- Beranda
- Stories from the Heart
(Horror) Diary [TAMAT]
...
TS
ayanokouji
(Horror) Diary [TAMAT]
![(Horror) Diary [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2016/08/12/8901141_20160812100754.jpg)
Illustration courtesy of Awayaye
Halo, dan salam kenal buat agan-agan semua.
Perkenalkan saya anggota lama kaskus tapi newbie di forum SFTH.
Nah, berhubung saya lihat banyak yang menceritakan pengalamannya terutama untuk yang berbau-bau mistis. kebetulan saya dekat dengan seseorang yang memang punya kemampuan lebih untuk melihat yang semacam itu.
Cerita ini adalah berdasarkan kisah nyata, yang memang diambil langsung dari Diary dia
Langsung saja dimulai lah ya
Untuk Postingan pertama saya langsung Posting 2 part deh, karena prologue blum masuk ke cerita
Spoiler for Rules:
Atas permintaan yang punya Diary, mohon dibaca RULESnya sebelum membaca Diary ini ya :
1. Diary ini adalah hasil convert dari catatan di kertas menjadi bentuk elektronik. Jadi ini adalah benar-benar berasal dari Diary asli, kalau sampai ada yang baca dan tidak percaya, it's OK, tidak masalah tapi mohon jangan coba2 menantang apapun 'mahluk' yang disebutkan di Diary ini. Apabila terjadi sesuatu kami tidak bisa menolong.
2. Ini memang bukan urusan TS, tapi usahakan kalau sampai merasakan sesuatu yang tidak beres setelah baca isi Diary teman saya, harap dekatkan diri ke Tuhan segera. Karena seberapa besar Tuhan menolong itu tergantung dari iman kita ketika meminta. Dan percayalah, meminta saat belum melihat apapun dan ketika 'mereka' ada di depanmu itu akan menyebabkan bedanya besar Iman bagi yang tidak terbiasa.
Terimakasih sebelumnya, dan ingat baik2, jangan bermain-main dengan sesuatu dari dunia lain
Part I - Prologue (tanggal Diary - 3 September 2010)
Spoiler for Part I:
3 September 2010
Hallo Diary..
Mulai hari ini aku akan sedikit merubah apa yang aku tulis di dalam lembarmu yach..
Sebenarnya aku sih berniat tidak pernah berkeinginan untuk mengungkapkan rahasia ini, karena aku pasti akan dicap sebagai orang aneh..
Hanya kamu yang mau mendengarkan semua cerita aku tanpa mengeluh, mulai dari aku menyukai siapapun sampai sendirian seperti sekarang (hiks..hiks.. yahh aku tau, trims anyway)
Okay, jadi aku akan menceritakan pengalaman hari ini.. yaah ini kesekian kalinya sudah terjadi padaku, dan untuk teman sejatiku yaitu kamu my Diary, aku akan menuliskan ini, rahasiakan ini yaah..
Ceritanya aku akan mulai dari pengalaman tadi pagi..
Oh ya, sebelumnya aku akan kasihtau sedikit rahasia kepada kamu..
Kamu tau.. ehm.. aku ini bisa melihat hantu atau semacamnya.. guru Agamaku berkata ini adalah anugrah, menurutku lebih seperti kutukan.
Kamu tau, Diary? Mungkin tidak banyak orang yang tau, tapi hantu itu berbeda dengan setan atau semacamnya. Kalau misalkan diumpamakan, hantu itu lebih ke arwah orang-orang yang meninggal atau dalam Bahasa Inggris disebut dengan Ghost. Sedangkan setan bukan arwah, atau mungkin saja tadinya mereka arwah, yang pasti setan itu sudah lebih melewati tingkat keseraman dari Hantu. Dan diatas itu, masih ada lagi yang aku namakan jejadian. Nah, apabila setan itu bentuknya tidak dapat dikatakan bentuk apakah itu, kalau jejadian ini setidaknya sebagian besar dari bentuknya adalah bagian dari hewan-hewan.
Dan diary, dari kesialanku mendapatkan kutukan kemampuan ini, syukurlah aku hanya bisa melihat hantu saja. Yaah, kadang memang ada sedikit pengecualian, yang membuatku enggak tau kenapa bisa melihat yang lebih aneh daripada hantu.
But I tell you my Diary, melihat hantu saja sudah cukup menakutkan lho. Jangan dikira penampilan mereka itu normal-normal saja.. yahh, memang ada yang normal dan tersamar tapi hampir disetiap kejadian mereka akan menunjukkan wujud asli mereka kalau mereka tau kita bisa melihat mereka, dan mereka selalu tau kalau aku bisa melihat mereka.
