- Beranda
- Stories from the Heart
YANG HILANG DI MEI '98 (Based on Several True Stories)
...
TS
manhalfgod
YANG HILANG DI MEI '98 (Based on Several True Stories)
Halo agan dan aganwati sekalian! TS mau share cerita pendek baru nih, semoga pada berkenan 
Ceritanya ngangkat tema kerusuhan di Jakarta, Mei 1998. Temanya sensitif isu SARA, jadi TS pengen bilang dari awal kalo cerita yang TS buat ini murni cuma buat refleksi, sama sekali ngga ada maksud buat memancing emosi dari pihak manapun. Jadi TS harap jangan sampai ada yang coba-coba jadi provokator di sini
Berhubung ceritanya udah selesai di-publish di situs lain (Wattpad), agan dan aganwati bisa baca langsung sampe abis di sana, tapi TS janji bakal update satu bab setiap hari di thread ini - harap maklum TS masih newbie di Kaskus hehe.
SINOPSIS - Yang Hilang di Mei '98
Untuk 15 tahun ke atas.
12-14 Mei 1998 merupakan salah satu masa terkelam di Indonesia. Akibat permainan elit politik, masyarakat yang kecewa dan tertekan oleh kondisi ekonomi harus merendahkan martabatnya dengan melakukan penjarahan, pembunuhan, pembakaran, dan pemerkosaan. Akibatnya sesama warga Indonesia harus menanggung kehilangan yang begitu besar baik secara material (kerusakan infrastruktur, kerugian finansial) maupun non-material (kematian, cedera fisik maupun kejiwaan). Sayangnya sampai saat ini dalang maupun pihak yang mengambil kesempatan dalam kerusuhan tidak diusut secara tuntas.
Cerita pendek ini mengisahkan sebuah keluarga sederhana yang terjebak dalam tragedi Mei 1998 di Jakarta.
DAFTAR ISI
Prolog
BAB I - Aku dan Anak-Anak Lugu
BAB II - Aku dan Om Gendut
BAB III - Aku dan Bang Iskak
BAB IV - Aku dan Papa
BAB V - Aku dan Mama
BAB VI - Kerusuhan
BAB VII - Yang Hilang di Mei '98
Epilog, Kronologi Kerusuhan, Catatan Penulis
Cerita ini sudah tamat! Bagi Anda yang ingin menyaksikan film dokumentasi maupun liputan berita seputar kerusuhan Mei '98, bisa dilihat di Wattpad
. Selamat menikmati!!

Ceritanya ngangkat tema kerusuhan di Jakarta, Mei 1998. Temanya sensitif isu SARA, jadi TS pengen bilang dari awal kalo cerita yang TS buat ini murni cuma buat refleksi, sama sekali ngga ada maksud buat memancing emosi dari pihak manapun. Jadi TS harap jangan sampai ada yang coba-coba jadi provokator di sini

Berhubung ceritanya udah selesai di-publish di situs lain (Wattpad), agan dan aganwati bisa baca langsung sampe abis di sana, tapi TS janji bakal update satu bab setiap hari di thread ini - harap maklum TS masih newbie di Kaskus hehe.
SINOPSIS - Yang Hilang di Mei '98
Untuk 15 tahun ke atas.
12-14 Mei 1998 merupakan salah satu masa terkelam di Indonesia. Akibat permainan elit politik, masyarakat yang kecewa dan tertekan oleh kondisi ekonomi harus merendahkan martabatnya dengan melakukan penjarahan, pembunuhan, pembakaran, dan pemerkosaan. Akibatnya sesama warga Indonesia harus menanggung kehilangan yang begitu besar baik secara material (kerusakan infrastruktur, kerugian finansial) maupun non-material (kematian, cedera fisik maupun kejiwaan). Sayangnya sampai saat ini dalang maupun pihak yang mengambil kesempatan dalam kerusuhan tidak diusut secara tuntas.
Cerita pendek ini mengisahkan sebuah keluarga sederhana yang terjebak dalam tragedi Mei 1998 di Jakarta.
DAFTAR ISI
Prolog
BAB I - Aku dan Anak-Anak Lugu
BAB II - Aku dan Om Gendut
BAB III - Aku dan Bang Iskak
BAB IV - Aku dan Papa
BAB V - Aku dan Mama
BAB VI - Kerusuhan
BAB VII - Yang Hilang di Mei '98
Epilog, Kronologi Kerusuhan, Catatan Penulis
Cerita ini sudah tamat! Bagi Anda yang ingin menyaksikan film dokumentasi maupun liputan berita seputar kerusuhan Mei '98, bisa dilihat di Wattpad
. Selamat menikmati!!Diubah oleh manhalfgod 12-07-2016 13:02
anasabila memberi reputasi
4
30.4K
Kutip
123
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
manhalfgod
#15
BAB V - Aku dan Mama
Keesokan paginya, Mama masih bersikukuh membujuk Papa agar meletakkan tas jinjing kerjanya, agar tetap di rumah bersama kami. Papa sampai harus setengah berteriak marah-marah supaya Mama berhenti memohon kepadanya. Sebagai gantinya, Mama meminta agar Papa menelepon ke rumah secara berkala.
"Kabari saya kalau sudah sampai kantor, Pa," kata Mama seraya merapikan dasi Papa. "Begitu juga kalau sudah mau pulang, supaya saya tenang."
