- Beranda
- Stories from the Heart
Aku dan Gadis Lugu
...
TS
spv7hqfj
Aku dan Gadis Lugu
SELAMAT DATANG

Cover by Agan Yushito13
Sebelumnya ane minta maaf buat para reader kalo tulisan ane acak acakan. Ane cuma berharap para readers bisa mengambil hikmah dari cerita ane ini.
Jangan lupa baca Sticky Rules SFTH ya gan? ane males kalo harus nulis ulang,
Jangan lupa juga buat ninggalin jejak sekedar ngasih kritik dan saran,
atau nebak2 jalan cerita BANTU RATE YA GAN hehehehe.
KASIH CENDOL JUGA BOLEH

ASALKAN JANGAN ADA BATA DIANTARA KITA GAN

AND THEN, DILARANG OOT

Spoiler for Top Thread:
Spoiler for CHAPTER 1:
Spoiler for CHAPTER 2:
Quote:
Diubah oleh spv7hqfj 22-07-2016 13:16
anasabila memberi reputasi
1
251.5K
902
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
spv7hqfj
#605
Eps. 32 Gadis bersepeda
“Buka apa maksud kamu Na?” tanyaku heran.
Ratna tidak menjawab pertanyaanku. Dia malah mendorong badanku lalu melompat dan menindihku.
“Haakkk!!!” dadaku sesak karena terkena benturan badannya. Matanya menatapku tajam.
Tak tahan dengan tatapannya, kupejamkan mataku. Berharap ini hanyalah mimpi. Tindakannku malah membuat Ratna semakin kalap. Aku dianggapnya mainan. Rambutku dijambak dengan kedaua tangannya.
“Awww” rintihku.
Badanku kaku. Sungguh!
Desahan nafasnya memenuhi wajahku. Leherku pun tak luput dari belaian bibirnya. Dicumbu, ditiup pelan. Hingga saat nafasnya tepat berada di dekat kupingku. Badanku langsung merinding!
“Hahahaha” Ratna tertawa.
Aku bekum berani untuk membuka mata. Aku merasa malu. Seorang bocah SMA yang belum begitu mengerti dengan apa yang dilakukan Ratna barusan hanya bisa berpikir tanpa menemukan jawaban.
“Hiihihi” tawa Ratna Lagi.
“hahaha” tawanya semakin keras.
“hahaha” tawanya????? Hah??? Tawanya berubah menjadi tawa seorang laki-laki.
Membuat rasa penasaranku mengalahkan rasa maluku, aku membuka mata perlahan dan, samar-samar terlihat seorang manusia. Eitss, tunggu! Ratna kok berambut pendek? Ikal?
ASTAGA!!! DODIIIIIII!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! KAMPRET!!!
“kwkwkwkw, tidur udah kayak kebo!” ledek Dodi.
“Jangkrik!! Kopet!!” jawabku.
“Wkwkwkwk, mimpi apaan bi kok manggil manggil ‘Na’ .... ‘Na’ jangan Na ???” tanay Dodi sambil menaik naikkan kedua alisnya.
Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, dia sudah tertawa lagi “Wwkkwkwwkwk, dasar mesum!”
Wajahku merah padam dibuatnya. Bener2 deh si Dodi jailnya.
-BEL BERBUNYI-
“Sstt..sssttt.. Bu guru dateng” bisik beberapa murid ketika seorang tante-tante gendut berseragam khas pengajar masuk ke kelas kami.
-SKIP-
Setiap hari, sepanjang malam. Ku selalu memikirkan Tika yang jauh disana. Aku tidak munafik, terkadang aku juga bertanya pada diriku sendiri. Apakah disana Tika selingkuh? Menduakanku? Ataukah dia sudah mempunyai pacar baru?
Tika, kenapa kamu berubah? Sangat sulit ku menghubungimu. Jarang sekali kamu memberi kabar untukku walau sekedar menanyakan ‘sudah makan atau belum?”
“Sudah bi, percaya aja sih sama Tika” Suara Elissa tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Elissa berjalan kesana kemari dikamarku, seperti sedang mencari sesuatu.
“Nah, ketemu.” Katanya.
