- Beranda
- Stories from the Heart
I Am (NOT) Your Sister
...
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
465.5K
3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
natashyaa
#1652
A Part 58
Sudah tiga hari ini kak Fe bertingkah aneh. Tiga hari ini dia mengurung diri di kamar. Kalaupun berpapasan di rumah, dia acuh dan sinis. Sama ibu juga begitu, ibu juga beberapa kali manggil dan ngajak ngobrol dia, tapi kak Fe dingin tak menanggapi. Ada apa ya dengan kak Fe?
***
Biasanya setiap pagi aku pas bangun tidur masih sering melihat kak Fe lagi makan ataupun lagi memasang sepatu. Tapi belakangan ini aku tidak melihatnya. Aku bingung kak Fe sekarang berangkat ke sekolahnya jam berapa ? Masa jam 5, kan masih poek.
Makanan yang dimasakan oleh ibu dan aku pun jadi mubadzir karena tidak pernah dimakan lagi olehnya.
“Ibu kak Fe kenapa?”
“Gak tau Ani, ibu juga gak ngerti. Udah jadi adatnya mungkin begitu.” Keluh ibu kepadaku.
“Biasanya klo gini itu dia lagi marah. Ibu tau itu.”Kata ibu.
“Tapi ibu gak tau, kenapa dia tiba-tiba marah kali ini.?”
“Kamu tau gak ni?”
“Perasaan kemarin-kemarin dia biasa-biasa saja, masih ceria.”
“Aku juga gak tau bu.” Jawabku.
***
Bukan hanya di rumah, di sekolah juga kak Fe bertingkah aneh. Dia tidak pernah keliatan lagi di sekolah. Teman-teman dekatnya pun seperti kak Andrea, menanyakan tentang kak Fe.
“Ni, kakakmu kenapa?”
“Kok dia jarang keliatan akhir-akhir ini?”
Justru seharusnya aku yang bertanya, sebagai teman dekatnya di sekolah mereka pastilah tau dimana dia dan apa yang terjadi. Tapi, memang kak Fe aneh, teman-teman kak Fe sendiri geleng-geleng melihat tingkah kak Fe yang tiba-tiba menghilang diantara kami.
Aha! Akhirnya aku punya ide. Setelah menonton acara memasak di tv. Aku jadi punya pemikiran untuk menulis surat kepada kak Fe, isi suratku itu menanyakan keadaan dirinya, dan kenapa dia marah. Terus lagi aku bilang di surat tersebut klo aku mau buatin kue kesukaan kak Fe sebagai hadiah permintaan maaf klo aku punya salah ke dia. Ide ini aku ceritakan ke ibu dan kata ibu boleh-boleh saja dicoba.
“Eh.. Ni kuenya dikasih besok subuh aja pas dia keluar dari kamarnya.”
“Soalnya ibu penasaran ini anak berangkat sekolahnya jam berapa?”
“Ibu bangun jam 5an dia udah gak ada.” Kata ibu.
Selesai menulis surat, aku menghadap kamar kak Fe.
“Kak fe…”
“Kakak kenapa?”
“Kak maafin aku dong klo aku punya salah.”
“jangan marah lagi.”
Aku tau pasti suaraku gak bakal dijawab ama dia, jadi surat tersebut aku masukan ke sela-sela pintu bawah kamarnya. Orang sedetail kak Fe pasti bakal sadar ada selembaran kertas di lantainya.
Aku pun langsung ke dapur lalu membuat kue blackforest kesukaan kak Fe. Setelah cukup lama menunggu kue itu jadi, aku langsung beres-beres di dapur lalu memasukan kue itu ke kulkas. Setelah itu, aku pun langsung pergi ke kamar untuk tidur.
“Ani…bangun.. ani.”
Rupanya ibu yang membangunkanku. Aku lihat jam rupanya masih jam 4. Karena masih ngantuk, aku menjatuhkan lagi badanku ke kasur.