Papa mengangguk. Aku berdiri di sebelahnya. Waktu itu aku masih mengantuk, tapi kenyataannya aku terbangun dan ingin berada di dekat Papa.
"Andri, tumben bangun pagi-pagi begini, biasanya kamu paling susah dibangunin," celetuk Papa.
Kepalaku tertunduk ke bawah. Sampai kemarin, aku masih merasa kalau keluarga kami tidak ada bedanya dengan keluarga lainnya. Kupikir keluarga kami akan aman, dan segala kerusuhan ini sebenarnya sedang terjadi di tempat yang sangat ... sangat jauh, tidak ada hubungannya dengan kota tempat tinggal kami. Namun penjelasan Papa semalam menjungkirbalikkan ketenanganku menjadi kekhawatiran, ketakutan.Puncaknya, pagi ini aku terbangun dengan perasaan bersalah.
Tiba-tiba lidahku bergerak, mengucapkan pertanyaan yang membuatku terjaga semalam, "Pa, kenapa kita harus terlahir sebagai keturunan Tionghoa? Kenapa banyak orang yang membenci kita?"
Meskipun aku masih memandang jari-jari kakiku sendiri, aku tahu Papa dan Mama bertukar pandang di atas kepalaku.
"Dengarkan Papa, Andri," Papa bertumpu pada satu lututnya, satu tangannya meremas bahuku dan matanya kini bertemu pandang dengan mataku. "Tidak ada yang salah dengan lahir sebagai keturunan Tionghoa. Yang salah adalah, kalau kamu berpikir kamu bukan orang Indonesia - atau kamu malu dengan identitas kamu sendiri."
Papa mengacak-acak rambutku dan berpesan agar aku menjaga Mama sampai dia kembali. Aku menyaksikannya pergi mengendarai mobil sedannya. Bahkan aku masih berdiri di teras beberapa menit setelah dengung mesin mobilnya tak terdengar lagi, hanya meninggalkan kepulan debu di jalan setapak di depan pagar rumah kami.
Hari itu aku baru sadar betapa pentingnya peran seorang ayah di dalam keluarga. Aku merasa sangat kecil, sangat tak berdaya begitu Papa meninggalkan kami.
***
"Iya, barusan pergi, padahal sudah saya larang," kata Mama lirih di telepon.
Waktu itu pukul 15.00 menjelang sore, tanggal 13 Mei 1998. Hari itu aku dan Kak Rudi tidak masuk sekolah atas permintaan Mama, apalagi setelah radio Sonora mengumumkan aksi pembakaran di sekitar Jalan Daan Mogot mulai pukul 12.00. Awalnya aku kira ini akan menyenangkan - tetapi setelah satu jam aku sudah tidak tahan dengan suasana gelisah di dalam rumah: Mama bolak-balik dari dapur ke ruang tengah untuk menelepon adik bungsunya, Tante Sukma, yang umurnya masih 19 tahun. Rupanya Tante Sukma juga memutuskan untuk tidak berangkat kuliah hari itu.
"Saya sudah pesan ke dia supaya telepon kalau ada apa-apa," lanjut Mama sambil memindahkan gagang telepon ke telinga kirinya, "tapi kan dia orangnya kepala batu. Susah dinasehatin kalau sudah ambil keputusan. Yah kita cuma bisa berdoa-lah, jangan sampai ada musibah. Kemarin saya sudah pindahin sebagian stok makanan dari toko ke rumah. Takut kalau-kalau ada kerusuhan, toko saya bakal dijarah."
Kak Rudi memalingkan muka dari buku cetak tebal yang sedang dibacanya, berdeham kecil. Mungkin dia juga merasa gelisah sepertiku. Kuperhatikan kalau dia masih juga membaca halaman buku yang sama sejak setengah jam yang lalu.
"Kunci pintu kamar kos kamu, Sukma," pesan Mama - mungkin untuk yang kelima kalinya - "jangan kasih siapa-siapa masuk, saya khawatir kamu kenapa-kenapa. Kamu kan sendirian ... harusnya kamu ke sini semalam ... Saya ngga bisa tidur semalam mikirin semua ini, termasuk kamu ... Oh, ada teman yang nemenin kamu ... ? Ya baguslah, jadi kan bisa saling jaga. Lanang atau tino? Tino? Siapa, temen kos? Anak kuliah juga? Chinese juga bukan?"
Decak lidah Kak Rudi menandakan akhir batas konsentrasinya. Dia meletakkan buku cetaknya dan menyalakan televisi. Tangan kiri menyangga dagunya - tampak sangat jemu. Namun dalam sedetik saja postur tubuhnya mendadak tegap.
"Oh ...," gumam Kak Rudi. Aku ikut menyaksikannya di televisi.
Yang pertama merenggut perhatianku adalah jerit panik perempuan-perempuan di dalam televisi - bukan cuma satu, dua, tiga, empat, tetapi puluhan jerit ketakutan. Orang-orang berlarian ke segala arah, melarikan diri dari segerombolan pemuda yang melemparkan batu-batu tajam seukuran bola tenis ke arah kaca toko. Sedetik kemudian, aku baru mengerti bahwa onggokan yang melintang di jalan raya adalah manusia - entah mereka masih bernapas atau tidak. Dan melatarbelakangi itu semua, asap kelabu pekat membumbung dari bangkai-bangkai motor beserta alat-alat elektronik hasil rampasan yang terbakar di tengah jalan.
