- Beranda
- Stories from the Heart
HIDUP BERSAMA KAMU?
...
TS
robe16
HIDUP BERSAMA KAMU?

Spoiler for MEDICINE:
Entahlah, cuma mau nulis sebuah cerita fiksiaja di forum tercinta ini...
Bakal seperti apa isi ceritanya?
Liat aja nanti deh sobs
Ok, first page dan first post adalah INDEX!!
Quote:
_________________
btw, kok kayanya lo pada seneng banget sih ngeliat ada INDEX??

Diubah oleh robe16 04-07-2016 11:41
anasabila memberi reputasi
1
74.7K
453
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
senjaungubiru
#68
A LITTLE ABOUT YOU
Bunyi alarm HP membangunkanku dari tidur. Aku meraba-raba meja kecil di samping tempat tidur untuk mengambil tas yang seingatku ku simpan disana. Kuambil HP dari dalam tas dan segera mematikan alarm yang berisik itu. Kupincingkan mata untuk melihat jam yang tertera di layar HP.
04.30 WIB
Rasanya males banget untuk bangun. Badanku terasa lelah dan mata juga masih mengantuk. Tapi kewajiban subuh tetap gak boleh ditinggalkan kan? Kunyalakan lampu tidur yang berada di atas meja tadi dan kupaksakan bangun dengan mata masih setengah terpejam. Kantukku tiba2 hilang saat tersadar di sampingku ada seorang laki2 yang masih tidur menghadapku. Aku tersenyum kecil. Masih belum terbiasa dengan situasi seperti ini. Masih kaget saat bangun tadi sudah ada kamu yang juga tidur bersamaku.
Setelah mandi, kamu masih belum bangun juga. Sudah jam 5 sekarang. Aku belum solat subuh dan kamu juga belum bangun. Ini hari pertama kita jadi suami istri. Aku pengen solat berjamaah sama kamu, A..
Aku duduk di tempat tidur di sampingmu. Bagaimana cara membangunkanmu? Apa kamu suka kalo lagi tidur terus dipaksa bangun? Aku menepuk badanmu pelan, berdehem sedikit.
“A.. bangun.. udah subuh..” kataku pelan.
Kamu gak ada respon. Duh, harus bagaimana ini? Aku jadi grogi sendiri. Kucoba memanggilmu sekali lagi dan kamu masih belum bangun juga. Aku mendekat ke wajahmu. Ini pertama kalinya aku melihatmu dari dekat. Kamu tidur dengan tenang seperti bayi. Polos dan lembut. Aku tersenyum kecil. Kamu ya, semakin dilihat ternyata semakin menarik.
Ku tepuk2 pelan pipimu, semoga kamu gak marah dibangunkan seperti ini.
Quote:
Kamu langsung terlihat kaget kemudian mulai bangun dari tempat tidur. Aku kembali mengingatkanmu untuk segera mandi dan kamu menurut bergegas ke kamar mandi.
Setelah subuh, kita sepakat untuk sarapan di dekat lobi hotel sambil mengobrol2 ringan supaya lebih akrab. Di sela obrolan itu, tiba2 kamu memberi ide untuk check out dan maen ke rumahku. ‘Biar aku kenal mertuaku lebih jauh’begitu alasanmu. Tentu saja aku langsung mengiyakan. Sebenarnya itu yang aku inginkan. Ngapain punya rumah di Bandung tapi nginep aja masih di hotel? Tapi berhubung kamu sudah menyiapkan semuanya, gak enak rasanya kalo aku nolak begitu saja. Dan sekarang kamu malah yang ingin tinggal di rumahku, mengenal keluargaku lebih dekat. Aku merasa senang.
Kita sampai di rumahku dan disambut ramah Mama dan Papa. Aku berniat membantumu memindahkan barang dari mobil tapi kamu menolaknya, malah menyuruhku masuk duluan. Kutunjukkan saja dimana kamarku dan kamu mengikutiku dari belakang. Setelah beres, kamu beranjak ke teras menemani Papa sedangkan aku ke dapur membantu Mama menyiapkan makan siang sambil membuatkanmu minum. Aku baru tau kalo kamu lebih suka kopi daripada teh. Dengan takaran satu sendok kopi dan setengah sendok gula, ini hal pertama yang harus ku hafal tentangmu.
Sambil membantu masak, Mama usil sekali bertanya ini itu yang membuatku malu sendiri. Apalagi kalo bukan aktivitas di hotel semalam? Dan berkali2 aku hanya menjawab, “yaaa gitu lah Maa..” sambil malas2an. Maksudnya supaya Mama menyudahi obrolan aneh ini. Tapi Mama tetap saja bercerita. Malah menyarankan supaya begini begitu biar cepat dapat anak, menganjurkan supaya seperti ini seperti itu, merawat ini itu supaya suami senang.
Quote:
Aku diam saja, gak merespon omongan Mama barusan.
Mmm, semalem itu..udah sampe sakit berdarah gitu..mmm..sukses gak ya A??
-----------------------------------
Kita makan siang berempat. Aku duduk di sebelah kamu berhadapan dengan Mama Papa. Menyendokkan nasi dan lauk sesuai porsi permintaan kamu. Menuangkan air minum untuk kamu sebelum aku mengambil makananku sediri. Siang ini Mama masak semur tempe dan aku juga baru tau kalo kamu favorit banget sama yang namanya tempe. Oke A, aku bakal belajar bikin semur tempe kesukaan kamu..