“Bangun ni.. jangan jadi pemalas.”
“Katanya mau mergokin Felisha.”
Oh iya ya, hari ini kan aku mau ngasih kue ke kak Fe. Mendengar ucapan ibu tadi, aku langsung fit gak ngantuk lagi.
“Nah.. sekarang kita ambil kunci pintu depan.” Kata ibu diam-diam.
“kamu udah bikin kue kan? Cepet bawa.”
Aku pun langsung menuju kulkas dan mengambil kue yang udah aku bikin semalam. Setelah mengambil kulkas, ibu mengajaku untuk sembunyi di balik sofa, biar bisa keliatan juga pas kak Fe turun dari tangga nantinya.
“Krek..” Suara pintu kamar. Ternyata benar, jam segini kak Fe baru keluar kamarnya. Dari sini aku bisa lihat kak Fe dengan anggunya menuruni tangga. Dia berjalan sangat pelan dan takut ketahuan. Kemudian dia langsung ke pintu depan. Kita mengikuti dari belakang, kondisi cahaya memang kurang, tapi kami dari belakang bisa melihat betapa kak Fe frustasinya membuka pintu secara paksa, dia juga rusuh mencari-cari kunci di penyimpanan kunci.
“Hayoloh, mau kemana.” Kata ibu. Kak Fe kaget, aku baru pertama kali melihat ekspresi kak Fe kaget seperti diketauan maling.
“Pantes saja gak ketauan, ternyata jam segini berangkatnya.” Kata ibu.
“Iya, pantes bu.” Kataku mengiyakan.
“Tenang saja Ni, malingnya sudah ketangkep basah ini mah.”
“Hooh”
Gara-gara ini, sepertinya kak Fe tidak suka diperlakukan seperti ini. Ekspresinya kembali jadi kecut.
“Sayang kamu kenapa? Kamu mah seperti biasa dari dulu selalu gini kalau ada apa-apa teh.” Kata ibu mengeluh, ibu menyerah dengan kelakuan kak Fe. Kak Fe hanya diam saja, menoleh ke arah kami pun enggan.
“Salah ibu apa? Maafin ibu atuh kalau ibu banyak salah sama kamu..” Kasihan ibu.
“Maafin aku juga kak, aku tau aku banyak salah sama kakak.” Tambahku sambil menyodorkan kue.
“Kunci pintunya mana, aku mau sekolah!!”
Bukannya luluh, dia malah membentak. Aku dan ibu pun makin heran. Kak Fe sepertinya malah tambah ngambek, dia langsung pergi tergesa-gesa ke kamarnya. Ibu kemudian menyusulnya namun sudah terlambat, pintu kamarnya sudah dikunci lagi.
“Udahlah Ni, kita biarin aja.”
“Ibu udah kesel. Kita bikin pelajaran aja buat dia.”
Waktu berlalu dan matahari mulai terbit, aku pun harus sekolah. Di sekolah aku masih penasaran, jadi pas istirahat aku sengaja ke kelas kak Fe, namun pas aku tanya ke teman-teman di kelasnya kalau hari ini kak Fe gak masuk. Wah, parah ternyata dia memenjarakan diri di kamarnya.
Pas lagi pelajaran terakhir aku dipanggil ke loby. Katanya ada yang mau menemuiku. Aku awalnya deg-degan karena baru pertama kali ada orang yang mau menemuiku di loby. Siapa ya, aku kok jadi takut.
“Loh.. ada ibu?” Aku kaget, rupanya bukan orang asing, tapi ibu sendiri.
“Eh, ni abis pulang sekolah jangan pulang ke rumah. Kita menginap saja di rumah sodara ibu.”
“Tapi aku kan gak siap-siap bu.”
“Udah ibu siapin nih, gak liat ibu bawa koper?”
“Ahahaha, iya, kak Fe ikut?” Tanyaku.
“Halah gak usah pikirin dia mah.”
