Kaskus

News

plonardAvatar border
TS
plonard
Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God
Semua yang saya tulis pada posting #1 sampai posting #10 adalah terjemahan bebas dari artikel Khalid ibn Al-Walid di en.wikipedia.org Oktober 2012. Saya tambahkan juga sedikit daftar istilah untuk membantu Agan-agan yang belum terlalu memahami istilah militer dan geografis di zaman bersangkutan hidup. Jika ada ketikan saya dengan format "[angka]", kode ini adalah nomor footnote atau catatan kaki. Contoh: [1] dan [25].
Semoga bermanfaat.

Khalid ibn Al-Walid


Indeks
Posting #1 sampai Posting #10 akan berisi garis besar kehidupan Khalid. Berikut ini adalah indeks yang bisa langsung diklik untuk memudahkan Agan-agan mengakses posting-posting tentang kehidupan Khalid yang lebih detail.

Posting #32 Pertempuran Walaja tahun 633 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #45 Pengepungan Damaskus tahun 635 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #69 Pertempuran Yarmuk tahun 636 M (Detail Gambar dan Kronologi)
Posting #95 Ucapan-ucapan tentang Khalid ibn Al-Walid
Posting #97 Bibliografi Buku The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleedkarya A.I. Akram
Posting #97 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 1: Sang Anak Lelaki
Posting #100 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian I)
Posting #103 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 2: Agama Baru (Bagian II)
Posting #105 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)
Posting #107 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)
Posting #109 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)
Posting #120 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian IV)
Posting #123 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
Posting #146 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI)
Posting #147 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
Posting #161 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
Posting #162 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
Posting #165 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
Posting #174 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
Posting #175 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
Posting #187 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
Posting #191 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
Posting #193 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
Posting #194 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
Posting #195 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
Posting #198 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 9: Pengepungan Tha'if
Posting #201 Bagian I: Di Masa Kehidupan Nabi - Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
Posting #204 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
Posting #208 Bagian II: Perang Riddah - Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
Posting #213 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
Posting #214 Bagian II: Perang Riddah - Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
Posting #215 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian I)
Posting #218 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
Posting #220 Bagian II: Perang Riddah - Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
Posting #222 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
Posting #224 Bagian II: Perang Riddah - Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
Posting #226 Bagian II: Perang Riddah - Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
Posting #229 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
Posting #235 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
Posting #239 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
Posting #242 Bagian II: Perang Riddah - Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
Posting Nomor Depan > Bagian II: Perang Riddah - Bab 17: Tumbangnya Gerakan Murtad (Bagian I)


Daftar Istilah Penting

Al-Hirah
Kerajaan yang berlokasi di Iraq Modern (Mesopotamia), negara vasal Imperium Persia-Sassanid, dengan mayoritas warga adalah orang Arab dari suku Bani Lakhm.

Arabia
Wilayah yang terbentang dari Syam dan Mesopotamia sampai Jazirah Arab, dihuni oleh mayoritas orang Arab serta minoritas orang Israel, Eropa (Romawi), Persia, dan Ethiopia.

Bizantin
Imperium superpowerlanjutan dari Romawi, sering juga dikenal sebagai Imperium Romawi Timur. Bizantin beribukota di Konstantinopel (Istanbul Modern) dan menjadi satu-satunya penerus Romawi sejak dihancurkannya Imperium Romawi Barat (beribukota di Roma) pada Abad ke-4. Warga negaranya menganggap mereka adalah warga Romawi dan warga negara lain di masa itu pun memanggil mereka sebagai orang-orang Romawi. Di masa Khalid, wilayah kekuasaan mereka membentang dari daerah Balkan di Eropa, sebagian Libya dan Mesir di Eropa, serta Jazirah Turki, Armenia, dan Levant (Syam) di Asia.

Double Envelopment
Sebuah manuver lapangan dalam pertempuran di mana sebuah pasukan berupaya untuk melingkupi musuh sehingga dapat menyerangnya dari segala arah. Biasanya, pertempuran akan dimulai dalam garis pembeda yang jelas antara dua pasukan yang bertempur. Dengan memanfaatkan kondisi maupun penggunaan taktik tertentu, pasukan musuh dapat diserang dari samping dan belakang. Contoh penggunaan taktik ini ada pada Pertempuran Cannae dan Pertempuran Walaja.

