- Beranda
- Stories from the Heart
I Am (NOT) Your Sister
...
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
465K
3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
natashyaa
#1697
A Part 64
“Malam Ni, gimana kondisimu udah baikan?” Sms dari kak Egi.
“Belum kak, huhu.” Jawabku.
Aku nyuekin panggilan ibu di luar kamar. Aku lebih memilih smssan sambil ketiduran ketimbang mendengarkan ibu. Aku bilang sama kak Egi kalau aku besok gak mau sekolah. Dia malah ngetawain aku, gara-gara itu aku makin sebel aja. Aku dengar di luar ibu sedang berbicara dengan seseorang, dari warna suaranya sih itu kak Fe. Sempat aku khawatir, tapi bodo ah, aku lanjut tiduran aja sambil dengerin musik dari hp.
DUG…DUG…DUG,,,,, Ketukan keras menghantam pintu kamarku.
“WOIII.. Ani lo keluar sekarang dah” Teriak kak Fe dari luar.
Aku pura-pura budek aja, soalnya ketukan pintu keras dan suara kak Fe menyatu dengan musik yang aku dengarkan.
“Felishaaa,.. jangan keras-keras, nanti pintunya rusak.” Protes ibu kepada kak Fe. Aku senyum aja mendengar ibu bicara seperti itu.
“Biarin lah bu, anak ini mesti dapet pelajaran.”
Aku masih senyum, bagaimanapun juga selama aku masih di kamar dan dikunci, kak Fe gak bakal bisa ngasih pelajaran kepadaku.
“Sabar atuh sayang, sini ah biar ibu aja yang rayu Ani keluar.”
“Ihh ibu…”
“Ani kalau kamu gak keluar sekarang, kamu gak dianggap anak sama ibu.”
HAH!?????
Aku terkejut mendengar ucapan ibu barusan. Ibu gak mau nganggap aku anaknya lagi. Ini sih bencana dunia. Aku pun buru-buru matiin musik di hpku, aku langsung beranjak dari kasur lalu berlari ke arah pintu dan membuka pintu.
Aku menangis, ocehan kak Fe tak kupedulikan.
“Ibu.. jahat, aku mau terus jadi anak ibu..”
“Maafin aku atuh ih ibu,,, aku janji besok bakal sekolah..” Rengekku kepada ibu. Aku beneran sedih banget jika gak dianggap anak lagi sama ibu. Soalnya selama ini yang baik dan selalu perhatian kepadaku Cuma ibu, kalau gak ada ibu siapa lagi yang baik kepadaku. Aku pun memeluk ibu erat.
“Cup…cup,,, sudah sayang, tenang gak apa-apa kok. Ibu tadi becanda.” Ibu mengelusku dan menenangkanku sampai emosiku benar-benar tenang.
“Yaudahlah ya Anita O’day, lo kenapa?” Kata kak Fe kesal.
“Aku takut ama Susi kak, aku takut dimarahin lagi sama dia.” Jawabku jujur
“Please deh Ani, lo inget janji gue tadi di sekolah?”
“Susi mah biar gue aja yang balas.” Kata dia
“Tuh kan sayang, biar kakakmu yang jagoan ini yang balas.” Kata ibu.
Menendengar ucapan ibu bikin aku tenang dan tersenyum. Aku yakin jika ibu berkata seperti itu pasti semuanya baik-baik saja. Ucapan kak Fe juga, awas yah aku pegang janji kakak kalau kak Fe mau balas dendam ke Susi.
“Ah, sudahlah ya.. capek, pala aku bisa pecah lama-lama.” Kata kak Fe yang tampaknya stres menghadapiku ini, ia lalu langsung pergi ke kamarnya.
***
Setelah itu semuanya kembali normal, aku pun jadi ceria lagi di rumah, habis mandi aku langsung turun ke bawah buat makan bersama ibu. Kak Fe menyusul ke bawah, tapi dia cuman makan sebentar, makannya dikit, lagi diet mungkin. Setelah mencuci piring dan beres-beres di dapur aku langsung kembali ke kamar. Aku melanjutkan smssan dengan kak Egi. Entah kenapa aku sekarang suka cerita ke kak Egi, bahkan di sms aku smsnya panjang-panjang. Aku ceritakan kepada dia kalau aku besok bakal sekolah lagi, dia menyambutnya dengan senang. Aku pun senang karena kak Egi begitu perhatian dan baik kepadaku.
“Kak, besok main yuk.” Kataku kepada kak Egi.
“Kemana Ni?”
“Ah kemana aja, ajak aku pake vespa butut kakak. :
P ” Ejekku di sms.
“Yeee, malah ngejek. Yauda besok ya, kakak jemput ke kelas kamu.”
****
Keesokan harinya keadaan sudah normal kembali. Aku sudah gak mikirin Susi lagi, biarkan si Susi menjadi urusan kak Fe. Aku sekarang jadi fokus dan aktif lagi belajar di kelas.
