- Beranda
- Stories from the Heart
ReStart Again
...
TS
vikidwic
ReStart Again
”Semua orang pasti punya impian mereka masing-masing ketika mereka masih kecil, begitu juga aku.”Thread pertama gua..
Maaf kalau kalimatnya absurb, terlalu formal, terlalu kekinian dll. Maklum tulisan pertama,,
Kalau tanya, ini fakta / fiski? masih ragu sebetulnya fakta atau fiktif, tapi di cerita kebanyakan fiktifnya sih,,
No kepo ya,,
Genrenya diawal kayak romance, tapi sebetulnya fantasi gan,,
Jadi jangan bingung bacanya,,
Nama, tempat, kejadian hanya karangan penulis semata...
Jangan lupa kripik pedasnya gan,,
Warning!!!
Mungkin ada konten dewasa yang bakalan muncul di awal cerita,,
Jadi pembaca di bawah 17 tahun jangan baca,, :v
Ambil positifnya, buang negatifnya..
Cerita 1 : Prolog
Cerita 2 : Restart (Part 1)
Diubah oleh vikidwic 01-07-2016 13:43
anasabila memberi reputasi
1
951
9
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
vikidwic
#3
1ST : The Begining
”Semua orang pasti punya impian mereka masing-masing ketika mereka masih kecil, begitu juga aku.”
Namaku Viki, aku bekerja di salah satu perusahaan swasta di daerah di Jakarta. Kehidupanku sangat membosankan. Bangun, kerja, tidur, bangun lagi, kerja lagi, lalu tidur, selalu begitu tiap saat. Aku hanya pandai dalam matematika, tidak memiliki hobi, tidak punya banyak teman, tidak punya pacar dan tidak pernah keluar dari rumah kecuali untuk bekerja. Itulah kehidupanku selama ini.
Suatu hari di tempat kerjaku, ada karyawan baru bernama Sintya. Pekerjaan yang ia lakukan sama denganku.
“Hai, apa kabar? Karyawan baru ya?” Aku memberanikan diri bertanya padanya.
“Oh, iya kabar baik. Iya pak, saya baru diterima di sini,” jawabnya sedikit gugup.
Mungkin dia masih canggung denganku, kan aku seniornya.
“Gak usah panggil pak, aku masih muda kok. Kita juga di job yang sama, jadi gak usah terlalu sungkan. Panggil mas aja cukup kok,” aku berusaha mencairkan suasana.
“Aku kira sudah tua, maaf mas. Tampangnya sih ketuaan.”
“Hehe.. ya sudah ayo lanjut kerja dulu.”
“Oke mas.”
Tampangku ketuaan? Oh God, why? Iya sih dari luar, kayaknya aku itu memang seperti berumur 30 tahun, tapi sebenarnya aku masih 23 tahun. Boros banget ya wajahnya.
Hari ini berjalan lancar, dan aku pun pulang ke rumah seperti biasa. Setidaknya, ada satu hal yang membuat hari ini berbeda dari biasanya.
Seminggu berlalu setelah kedatangan Sintya, semakin hari aku pun semakin dekat dengan dia. Aku rasa aku jatuh cinta dengannya. Karena kita sudah cukup dekat, aku pun mulai memberanikan diri mengambil satu langkah perubahan.
“Emm.. Sin.”
“Iya mas, ada apa?”
“Aku mau tanya boleh?”
“Iya tanya aja, tumben minta izin dulu, ada apa nih?” jawabnya sedikit penasaran.
“Aku lihat, kamu berangkat kerja sendirian aja, pulangnya kayaknya juga sendiri. Kamu punya pasangan nggak?” tanyaku padanya.
Sejujurnya, menurutku masih terlalu awal menanyakan hal tersebut kepadanya. Tapi rasa penasaranku membuatku memberanikan diri menanyakan hal tersebut.
“Aku masih sendiri mas, gak mau cari pasangan dulu,” jawabnya.
“Lho.. kenapa gak mau cari pasangan?” tanyaku penasaran.
“Aku trauma mas, aku sering sakit hati karena diselingkuhi. Ketika aku serius, ketika aku mencintai pasanganku, entah kenapa selalu berakhir dengan perselingkuhan. Mungkin aku cocoknya sendiri dulu mas,” jawabnya dengan senyum.
