- Beranda
- Stories from the Heart
I Am (NOT) Your Sister
...
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
465K
3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
natashyaa
#1689
A Part 63
Hari ini aku benar-benar tidak konsen belajar di kelas, apalagi setelah istirahat. Pikiranku kemana-mana gak fokus gara-gara kejadian tadi. Di kelas pun aku diliatin teman-teman yang lain karena tadi nangis. Rahmi juga terus bertanya kepadaku apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku tak menjawabnya.
Bel pulang berbunyi, akhirnya aku bisa pulang, aku ingin istirahat, tiduran, dan lupa akan kejadian hari ini.
“Hey…. Ani..” Seseorang menghampiriku ketika aku sedang memasukan buku dan alat tulisku ke tas.
“Eh.. hey.. kak..” Rupanya kak Egi datang ke kelasku.
“Tadi di kantin kenapa?” Tanya nya.
“Gak kenapa-napa kok kak.”
“Itu matamu,,”
“Mataku kenapa kak?”
“Matamu gak bisa bohong dariku Ni, kamu abis nangis.”
“Oh… iya, gpp sih. Kelilipan tadi di luar.”
“Hahaha, boleh aku jujur padamu Ni?”
“Apa itu kak?”
“Kamu pembohong terburuk yang pernah aku temui.”
“Serius, kamu tadi diapain ama Susi?” Tanya dia.
“Ya, ngak penting juga sih kak.”
Aku yang sudah merapihkan bangku dan tasku langsung berjalan ke luar, meninggalkan kak Egi.
“Hey, Ani….” Kak Egi menyusulku.
“Apa kak?”
“Mau ikut gak ?”
“Kemana?”
“Ikut aja pokoknya. Yuk.”
“Aku mau pulang kak.”
“Ikut aja dulu bentar. Dijamin rasa sedihmu hari ini hilang.”
“Yauda deh, bentar tapi ya.”
Aku pun mengikuti kak Egi ke tempar parkir. Di tempat parkir aku melihat kak Fe sedang ngobrol sama kak Andrea di dekat gerbang. Aku rasa kak Fe lagi bahas tentang kejadian tadi di kantin.
“Ayo Ni naik.” Kata kak Egi.
“Naik Vespa kak ?”
“Iya, emangnya naik apa.?” Kata dia.
Awalnya aku ragu mau naik, soalnya aku belum pernah dibonceng naik Vespa. Tapi, karena sudah terlanjur, yauda deh aku langsung naik Vespa bewarna biru milik kak Egi.
Aduh sebenarnya asli aku pas jalan naik Vespa dibonceng kak Egi malu banget. Semua orang yang sedang berjalan keluar gerbang pada liatin. Di tambah lagi suara khas Vespa yang menjadi pusat perhatian. Aku pun malu-malu menutup wajahku dengan tasku. Aku juga takut ketahuan kak Fe, tapi pas menuju gerbang aku liat kak Fe berjalan menarik tangan kak Andrea ke kantin belakang.
***
“Gimana enak gak naik Vespa?” Tanya kak Egi di motor.
“Biasa aja sih kak.”
“Yeyey.. enak tau naik Vespa. Berasa romanitsnya.”
“Oyah?” Tanyaku
“Asal kamu tau Ni. Vespa ini warisan dari ayah kak Egi. Dulu ayah kak Egi sama ibu kak Egi bobogohan pake Vespa ini.”
“Tapi kita kan gak bobogohan kak.”
“Hm… “
“Kita beli es kelapa muda dulu yuk.” Ujar kak Egi yang kemudian menepikan motornya di pinggir jalan. Aku pun dari Vespanya lalu ikut sama kak Egi.
“Mang es batokna dua.” Kata kak Egi.
Aku dan kak Egi pun duduk menunggu.
“Sebelum pulang kamu minum air kelapa dulu, biar air matamu yang terkuras habis bisa terisi kembali.” Katanya
“Ah, masa sih kak.”
“Iyalah, kamu gak tau ?”
“Gak kak.”
“Yah kamu ini padahal menurut penelitian… bla bla blabla bla bla bla bla bla bla…”
Sebenarnya aku tidak mendengarkan ocehan kak Egi, pikiranku masih mikirin si bedebah Susi.
“Hey.. Ni…?”
“…”
“Ah dicuekin nih..”
“Apa kak?”
“Kamu ngelamunin apa sih? Kejadian tadi? Kan udah kakak bilang, kalau ada masalah cerita aja ke kakak. Gak usah malu.”
“mmmmm….” Aku menangguk saja
“Iya. Kenapa, sok cerita.”
