Kaskus

News

plonardAvatar border
TS
plonard
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Semua yang saya tulis pada posting #1 sampai posting #10 adalah terjemahan bebas dari artikel Khalid ibn Al-Walid di en.wikipedia.org Oktober 2012. Saya tambahkan juga sedikit daftar istilah untuk membantu Agan-agan yang belum terlalu memahami istilah militer dan geografis di zaman bersangkutan hidup. Jika ada ketikan saya dengan format "[angka]", kode ini adalah nomor footnote atau catatan kaki. Contoh: [1] dan [25].
Semoga bermanfaat.

Khalid ibn Al-Walid


Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.

Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleedkarya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)


Daftar Istilah Penting

Al-Hirah
Kerajaan yang berlokasi di Iraq Modern (Mesopotamia), negara vasal Imperium Persia-Sassanid, dengan mayoritas warga adalah orang Arab dari suku Bani Lakhm.

Arabia
Wilayah yang terbentang dari Syam dan Mesopotamia sampai Jazirah Arab, dihuni oleh mayoritas orang Arab serta minoritas orang Israel, Eropa (Romawi), Persia, dan Ethiopia.

Bizantin
Imperium superpowerlanjutan dari Romawi, sering juga dikenal sebagai Imperium Romawi Timur. Bizantin beribukota di Konstantinopel (Istanbul Modern) dan menjadi satu-satunya penerus Romawi sejak dihancurkannya Imperium Romawi Barat (beribukota di Roma) pada Abad ke-4. Warga negaranya menganggap mereka adalah warga Romawi dan warga negara lain di masa itu pun memanggil mereka sebagai orang-orang Romawi. Di masa Khalid, wilayah kekuasaan mereka membentang dari daerah Balkan di Eropa, sebagian Libya dan Mesir di Eropa, serta Jazirah Turki, Armenia, dan Levant (Syam) di Asia.

Double Envelopment
Sebuah manuver lapangan dalam pertempuran di mana sebuah pasukan berupaya untuk melingkupi musuh sehingga dapat menyerangnya dari segala arah. Biasanya, pertempuran akan dimulai dalam garis pembeda yang jelas antara dua pasukan yang bertempur. Dengan memanfaatkan kondisi maupun penggunaan taktik tertentu, pasukan musuh dapat diserang dari samping dan belakang. Contoh penggunaan taktik ini ada pada Pertempuran Cannae dan Pertempuran Walaja.

Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Kavaleri ringan pasukan Muslim awal, dibangun oleh Khalid ibn Al-Walid dengan tujuan menjadi penyeimbang kelemahan infantri Muslim yang berbaju baja ringan. Gerakannya cepat, menerapkan taktik hit and run, efektif melawan kavaleri berat, dan sering menjadi garda depan pendahulu pasukan utama. Khalid dipecat saat menjabat sebagai komandan garda khusus ini. Penggantinya adalah Dhirar ibn Azwar.

Garnisun
Pasukan yang berkedudukan atau memiliki tempat pertahanan yang tetap, misalnya dalam benteng atau sebuah kota.

Ghassan
Kerajaan yang berlokasi di Syam Selatan, negara vasal Imperium Bizantin. Mayoritas warga negaranya adalah orang Arab beragama Kristen dari suku Bani Ghassan.

Imperium
Sebuah negara yang terdiri atas sekelompok bangsa, memiliki sebuah wilayah geografi yang luas, dipimpin oleh seorang kaisar atau sekelompok elit.

Kavaleri
Secara harfiah berarti pasukan berkuda, namun dalam prakteknya di masa kuno, unta dan gajah juga digunakan. Dalam peperangan modern, pasukan berkendara lapis baja maupun bukan juga termasuk dalam kavaleri. Di masa Khalid, kavaleri Bizantin dan Persia merupakan kavaleri berat, memakai baju besi tebal (termasuk kudanya) dan menutupi hampir seluruh tubuh. Kavaleri Muslim awal merupakan kavaleri ringan, berbaju baja dan bersenjata ringan.

Kekhalifahan
Sebuah sistem pemerintahan berbasis Islam yang menunjukkan kesatuan politik ummat Islam. Sistem ini dapat berupa sistem musyawarah perwakilan ataupun monarki konstitusional, dengan konstitusinya berupa Syariah. Karena dalam kekhalifahan ada kesatuan ummat, kekhalifahan selalu melingkupi banyak bangsa sehingga bisa dikategorikan sebagai bentuk Imperium.

Khalifah
Kepala negara dan pemerintahan sistem negara kekhalifahan, dapat dipilih oleh khalifah sebelumnya, ditunjuk oleh komite terpilih, dipilih langsung oleh rakyat, atau diturunkan pada keluarga khalifah sebelumnya.

