- Beranda
- Stories from the Heart
Aku dan Gadis Lugu
...
TS
spv7hqfj
Aku dan Gadis Lugu
SELAMAT DATANG

Cover by Agan Yushito13
Sebelumnya ane minta maaf buat para reader kalo tulisan ane acak acakan. Ane cuma berharap para readers bisa mengambil hikmah dari cerita ane ini.
Jangan lupa baca Sticky Rules SFTH ya gan? ane males kalo harus nulis ulang,
Jangan lupa juga buat ninggalin jejak sekedar ngasih kritik dan saran,
atau nebak2 jalan cerita BANTU RATE YA GAN hehehehe.
KASIH CENDOL JUGA BOLEH

ASALKAN JANGAN ADA BATA DIANTARA KITA GAN

AND THEN, DILARANG OOT

Spoiler for Top Thread:
Spoiler for CHAPTER 1:
Spoiler for CHAPTER 2:
Quote:
Diubah oleh spv7hqfj 22-07-2016 13:16
anasabila memberi reputasi
1
251.5K
902
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
spv7hqfj
#628
Eps. 33 - Selamat datang di Jakarta
"Kamu yakin ntar liburan semester mau ke bekasi?" tanya Dodi.
"Yakin"
"Laaahhh??? emang tau alamatnya Tika?"
Aku berpikir sejenak.
"Arrrggghh bodoh!" teriakku.
"Nah, itu tau kalo kamu bodoh Bi. wkkwkwk
. Dulu waktu si Tika mau pergi kenapa kamu gak minta alamat barunya? kan bisa tuh minta ke mbak nya Tika. siapa namanya aku lupa?"
"Rani" jawabku singkat. sambil memutar-mutar bolpoint PILOT di antara jari-jariku.
"Jangan nekat Bi. kamu belum pernah kesana to? gak ada saudara pula. Bekasi itu pasti luas! gak sekecil sekolah kita"
Aku merenung mendengarkan nasihat Dodi. Yang kuingat mbak rani pernah bilang kepadaku kalau dia kerja di daerag EJIP, Sak*ra J*va kalau tidak salah nama PT nya. Mbak Rani sudah karyawan tetap, kemungkinan besar sampai sekarang dia masih kerja ditempat yang sama.
Lalu, bagaimana caranya aku bisa bertemu mbak Rani??? "Argghhhh" erangku. Otakku menemui jalan buntu.
Aku bodoh? iya. Aku nekat? iya.
Apa yang membuatku bisa menjadi seperti ini? entahlah. Mungkin cinta. mungkin sayang. Lebay? iya, memang. Haha.
-SKIP-
Ujian semester 1 telah usai. Pengambillan rapot juga sudah. Nilaiku??? merosot drastis. Masuk 10 besar saja tidak. bodoh! bodoh! bodoh!
berulang kali aku memarahi diriku sendiri. Kalau esok usahaku sia-sia. Aku pasrah. Aku sudah mantap untuk pergi ke Bekasi.
"Aku ikut Bi"
"Gak usah El, aku bisa sendiri."
"Bekasi itu luas Biiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii, kamu bakalan ilang kalo sendirian."
"gak usah Elissaaaaaaaaaaa, aku bisa sendiri!"
"Bi, dengerin ya. Aku gak mau kamu nekat hanya karena cinta. Jodoh itu sudah ada yang atur Bi. kalo kamu jodoh, Suatu saat nanti kalian pasti ketemu kok." kata Elissa.
Aku diam.
"Bi, kalau kamu nekat ke Bekasi. Aku ikut! aku lebih tau bekasi daripada kamu. Aku gak bakal nyusahin kamu kok Bi." bujuk Elissa.
Aku menatap Elissa. "Thanks El" kataku.
Senyumnya menyungging di bibirnya seolah membalas ucapan terima kasihku padanya.
"Yaudah siap-siap. Nanti sore kita berangkat OK?" kata Elissa bersemangat.
-SKIP-
WELCOME TO JEKARDAAAAAAHHH!!!!!!
Satu kata untuk Jakarta. MACET!!!!
"Kita langsung ke Bekasi El?" tanyaku.
"Hmmm bego banget sih jam segini mau ke Bekasi, kita istirahat dulu dirumahku ok?"
Suara klakson taksi dan teriakan pedagang yang menjajakan dagangannya saling bersahutan memenuhi telingaku. Menambah gerah badanku yang sedang berdiri di depan stasiun Gambir. Seakan dinginnya malam tak terasa dikulitku.
"Nah, itu dateng" kata Elissa saat sebuah sedan berwarana merah berhenti di didepan kami.