Yauda deh aku jadinya ceritain kejadian tadi, ceritain dari awal aku musuhan sama si Susi, ceritain juga masalah kak Fe dengan si Susi, ceritain juga masalah kak Fe dan temanya, ceritain juga kenapa tadi aku dimarahi si susi, ceritain juga kalau aku disuruh kak Fe buat datang ke si Susi dan kak Andrea, ah pokoknya semua aku ceritain sampai-sampai air kelapa ini habis.
“Gini ya Ni, klo masalah Felisha sama Susi sih udah bukan rahasia lagi, mereka itu memang musuhan.”
“Cuman, kok Felisha tega banget ya nyuruh kamu ?”
“Udah tau Susi gak suka sama kamu, eh kamu malah disuruh kesana.”
“Ya klo masalah dia, uruslah sama dia sendiri, jangan libatin kamu.”
“Kamu itu kayak umpan, kamu itu kayak dimanfaatin sama dia.”
“Itu menurut pendapat kakak sih ya.”
Mendengar ucapan kak Egi tersebut kok aku baru sadar. Benar kata penjelasan kak Egi seolah-olah aku ini cuman umpan, aku kayak dimanfaatin doang ama kak Fe. Aduh kalau iya beneran dimanfaatin, aku sedih banget. Aku jadi negatif thinking lagi deh ama kak Fe.
“Hayu ah pulang, katanya mau pulang.” Ajak kak Egi.
***
Sepanjang perjalanan pulang aku terus kepikiran. Aku kok mudah banget ya dibodohin kak Fe. Kenapa Kenapa atuh..
“Ibuuu……” Kataku kepada ibu yang sedang membaca buku
“Ya sayang?”
“Aku gak mau sekolah, aku ingin pindah sekolah.”
“Astaga, kemarin Felisha yang minta pindah sekolah, sekarang giliran kamu. Ada apa sih sebenarnya?”
“Jangan bilang gara-gara Susi lagi.”
Lha ibu kok tau ya. Hmmm. Sepertinya ibu punya indra keenam.
“Iya, Aku dilabrak lagi ama si Susi.”
“Kamu kenapa dilabrak lagi sama dia?”
“Sebenarnya sih gara-gara kak Fe bu, aku dimanfaatin ama dia, aku disuruh dia.”
“Pokoknya aku besok gak mau sekolah lagi.” Kataku kepada ibu yang langsung melepaskan tasku lalu berlari ke kamarku.
….
“Ani… Buka dong pintunya sayang..” Ketuk ibu di depan pintu kamarku.
Dari sejak aku ngobrol sama ibu pas pulang ke rumah sampai sekarang magrib aku mengurung diri di kamar. Biasanya jam segini aku selalu membantu ibu nyiapin makanan, tapi kali ini enggak, aku gak mau.
Bel pulang berbunyi, akhirnya aku bisa pulang, aku ingin istirahat, tiduran, dan lupa akan kejadian hari ini.
“Hey…. Ani..” Seseorang menghampiriku ketika aku sedang memasukan buku dan alat tulisku ke tas.
“Eh.. hey.. kak..” Rupanya kak Egi datang ke kelasku.
“Tadi di kantin kenapa?” Tanya nya.
“Gak kenapa-napa kok kak.”
“Itu matamu,,”
“Mataku kenapa kak?”
“Matamu gak bisa bohong dariku Ni, kamu abis nangis.”
“Oh… iya, gpp sih. Kelilipan tadi di luar.”
“Hahaha, boleh aku jujur padamu Ni?”
“Apa itu kak?”
“Kamu pembohong terburuk yang pernah aku temui.”
“Serius, kamu tadi diapain ama Susi?” Tanya dia.
“Ya, ngak penting juga sih kak.”
Aku yang sudah merapihkan bangku dan tasku langsung berjalan ke luar, meninggalkan kak Egi.
“Hey, Ani….” Kak Egi menyusulku.
“Apa kak?”
“Mau ikut gak ?”
“Kemana?”
“Ikut aja pokoknya. Yuk.”
“Aku mau pulang kak.”
“Ikut aja dulu bentar. Dijamin rasa sedihmu hari ini hilang.”
“Yauda deh, bentar tapi ya.”
Aku pun mengikuti kak Egi ke tempar parkir. Di tempat parkir aku melihat kak Fe sedang ngobrol sama kak Andrea di dekat gerbang. Aku rasa kak Fe lagi bahas tentang kejadian tadi di kantin.
“Ayo Ni naik.” Kata kak Egi.
“Naik Vespa kak ?”
“Iya, emangnya naik apa.?” Kata dia.
Awalnya aku ragu mau naik, soalnya aku belum pernah dibonceng naik Vespa. Tapi, karena sudah terlanjur, yauda deh aku langsung naik Vespa bewarna biru milik kak Egi.
