Kaskus

Story

kabelrolAvatar border
TS
kabelrol
Pursuit between Death and Life
Pendahuluan

Hidup gue ini seperti teenlit.

Pagi ini, jauh sebelum gue bangun, HP gue dibanjiri ucapan selamat ulang tahun; berikut dari orang yang gue kenal deket, kenal aja, sampe ngga kenal. Gue mesti bersiap bawa baju ganti, temen-temen gue mesti udah siapin juga soal telur, tepung, dan air comberan.

Sebelum cek pesan di HP, gue matiin alarm. Pagi ini pun, gue bangun lima belas menit sebelum alarm nyala. Gue menemukan kunci berlogo oval dan secarik kertas, "Selamat Ulang Tahun, Har!". Lima detik setelah alarm gue nyala, pintu kamar gue diketuk.

"Selamat ulang tahun, Har"

"Makasih, Mah," --pipi gue dikecup di kanan dan di kiri, kemudian didoakan yang baik-baik.

"Papa ngga bisa ngga berangkat tadi jam 3, semoga kamu suka kadonya. Udah siuman, kan, Har? Ayo liat mobilnya ke garasi depan?"

Gue tersenyum sembari menggeleng pelan,

"Nanti aja, Mah, sekalian berangkat sekolah,"

Pun begitu, gue tetap memacu sepeda gunung gue untuk ke sekolah. Gue pikir, meski bukan tujuan kado itu ada, belum saatnya gue bawa mobil itu ke sekolah. Sombong nantinya. Yang gue sebut Mamah nanya berkali-kali soal keputusan itu pas gue matiin mobil habis manasin, sembari ngambil sepeda yang keparkir.

"Iya, Mah. Belum juga dikasih nama, masa udah dibawa-bawa," kata gue cengengesan.

Yang gue sebut Mamah cuma ngunyeng-ngunyengrambut gue. Dan gue pun berlalu. Gue pasang handsfree, lagu "Mengejar Matahari" memang selalu jadi penyemangat gue berangkat ke sekolah. Apalagi, ini hari pertama sejak liburan kenaikan semester. Semester 3, alias semester 1 di kelas 2 SMA ini semacam sesuatu yang gue tunggu-tunggu. Sejak jadi siswa pindahan tahun lalu, waktu-waktu seperti ini yang bakal jadi ajang aktualisasi diri gue, yang jika berhasil, bakal manis untuk dikenang di masa pensiun nanti.

Sekolah yang gue tuju berjarak sekitar 4 kilometer. Gowesan lima belas menit cukup, apalagi bisa lebih cepet kalo ngga ada angkot yang udah sembarangan ngetem, ini baru aja jam 6.05. Gue terlalu semangat teuing emang. Ngga kerasa gue udah kerasan tinggal di kota ini selama setahun belakangan. Gue ngerasa keputusan kepindahan gue ini udah tepat. Ngga ada lagi yang ketinggalan di sana.

Spoiler for dulu:


Rem sepeda berdecit.

"Oi, Har!"

"Weit, Ncop!"

"Pagi banget?"

"Iyalah, mau gerak badan dulu,"

Encop ngangguk, petugas keamanan sekolah itu salah satu sahabat gue paling baik di sekolah ini. Dia orang pertama yang gue kenal dan bantu gue. Gue lari-lari kecil ke ruang kecil di sisi belakang gedung sekolah. Gue buka kunci dan gue salah satu bola basket. Ini salah dua alasan gue seneng dateng pagi-pagi ke sekolah. Memulai hari dengan sepeda dan basket, bikin hari gue lebih cerah. Yah, ini juga yang ngebawa gue dan temen-temen tim lolos seleksi kota. Bulan depan, kompetisi antar kota, untuk lolos di provinsi lantas ditandingkan nasional, akan dimulai. Tiga minggu lagi, waktu sekolah gue akan lebih panjang dua jam, untuk nyiapin olimpiade fisika semester depan. Ya, kan? Hidup gue ini seperti teenlit.

****


"Maaf--"

Jam segini, yang nyapa gue mestilah kalo ngga Mail, ya, Nae. Gue hafal suara mereka, intonasi mereka menyapa, tapi "Maaf--" bukan punya mereka.

"--ruang guru dimana, ya? Nyasar..."

Gue menoleh dan benerlah dia bukan Mail atau Nae, suaranya ngga gue kenal, apalagi wajahnya.