"Astaga ... astaga ...." kata Mama nyaris tanpa suara. Gagang telepon sudah terlepas dari tangannya, membiarkan benda itu tergantung mengayun di tepi meja. "Rudi, keraskan volume suaranya ..."
Kami menyaksikan tanpa kata, satu-satunya orang yang berbicara di ruang tengah kami sekarang adalah gadis reporter berambut pendek yang membelakangi massa. "... seperti yang Anda saksikan, ratusan massa turun ke jalan dan merusak toko-toko di pinggir jalan. Target mereka adalah toko yang dimiliki oleh penduduk keturunan Tionghoa. Mereka menjarah barang-barang di dalam toko. Beberapa di antara penjarah bahkan masih berada dalam usia sekolah dasar, nampaknya mereka mengikuti perilaku orang-orang dewasa yang menerobos masuk ke dalam toko-toko.
"Selain itu di perempatan-perempatan jalan, beberapa warga secara terang-terangan merusak fasilitas umum seperti rambu-rambu lalu lintas menggunakan tongkat kayu maupun batu. Sebagian warga setempat telah berinisiatif memperingatkan kendaraan-kendaraan yang akan melintas ke jalan ini untuk mencari jalan-jalan alternatif. Kami akan terus memantau perkembangan situasi di sini dan melaporkan kembali apabila ..."
Bunyi letupan keras mengejutkan sang reporter, kedua bahunya berjengit. Rekan juru kameranya menyorot sebuah ruko di sisi kanannya, menampakkan kobaran api yang menjulang setinggi dua lantai gedung. Teriakan-teriakan dan sorak-sorai dari para penjarah yang menjauh dari ruko membuat perutku mual.
"Di dalam masih ada orang!" kata gadis reporter, wajahnya sangat pucat, "tadi saya lihat sendiri di sana! Di balik jendela lantai dua masih ada orang! Gus, mereka membakar orang itu di dalam sana! Aaah ...."
Mama menekap mulutnya, sama seperti sang reporter, yang tak kuasa menahan air matanya di hadapan penonton. Seseorang di belakang kamera pastilah mengucapkan sesuatu karena gadis reporter itu mengangguk, mengusap air matanya dan kembali berbicara dalam suaranya yang formal. "Saat ini tidak ada aparat keamanan yang terlihat di sekitar kami, sehingga tidak ada yang bisa menghentikan amuk massa. Demikian laporan dari kami."
Layar televisi beralih menampilkan sosok pembawa berita di studio. Apa persisnya yang pembawa berita itu ucapkan tenggelam oleh bunyi dengung Cumiakkan telinga yang datang dari luar rumah.
"Itu kan Ibu RT," kata Kak Rudi yang paling pertama mendekat ke jendela. "Ngapain dia ngetuk-ngetuk tiang listrik pakai batu?"
Mama bergegas membuka pintu sambil membawa kunci. Aku dan Kak Rudi masih di dalam rumah, penuh rasa ingin tahu tapi terlalu kebingungan bahkan untuk bergerak. Ketika Mama baru membuka pintu pagar, tetangga-tetangga di sekitar rumah kami sudah lebih dahulu mendekati rumah Ibu RT yang tepat di seberang rumah kami. Seumur hidup belum pernah aku melihat tetangga kami berkumpul sebanyak ini, kira-kira ada 20 orang - sebagian besar di antara mereka bahkan tidak pernah kulihat.
Dalam pertemuan itu, Ibu RT mengulang kembali paparan tentang kerusuhan yang sudah kami saksikan di TV. "... saya juga dengar kabar lain dari kerabat saya: ada kira-kira lima puluh orang sedang bergerak ke arah tempat kita. Oleh karena itu -" tetangga-tetangga sudah spontan riuh-rendah, semuanya berbicara satu sama lain ingar-bingar seperti kerumunan tawon. "Bapak ... PAK! IBU! Tolong dengarkan saya dulu! Kita semua ingin tetap aman, jangan sampai ada yang kena musibah! Oleh karena itu biarkan saya memberikan usul!
"Pertama-tama, tolong siapkan bekal dan pakaian secukupnya - kalau-kalau kita terpaksa meninggalkan rumah. Tidak perlu membawa barang-barang berharga, cukup sembunyikan saja di dalam rumah, bahaya sekali kalau kita sampai dicegat di tengah jalan hanya gara-gara harta.
"Kedua, agar tidak mengundang perhatian, saya harap agar semuanya tenang di dalam rumah malam ini. Tolong matikan lampu, tidak menyalakan TV, radio, atau apapun yang bisa menarik perhatian dari luar. Memang ini tidak akan mencegah mereka untuk masuk, tetapi kita harus berusaha sebisa mungkin agar tidak memancing emosi massa yang sedang liar.
"Ketiga, malam ini kita akan menambah jumlah orang yang berjaga di sekitar kompleks. Bapak-bapak sangat diharapkan partisipasinya - mungkin enam atau tujuh orang per jam nya sudah cukup." Ibu RT menarik napas dalam-dalam seusai pemberitahuannya. Kedua matanya letih, namun tidak kurang semangatnya. "Saya akan berusaha agar memberikan info lagi kalau ada sedikit saja pertanda bahwa mereka akan datang kemari. Bapak-bapak dan ibu-ibu juga silakan memberikan kabar kalau mendengar sesuatu."