Upps… sudah jam 11 ternyata, tadinya aku mau menceritakan kejadian penglihatan yang kulihat hari ini, tapi sudah terlalu malam nih, besok aku janji pasti akan cerita padamu dehhh, jangan ngambek yahh
See you tomorrow my Diary, Mulai hari ini aku akan melaporkannya padamu kalau aku melihat sesuatu yang aneh itu, hehe.. Nite
Part II - Misteri Toilet Wanita di lantai 7 - catatan tanggal 4 September 2010
Spoiler for Part II:
4 September 2010
Hallo friend,
As my promise stated, aku bakal ceritain hal yang kemarin terjadi sama aku. Jangan takut yaah, karena aku sudah cukup takut untuk mengingat-ingat ini, jadi tolong semangati aku (he..he..)
Oookay, cerita ini bermulai waktu aku bersama cindy sedang ada ditoilet di lantai 7 kampus kemarin siang setelah kuliah pak Zainul.
Ingatkan aku untuk memarahi Cindy nanti karena dia meninggalkan aku sendirian di toilet itu..
Kau dengar? Meninggalkan aku!
Berkat dia aku jadi melihat.. yahh, sesuatu yang jauh dari menyenangkan..
Sewaktu aku keluar dari bilik toilet dan mencari-cari Cindy, aku tidak menemukannya dimana-mana, aku rasa sih dia pergi buru-buru menemui pacarnya.. ya Tuhan, persahabatan kita hanya sebatas selama pacar tidak mengganggu.
Lalu aku berpikir, ya sudahlah, aku akan membetulkan make-up sebentar dan akan pergi ke food court, sepertinya #### belum datang menjemputku deh, setidaknya aku harus terlihat cantik kaan (he-he-he)
Tiba-tiba aku merasakan udara menjadi dingin, cukup untuk membuat bibirmu bergetar secara reflek.
Dan itu jelas-jelas tidak benar, toilet ini kan jelas-jelas pengap dan tanpa AC dimanapun. Dan otakku baru saja berpikir kalau ada yang tidak beres nih..
Tiba-tiba sudah berdiri seorang wanita dibelakangku, rambutnya panjang dan menutupi separuh mukanya, dia memakai baju kaus berwarna merah menyala dan celana jeans.
Aku langsung berbalik dan reflek berkata kalau dia membuatku kaget. Dan hal berikutnya yang terjadi membuatku hampir saja mengompol
Dia menempelkan mukanya tepat didepan mukaku, kulitnya benar-benar mengerikan, kau tau karpet yang ada tonjolan-tonjolannya begitu? Mukanya dan seluruh kulitnya penuh dengan seperti itu. Dan warna kulitnya sangat pucat, seperti warna krem kekuningan. Dan yang paling mengerikan dari semuanya adalah bola matanya, warna urat darah dibola matanya berwarna coklat kekuningan dan pupil matanya hitam dan bebercak merah.
Dari situ aku langsung tau kalau aku sedang bertemu dengan hantu, dan kali ini bukan hantu yang baik.
Perlahan-lahan dia mendekati aku, tapi tidak pernah menempel pada badanku, mukanya sangat dekat pada mukaku, dan tangannya yang dipenuhi dengan tonjolan-tonjolan itu juga menggapai tubuhku seakan ingin menyentuhku, tapi sentuhan itu tidak pernah terjadi.
Aku merasakan bahwa sekitar 1 jam dia hanya memandangiku saja, berkali-kali berusaha menempelkan dirinya pada badanku, tapi tidak pernah berhasil. Jujur Diary, aku tidak tau kenapa dia tidak bisa menyentuhku, tapi syukurlah karena disaat itu, aku sama sekali tidak bisa bergerak.
Setelah sekitar 1 jam itu, dia akhirnya mundur, kemudian matanya membelalak. Lebih besar dari lebar mata yang bisa dibuka oleh manusia normal, sepertinya seakan-akan semua kelopak matanya tertelan ke dalam rongga matanya. Kemudian warnanya bola matanya perlahan-lahan menjadi merah tua dan kemudian akhirnya menjadi hitam.
Kemudian dia berteriak sambil melompat kehadapanku, dan menghilang tepat didepan mukaku. Aku yakin aku mengompol sedikit kemarin.
Setelah itu suhu di toilet itu kembali pengap. Kakiku terasa kehilangan tulangnya dan aku terduduk di lantai toilet tanpa tenaga.
Kemudian suara handphoneku berbunyi mengagetkan aku, aku mengangkatnya dan #### ternyata menelponku. Dia mengatakan bahwa sudah 5 menit dia mencoba menelponku dan tidak diangkat-angkat. Aku meminta maaf dan berkata mungkin aku tidak mendengarnya tadi.
Ngomong-ngomong… waktu yang berlalu hanya 15 menit, tapi terasa seperti satu jam saat kejadian tadi..
