- Beranda
- Sejarah & Xenology
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
...
TS
plonard
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Semua yang saya tulis pada posting #1 sampai posting #10 adalah terjemahan bebas dari artikel Khalid ibn Al-Walid di en.wikipedia.org Oktober 2012. Saya tambahkan juga sedikit daftar istilah untuk membantu Agan-agan yang belum terlalu memahami istilah militer dan geografis di zaman bersangkutan hidup. Jika ada ketikan saya dengan format "[angka]", kode ini adalah nomor footnote atau catatan kaki. Contoh: [1] dan [25].
Semoga bermanfaat.
Khalid ibn Al-Walid
Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.
Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleedkarya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)
Daftar Istilah Penting
Al-Hirah
Arabia
Bizantin
Double Envelopment
Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Garnisun
Ghassan
Imperium
Kavaleri
Kekhalifahan
Khalifah
Levant
Mesopotamia
Negara Vasal
Persia-Sassanid
Romawi
Syam
Garis Besar Biografi
Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl(Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]
Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.
(bersambung)...
Semoga bermanfaat.
Khalid ibn Al-Walid
Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.
Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleedkarya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)
Daftar Istilah Penting
Al-Hirah
Kerajaan yang berlokasi di Iraq Modern (Mesopotamia), negara vasal Imperium Persia-Sassanid, dengan mayoritas warga adalah orang Arab dari suku Bani Lakhm.
Arabia
Wilayah yang terbentang dari Syam dan Mesopotamia sampai Jazirah Arab, dihuni oleh mayoritas orang Arab serta minoritas orang Israel, Eropa (Romawi), Persia, dan Ethiopia.
Bizantin
Imperium superpowerlanjutan dari Romawi, sering juga dikenal sebagai Imperium Romawi Timur. Bizantin beribukota di Konstantinopel (Istanbul Modern) dan menjadi satu-satunya penerus Romawi sejak dihancurkannya Imperium Romawi Barat (beribukota di Roma) pada Abad ke-4. Warga negaranya menganggap mereka adalah warga Romawi dan warga negara lain di masa itu pun memanggil mereka sebagai orang-orang Romawi. Di masa Khalid, wilayah kekuasaan mereka membentang dari daerah Balkan di Eropa, sebagian Libya dan Mesir di Eropa, serta Jazirah Turki, Armenia, dan Levant (Syam) di Asia.
Double Envelopment
Sebuah manuver lapangan dalam pertempuran di mana sebuah pasukan berupaya untuk melingkupi musuh sehingga dapat menyerangnya dari segala arah. Biasanya, pertempuran akan dimulai dalam garis pembeda yang jelas antara dua pasukan yang bertempur. Dengan memanfaatkan kondisi maupun penggunaan taktik tertentu, pasukan musuh dapat diserang dari samping dan belakang. Contoh penggunaan taktik ini ada pada Pertempuran Cannae dan Pertempuran Walaja.
Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Kavaleri ringan pasukan Muslim awal, dibangun oleh Khalid ibn Al-Walid dengan tujuan menjadi penyeimbang kelemahan infantri Muslim yang berbaju baja ringan. Gerakannya cepat, menerapkan taktik hit and run, efektif melawan kavaleri berat, dan sering menjadi garda depan pendahulu pasukan utama. Khalid dipecat saat menjabat sebagai komandan garda khusus ini. Penggantinya adalah Dhirar ibn Azwar.
Garnisun
Pasukan yang berkedudukan atau memiliki tempat pertahanan yang tetap, misalnya dalam benteng atau sebuah kota.
Ghassan
Kerajaan yang berlokasi di Syam Selatan, negara vasal Imperium Bizantin. Mayoritas warga negaranya adalah orang Arab beragama Kristen dari suku Bani Ghassan.
Imperium
Sebuah negara yang terdiri atas sekelompok bangsa, memiliki sebuah wilayah geografi yang luas, dipimpin oleh seorang kaisar atau sekelompok elit.
Kavaleri
Secara harfiah berarti pasukan berkuda, namun dalam prakteknya di masa kuno, unta dan gajah juga digunakan. Dalam peperangan modern, pasukan berkendara lapis baja maupun bukan juga termasuk dalam kavaleri. Di masa Khalid, kavaleri Bizantin dan Persia merupakan kavaleri berat, memakai baju besi tebal (termasuk kudanya) dan menutupi hampir seluruh tubuh. Kavaleri Muslim awal merupakan kavaleri ringan, berbaju baja dan bersenjata ringan.
Kekhalifahan
Sebuah sistem pemerintahan berbasis Islam yang menunjukkan kesatuan politik ummat Islam. Sistem ini dapat berupa sistem musyawarah perwakilan ataupun monarki konstitusional, dengan konstitusinya berupa Syariah. Karena dalam kekhalifahan ada kesatuan ummat, kekhalifahan selalu melingkupi banyak bangsa sehingga bisa dikategorikan sebagai bentuk Imperium.
Khalifah
Kepala negara dan pemerintahan sistem negara kekhalifahan, dapat dipilih oleh khalifah sebelumnya, ditunjuk oleh komite terpilih, dipilih langsung oleh rakyat, atau diturunkan pada keluarga khalifah sebelumnya.
Levant
Disebut juga Syam, daerah yang meliputi pantai timur Laut Mediterania, antara Anatolia (Jazirah Turki Modern) dan Mesir. Daerah ini meliputi wilayah-wilayah negara modern: Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina (Otoritas maupun yang dijajah oleh Israel), Siprus, Provinsi Hatay (Turki Tenggara) dan sebagian wilayah Iraq-Jazirah Sinai.
Mesopotamia
Daerah yang meliputi daerah aliran Sungai Tigris dan Eufrat, yaitu wilayah-wilayah modern: Iraq, sedikit daerah timur laut Suriah, sebagian Turki Tenggara, dan sebagian kecil barat daya Iran.
