- Beranda
- Stories from the Heart
I Am (NOT) Your Sister
...
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
464.9K
3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
natashyaa
#1677
A Part 62
Besoknya seperti biasa aku ditinggal terus sama kak Fe ke sekolah, padahal aku udah lebih pagi bangunya, tapi masih aja kalah rajin dengan kak Fe. Tapi, gpplah asalkan kak Fe udah baikan sama aku, itu gak jadi masalah, ok?
***
Di kelas aku bilang ke Rahmi kalau aku disuruh kak Fe buat dateng dan nongkrong sama kak Andrea dan lainya.
“Serius loh Ani? Tapi disana kan ada kak Susi.”
“Iya serius, disana juga kan ada kak Andrea.” Jawabku
“Tapi feelingku gak enak Ni, mendingan jangan deh. Kamu tau sendirikan kak Susi gak suka banget sama kamu.”
“Tenang aja kok, gpp udah lama juga aku gak nangkring sama mereka.”
“Lagian, aku udah janji sama kak Fe.” Tambahku ke Rahmi.
Bel istirahat berbunyi. Setelah merapihkan buku dan alat tulis, aku langsung pergi ke kantin. Aku pergi sendiri, aku ajak Rahmi dia gak mau, dia malu sekaligus takut.
“Halooo kak..” Sapaku ke kakak-kakak disana.
Ekspresi mereka nampak kaget ketika melihatku seolah kedatanganku tidak diharapkan oleh mereka.
“Ani…” kata kak Andrea.
“Eh.. anaknya Burhan ngapain lo kesini?” Kata si Susi kepadaku dengan suara keras. Susi yang tadinya duduk langsung berdiri berhadapan denganku.
“Lo tau gak bokap lo dulu itu alas kakinya bokap gue, HEH?!” Kata dia sambil mainin tanganya kepalaku. Semua orang di kantin perhatiannya tertuju kepadaku dan Susi. Aku hanya bisa menunduk tak bisa melawan.
“Mana Saudara lo itu, mana si Felisha, gak nongol-nongol lagi..!” Kata dia lagi.
“Mana juga si Bram, masih jadian lo ama dia?” Kata dia
“Dasar gak tau diri.”
“Adik kelas kayak lo itu mesti dikasih pelajaran.”
Aku lihat tangan si susi sudah siap-siap melayangkan tanganya ke arah mukaku, dia mau menamparku.
Namun, untung saja kak Andrea segera berdiri dan menangkisnya lalu melerai Susi, menjauhkan Susi dariku. Kondisi berubah jadi ricuh pas kak Andrea menghentikan Susi. Semua orang tetap melihat ke arah kumpulan kami, ada juga yang berlari mendekat untuk sekedar menyaksikan.
“Ani…” Suara kak Dania memanggilku. Aku menghiraukanya karena aku langsung berlari meninggalkan mereka. Sebelum aku pergi aku dengar kak Andrea ngata-ngatain si Susi, tapi entah apa yang dikatakan kak Andrea kepada si Susi ini, soalnya kurang jelas.
Aku sakit hati menahan omongan dan perlakuan si Susi. Benar kata Rahmi, mendingan aku di kelas saja.
***
Bel masuk sudah berbunyi.
Aku duduk di kelas. Omongan Susi masih membekas dihatiku. Aku ingin nangis tapi malu soalnya banyak orang. Kelas masih saja ribut karena guru belum datang.
“Wey.. Kak Fe ada apa?” Aku mendengar suara Reza.
Aku pun melihatnya, aku lihat kak Fe datang ke kelasku bersama temanya yang berkacamata, ah aku tau itu, dia kakak PMR yang ada di UKS yang suka membantuku ketika aku di UKS.
Kelas yang tadinya ribut jadi tenang. Kak Fe dan kakak itu datang menghampiriku.
“Eh.. tadi di kantin ada apa?” Tanya kak Fe.
“Gak ada apa-apa kok kak, biasa aja.” Jawabku kepadanya. Aku gak mau menceritakannya, takut kak Fe marah.
“Lo katanya dilabrak ama Susi?”