Lain kali ingatkan aku jangan pernah lagi masuk di toilet lantai 7 sendirian ya.
UPDATED!!! PART XLV - "Serangan yang disengaja - II"
Spoiler for INDEX:
part III- Melayat
Part IV - Siapa yang mengikuti aku?
Part V - Bagaimana kutukan ini dimulai
Part VI - Perkemahan SMP
Part VII - Jurit Malam 1
Part VIII - Jurit Malam 2
Part IX - Penghuni Kampusku
Part X - Wanita dress putih
Part X (Final) - Wanita dress putih (lanjutan)
Part XI - Mereka ada di sekeliling kita
Part XII - Kalau kau jahat
Part XIII - Lauren dan ketiga anaknya
Part XIV- WARNING!! Baca catatan saya sebelum lanjut baca - Si Nenek dan Cucunya 1
Part XV - Si Nenek dan Cucunya 2
Part XVI - Wanita Dress Putih is back
Part XVII - Lift kampusku
Part XVIII - Tiga anak lauren kembali
Part XIX - Mahluk aneh
Part XX - Kampus sarang Kunti
Part XXI - Sang "dewa" jahat
Part XXII - Curiousity Kills the Cat
Part XXII - Bagian 2 - Robert and the Devil 1
Part XXII - Bagian 3 - Robert and the Devil 2
Part XXIII - Kembalinya si mahluk aneh
Part XXIV - Part I - si "dewa" jahat kembali 1
Part XXIV - Part II - si "dewa" jahat kembali 2
Part XXV - Robert
Part XXVI - aku dan kegelapan
part XXVII - Wewe Hitam
Part XXVIII - Wewe Hitam dan Wewe Putih
Part XXIX (bagian pertama) - He and Me (bag 1)
Part XXX (Bagian kedua) - He and Me (bag 2)
Part XXXI - sang pelindung
Part XXXII - Villa di gunung 1
Part XXXIII - Villa di gunung 2
Part XXXIV - Villa di gunung 3
Part XXXV - Villa di gunung (tamat) bag awal
Part XXXV - bagian akhir - Villa di gunung (tamat) bag akhir
Part XXXVI - Kutukan baru
Part XXXVI - Tambahan - Kutukan baru (tambahan)
Part XXXVII - Bagian Pertama - Iblis bag 1 -(Ketika dia terluka)
Part XXXVIII - bagian kedua - Iblis bag 2 - (si pemilik mata)
Part XXXIX - Cermin
Part XL - Ketika Ayano sakit
Part XLI - Goodbye
PART XLII - Mahluk di Jendela
PART XLIII - Akhir si "dewa" jahat
PART XLIII (lanjutan) - Akhir si "dewa" jahat (bag Akhir)
Part XLIV - Serangan yang disengaja - I
PART XLV - Serangan yang disengaja - 2 UPDATE
Bonus Story : Pengalaman TS dan yang punya Diary
Pengalaman bersama dia yang menulis Diary I
Bonus Story II Ketika yang tidak biasa melihat diperlihatkan
BONUS STORY III - Pengalaman Horror ketika main game
BONUS STORY IV : Kejadian di Malam Jumat Kliwon[
*SPECIAL* Bonus Story IV - part 2 - Elisa's POV
Bonus Story V - Part I
Bonus Story V - Part 2
Bonus Story V - part 3
Bonus Story VI
Bonus Story VII #awasbebehplusplus
Bonus Story VIII
Bonus Story IX
Bonus Story X
Bonus Story XI
BONUS PART XII - Bagian ketiga (Elisa POV)
Kiriman cerita dari para pembaca :
Kiriman cerita dari agan Gent4r - 1 (Gent4r, Romi vs Miss K)
Pengalaman agan Gent4r kedua
Kiriman cerita dari pembaca
Thread lainnya tentang saya dan Elisa
Saya dan Gadis bermata Indigo
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 39 suara
Berhubung banyak yang nyaranin Untuk ganti judul Thread, mohon masukan terkait itu :
Judul Thread tetap, soalnya daripada ribet nyari Threadnya lagi
56%
Judul Thread diganti ke judul Thread yang di dalem
33%
Judul Thread kudu diganti ke judul Thread yang beda dan lebih menarik
10%
Diubah oleh ayanokouji 19-11-2016 12:18
radorada dan 23 lainnya memberi reputasi
24
1.1M
Kutip
2.2K
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanokouji
#15
Akhirnya selesai juga editnya, nih langsung ane pos daripada kentang
11 Januari 2011
Iya, aku tau, kita lanjutkan cerita kemarin yaa….
… aku melihat ke sisi satunya dan melihat hal yang sama, sepasang kaki putih kebiruan yang menjuntai turun di ranting pohon. Seakan seseorang sedang duduk diatasnya.
…Aku menggenggam tangan pasanganku dan berjalan lebih cepat lagi.