Om Gendut, yang tak kulihat sedari tadi karena terlalu sibuk mendengarkan Ibu RT, ternyata berdiri tepat di sebelah semak bundar yang berada di depan rumah kami, masih tak mengenakan apapun untuk menutup perut buncitnya. "Saya kebetulan punya kenalan di Polsek Bojong. Kalau ada apa-apa nanti, saya akan minta pertolongan ke mereka. Tapi -" Om Gendut buru-buru mengangkat tangannya saat sebagian warga bertepuk tangan riuh - "jangan terlalu berharap kalau mereka akan datang dengan cuma-cuma. Pasti mereka ada maunya. Jadi sebaiknya saya ingatkan Bapak dan Ibu sekalian dari sekarang: kalau nanti mereka minta, ya kita harus sisihkan bayarannya bersama. Dan saya yakin itu ngga akan murah," tambah Om Gendut getir.
Diskusi tidak berlangsung lama setelah itu. Para tetangga satu-per-satu atau berdua-berdua kembali ke kediaman mereka, begitu juga Mama. Hal pertama yang Mama lakukan adalah mengeluarkan ransel dinas milik Papa yang biasanya disimpan dalam lemari kamarnya, kemudian memasukkan makanan-makanan kalengan, botol air mineral, dan senter. Aku dan Kak Rudi berdiri mematung di tempat kami, belum pernah melihat Mama se-serius itu. Mama meminta kami untuk kembali ke kamar dan mengambil baju sweater kami. Ketika Kak Rudi bertanya kenapa, Mama tidak mengalihkan perhatian dari kesibukannya. "Mungkin saja kita harus meninggalkan rumah malam-malam; mungkin kita ngga akan tidur di tempat yang tertutup," kata Mama datar.
Aku dan Kak Rudi kembali ke kamar, berpakaian sesuai instruksi Mama. "Ko, memangnya kita beneran bakal tidur di jalanan malam ini?"
"Ngga tahu," sahut Kak Rudi, mengangkat bahu. "Mudah-mudahan Papa cepat pulang. Kasihan Mama, kelihatannya dia hampir gila."
Ketika kami ke ruang tengah lagi, telepon berdering. Mama menyuruh kami memakai sepatu - untuk berjaga-jaga kalau kami perlu segera berlari - sementara dia mengangkat gagang telepon. "Halo?"
Jantungku seolah berhenti berdegup selama sedetik mendengar pekik ketakutan Mama, Kak Rudi sampai melepas sepatu yang baru akan dikenakannya. "Papa di mana sekarang?! Kenapa-kenapa, ngga?!"
Pikiranku otomatis membayangkan Papa berada di tengah jalan, terlentang bagai boneka tanpa dalang dengan bercak-bercak darah menutupi putih kemejanya. Selama sepuluh menit yang terasa sangat lama, Mama menutup telepon.
"Papa ngga bakal pulang malam ini," kata Mama, merapikan rambutnya yang menutupi telinga. Bibirnya bergetar ketika ia melanjutkan. "Dua jam lalu mobil Papa dicegat kerumunan massa yang mengamuk di Cengkareng."
"Apa?!" pekik Kak Rudi keras-keras. "Terus bagaimana Papa sekarang?!"
"Dia ngga kenapa-kenapa," kata Mama, mengangkat tangannya untuk menenangkan kami. "Sekarang dia sudah di rumah Paman Haris, malam ini Papa bakal menginap di sana soalnya kondisi di jalanan masih belum aman."
Gelenyar kehangatan membanjiri tubuhku. Tadinya kukira bayanganku tentang Papa di jalanan benar-benar terjadi. Kalau itu sampai benar-benar terjadi .... Aku bahkan tidak berani membayangkan bagaimana nasib keluarga kami. "Tapi ... tapi bagaimana caranya Papa bisa kabur dari mereka?" kata Kak Rudi, matanya melebar.
"Papa kamu kan pintar," celetuk Mama singkat, seolah dia baru saja menjelaskan satu tambah satu sama dengan dua. "Katanya sih ada kira-kira enam sampai sepuluh orang, semuanya bawa tongkat atau batu-bata, suruh Papa keluar dari mobil, kasih duit, dan macam-macam lagi. Tapi Papa tolak - dia tahu kalau dia keluar justru dia ngga bakal aman. Jadi Papa cuma buka sedikit jendelanya, terus kasih semua uang di dalam dompet. Salah seorang pemuda ada yang lihat jam tangannya, jadi Papa juga kasih. Untung hari ini Papa bawa jam tangan yang beli dari Glodok." Mama tertawa, agak kaku, mungkin karena kami belum merasa sepenuhnya aman - bahkan untuk tertawa.
"Cuma begitu?" kata Kak Rudi, melongo, "terus mereka biarin Papa pergi begitu aja?!"
"Kaca belakang mobilnya sempat dihantam pakai bata keras-keras," tambah Mama. "Ngga ngga pecah, cuma retak sedikit. Untung waktu itu kata Papa ada mobil jip tentara lewat di depan jalan, jadi kerumunan itu segera melarikan diri sebelum macam-macam lagi. Papa kalian dilindungin, makanya kalian harus rajin-rajin berdoa!"
Aku merebahkan diri ke sofa, ikut-ikutan merasa letih seperti Mama. "Terus pas perjalanan ke rumah Om Haris, Papa ngga dicegat lagi?" tanya Kak Rudi, kelihatannya masih belum percaya nasib mujur Papa.