“Oke deh bu.”
“Yauda cepet kembali ke kelas, belajar yang bener. Ibu tunggu disini.”
Setelah pulang sekolah, aku dan ibu pun pergi ke rumah saudaranya.
***
Biasanya setiap pagi aku pas bangun tidur masih sering melihat kak Fe lagi makan ataupun lagi memasang sepatu. Tapi belakangan ini aku tidak melihatnya. Aku bingung kak Fe sekarang berangkat ke sekolahnya jam berapa ? Masa jam 5, kan masih poek.
Makanan yang dimasakan oleh ibu dan aku pun jadi mubadzir karena tidak pernah dimakan lagi olehnya.
“Ibu kak Fe kenapa?”
“Gak tau Ani, ibu juga gak ngerti. Udah jadi adatnya mungkin begitu.” Keluh ibu kepadaku.
“Biasanya klo gini itu dia lagi marah. Ibu tau itu.”Kata ibu.
“Tapi ibu gak tau, kenapa dia tiba-tiba marah kali ini.?”
“Kamu tau gak ni?”
“Perasaan kemarin-kemarin dia biasa-biasa saja, masih ceria.”
“Aku juga gak tau bu.” Jawabku.
***
Bukan hanya di rumah, di sekolah juga kak Fe bertingkah aneh. Dia tidak pernah keliatan lagi di sekolah. Teman-teman dekatnya pun seperti kak Andrea, menanyakan tentang kak Fe.
“Ni, kakakmu kenapa?”
“Kok dia jarang keliatan akhir-akhir ini?”
Justru seharusnya aku yang bertanya, sebagai teman dekatnya di sekolah mereka pastilah tau dimana dia dan apa yang terjadi. Tapi, memang kak Fe aneh, teman-teman kak Fe sendiri geleng-geleng melihat tingkah kak Fe yang tiba-tiba menghilang diantara kami.
Aha! Akhirnya aku punya ide. Setelah menonton acara memasak di tv. Aku jadi punya pemikiran untuk menulis surat kepada kak Fe, isi suratku itu menanyakan keadaan dirinya, dan kenapa dia marah. Terus lagi aku bilang di surat tersebut klo aku mau buatin kue kesukaan kak Fe sebagai hadiah permintaan maaf klo aku punya salah ke dia. Ide ini aku ceritakan ke ibu dan kata ibu boleh-boleh saja dicoba.
“Eh.. Ni kuenya dikasih besok subuh aja pas dia keluar dari kamarnya.”
“Soalnya ibu penasaran ini anak berangkat sekolahnya jam berapa?”
“Ibu bangun jam 5an dia udah gak ada.” Kata ibu.
Selesai menulis surat, aku menghadap kamar kak Fe.
“Kak fe…”
“Kakak kenapa?”
“Kak maafin aku dong klo aku punya salah.”
“jangan marah lagi.”
Aku tau pasti suaraku gak bakal dijawab ama dia, jadi surat tersebut aku masukan ke sela-sela pintu bawah kamarnya. Orang sedetail kak Fe pasti bakal sadar ada selembaran kertas di lantainya.
Spoiler for replika surat yang ditulis Ani:
Aku pun langsung ke dapur lalu membuat kue blackforest kesukaan kak Fe. Setelah cukup lama menunggu kue itu jadi, aku langsung beres-beres di dapur lalu memasukan kue itu ke kulkas. Setelah itu, aku pun langsung pergi ke kamar untuk tidur.
“Ani…bangun.. ani.”
Rupanya ibu yang membangunkanku. Aku lihat jam rupanya masih jam 4. Karena masih ngantuk, aku menjatuhkan lagi badanku ke kasur.
“Bangun ni.. jangan jadi pemalas.”
“Katanya mau mergokin Felisha.”
Oh iya ya, hari ini kan aku mau ngasih kue ke kak Fe. Mendengar ucapan ibu tadi, aku langsung fit gak ngantuk lagi.
