?"
"cantik itu relatif nat, kamu juga cantik"
"ih" dia tersenyum sambil mencubit pelan pipi gue "hmm... aku penasaran sama perempuan yang namanya chika" lanjutnya
"penasaran gimana?"
"eh nggak vin, udah ah masuk yuk, bikinin aku hot chocolate donggg" pintanya dengan manja. huptt!! hot chocolate?? ....
Gue dan natasha mengobrol panjang lebar di dalam rumah, di susul dengan sally yang baru pulang dari rumah oma dengan kaki yang kotor. setiap natasha menanyakan tentang salsa, terbesit di benak gue akan kejadian tadi.
hingga natasha pulang dan malam hari tiba, gue pun segera pergi tidur.
0