Lalu dia berjalan menuju kearahku dan.... ,”Nih, maenin” Tangannya memegang sebuah harmonika yang baru saja ia ambil dari lemariku. Sebuah harmonika jadul kesayanganku.
Dan!!!! Kumainkan sepenggal nada lagu ‘Forever Young’ dari Aplhaville.
.
.
.
“Yeeeee..” PLOKKK PLOOOKKK PLOOOKKK...
Tepuk tangan dari Elissa.
Aku tersenyum dibuatnya. “thanks El”
“hihi, apaan sih kamu bi. Orang aku cuma dengerin ama tepuk tangan doang kok.” Jawabnya.
Yaaahhh, malam itu sejenak aku bisa lupa dengan kesedihanku.
-SKIP-
Pagi ini perutku terasa sangat lapar.
“aymmm..annymmm..annyymmm..” 3 potong roti dan 2 gelas susu ku habiskan.
“Pelan-pelan bi kalo makan, kayak orang susah aja sih kamu!”
Aku hiraukan saja sindiran dari Elissa, lanjut makan. Tanganku ku julurkan kearah piring yang berisi roti bakar buatan Bibi. PLAKKK!!!! Tanganku di tampar.
“Apa-apaan sih El?”
“kamu ya! Serakah amat jadi orang. Ini bagian ku!” jawab Elissa lalu dengan cepat tangannya mengambil roti yang tadi akan ku eksekusi.
“sudah-sudah, Bibi bikinin lagi ya?” kata Bibiku. Mencoba untuk menyudahi pertengkaranku dengan Elissa.
“Huh!” aku hanya pasang muka manyun dan menatap kosong kearah depan. Kesal dengan Elissa. (kekanak-kanakan ya? Hihi aku dulu memang begitu kok)
Tak lama roti bakarpun datang. Tiga potong roti dibuat oleh Bibi.
“Srekkkk..!!” ku ambil alih piring berisi roti bakar dari Bibi dan langsung ku masukkan kedalam kotak bekal yang ada dimeja dengan maksud untuk ku bawa kesekolah. Lumayan heehe.
“Tobiiiiiii!!! Iiihhhh curang!” teriak Elissa. CETAAAAKKKK!!!!!! Kepalaku dijitak,
“wwkwkwkk kabuuuurrr” dengan segera ku membereskan bekalku dan kumasukkan kedalam tas. Lalu berlari menjauh dari Elissa.
“Tobiiiii......” teriak Elissa memanggilku dengan nada super keras.
“hahaha” bibi tertawa juga (ternyata)
-SKIP-
“ahhhhh, udaranya segar.”
“Semua alat dan bahan untuk sekolah sudah lengkap. Bekal roti bakar juga sudah ada. Jalan ah keburu Elissa nyusul.” Batinku.
Apa kabar kamu pepohonan rindang yang menghiasi trotoar? Tidak bosan kan setiap hari bertemu muka denganku? Menemani perjalananku ke sekolah maupun pulang kerumah. Terima kasih.
Belum lama ku bejalan, dari jauh tampak seorang siswi kemarin yang kutemui. Ku berjalan dan akhirnya sampai di sampingnya. Ratna.
“Lah?? Lepas lagi rantainya Na?” tanyaku.
“heheh, iya nihi. Bantuin dong?” pintanya.
“Yaudah, awas awas.”
Kreekk,,kreeekk,,kreeekkk dan akhirnya rantai yang lepas sudah bisa digunakan kembali. Dia tersenyum padaku.
“makasih ya.”
“iya sama-sama. Yaudah gih sana berangkat” kataku.
“mmmhhh... bareng aja yuk? Kamu boncengin aku lagi. Gimana? Mau ya mau ya?” rengeknya.
“hadehh.. gak deh makasih Na. Lebih enak jalan kaki. Sehat.” Jawabku.
“yaahhh,” Ratna langsung cemberut setelah mendengar jawabanku.
Aku berjalan duluan meninggalkan Ratna yang sedang membersihkan tangannya yang kotor dengan air mineral dan sapu tangan yang dibawanya. Jalan memang lebih mengasyikkan.
PLAKKK!!!! Tepukan dibahuku.
Saat ku menoleh, ternyata ada Ratna lagi.