Negara Vasal
Negara yang tunduk kepada entitas politik lain yang lebih besar dan biasanya lebih kuat, tetapi diberi otoritas untuk mengurus negaranya sendiri.
Persia-Sassanid
Imperium superpowerdi Asia Barat pada Abad ke-4 sampai Abad ke-7, juga disebut oleh warga negaranya sendiri sebagai Ērānshahr atau Ērān, berdiri tahun 224 dan diruntuhkan oleh Kekhalifahan Islam pada tahun 651. Saat Khalid hidup, imperium ini menguasai wilayah modern Iran, sebagian Asia Tengah dan barat laut India, serta sebagian pantai timur dan selatan Jazirah Arab.
Romawi
Lihat Bizantin.
Syam
Lihat Levant.
Garis Besar Biografi
Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl(Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]
Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.
(bersambung)...
Diubah oleh plonard 16-08-2016 13:52
0
76.5K
287
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.5KThread•11.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
plonard
#217
Terjemahan dari bahasa asli, Bahasa Inggris. Ebook dapat diakses di:
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed
Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
(Halaman 1)
Di antara nabi-nabi palsu yang tersisa setelah kematian Aswad, dan nabi palsu pertama yang akan dihadapi oleh Pasukan Muslim adalah Thulayhah bin Khuwaylid. Ia adalah Kepala Suku Bani Asad, telah memberikan perlawanan secara fluktuatif kepada nabi selama bertahun-tahun.
Thulayhah pertama kali menunjukkan permusuhannya pada Islam tiga bulan setelah Pertempuran Uhud. Karena ia menilai bahwa Muslim mengalami kekalahan telak dalam pertempuran tersebut, ia mengumpulkan semua anggota klannya dengan tujuan untuk menyerbu Madinah dengan memanfaatkan kesempatan yang ia kira sangat terbuka; tetapi nabi mengetahui tindakannya ini dan mengirim 150 pasukan berkuda untuk mengatasinya. Sebelum Thulayhah mengetahui, pasukan berkuda Muslim sudah menyerang mereka. Para kafir tersebut melarikan diri tanpa sempat melawan dan Pasukan Muslim mengumpulkan hewan ternak klan tersebut dan membawanya pulang sebagai harta rampasan perang. Kegagalan ini menghilangkan kepercayaan klan Thulayhah pada pemimpinnya sampai-sampai ia harus bersembunyi untuk sementara waktu.
Kemudian, ia mengambil bagian dalam Pertempuran Parit. Ia merespon undangan Yahudi dengan semangat untuk memerangi Muslimin, ia mengumpulkan pasukan Bani Asad dan memimpin mereka bersama pasukan sekutu yang mengepung Madinah. Ketika Abu Sufyan mundur, Bani Asad juga pulang ke perkampungan mereka. Sekali lagi, Thulayhah tidak mendapat apa-apa.
Kesempatan berikutnya untuk melawan Muslimin adalah ketika Muslimin bertempur dengan Yahudi di Khaybar tahun 628 M (7 H). Bani Asad yang beroperasi di bawah komando Thulayhah, berpihak dengan Yahudi. Dalam pergerakan Pasukan Muslim menuju Khaybar, Thulayhah melakukan sejumlah serangan kecil terhadap Pasukan Muslim, tetapi pasukannya mendapatkan kekalahan secara terus-menerus. Akhirnya, ia menarik pasukannya dan meninggalkan Yahudi pada takdir mereka.
Dua tahun kemudian, pada ‘Tahun Delegasi’, Bani Asad mengirim delegasi ke Madinah untuk menyatakan menyerah kepada nabi. Semua anggota sukunya masuk Islam, tetapi seperti halnya suku-suku Arab lainnya, ke-Islam-an mereka hanyalah untuk mencari keamanan dalam politik, bukan iman yang sebenarnya. Secara tampak, Thulayhah juga masuk Islam. Baik ketika kafir maupun ketika Islam, Thulayhah masih memegang pengaruh besar di dalam sukunya sebagai kepala suku dan peramal. Ia masih menceritakan berita-berita di masa depan, mencoba-coba mencari barang hilang dengan ilmu gaib, dan membaca sya’ir.
Ketika nabi sakit, beberapa hari sebelum wafat, Thulayhah mencoba peruntungannya untuk melepaskan diri dari Madinah. Ia mengumumkan bahwa dirinya adalah nabi! Ia mengajak kaumnya dan banyak di antara mereka yang mengikuti. Ketika kabar meninggalnya Sang Nabi Suci tersiar, ia memperkuat usahanya untuk menampilkan dirinya sebagai nabi baru, dan dengan menularnya kemurtadan di seluruh Arabia, keseluruhan Bani Asad berkumpul di bawah benderanya, menerimanya sebagai kepala suku dan nabi. Untuk menandakan pemutusan hubungan dengan Madinah, Thulayhah mengusir amil zakat di daerahnya, seorang pemuda pemberani bernama Barar bin Al-Azwar (Dhirar bin Al-Azwar-pent) yang kelak akan banyak kita sebut dalam operasi militer di Syam.
Setelah memproklamasikan dirinya sebagai nabi, Thulayhah merasa perlu untuk melakukan sesuatu dengan agama untuk membuktikan bahwa dirinya adalah utusan Allah. Ia menghapuskan gerakan sujud, suatu gerakan dalam shalat Muslim. “Allah tidak menginginkan kita untuk merendahkan wajah kita sendiri,” katanya, “atau membungkukkan punggung kita dalam sikap tubuh yang buruk. Shalatlah dengan tegak!”[2] Dan Bani Asad pun shalat tanpa bersujud di belakang nabi palsu mereka.