Tau darimana dia.
“Ngak kok kak, gak kok. Kata siapa?” Aku mengelak
“Jangan boong lo Ni. kata Erika lo dilabrak.” Kata dia.
Mendengar ucapannya, aku jadi bingung harus bagaimana, dia tau kalau aku dilabrak ama Susi. Aku tadinya gak mau memberitahuakan ini ke Kak Fe soalnya kan awalnya aku disuruh kak Fe buat nyari tau alasan kak Andrea dekat dengan Susi, tapi aku gagal, aku takut kena marah.
“kenapa Ni, bilang aja ama gue, tadi si Susi ngapain lo?” Kata dia.
Dibentak kayak gitu, ya aku tidak tahan lagi. Mataku akhirnya banjir air mata.
“Kak…” lirihku dan langsung memeluk kak Fe.
“Apa lo liat-liat…” Kata kak Fe ke Rahmi yang duduk di sebelahku.
“Iya Ani ada apa?”
Nada suaranya jadi lembut, terus dia mengelus rambutku, mencoba menenangkanku.
“Kak… aku tadi dimarahin Susi, aku dikata-katain Susi, ayah aku, keluarga aku dikata-katain Susi.”
“Ih.. sstt jangan nangis disini lo ah, payah.. kita keluar aja dulu.”
Kak Fe langsung melepaskan pelukanku, lalu dia menarik tanganku dan menuntunku keluar kelas. Di luar kelas, aku dan kak Fe duduk bersebelahan. Dia membiarkanku untuk terus menangis. Kakak PMR itu datang kepadaku dan ngasih tisu miliknya kepadaku.
“Ani.. jangan nangis, malu diliat orang.” Kata kakak PMR itu. Sementara kak Fe diam saja, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.
“Eh Ani kenapa di luar, cepet masuk ke kelas.” Suara ibu guru yang baru saja tiba di depan kelasku. Kak Fe langsung beridiri, aku pun yang udah berhenti menangis masih menyeka sisa air mata yang ada di wajahku.
“Tenang aja Ni, biar gue nanti yang balas.” Bisik kak Fe kepadaku sebelum dia pergi ke kelasnya.
Entahlah, perasaanku lagi tidak menentu lagi. Aku kacau hari ini.
***
Di kelas aku bilang ke Rahmi kalau aku disuruh kak Fe buat dateng dan nongkrong sama kak Andrea dan lainya.
“Serius loh Ani? Tapi disana kan ada kak Susi.”
“Iya serius, disana juga kan ada kak Andrea.” Jawabku
“Tapi feelingku gak enak Ni, mendingan jangan deh. Kamu tau sendirikan kak Susi gak suka banget sama kamu.”
“Tenang aja kok, gpp udah lama juga aku gak nangkring sama mereka.”
“Lagian, aku udah janji sama kak Fe.” Tambahku ke Rahmi.
Bel istirahat berbunyi. Setelah merapihkan buku dan alat tulis, aku langsung pergi ke kantin. Aku pergi sendiri, aku ajak Rahmi dia gak mau, dia malu sekaligus takut.
“Halooo kak..” Sapaku ke kakak-kakak disana.
Ekspresi mereka nampak kaget ketika melihatku seolah kedatanganku tidak diharapkan oleh mereka.
“Ani…” kata kak Andrea.
“Eh.. anaknya Burhan ngapain lo kesini?” Kata si Susi kepadaku dengan suara keras. Susi yang tadinya duduk langsung berdiri berhadapan denganku.
“Lo tau gak bokap lo dulu itu alas kakinya bokap gue, HEH?!” Kata dia sambil mainin tanganya kepalaku. Semua orang di kantin perhatiannya tertuju kepadaku dan Susi. Aku hanya bisa menunduk tak bisa melawan.
“Mana Saudara lo itu, mana si Felisha, gak nongol-nongol lagi..!” Kata dia lagi.
“Mana juga si Bram, masih jadian lo ama dia?” Kata dia
“Dasar gak tau diri.”
“Adik kelas kayak lo itu mesti dikasih pelajaran.”