"masuk yuk." ajak Elissa.
-Selama Perjalanan-
"Wowww ini toh yang namanya Monas." kataku saat pertama kali melihatnya. Norak ya? wkwk iya.
""kwkwkwk, biasa aja dong bi liatnya, sampe nganga gitu mulut kamu." ejek Elissa.
"hehehe.."
“Non Elissa, kita kerumah Bunda nya Non atau Ayah Non Elissa?” tanya Supir tiba-tiba.
“Rumah ayah aja Pak.” Jawab Elissa sambil mengotak atik Hp nya. BB Bold warna hitam.
-SKIP-
Akhirnya kami sampai dirumah Elissa. Cukup luas dan besar. Rumahku kalah deh kalau dibanding-bandingkan. Dengan alasan ‘takut’ Elissa menyuruhku menemaninya tidur dikamar bersamanya. Tetapi aku menolak ‘mentah-mentah’. Bukannya munafik ya atau aku tidak normal. Dan akhirnya aku tidur dikamar tamu.
Sebuah jam dinding tua yang berada di ruang keluarga menarik perhatianku. Bandul jam yang bergerak kekiri dan kekanan menarik mataku untuk mengikuti gerak geriknya.
“tuk..tuk...tuk” kira-kira seperti itu bunyinya.
“Nyeremin juga rumah kamu El” kataku sambil mengusap-usap lengan kananku yang bulu halusnya berdiri karena hawa tidak mengenakkan.
“Wkwkwk nyeremin? Emang. Makanya ayo tidur dikamarku aja bi sama aku.” Bujuk Elissa lagi.
“Gak!!” jawabku.
“Dihhh biasa aja dong jawabnya.”
“ya kamu sih dari tadi maksa mulu.” Jawabku manyun.
“yaaaaaudah, aku tinggal ya.”
Elissa berjalan keluar kamar yang akan menjadi tempat untukku tidur.
Brakkk!! Suara pintu tertutup.
“Memang gak bisa pelan ya si Elissa kalo nutup pintu.” Batinku.
-SKIP-
Pagi ini aku dan Elisssa berangkat bekasi menggunakan mobil miliknya. Mencari Tika, tanpa ada petunjuk yang berarti. Hanya tempat kerja mbak Rani saja yang kutahu. Yang bisa sedikit membantuku menemukan Tika.
“El, masih lama ya nyampenya?” tanyaku pada Elissa yang sedang berkonsentrasi penuh saat menyetir.
“Bi, sabar dikit napa? Macet nih.” Jawabnya tak kalah emosi padaku.
Satu kata untuk Jakarta. WOW!!!!
Wow macetnya. Kami stuck di Tol Dalam kota. Menjelang sampai di patung yang kata Elissa bernama patung pancoran, kemacetan sedikit mereda.
“Ohhh,, ini toh patungnya.” Kataku kagum. Melihat patung besar dari balik kaca mobil.
“wkwkwk dasar orang desa!” ledek Elissa.
-SKIP-
“Ini bukan ya?” tanya Elissa saat kami melihat papan penunjuk gerbang keluar tol ‘Lemah abang, Cikarang, kawasan Industri.”
“iya kayaknya.”jawabku sekenanya.
Akhirnya kami keluar tol. Dan sampailah kami disebuah daerah yang disebut Cikarang. Panas? Banget. Truk? Banyak. Macet? Parah. Wajar saja disini adalah kawasan industri, banyak sekali pabrik bertebaran. Dan pastinya perantauanya beraneka ragam.
“El, yakin belok kiri? Tadi kata Ibu-ibu penjaga Tol kita harus belok kanan lho.” Tanyaku ke Elissa.
“ssstt udah ikutin aku aja. Muka si ibu tadi meragukan. Kayak muka kamu wkwkwk.” Ledek Elissa.
“Jiahhh,... awas aja ya kalo nyasar kamu tanggung jawab.” Ancamku padanya yang sedang melihat kanan dan kiri jalan sambil menyetir.
“iya bawel iya!” jawab Elissa.
Akhirnya kami sampai disebuah kawasan industri. JABABEKA
“Ini pasti tempatnya, “ kata Elissa mantap.
Kalian tau apa yang terjadi selanjutnya? Kami berdua muter-muter kesana kemari mengelilingi dan mengubek-ubek dari ujung ke ujung. Tak kamu temukan pabrik yang kami maksud. Wkwkwkw
“bodoh ah, muter-muter gak ada hasil. Wkwkwk jangkrik banget!” erangku.
Elissa tidak menanggapi keluhanku.
“El, aus nih.”