Levant
Disebut juga Syam, daerah yang meliputi pantai timur Laut Mediterania, antara Anatolia (Jazirah Turki Modern) dan Mesir. Daerah ini meliputi wilayah-wilayah negara modern: Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina (Otoritas maupun yang dijajah oleh Israel), Siprus, Provinsi Hatay (Turki Tenggara) dan sebagian wilayah Iraq-Jazirah Sinai.

Mesopotamia
Daerah yang meliputi daerah aliran Sungai Tigris dan Eufrat, yaitu wilayah-wilayah modern: Iraq, sedikit daerah timur laut Suriah, sebagian Turki Tenggara, dan sebagian kecil barat daya Iran.

Negara Vasal
Negara yang tunduk kepada entitas politik lain yang lebih besar dan biasanya lebih kuat, tetapi diberi otoritas untuk mengurus negaranya sendiri.

Persia-Sassanid
Imperium superpowerdi Asia Barat pada Abad ke-4 sampai Abad ke-7, juga disebut oleh warga negaranya sendiri sebagai Ērānshahr atau Ērān, berdiri tahun 224 dan diruntuhkan oleh Kekhalifahan Islam pada tahun 651. Saat Khalid hidup, imperium ini menguasai wilayah modern Iran, sebagian Asia Tengah dan barat laut India, serta sebagian pantai timur dan selatan Jazirah Arab.

Romawi
Lihat Bizantin.

Syam
Lihat Levant.


Garis Besar Biografi

Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد‎; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl(Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]

Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.



(bersambung)...
Diubah oleh plonard 16-08-2016 13:52
0
76.5K
287
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
Sejarah & Xenology
KASKUS Official
6.5KThread11.6KAnggota
Tampilkan semua post
plonardAvatar border
TS
plonard
#216
Terjemahan dari bahasa asli, Bahasa Inggris. Ebook dapat diakses di:
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed



Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
(Halaman 4)

Abu Bakr menjawab, “Tidak. Demi Allah! Aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan membebani orang lain dengan bebanku sendiri.”[1]

Dengan demikian, pasukan kecil tersebut berangkat di bawah kepemimpinan Abu Bakr menuju Zhu Qissa, tempat Nu’man menunggunya. Nu’man kelak akan memperoleh ketenaran abadi setelah memenangkan Pertempuran Nihawand di Persia.

Abu Bakr menempatkan Nu’man dan saudaranya untuk memimpin kedua sayap dan pasukan belakang sebagaimana yang telah dilakukannya pada serangan malam. Dari Zhu Qissa, pasukan ini berangkat ke Abraq. Saat itu adalah pekan kedua Agustus (pekan ketiga Jumadil Awwal).

Ketika Pasukan Muslim tiba di Abraq, mereka bertemu pasukan musuh yang ternyata telah berbaris dan siap tempur. Tanpa banyak membuang waktu, Abu Bakr juga membariskan pasukannya dan menyerang pasukan murtad. Semangat pasukan murtad tidak setinggi beberapa malam sebelumnya. Sebagian dari mereka adalah bagian dari pasukan yang mengalami kekalahan di Zhu Qissa dan seperti biasa, kedatangan mereka memberi efek psikologi yang buruk bagi rekan-rekan lainnya. Dalam waktu yang agak lama, pasukan murtad yang berjumlah lebih banyak, menahan serangan Muslim, tetapi kemudian mereka mundur dan melarikan diri. Abu Bakr kembali memperoleh kemenangan.

Sisa pasukan murtad yang melarikan diri dari Abraq beserta sejumlah klan lainnya di daerah tersebut mundur ke Buzakha, tempat Thulayhah Sang Nabi Palsu berdiam setelah berangkat dari Samirah. Sejumlah suku lain di sekitar Abraq juga masuk Islam setelah Abu Bakr mengirim beberapa pasukan ke kampung-kampung mereka. Sekarang, zakat yang dikumpulkan bertambah, bahkan ditambah lagi dengan banyak hadiah lainnya dari klan-klan yang bertobat ini.

Keesokan harinya, Khalifah meninggalkan Abraq ke Madinah. Setibanya di Madinah, ia mengisi beberapa hari ke depan dengan urusan-urusan kenegaraan; kemudian ia berangkat ke Zhu Qissa bersama Pasukan Usamah. Pasukan ini sekarang tidak lagi dikomando oleh Usamah karena dia telah menyelesaikan tugasnya. Pasukan ini secara sederhana akan kembali disebut sebagai Tentara Islam yang akan diberdayakan oleh Khalifah kapan pun diperlukan.