Dengan tersebarnya kemurtadan, pengikutnya semakin bertambah. Ia menerima tawaran dan dukungan dari sejumlah suku besar di Arab Utara-Tengah, yang paling besar adalah dukungan dari Ghathfan, kemudian Thayyi’; keduanya telah mengikat persekutuan sejak lama. Dukungan juga datang dari Hawazin dan Bani Sulaym, tetapi tidak terlalu tegas. Meskipun kedua suku besar ini juga murtad dan memerangi Muslimin, mereka tidak bergabung dengan Thulayhah dan tidak bertempur di bawah benderanya.
Catatan Kaki Halaman 1
[1] Bukhari, Muslim, dan Ahmad. Shahihul Jami’us Saghir No. 3999 dan Kitabut Tawhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Bab 3.
[2] Ibnul Atsir: Vol.2, hlm. 131.
____________________________________________________________________________
(Halaman 2)
Pendukung terkuat Thulayhah adalah ‘Uyaynah bin Hishn, Kepala Bani Fazara yang bermata satu. Bani Fazara adalah klan yang cukup kuat dari Suku Ghathfan. Laki-laki inilah yang memimpin Pasukan Ghathfan dalam Pertempuran Parit dan dijuluki oleh Sang Nabi Suci sebagai Si Bodoh yang Menurut. Sekarang, ia memenuhi makna julukannya ini dengan mengikuti Thulayhah. Namun, ia tidak sepenuhnya percaya pada si nabi palsu karena ia pernah berkata, “Aku lebih memilih mengikuti nabi dari suku sekutuku daripada nabi yang berasal dari Quraysy. Toh, Muhammad sudah mati dan Thulayhah masih hidup.”[1] Dukungannya terbukti sangat berharga karena ia memimpin keseluruhan Suku Ghathfan untuk mengikuti Thulayhah.
Thulayhah mengumpulkan Bani Asad di Samirah. Suku Ghathfan tinggal di kota tetangga Bani Asad dan akan segera bergabung dengan mereka. Suku Thayyi’ juga menerima Thulayhah sebagai pemimpin kolektif bagi para kepala suku pengikut dan juga sebagai nabi, tetapi mereka bertahan di perkampungannya sendiri di utara dan timur laut Khaybar. Hanya sekelompok kecil dari mereka yang bergabung di Samirah. Di Samirah, Thulayhah memulai persiapan untuk bertempur melawan kekuatan Islam.
Ketika ia mendengar berkumpulnya sejumlah suku murtad lainnya di Abraq dan Zhu Qissa, ia mengirim pasukan dari sukunya untuk menambah kekuatan mereka. Pasukan ini dipimpin oleh Hibal, saudara laki-lakinya. Operasi militer Pasukan Muslim di Zhu Qissa dan Abraq telah dijelaskan dalam bab sebelum ini. Sementara operasi tersebut berlangsung, Thulayhah memindahkan pasukannya ke Buzakha. Di sana, pasukannya diperkuat dengan bergabungnya sisa-sisa pasukan murtad yang telah dikalahkan di Abraq.
Di Buzakha, persiapan Thulayhah berjalan cepat. Ia mengirim kurir ke banyak suku untuk mengundang mereka agar bergabung. Banyak dari suku-suku ini menerima undangannya. ‘Uyaynah membawa 700 pasukan dari Bani Fazara. Kelompok pasukan terbesar berasal dari Bani Asad dan Ghathfan. Ada juga sebuah kelompok pasukan dari Thayyi’, tetapi badan utama pasukan Thayyi’ tidak bergabung di Buzakha.
Thulayhah sekarang siap untuk menghadapi Khalid yang baru berangkat dari Zhu Qissa.
Sebelum mengirim Khalid memerangi Thulayhah, Abu Bakr mencoba berbagai cara untuk mengurangi kekuatan musuh agar pertempuran bisa dihadapi dengan prospek kemenangan yang maksimal. Tidak ada yang bisa dilakukan terhadap Bani Asad dan Ghathfan yang berdiri kokoh di belakang Thulayhah. Namun Suku Thayyi’ ada di dalam kategori lain. Mereka tidak terlalu setia dengan dukungan mereka kepada si nabi palsu. Mantan kepala suku mereka, yaitu ‘Adi bin Hatim, adalah seorang Muslim yang taat. ‘Adi adalah seorang laki-laki yang kelak akan berusia panjang sampai 120 tahun, tubuhnya sangat tinggi sampai-sampai diberitakan bahwa kakinya masih bisa menyentuh tanah saat berada di atas kuda![2] Ketika ‘Adi mencoba mencegah kemurtadan Thayyi’, kaumnya berlepas diri darinya sehingga ia harus meninggalkan kampungnya sendiri bersama sedikit anggota suku yang tetap ber-Islam. Mereka bergabung dengan Khalifah. Abu Bakr sekarang memutuskan untuk mencoba menarik Suku Thayyi’ dari Thulayhah; dan jika mereka tidak bisa dibujuk untuk melepaskan dukungan kepada nabi palsu, mereka akan diperangi dan dihancurkan dengan segera di kampung mereka sendiri, sebelum mereka bergabung ke Buzakha. Dengan ini, Thulayhah tidak akan mendapatkan dukungan langsung dari Thayyi’.
Abu Bakr mengirim 'Adi kembali ke sukunya untuk hal ini. ‘Adi berangkat bersama korps Khalid yang berjumlah 4.000 orang pasukan. Abu Bakr menginstruksikan pada Khalid, “Jika upaya ‘Adi tidak berhasil, perangilah Thayyi’ di kampung mereka.”[3] Setelah menyelesaikan urusan dengan Thayyi', Khalid harus melanjutkan perjalanannya ke Buzakha (Lihat Peta 8).