Aku mendengar suara dari belakangku, suara “krsssk..krsssk” suara yang kupikir seperti suara seseorang sedang berusaha turun dari atas pohon.
Awalnya aku hanya mendengar dua suara, hingga semakin banyak, seakan-akan ‘sesuatu’ yang duduk di atas pohon, apapun itu, sedang berusaha turun, dari semua pohon secara bersamaan dengan bunyi “krrsssk..krrsssk” yang semakin bergemuruh.
Aku semakin mempercepat langkahku, temanku juga mengimbangi langkahnya bersama denganku.
Kami terus berjalan dengan cepat, bahkan hampir setengah berlari hingga mencapai pos ke delapan.
Kami tidak berhenti, namun dengan cepat aku menyambar lilin yang ditaruh di meja kecil yang berbentuk seperti altar.
Aku menyalakan lilin ke delapan dengan susah payah karena melakukannya sambil berjalan, Untunglah aku berhasil dan kemudian meletakkan lilin itu kedalam wadah temanku.
Kami terengah-engah, namun aku tidak berhenti karena perasaan diikuti yang masih kurasakan sampai dengan sekarang.
Aku tidak ingat kapan aku sampai di pos ke Sembilan, sebuah rumah petani tua yang dengan lilin yang diletakkan di undakan tangga di depan rumah itu.
Aku menyuruh temanku untuk menunggu sedangkan aku menaiki tangga pendek itu dengan cepat dan mengambil lilin yang tergeletak di sana.
Kurasakan adanya pandangan yang mengarah padaku, aku menengok ke temanku, namun dia sedang melihat sekeliling sambil memeluk badannya yang kedinginan.
Akupun merasa mulai kedinginan sampai aku melakukan kesalahan dengan melihat ke celah pintu yang terbuka sedikit di depanku.
Sepasang mata melihatku dengan tajam..
Sepasang mata yang menatapku tanpa ada emosi..
Aku merasakan keringat dingin mulai mengalir di pipiku, dan jantungku berdebar dengan sangat kencang. Darah mulai tidak mengalir ke wajahku dan aku merasakan adanya rasa ancaman yang membuat perasaanku sangat tidak enak.
Kupaksakan kakiku yang seakan menempel pada lantai kayu untuk bergerak.
Aku melangkah secepat yang kubisa untuk menuruni tangga kayu itu sambil menggenggam erat lilin ke delapan dan sedikit tersandung ketika turun, seakan ada sesuatu yang menghalangi, atau memegang pergelangan kakiku.
Aku tidak memperdulikannya dan segera menyambar tangan temanku, beranjak pergi dari situ.
Kali ini aku menyadari bahwa bulu kudukku berdiri penuh saat ini. Dan instingku merasakan bahwa aku merasa seperti berada di suatu tempat yang membuatku terasa seperti dikurung. Terlepas dari jalanan luas yang terhampar di depan kami dan cahaya lilin yang berada di depanku.
Aku merasa seperti terkucil dan terkurung…
Atau lebih tepatnya..
Terkepung…
Aku tidak peduli hal lainnya selain berusaha menyelesaikan jurit malam ini secepat mungkin. Untungnya temanku juga setuju denganku, karena dia tidak memberikan protes apa-apa selama aku menariknya berlari di sepanjang jalan sampai k epos ke sepuluh.
Pos ke sepuluh berada di pangkal sebuah jembatan batu yang luas yang terbentang diantara kali dengan air yang mengalir deras, dan berbentuk seperti patung dengan lilin-lilin diletakkan di tangannya.
Di seberang pos itu, dengan jarak sekitar 1 kilometer, aku melihat cahaya lilin menyinari sesuatu dengan bentuk yang hampir sama dengan patung pos kesepuluh ini. Kemudian cahaya lilin di depanku itu pergi menjauh, menyusuri jalan selanjutnya.
Pos ke sepuluh dan ke sebelas ada di kedua pangkal jembatan ini rupanya, begitu pikirku saat itu.
Aku berterimakasih untuk itu, setidaknya hanya selangkah lagi sampai ini semua selesai. Aku segera mengambil lilin ke sepuluh dan bergerak menyebrangi jembatan dengan cepat.
Aku kembali tidak sengaja melihat api dari lilin keempat yang berada di dalam wadahku kembali bergoyang-goyang dengan kencang, seakan tertiup oleh angin.
Setelah melihat kaki yang bergoyang dari atas ranting pepohonan, kali ini aku melihat tangan, banyak sekali tangan yang memegang samping jembatan batu itu. Seakan hendak memanjat.
Oke, kali ini aku sudah tidak bisa lagi menahan rasa takutku dan memaksa temanku berlari menyebrangi jembatan itu.