Aku lihat tangan si susi sudah siap-siap melayangkan tanganya ke arah mukaku, dia mau menamparku.
Namun, untung saja kak Andrea segera berdiri dan menangkisnya lalu melerai Susi, menjauhkan Susi dariku. Kondisi berubah jadi ricuh pas kak Andrea menghentikan Susi. Semua orang tetap melihat ke arah kumpulan kami, ada juga yang berlari mendekat untuk sekedar menyaksikan.
“Ani…” Suara kak Dania memanggilku. Aku menghiraukanya karena aku langsung berlari meninggalkan mereka. Sebelum aku pergi aku dengar kak Andrea ngata-ngatain si Susi, tapi entah apa yang dikatakan kak Andrea kepada si Susi ini, soalnya kurang jelas.
Aku sakit hati menahan omongan dan perlakuan si Susi. Benar kata Rahmi, mendingan aku di kelas saja.
***
Bel masuk sudah berbunyi.
Aku duduk di kelas. Omongan Susi masih membekas dihatiku. Aku ingin nangis tapi malu soalnya banyak orang. Kelas masih saja ribut karena guru belum datang.
“Wey.. Kak Fe ada apa?” Aku mendengar suara Reza.
Aku pun melihatnya, aku lihat kak Fe datang ke kelasku bersama temanya yang berkacamata, ah aku tau itu, dia kakak PMR yang ada di UKS yang suka membantuku ketika aku di UKS.
Kelas yang tadinya ribut jadi tenang. Kak Fe dan kakak itu datang menghampiriku.
“Eh.. tadi di kantin ada apa?” Tanya kak Fe.
“Gak ada apa-apa kok kak, biasa aja.” Jawabku kepadanya. Aku gak mau menceritakannya, takut kak Fe marah.
“Lo katanya dilabrak ama Susi?”
Tau darimana dia.
“Ngak kok kak, gak kok. Kata siapa?” Aku mengelak
“Jangan boong lo Ni. kata Erika lo dilabrak.” Kata dia.
Mendengar ucapannya, aku jadi bingung harus bagaimana, dia tau kalau aku dilabrak ama Susi. Aku tadinya gak mau memberitahuakan ini ke Kak Fe soalnya kan awalnya aku disuruh kak Fe buat nyari tau alasan kak Andrea dekat dengan Susi, tapi aku gagal, aku takut kena marah.
“kenapa Ni, bilang aja ama gue, tadi si Susi ngapain lo?” Kata dia.
Dibentak kayak gitu, ya aku tidak tahan lagi. Mataku akhirnya banjir air mata.
“Kak…” lirihku dan langsung memeluk kak Fe.
“Apa lo liat-liat…” Kata kak Fe ke Rahmi yang duduk di sebelahku.
“Iya Ani ada apa?”
Nada suaranya jadi lembut, terus dia mengelus rambutku, mencoba menenangkanku.
“Kak… aku tadi dimarahin Susi, aku dikata-katain Susi, ayah aku, keluarga aku dikata-katain Susi.”
“Ih.. sstt jangan nangis disini lo ah, payah.. kita keluar aja dulu.”
Kak Fe langsung melepaskan pelukanku, lalu dia menarik tanganku dan menuntunku keluar kelas. Di luar kelas, aku dan kak Fe duduk bersebelahan. Dia membiarkanku untuk terus menangis. Kakak PMR itu datang kepadaku dan ngasih tisu miliknya kepadaku.
“Ani.. jangan nangis, malu diliat orang.” Kata kakak PMR itu. Sementara kak Fe diam saja, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.
“Eh Ani kenapa di luar, cepet masuk ke kelas.” Suara ibu guru yang baru saja tiba di depan kelasku. Kak Fe langsung beridiri, aku pun yang udah berhenti menangis masih menyeka sisa air mata yang ada di wajahku.
“Tenang aja Ni, biar gue nanti yang balas.” Bisik kak Fe kepadaku sebelum dia pergi ke kelasnya.
Entahlah, perasaanku lagi tidak menentu lagi. Aku kacau hari ini.
0