Aduh sebenarnya asli aku pas jalan naik Vespa dibonceng kak Egi malu banget. Semua orang yang sedang berjalan keluar gerbang pada liatin. Di tambah lagi suara khas Vespa yang menjadi pusat perhatian. Aku pun malu-malu menutup wajahku dengan tasku. Aku juga takut ketahuan kak Fe, tapi pas menuju gerbang aku liat kak Fe berjalan menarik tangan kak Andrea ke kantin belakang.
***
“Gimana enak gak naik Vespa?” Tanya kak Egi di motor.
“Biasa aja sih kak.”
“Yeyey.. enak tau naik Vespa. Berasa romanitsnya.”
“Oyah?” Tanyaku
“Asal kamu tau Ni. Vespa ini warisan dari ayah kak Egi. Dulu ayah kak Egi sama ibu kak Egi bobogohan pake Vespa ini.”
“Tapi kita kan gak bobogohan kak.”
“Hm… “
“Kita beli es kelapa muda dulu yuk.” Ujar kak Egi yang kemudian menepikan motornya di pinggir jalan. Aku pun dari Vespanya lalu ikut sama kak Egi.
“Mang es batokna dua.” Kata kak Egi.
Aku dan kak Egi pun duduk menunggu.
“Sebelum pulang kamu minum air kelapa dulu, biar air matamu yang terkuras habis bisa terisi kembali.” Katanya
“Ah, masa sih kak.”
“Iyalah, kamu gak tau ?”
“Gak kak.”
“Yah kamu ini padahal menurut penelitian… bla bla blabla bla bla bla bla bla bla…”
Sebenarnya aku tidak mendengarkan ocehan kak Egi, pikiranku masih mikirin si bedebah Susi.
“Hey.. Ni…?”
“…”
“Ah dicuekin nih..”
“Apa kak?”
“Kamu ngelamunin apa sih? Kejadian tadi? Kan udah kakak bilang, kalau ada masalah cerita aja ke kakak. Gak usah malu.”
“mmmmm….” Aku menangguk saja
“Iya. Kenapa, sok cerita.”
Yauda deh aku jadinya ceritain kejadian tadi, ceritain dari awal aku musuhan sama si Susi, ceritain juga masalah kak Fe dengan si Susi, ceritain juga masalah kak Fe dan temanya, ceritain juga kenapa tadi aku dimarahi si susi, ceritain juga kalau aku disuruh kak Fe buat datang ke si Susi dan kak Andrea, ah pokoknya semua aku ceritain sampai-sampai air kelapa ini habis.
“Gini ya Ni, klo masalah Felisha sama Susi sih udah bukan rahasia lagi, mereka itu memang musuhan.”
“Cuman, kok Felisha tega banget ya nyuruh kamu ?”
“Udah tau Susi gak suka sama kamu, eh kamu malah disuruh kesana.”
“Ya klo masalah dia, uruslah sama dia sendiri, jangan libatin kamu.”
“Kamu itu kayak umpan, kamu itu kayak dimanfaatin sama dia.”
“Itu menurut pendapat kakak sih ya.”
Mendengar ucapan kak Egi tersebut kok aku baru sadar. Benar kata penjelasan kak Egi seolah-olah aku ini cuman umpan, aku kayak dimanfaatin doang ama kak Fe. Aduh kalau iya beneran dimanfaatin, aku sedih banget. Aku jadi negatif thinking lagi deh ama kak Fe.
“Hayu ah pulang, katanya mau pulang.” Ajak kak Egi.
***
Sepanjang perjalanan pulang aku terus kepikiran. Aku kok mudah banget ya dibodohin kak Fe. Kenapa Kenapa atuh..
“Ibuuu……” Kataku kepada ibu yang sedang membaca buku
“Ya sayang?”
“Aku gak mau sekolah, aku ingin pindah sekolah.”
“Astaga, kemarin Felisha yang minta pindah sekolah, sekarang giliran kamu. Ada apa sih sebenarnya?”
“Jangan bilang gara-gara Susi lagi.”
Lha ibu kok tau ya. Hmmm. Sepertinya ibu punya indra keenam.
“Iya, Aku dilabrak lagi ama si Susi.”
“Kamu kenapa dilabrak lagi sama dia?”
“Sebenarnya sih gara-gara kak Fe bu, aku dimanfaatin ama dia, aku disuruh dia.”
“Pokoknya aku besok gak mau sekolah lagi.” Kataku kepada ibu yang langsung melepaskan tasku lalu berlari ke kamarku.
….
“Ani… Buka dong pintunya sayang..” Ketuk ibu di depan pintu kamarku.
Dari sejak aku ngobrol sama ibu pas pulang ke rumah sampai sekarang magrib aku mengurung diri di kamar. Biasanya jam segini aku selalu membantu ibu nyiapin makanan, tapi kali ini enggak, aku gak mau.
Diubah oleh natashyaa 28-06-2016 15:36
0