Bunyi kecipak air dan suara derak besi dari pinggiran jembatan berbunyi dengan ramai di belakangku, aku semakin mempercepat lariku.
Aku melihat pos ke sebelas yang berbentuk patung yang berbentuk sama seperti pos sebelumnya hanya kali ini aku baru bisa melihat bentuk patung itu dengan lebih jelas. Patung itu memiliki kesamaan dengan patung di pos ke sepuluh dengan hidung panjang, mata marah dan rambut yang diikat keatas. Namun bedanya, patung pertama berperut buncit, sedangkan patung ini tidak buncit, tapi memiliki dua gigi depan seperti gigi kelinci dengan senyum yang mengerikan.
Aku menyambar lilin yang berada di tangan patung itu. Sesuatu menggenggam pergelangan tanganku namun aku segera menyentakkannya dan berlari (belakangan aku melihat luka di pergelangan tanganku seperti genggaman sebuah tangan dengan jari yang sangat panjang).
Dengan terengah-engah aku melanjutkan perjalanan yang semakin sempit. Pada titik itu, aku benar-benar sudah sangat kehabisan nafas. Maklum saja, kegiatan fisik bukan sesuatu yang menjadi kelebihanku, malahan sebaliknya aku sangat payah dalam hal olahraga atau hal lainnya yang menuntut fisik.
Tapi aku rasa waktu itu rasa takut mengalahkan rasa lelahku…
Tidak jauh didepanku, aku melihat cahaya lilin. Aku berlari menuju cahaya lilin itu sampai mendapati sebuah arca tanpa kepala.
Di depan arca itu terdapat banyak sekali lilin, baik yang terpasang di dalam tempat-tempat lilin maupun yang tergeletak di meja kecil di depannya.
Semua lilin yang terpasang di tempatnya dalam keadaan mati, mungkin karena angin yang berhembus sangat kencang di tempat ini.
Satu-satunya lilin yang menyala adalah lilin yang berada di meja tempat lilin lainnya berserakan.
Lilin yang terletak pada wadah yang sama seperti lilin pada wadah kami.
Seseorang telah meletakkannya disitu, pikirku. Aku mendekati wadah lilin itu dan mendapati sedikit keanehan.
Wadah lilin itu juga memiliki satu lilin dengan bentuk aneh yang mati. Lilin keempat yang juga terdapat pada wadah milikku.
Secara reflek, aku melihat kedalam wadahku sendiri dan mendapati lilin keempat milikku juga mati.
Baru saja aku hendak memikirkan atas keanehan ini ketika lilin keempat milikku tiba-tiba menyala.
Menyala bukan karena tersambar api dari lilin lainnya, melainkan menyala seakan-akan api itu keluar dari dalam lilin itu.
Bersamaan dengan itu, lilin keempat di wadah didepanku juga menyala.
Satu-persatu lilin-lilin yang terletak ditempatnya juga menyala.
Api dari lilin-lilin itu menari-nari yang entah mengapa membuat perasaanku sangat tidak enak.
“KAAAAAAAKKKKKKKKK..AAAKKKKKKK”
Sebuah suara yang mengerikan datang dari arca tanpa kepala didepanku. Suara yang kalau kugambarkan seperti suara yang dikeluarkan seseorang yang dicekik.
Dari leher patung itu yang tidak ada kepalanya, mengalir cairan berwarna hitam.
Aku tidak perlu melihat kelanjutannya karena aku menyambar lilin yang tergeletak di meja dan menyambar tangan temanku yang juga membeku di sampingku.
Aku mengira bahwa dia juga sama ketakutannya seperti aku.
Aku segera berlari bersamanya, tidak peduli rasa terbakar di paru-paruku yang memberontak.
Entah berapa lama aku berlari, tapi aku mulai panik karena aku tidak menemukan jalan keluar dari jalan setapak ini.
Dengan keadaan ketakutan dan panik aku berdoa, memohon kepada Tuhan dengan desperate.
Hingga pada suatu titik, aku bisa melihat cahaya dari kejauhan.
Aku berusaha tidak memperdulikan rasa lelahku dan menarik temanku menuju cahaya itu.
Dan aku bisa melihat areal terbuka yang adalah lapangan tempat kami berkumpul tadi. Aku segera berlari ke arah bukaan semak-semak yang mengelilingi kami.
Wadah lilin temanku terjatuh tepat ketika kami sampai ke ujung semak-semak itu. Aku tidak menunggunya dan hanya berkata “ayo cepat! Tinggalkan saja itu, kita hampir sampai” dan aku meninggalkannya karena dia berusaha memungut lampu lilin itu.
Aku berpikir, tidak apalah toh sudah dekat dengan jalan keluar…
Seketika aku keluar dari semak-semak itu, seorang Pembina melihatku. Dia sedang memegang senter bersama dengan beberapa senior dan Pembina lainnya.
