- Beranda
- Stories from the Heart
HIDUP BERSAMA KAMU?
...
TS
robe16
HIDUP BERSAMA KAMU?

Spoiler for MEDICINE:
Entahlah, cuma mau nulis sebuah cerita fiksiaja di forum tercinta ini...
Bakal seperti apa isi ceritanya?
Liat aja nanti deh sobs
Ok, first page dan first post adalah INDEX!!
Quote:
_________________
btw, kok kayanya lo pada seneng banget sih ngeliat ada INDEX??

Diubah oleh robe16 04-07-2016 11:41
anasabila memberi reputasi
1
74.7K
453
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
bijikude
#151
TROUBLE MAKER
******
******
Hari itu, langit menguntai jutaan titik air yang bergemerisik riuh di pelataran jalan. Udara dingin menyeruak liar. Merengkuh erat bahu ku yang tengah menikmati secangkir kopi hangat sambil bersedekap di teras rumah, membuang pandang ke pelataran. Menembus riak hujan yang terus saja berdenting di antara rerumputan taman.
Diantara titik – titik air itu, seraut wajah remaja terbayang. Senyumnya yang ranum, lekuk bibirnya mengulum. Nayla, wajah remaja yang tengah ku rajut bayangannya di tengah hujan malam itu. Tatap matanya yang meruntuhkan dinding keangkuhan yang ku bangun dengan susah payah.
Ada apa dengan dia? Begitu mudahnya Nayla menaklukan ku. Walaupun aku mengerti jika Nayla melakukan itu tanpa sadar. Tapi itulah yang membuatku tergila – gila padanya. Aku menyukai caranya mendapatkan cinta. Nayla berbeda dari gadis lain yang terang – terangan mengemis cinta padaku. Nayla tidak seperti itu.
Tapi rasa benderang itu menjadi suram dalam sejenak ketika aku mengingat momen pernikahannya. Aku menyingkirkan kilasan cerita itu dari dalam kepalaku. Aku bersedekap dan diam, merenung di antara hujan – hujan yang masih menguntai di pelataran taman. Memikirkan seribu rencana untuk mendapatkan hati Nayla.
Aku mengetahui dengan jelas kejanggalan itu. Sorot mata Nayla dan Suami nya itu seakan berkata jelas, bahwa tidak ada cinta diantara mereka. Sebuah ikatan yang rapuh, yang bisa hancur dengan mudah hanya dengan sedikit bencana. Bencana yang akan membuka jalanku mendapatkan Nayla.
Aku menghirup dalam asap tembakau yang terselip diantara jemari, dan mengembuskannya jauh – jauh. aku tak bisa berdiam diri menunggu bencana itu datang menghampiri mereka. Itu terlalu memakan banyak waktu, dengan situasi hubungan diantara mereka yang baru menghangat seperti ini. Daripada menunggu bencana itu datang, aku lebih terpikir untuk membuat konflik itu sendiri.
Aku mulai merenung dan menyusun rencana. Sebuah kegilaan dibalik sisi lain pribadiku mulai bergeliat liar. Aku membuka segel monster yang bersembunyi di belakang sifat pendiamku. Monster kegilaan yang masih menjadi satu bagian dengan diriku yang lain. dan kegilaan itu yang sekarang tengah menguasaiku, membuat berbagai rencana untuk mendapatkan cinta Nayla.
Lama kemudian, setelah berbatang – batang rokok habis menjadi abu, dan tetes kopi mengering di dalam cangkir, rencana mulai tersusun rapi. Aku mulai menjalankan satu bagian dari seribu jalan pikiran yang sedari tadi ku renungkan. Jemari tanganku mengeluarkan ponsel yang bersembunyi di balik saku, dan mengetik beberapa baris kata – kata cinta dan mengirimkannya sebagai pesan singkat ke nomor ponsel Nayla.
Tanpa ku sadari, langit temaram sudah ganti benderang di luar sana. Bunyi cericit riang burung – burung gereja melantun di antara dahan – dahan akasia di taman depan. Aku menggeliat, mengendurkan tubuh yang semalaman berdiam kaku di kursi teras. Udara dingin masih menyisakan jejak hujan diantara rerumputan. Merengut kantuk yang tak pernah datang jika aku tengah dirundung risau.