Dari Zhu Qissa, khalid membawa korpsnya ke arah utara, lokasi Buzakha. Di tengah perjalanannya, ia berbelok dan bergerak ke arah selatan Gunung Aja, tempat tinggal Suku Thayyi’. Setibanya di sana, ‘Adi maju dan memberikan pengumuman dan ajakan kepada sukunya. Isi ajakannya adalah mengingatkan mereka pada Allah dan Rasulullah, pada api neraka, serta pada kesia-siaan perlawanan mereka. Meskipun sudah berbicara dengan sangat baik, ia tidak membuat kemajuan. Tetua-tetua suku masih menolaknya sampai akhirnya ‘Adi memberi peringatan, “Maka bersiaplah untuk bertemu pasukan yang datang untuk menghancurkan kalian dan menawan perempuan-perempuan kalian. Berbuatlah sesuka kalian.”
Peringatan ini ternyata membawa hasil. Para tetua suku berpikir sejenak dan kemudian berkata, “Jauhkanlah pasukan itu dari kami sampai kami menarik saudara-saudara kita yang masih bersama Thulayhah. Kami masih mempunyai perjanjian dengannya. Jika kami melanggarnya, dia akan membunuh atau menawan saudara-saudara kita. Kami harus menjauhkan mereka dari Thulayhah sebelum melepaskan dukungan kita padanya secara terbuka.”
Catatan Kaki Halaman 2
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 487.
[2] Ibnu Qutaybah: hlm. 313.
[3] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 483.
____________________________________________________________________________
(Halaman 3)
‘Adi kembali ke kemah Pasukan Muslim dan menjelaskan kondisi ini kepada Khalid, tetapi Khalid tidak punya waktu untuk bernegosiasi. Ia tidak pernah menganggap enteng kemurtadan dan sama sekali tidak ada kecenderungan untuk berlaku lembut kepada orang-orang murtad. “Tiga hari, wahai Khalid!” ‘Adi memohon, “Tiga hari saja! Dan aku akan membawa bagimu 500 tambahan prajurit dari sukuku untuk bertempur bersamamu. Ini lebih baik daripada jika engkau membumihanguskan mereka.”[1] Khalid pun setuju untuk menunggu.
Tetua-tetua Suku Thayyi’ mengirim sebuah detasemen berkuda kepada Thulayhah, berpura-pura datang sebagai pasukan bantuan. Mereka pun mulai bekerja diam-diam untuk menarik rekan-rekan mereka menjauh dari Thulayhah sebelum Khalid tiba di Buzakha. Mereka berhasil. Apabila ada sejumlah kecil anggota Thayyi’ masih bersama Thulayhah, dan sepertinya memang demikian, mereka tidak ikut ambil bagian dalam Pertempuran Buzakha.
Dengan demikian, Khalid tidak menyerang Thayyi’. Sementara ia menunggu kondisi Thayyi’ tersebut, ia memutuskan untuk menghadapi suku murtad lainnya yang berada di dekat, yaitu Suku Jadilah. Khalifah tidak menyatakan keinginannya untuk menyerang Jadilah, tetapi Khalid tidak memerlukan instruksi khusus untuk hal ini. Ketika ia mengumumkan maksudnya untuk menyerang Jadilah, ‘Adi kembali maju dan menawarkan diri untuk mengajak suku tersebut agak menyerah tanpa perlu terjadi pertumpahan darah. Khalid bukanlah jenderal yang takut dengan pertumpahan darah, tetapi dengan adanya kemungkinan tambahan kekuatan pasukan, ia setuju dengan saran ‘Adi. Kefasihan lisan ‘Adi membuahkan hasil. Suku Jadilah kembali masuk Islam dan 1000 prajuritnya bergabung dengan Khalid. Dengan kekuatan awalnya, kemudian ditambah 500 pasukan berkuda Thayyi’ dan 1000 pasukan dari Jadilah, Korps Khalid semakin kuat dibandingkan saat mereka berangkat dari Zhu Qissa. Mereka pun bergerak menuju Buzakha. Di tengah perjalanan, Khalid berhasil merekrut tambahan prajurit lagi.
Ketika mereka mencapai jarak perjalanan satu hari sebelum sampai di Buzakha, Khalid mengirim dua orang pengintai. Keduanya adalah dari golongan Anshar, salah satunya adalah Sahabat Nabi yang terkenal, bernama Ukasyah bin Mihshan. Kedua pengintai ini bertemu dua pengintai murtad, yang ternyata salah satunya adalah Hibal, saudara laki-laki Thulayhah. Hibal tewas dalam pertarungan, tetapi satu orang lainnya melarikan diri dan menyampaikan kabar buruk ini kepada si nabi palsu.
Merasa marah dengan kabar kematian saudaranya, Thulayhah pergi untuk membalas dendam. Ia pergi bersama saudaranya yang lain, Salmah. Mereka berhasil menemukan Ukasyah dan rekannya; pertarungan lanjutan terjadi. Thulayhah dan Ukasyah adalah ahli pedang dan mereka masih bertarung setelah Salmah membunuh Muslim rekan Ukasyah. Namun pada akhirnya, Ukasyah gugur di tangan Thulayhah. Tubuh kedua Muslim ini ditinggal di lokasi gugurnya mereka sampai Pasukan Muslim menemukan dan menguburkan mereka. Gugurnya kedua Muslim ini menimbulkan rasa duka cita yang dalam karena mereka adalah dua orang prajurit handal dan sangat mereka cintai.
