- Beranda
- Stories from the Heart
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
...
TS
beavermoon
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
Selamat datang di BeaverMoon Land
Sudah lama tak berjumpa dengan halaman ini dan biasanya cuma liat info-info HT doang.
Dan pada akhirnya ane kembali dengan membawa kisah yang ngga terlalu bagus

Spoiler for Tanya Jawab:
Q : Bang bakalan panen kentang lagi ngga?"
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)
Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)

Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
Jadi buat agan dan aganwati sekalian yang mau mengikuti thread ini seharusnya baca AKU, KAMU, DAN LEMONterlebih dahulu. Cuma kalo mau baca ini dulu ya nggapapa ngga ada larangannya

Selamat membaca

Spoiler for INDEX:
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Diubah oleh beavermoon 28-01-2020 19:37
i4munited dan 13 lainnya memberi reputasi
14
77.9K
Kutip
417
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#209
The untold episode...
Sampai bertemu lagi di sekuel terakhir Aku, Kamu, dan Lemon. Semoga cerita ini bisa menghibur dan mungkin akan menginspirasi bagi kehidupan para reader sekalian. Bramantyo Satya Adjie left the building...
Sampai bertemu lagi di sekuel terakhir Aku, Kamu, dan Lemon. Semoga cerita ini bisa menghibur dan mungkin akan menginspirasi bagi kehidupan para reader sekalian. Bramantyo Satya Adjie left the building...
Spoiler for Episode 15 + 1:
Sore ini semuanya sudah berkumpl dan beberapa menit lagi pertunjukkan akan segera dimulai. Rasa deg-degan tidak pernah lepas dari perasaanku setiap aku mau tampil meskipun ini bukan penampilan pertamaku. Semuanya sudah berdiri dan bersiap-siap termasuk juga aku.
Kami berdiri di antara banyak pasang mata yang sudah siap dimanjakan oleh penampilan kami. Nada demi nada sudah mulai terdengar, aku mulai menggerakkan tangan dan juga kakiku sehalus mungkin mengikuti ritme.
Nada semakin meninggi dan gerakan semakin menyulitkan, namun semuanya tidak semenyulitan saat latihan. Hingga akhirnya semuanya yang menatap kami sedari tadi memberikan tepuk tangannya dengan sangat meriah. Aku bersama dengan rekan-rekanku sangat senang dengan apresiasi penonton di hari terakhir festival ini.
Aku dan juga rekan-rekanku sudah berganti pakaian menjadi baju biasa dan sedang berbincang setelah pertunjukkan usai, beberapa dari kami sedang membereskan perlengkapannya dan ada juga yang sudah pulang.
“Terima kasih pada penampilan terakhir hari ini, aku cukup senang dengan reaksi penonton yang sangat meriah.” Kata Ketua Tim
“Semua orang lebih fokus ke Widya, kau cukup bisa menarik perhatian orang banyak.” Kata Felipe sambil menepuk pundakku pelan
“Aku bukan apa-apa tanpa kalian dan semua kru yang telah bekerja keras selama festival ini berlangsung. Terima kasih semuanya.” KAtaku
“Apa yang akan kau lakukan setelah ini?” tanya Ketua Tim
“Aku akan pulang ke kampung halamanku...”
“Indonesia? Apa ada seseorang yang menunggumu di sana?” Tanya Anna
“Ada seseorang yang masih setia menungguku di sana dan lagipula aku sudah berjanji padanya untuk pulang.” Kataku
“Siapa orang yang beruntung itu? Apa dia pacarmu?” Tanya Felipe
“Dia adalah tunanganku...”
“Kau tidak pernah cerita kalau kau sudah memiliki tunangan.” Kata Ketua Tim
“Aku memang tidak pernah bercerita pada kalian karena dia tidak pernah mau mempublikasikan hubungannya ke orang banyak. Dan lagipula dia sosok yang pemalu sejak aku mengenalnya semasa sekolah dulu.” Jawabku
“Dia lelaki yang sangat beruntung bisa mendapatkan hatimu, kembalilah untuk menemuinya dan segerakan hubunganmu dengannya. Menikahlah agar kalian berdua berbahagia memiliki keluarga.” Kata Anna
Aku tersenyum mendengar perkataan itu dan tak lama kemudian kami berpisah untuk menuju rumah kami masing-masing. Kunaiki mobil kecil merah ini melalui beberapa persimpangan hingga kuhentikan laju mobil ini di sebuah toko yang menjual kue-kue dengan motif-motif yang menggemaskan. Aku masuk ke dalam toko itu dan melihat sekeliling hingga mataku tertuju pada sebuah kue berukuran sekelapan tangan dengan dekorasi piano hitam lengkap dengan tutsnya.
