- Beranda
- Stories from the Heart
HIDUP BERSAMA KAMU?
...
TS
robe16
HIDUP BERSAMA KAMU?

Spoiler for MEDICINE:
Entahlah, cuma mau nulis sebuah cerita fiksiaja di forum tercinta ini...
Bakal seperti apa isi ceritanya?
Liat aja nanti deh sobs
Ok, first page dan first post adalah INDEX!!
Quote:
_________________
btw, kok kayanya lo pada seneng banget sih ngeliat ada INDEX??

Diubah oleh robe16 04-07-2016 11:41
anasabila memberi reputasi
1
74.7K
453
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
bijikude
#89
THE OTHER MAN
*******************
*******************
Surat undangan pernikahan itu tergeletak dimeja kerja ku.
“NAYLA & RIO”
dua nama yang tertera dengan huruf kapital yang sengaja dicetak besar, seolah mengejek hatiku yang tengah berduka membacanya. Aku tersenyum getir. Nayla menyerahkan undangan pernikahan itu bersama dengan surat pengajuan cuti.
Gadis ini terduduk di kursi seberang meja kerja ku, menunggu respon dariku yang semenjak tadi mematung. Alis matanya menanjak, sorot pandangnya membulat. Tangannya terkepal diantara lipatan pahanya di balik meja.
Quote:
Suara lembut gadis itu menyadarkanku. Alunannya lembut menguar pendengaran, namun menusuk hati. Aku terkesiap. Mengerjapkan mata dan meraih bolpoin di sudut meja, kemudian menuliskan sebaris tanda tangan di lembar pengajuan cuti yang di sodorkan Nayla.
Quote:
Gadis itu membereskan berkas – berkas yang dibawanya dengan tergesa. Kemudian melangkah keluar dari ruangan kerja ku. Sekilas, pandangan matanya Nampak kosong. Tatapan mata orang yang kebingungan, aku tahu.
Sebuah napas panjang ku embuskan. Ku sandarkan tubuh di kursi dan menatap nanar ke langit – langit ruangan. Tanpa sadar, tanganku mengusap dada sebelah kiri. Ada sebentuk rasa sakit disitu. Bukan, bukan sakit jantung, tapi sakit yang lain lagi. Sakit diluar medis namun nyata rasanya. Bentuk kesakitan yang bernama ‘patah hati’.
*****
Aku, Julian Arsy. Seorang eksekutif muda yang bekerja pada sebuah perusahaan multinasional di Jakarta. Dan, Nayla adalah staff bawahan ku. Dan kenyataan yang lebih spesifik lagi, Nayla adalah teman dekatku.
Aku menyukainya. Sifatnya yang riang dan pemalu itu selalu bisa mengukir senyum di wajahku, manakala menatapnya tengah mengerenyitkan dahi mengerjakan tugas kantor. Atau ketika dia maju ke depan melakukan presentasi di hadapan orang – orang. Bentuk wajah dan cara bicaranya yang Nampak mempesona. Aku mengerti itu, aku paham jika aku mulai menyukainya ketika itu.
Berselang kemudian, aku dan Nayla kian menjadi dekat. Beberapa kali aku mengantarnya pulang, beberapa kali dia menemaniku makan malam. Beberapa kali kami menghabiskan waktu bersama. Tapi aku masih belum mengucap cinta padanya. Sebab dimataku, aku ingin membuat Nayla menyukaiku dengan hati, bukan dengan apa yang melekat pada diriku. Aku ingin Nayla menyukaiku sebagai manusia biasa, bukan sebagai atasan dan bawahan rekan kerja.
Perlahan tapi pasti, aku meyakini jika benih – benih cinta mulai menguncup di hati Nayla. Tapi keyakinan itu buyar oleh secarik undangan pernikahan itu. Surat yang menghapus semua imajinasiku tentang kebersamaan dengannya.
*****
Hari itu, pernikahannya berlangsung di salah satu tempat mewah. Aku menyambanginya. Dengan jiwa yang kosong, aku melangkah memasuki lobi dan menuju altar pernikahan Nayla. Ahh… dia disana, berdiri dalam balutan gaun satin berwarna putih. Berdiri anggun menyapa tamu, seperti seorang ratu. Begitu memikat.
Aku menghampiri Nayla, kemudian menyalaminya. Dia tersenyum dalam pandangan kosong. Sebersit keengganan Nampak jelas tercermin di pupil matanya. Aku enggan berlama – lama memandang raut itu. Ku alihkan mataku ke mempelai pria yang bersanding di sebelahnya.
Seorang lelaki yang, ahh… betapa enggan aku menjelaskan detailnya. Hanya satu yang ku perhatikan dari dirinya. RESAH. Gesture tubuh yang sama juga diperlihatkan Nayla. Dua orang ini resah. Kenapa?
Setelah ku salami keduanya, aku menjauh. Menghampiri jamuan di seberang ruangan. Jemariku meraih segelas cocktail dan menyesap isinya. Mataku mengamati sebaris keanehan di altar pernikahan itu. Sikap canggung yang diperlihatkan keduanya, mungkinkah? Jika yang dibicarakan Nayla saat itu, tentang perjodohannya yang mendadak, Mereka belum pernah saling mengenal sebelumnya. Benarkah?
keyakinanku bertambah kuat ketika melihat senyuman kaku terus mengurai di antara mereka. kegugupan yang menyelimuti ketika tiap kali berpandang mata. rasanya, bukan seperti melihat sebuah prosesi pernikahan, melainkan sebuah drama kepura - puraan.
Mataku memicing, senyumku tersudut meruncing. Aku melihat sebuah celah yang mungkin bisa ku gunakan. Tentang momen yang ku tangkap barusan. Ku letakkan gelas cocktail di atas meja, lalu aku melangkah menjauh dari tempat resepsi. Dalam derap langkah yang mengantarku berlalu, hatiku berbisik licik.
Quote:
Di luar tempat resepsi, matahari bersinar garang, segarang raungan suara hati yang enggan melepaskan ikatannya pada hati yang lain. Segarang panasnya sepasang mata yang menatap jengah pada senyum mempelai pria. Angin berdesir lirih, melantunkan sajak alam tentang sebuah egoism yang membutakan jiwa seseorang, dan orang itu adalah aku, Julian Arsy. Lelaki yang selalu berusaha mendapatkan apa yang di inginkannya. seperti serigala yang tak pernah melepaskan buruannya.
*****
Diubah oleh bijikude 24-06-2016 11:48
0