Aku terkejut dengan jawabannya. Ketika aku menemukan hal yang membuatku hidup bersungguh-sungguh, tetapi dia malah terpuruk dengan masa lalunya.
“Oh.. ya udah, maaf membuatmu mengingat itu kembali,” aku sedikit menyesal menanyakan hal itu.
“Iya mas gak papa kok. Lagian kalo gak aku jawab malah penasaran.” Sintya lalu melanjutkan pekerjaannya.
Ketika di rumah, aku sadar, hidupku ternyata hanya begini-begini saja, setiap hari adalah sama, tidak akan pernah ada perubahan. Mungkin jika dulu aku bersungguh-sungguh dengan segala hal yang aku lakukan, mungkin aku bisa mendapatkan segalanya.
Tiba-tiba aku mendengar suara dalam pikiranku.
“Jadi kamu menyesali hidupmu yang sekarang.”
“Siapa? Dimana kau?”
“Tenang, aku ada di dalam pikiranmu. Kamu menyesalkan? Kenapa dari dulu kamu tidak bersungguh-sungguh? Padahal kamu ditakdirkan lebih baik dari sekarang. Aku punya sedikit pertanyaan untukmu, apa kamu mau mengulang hidupmu kembali? Apa kamu mau merubah nasibmu agar tidak seperti sekarang?”
“Kau gila ya, mana mungkin aku bisa mengulang kembali semuanya? Waktu tidak dapat diputar kembali, semuanya sudah berlalu,” aku penasaran, siapa sebenarnya yang berbicara kepadaku, kenapa dia ada dalam pikiranku.
“Jawab saja, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini,” dia berusaha meyakinkanku.
“Iya, memang benar aku menyesal dengan hidupku yang sekarang, aku ingin mengulang semuanya. Setiap hal, aku akan bersungguh-sungguh,” aku sebenarnya tidak percaya, tapi memang benar aku menyesal.
“Baiklah, tapi aku punya persyaratan untukmu. Kamu akan...”
Suara itu menghilang, badanku terasa lelah sekali, aku mengantuk, kepalaku serasa berat. Aku mulai memejamkan mata dan kemudian tertidur.
“Vik bangun, sudah pagi nak, sekolah nggak?”
Suara itu, suara ibuku. Aku membuka mata, dan aku berada di kamarku, di rumahku yang dulu waktu aku masih sekolah. Seingatku aku sudah bekerja, aku sudah punya rumah sendiri, tapi sekarang aku masih sekolah? Aku kembali ke masa sekolah? SD, SMP atau SMA? Mungkinkah semuanya terulang kembali? Jika memang benar, berarti aku punya kesempatan memperbaiki hidupku jadi lebih baik. Aku akan bersungguh-sungguh, aku tidak boleh hidup seperti diriku yang dulu. Ini kesempatanku untuk berubah.
---Prolog---
”Semua orang pasti punya impian mereka masing-masing ketika mereka masih kecil, begitu juga aku.”
Namaku Viki, aku bekerja di salah satu perusahaan swasta di daerah di Jakarta. Kehidupanku sangat membosankan. Bangun, kerja, tidur, bangun lagi, kerja lagi, lalu tidur, selalu begitu tiap saat. Aku hanya pandai dalam matematika, tidak memiliki hobi, tidak punya banyak teman, tidak punya pacar dan tidak pernah keluar dari rumah kecuali untuk bekerja. Itulah kehidupanku selama ini.
Suatu hari di tempat kerjaku, ada karyawan baru bernama Sintya. Pekerjaan yang ia lakukan sama denganku.
“Hai, apa kabar? Karyawan baru ya?” Aku memberanikan diri bertanya padanya.
“Oh, iya kabar baik. Iya pak, saya baru diterima di sini,” jawabnya sedikit gugup.
Mungkin dia masih canggung denganku, kan aku seniornya.
“Gak usah panggil pak, aku masih muda kok. Kita juga di job yang sama, jadi gak usah terlalu sungkan. Panggil mas aja cukup kok,” aku berusaha mencairkan suasana.
“Aku kira sudah tua, maaf mas. Tampangnya sih ketuaan.”
“Hehe.. ya sudah ayo lanjut kerja dulu.”
“Oke mas.”
Tampangku ketuaan? Oh God, why? Iya sih dari luar, kayaknya aku itu memang seperti berumur 30 tahun, tapi sebenarnya aku masih 23 tahun. Boros banget ya wajahnya.