Mama menggeleng. "Ngga, tapi dia hampir masuk ke daerah rawan lagi. Sebelum dia masuk lebih jauh, ada tukang parkir daerah situ yang peringatin Papa - 'Jangan lewat sini! Ada gerombolan orang lagi jarah toko sama bakar mobil di depan! Apalagi muka kamu kayak Cina!'"
"Beneran tukang parkirnya ngomong begitu?" kata aku dan Kak Rudi bersamaan. Mama mengangguk. Kali ini kami semua tertawa lepas.
Mama mengusap air matanya, masih tertawa sedikit. "Makanya, beruntung Papa matanya ngga se-sipit mata kalian!"
***
Pukul tujuh malam, Mama sudah menyuruh kami untuk segera masuk ke kamarnya - Mama ingin anak-anaknya selalu bersamanya sedekat mungkin. Lampu-lampu dimatikan, bahkan kabel steker kulkas dicabut. Rumah-rumah lain di sepanjang jalan rumah kami juga melakukan hal yang sama. Keheningan malam itu justru membuatku tidak tenang - rasanya seperti menyaksikan air laut yang surut sebelum tsunami - aku takut kalau kesunyian ini juga merupakan pertanda buruk.
"Ma," kataku pelan. Aku tidak tahu apakah Mama masih tidur atau tidak. Kak Rudi yang berbaring di sebelah kananku sudah mengorok. Mama menggumam kecil sebagai tanda bahwa dia mendengarku. "Tutupin gorden jendelanya dong ..."
Mama bangkit, melakukan apa yang kuminta tanpa suara. "Kenapa?"
"Takut, takut kalau ada hantu yang ngintip dari luar. Beberapa hari lalu nonton film serem di TV sama Kak Rudi, hantunya ngintip dari jendela." Aku bergidik. Mama tersenyum sambil berbaring kembali di sebelah kiriku. "Mama ngga takut sama hantu?"
"Ngga," sahut Mama, menepuk ubun-ubunku dengan lembut, cara yang selalu digunakannya untuk membuatku tenang dan cepat tidur. "Mama ngga takut sama hantu, soalnya Mama tahu hantu ngga ada ..."
Mataku semakin berat. Kupejamkan perlahan-lahan, meskipun aku masih ingin mendengarkan sisa kata-kata Mama.
"... Mama cuma takut sama orang-orang jahat."
***
... bersambung (update lagi Selasa, 28 Juni)
Buat yang ingin baca ceritanya sampai habis, bisa ke Wattpad.
Spoiler for BAB V:
Keesokan paginya, Mama masih bersikukuh membujuk Papa agar meletakkan tas jinjing kerjanya, agar tetap di rumah bersama kami. Papa sampai harus setengah berteriak marah-marah supaya Mama berhenti memohon kepadanya. Sebagai gantinya, Mama meminta agar Papa menelepon ke rumah secara berkala.
"Kabari saya kalau sudah sampai kantor, Pa," kata Mama seraya merapikan dasi Papa. "Begitu juga kalau sudah mau pulang, supaya saya tenang."
Papa mengangguk. Aku berdiri di sebelahnya. Waktu itu aku masih mengantuk, tapi kenyataannya aku terbangun dan ingin berada di dekat Papa.
"Andri, tumben bangun pagi-pagi begini, biasanya kamu paling susah dibangunin," celetuk Papa.
Kepalaku tertunduk ke bawah. Sampai kemarin, aku masih merasa kalau keluarga kami tidak ada bedanya dengan keluarga lainnya. Kupikir keluarga kami akan aman, dan segala kerusuhan ini sebenarnya sedang terjadi di tempat yang sangat ... sangat jauh, tidak ada hubungannya dengan kota tempat tinggal kami. Namun penjelasan Papa semalam menjungkirbalikkan ketenanganku menjadi kekhawatiran, ketakutan.Puncaknya, pagi ini aku terbangun dengan perasaan bersalah.
Tiba-tiba lidahku bergerak, mengucapkan pertanyaan yang membuatku terjaga semalam, "Pa, kenapa kita harus terlahir sebagai keturunan Tionghoa? Kenapa banyak orang yang membenci kita?"
Meskipun aku masih memandang jari-jari kakiku sendiri, aku tahu Papa dan Mama bertukar pandang di atas kepalaku.
"Dengarkan Papa, Andri," Papa bertumpu pada satu lututnya, satu tangannya meremas bahuku dan matanya kini bertemu pandang dengan mataku. "Tidak ada yang salah dengan lahir sebagai keturunan Tionghoa. Yang salah adalah, kalau kamu berpikir kamu bukan orang Indonesia - atau kamu malu dengan identitas kamu sendiri."
Papa mengacak-acak rambutku dan berpesan agar aku menjaga Mama sampai dia kembali. Aku menyaksikannya pergi mengendarai mobil sedannya. Bahkan aku masih berdiri di teras beberapa menit setelah dengung mesin mobilnya tak terdengar lagi, hanya meninggalkan kepulan debu di jalan setapak di depan pagar rumah kami.
Hari itu aku baru sadar betapa pentingnya peran seorang ayah di dalam keluarga. Aku merasa sangat kecil, sangat tak berdaya begitu Papa meninggalkan kami.
***
"Iya, barusan pergi, padahal sudah saya larang," kata Mama lirih di telepon.