Di Zhu Qissa, Abu Bakr mengorganisasi Tentara Islam menjadi beberapa korps untuk menghadapi sejumlah musuh yang telah menguasai hampir seluruh Arab. Untuk pertama kalinya, Tentara Islam dibagi dalam sejumlah korps terpisah, masing-masing dengan komandan sendiri dengan tujuan berbeda. Semua korps bergerak di bawah komando strategis langsung oleh Khalifah. Komandan-komandan Muslim sampai saat itu secara esensial kebanyakan adalah ahli taktik. Kali ini, mereka akan memasuki suatu fase yang tingkatannya lebih tinggi, yaitu dunia strategi; dan mereka akan menguasai bidang tersebut dengan begitu mudah dan dengan pijakan yang kokoh, membuat dunia di masa itu terkejut.

Di Zhu Qissa, pekan keempat Agustus 632 M (awal Jumadil Akhir 11 H), Abu Bakr merencanakan strategi Perang Riddah. Pertempuran-pertempuran yang baru ia jalani sebelumnya melawan konsentrasi pasukan murtad di Zhu Qissa dan Abraq, pada dasarnya adalah upaya pencegahan untuk menyelamatkan Madinah dan mematahkan niat pasukan murtad lainnya untuk menyerang Madinah. Dengan demikian, Muslimin memiliki waktu untuk bersiap-siap dan menerjunkan pasukan utamanya. Aksi-aksi militer awal ini dapat disebut sebagai spoiling attack; memungkinkan Abu Bakr untuk mengamankan basis militernya sehingga ia bisa menjalani perang besar yang terbentang di depan.

Abu Bakr sangat paham dengan tugas yang harus ia hadapi. Ia harus memerangi beberapa musuh, yaitu Thulayhah Sang Nabi Palsu di Buzakha, Malik bin Nuwayrah di Butah, Musaylimah Sang Penipu di Yamamah. Ia harus mengatasi kemurtadan yang menyebar di pantai timur dan pantai selatan Arab, yaitu daerah Bahrayn, Oman, Mahra, Hadhramawt, dan Yaman. Ada juga kemurtadan di selatan dan timur Makkah. Di utara Arab, Quza’ah bersiap untuk melakukan serangan balasan setelah disapu oleh Pasukan Usamah.

Situasi Muslimin bisa diibaratkan seperti sebuah pulau kecil di lautan kekafiran, sebuah lampu yang bersinar di kegelapan yang membahayakam Kaum Beriman. Abu Bakr tidak hanya harus menjaga agar api lampu ini tidak padam, ia juga harus menghilangkan kegelapan dan menghancurkan sumber kejahatan yang berkumpul serta mengancam dari segala sisi. Dalam aspek jumlah pasukan, kaum murtad jauh lebih unggul daripada Muslimin, tetapi mereka tidak bergerak dalam kesatuan. Kekuatan militer Abu Bakr bertumpu pada prajurit terbaik di masa tersebut yang ada di antara Muslimin. Dan ia memiliki senjata pamungkas, Khalid ibn Al-Walid, Pedang Allah.

Catatan Kaki Halaman 4
[1] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 476.


____________________________________________________________________________
(Halaman 5)

Abu Bakr merencanakan strateginya dengan baik. Ia membagi tentara dalam beberapa korps. Korps terkuat dan pukulan utama yang akan diberikan oleh Pasukan Muslim adalah Korps Khalid. Korps ini akan ditugaskan untuk memerangi pasukan pemberontak paling kuat, untuk “memecahkan kulit kacang yang paling keras”. Korps-korps lainnya ditugaskan di daerah-daerah dengan tingkat bahaya sekunder, memerangi suku-suku murtad yang tidak terlalu mengancam, setelah kekuatan utama musuh dihancurkan. Dua korps akan dijadikan sebagai cadangan untuk memperkuat Korps Khalid atau korps lainnya ketika mereka membutuhkan bantuan. Korps pertama yang berangkat adalah Korps Khalid. Sedangkan keberangkatan korps-korps lainnya bergantung dari hasil operasi Korps Khalid yang akan bertempur melawan musuh terkuat satu demi satu. Rencana Abu Bakr yag pertama adalah membersihkan area di bagian Barat-Tengah Arabia, area paling dekat dengan Madinah. Kemudian, Khalid harus menghentikan pergerakan Malik bin Nuwayrah dan terakhir mengonsentrasikan serangannya pada musuh paling berbahaya, Musaylimah Sang Penipu. Abu Bakr berupaya agar pasukan ini terkonsentrasi, mematahkan pasukan-pasukan utama musuh secara terpisah dan berturut-turut, dari lokasi paling dekat sampai lokasi paling jauh.