“Apa lagi sih Na? Rantainya lepas lagi?” tanyaku heran.
“hehehe, gak kok. Ayok ih bareng aku Bi “ lagi-lagi Ratna memasng wajah cemberut didepanku. Seperti akan menangis.
“Yaudah yaudah, jangan sedih gitu ah.”
Dan akhirnya aku dan Ratna berangkat sekolah bersama menggunakan Sedanya.
Huhuhuhu, jadi inget Tika lagi kan kalo kayak gini? Tapi dibelakangku malah si Ratna. Apes!
Ratna tidak menjawab pertanyaanku. Dia malah mendorong badanku lalu melompat dan menindihku.
“Haakkk!!!” dadaku sesak karena terkena benturan badannya. Matanya menatapku tajam.
Tak tahan dengan tatapannya, kupejamkan mataku. Berharap ini hanyalah mimpi. Tindakannku malah membuat Ratna semakin kalap. Aku dianggapnya mainan. Rambutku dijambak dengan kedaua tangannya.
“Awww” rintihku.
Badanku kaku. Sungguh!
Desahan nafasnya memenuhi wajahku. Leherku pun tak luput dari belaian bibirnya. Dicumbu, ditiup pelan. Hingga saat nafasnya tepat berada di dekat kupingku. Badanku langsung merinding!
“Hahahaha” Ratna tertawa.
Aku bekum berani untuk membuka mata. Aku merasa malu. Seorang bocah SMA yang belum begitu mengerti dengan apa yang dilakukan Ratna barusan hanya bisa berpikir tanpa menemukan jawaban.
“Hiihihi” tawa Ratna Lagi.
“hahaha” tawanya semakin keras.
“hahaha” tawanya????? Hah??? Tawanya berubah menjadi tawa seorang laki-laki.
Membuat rasa penasaranku mengalahkan rasa maluku, aku membuka mata perlahan dan, samar-samar terlihat seorang manusia. Eitss, tunggu! Ratna kok berambut pendek? Ikal?
ASTAGA!!! DODIIIIIII!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! KAMPRET!!!
“kwkwkwkw, tidur udah kayak kebo!” ledek Dodi.
“Jangkrik!! Kopet!!” jawabku.
“Wkwkwkwk, mimpi apaan bi kok manggil manggil ‘Na’ .... ‘Na’ jangan Na ???” tanay Dodi sambil menaik naikkan kedua alisnya.
Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, dia sudah tertawa lagi “Wwkkwkwwkwk, dasar mesum!”
Wajahku merah padam dibuatnya. Bener2 deh si Dodi jailnya.
-BEL BERBUNYI-
“Sstt..sssttt.. Bu guru dateng” bisik beberapa murid ketika seorang tante-tante gendut berseragam khas pengajar masuk ke kelas kami.
-SKIP-
Setiap hari, sepanjang malam. Ku selalu memikirkan Tika yang jauh disana. Aku tidak munafik, terkadang aku juga bertanya pada diriku sendiri. Apakah disana Tika selingkuh? Menduakanku? Ataukah dia sudah mempunyai pacar baru?
Tika, kenapa kamu berubah? Sangat sulit ku menghubungimu. Jarang sekali kamu memberi kabar untukku walau sekedar menanyakan ‘sudah makan atau belum?”
“Sudah bi, percaya aja sih sama Tika” Suara Elissa tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Elissa berjalan kesana kemari dikamarku, seperti sedang mencari sesuatu.
“Nah, ketemu.” Katanya.
Lalu dia berjalan menuju kearahku dan.... ,”Nih, maenin” Tangannya memegang sebuah harmonika yang baru saja ia ambil dari lemariku. Sebuah harmonika jadul kesayanganku.
Dan!!!! Kumainkan sepenggal nada lagu ‘Forever Young’ dari Aplhaville.
.
.
.
“Yeeeee..” PLOKKK PLOOOKKK PLOOOKKK...
Tepuk tangan dari Elissa.
Aku tersenyum dibuatnya. “thanks El”
“hihi, apaan sih kamu bi. Orang aku cuma dengerin ama tepuk tangan doang kok.” Jawabnya.