“Ada yang bisa kubantu Nona Manis?” Tanya seorang Ibu dari balik etalase kue
“Aku akan membeli kue piano itu...” Jawabku sambil menunjuk kue tersebut
“Pilihan yang baik, kau suka rasa dark chocolate dengan potongan wafer?” Kata Ibu tersebut
“Aku hanya menyukai pianonya saja tidak yang lain...” Jawabku lagi
“Teringat akan seseorang?” Tanya Ibu tersebut lalu memberikan kuenya padaku
“Tunanganku sedang menunggu di Benua jauh sana dan aku akan segera menemuinya...”
“Dan menikahlah...” Kata Ibu lalu tersenyum
Aku tersenyum untuk yang kesekian kalinya ketika seseorang menyuruhku untuk segera menikah. Setelah kubayar kue tersebut aku kembali melanjutkan perjalananku menuju apartemen dimana selama beberapa tahun belakangan aku tinggal seorang diri. Setibanya di apartemen langsung kubuka bungkusan kue tersebut, lalu aku mencoba untuk mengambil foto dari kue itu.
Sore ini langit cukup cerah dan dapat kulihat dengan jelas dari balik jendela kamarku, sebuah kue dekorasi piano ditemani secangkir coklat hangat sudah cukup untuk hari ini. Kulihat sebuah foto yang menempel di pintu kulkas dengan seksama, sebuah foto beberapa tahun lalu dimana aku merasa bahwa aku mencintainya.
Kuambil foto tersebut untuk kulihat lebih jelas, ada aku dan ada seseorang yang sudah berhasil membuatku percaya bahwa cinta itu bukan hanya sekedar obsesi melainkan ada cinta yang benar-benar tulus datang dari hati. Kuambil selembar kertas dari dalam tasku dan kusejajarkan dengan foto yang sudah kupegang.
“Bram, aku akan pulang...”
.
.
.
Beberapa jam sudah dilalui dan tak terasa navigator yang ada di hadapanku menunjukkan bahwa aku sudah tiba di Jakarta. Aku cukup merindukan keadaan ini, dimana cuacanya yang sedari dulu sudah bersahabat dan orang-orangnya yang sangat ramai.
Setelah melewati bagian imigrasi dan pengambilan koper, aku menunggu seseorang yang udah berjanji akan menjemputku. Tak membutuhkan waktu lama hingga ia datang menghampiriku. Sebuah pelukan hangat sebagai pembuka pertemuan kami kembali setelah beberapa tahun berpisah.
“Gimana pantai di sana? Apa lebih baik dari pantai sini?” Tanya Ajeng
“Ngga selalu lebih baik sih, kadang ombaknya ngga kalah sama pantai sini...” Jawabku
“Lo bakalan balik lagi ke sana?” Tanyanya lagi
“Ada urusan yang harus gue selesaiin dulu...” Kataku
“Bram?” Tanyanya menghentikan langkah kaki kami
Aku mengangguk dengan pasti. Kami melanjutkan perjalanan kami meninggalkan Bandara ini menuju sebuah tempat yang sudah tidak asing agi bagiku. Sebuah tempat dimana aku memiliki banyak cerita yang tersimpan di sana. Dan ada seseorang yang aku percaya masih menungguku meskipun aku meninggalkannya hanya demi karirku.
Beberapa jam melewati kemacetan pada siang menjelang sore ini hingga kami masuk ke dalam sebuah perumahan yang tidak asing bagiku. Beberapa rumah sudah kami lewati menuju sebuah pertigaan dan tepat diujung sana aku mengenal rumah besar itu. Ajeng menghentikan mobilnya di pinggir jalan tepat di depan rumah itu.