Waktu itu pukul 15.00 menjelang sore, tanggal 13 Mei 1998. Hari itu aku dan Kak Rudi tidak masuk sekolah atas permintaan Mama, apalagi setelah radio Sonora mengumumkan aksi pembakaran di sekitar Jalan Daan Mogot mulai pukul 12.00. Awalnya aku kira ini akan menyenangkan - tetapi setelah satu jam aku sudah tidak tahan dengan suasana gelisah di dalam rumah: Mama bolak-balik dari dapur ke ruang tengah untuk menelepon adik bungsunya, Tante Sukma, yang umurnya masih 19 tahun. Rupanya Tante Sukma juga memutuskan untuk tidak berangkat kuliah hari itu.
"Saya sudah pesan ke dia supaya telepon kalau ada apa-apa," lanjut Mama sambil memindahkan gagang telepon ke telinga kirinya, "tapi kan dia orangnya kepala batu. Susah dinasehatin kalau sudah ambil keputusan. Yah kita cuma bisa berdoa-lah, jangan sampai ada musibah. Kemarin saya sudah pindahin sebagian stok makanan dari toko ke rumah. Takut kalau-kalau ada kerusuhan, toko saya bakal dijarah."
Kak Rudi memalingkan muka dari buku cetak tebal yang sedang dibacanya, berdeham kecil. Mungkin dia juga merasa gelisah sepertiku. Kuperhatikan kalau dia masih juga membaca halaman buku yang sama sejak setengah jam yang lalu.
"Kunci pintu kamar kos kamu, Sukma," pesan Mama - mungkin untuk yang kelima kalinya - "jangan kasih siapa-siapa masuk, saya khawatir kamu kenapa-kenapa. Kamu kan sendirian ... harusnya kamu ke sini semalam ... Saya ngga bisa tidur semalam mikirin semua ini, termasuk kamu ... Oh, ada teman yang nemenin kamu ... ? Ya baguslah, jadi kan bisa saling jaga. Lanang atau tino? Tino? Siapa, temen kos? Anak kuliah juga? Chinese juga bukan?"
Decak lidah Kak Rudi menandakan akhir batas konsentrasinya. Dia meletakkan buku cetaknya dan menyalakan televisi. Tangan kiri menyangga dagunya - tampak sangat jemu. Namun dalam sedetik saja postur tubuhnya mendadak tegap.
"Oh ...," gumam Kak Rudi. Aku ikut menyaksikannya di televisi.
Yang pertama merenggut perhatianku adalah jerit panik perempuan-perempuan di dalam televisi - bukan cuma satu, dua, tiga, empat, tetapi puluhan jerit ketakutan. Orang-orang berlarian ke segala arah, melarikan diri dari segerombolan pemuda yang melemparkan batu-batu tajam seukuran bola tenis ke arah kaca toko. Sedetik kemudian, aku baru mengerti bahwa onggokan yang melintang di jalan raya adalah manusia - entah mereka masih bernapas atau tidak. Dan melatarbelakangi itu semua, asap kelabu pekat membumbung dari bangkai-bangkai motor beserta alat-alat elektronik hasil rampasan yang terbakar di tengah jalan.
"Astaga ... astaga ...." kata Mama nyaris tanpa suara. Gagang telepon sudah terlepas dari tangannya, membiarkan benda itu tergantung mengayun di tepi meja. "Rudi, keraskan volume suaranya ..."
Kami menyaksikan tanpa kata, satu-satunya orang yang berbicara di ruang tengah kami sekarang adalah gadis reporter berambut pendek yang membelakangi massa. "... seperti yang Anda saksikan, ratusan massa turun ke jalan dan merusak toko-toko di pinggir jalan. Target mereka adalah toko yang dimiliki oleh penduduk keturunan Tionghoa. Mereka menjarah barang-barang di dalam toko. Beberapa di antara penjarah bahkan masih berada dalam usia sekolah dasar, nampaknya mereka mengikuti perilaku orang-orang dewasa yang menerobos masuk ke dalam toko-toko.
"Selain itu di perempatan-perempatan jalan, beberapa warga secara terang-terangan merusak fasilitas umum seperti rambu-rambu lalu lintas menggunakan tongkat kayu maupun batu. Sebagian warga setempat telah berinisiatif memperingatkan kendaraan-kendaraan yang akan melintas ke jalan ini untuk mencari jalan-jalan alternatif. Kami akan terus memantau perkembangan situasi di sini dan melaporkan kembali apabila ..."
Bunyi letupan keras mengejutkan sang reporter, kedua bahunya berjengit. Rekan juru kameranya menyorot sebuah ruko di sisi kanannya, menampakkan kobaran api yang menjulang setinggi dua lantai gedung. Teriakan-teriakan dan sorak-sorai dari para penjarah yang menjauh dari ruko membuat perutku mual.
"Di dalam masih ada orang!" kata gadis reporter, wajahnya sangat pucat, "tadi saya lihat sendiri di sana! Di balik jendela lantai dua masih ada orang! Gus, mereka membakar orang itu di dalam sana! Aaah ...."
Mama menekap mulutnya, sama seperti sang reporter, yang tak kuasa menahan air matanya di hadapan penonton. Seseorang di belakang kamera pastilah mengucapkan sesuatu karena gadis reporter itu mengangguk, mengusap air matanya dan kembali berbicara dalam suaranya yang formal. "Saat ini tidak ada aparat keamanan yang terlihat di sekitar kami, sehingga tidak ada yang bisa menghentikan amuk massa. Demikian laporan dari kami."