Yaaahhh, malam itu sejenak aku bisa lupa dengan kesedihanku.
-SKIP-
Pagi ini perutku terasa sangat lapar.
“aymmm..annymmm..annyymmm..” 3 potong roti dan 2 gelas susu ku habiskan.
“Pelan-pelan bi kalo makan, kayak orang susah aja sih kamu!”
Aku hiraukan saja sindiran dari Elissa, lanjut makan. Tanganku ku julurkan kearah piring yang berisi roti bakar buatan Bibi. PLAKKK!!!! Tanganku di tampar.
“Apa-apaan sih El?”
“kamu ya! Serakah amat jadi orang. Ini bagian ku!” jawab Elissa lalu dengan cepat tangannya mengambil roti yang tadi akan ku eksekusi.
“sudah-sudah, Bibi bikinin lagi ya?” kata Bibiku. Mencoba untuk menyudahi pertengkaranku dengan Elissa.
“Huh!” aku hanya pasang muka manyun dan menatap kosong kearah depan. Kesal dengan Elissa. (kekanak-kanakan ya? Hihi aku dulu memang begitu kok)
Tak lama roti bakarpun datang. Tiga potong roti dibuat oleh Bibi.
“Srekkkk..!!” ku ambil alih piring berisi roti bakar dari Bibi dan langsung ku masukkan kedalam kotak bekal yang ada dimeja dengan maksud untuk ku bawa kesekolah. Lumayan heehe.
“Tobiiiiiii!!! Iiihhhh curang!” teriak Elissa. CETAAAAKKKK!!!!!! Kepalaku dijitak,
“wwkwkwkk kabuuuurrr” dengan segera ku membereskan bekalku dan kumasukkan kedalam tas. Lalu berlari menjauh dari Elissa.
“Tobiiiii......” teriak Elissa memanggilku dengan nada super keras.
“hahaha” bibi tertawa juga (ternyata)
-SKIP-
“ahhhhh, udaranya segar.”
“Semua alat dan bahan untuk sekolah sudah lengkap. Bekal roti bakar juga sudah ada. Jalan ah keburu Elissa nyusul.” Batinku.
Apa kabar kamu pepohonan rindang yang menghiasi trotoar? Tidak bosan kan setiap hari bertemu muka denganku? Menemani perjalananku ke sekolah maupun pulang kerumah. Terima kasih.
Belum lama ku bejalan, dari jauh tampak seorang siswi kemarin yang kutemui. Ku berjalan dan akhirnya sampai di sampingnya. Ratna.
“Lah?? Lepas lagi rantainya Na?” tanyaku.
“heheh, iya nihi. Bantuin dong?” pintanya.
“Yaudah, awas awas.”
Kreekk,,kreeekk,,kreeekkk dan akhirnya rantai yang lepas sudah bisa digunakan kembali. Dia tersenyum padaku.
“makasih ya.”
“iya sama-sama. Yaudah gih sana berangkat” kataku.
“mmmhhh... bareng aja yuk? Kamu boncengin aku lagi. Gimana? Mau ya mau ya?” rengeknya.
“hadehh.. gak deh makasih Na. Lebih enak jalan kaki. Sehat.” Jawabku.
“yaahhh,” Ratna langsung cemberut setelah mendengar jawabanku.
Aku berjalan duluan meninggalkan Ratna yang sedang membersihkan tangannya yang kotor dengan air mineral dan sapu tangan yang dibawanya. Jalan memang lebih mengasyikkan.
PLAKKK!!!! Tepukan dibahuku.
Saat ku menoleh, ternyata ada Ratna lagi.
“Apa lagi sih Na? Rantainya lepas lagi?” tanyaku heran.
“hehehe, gak kok. Ayok ih bareng aku Bi “ lagi-lagi Ratna memasng wajah cemberut didepanku. Seperti akan menangis.
“Yaudah yaudah, jangan sedih gitu ah.”
Dan akhirnya aku dan Ratna berangkat sekolah bersama menggunakan Sedanya.
Huhuhuhu, jadi inget Tika lagi kan kalo kayak gini? Tapi dibelakangku malah si Ratna. Apes!
JabLai cOY dan fabillillah memberi reputasi
3