- Beranda
- Stories from the Heart
HIDUP BERSAMA KAMU?
...
TS
robe16
HIDUP BERSAMA KAMU?

Spoiler for MEDICINE:
Entahlah, cuma mau nulis sebuah cerita fiksiaja di forum tercinta ini...
Bakal seperti apa isi ceritanya?
Liat aja nanti deh sobs
Ok, first page dan first post adalah INDEX!!
Quote:
_________________
btw, kok kayanya lo pada seneng banget sih ngeliat ada INDEX??

Diubah oleh robe16 04-07-2016 11:41
anasabila memberi reputasi
1
74.7K
453
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
senjaungubiru
#137
AKU SAYANG KAMU, A...
Kamis, sore hari..
Quote:
Aku gak bisa jawab apa2. Aku masih kaget dengan isi WA Julian.
Kenapa jadi seperti ini? Kenapa Julian harus kirim WA seperti ini sekarang? Kenapa baru sekarang..
Mungkin karena melihatku diam saja, akhirnya kamu beranjak keluar kamar.
Aku tersadar dan berusaha mengejarmu keluar.
Quote:
‘Bisa A, aku bisa jelasin. Tapi aku gak tau mau jelasin darimana dan kaya gimana ngejelasinnya..’ ucapku dalam hati.
Kalimat itu tidak bisa tersampaikan. Lidahku terasa kelu. Aku gak bisa ngomong apa2 sekarang.
Kamu bergegas keluar rumah, menstarter motor dan pergi entah kemana. Meninggalkanku sendirian, perasaanku benar2 campur aduk sekarang. Bagaimanalah ini?
Kubaca sekali lagi satu persatu pesan dari Julian dan mataku terpaku di kalimat
“I Really Do Love YOU, Nay....”
“aku sayang kamu, Nayla..”
Tanpa sadar air mataku jatuh membasahi pipi. Kenapa baru sekarang, Yan...?
Aku terisak pelan.
JULIAN ARSY
Eksekutif muda tampan, cerdas dan berkharisma yang tak lain adalah atasanku di kantor. Iya, hanya di kantor dia bertindak sebagai atasan karena di luar itu, kami adalah teman dekat. Sangat dekat malah sampai aku merasa kalau hubungan kami ini lebih dari sekedar teman. Entah Julian merasakan hal yang sama atau tidak.
Aku tidak tau bagaimana perasaan Julian terhadapku karena dia seperti menganggapku teman biasa saja. Memang benar kami sering menghabiskan waktu bersama misalnya mengantarku pulang selepas bekerja atau beberapa kali makan malam bersama. Tapi sifatnya yang pendiam dan raut muka yang hampir selalu datar itu membuatku sulit untuk menebak-nebak.
Awal perkenalan kami saat pertama kali aku bekerja di kantor ini. Desas desus bahwa di kantor ini memiliki atasan yang otoriter dan perfeksionis tidak menggoyahkan semangatku bekerja. Bisa bekerja di kantor ini adalah keinginanku dan posisiku sekarang ini adalah impianku. Tentu aku tidak mau melewatkannya hanya karena memiliki atasan yang juga terkenal dingin, sedingin gunung es. Toh kalo aku bekerja dengan sebaik-baiknya dan benar, masa iya masih kena marah juga? Walaupun pada kenyataannya tetap saja beberapa kali kena marah. Entah karena memang itu salahku atau kesalahan team-ku, tapi aku tetap semangat dan serius bekerja.
Sampai akhirnya, kebetulan kami mendapat project bersama, berkunjung ke salah satu kantor cabang di luar kota untuk kepentingan audit. Selama business trip, aku melihat dia sebagai sosok yang berbeda. Melihat langsung caranya bekerja, pembawaanya saat presentasi dan menyelesaikan masalah mengubah kesanku tentangnya dari yang awalnya takut menjadi kagum. Apalagi saat selesai jam kerja dan kami berjalan-jalan keliling kota, dia benar2 tidak terlihat seperti atasan di kantor yang ku kenal. Menyenangkan.
Sepulangnya dari business trip itu lah, hubungan kami pun ikut berubah seperti yang sudah aku ceritakan. Dan perlahan-lahan aku mulai menyadari kalo aku tidak sekedar kagum padanya. Ada yang berubah! Ada perasaan lain yang lebih tumbuh subur dihatiku. Harapan untuk bisa memiliki dan perasaan ingin dimiliki. Untuk pertama kalinya aku mengakui, aku mencintai Julian... mencintai dalam diam.
Tapi sepertinya dia tidak berubah.
Bahkan saat aku bercerita kalau aku akan dijodohkan oleh keluargaku dengan laki2 yang sama sekali tak kukenal, dia hanya menyimak cerita dan menenangkanku yang terlihat susah payah menahan tangis. Julian.. aku menangis bukan karena akan dijodohkan. Aku menangis karena akhirnya tau kalo kamu memang tidak ada perasaan apapun terhadapku.
Aku berharap saat itu dia tidak hanya menenangkanku, tapi mengucapkan sesuatu yang membuatku yakin untuk melawan rencana orang tuaku. Tapi ternyata tidak! Harapanku sia2 dan aku pun terlalu takut untuk jujur padanya.
Dua bulan kemudian saat aku mengantarkan undangan dan form cuti ke ruangannya, dia terlihat kaget. Entah kaget karena aku mendadak menikah atau kaget karena aku mendadak minta cuti justru disaat pekerjaan kantor sedang banyak2nya.
Aku juga memintanya untuk hadir di pernikahanku. Ingin melihat raut mukanya saat aku bersanding di pelaminan. Ingin memastikan apa sorot matanya terlihat baik2 saja, tenang dan datar seperti biasa. Dan memang dia terlihat seperti itu saat menyalamiku dan tersenyum ramah saat bersalaman dengan A’ Rio. Membuatku semakin yakin, dia tidak ada perasaan seperti perasaanku padanya.