Garda Gerak Cepat (Mobile Guard)
Kavaleri ringan pasukan Muslim awal, dibangun oleh Khalid ibn Al-Walid dengan tujuan menjadi penyeimbang kelemahan infantri Muslim yang berbaju baja ringan. Gerakannya cepat, menerapkan taktik hit and run, efektif melawan kavaleri berat, dan sering menjadi garda depan pendahulu pasukan utama. Khalid dipecat saat menjabat sebagai komandan garda khusus ini. Penggantinya adalah Dhirar ibn Azwar.

Garnisun
Pasukan yang berkedudukan atau memiliki tempat pertahanan yang tetap, misalnya dalam benteng atau sebuah kota.

Ghassan
Kerajaan yang berlokasi di Syam Selatan, negara vasal Imperium Bizantin. Mayoritas warga negaranya adalah orang Arab beragama Kristen dari suku Bani Ghassan.

Imperium
Sebuah negara yang terdiri atas sekelompok bangsa, memiliki sebuah wilayah geografi yang luas, dipimpin oleh seorang kaisar atau sekelompok elit.

Kavaleri
Secara harfiah berarti pasukan berkuda, namun dalam prakteknya di masa kuno, unta dan gajah juga digunakan. Dalam peperangan modern, pasukan berkendara lapis baja maupun bukan juga termasuk dalam kavaleri. Di masa Khalid, kavaleri Bizantin dan Persia merupakan kavaleri berat, memakai baju besi tebal (termasuk kudanya) dan menutupi hampir seluruh tubuh. Kavaleri Muslim awal merupakan kavaleri ringan, berbaju baja dan bersenjata ringan.

Kekhalifahan
Sebuah sistem pemerintahan berbasis Islam yang menunjukkan kesatuan politik ummat Islam. Sistem ini dapat berupa sistem musyawarah perwakilan ataupun monarki konstitusional, dengan konstitusinya berupa Syariah. Karena dalam kekhalifahan ada kesatuan ummat, kekhalifahan selalu melingkupi banyak bangsa sehingga bisa dikategorikan sebagai bentuk Imperium.

Khalifah
Kepala negara dan pemerintahan sistem negara kekhalifahan, dapat dipilih oleh khalifah sebelumnya, ditunjuk oleh komite terpilih, dipilih langsung oleh rakyat, atau diturunkan pada keluarga khalifah sebelumnya.

Levant
Disebut juga Syam, daerah yang meliputi pantai timur Laut Mediterania, antara Anatolia (Jazirah Turki Modern) dan Mesir. Daerah ini meliputi wilayah-wilayah negara modern: Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina (Otoritas maupun yang dijajah oleh Israel), Siprus, Provinsi Hatay (Turki Tenggara) dan sebagian wilayah Iraq-Jazirah Sinai.

Mesopotamia
Daerah yang meliputi daerah aliran Sungai Tigris dan Eufrat, yaitu wilayah-wilayah modern: Iraq, sedikit daerah timur laut Suriah, sebagian Turki Tenggara, dan sebagian kecil barat daya Iran.

Negara Vasal
Negara yang tunduk kepada entitas politik lain yang lebih besar dan biasanya lebih kuat, tetapi diberi otoritas untuk mengurus negaranya sendiri.

Persia-Sassanid
Imperium superpowerdi Asia Barat pada Abad ke-4 sampai Abad ke-7, juga disebut oleh warga negaranya sendiri sebagai Ērānshahr atau Ērān, berdiri tahun 224 dan diruntuhkan oleh Kekhalifahan Islam pada tahun 651. Saat Khalid hidup, imperium ini menguasai wilayah modern Iran, sebagian Asia Tengah dan barat laut India, serta sebagian pantai timur dan selatan Jazirah Arab.

Romawi
Lihat Bizantin.

Syam
Lihat Levant.