“Ni.. katanya kamu dilabrak lagi sama kak Susi ya?” Memang ya si Rahmi ini update banget sama hal seperti ini, entah darimana sumbernya, aku juga heran dia kok bisa tau segala hal berita gosip menggosip di sekolah.
“Tanya aja sama kak Fe.” Cetusku. Taruhan bersamaku, pasti Rahmi gak bakal berani nanya langsung ke kak Fe. Kemarin aja disemprot ama kak Fe, Rahmi langsung diem.
Pelajaran terakhir terasa lama sekali, ini pak Gurunya korupsi waktu. Semua siswa di kelasku sudah resah, termasuk aku. Aku ingat janji hari ini mau main sama kak Egi, takutnya kak Egi udah keluar dan aku tidak suka membuat orang menunggu.
Tapi, lewat jendela aku lihat keluar kelas ada kak Fe. Kak Fe ada di depan kelasku, dia mondar-mandir sendirian. Ada apa ya dia ? Oya, mungkin dia mau laporan kepadaku kalau dia sudah menjalankan misi balas dendamku kepada si Susi.
“Eh.. ada kakak..” Sapaku kepada dia pas keluar kelas.
“Ni, temenin gue ke rumah Stella.”
“kapan kak?”
“Sekarang!” Kata dia.
“Aduh aku udah ada janji kak. Gak bisa.”
“Eh lu masih inget Felisha’s Rules? Lu harus nurut sama perkataan gue.” Ancam dia.
“Ah kak…”
“Yaudah kalau lo gak mau, nanti lo bakal tau akibatnya.” Ancam dia lagi
“Iya..kak… iya kak, aku nurut sama kakak, asal kakak jangan marah aja sama aku.” Aduh lagi-lagi aku bisa ngelawan dia. Dia begitu kuat, aku lebih takut sama kak Fe sebenarnya daripada Susi. Kalau kak Fe ngamuk itu bisa semena-mena.
Astaga padahal aku sudah janji mau main sama kak Egi hari ini, aku jadi gak enak banget sama kak Egi. Tapi, aku juga harus memikirkan keselamatanku, kalau aku gak nurutin kemauan kak Fe, Aku pulang mungkin bisa tinggal nama.
“Nah gitu dong, good girl.” Senyum dia kepadaku. Dia pun langsung melangkahkan kakinya dengan centil. Sementara aku mengikutinya dengan langkah kecewa.
“Belum kak, huhu.” Jawabku.
Aku nyuekin panggilan ibu di luar kamar. Aku lebih memilih smssan sambil ketiduran ketimbang mendengarkan ibu. Aku bilang sama kak Egi kalau aku besok gak mau sekolah. Dia malah ngetawain aku, gara-gara itu aku makin sebel aja. Aku dengar di luar ibu sedang berbicara dengan seseorang, dari warna suaranya sih itu kak Fe. Sempat aku khawatir, tapi bodo ah, aku lanjut tiduran aja sambil dengerin musik dari hp.
DUG…DUG…DUG,,,,, Ketukan keras menghantam pintu kamarku.
“WOIII.. Ani lo keluar sekarang dah” Teriak kak Fe dari luar.
Aku pura-pura budek aja, soalnya ketukan pintu keras dan suara kak Fe menyatu dengan musik yang aku dengarkan.
“Felishaaa,.. jangan keras-keras, nanti pintunya rusak.” Protes ibu kepada kak Fe. Aku senyum aja mendengar ibu bicara seperti itu.
“Biarin lah bu, anak ini mesti dapet pelajaran.”
Aku masih senyum, bagaimanapun juga selama aku masih di kamar dan dikunci, kak Fe gak bakal bisa ngasih pelajaran kepadaku.
“Sabar atuh sayang, sini ah biar ibu aja yang rayu Ani keluar.”
“Ihh ibu…”
“Ani kalau kamu gak keluar sekarang, kamu gak dianggap anak sama ibu.”
HAH!?????
Aku terkejut mendengar ucapan ibu barusan. Ibu gak mau nganggap aku anaknya lagi. Ini sih bencana dunia. Aku pun buru-buru matiin musik di hpku, aku langsung beranjak dari kasur lalu berlari ke arah pintu dan membuka pintu.
Aku menangis, ocehan kak Fe tak kupedulikan.
“Ibu.. jahat, aku mau terus jadi anak ibu..”
“Maafin aku atuh ih ibu,,, aku janji besok bakal sekolah..” Rengekku kepada ibu. Aku beneran sedih banget jika gak dianggap anak lagi sama ibu. Soalnya selama ini yang baik dan selalu perhatian kepadaku Cuma ibu, kalau gak ada ibu siapa lagi yang baik kepadaku. Aku pun memeluk ibu erat.