“Nah.. sekarang kita ambil kunci pintu depan.” Kata ibu diam-diam.
“kamu udah bikin kue kan? Cepet bawa.”
Aku pun langsung menuju kulkas dan mengambil kue yang udah aku bikin semalam. Setelah mengambil kulkas, ibu mengajaku untuk sembunyi di balik sofa, biar bisa keliatan juga pas kak Fe turun dari tangga nantinya.
“Krek..” Suara pintu kamar. Ternyata benar, jam segini kak Fe baru keluar kamarnya. Dari sini aku bisa lihat kak Fe dengan anggunya menuruni tangga. Dia berjalan sangat pelan dan takut ketahuan. Kemudian dia langsung ke pintu depan. Kita mengikuti dari belakang, kondisi cahaya memang kurang, tapi kami dari belakang bisa melihat betapa kak Fe frustasinya membuka pintu secara paksa, dia juga rusuh mencari-cari kunci di penyimpanan kunci.
“Hayoloh, mau kemana.” Kata ibu. Kak Fe kaget, aku baru pertama kali melihat ekspresi kak Fe kaget seperti diketauan maling.
“Pantes saja gak ketauan, ternyata jam segini berangkatnya.” Kata ibu.
“Iya, pantes bu.” Kataku mengiyakan.
“Tenang saja Ni, malingnya sudah ketangkep basah ini mah.”
“Hooh”
Gara-gara ini, sepertinya kak Fe tidak suka diperlakukan seperti ini. Ekspresinya kembali jadi kecut.
“Sayang kamu kenapa? Kamu mah seperti biasa dari dulu selalu gini kalau ada apa-apa teh.” Kata ibu mengeluh, ibu menyerah dengan kelakuan kak Fe. Kak Fe hanya diam saja, menoleh ke arah kami pun enggan.
“Salah ibu apa? Maafin ibu atuh kalau ibu banyak salah sama kamu..” Kasihan ibu.
“Maafin aku juga kak, aku tau aku banyak salah sama kakak.” Tambahku sambil menyodorkan kue.
“Kunci pintunya mana, aku mau sekolah!!”
Bukannya luluh, dia malah membentak. Aku dan ibu pun makin heran. Kak Fe sepertinya malah tambah ngambek, dia langsung pergi tergesa-gesa ke kamarnya. Ibu kemudian menyusulnya namun sudah terlambat, pintu kamarnya sudah dikunci lagi.
“Udahlah Ni, kita biarin aja.”
“Ibu udah kesel. Kita bikin pelajaran aja buat dia.”
Waktu berlalu dan matahari mulai terbit, aku pun harus sekolah. Di sekolah aku masih penasaran, jadi pas istirahat aku sengaja ke kelas kak Fe, namun pas aku tanya ke teman-teman di kelasnya kalau hari ini kak Fe gak masuk. Wah, parah ternyata dia memenjarakan diri di kamarnya.
Pas lagi pelajaran terakhir aku dipanggil ke loby. Katanya ada yang mau menemuiku. Aku awalnya deg-degan karena baru pertama kali ada orang yang mau menemuiku di loby. Siapa ya, aku kok jadi takut.
“Loh.. ada ibu?” Aku kaget, rupanya bukan orang asing, tapi ibu sendiri.
“Eh, ni abis pulang sekolah jangan pulang ke rumah. Kita menginap saja di rumah sodara ibu.”
“Tapi aku kan gak siap-siap bu.”
“Udah ibu siapin nih, gak liat ibu bawa koper?”
“Ahahaha, iya, kak Fe ikut?” Tanyaku.
“Halah gak usah pikirin dia mah.”
“Oke deh bu.”
“Yauda cepet kembali ke kelas, belajar yang bener. Ibu tunggu disini.”
Setelah pulang sekolah, aku dan ibu pun pergi ke rumah saudaranya.
0