Akhirnya kami menepi sejenak di tempat penjual Es dawet hitam pinggir jalan. Lucunya, kami berlomba meminum sebanyak banyaknya.
“El, gak kuat. Udah 3 gelas kenyang banget nih.” Kataku sambil menaruh gelas yang masih berisi ¼
“appjjj..auuupp.pppjjjg” jawab Elissa sambil menenggak habis minuman tersebut. Gilak!!! Sungguh tidak menunjukkan keseksian wanita. Elissa minum dengan gaya seperti habis nyangkul sawah 5 hektar.
“Yes, aku menang. Pulangnya kamu harus pijitin kakiku ok?” kata Elissa.
Aku pasrah. Karena perjanjian awal yang kalah harus pijitin yang menang. Huhuhu.
Lanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan aku tak henti-hentinya mengatakan bodoh ke Elissa. Bagaimana tidak? Saat aku tanya ke Penjual dawet tentang letak PT yang kumaksud, penjual tersebut menujuk arah yang sama dengan apa yang dikatakan penjaga gerbang Tol. Elissa malah tertawa terpingkal-pingkal mendengar ocehanku. Mungkin lucu saja dengan kelakuannya hari ini karena gara-gara dia, kami berdua muter-muter di kawasan industri yang tidak semestinhya.
-SKIP-
“Nah ini PT nya, terus?” tanya Elissa padaku.
“Teruuuuusssss??” tanyaku menirukan gaya Elissa.
CTAKKK CTAAKK CTAAAKKK!!
“Awwww!” rintihku.
“ya tunggu aja disini barang kali kita nanti liat mbak rani.” Jawabku enteng walau ku pikir tindakanku terlihat konyol.
“Bego! Kita harus nungg
u disini untuk hasil yang tidak pasti gitu maksud kamu?”
“hehehhee”
CTAKKKK!!! Kepalaku ibarat samsak untuk Elissa hari ini.
Satu jam, dua jam, 3 jam sampai 5 jam aku menunggu di depan pabrik tanpa hasil. Aku tidak menemukan mbak Rani. Sangat sulit menemukannya di kerumunan pekerja yang masuk atau keluar pabrik dengan bergerombol.
Apa aku harus menunggu tepat di dekat gerbang masuk pabrik dan melihat satu-persatu?? Konyol memang. Tapi saran untuk diriku sendiri itu kulakukan.
Satu persatu pekerja ku perhatikan, dari yang jalan kaku hingga yang menggunakan kendaraan bermotor.
Aku tertunduk lemas saat kulihat jam ditanganku menunjukkan pukul 21.00 WIB. Cukup malam sekali.
“Kita pulang EL, lanjut besok.” Jawabku smabil membetulkan posisi kursi mobil shingga aku bisa merebahkan tubuhku.
“Haaaahhhhh.” Aku membuang nafas kasar. Hanya orang gila yang rela melakukan ini untuk menemukan kekasihnya.
"Yakin"
"Laaahhh??? emang tau alamatnya Tika?"
Aku berpikir sejenak.
"Arrrggghh bodoh!" teriakku.
"Nah, itu tau kalo kamu bodoh Bi. wkkwkwk
. Dulu waktu si Tika mau pergi kenapa kamu gak minta alamat barunya? kan bisa tuh minta ke mbak nya Tika. siapa namanya aku lupa?""Rani" jawabku singkat. sambil memutar-mutar bolpoint PILOT di antara jari-jariku.
"Jangan nekat Bi. kamu belum pernah kesana to? gak ada saudara pula. Bekasi itu pasti luas! gak sekecil sekolah kita"
Aku merenung mendengarkan nasihat Dodi. Yang kuingat mbak rani pernah bilang kepadaku kalau dia kerja di daerag EJIP, Sak*ra J*va kalau tidak salah nama PT nya. Mbak Rani sudah karyawan tetap, kemungkinan besar sampai sekarang dia masih kerja ditempat yang sama.
Lalu, bagaimana caranya aku bisa bertemu mbak Rani??? "Argghhhh" erangku. Otakku menemui jalan buntu.
Aku bodoh? iya. Aku nekat? iya.
Apa yang membuatku bisa menjadi seperti ini? entahlah. Mungkin cinta. mungkin sayang. Lebay? iya, memang. Haha.
-SKIP-
Ujian semester 1 telah usai. Pengambillan rapot juga sudah. Nilaiku??? merosot drastis. Masuk 10 besar saja tidak. bodoh! bodoh! bodoh!
berulang kali aku memarahi diriku sendiri. Kalau esok usahaku sia-sia. Aku pasrah. Aku sudah mantap untuk pergi ke Bekasi.