Garis Besar Biografi

Khālid ibn al-Walīd (Bahasa Arab: خالد بن الوليد‎; 592–642) juga dikenal sebagai Sayfullāh Al-Maslūl(Pedang Allah yang Terhunus), adalah seorang sahabat Muhammad, Nabi Islam. Ia terkenal karena kecakapan dan taktik militernya, menjadi komandan pasukan Madinah di bawah kepemimpinan Muhammad dan pasukan-pasukan penerusnya, Kekhalifahan Ar-Rasyidun; Abu Bakr dan Umar ibn Khattab.[1] Di bawah kepemimpinan militernya, Arab bersatu di bawah sebuah entitas politik untuk pertama kali dalam sejarah, Kekhalifahan. Ia memenangkan lebih dari seratus pertempuran, melawan pasukan-pasukan Imperium (Kekaisaran) Romawi-Bizantin, Imperium (Kekisraan) Persia-Sassanid, dan sekutu-sekutu mereka, ditambah lagi beberapa suku Arab lainnya. Prestasi strategisnya antara lain penaklukan Arab, Mesopotamia milik Persia, dan Syam milik Romawi, dalam beberapa tahun sejak 632 sampai 636. Ia juga dikenang karena kemenangan pentingnya di Yamamah, Ullays, dan Firaz, serta kesuksesan taktisnya di Walaja dan Yarmuk.[2]

Khalid ibn Al-Walid (Khalid anak Al-Walid, secara harfiah berarti Khalid anak Si yang Baru Lahir) berasal dari Suku Quraysh dari Makkah, dari sebuah klan yang pada awalnya menentang Muhammad. Ia memainkan peran vital dalam kemenangan Makkah saat Pertempuran Uhud. Ia masuk Islam dan bergabung dengan Muhammad setelah Perjanjian Hudaybiyyah, serta berpartisipasi dalam sejumlah ekspedisi militer dengannya, seperti Pertempuran Mu’tah. Setelah wafatnya Muhammad, ia memainkan peran kunci dalam komando Pasukan Madinah pimpinan Abu Bakr pada Perang Ridda, menaklukkan Arab tengah dan menundukkan suku-suku Arab. Ia merebut Kerajaan Al-Hirah yang merupakan negara vasal Persia-Sassanid, dan mengalahkan pasukan-pasukan Persia-Sassanid selama proses penaklukan Iraq (Mesopotamia). Ia lalu ditransfer ke front pertempuran di barat untuk merebut Syam milik Romawi dan Kerajaan Ghassan, negara vasal Romawi. Meskipun Umar kemudian melepas jabatan Khalid dari komando tertinggi, ia tetaplah pimpinan sebenarnya dari kesatuan tempur melawan Bizantin selama fase-fase awal Perang Bizantin-Arab.[1] Di bawah komandonya, Damaskus direbut tahun 634 dan kemenangan kunci Arab atas Bizantin diraih dalam Pertempuran Yarmuk (636),[1] yang membuka jalan dalam proses penaklukan Syam (Levant). Tahun 638, pada puncak karirnya, ia diberhentikan dari ketentaraan.



(bersambung)...
Diubah oleh plonard 16-08-2016 13:52
0
76.5K
287
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
Sejarah & Xenology
KASKUS Official
6.5KThread11.6KAnggota
Tampilkan semua post
plonardAvatar border
TS
plonard
#210
Terjemahan dari bahasa asli, Bahasa Inggris. Ebook dapat diakses di:
The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed



Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)

(Halaman 4)

Di saat Muslimin berkumpul untuk memberikan bay’at setia mereka, Abu Bakr menyampaikan pidato perdananya sebagai khalifah, sebuah pidato yang semakin menunjukkan kesederhanaan dan kerendahan hatinya serta tidak menjanjikan sebuah pemerintah yang kuat. Dalam pidatonya, ia berkata,

