YANG HILANG DI MEI '98 (Based on Several True Stories)
TS
manhalfgod
YANG HILANG DI MEI '98 (Based on Several True Stories)
Halo agan dan aganwati sekalian! TS mau share cerita pendek baru nih, semoga pada berkenan
Ceritanya ngangkat tema kerusuhan di Jakarta, Mei 1998. Temanya sensitif isu SARA, jadi TS pengen bilang dari awal kalo cerita yang TS buat ini murni cuma buat refleksi, sama sekali ngga ada maksud buat memancing emosi dari pihak manapun. Jadi TS harap jangan sampai ada yang coba-coba jadi provokator di sini
Berhubung ceritanya udah selesai di-publish di situs lain (Wattpad), agan dan aganwati bisa baca langsung sampe abis di sana, tapi TS janji bakal update satu bab setiap hari di thread ini - harap maklum TS masih newbie di Kaskus hehe.
SINOPSIS - Yang Hilang di Mei '98
Untuk 15 tahun ke atas.
12-14 Mei 1998 merupakan salah satu masa terkelam di Indonesia. Akibat permainan elit politik, masyarakat yang kecewa dan tertekan oleh kondisi ekonomi harus merendahkan martabatnya dengan melakukan penjarahan, pembunuhan, pembakaran, dan pemerkosaan. Akibatnya sesama warga Indonesia harus menanggung kehilangan yang begitu besar baik secara material (kerusakan infrastruktur, kerugian finansial) maupun non-material (kematian, cedera fisik maupun kejiwaan). Sayangnya sampai saat ini dalang maupun pihak yang mengambil kesempatan dalam kerusuhan tidak diusut secara tuntas.
Cerita pendek ini mengisahkan sebuah keluarga sederhana yang terjebak dalam tragedi Mei 1998 di Jakarta.
Cerita ini sudah tamat! Bagi Anda yang ingin menyaksikan film dokumentasi maupun liputan berita seputar kerusuhan Mei '98, bisa dilihat di Wattpad. Selamat menikmati!!
Diubah oleh manhalfgod 12-07-2016 13:02
anasabila memberi reputasi
4
30.4K
Kutip
123
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Malam itu Papa pulang dari kantor lebih awal dari biasanya. Tidak banyak yang Papa katakan padaku begitu dia turun dari mobil. Papa memang bukan orang yang banyak bicara, sangat bertolak belakang dengan Mama.
"Kantor sepi," kata Papa begitu masuk ke dalam rumah, sementara Mama masih sibuk menata makanan kami di meja. "Yang datang juga pada pulang cepat, khawatir bakal dicegat massa kalau pulang larut malam. Jadi saya juga pulang lebih awal."
"Billy tetap masuk ke kantor?" tanya Mama. Aku cukup sering dengar nama itu. Kayaknya nama bos Papa.
"Datang," kata Papa, menghela napas. Dengan satu tangannya, Papa melepas ikatan dasi dari kerah kemeja biru mudanya. "Orang hebat si Billy. Sama sekali ngga kelihatan takut. Masih bisa kerja tenang seperti biasanya."
Papa keluar lagi dari kamarnya kurang dari lima menit berikutnya, sudah berganti pakaian dan tampak lebih santai daripada sebelumnya.
"Pa, mau makan sekarang? Kira-kira lima belas menit lagi siap," tanya Mama dari ruang makan.
"Ya, boleh. Mumpung malam ini ngga dapat giliran jaga siskamling, saya mau tidur lebih awal," kata Papa. Kemudian ia menatap kardus-kardus yang berserakan di sekitar ruang tengah, seolah dia baru saja melihatnya - meskipun beberapa saat lalu Papa berjalan melewati kardus-kardus itu sewaktu memasuki rumah.
"Rudi! Mana Rudi?!" panggil Papa.
Terdengar suara gerutu dari dalam kamarku.
"Kamu bilang apa?!" kata Papa, pakai suara lebih keras. Langkah kaki berat menyusul dengan cepat, dan pintu kamarku terbuka.
"Kenapa, sih?" tanya Kak Rudi, tanpa berusaha menyembunyikan jengkelnya, "aku mau belajar, persiapan EBTANAS!"
Papa melotot galak. "Sini, bantu Papa angkut barang-barang dagangan Mama ke gudang!"
"Suruh saja Andri," keluh Kak Rudi. Aku yang lagi asyik-asyik nonton kartun langsung ikut sewot ("kok jadi aku?!").