Layar televisi beralih menampilkan sosok pembawa berita di studio. Apa persisnya yang pembawa berita itu ucapkan tenggelam oleh bunyi dengung Cumiakkan telinga yang datang dari luar rumah.
"Itu kan Ibu RT," kata Kak Rudi yang paling pertama mendekat ke jendela. "Ngapain dia ngetuk-ngetuk tiang listrik pakai batu?"
Mama bergegas membuka pintu sambil membawa kunci. Aku dan Kak Rudi masih di dalam rumah, penuh rasa ingin tahu tapi terlalu kebingungan bahkan untuk bergerak. Ketika Mama baru membuka pintu pagar, tetangga-tetangga di sekitar rumah kami sudah lebih dahulu mendekati rumah Ibu RT yang tepat di seberang rumah kami. Seumur hidup belum pernah aku melihat tetangga kami berkumpul sebanyak ini, kira-kira ada 20 orang - sebagian besar di antara mereka bahkan tidak pernah kulihat.
Dalam pertemuan itu, Ibu RT mengulang kembali paparan tentang kerusuhan yang sudah kami saksikan di TV. "... saya juga dengar kabar lain dari kerabat saya: ada kira-kira lima puluh orang sedang bergerak ke arah tempat kita. Oleh karena itu -" tetangga-tetangga sudah spontan riuh-rendah, semuanya berbicara satu sama lain ingar-bingar seperti kerumunan tawon. "Bapak ... PAK! IBU! Tolong dengarkan saya dulu! Kita semua ingin tetap aman, jangan sampai ada yang kena musibah! Oleh karena itu biarkan saya memberikan usul!
"Pertama-tama, tolong siapkan bekal dan pakaian secukupnya - kalau-kalau kita terpaksa meninggalkan rumah. Tidak perlu membawa barang-barang berharga, cukup sembunyikan saja di dalam rumah, bahaya sekali kalau kita sampai dicegat di tengah jalan hanya gara-gara harta.
"Kedua, agar tidak mengundang perhatian, saya harap agar semuanya tenang di dalam rumah malam ini. Tolong matikan lampu, tidak menyalakan TV, radio, atau apapun yang bisa menarik perhatian dari luar. Memang ini tidak akan mencegah mereka untuk masuk, tetapi kita harus berusaha sebisa mungkin agar tidak memancing emosi massa yang sedang liar.
"Ketiga, malam ini kita akan menambah jumlah orang yang berjaga di sekitar kompleks. Bapak-bapak sangat diharapkan partisipasinya - mungkin enam atau tujuh orang per jam nya sudah cukup." Ibu RT menarik napas dalam-dalam seusai pemberitahuannya. Kedua matanya letih, namun tidak kurang semangatnya. "Saya akan berusaha agar memberikan info lagi kalau ada sedikit saja pertanda bahwa mereka akan datang kemari. Bapak-bapak dan ibu-ibu juga silakan memberikan kabar kalau mendengar sesuatu."
Om Gendut, yang tak kulihat sedari tadi karena terlalu sibuk mendengarkan Ibu RT, ternyata berdiri tepat di sebelah semak bundar yang berada di depan rumah kami, masih tak mengenakan apapun untuk menutup perut buncitnya. "Saya kebetulan punya kenalan di Polsek Bojong. Kalau ada apa-apa nanti, saya akan minta pertolongan ke mereka. Tapi -" Om Gendut buru-buru mengangkat tangannya saat sebagian warga bertepuk tangan riuh - "jangan terlalu berharap kalau mereka akan datang dengan cuma-cuma. Pasti mereka ada maunya. Jadi sebaiknya saya ingatkan Bapak dan Ibu sekalian dari sekarang: kalau nanti mereka minta, ya kita harus sisihkan bayarannya bersama. Dan saya yakin itu ngga akan murah," tambah Om Gendut getir.
Diskusi tidak berlangsung lama setelah itu. Para tetangga satu-per-satu atau berdua-berdua kembali ke kediaman mereka, begitu juga Mama. Hal pertama yang Mama lakukan adalah mengeluarkan ransel dinas milik Papa yang biasanya disimpan dalam lemari kamarnya, kemudian memasukkan makanan-makanan kalengan, botol air mineral, dan senter. Aku dan Kak Rudi berdiri mematung di tempat kami, belum pernah melihat Mama se-serius itu. Mama meminta kami untuk kembali ke kamar dan mengambil baju sweater kami. Ketika Kak Rudi bertanya kenapa, Mama tidak mengalihkan perhatian dari kesibukannya. "Mungkin saja kita harus meninggalkan rumah malam-malam; mungkin kita ngga akan tidur di tempat yang tertutup," kata Mama datar.
Aku dan Kak Rudi kembali ke kamar, berpakaian sesuai instruksi Mama. "Ko, memangnya kita beneran bakal tidur di jalanan malam ini?"
"Ngga tahu," sahut Kak Rudi, mengangkat bahu. "Mudah-mudahan Papa cepat pulang. Kasihan Mama, kelihatannya dia hampir gila."
Ketika kami ke ruang tengah lagi, telepon berdering. Mama menyuruh kami memakai sepatu - untuk berjaga-jaga kalau kami perlu segera berlari - sementara dia mengangkat gagang telepon. "Halo?"
Jantungku seolah berhenti berdegup selama sedetik mendengar pekik ketakutan Mama, Kak Rudi sampai melepas sepatu yang baru akan dikenakannya. "Papa di mana sekarang?! Kenapa-kenapa, ngga?!"