Ketika Khalid tiba di dataran bagian selatan Buzakha, ia memerintahkan pendirian kemah tidak jauh dari kemah pasukan murtad. Dari kedua kemah ini, kedua pasukan berangkat untuk bertempur. Medan pertempuran adalah sebuah dataran, tanah lapang terbuka yang rata dengan bukit bebatuan kecil di barat dan utaranya. Bukit-bukit kecil ini adalah perpanjangan dari kaki Gunung Aja di bagian tenggara.[2] (Lihat Peta 8)
Panggung Pertempuran Buzakha telah disiapkan. Pasukan Muslim bersiap untuk bertempur keesokan harinya, begitu juga dengan pasukan Murtad. Khalid, Sang Pedang Allah, bersama 6000 prajuritnya menghadapi Thulayhah Si Nabi Palsu yang kekuatan pasukannya tidak tercatat, tetapi diperkirakan jauh lebih banyak daripada Pasukan Muslim. Saat itu adalah pertengahan September 632 M (akhir Jumadil Akhir 11 H).
Keesokan paginya, kedua pasukan berbaris berhadapan di dataran Buzakha. Khalid memimpin Pasukan Muslim dan berdiri di depan korpsnya. Sedangkan Thulayhah menunjuk ‘Uyaynah untuk memimpin pasukannya. ‘Uyaynah mengambil posisi di tengah bersama 700 prajurit Bani Fazara, klan ‘Uyaynah. Si nabi palsu sendiri bersemedi di kemahnya, di belakang pasukan. Kepalanya dipasangi sorban dan jubah bergantung di pundaknya. Ia bersemedi dan mengumumkan bahwa ia akan menerima wahyu dari Jibril, malaikat Allah, dalam memberikan arahan pertempuran.
Catatan Kaki Halaman 3
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 483.
[2] Tidak ada sisa reruntuhan dari Buzakha, tetapi dataran yang bernama Buzakha terletak 25 mil (40 km-pent) di barat daya daerah Hayl (modern) dan memanjang ke arah barat daya lagi.
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed
Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
(Halaman 1)
Ibnu ‘Abbas menuturkan bahwa Nabi shallallahu‘alayhiwasallambersabda, “Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat oleh Allah, kemudian aku melihat seorang nabi bersama beberapa orang, seorang nabi bersama satu atau dua orang, serta seorang nabi yang sendirian, tidak seorangpun menyertainya. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku sekelompok orang dalam jumlah yang sangat banyak, kemudian aku mengira bahwa mereka adalah umatku, tetapi dikatakan kepadaku, ‘Itu adalah Musa dan umatnya.’ Kemudian dengan tiba-tiba aku melihat sekelompok besar manusia! Dikatakan kepadaku, ‘Lihatlah di ufuk lainnya’ dan aku melihat lagi sekelompok besar manusia lainnya! Dikatakan lagi kepadaku, ‘Inilah umatmu, dan bersama mereka, ada tujuh puluh ribu orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan siksa.’”
Kemudian beliau bangkit dan memasuki rumah beliau, dan orang-orang pun saling berbicara satu dengan yang lainnya mengenai siapa (tujuh puluh ribu) orang beriman tersebut. Ada diantara mereka yang berkata, “Mungkin saja mereka itu sahabat Rasulullah shallallahu‘alayhiwasallam.” Ada lagi yang berkata, “Mungkin saja mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam dan tidak pernah sama sekali menyekutukan Allah.” Dan sejumlah sahabat lain menyebutkan berbagai perkiraan mereka.
Ketika Rasulullah shallallahu‘alayhiwasallam keluar dan menemui mereka kembali dan mereka memberitahukan diskusi tersebut kepada beliau. Beliau bersabda, “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah minta diruqyah, tidak meminta diobati dengan besi panas, dan tidak pernah menganggap diri merasa sial karena suatu kejadian, serta mereka bertawakkal kepada Rabb mereka.”
Lalu Ukasyah bin Mihshan berdiri dan berkata, “Mohonkanlah kepada Allah, mudah-mudahan saya termasuk di antara mereka.”
Beliau menjawab, “Engkau termasuk di antara mereka.”
Kemudian berdirilah seorang yang lain dan ia berkata, “Mohonlah kepada Allah, mudah-mudahan saya termasuk di antara mereka!”
Beliau menjawab, “Kamu sudah didahului oleh Ukasyah.”[1]
Kemudian beliau bangkit dan memasuki rumah beliau, dan orang-orang pun saling berbicara satu dengan yang lainnya mengenai siapa (tujuh puluh ribu) orang beriman tersebut. Ada diantara mereka yang berkata, “Mungkin saja mereka itu sahabat Rasulullah shallallahu‘alayhiwasallam.” Ada lagi yang berkata, “Mungkin saja mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam dan tidak pernah sama sekali menyekutukan Allah.” Dan sejumlah sahabat lain menyebutkan berbagai perkiraan mereka.
Ketika Rasulullah shallallahu‘alayhiwasallam keluar dan menemui mereka kembali dan mereka memberitahukan diskusi tersebut kepada beliau. Beliau bersabda, “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah minta diruqyah, tidak meminta diobati dengan besi panas, dan tidak pernah menganggap diri merasa sial karena suatu kejadian, serta mereka bertawakkal kepada Rabb mereka.”
Lalu Ukasyah bin Mihshan berdiri dan berkata, “Mohonkanlah kepada Allah, mudah-mudahan saya termasuk di antara mereka.”
Beliau menjawab, “Engkau termasuk di antara mereka.”
Kemudian berdirilah seorang yang lain dan ia berkata, “Mohonlah kepada Allah, mudah-mudahan saya termasuk di antara mereka!”
Beliau menjawab, “Kamu sudah didahului oleh Ukasyah.”[1]
Di antara nabi-nabi palsu yang tersisa setelah kematian Aswad, dan nabi palsu pertama yang akan dihadapi oleh Pasukan Muslim adalah Thulayhah bin Khuwaylid. Ia adalah Kepala Suku Bani Asad, telah memberikan perlawanan secara fluktuatif kepada nabi selama bertahun-tahun.