"Anak kelas satu bukannya lagi MOS di (nyebutin suatu lapangan yang biasa dipake untuk penyambutan siswa baru)," sapa gue balik.

"Oh, bukan--" anak ini sering sekali kalimatnya berhenti seperti tercekat. Dia menggeleng-gelengkan rambutnya yang semi merah itu, "--aku kelas 2. pindahan--"

"Oh..," gue membiarkan bola yang memantul seenaknya, gue keluar dari aula, "...masuk dari pintu belakang, ya? dari sini lorong ini, belok kanan, lurus dikit, terus kiri, nanti ada kok plangnya,"

Dia melihat gue sambil mengerinyitkan dahi.

"Kenapa?"

"Eh... barusan aku dari sana... tapi, katanya itu ruang guru SMP...,"

Hmm, gue paham. Berhubung gue mengerti perasaan jadi anak baru yang ngga tau arah di sekolah yang bentuknya perguruan ini, gue mencoba bersimpati,

"Ya, udah, lo tunggu sini dulu, ya. Gue mau balikin bola dulu. Sekalian, deh, gue anterin,"

tanpa nunggu jawaban, gue balik badan dan lari-lari ambil bola. Lima menit kemudian, gue balik dan gue liat anak itu nongkrong di semacam selasar yang ada di sekitar aula.

"Yok?"

"Eh-- kita belum kenalan... Yuri,"

"Har, yok, Yur?"

sambil jalan, di tengah sekolah yang semi-sepi ini, gue mencoba mencairkan suasana.

"Pindahan dari mana, Yur?"

"S******a--"

"Ooh.. ya, ya. Sampe sini dari kapan?"

"Kemarin.. Pas daftar ulang kemaren agak bolak-balik, jadi memang belum hafal-hafal, hehe,"

dan akhirnya, gue sampe juga di ruang guru, kita menuju ke guru yang jadi Wakasek kesiswaan. Gue pun kaget, Si guru itu nyapa Yuri pake bahasa yang dia jadi mata pelajaran yang dia ampu. Yuri pun balas dengan bahasa yang sama. Yuri lebih faseh daripada si guru. Gue jadi curiga, Yuri ini murid pindahan apa guru pindahan emoticon-Ngakak (S)

"Har, kamu anter dia ke kelas, ya,"

"Siap, Bu."

"Oh, ya, nanti istirahat, kamu diminta ngadep ke Bu Sri, ya, Har,"

"Siap, Bu."

dan kita pun keluar ruang guru. Pertanyaan-pertanyaan itu ngga ketahan untuk keluar. Sepanjang gue ke beberapa kota untuk kompetisi, gue semacam punya hipotesis. Ngga ada maksud ofensif untuk SARA. Beda daerah, maka beda suku, maka beda juga bahasa dan dialeknya. Di setiap daerah, mesti ada peranakan dari bangsa (negara) lain, dan ngebawa bahasa aslinya, misalnya Tiongkok. Orang-orang Tiongkok ini, meski ngebaur sama lingkungannya dimana ia menjejak, pastilah masih punya dialek yang kentel. Anehnya, ini ngga berlaku di kota asalnya Yuri ini. Mendok banget dah pokoknya.

"Lu dari S******a atau Jepang sih, Yur?"

Yuri cengengesan.

"Udah setahun, kok. Tapi si Ibu itu pasti baca SMP aku dimana, kan?"

"Iya, sih...,"

"Eh, kelas 11 IPA 2 dimana?"

"Lah, kelas gue, tuh, Yur. Wah..."

"...sekelas kita, berarti. Aku udah takut aja udah ngga ada temennya. Emang jodoh kali yah,"

Nah, Yuri ngga ada mendok-mendok dialek kota asalnya itu. Emang, sih, dia cadel huruf S. (ngga ada hubungannya sik emoticon-Hammer (S))

"Eh, ya, tadi kata ibu itu, ada satu anak pindahan juga, loh,"

Spoiler for disklaimer:


Quote:
Diubah oleh kabelrol 09-07-2016 13:45
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
3.9K
15
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.4KAnggota
Tampilkan semua post
kabelrolAvatar border
TS
kabelrol
#4
jangan lihat mataku
jam setengah tujuh juga belum ada, ada hal yang pengen gue tanyain ke Yuri dari tadi. Tapi, gue semacam nahan diri. Lha, baru kenal. Sehingga, perjalanan pertanyaan-pertanyaan gue jadi basa-basi gitu.

"Udah fasih bahasa Indonesia, Yur?"