“Segala puji bagi Allah (Alhamdulillah-pent)! Aku sekarang memerintah atas kalian, tetapi aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Jika aku berlaku baik, tolonglah aku. Jika aku berlaku buruk, koreksilah aku. Kejujuran adalah amanah, kebohongan adalah pengkhianatan. Mereka yang lemah di mata kalian akan kupandang kuat sampai ia mendapatkan apa yang menjadi haknya, jika Allah menghendaki (insya Allah-pent). Dan mereka yang kuat di mata kalian akan kupandang lemah, sampai aku mengambil yang bukan hak darinya, jika Allah menghendaki (insya Allah-pent).
Janganlah kalian meninggalkan jihad di jalan Allah karena tidak ada seorang pun yang berbuat demikian kecuali Allah akan membinasakan mereka dalam kehinaan. Dan tidaklah suatu kaum menjadikan hal ini perkara yang lumrah melainkan Allah akan menjatuhkan adzab yang pedih.
Patuhilah aku selagi aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya; dan jika aku tidak mematuhi Allah dan Rasul-Nya, kalian tidak berkewajiban mematuhiku.
Janganlah kalian melupakan shalat. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kalian!”[1]

Kesalehan Abu Bakr dan jasanya yang luar biasa bagi Islam telah diketahui dengan baik oleh Muslimin. Keberanian dan pengorbanannya kepada nabi-yang telah memberinya gelar Orang yang Benar (As-Shiddiq-pent)-, kemuliaan akhlaknya, dan keimanannya sebagai salah seorang beriman yang paling setia, tidak perlu ditanyakan lagi. Sebagai laki-laki ketiga yang masuk Islam, posisinya di antara Sepuluh Sahabat yang Diberkahi sangatlah tinggi.[2] Tetapi, apakah aspek ini saja cukup untuk memimpin dalam masa-masa krisis? Dan setelah itu, Pasukan Muslim yang dipimpin oleh Usamah akan berangkat dan hal ini semakin meningkatkan situasi mencekam di Madinah.

Sekitar pertengahan Mei 632 M, Sang Nabi Suci yang sedang sakit, telah memerintahkan sebuah operasi militer untuk dipersiapkan untuk menginvasi Yordania. Semua orang bergabung di dalamnya. Sebagai komandan operasi ini, ia menunjuk Usamah, seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun. Usamah adalah anak dari Zayd bin Haritsah, budak nabi yang telah dibebaskan, sekaligus komandan Muslim pertama yang gugur dalam Pertempuran Mu’tah. Meskipun Usamah adalah orang biasa dan bukan berasal dari Suku Quraysy, nabi menunjuknya sebagai panglima bagi para prajurit yang lebih tua usianya dan lebih banyak pengalaman perangnya, bahkan dari klan-klan bangsawan. Para prajurit ini berkumpul di kemah yang berada di barat ‘Uhud dan pasukan ini dinamakan Pasukan Usamah. Operasi militer ini adalah perintah militer terakhir nabi dan ini bisa berarti perintah perang melawan Romawi.

Usamah diberi instruksi untuk merebut Mu’tah di Yordania. “Pergilah ke tempat ayahmu terbunuh,” perintah Sang Nabi Suci. “Serbu daerah itu. Bergeraklah dengan cepat; carilah pemandu dan kirimlah pengintai dan mata-mata di depan pasukanmu.”[3] Sesaat sebelum wafatnya, nabi mengingatkan, “Jangan lupa untuk memberangkatkan Pasukan Usamah!”[4] Pasukan ini masih berada di kemah pada saat beliau meninggal hari Senin, 5 Juni 632 M (12 Rabi’ul ‘Awwal 11 H). Pada hari yang sama, Abu Bakr bin Abu Quhafah menjadi khalifah.

Keesokan harinya, Khalifah Abu Bakr mengeluarkan instruksi kepada Pasukan Usamah untuk mempersiapkan keberangkatan. Semua sahabat nabi terkemuka di Madinah dikirim ke kemah untuk ikut bergabung dan mengikuti kepemimpinan Usamah yang masih muda. Bahkan ‘Umar, salah satu teman terdekat Abu Bakr, dikirim ke kemah.