"Dia masih kecil - mana ada tenaga - kamu yang lebih gede harusnya yang bantu," kata Papa. "Cepetan! Kamu malah ngga belajar-belajar kalau ngga segera bantu!" tambah Papa tegas. Kak Rudi pun akhirnya ikut bantu - walaupun dia bersungut-sungut dalam prosesnya.
Pukul enam malam, kami sekeluarga sudah berkumpul duduk melingkari meja makan. Papa memimpin doa makan. Papa Mama menutup mata, Kak Rudi sudah mencuri-curi beberapa suap potongan daging ayam tanpa suara. Aku menyaksikan aksinya, setengah iri - setengah berharap agar dia tertangkap basah begitu Papa menyelesaikan doanya. Tapi Kak Rudi berhasil memperbaiki postur badannya dan menutup mata tepat sebelum Papa selesai mengucapkan 'amin'.
"Pa, tadi pagi kan Bang Iskak datang nganterin barang-barang ...," lapor Mama seraya menciduk sesendok nasi putih hangat ke piringku.
Aduuh. Aku membuang muka - aku tahu nada ini. Mama akan memberikan laporan kesalahanku secara detil pada Papa.
"... Masa' tadi Andri ngebiarin Bang Iskak masuk ke dalam kamar kita - ngga dijagain lagi. Andri malah asyik-asyik aja main Tazos di ruang tengah ..."
Nah, betul kan.
"... Untung ngga ada barang-barang yang hilang. Tapi saya sempat lihat Bang Iskak ngintip-ngintip ke rak buku kita. Dia bilangnya 'penasaran sama buku yang Bapak baca' begitu saya masuk. Saya jadi khawatir jangan-jangan waktu itu dia lagi cari-cari barang-barang berharga kita, Pa," kata Mama.
Papa yang sedang mengambil kaldu ayam seketika menghentikan centongnya di tengah jalan. "Ngebiarin Bang Iskak masuk? Kok pinter bener?!" sembur Papa, melotot tak percaya ke arahku.
"Kan kita udah lama kenal Bang Iskak ...." aku memulai pembelaanku, berharap, tapi sia-sia.
"Walaupun!" potong Papa tajam. "Kita kan ngga tahu apa isi hati orang! Mungkin aja kita kenal seseorang baik-baik di waktu biasa, tapi kan kita ngga pernah tahu apa yang dia pikirin begitu ada kesempatan berbuat jahat! Jangan sekali-sekali kasih kesempatan ke orang lain kalau bukan keluarga sendiri!"
Aku mengangguk kecil, merasa dongkol karena harus dimarahi dua kali dalam satu hari.
"Ngerti, ngga?!"
"Iya, Pa. Ngerti," kataku buru-buru.
"Tuh, Rudi dengerin juga," tambah Mama, "pokoknya siapapun ngga boleh masuk kalau bukan keluarga sendiri!"
Mata Kak Rudi menyipit memandangku - terang-terangan menyalahkanku karena dia diceramahi buat hal yang seharusnya ngga ada sangkut-paut dengannya. Untungnya setelah itu makan malam berlangsung lebih tenang. Papa Mama lagi-lagi berbicara tentang demonstrasi mahasiswa di Trisakti. Aku hanya mendengarkan sedikit, banyak hal yang tidak kumengerti, dan lagi kacang merah di piringku jauh lebih menarik untuk dimainkan daripada mendengar obrolan itu.
Kak Rudi meninggalkan meja duluan, bergumam sesuatu tentang 'belajar' dan menghilang bersama dentum pelan pintu kamar yang tertutup rapat. Yang kedua meninggalkan meja makan adalah Papa. Meskipun tidak melihatnya secara langsung, aku tahu dia duduk di sofa, mengangkat kedua kaki di atas lengan sofa yang lain, dan mulai membaca koran Kompas yang tidak sempat dia selesaikan di kantor. Itu hal rutin yang selalu dia lakukan pertama kali setelah santap malam.
Sepuluh menit kemudian, Mama membereskan piring-piring begitu aku selesai dengan makananku. Biasanya aku akan kembali bermain dengan Tazos, baca komik, atau menggambar tokoh kartun setelah makan malam, tetapi malam ini ada satu hal yang sebenarnya sudah sedari tadi ingin kutanyakan pada Papa.
"Pa?"
Papa tidak mengalihkan pandangannya dari koran, cuma menggeram.
"Papa dulu lahir di mana?"
"Di Bengkulu," gumam Papa.
"Ooh," gumamku.
Papa menggeser korannya, menatapku. "Kenapa? Kok kelihatannya kamu lega begitu?"