Aku menghirup dalam – dalam wangi rumput basah dikala pagi, dan berbisik lembut kepada diri sendiri ;
Quote:
*****
Siang, masih di hari yang sama. Dengan mengendarai motor besarku, Aku berkunjung ke salah satu kafe milikku. Mengawasi pekerjaan yang dilakukan karyawanku disana. Siang itu, kafe sudah dikunjungi beberapa orang yang ingin menghabiskan waktu atau sekadar membuat janji di tempat ini sambil menikmati kopi dan makanan ringan.
Setelah berkeliling memeriksa keadaan kafe, aku melangkah memasuki ruangan ku di bagian lain sudut kafe. Memeriksa beberapa berkas pengelolaan. Setelah dirasa cukup, aku bangun dari kursi kerja dan berniat keluar ruangan, memanggil beberapa orang karyawan untuk menyampaikan laporan kerja.
Ketika pintu ruanganku baru terbuka separuh, betapa terperanjatnya aku, mendapati Rio, lelaki yang dinikahi Nayla beberapa hari lalu tengah duduk di salah satu meja kafe ini sambil bercengkerama mesra bersama seorang gadis cantik yang tak ku kenal.
Tangan lelaki itu membelai lembut puncak kepala sang wanita. Bibirnya menyunggingkan senyum menjijikan. Matanya liar menikmati setiap bagian terbuka dari sang wanita.
Aku tersenyum penuh kemenangan. Satu bagian rencana melintas begitu rupa di dalam kepalaku. Dalam hening, aku mencari kamera saku dari dalam buffet meja kerjaku. Dalam diam dibalik celah pintu ruangan, aku mengambil frame demi frame foto antara Rio dan wanita cantik itu tengah bermesraan.
Setelah dirasa cukup, aku menutup celah pintu dan kembali duduk di meja kerjaku. Kemudian, ku hubungkan kamera saku tadi dengan komputer, dan mulai ku cetak satu demi satu foto bajingan itu. Ketika printer masih memproses cetakan, ponselku berdering. Sebuah pesan singkat dari Nayla.
Quote:
Senyum ku terkulum membaca isi pesan dari Nayla itu. Sejenak ku abaikan niat untuk membalas pesan singkat dari Nayla, sebab pikiranku tengah merangkai rencana. Kemudian, aku mulai mengetikkan kata – kata balasannya.
Quote:
Aku mengirim pesan tersebut, Sambil berkata lirih dalam hati. Bersorak sunyi merayakan kemenangan.
Quote:
*****
Senin pagi, beberapa hari kemudian. Aku berada di sudut jalan sebuah perumahan. Memperhatikan situasi di sekelilingnya. Mengamati dari jauh sembari bersembunyi, rumah yang di tinggali Nayla dan Rio.
Ketika situasi masih sama hening, tiba – tiba garasi rumah itu terbuka. Suara motor meraung dari dalamnya, dan kemudian melesat keluar dan menjauh di jalan hingga tak nampak lagi. Rio sudah pergi bekerja, dan Nayla masih di dalam rumah, sesuai dengan yang ku rencanakan.
Aku mendekati rumah itu perlahan. Mengeluarkan sebuah kotak hadiah, dan meletakkannya di bawah pintu. Tanganku menekan bel beberapa kali, kemudian aku berlari sembunyi.
Dari balik persembunyian, aku menatap dingin ke arah daun pintu yang mulai membuka, mengeluarkan sesosok Nayla dari dalamnya.
Nampak wajahnya yang cantik itu nampak terheran ketika meraih kotak hadiah tanpa nama pengirim tertera, yang tergeletak di depan pintu rumahnya. Setelah memeriksanya sebentar, Nayla membawanya masuk ke dalam dan menutup pintu rumahnya.
DONE
Dari balik tempatku bersembunyi, aku tersenyum penuh kemenangan. Aku berlalu dari sana dengan sebuah pengharapan. Satu bagian kecil dari rencana sudah berjalan.
Satu bagian dari rencana untuk mendapatkan Nayla usai dilaksanakan. Kado itu, kotak hadiah itu, sebuah kotak kecil berisikan setumpuk foto suaminya, Rio yang tengah bermesraan dengan wanita cantik.
Sebuah kotak pemicu konflik, pemicu bencana di rumah tangga mereka yang baru beberapa hari dijalaninya. Sebuah kotak hadiah yang akan menjadi Pandora untuk mereka berdua.
*****
Diubah oleh bijikude 25-06-2016 17:36
0