Thulayhah pertama kali menunjukkan permusuhannya pada Islam tiga bulan setelah Pertempuran Uhud. Karena ia menilai bahwa Muslim mengalami kekalahan telak dalam pertempuran tersebut, ia mengumpulkan semua anggota klannya dengan tujuan untuk menyerbu Madinah dengan memanfaatkan kesempatan yang ia kira sangat terbuka; tetapi nabi mengetahui tindakannya ini dan mengirim 150 pasukan berkuda untuk mengatasinya. Sebelum Thulayhah mengetahui, pasukan berkuda Muslim sudah menyerang mereka. Para kafir tersebut melarikan diri tanpa sempat melawan dan Pasukan Muslim mengumpulkan hewan ternak klan tersebut dan membawanya pulang sebagai harta rampasan perang. Kegagalan ini menghilangkan kepercayaan klan Thulayhah pada pemimpinnya sampai-sampai ia harus bersembunyi untuk sementara waktu.
Kemudian, ia mengambil bagian dalam Pertempuran Parit. Ia merespon undangan Yahudi dengan semangat untuk memerangi Muslimin, ia mengumpulkan pasukan Bani Asad dan memimpin mereka bersama pasukan sekutu yang mengepung Madinah. Ketika Abu Sufyan mundur, Bani Asad juga pulang ke perkampungan mereka. Sekali lagi, Thulayhah tidak mendapat apa-apa.
Kesempatan berikutnya untuk melawan Muslimin adalah ketika Muslimin bertempur dengan Yahudi di Khaybar tahun 628 M (7 H). Bani Asad yang beroperasi di bawah komando Thulayhah, berpihak dengan Yahudi. Dalam pergerakan Pasukan Muslim menuju Khaybar, Thulayhah melakukan sejumlah serangan kecil terhadap Pasukan Muslim, tetapi pasukannya mendapatkan kekalahan secara terus-menerus. Akhirnya, ia menarik pasukannya dan meninggalkan Yahudi pada takdir mereka.
Dua tahun kemudian, pada ‘Tahun Delegasi’, Bani Asad mengirim delegasi ke Madinah untuk menyatakan menyerah kepada nabi. Semua anggota sukunya masuk Islam, tetapi seperti halnya suku-suku Arab lainnya, ke-Islam-an mereka hanyalah untuk mencari keamanan dalam politik, bukan iman yang sebenarnya. Secara tampak, Thulayhah juga masuk Islam. Baik ketika kafir maupun ketika Islam, Thulayhah masih memegang pengaruh besar di dalam sukunya sebagai kepala suku dan peramal. Ia masih menceritakan berita-berita di masa depan, mencoba-coba mencari barang hilang dengan ilmu gaib, dan membaca sya’ir.
Ketika nabi sakit, beberapa hari sebelum wafat, Thulayhah mencoba peruntungannya untuk melepaskan diri dari Madinah. Ia mengumumkan bahwa dirinya adalah nabi! Ia mengajak kaumnya dan banyak di antara mereka yang mengikuti. Ketika kabar meninggalnya Sang Nabi Suci tersiar, ia memperkuat usahanya untuk menampilkan dirinya sebagai nabi baru, dan dengan menularnya kemurtadan di seluruh Arabia, keseluruhan Bani Asad berkumpul di bawah benderanya, menerimanya sebagai kepala suku dan nabi. Untuk menandakan pemutusan hubungan dengan Madinah, Thulayhah mengusir amil zakat di daerahnya, seorang pemuda pemberani bernama Barar bin Al-Azwar (Dhirar bin Al-Azwar-pent) yang kelak akan banyak kita sebut dalam operasi militer di Syam.
Setelah memproklamasikan dirinya sebagai nabi, Thulayhah merasa perlu untuk melakukan sesuatu dengan agama untuk membuktikan bahwa dirinya adalah utusan Allah. Ia menghapuskan gerakan sujud, suatu gerakan dalam shalat Muslim. “Allah tidak menginginkan kita untuk merendahkan wajah kita sendiri,” katanya, “atau membungkukkan punggung kita dalam sikap tubuh yang buruk. Shalatlah dengan tegak!”[2] Dan Bani Asad pun shalat tanpa bersujud di belakang nabi palsu mereka.
Dengan tersebarnya kemurtadan, pengikutnya semakin bertambah. Ia menerima tawaran dan dukungan dari sejumlah suku besar di Arab Utara-Tengah, yang paling besar adalah dukungan dari Ghathfan, kemudian Thayyi’; keduanya telah mengikat persekutuan sejak lama. Dukungan juga datang dari Hawazin dan Bani Sulaym, tetapi tidak terlalu tegas. Meskipun kedua suku besar ini juga murtad dan memerangi Muslimin, mereka tidak bergabung dengan Thulayhah dan tidak bertempur di bawah benderanya.
Catatan Kaki Halaman 1
[1] Bukhari, Muslim, dan Ahmad. Shahihul Jami’us Saghir No. 3999 dan Kitabut Tawhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Bab 3.
[2] Ibnul Atsir: Vol.2, hlm. 131.
____________________________________________________________________________
(Halaman 2)
Pendukung terkuat Thulayhah adalah ‘Uyaynah bin Hishn, Kepala Bani Fazara yang bermata satu. Bani Fazara adalah klan yang cukup kuat dari Suku Ghathfan. Laki-laki inilah yang memimpin Pasukan Ghathfan dalam Pertempuran Parit dan dijuluki oleh Sang Nabi Suci sebagai Si Bodoh yang Menurut. Sekarang, ia memenuhi makna julukannya ini dengan mengikuti Thulayhah. Namun, ia tidak sepenuhnya percaya pada si nabi palsu karena ia pernah berkata, “Aku lebih memilih mengikuti nabi dari suku sekutuku daripada nabi yang berasal dari Quraysy. Toh, Muhammad sudah mati dan Thulayhah masih hidup.”[1] Dukungannya terbukti sangat berharga karena ia memimpin keseluruhan Suku Ghathfan untuk mengikuti Thulayhah.