"Eh, Har, kalo dipanggil 'Yur', kok, agak rikuh. Panggil 'Uwi', aja, ya," --gue ngangguk-- "yaa, kadang-kadang harus dijelasin ulang sama Papa. Yang susah, sih, waktu petama kali dateng ke Surabaya. Aku, kan, anak baru. Baru dateng ke Indonesia lagi. Ngga kenal siapa-siapa. Jadi lumayan kesulitan waktu di sekolah,"

Uwi tipe yang bikin obrolan berkembang tanpa ditanya oleh lawan bicara. Wangi senyumnya bisa kita aroma, dari kanan sampe kiri ada 3 senti. Panjangnya obrolan itu bikin semakin panjang rasa penasaran gue, tapi gue bukan Uwi. Gue masih nyimpen penasaran itu diantara ragu untuk ditanyain langsung.

Dan akhirnya, panjangnya obrolan Uwi ngalahin jarak antara ruang guru dan dimana kita mesti ambil tempat duduk. Tentu saja, kelas masih sama sekali kosong. Ada, sih, anak OSIS, tapi mereka lagi sibuk dengan acara MOS. Posisi meja di kelas ini 4 ke belakang dan 5 ke samping. Satu meja maksimal diisi dua orang dengan dua kursi. Favorit gue adalah posisi tengah-tengah. Baris ketiga dari depan, di samping jendela. Kebetulan sekali, posisi kelas ini bagus. Ketika kita buang pandangan ke luar jendela, disana ada sawah, diantaranya ada rumah berdiri. Tempat yang cocok untuk melamun.

Gue duduk dan Uwi semacam berdiri mematung. Kayaknya dia agak rikuh gimana gitu. Gue ngerti. Gue ngerasain itu waktu setahun yang lalu, pas pindah ke kota ini. Tempat asing emang bisa jadi sumber kekhawatiran sendiri,

"Kalo lo mau duduk bareng gue sampe lo kenal sama anak cewek, boleh, Wi,"

Uwi senyum sumringah. Dia kemudian bercerewet lagi. Uwi banyak cerita soal kehidupannya di Surabaya, tanpa gue minta. Tentang dia punya sahabat cewek, namanya Novi, tapi harus pisah karena si Uwi ini ngikut Papa-nya pindah ke kota ini. Gue, sih, manggut-manggut aja. Tapi, karena dia lebih pake bahasa baku, gue jadi agak geli dengernya, sob emoticon-Big Grin Uwi garuk mata sebelah kirinya.

“Har,”

“Apa, Wi?”

“Sebelah mataku ini warnanya apa?”

Nah, ini yang jadi sumber penasaran gue dari tadi.

“Biru,”

Barangkali, itu adalah kata kunci yang membuat layu senyum Uwi di pagi itu, sekaligus menyuburkan muka khawatirnya lagi.

“Duh, jatoh dimana, ya? Duh—Har, mau, ya, bantu aku?”

Gue yang lagi berpangku dagu beringsut mengingat muka Uwi yang udah mau nangis. Apa, ya, barangkali karena gue juga pendatang di kota ini, gue semacam punya dorongan jika sesama perantau punya masalah.

“Kontak lens lu ilang, ya, Wi?”

Uwi ngangguk sambil celingak-celinguk sepanjang koridor yang kita lewatin. Satu-dua anak udah datang. Beberapa nyapa gue sambil ngeliatin Uwi, mungkin nanya siapa dia, tapi berhubung kondisinya ngga enak, gue senyumin aja mereka sembari ngedorong Uwi. Sekolah makin rame seiring gue nangkep bahasa tubuh panic dari Uwi. Uwi gigit bibir bawahnya. Gue liat matanya mulai berkaca-kaca. Mengerti, gue tarik Uwi ke kantin istrinya Encop. Posisi itu kantin ada di pinggir sekolah, juga bukan kantin utama sekolah. Ini tempat tinggal Encop sama keluarganya, yang disulap jadi kantin kecil-kecilan yang ngejual coki-coki dan jajanan kecil. Bakalan sepi di sana. Gue belum ngerti lengkap kondisinya. Tapi, gue pikir Uwi mesti diamanin dulu.

“Wi, duduk, Wi,”

Uwi nurut. Kita duduk di depan kursi panjang yang ada di sana. Gue pandang matanya. Uwi menepis pandangan gue. Dia nunduk. Sekilas tadi, emang bener. Warna mata sebelah kanan sama kirinya beda: sebelah kanan coklat cerah, sebelah kiri biru muda. Tebakan gue dari pola sikapnya Uwi dari tadi, ini adalah aib. Matanya ngga minus tapi pake kontak lens warna coklat muda. Entah ada kejadian apa yang bikin Uwi pengen nutupin heterochromia-nya itu.