Khalifah membentuk 11 korps, masing-masing dengan komandan sendiri.[1] Bendera perang diberikan kepada masing-masing korps. Pasukan yang tersedia didistribusikan ke masing-masing korps ini. Sementara sebagian komandan diberikan misi untuk bergerak secara langsung, sebagian lainnya diberikan misi untuk menunggu sampai mereka diterjunkan nantinya. Komandan-komandan ini juga diinstruksikan untuk merekrut tambahan pasukan di dalam perjalanan menyelesaikan misi mereka. Kesebelas komandan korps dan misi mereka masing-masing adalah sebagai berikut.

1. Khalid: Pertama menghadapi Thulayhah di Buzakha, kemudian Malik bin Nuwayrah di Butah.
2. ‘Ikrimah bin Abi Jahl: Menghadang Musaylimah di Yamamah, tetapi dilarang untuk bertempur sebelum pasukannya mendapat bantuan.
3. ‘Amru bin Al-‘Ash: Suku-suku murtad dari Quza’ah dan Wadi’ah di daerah Tabuk dan Dawmatul Jandal.
4. Syurahbil bin Hasanah: Mengikuti Ikrimah dan menunggu instruksi Khalifah.
5. Khalid bin Sa’id: Menghadapi sejumlah suku-suku murtad di perbatasan Syams.
6. Thurayfah bin Hajiz: Suku-suku murtad dari Hawazin serta Bani Sulaym di timur Madinah dan Makkah.
7. ‘Ala` bin Al-Hadhrami: Kaum Murtad di Bahrayn.
8. Hudzayfah bin Mihshan: Kaum Murtad di Oman.
9. 'Arfajah bin Hartsamah: Kaum Murtad di Mahra.
10. Muhajir bin Abi Umayyah: Kaum Murtad di Yaman, kemudian Suku Kinda di Hadhramawt.
11. Suwayd bin Muqarran: Kaum Murtad di pantai-pantai di utara Yaman.

Segera setelah organisai korps-korps ini selesai, Khalid berangkat, kemudian tidak berapa lama diikuti oleh ‘Ikrimah dan ‘Amr bin Al-‘Ash. Korps-korps lainnya menunggu dan dikirim beberapa minggu, atau bahkan beberapa bulan kemudian. Pengiriman mereka bergantung pada kemajuan operasi Khalid melawan inti kekuatan perlawanan musuh.

Sebelum korps-korps ini meninggalkan Zhu Qissa, utusan-utusan dikirim oleh Abu Bakr ke semua suku murtad sebagai upaya terakhir untuk mendorong mereka kembali menggunakan akal sehat. Utusan-utusan ini diberikan instruksi yang sama. Mereka diperintahkan untuk mengajak suku-suku tersebut untuk kembali masuk Islam sepenuhnya, suku-suku yang menyerah akan diampuni, sedangkan suku-suku yang menentang akan diperangi sampai tidak ada lagi perlawanan, perempuan dan anak-anak mereka akan dijadikan budak. Setiap sebelum melakukan penyerangan pada suatu suku, Pasukan Muslim harus melakukan adzan (panggilan shalat bagi Muslimin) dan jika suku tersebut merespon, mereka akan dianggap telah kembali pada Islam.

Kepada semua komandan pasukan, Khalifah juga memberi instruksi umum di samping misi mereka masing-masing. Instruksi tersebut adalah sebagai berikut.

a. Temuilah suku-suku yang terkait dengan misi kalian.
b. Panggillah mereka dengan adzan.
c. Jika suku tersebut menjawab panggilan adzan, jangan menyerang. Setelah adzan, tanyakanlah kepada suku tersebut untuk mengkonfirmasi ke-Islam-an mereka, termasuk pembayaran zakat mereka. Jika semua hal tersebut jelas dan benar, jangan menyerang.
d. Mereka yang kembali pada Islam, tidak akan diganggu.
e. Mereka yang tidak menyambut seruan adzan atau setelah adzan tidak menyatakan ke-Islam-an mereka, harus diperangi dengan api dan pedang.
f. Semua murtad yang telah membunuh Muslimin, harus dibunuh; mereka yang membakar Muslimin hidup-hidup, harus dibakar hidup-hidup.[2]

Terlihat jelas dari instruksi-instruksi ini bahwa Abu Bakr bukanlah seorang Sahabat (Nabi-pent) yang cengeng dan mudah tunduk pada keadaan. Dia akan membawa Pasukan Islam memerangi kaum murtad.

Catatan Kaki Halaman 5
[1] Istilah “korps” dipakai dalam tulisan ini untuk menunjukkan unit komando taktis yang independen. Istilah ‘korps’ di sini tidaklah memiliki organisasi yang sama dengan istilah ‘korps’ modern yang biasa terdiri dari tiga divisi.
[2] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 482.


--Akhir dari Bab 12--
Diubah oleh plonard 25-06-2016 11:11
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.