Thulayhah mengumpulkan Bani Asad di Samirah. Suku Ghathfan tinggal di kota tetangga Bani Asad dan akan segera bergabung dengan mereka. Suku Thayyi’ juga menerima Thulayhah sebagai pemimpin kolektif bagi para kepala suku pengikut dan juga sebagai nabi, tetapi mereka bertahan di perkampungannya sendiri di utara dan timur laut Khaybar. Hanya sekelompok kecil dari mereka yang bergabung di Samirah. Di Samirah, Thulayhah memulai persiapan untuk bertempur melawan kekuatan Islam.
Ketika ia mendengar berkumpulnya sejumlah suku murtad lainnya di Abraq dan Zhu Qissa, ia mengirim pasukan dari sukunya untuk menambah kekuatan mereka. Pasukan ini dipimpin oleh Hibal, saudara laki-lakinya. Operasi militer Pasukan Muslim di Zhu Qissa dan Abraq telah dijelaskan dalam bab sebelum ini. Sementara operasi tersebut berlangsung, Thulayhah memindahkan pasukannya ke Buzakha. Di sana, pasukannya diperkuat dengan bergabungnya sisa-sisa pasukan murtad yang telah dikalahkan di Abraq.
Di Buzakha, persiapan Thulayhah berjalan cepat. Ia mengirim kurir ke banyak suku untuk mengundang mereka agar bergabung. Banyak dari suku-suku ini menerima undangannya. ‘Uyaynah membawa 700 pasukan dari Bani Fazara. Kelompok pasukan terbesar berasal dari Bani Asad dan Ghathfan. Ada juga sebuah kelompok pasukan dari Thayyi’, tetapi badan utama pasukan Thayyi’ tidak bergabung di Buzakha.
Thulayhah sekarang siap untuk menghadapi Khalid yang baru berangkat dari Zhu Qissa.
Sebelum mengirim Khalid memerangi Thulayhah, Abu Bakr mencoba berbagai cara untuk mengurangi kekuatan musuh agar pertempuran bisa dihadapi dengan prospek kemenangan yang maksimal. Tidak ada yang bisa dilakukan terhadap Bani Asad dan Ghathfan yang berdiri kokoh di belakang Thulayhah. Namun Suku Thayyi’ ada di dalam kategori lain. Mereka tidak terlalu setia dengan dukungan mereka kepada si nabi palsu. Mantan kepala suku mereka, yaitu ‘Adi bin Hatim, adalah seorang Muslim yang taat. ‘Adi adalah seorang laki-laki yang kelak akan berusia panjang sampai 120 tahun, tubuhnya sangat tinggi sampai-sampai diberitakan bahwa kakinya masih bisa menyentuh tanah saat berada di atas kuda![2] Ketika ‘Adi mencoba mencegah kemurtadan Thayyi’, kaumnya berlepas diri darinya sehingga ia harus meninggalkan kampungnya sendiri bersama sedikit anggota suku yang tetap ber-Islam. Mereka bergabung dengan Khalifah. Abu Bakr sekarang memutuskan untuk mencoba menarik Suku Thayyi’ dari Thulayhah; dan jika mereka tidak bisa dibujuk untuk melepaskan dukungan kepada nabi palsu, mereka akan diperangi dan dihancurkan dengan segera di kampung mereka sendiri, sebelum mereka bergabung ke Buzakha. Dengan ini, Thulayhah tidak akan mendapatkan dukungan langsung dari Thayyi’.
Abu Bakr mengirim 'Adi kembali ke sukunya untuk hal ini. ‘Adi berangkat bersama korps Khalid yang berjumlah 4.000 orang pasukan. Abu Bakr menginstruksikan pada Khalid, “Jika upaya ‘Adi tidak berhasil, perangilah Thayyi’ di kampung mereka.”[3] Setelah menyelesaikan urusan dengan Thayyi', Khalid harus melanjutkan perjalanannya ke Buzakha (Lihat Peta 8).
Dari Zhu Qissa, khalid membawa korpsnya ke arah utara, lokasi Buzakha. Di tengah perjalanannya, ia berbelok dan bergerak ke arah selatan Gunung Aja, tempat tinggal Suku Thayyi’. Setibanya di sana, ‘Adi maju dan memberikan pengumuman dan ajakan kepada sukunya. Isi ajakannya adalah mengingatkan mereka pada Allah dan Rasulullah, pada api neraka, serta pada kesia-siaan perlawanan mereka. Meskipun sudah berbicara dengan sangat baik, ia tidak membuat kemajuan. Tetua-tetua suku masih menolaknya sampai akhirnya ‘Adi memberi peringatan, “Maka bersiaplah untuk bertemu pasukan yang datang untuk menghancurkan kalian dan menawan perempuan-perempuan kalian. Berbuatlah sesuka kalian.”
Peringatan ini ternyata membawa hasil. Para tetua suku berpikir sejenak dan kemudian berkata, “Jauhkanlah pasukan itu dari kami sampai kami menarik saudara-saudara kita yang masih bersama Thulayhah. Kami masih mempunyai perjanjian dengannya. Jika kami melanggarnya, dia akan membunuh atau menawan saudara-saudara kita. Kami harus menjauhkan mereka dari Thulayhah sebelum melepaskan dukungan kita padanya secara terbuka.”
Catatan Kaki Halaman 2
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 487.
[2] Ibnu Qutaybah: hlm. 313.
[3] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 483.