Dia berteriak “Itu Dia!!!! Ketemu!!!” seru Pembina itu sambil berlari ke arahku.
Dalam sekejap banyak orang mengelilingiku. Beberapa menyelimutiku dengan jaketnya karena melihatku menggigil.
Salah seorang Pembina itu bertanya padaku “Kamu dari mana saja? Bagaimana mungkin kamu bisa tersesat?”
Aku keheranan dan menanyakannya aku hanya mengikuti jalur yang sesuai dengan jurit malam itu.
Pembina itu juga berkata lagi “tidak mungkin, kau tau jam berapa ini? Sekarang jam 2 pagi, sudah 5 jam kami mencari-cari kamu karena kamu tidak kembali juga setelah semua kelompok lain juga sudah kembali”
Aku berkata kalau aku tidak tau, dan sepanjang perjalanan aku juga bersama teman pasanganku mengikuti cahaya lilin di depan kami.
Pembina itu melihatku dengan heran “dengan (nama teman pasanganku-aku lupa namanya)? kamu meninggalkannya setelah pos ke empat” katanya “dia kembali dan terus bersama kami dari tadi, katanya dia baru meleng sebentar tau-tau kamu menghilang sendirian”
“Aku hanya mengambil lilin dari penjaga pos empat kok” bantahku ketika mendengar aku meninggalkannya sendirian.
Pembina itu mengerenyit “tidak ada yang menjaga pos, semua pos bentuknya seperti pos 1 – 3 kok, Cuma bangku kecil dengan bendera yang diikatkan pada tongkat pramuka”
Setelah itu pikiranku seakan kosong dan darah seperti berhenti dari badanku deh… sepertinya aku pingsan, entahlah.. aku tidak ingat lagi…
Yah, kau tau diary? Waktu itu aku benar-benar serasa mau mengompol mendengarnya
Aku tidak tau apa yang terjadi waktu itu padaku, dan baru padamu saja aku menceritakan hal ini..
disini yang baca kayaknya banyak tapi sepi juga ya
baiklah saya lanjutkan nanti kalau sudah ada yang komen lagi,
See you later agan-agan.
Spoiler for Part VIII:
11 Januari 2011
Iya, aku tau, kita lanjutkan cerita kemarin yaa….
… aku melihat ke sisi satunya dan melihat hal yang sama, sepasang kaki putih kebiruan yang menjuntai turun di ranting pohon. Seakan seseorang sedang duduk diatasnya.
…Aku menggenggam tangan pasanganku dan berjalan lebih cepat lagi.
Aku mendengar suara dari belakangku, suara “krsssk..krsssk” suara yang kupikir seperti suara seseorang sedang berusaha turun dari atas pohon.
Awalnya aku hanya mendengar dua suara, hingga semakin banyak, seakan-akan ‘sesuatu’ yang duduk di atas pohon, apapun itu, sedang berusaha turun, dari semua pohon secara bersamaan dengan bunyi “krrsssk..krrsssk” yang semakin bergemuruh.
Aku semakin mempercepat langkahku, temanku juga mengimbangi langkahnya bersama denganku.
Kami terus berjalan dengan cepat, bahkan hampir setengah berlari hingga mencapai pos ke delapan.
Kami tidak berhenti, namun dengan cepat aku menyambar lilin yang ditaruh di meja kecil yang berbentuk seperti altar.
Aku menyalakan lilin ke delapan dengan susah payah karena melakukannya sambil berjalan, Untunglah aku berhasil dan kemudian meletakkan lilin itu kedalam wadah temanku.
Kami terengah-engah, namun aku tidak berhenti karena perasaan diikuti yang masih kurasakan sampai dengan sekarang.
Aku tidak ingat kapan aku sampai di pos ke Sembilan, sebuah rumah petani tua yang dengan lilin yang diletakkan di undakan tangga di depan rumah itu.
Aku menyuruh temanku untuk menunggu sedangkan aku menaiki tangga pendek itu dengan cepat dan mengambil lilin yang tergeletak di sana.
Kurasakan adanya pandangan yang mengarah padaku, aku menengok ke temanku, namun dia sedang melihat sekeliling sambil memeluk badannya yang kedinginan.
Akupun merasa mulai kedinginan sampai aku melakukan kesalahan dengan melihat ke celah pintu yang terbuka sedikit di depanku.
Sepasang mata melihatku dengan tajam..
Sepasang mata yang menatapku tanpa ada emosi..
Aku merasakan keringat dingin mulai mengalir di pipiku, dan jantungku berdebar dengan sangat kencang. Darah mulai tidak mengalir ke wajahku dan aku merasakan adanya rasa ancaman yang membuat perasaanku sangat tidak enak.
Kupaksakan kakiku yang seakan menempel pada lantai kayu untuk bergerak.