"Ngga apa-apa, tadinya aku kira aku keturunan Tionghoa," kataku. "Soalnya kan belakangan ini orang-orang Cina lagi dikejar?"
Papa melotot, matanya melebar. Ia bertukar pandang dengan Mama, yang sama bingungnya dengan Papa.
"Saya kira kamu sudah kasih tahu?" kata Papa lambat-lambat pada Mama, yang menggeleng.
"Bukannya Papa yang sudah kasih tahu Andri?" balas Mama. Keduanya terdiam, lalu Mama menambahkan, "Papa saja deh, saya mau cuci piring!"
Papa berdeham, melipat korannya dengan rapi sebelum menyuruhku duduk di sofa. "Papa memang lahir di Bengkulu," kata Papa lambat-lambat, "tapi kakek Papa - kakek buyut kamu - adalah seorang Chinese. Kedatangannya sudah lama sekali, sebelum kamu lahir ... ada lebih dari tujuh puluh tahun lalu. Kamu belum lahir, tentu saja."
Aku menelan ludah. Rasanya dunia di sekitarku mendadak hening - bunyi denging dari peralatan elektronik seperti kulkas, bohlam lampu, bahkan detak jarum jam dinding semuanya tergantikan oleh degup jantungku sendiri.
"... sampai garis keturunan Papa, kita masih mempertahankan nama Chinese kita, Gao. Tapi semenjak tahun 1960an, segala hal terkait tradisi, perayaan, percakapan, bahkan nama Tionghoa dilarang oleh pemerintah. Papa, Paman, Tante kamu, semuanya terpaksa harus ganti nama - bahkan sampai ditandai dalam KTP. Makanya Papa ngga kasih kamu sama Kak Rudi nama Chinese - atau ngajarin kamu bahasa Mandarin, Papa ngga mau kamu ikut-ikutan kesusahan.
"Memang saat ini Jakarta sedang dalam keadaan tidak aman. Minggu lalu mahasiswa IKIP di Medan melakukan demo besar-besaran, sampai ada bentrok antara polisi dengan mahasiswa," sambung Papa, "toko-toko milik orang keturunan Tionghoa dibakar sampai habis - kecuali yang sudah ditandai 'milik pribumi' sama pemiliknya. Beberapa orang meninggal, ratusan luka-luka - sebagian karena luka tembak; pokoknya ... benar-benar sudah seperti hukum rimba! Nyawa manusia sudah seperti ngga ada nilainya lagi, pokoknya kalau ada orang Tionghoa yang berkeliaran di jalan, langsung 'disikat'."
"Pa!"
Mama muncul lagi, membawa sepiring semangka yang sudah dipotong-potong. Wajah Mama tampak terguncang, ia menyuruhku untuk segera sikat gigi dan tidur lebih awal, tetapi Papa menyuruhku agar tetap mendengarkan.
"Dia perlu tahu, sedikit." Papa cepat-cepat menambahkan kata terakhir, rupanya tak tega menambah kekhawatiran istrinya. "Nah, Papa rasa kerusuhan di Medan mungkin saja akan terulang di sini. Kalau kamu dengar berita-berita dari radio atau TV, hari ini terjadi bentrok antara mahasiswa yang di depan gerbang Trisakti. Katanya dipicu oleh lemparan-lemparan batu ke polisi. Terjadi letusan-letusan tembakan dari polisi, dan akhirnya jatuh korban: empat mahasiswa ditemukan meninggal."
Mama meringis, menggumamkan sesuatu dengan berapi-api bercampur sedih. Aku hanya mendengar "kok teganya ..." dari beberapa kata yang Mama ucapkan. "Tapi kenapa harus ditembak, Pa? Kenapa ngga diperingatkan dulu, atau pakai cara ... cara lain?"
Papa mengangkat bahu. "Mungkin polisi juga terpicu emosinya gara-gara ulah mahasiswa. Atau mereka mendapat perintah, atau mereka merasa dalam bahaya jadi mereka sekedar membela diri. Yang jelas, sudah ada korban nyawa. Ribuan mahasiswa itu tidak akan tinggal diam besok."
"Besok Papa ngga usah berangkat kerja saja ya," kata Mama. "Firasat saya ngga enak, Pa."
Papa memaksakan senyum, tapi gagal - senyumnya tak lebih dari sekedar seringai miris. "Enak aja. Kalau ngga kerja, bagaimana bisa ngasih kalian makan tiap malam?!"
***
... bersambung
Buat yang ingin baca ceritanya sampai habis, bisa ke Wattpad.