____________________________________________________________________________
(Halaman 3)
‘Adi kembali ke kemah Pasukan Muslim dan menjelaskan kondisi ini kepada Khalid, tetapi Khalid tidak punya waktu untuk bernegosiasi. Ia tidak pernah menganggap enteng kemurtadan dan sama sekali tidak ada kecenderungan untuk berlaku lembut kepada orang-orang murtad. “Tiga hari, wahai Khalid!” ‘Adi memohon, “Tiga hari saja! Dan aku akan membawa bagimu 500 tambahan prajurit dari sukuku untuk bertempur bersamamu. Ini lebih baik daripada jika engkau membumihanguskan mereka.”[1] Khalid pun setuju untuk menunggu.
Tetua-tetua Suku Thayyi’ mengirim sebuah detasemen berkuda kepada Thulayhah, berpura-pura datang sebagai pasukan bantuan. Mereka pun mulai bekerja diam-diam untuk menarik rekan-rekan mereka menjauh dari Thulayhah sebelum Khalid tiba di Buzakha. Mereka berhasil. Apabila ada sejumlah kecil anggota Thayyi’ masih bersama Thulayhah, dan sepertinya memang demikian, mereka tidak ikut ambil bagian dalam Pertempuran Buzakha.
Dengan demikian, Khalid tidak menyerang Thayyi’. Sementara ia menunggu kondisi Thayyi’ tersebut, ia memutuskan untuk menghadapi suku murtad lainnya yang berada di dekat, yaitu Suku Jadilah. Khalifah tidak menyatakan keinginannya untuk menyerang Jadilah, tetapi Khalid tidak memerlukan instruksi khusus untuk hal ini. Ketika ia mengumumkan maksudnya untuk menyerang Jadilah, ‘Adi kembali maju dan menawarkan diri untuk mengajak suku tersebut agak menyerah tanpa perlu terjadi pertumpahan darah. Khalid bukanlah jenderal yang takut dengan pertumpahan darah, tetapi dengan adanya kemungkinan tambahan kekuatan pasukan, ia setuju dengan saran ‘Adi. Kefasihan lisan ‘Adi membuahkan hasil. Suku Jadilah kembali masuk Islam dan 1000 prajuritnya bergabung dengan Khalid. Dengan kekuatan awalnya, kemudian ditambah 500 pasukan berkuda Thayyi’ dan 1000 pasukan dari Jadilah, Korps Khalid semakin kuat dibandingkan saat mereka berangkat dari Zhu Qissa. Mereka pun bergerak menuju Buzakha. Di tengah perjalanan, Khalid berhasil merekrut tambahan prajurit lagi.
Ketika mereka mencapai jarak perjalanan satu hari sebelum sampai di Buzakha, Khalid mengirim dua orang pengintai. Keduanya adalah dari golongan Anshar, salah satunya adalah Sahabat Nabi yang terkenal, bernama Ukasyah bin Mihshan. Kedua pengintai ini bertemu dua pengintai murtad, yang ternyata salah satunya adalah Hibal, saudara laki-laki Thulayhah. Hibal tewas dalam pertarungan, tetapi satu orang lainnya melarikan diri dan menyampaikan kabar buruk ini kepada si nabi palsu.
Merasa marah dengan kabar kematian saudaranya, Thulayhah pergi untuk membalas dendam. Ia pergi bersama saudaranya yang lain, Salmah. Mereka berhasil menemukan Ukasyah dan rekannya; pertarungan lanjutan terjadi. Thulayhah dan Ukasyah adalah ahli pedang dan mereka masih bertarung setelah Salmah membunuh Muslim rekan Ukasyah. Namun pada akhirnya, Ukasyah gugur di tangan Thulayhah. Tubuh kedua Muslim ini ditinggal di lokasi gugurnya mereka sampai Pasukan Muslim menemukan dan menguburkan mereka. Gugurnya kedua Muslim ini menimbulkan rasa duka cita yang dalam karena mereka adalah dua orang prajurit handal dan sangat mereka cintai.
Ketika Khalid tiba di dataran bagian selatan Buzakha, ia memerintahkan pendirian kemah tidak jauh dari kemah pasukan murtad. Dari kedua kemah ini, kedua pasukan berangkat untuk bertempur. Medan pertempuran adalah sebuah dataran, tanah lapang terbuka yang rata dengan bukit bebatuan kecil di barat dan utaranya. Bukit-bukit kecil ini adalah perpanjangan dari kaki Gunung Aja di bagian tenggara.[2] (Lihat Peta 8)
Panggung Pertempuran Buzakha telah disiapkan. Pasukan Muslim bersiap untuk bertempur keesokan harinya, begitu juga dengan pasukan Murtad. Khalid, Sang Pedang Allah, bersama 6000 prajuritnya menghadapi Thulayhah Si Nabi Palsu yang kekuatan pasukannya tidak tercatat, tetapi diperkirakan jauh lebih banyak daripada Pasukan Muslim. Saat itu adalah pertengahan September 632 M (akhir Jumadil Akhir 11 H).
Keesokan paginya, kedua pasukan berbaris berhadapan di dataran Buzakha. Khalid memimpin Pasukan Muslim dan berdiri di depan korpsnya. Sedangkan Thulayhah menunjuk ‘Uyaynah untuk memimpin pasukannya. ‘Uyaynah mengambil posisi di tengah bersama 700 prajurit Bani Fazara, klan ‘Uyaynah. Si nabi palsu sendiri bersemedi di kemahnya, di belakang pasukan. Kepalanya dipasangi sorban dan jubah bergantung di pundaknya. Ia bersemedi dan mengumumkan bahwa ia akan menerima wahyu dari Jibril, malaikat Allah, dalam memberikan arahan pertempuran.
Catatan Kaki Halaman 3
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 483.
[2] Tidak ada sisa reruntuhan dari Buzakha, tetapi dataran yang bernama Buzakha terletak 25 mil (40 km-pent) di barat daya daerah Hayl (modern) dan memanjang ke arah barat daya lagi.
0