Aku melangkah secepat yang kubisa untuk menuruni tangga kayu itu sambil menggenggam erat lilin ke delapan dan sedikit tersandung ketika turun, seakan ada sesuatu yang menghalangi, atau memegang pergelangan kakiku.
Aku tidak memperdulikannya dan segera menyambar tangan temanku, beranjak pergi dari situ.
Kali ini aku menyadari bahwa bulu kudukku berdiri penuh saat ini. Dan instingku merasakan bahwa aku merasa seperti berada di suatu tempat yang membuatku terasa seperti dikurung. Terlepas dari jalanan luas yang terhampar di depan kami dan cahaya lilin yang berada di depanku.
Aku merasa seperti terkucil dan terkurung…
Atau lebih tepatnya..
Terkepung…
Aku tidak peduli hal lainnya selain berusaha menyelesaikan jurit malam ini secepat mungkin. Untungnya temanku juga setuju denganku, karena dia tidak memberikan protes apa-apa selama aku menariknya berlari di sepanjang jalan sampai k epos ke sepuluh.
Pos ke sepuluh berada di pangkal sebuah jembatan batu yang luas yang terbentang diantara kali dengan air yang mengalir deras, dan berbentuk seperti patung dengan lilin-lilin diletakkan di tangannya.
Di seberang pos itu, dengan jarak sekitar 1 kilometer, aku melihat cahaya lilin menyinari sesuatu dengan bentuk yang hampir sama dengan patung pos kesepuluh ini. Kemudian cahaya lilin di depanku itu pergi menjauh, menyusuri jalan selanjutnya.
Pos ke sepuluh dan ke sebelas ada di kedua pangkal jembatan ini rupanya, begitu pikirku saat itu.
Aku berterimakasih untuk itu, setidaknya hanya selangkah lagi sampai ini semua selesai. Aku segera mengambil lilin ke sepuluh dan bergerak menyebrangi jembatan dengan cepat.
Aku kembali tidak sengaja melihat api dari lilin keempat yang berada di dalam wadahku kembali bergoyang-goyang dengan kencang, seakan tertiup oleh angin.
Setelah melihat kaki yang bergoyang dari atas ranting pepohonan, kali ini aku melihat tangan, banyak sekali tangan yang memegang samping jembatan batu itu. Seakan hendak memanjat.
Oke, kali ini aku sudah tidak bisa lagi menahan rasa takutku dan memaksa temanku berlari menyebrangi jembatan itu.
Bunyi kecipak air dan suara derak besi dari pinggiran jembatan berbunyi dengan ramai di belakangku, aku semakin mempercepat lariku.
Aku melihat pos ke sebelas yang berbentuk patung yang berbentuk sama seperti pos sebelumnya hanya kali ini aku baru bisa melihat bentuk patung itu dengan lebih jelas. Patung itu memiliki kesamaan dengan patung di pos ke sepuluh dengan hidung panjang, mata marah dan rambut yang diikat keatas. Namun bedanya, patung pertama berperut buncit, sedangkan patung ini tidak buncit, tapi memiliki dua gigi depan seperti gigi kelinci dengan senyum yang mengerikan.
Aku menyambar lilin yang berada di tangan patung itu. Sesuatu menggenggam pergelangan tanganku namun aku segera menyentakkannya dan berlari (belakangan aku melihat luka di pergelangan tanganku seperti genggaman sebuah tangan dengan jari yang sangat panjang).
Dengan terengah-engah aku melanjutkan perjalanan yang semakin sempit. Pada titik itu, aku benar-benar sudah sangat kehabisan nafas. Maklum saja, kegiatan fisik bukan sesuatu yang menjadi kelebihanku, malahan sebaliknya aku sangat payah dalam hal olahraga atau hal lainnya yang menuntut fisik.
Tapi aku rasa waktu itu rasa takut mengalahkan rasa lelahku…
Tidak jauh didepanku, aku melihat cahaya lilin. Aku berlari menuju cahaya lilin itu sampai mendapati sebuah arca tanpa kepala.
Di depan arca itu terdapat banyak sekali lilin, baik yang terpasang di dalam tempat-tempat lilin maupun yang tergeletak di meja kecil di depannya.
Semua lilin yang terpasang di tempatnya dalam keadaan mati, mungkin karena angin yang berhembus sangat kencang di tempat ini.
Satu-satunya lilin yang menyala adalah lilin yang berada di meja tempat lilin lainnya berserakan.
Lilin yang terletak pada wadah yang sama seperti lilin pada wadah kami.
Seseorang telah meletakkannya disitu, pikirku. Aku mendekati wadah lilin itu dan mendapati sedikit keanehan.
Wadah lilin itu juga memiliki satu lilin dengan bentuk aneh yang mati. Lilin keempat yang juga terdapat pada wadah milikku.