Pikiranku otomatis membayangkan Papa berada di tengah jalan, terlentang bagai boneka tanpa dalang dengan bercak-bercak darah menutupi putih kemejanya. Selama sepuluh menit yang terasa sangat lama, Mama menutup telepon.
"Papa ngga bakal pulang malam ini," kata Mama, merapikan rambutnya yang menutupi telinga. Bibirnya bergetar ketika ia melanjutkan. "Dua jam lalu mobil Papa dicegat kerumunan massa yang mengamuk di Cengkareng."
"Apa?!" pekik Kak Rudi keras-keras. "Terus bagaimana Papa sekarang?!"
"Dia ngga kenapa-kenapa," kata Mama, mengangkat tangannya untuk menenangkan kami. "Sekarang dia sudah di rumah Paman Haris, malam ini Papa bakal menginap di sana soalnya kondisi di jalanan masih belum aman."
Gelenyar kehangatan membanjiri tubuhku. Tadinya kukira bayanganku tentang Papa di jalanan benar-benar terjadi. Kalau itu sampai benar-benar terjadi .... Aku bahkan tidak berani membayangkan bagaimana nasib keluarga kami. "Tapi ... tapi bagaimana caranya Papa bisa kabur dari mereka?" kata Kak Rudi, matanya melebar.
"Papa kamu kan pintar," celetuk Mama singkat, seolah dia baru saja menjelaskan satu tambah satu sama dengan dua. "Katanya sih ada kira-kira enam sampai sepuluh orang, semuanya bawa tongkat atau batu-bata, suruh Papa keluar dari mobil, kasih duit, dan macam-macam lagi. Tapi Papa tolak - dia tahu kalau dia keluar justru dia ngga bakal aman. Jadi Papa cuma buka sedikit jendelanya, terus kasih semua uang di dalam dompet. Salah seorang pemuda ada yang lihat jam tangannya, jadi Papa juga kasih. Untung hari ini Papa bawa jam tangan yang beli dari Glodok." Mama tertawa, agak kaku, mungkin karena kami belum merasa sepenuhnya aman - bahkan untuk tertawa.
"Cuma begitu?" kata Kak Rudi, melongo, "terus mereka biarin Papa pergi begitu aja?!"
"Kaca belakang mobilnya sempat dihantam pakai bata keras-keras," tambah Mama. "Ngga ngga pecah, cuma retak sedikit. Untung waktu itu kata Papa ada mobil jip tentara lewat di depan jalan, jadi kerumunan itu segera melarikan diri sebelum macam-macam lagi. Papa kalian dilindungin, makanya kalian harus rajin-rajin berdoa!"
Aku merebahkan diri ke sofa, ikut-ikutan merasa letih seperti Mama. "Terus pas perjalanan ke rumah Om Haris, Papa ngga dicegat lagi?" tanya Kak Rudi, kelihatannya masih belum percaya nasib mujur Papa.
Mama menggeleng. "Ngga, tapi dia hampir masuk ke daerah rawan lagi. Sebelum dia masuk lebih jauh, ada tukang parkir daerah situ yang peringatin Papa - 'Jangan lewat sini! Ada gerombolan orang lagi jarah toko sama bakar mobil di depan! Apalagi muka kamu kayak Cina!'"
"Beneran tukang parkirnya ngomong begitu?" kata aku dan Kak Rudi bersamaan. Mama mengangguk. Kali ini kami semua tertawa lepas.
Mama mengusap air matanya, masih tertawa sedikit. "Makanya, beruntung Papa matanya ngga se-sipit mata kalian!"
***
Pukul tujuh malam, Mama sudah menyuruh kami untuk segera masuk ke kamarnya - Mama ingin anak-anaknya selalu bersamanya sedekat mungkin. Lampu-lampu dimatikan, bahkan kabel steker kulkas dicabut. Rumah-rumah lain di sepanjang jalan rumah kami juga melakukan hal yang sama. Keheningan malam itu justru membuatku tidak tenang - rasanya seperti menyaksikan air laut yang surut sebelum tsunami - aku takut kalau kesunyian ini juga merupakan pertanda buruk.
"Ma," kataku pelan. Aku tidak tahu apakah Mama masih tidur atau tidak. Kak Rudi yang berbaring di sebelah kananku sudah mengorok. Mama menggumam kecil sebagai tanda bahwa dia mendengarku. "Tutupin gorden jendelanya dong ..."
Mama bangkit, melakukan apa yang kuminta tanpa suara. "Kenapa?"
"Takut, takut kalau ada hantu yang ngintip dari luar. Beberapa hari lalu nonton film serem di TV sama Kak Rudi, hantunya ngintip dari jendela." Aku bergidik. Mama tersenyum sambil berbaring kembali di sebelah kiriku. "Mama ngga takut sama hantu?"
"Ngga," sahut Mama, menepuk ubun-ubunku dengan lembut, cara yang selalu digunakannya untuk membuatku tenang dan cepat tidur. "Mama ngga takut sama hantu, soalnya Mama tahu hantu ngga ada ..."
Mataku semakin berat. Kupejamkan perlahan-lahan, meskipun aku masih ingin mendengarkan sisa kata-kata Mama.
"... Mama cuma takut sama orang-orang jahat."
***
... bersambung (update lagi Selasa, 28 Juni)
Buat yang ingin baca ceritanya sampai habis, bisa ke Wattpad.
0
Kutip
Balas