"Aku ikut Bi"
"Gak usah El, aku bisa sendiri."
"Bekasi itu luas Biiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii, kamu bakalan ilang kalo sendirian."
"gak usah Elissaaaaaaaaaaa, aku bisa sendiri!"
"Bi, dengerin ya. Aku gak mau kamu nekat hanya karena cinta. Jodoh itu sudah ada yang atur Bi. kalo kamu jodoh, Suatu saat nanti kalian pasti ketemu kok." kata Elissa.
Aku diam.
"Bi, kalau kamu nekat ke Bekasi. Aku ikut! aku lebih tau bekasi daripada kamu. Aku gak bakal nyusahin kamu kok Bi." bujuk Elissa.
Aku menatap Elissa. "Thanks El" kataku.
Senyumnya menyungging di bibirnya seolah membalas ucapan terima kasihku padanya.
"Yaudah siap-siap. Nanti sore kita berangkat OK?" kata Elissa bersemangat.
-SKIP-
WELCOME TO JEKARDAAAAAAHHH!!!!!!
Satu kata untuk Jakarta. MACET!!!!
"Kita langsung ke Bekasi El?" tanyaku.
"Hmmm bego banget sih jam segini mau ke Bekasi, kita istirahat dulu dirumahku ok?"
Suara klakson taksi dan teriakan pedagang yang menjajakan dagangannya saling bersahutan memenuhi telingaku. Menambah gerah badanku yang sedang berdiri di depan stasiun Gambir. Seakan dinginnya malam tak terasa dikulitku.
"Nah, itu dateng" kata Elissa saat sebuah sedan berwarana merah berhenti di didepan kami.
"masuk yuk." ajak Elissa.
-Selama Perjalanan-
"Wowww ini toh yang namanya Monas." kataku saat pertama kali melihatnya. Norak ya? wkwk iya.
""kwkwkwk, biasa aja dong bi liatnya, sampe nganga gitu mulut kamu." ejek Elissa.
"hehehe.."
“Non Elissa, kita kerumah Bunda nya Non atau Ayah Non Elissa?” tanya Supir tiba-tiba.
“Rumah ayah aja Pak.” Jawab Elissa sambil mengotak atik Hp nya. BB Bold warna hitam.
-SKIP-
Akhirnya kami sampai dirumah Elissa. Cukup luas dan besar. Rumahku kalah deh kalau dibanding-bandingkan. Dengan alasan ‘takut’ Elissa menyuruhku menemaninya tidur dikamar bersamanya. Tetapi aku menolak ‘mentah-mentah’. Bukannya munafik ya atau aku tidak normal. Dan akhirnya aku tidur dikamar tamu.
Sebuah jam dinding tua yang berada di ruang keluarga menarik perhatianku. Bandul jam yang bergerak kekiri dan kekanan menarik mataku untuk mengikuti gerak geriknya.
“tuk..tuk...tuk” kira-kira seperti itu bunyinya.
“Nyeremin juga rumah kamu El” kataku sambil mengusap-usap lengan kananku yang bulu halusnya berdiri karena hawa tidak mengenakkan.
“Wkwkwk nyeremin? Emang. Makanya ayo tidur dikamarku aja bi sama aku.” Bujuk Elissa lagi.
“Gak!!” jawabku.
“Dihhh biasa aja dong jawabnya.”
“ya kamu sih dari tadi maksa mulu.” Jawabku manyun.
“yaaaaaudah, aku tinggal ya.”
Elissa berjalan keluar kamar yang akan menjadi tempat untukku tidur.
Brakkk!! Suara pintu tertutup.
“Memang gak bisa pelan ya si Elissa kalo nutup pintu.” Batinku.
-SKIP-
Pagi ini aku dan Elisssa berangkat bekasi menggunakan mobil miliknya. Mencari Tika, tanpa ada petunjuk yang berarti. Hanya tempat kerja mbak Rani saja yang kutahu. Yang bisa sedikit membantuku menemukan Tika.
“El, masih lama ya nyampenya?” tanyaku pada Elissa yang sedang berkonsentrasi penuh saat menyetir.
“Bi, sabar dikit napa? Macet nih.” Jawabnya tak kalah emosi padaku.
Satu kata untuk Jakarta. WOW!!!!
Wow macetnya. Kami stuck di Tol Dalam kota. Menjelang sampai di patung yang kata Elissa bernama patung pancoran, kemacetan sedikit mereda.
“Ohhh,, ini toh patungnya.” Kataku kagum. Melihat patung besar dari balik kaca mobil.
“wkwkwk dasar orang desa!” ledek Elissa.