Tapi sekarang..
Aku membaca kalimatnya sekali lagi,
I Really Do Love YOU, Nay...
Aku sayang kamu, Nayla...
Apa ini, Yan?
Kenapa kamu baru bilang sekarang di saat aku sudah mulai membuka hati untuk suamiku?
Jujur, rasa sayangku untuk Julian masih sama. Belum berubah. Bagaimana bisa aku begitu saja menghilangkan perasaan yang sudah tertanam begitu lama? Aku masih sayang Julian..
Tapi aku harus realistis. Saat ini statusku adalah istri dari Rio, laki2 yang sama sekali tak kukenal itu lah yang kini menjadi suamiku. Rio pun sama sekali tak mengenalku, tapi dia mau menerimaku menjadi istrinya. Memperlakukanku dengan baik dan berusaha menyenangkanku.
Aku tau, Rio juga pasti belajar untuk membuka hatinya untukku. Aku memang tidak tau bagaimana masa lalu Rio tapi aku tak peduli. Yang kurasakan sekarang adalah Rio laki-laki yang baik dan sedang mengenalku lebih jauh untuk bisa menyayangiku seperti layaknya pasangan suami istri yang menikah tanpa dijodohkan.
Jadi rasanya tidak baik kalo aku malah masih mengingat2 perasaanku di masa lalu terhadap Julian. Ini pasti tidak adil untuk Rio. Aku harus bisa menjaga perasaan suamiku, jangan sampai Rio merasa terganggu dengan masa laluku.
Dan Julian... ah, bagaimana aku harus menjelaskannya? Kamu terlambat, sayang...
Aku tidak boleh terbuai dengan kata2 Julian. Aku harus bisa bersikap biasa lagi terhadapnya. Mengembalikan hubunganku menjadi bawahan dan atasan seperti semula. Aku istri Rio sekarang dan aku mencintainya. Mencintai Rio? Secepat itu? Entahlah.. aku juga sebenarnya masih belum tau secara pasti perasaanku ke Rio. Tapi aku sudah berjanji untuk menjadi istri yang baik untuknya dan belajar menyayanginya.
Aku mulai mengetik, membalas pesan Julian.
“Maaf Pak, baru balas. Senin besok saya sudah masuk kantor. Terima kasih.” Send
Ku balas sesingkat dan seformal mungkin. Berharap Julian menyadari perubahan bahasaku dan bisa mengingatkan hubungan kita yang harus kembali sebagai atasan dan bawahan tanpa embel2 apapun.
Azan magrib terdengar. Dan kamu masih belum pulang.
Aku menghela nafas panjang. Kamu kemana A...?
Selepas magrib, aku menyiapkan makan malam walaupun kamu belum tau kapan kamu pulang.
Tak lama berselang, kudengar suara motormu memasuki halaman. Bagaimana ini? Aku belum pernah melihatmu seperti ini dan tidak tau bagaimana mengatasinya.
Kamu masuk dan langsung duduk menyender di sofa panjang ruang tengah. Aku melihatmu dari dapur dengan perasaan takut-takut. Kubuatkan saja kopi hitam kesukaanmu. Satu sendok kopi dan setengah sendok gula. Dengan gugup kuantarkan kopi itu ke kamu.
Quote:
Selama kamu mandi, aku menyiapkan baju gantimu dan kusimpan di tempat tidur. Dan kembali menata meja untuk makan malam. Aku sengaja tidak bertanya kamu darimana dan kenapa seperti ini. Biarlah, akan ada waktunya sendiri dan yang jelas itu bukan sekarang.
Selepas mandi dan kita makan malam, suasana masih terasa canggung. Lebih canggung daripada saat hari pertama kita menikah. Kamu pun hanya berbicara seperlunya saja. Setelah makan dan merokok sebentar, kamu langsung masuk kamar. Aku masih membereskan bekas makan kita tadi dan membersihkannya.
Setelah semua selesai dan kembali rapi, aku menyusulmu ke kamar. Tampak kamu sedang tiduran sambil menonton TV yang ada di kamar kita. Aku rebahan disampingmu dan memberanikan diri memelukmu dari samping, bersandar di dadamu. Kamu tidak menolak malah mempermudah posisiku dengan merentangkan tangan kirimu di belakang kepalaku dan memelukku sehingga aku lebih nyaman bersandar.
Quote:
Hhhhh...apa aku baru saja bohong sama suamiku sendiri? Tapi memang aku benar2 gak ada hubungan apa2 sama Julian, kan? Aku juga benar2 kaget saat membaca pesan dari Julian tadi sore.
Biarlah A Rio gak perlu tau tentang perasaanku ke Julian. Toh itu semua udah gak penting. Pernyataan dari Julian juga udah gak ada artinya lagi sekarang. Percuma! Saat masuk kantor nanti, aku harus segera mengingatkan Julian supaya dia jangan seperti ini lagi.
Aku menengadah, menatapmu dan menciummu dengan kelembutan.
“Aku sayang kamu, A...”ucapku, tersenyum.
Lalu menyandarkan kembali kepalaku di dadamu, menyembunyikan pipi yang kurasa sekarang berubah warna menjadi merah. Ini pertama kalinya aku mengatakan kalimat itu ke kamu.
Kamu mengusap kepalaku dan mencium rambutku pelan.
Hhhh...apa kamu tau A? Ciuman dan kalimat itu bukan semata-mata untuk kamu. Tapi juga untuk meyakinkan diriku sendiri karena ucapan tadi bisa jadi semacam sugesti untukku, supaya aku benar2 sayang sama kamu.
0