“Cup…cup,,, sudah sayang, tenang gak apa-apa kok. Ibu tadi becanda.” Ibu mengelusku dan menenangkanku sampai emosiku benar-benar tenang.
“Yaudahlah ya Anita O’day, lo kenapa?” Kata kak Fe kesal.
“Aku takut ama Susi kak, aku takut dimarahin lagi sama dia.” Jawabku jujur
“Please deh Ani, lo inget janji gue tadi di sekolah?”
“Susi mah biar gue aja yang balas.” Kata dia
“Tuh kan sayang, biar kakakmu yang jagoan ini yang balas.” Kata ibu.
Menendengar ucapan ibu bikin aku tenang dan tersenyum. Aku yakin jika ibu berkata seperti itu pasti semuanya baik-baik saja. Ucapan kak Fe juga, awas yah aku pegang janji kakak kalau kak Fe mau balas dendam ke Susi.
“Ah, sudahlah ya.. capek, pala aku bisa pecah lama-lama.” Kata kak Fe yang tampaknya stres menghadapiku ini, ia lalu langsung pergi ke kamarnya.
***
Setelah itu semuanya kembali normal, aku pun jadi ceria lagi di rumah, habis mandi aku langsung turun ke bawah buat makan bersama ibu. Kak Fe menyusul ke bawah, tapi dia cuman makan sebentar, makannya dikit, lagi diet mungkin. Setelah mencuci piring dan beres-beres di dapur aku langsung kembali ke kamar. Aku melanjutkan smssan dengan kak Egi. Entah kenapa aku sekarang suka cerita ke kak Egi, bahkan di sms aku smsnya panjang-panjang. Aku ceritakan kepada dia kalau aku besok bakal sekolah lagi, dia menyambutnya dengan senang. Aku pun senang karena kak Egi begitu perhatian dan baik kepadaku.
“Kak, besok main yuk.” Kataku kepada kak Egi.
“Kemana Ni?”
“Ah kemana aja, ajak aku pake vespa butut kakak. :
P ” Ejekku di sms.“Yeee, malah ngejek. Yauda besok ya, kakak jemput ke kelas kamu.”
****
Keesokan harinya keadaan sudah normal kembali. Aku sudah gak mikirin Susi lagi, biarkan si Susi menjadi urusan kak Fe. Aku sekarang jadi fokus dan aktif lagi belajar di kelas.
“Ni.. katanya kamu dilabrak lagi sama kak Susi ya?” Memang ya si Rahmi ini update banget sama hal seperti ini, entah darimana sumbernya, aku juga heran dia kok bisa tau segala hal berita gosip menggosip di sekolah.
“Tanya aja sama kak Fe.” Cetusku. Taruhan bersamaku, pasti Rahmi gak bakal berani nanya langsung ke kak Fe. Kemarin aja disemprot ama kak Fe, Rahmi langsung diem.
Pelajaran terakhir terasa lama sekali, ini pak Gurunya korupsi waktu. Semua siswa di kelasku sudah resah, termasuk aku. Aku ingat janji hari ini mau main sama kak Egi, takutnya kak Egi udah keluar dan aku tidak suka membuat orang menunggu.
Tapi, lewat jendela aku lihat keluar kelas ada kak Fe. Kak Fe ada di depan kelasku, dia mondar-mandir sendirian. Ada apa ya dia ? Oya, mungkin dia mau laporan kepadaku kalau dia sudah menjalankan misi balas dendamku kepada si Susi.
“Eh.. ada kakak..” Sapaku kepada dia pas keluar kelas.
“Ni, temenin gue ke rumah Stella.”
“kapan kak?”
“Sekarang!” Kata dia.
“Aduh aku udah ada janji kak. Gak bisa.”
“Eh lu masih inget Felisha’s Rules? Lu harus nurut sama perkataan gue.” Ancam dia.
“Ah kak…”
“Yaudah kalau lo gak mau, nanti lo bakal tau akibatnya.” Ancam dia lagi
“Iya..kak… iya kak, aku nurut sama kakak, asal kakak jangan marah aja sama aku.” Aduh lagi-lagi aku bisa ngelawan dia. Dia begitu kuat, aku lebih takut sama kak Fe sebenarnya daripada Susi. Kalau kak Fe ngamuk itu bisa semena-mena.
Astaga padahal aku sudah janji mau main sama kak Egi hari ini, aku jadi gak enak banget sama kak Egi. Tapi, aku juga harus memikirkan keselamatanku, kalau aku gak nurutin kemauan kak Fe, Aku pulang mungkin bisa tinggal nama.
“Nah gitu dong, good girl.” Senyum dia kepadaku. Dia pun langsung melangkahkan kakinya dengan centil. Sementara aku mengikutinya dengan langkah kecewa.
Diubah oleh natashyaa 29-06-2016 16:33
0