-SKIP-
“Ini bukan ya?” tanya Elissa saat kami melihat papan penunjuk gerbang keluar tol ‘Lemah abang, Cikarang, kawasan Industri.”
“iya kayaknya.”jawabku sekenanya.
Akhirnya kami keluar tol. Dan sampailah kami disebuah daerah yang disebut Cikarang. Panas? Banget. Truk? Banyak. Macet? Parah. Wajar saja disini adalah kawasan industri, banyak sekali pabrik bertebaran. Dan pastinya perantauanya beraneka ragam.
“El, yakin belok kiri? Tadi kata Ibu-ibu penjaga Tol kita harus belok kanan lho.” Tanyaku ke Elissa.
“ssstt udah ikutin aku aja. Muka si ibu tadi meragukan. Kayak muka kamu wkwkwk.” Ledek Elissa.
“Jiahhh,... awas aja ya kalo nyasar kamu tanggung jawab.” Ancamku padanya yang sedang melihat kanan dan kiri jalan sambil menyetir.
“iya bawel iya!” jawab Elissa.
Akhirnya kami sampai disebuah kawasan industri. JABABEKA

“Ini pasti tempatnya, “ kata Elissa mantap.
Kalian tau apa yang terjadi selanjutnya? Kami berdua muter-muter kesana kemari mengelilingi dan mengubek-ubek dari ujung ke ujung. Tak kamu temukan pabrik yang kami maksud. Wkwkwkw
“bodoh ah, muter-muter gak ada hasil. Wkwkwk jangkrik banget!” erangku.
Elissa tidak menanggapi keluhanku.
“El, aus nih.”
Akhirnya kami menepi sejenak di tempat penjual Es dawet hitam pinggir jalan. Lucunya, kami berlomba meminum sebanyak banyaknya.
“El, gak kuat. Udah 3 gelas kenyang banget nih.” Kataku sambil menaruh gelas yang masih berisi ¼
“appjjj..auuupp.pppjjjg” jawab Elissa sambil menenggak habis minuman tersebut. Gilak!!! Sungguh tidak menunjukkan keseksian wanita. Elissa minum dengan gaya seperti habis nyangkul sawah 5 hektar.
“Yes, aku menang. Pulangnya kamu harus pijitin kakiku ok?” kata Elissa.
Aku pasrah. Karena perjanjian awal yang kalah harus pijitin yang menang. Huhuhu.
Lanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan aku tak henti-hentinya mengatakan bodoh ke Elissa. Bagaimana tidak? Saat aku tanya ke Penjual dawet tentang letak PT yang kumaksud, penjual tersebut menujuk arah yang sama dengan apa yang dikatakan penjaga gerbang Tol. Elissa malah tertawa terpingkal-pingkal mendengar ocehanku. Mungkin lucu saja dengan kelakuannya hari ini karena gara-gara dia, kami berdua muter-muter di kawasan industri yang tidak semestinhya.
-SKIP-
“Nah ini PT nya, terus?” tanya Elissa padaku.
“Teruuuuusssss??” tanyaku menirukan gaya Elissa.
CTAKKK CTAAKK CTAAAKKK!!
“Awwww!” rintihku.
“ya tunggu aja disini barang kali kita nanti liat mbak rani.” Jawabku enteng walau ku pikir tindakanku terlihat konyol.
“Bego! Kita harus nungg
u disini untuk hasil yang tidak pasti gitu maksud kamu?”
“hehehhee”
CTAKKKK!!! Kepalaku ibarat samsak untuk Elissa hari ini.
Satu jam, dua jam, 3 jam sampai 5 jam aku menunggu di depan pabrik tanpa hasil. Aku tidak menemukan mbak Rani. Sangat sulit menemukannya di kerumunan pekerja yang masuk atau keluar pabrik dengan bergerombol.
Apa aku harus menunggu tepat di dekat gerbang masuk pabrik dan melihat satu-persatu?? Konyol memang. Tapi saran untuk diriku sendiri itu kulakukan.
Satu persatu pekerja ku perhatikan, dari yang jalan kaku hingga yang menggunakan kendaraan bermotor.
Aku tertunduk lemas saat kulihat jam ditanganku menunjukkan pukul 21.00 WIB. Cukup malam sekali.
“Kita pulang EL, lanjut besok.” Jawabku smabil membetulkan posisi kursi mobil shingga aku bisa merebahkan tubuhku.
“Haaaahhhhh.” Aku membuang nafas kasar. Hanya orang gila yang rela melakukan ini untuk menemukan kekasihnya.
fabillillah memberi reputasi
2