Selesai makan, kamu mengajakku jalan2 keliling Bandung. Waktu kutanya pengen kemana, kamu jawab, “kemana aja, yang penting sama istri aku yang cantik ini..”membuatku tersipu malu mendengarnya tapi malah mencubit pelan perut kamu ‘gombal kamu mah, A’ jawabku sok cuek dan kamu malah tertawa.
Aku mengajakmu ke CIWALK. Sekalian pengen beli beberapa baju yang aku cari. Kamu sabar menemaniku belanja kesini kesitu. Setelah memilih2 dan akan membayar di kasir, aku sudah mengeluarkan dompetku tapi kamu mencegahnya dan memberikan ATM kamu ke aku. Memintaku untuk mebayar belanjaanku itu pake uang kamu. Mmm, awalnya sungkan sih. Gimana ya? Gak enak aja belanjaan kita dibayarin sama orang lain. Eh, orang lain? Kamu kan bukan orang lain. Kamu suami aku. Ah, aku masih belum terbiasa menyebut suami dan kadang masih gak sadar kalo sudah menjadi istri. Puas keliling ciwalk dan duduk2 sebentar sambil makan es krim dan ngobrol2 di salah satu kursi tamannya, aku mengajakmu makan di salah satu tempat favoritku sebelum pulang. Kamu setuju dan menggandeng tanganku menuju parkiran mobil. Sepanjang jalan2 tadi juga kamu terus menggenggam tanganku erat. Berjalan mengikutiku di belakang saat aku sibuk memilih2, sesekali merangkul pundakku seolah takut aku hilang. Duh, jantungku jadi berdebar-debar aneh. Ada apa ini?
Keesokan harinya...
Kita pamit sama Mama Papa. Awalnya Mama minta supaya kita menghabiskan liburan di Bandung saja, tapi sepertinya kamu juga pengen ke rumah orang tua kamu dulu sebelum akhirnya pulang ke rumah kamu. Eh salah, rumah kita maksudnya. Kamu selalu protes setiap aku keceplosan bilang kalo itu rumah kamu.
Quote:
Besoknya..
Hari sudah sore saat kita sampai di depan sebuah rumah di salah satu komplek perumahan daerah BSD. Aku turun dari mobil dan melihat sekeliling. ‘ini tempat tinggalku sekarang..’batinku.
Rumah konsep minimalis. Seluruhnya bercat putih. Ada taman kecil di depan teras yang terisi dua kursi dan meja kecil. Sebelahnya ada garasi yang didalamnya ada motor juga. Kamu membuka pintu rumah, mempersilakanku masuk duluan. Kuucap salam yang langsung dijawab olehmu dan melangkah masuk ke ruang utama yang panjang sampai perlu kamu sekat dengan lemari kaca yang artistik dan didalamnya banyak jenis mobil2an yang mirip dengan aslinya tapi versi mini. Kamu suka mobil atau yang berbau otomotif gitu kah A? Aku menggangguk2 kecil.
Ruang sekat depan diisi satu set kursi tamu warna hitam dan di sebaliknya -dibalik lemari kaca itu- ada sofa panjang warna coklat, berhadapan dengan TV yang menempel di dinding dan dibawahnya ada rak kayu dua tingkat. Di atas rak itu ada home theater kecil dan di rak2nya tersusun rapi beberapa koleksi film dan lagu favorit kamu. Oooh, kamu juga suka denger musik sama nonton ya A? Aku juga suka...
Aku berjalan ke sebelah kiri ruang TV. Ada dapur dan minibar yang jadi pembatas antara dapur dan ruang TV tadi. Berbaris beberapa botol alkohol di minibar itu. Hmm, kamu suka minum? Sedikit kecewa. Aku gak suka cowok yang minum alkohol, A..
Di samping dapur ada kamar mandi, tempat untuk mencuci dan menjemur pakaian. Mesin cuci dan beberapa ember ada disana. Aku kembali lagi ke ruang TV, bertanya kamar kita dimana karena disana ada dua kamar tidur. Kamu menunjukkan kamarmu.
Aku membuka kamar yang ditunjuk olehmu. Nuansa putih langsung terlihat sampai ke pojok kamar, kecuali korden kamar yang berwarna coklat tua. Lemari, meja, sampai sprei tempat tidur semuanya warna putih. Kamu suka warna putih ya A?
Aku menuju kamar satunya. Lebih kecil dan kosong.
Selesai melihat2 sekeliling rumah, aku duduk disebelahmu di sofa panjang ruang tengah.
Quote:
Eh?? Kamu bisa masak A?
Dan sekarang aku yang duduk di kursi minibar karena kamu gak memperbolehkanku membantu. ‘Besok2 aja bantuinnya. Malah bisa jadi besok2 aku yang males ke dapur..’katamu saat aku berniat membantu.
Aku memperhatikanmu mengiris bawang, mengocok telur dan menggorengnya, mencampur bumbu ini itu dan menumis semuanya. Kamu semakin menarik, A..
Dan sekarang, inilah gala dinner kita di rumah ini. Spageti ala chef Rio..
Kita makan sambil ngobrol banyak hal. Tentang hobi, tentang film, musik, tentang pekerjaan. Kita sama2 baru tau secara detail tentang pekerjaan masing2. Sedikit2 terselip cerita masa kecil dan cerita2 yang lain.
Quote:
0