Dalam beberapa hari berikutnya, persiapan berlanjut meskipun kabar tentang meluasnya kemurtadan berdatangan. Kemudian sekelompok Muslim terpandang menghadap khalifah. “Apakah engkau benar-benar akan mengirim Pasukan Usamah ketika orang-orang Arab memberontak dan kekacauan muncul di mana-mana?” protes mereka. “Jumlah Muslim sedikit. Kaum kafir berjumlah lebih banyak. Pengiriman pasukan ini harus ditunda!”

Abu Bakr tetap kukuh dan menjawab, “Bahkan jika anjing liar berkeliaran di sekitar kaki istri-istri Rasulullah shallallahu’alayhiwasallam, aku tetap akan mengirim Pasukan Usamah sesuai perintah Sang Nabi.”[5]

Catatan Kaki Halaman 4
[1] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 450.
[2] Laki-laki pertama yang masuk Islam adalah ‘Ali, yang kedua adalah Zayd bin Haritsah.
[3] Ibnu Sa’ad: hlm. 707.
[4] Ibid: hlm. 709.
[5] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 461.

____________________________________________________________________________
(Halaman 5)

Beberapa hari lagi berlalu. Laporan kemurtadan dari berbagai penjuru semakin mengkhawatirkan. Pada salah satu hari tersebut, Usamah yang juga khawatir dengan keadaan Madinah dan Islam seperti halnya Muslim yang lain, menemui ‘Umar dan berkata, “Pergilah menghadap Khalifah. Mintalah kepadanya agar pasukan ini tetap di Madinah. Hampir semua unsur pimpinan umat ada di dalam pasukan ini. Jika kita berangkat, tidak ada yang bisa mencegah kaum kafir untuk menghancurkan Madinah.”

‘Umar setuju dan ia berangkat menemui Khalifah. Ketika ia meninggalkan kemah, ia bertemu dengan sekelompok pimpin Muslim lainnya yang menyatakan suara yang sama, mereka menambahkan, “Jika ia tidak setuju bila kita tetap bertahan di Madinah dan kita tetap harus pergi juga, mintalah kepadanya untuk setidaknya menunjuk orang yang lebih tua daripada Usamah sebagai panglima pasukan.”[1] ‘Umar setuju dan melanjutkan perjalanannya.

Di Madinah, Abu Bakr duduk di lantai rumahnya, membiasakan dirinya akan beban luar biasa berat di pundaknya sebagai seorang khalifah di masa-masa krisis ini. Tekanan ini seharusnya sudah merusak kewarasannya jika saja ia tidak termasuk orang yang beriman. ‘Umar masuk dan menghadap. ‘Umar sangat tenang dan percaya diri karena ia sudah terbiasa berbicara dengan Abu Bakr; ‘Umar berkarakter kuat dan bersemangat akan berbicara dengan teman tercintanya yang lembut dan mudah mengabulkan permintaan. ‘Umar pun menyampaikan pendapat dan permintaannya.

Abu Bakr menunggu sampai ‘Umar selesai menyampaikan pesannya. Kemudian Abu Bakr bangkit dan berseru tegas pada ‘Umar, “Wahai Anak Al-Khattab! Rasulullah-lah yang menunjuk ‘Usamah sebagai panglima. Dan engkau memintaku untuk mencopotnya dari komando.”[2]

‘Umar dengan segera keluar dari rumah Abu Bakr. Ia kembali ke kemah, di tempat para pimpinan menunggu kabar darinya. ‘Umar mendamprat mereka sambil menyampaikan jawaban terakhir Khalifah![3]

Pada tanggal 24 Juni 632 M (1 Rabi’ul Akhir 11 H), Pasukan Usamah berangkat membereskan kemah dan berangkat. Abu Bakr berjalan mendekati Usamah yang telah berada di atas tunggangannya; ia mencegah Usamah agar tidak turun dari kudanya tersebut. Ia menyampaikan pesannya kepada Usamah, “Setiap langkah yang diayunkan oleh seorang prajurit Muslim di jalan Allah, akan dibalas pahala 700 kebaikan dan ampunan 700 dosa.”[4]

Abu Bakr meminta Usamah untuk meninggalkan ‘Umar bersamanya sebagai penasihat. Usamah setuju. Sebelum berpisah, Abu Bakr juga menyampaikan instruksi terakhirnya kepada Panglima Pasukan, “Jalankanlah tugas kalian. Mulailah operasi dengan serbuan pada Quza’ah. Jangan biarkan ada halangan bagi kalian untuk menjalankan misi yang diberikan oleh Rasulullah.”[5] Dan Pasukan Usamah pun berangkat.