Lima belas menit lagi lapangan bakal rame sama upacara. Lima menit lagi bakal ada guru BK yang keliling sekolah, termasuk ke sini, untuk ngecek apa ada bocah yang cabut upacara.

“Har, aku mau pulang aja, Har,”

Gue meneguk ludah. Ya, kali dia mau bolos di hari pertama. Lebih gampang petak umpet sama guru BK dari pada secara jujur lewat meja piket guru sebelum pintu gerbang sekolah bawa tas dan ijin pulang hari gini. Guru piket itu lebih galak daripada guru BK. Kecuali orang tua meninggal atau kita patah tulang terbuka, tuh guru ngga bakal ngasih disposisi buat kita pulang.

“Lo ke UKS aja, Wi,”

Uwi menggeleng. Gue paham sih, heterochromia-nya Uwi Cuma bakal jadi fenomena menarik dari petugas PMR yang jaga, yang bisanya cuma ngolesin minyak kayu putih ke segala jenis penyakit emoticon-Big Grin dan ini akan berakhir gosip. Orang bermata biru aja jarang ditemuin di sini, gimana kalo sebelah-sebelah gini, sob.
Baiklah, gue ada ide. Gue beranjak dari tempat duduk gue.

“Wi, lo tunggu sini, ya. Jangan kemana-mana,”

Sebelum dapet anggukan, gue udah cabut. Setengah lari gue ke arah UKS. Gue ngga tau Nae ada di mana hari gini, jadi gue coba telpon dia. Diangkat, dari suaranya gue tau dia masih di angkot.

“Nae,kek biasa, gue minta plester sama kain kassa dikit, ya,”

Telepon gue tutup, bahkan sebelum dia bilang ‘halo’ dan ‘ya, Har, jatoh lagi lo? Jangan banyak-banyak. Bayar!’ –kalimat-kalimat biasa, atau kalimat setaun sekali kayak ‘selamat ulang taon lo’. Tinggal dua kelas lagi ketika telpon gue tutup untuk sampai ke UKS. Bener tebakan gue. Anak-anak PMR yang sembunyi dari panas-panasan pas upacara udah ada yang sampe. Gue langsung belagak pincang.

“Oit, Nor, gue minta kain kassa sama plester, ya. Gue ambil sendiri di lemari, ya. Gue pasang sendiri. Di WC aja ya. Soalnya luka gue di atas dengkul sih. Oke, makasih, yah. Tadi, gue udah bilang temen lo, si Nae, tuh. Oke, makasih,” –gue cuma ninggalin muka Norma, si anak PMR, yang melongo gue pidato macem gitu. Tapi, yah, emang udah biasa juga sih. Paling dia melongo, lha, si Har udah luka aja baru pertama kali masuk.

Gue berlari lagi menuju tempat Uwi. Uwi masih disana sambil melamun. Matanya kosong.

“Nih, Wi. Pake ini,”

Sama kayak dua orang yang tadi, gue ngga minta respon mereka. Gue tempel kain kasa yang udah gue bentuk persegi, ukuran yang kira-kira bisa nutupin dari alis sampe tulang pipi. Terus gue tempel pake plester. Terus gue tutupin sedikit pake poninya Uwi.

“Beres, yok, ke kelas, atau mau ke lapangan? Sekalian upacara? Atau mau ke kantin? Udah sarapan belon lo?”—maksud gue ke kantin utama sekolah. Hari gini tukang batagor udah mulai jam pelayanan.

Uwi bingung sambil megang-megang perbannya. Terus senyum-senyum,

“Bilang aja, Wi, bintitan lo sembuh besok, atau baru kejedot tiga hari yang lalu, besok kata dokter baru sembuh, atau apalah lo bikin-bikin,”
Uwi diem sambil megang-megang ‘luka’-nya yang baru gue bikin. Gue mulai mencium aroma senyumnya lagi emoticon-Smilie Terus dia muterin badan gue ke arah kelas, kepalanya seleher gue, terus dia naro masing-masing telapak tangannya di masing-masing bahu gue, seakan-akan kita lagi main kereta-keretaan.

“Ayok, Har, kita upacara,”

Ngga sadar, gue ikutan senyum juga.


0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.