Hari ini berjalan lancar, dan aku pun pulang ke rumah seperti biasa. Setidaknya, ada satu hal yang membuat hari ini berbeda dari biasanya.
Seminggu berlalu setelah kedatangan Sintya, semakin hari aku pun semakin dekat dengan dia. Aku rasa aku jatuh cinta dengannya. Karena kita sudah cukup dekat, aku pun mulai memberanikan diri mengambil satu langkah perubahan.
“Emm.. Sin.”
“Iya mas, ada apa?”
“Aku mau tanya boleh?”
“Iya tanya aja, tumben minta izin dulu, ada apa nih?” jawabnya sedikit penasaran.
“Aku lihat, kamu berangkat kerja sendirian aja, pulangnya kayaknya juga sendiri. Kamu punya pasangan nggak?” tanyaku padanya.
Sejujurnya, menurutku masih terlalu awal menanyakan hal tersebut kepadanya. Tapi rasa penasaranku membuatku memberanikan diri menanyakan hal tersebut.
“Aku masih sendiri mas, gak mau cari pasangan dulu,” jawabnya.
“Lho.. kenapa gak mau cari pasangan?” tanyaku penasaran.
“Aku trauma mas, aku sering sakit hati karena diselingkuhi. Ketika aku serius, ketika aku mencintai pasanganku, entah kenapa selalu berakhir dengan perselingkuhan. Mungkin aku cocoknya sendiri dulu mas,” jawabnya dengan senyum.
Aku terkejut dengan jawabannya. Ketika aku menemukan hal yang membuatku hidup bersungguh-sungguh, tetapi dia malah terpuruk dengan masa lalunya.
“Oh.. ya udah, maaf membuatmu mengingat itu kembali,” aku sedikit menyesal menanyakan hal itu.
“Iya mas gak papa kok. Lagian kalo gak aku jawab malah penasaran.” Sintya lalu melanjutkan pekerjaannya.
Ketika di rumah, aku sadar, hidupku ternyata hanya begini-begini saja, setiap hari adalah sama, tidak akan pernah ada perubahan. Mungkin jika dulu aku bersungguh-sungguh dengan segala hal yang aku lakukan, mungkin aku bisa mendapatkan segalanya.
Tiba-tiba aku mendengar suara dalam pikiranku.
“Jadi kamu menyesali hidupmu yang sekarang.”
“Siapa? Dimana kau?”
“Tenang, aku ada di dalam pikiranmu. Kamu menyesalkan? Kenapa dari dulu kamu tidak bersungguh-sungguh? Padahal kamu ditakdirkan lebih baik dari sekarang. Aku punya sedikit pertanyaan untukmu, apa kamu mau mengulang hidupmu kembali? Apa kamu mau merubah nasibmu agar tidak seperti sekarang?”
“Kau gila ya, mana mungkin aku bisa mengulang kembali semuanya? Waktu tidak dapat diputar kembali, semuanya sudah berlalu,” aku penasaran, siapa sebenarnya yang berbicara kepadaku, kenapa dia ada dalam pikiranku.
“Jawab saja, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini,” dia berusaha meyakinkanku.
“Iya, memang benar aku menyesal dengan hidupku yang sekarang, aku ingin mengulang semuanya. Setiap hal, aku akan bersungguh-sungguh,” aku sebenarnya tidak percaya, tapi memang benar aku menyesal.
“Baiklah, tapi aku punya persyaratan untukmu. Kamu akan...”
Suara itu menghilang, badanku terasa lelah sekali, aku mengantuk, kepalaku serasa berat. Aku mulai memejamkan mata dan kemudian tertidur.
“Vik bangun, sudah pagi nak, sekolah nggak?”
Suara itu, suara ibuku. Aku membuka mata, dan aku berada di kamarku, di rumahku yang dulu waktu aku masih sekolah. Seingatku aku sudah bekerja, aku sudah punya rumah sendiri, tapi sekarang aku masih sekolah? Aku kembali ke masa sekolah? SD, SMP atau SMA? Mungkinkah semuanya terulang kembali? Jika memang benar, berarti aku punya kesempatan memperbaiki hidupku jadi lebih baik. Aku akan bersungguh-sungguh, aku tidak boleh hidup seperti diriku yang dulu. Ini kesempatanku untuk berubah.
---Prolog---
0