Keberangkatan Pasukan Usamah adalah sebuah kesalahan dalam kondisi saat itu.[6] Beberapa penulis Muslim telah menyatakan bahwa tindakan tersebut adalah tindakan yang bijak dari Abu Bakr, karena hal itu seolah-olah memamerkan kekuatan kepada pemberontak sehingga mencegah pemberontak untuk melakukan perlawanan dengan kekerasan. Sebenarnya bukanlah seperti itu kejadiannya. Meskipun Usamah menjalankan misinya dengan efisiensi dan kecepatan tinggi, operasi ini tidak memberi pengaruh apa-apa pada aksi utama melawan kelompok murtad yang akan berlangsung di Arab Tengah-Utara. Pelepasan Pasukan Usamah adalah sebuah aksi keimanan, menunjukkan ketundukan total pada perintah nabi yang telah wafat. Namun dalam aspek manuver militer dan politik, hal ini tidaklah bijaksana. Hal ini juga dibuktikan dengan penentangan dari sejumlah pimpinan Muslim, bahkan mereka kelak dalam beberapa dekade berikutnya akan menjadi sejumlah jenderal terbaik dalam sejarah.

Abu Bakr memilih kebijakan ini tidak lain karena keinginannya untuk memenuhi keinginan militer terakhir dari nabi. Bukanlah karena kurangnya kemampuan militer Abu Bakr yang menyebabkan ia melepaskan Pasukan Usamah. Kemampuan militer Abu Bakr akan terbukti dalam kebijakan-kebijakan militernya dalam Perang Riddah, invasi Iraq, dan invasi Syams.

Pasukan Usamah telah berangkat. Laporan tentang tersebarnya pemberontakan dan konsentrasi pasukan musuh semakin hari semakin serius. Kekhawatiran di pihak Muslim semakin meningkat. Secara kontras, kaum murtad bergembira dengan kabar bahwa Abu Bakr menjadi khalifah dan mengirim Pasukan Usamah. Dengan Abu Bakr memimpin urusan Muslimin, mereka pikir bahwa tujuan mereka untuk menghancurkan Negara Muslim yang baru lahir itu akan menjadi lebih mudah dicapai. Pemberontak merasa lega karena mereka tidak harus berhadapan dengan ‘Umar yang berapi-api atau ‘Ali yang keberaniannya tidak ada tandingannya. Mereka hanya akan berhadapan dengan seorang tua yang baik hati!

Namun Muslimin akan mendapat kejutan yang baik dari ‘orang tua yang yang baik hati’, sedangkan kaum murtad akan mendapat guncangan keras, guncangan yang menyebabkan salah satu pimpinan suku mereka melarikan diri dari pasukan Abu Bakr, sambil berteriak, “Celakalah orang-orang Arab yang melawan anak Abu Quhafah!”[7]

Catatan Kaki Halaman 5
[1] Ath Thabari: Vol. 2, hlm. 462.
[2] Ibid: Vol. 2, hlm. 462.
[3] Ibid.
[4] Ibid.
[5] Ibid: Vol. 2, hlm. 463.
[6] Hanya perspektif yang murni secara material menilai bahwa langkah ini adalah langkah yang salah dan bahkan pernyataan ini pun masih sulit didukung dari sudut pandang tersebut. Kemenangan mutlak dalam Perang Riddah, perang melawan Romawi, dan perang melawan Persia di masa pemerintahan singkat Abu Bakr dapat dikatakan bisa tercapai sebagai bagian berkah dari keputusan Abu Bakr untuk melanjutkan wasiat dari nabi (shallallahu’alayhiwasallam), keputusannya pertama sebagai khalifah.
[7] Baladzuri: hlm. 104.


--Akhir dari Bab 11--
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.