Secara reflek, aku melihat kedalam wadahku sendiri dan mendapati lilin keempat milikku juga mati.
Baru saja aku hendak memikirkan atas keanehan ini ketika lilin keempat milikku tiba-tiba menyala.
Menyala bukan karena tersambar api dari lilin lainnya, melainkan menyala seakan-akan api itu keluar dari dalam lilin itu.
Bersamaan dengan itu, lilin keempat di wadah didepanku juga menyala.
Satu-persatu lilin-lilin yang terletak ditempatnya juga menyala.
Api dari lilin-lilin itu menari-nari yang entah mengapa membuat perasaanku sangat tidak enak.
“KAAAAAAAKKKKKKKKK..AAAKKKKKKK”
Sebuah suara yang mengerikan datang dari arca tanpa kepala didepanku. Suara yang kalau kugambarkan seperti suara yang dikeluarkan seseorang yang dicekik.
Dari leher patung itu yang tidak ada kepalanya, mengalir cairan berwarna hitam.
Aku tidak perlu melihat kelanjutannya karena aku menyambar lilin yang tergeletak di meja dan menyambar tangan temanku yang juga membeku di sampingku.
Aku mengira bahwa dia juga sama ketakutannya seperti aku.
Aku segera berlari bersamanya, tidak peduli rasa terbakar di paru-paruku yang memberontak.
Entah berapa lama aku berlari, tapi aku mulai panik karena aku tidak menemukan jalan keluar dari jalan setapak ini.
Dengan keadaan ketakutan dan panik aku berdoa, memohon kepada Tuhan dengan desperate.
Hingga pada suatu titik, aku bisa melihat cahaya dari kejauhan.
Aku berusaha tidak memperdulikan rasa lelahku dan menarik temanku menuju cahaya itu.
Dan aku bisa melihat areal terbuka yang adalah lapangan tempat kami berkumpul tadi. Aku segera berlari ke arah bukaan semak-semak yang mengelilingi kami.
Wadah lilin temanku terjatuh tepat ketika kami sampai ke ujung semak-semak itu. Aku tidak menunggunya dan hanya berkata “ayo cepat! Tinggalkan saja itu, kita hampir sampai” dan aku meninggalkannya karena dia berusaha memungut lampu lilin itu.
Aku berpikir, tidak apalah toh sudah dekat dengan jalan keluar…
Seketika aku keluar dari semak-semak itu, seorang Pembina melihatku. Dia sedang memegang senter bersama dengan beberapa senior dan Pembina lainnya.
Dia berteriak “Itu Dia!!!! Ketemu!!!” seru Pembina itu sambil berlari ke arahku.
Dalam sekejap banyak orang mengelilingiku. Beberapa menyelimutiku dengan jaketnya karena melihatku menggigil.
Salah seorang Pembina itu bertanya padaku “Kamu dari mana saja? Bagaimana mungkin kamu bisa tersesat?”
Aku keheranan dan menanyakannya aku hanya mengikuti jalur yang sesuai dengan jurit malam itu.
Pembina itu juga berkata lagi “tidak mungkin, kau tau jam berapa ini? Sekarang jam 2 pagi, sudah 5 jam kami mencari-cari kamu karena kamu tidak kembali juga setelah semua kelompok lain juga sudah kembali”
Aku berkata kalau aku tidak tau, dan sepanjang perjalanan aku juga bersama teman pasanganku mengikuti cahaya lilin di depan kami.
Pembina itu melihatku dengan heran “dengan (nama teman pasanganku-aku lupa namanya)? kamu meninggalkannya setelah pos ke empat” katanya “dia kembali dan terus bersama kami dari tadi, katanya dia baru meleng sebentar tau-tau kamu menghilang sendirian”
“Aku hanya mengambil lilin dari penjaga pos empat kok” bantahku ketika mendengar aku meninggalkannya sendirian.
Pembina itu mengerenyit “tidak ada yang menjaga pos, semua pos bentuknya seperti pos 1 – 3 kok, Cuma bangku kecil dengan bendera yang diikatkan pada tongkat pramuka”
Setelah itu pikiranku seakan kosong dan darah seperti berhenti dari badanku deh… sepertinya aku pingsan, entahlah.. aku tidak ingat lagi…
Yah, kau tau diary? Waktu itu aku benar-benar serasa mau mengompol mendengarnya
Aku tidak tau apa yang terjadi waktu itu padaku, dan baru padamu saja aku menceritakan hal ini..
disini yang baca kayaknya banyak tapi sepi juga ya
baiklah saya lanjutkan nanti kalau sudah ada yang komen lagi,
See you later agan-agan.
Diubah oleh ayanokouji 28-06-2016 11:25
pulaukapok dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Kutip
Balas