“Lo ngga mau ikut turun Jeng?” Tanyaku
“Gue nunggu undangan kalian aja nanti...” Jawabnya kemudian tersenyum
Aku pun ikut tersenyum mendengarnya. Setelah berpamitan dengan Ajeng, aku turun membawa koper milikku dan masuk ke dalam rumah tersebut. Tidak ada yang berbeda sejauh mataku memandang, kemudian aku mengentuk pintu yang ada di depanku beberapa kali. Pintu itu terbuka dan aku melihat seseorang yang cukup terkejut melihatku ada di sana.
“Ka Wid!” Katanya hampir tidak percaya
“Hai cantik, apa kabar kamu?” Kataku
Ia memelukku dengan erat untuk waktu yang cukup lama, kemudian ia melepaskan pelukannya dan kembali melihat ke arahku untuk yang kesekian kalinya.
“Ka Wid kemana aja? Udah berapa lama ngga ke sini?” Tanya Nanda
“Beberapa tahun aku ngejar impian aku Nda, dan sekarang aku kembali buat Abang kamu lagi. Mungkin Ka Wid minta dia buat ngelamar secepetnya.” Kataku
“Ka Wid serius? Mungkin Ka Wid ngobrol aja langsung sama Abang di atas...”
Aku menyetujui perkataan Nanda. Kami masuk ke dalam rumah dan menaiki anak tangga menuju sebuah kamar yang tidak akan pernah asing bagiku. Nanda membuka pintu tersebut dan aku mengikutinya dari belakang. Suasana yang tidak sedikitpun berubah, semuanya masih tertata rapih dengan tempat yang masih sama pula. Miniatur-miniatur mobil tua masih lengkap, sebuah plester yang masih menempel di dinding, dan di sampingnya terletak sebuah gitar akustik yang masih kukenal.
Di balkon itu aku kembali melihat sesosok lelaki yang sedang memandangi indahnya langit sore ini, kepulan asap tidak akan pernah hilang darinya. Aku percaya bahwa ia masih menungguku hingga saat ini. Aku melangkah dengan sangat pasti menuju ke arahnya, jantungku berdegup lebih cepat dibandingkan saat aku harus tampil di hadapan banyak orang.
“Kamu ngga pernah berubah ya, masih suka di balkon ini sambil minum kopi yang ngga pernah manis dan rokok yang ngga ada habisnya.” Kataku
Ia tidak menjawab pertanyaanku, ia masih terdiam begitu saja. Aku berpikiran bahwa ia marah keapdaku karena ini bukan kali pertama aku meninggalkannya lalu aku kembali begitu saja ke dalam kehidupannya yang sebenarnya aku tidak tau apa yang terjadi.
“Maafin aku Bram, waktu itu aku harus kembali menghilang demi cita-citaku. Aku tau itu egois dan ngga mikirin perasaan kamu, dan aku masih sadar akan satu hal. Kamu ngga pernah tau perasaan aku yang sebenarnya. Kalo aku boleh jujur, dari dulu aku...”
“Ka Wid...” Kata Nanda memotong perkataanku
Aku melihat ke arah Nanda, ia memberi isyarat kepadaku untuk langsung berbicara di hadapan Bram. Aku mengangguk menyetujuinya lalu aku melangkah ke hadapannya.
“Bram...”
Ia melihat ke arahku dan seketika aku lemah tak berdaya, semua tulang yang ada di dalam tubuhku serasa mencair dna tak kuat lagi menahan badanku. Aku terduduk lemas melihatnya hari ini, bukan rasa senang yang aku dapatkan melainkan rasa tak percata ketika aku melihatnya.
“Bram, kamu kenapa?” Tanyaku dengan sangat lemah
Ia melihat ke arahku seraya tersenyum. Mataku sudah tak sanggup lagi menahan air mata, semuanya menetes dengan sangat cepat dan mengalir melewati pipiku. Semuanya berubah dalam sekejap dan semuanya terasa sangat berbeda sekarang. Nanda menghampiriku dan membawaku untuk duduk di hadapan Bram. Beberapa kali Nanda mencoba untuk menenangkanku dan aku berusaha sekuat mungkin untuk menghentikan air mata ini.
“Abang...” Kata Nanda
Ia melihat ke arah Nanda
“Abang masih inget ngga ini siapa?” Tanya Nanda
Ia melihat ke arahku dan kemudian ia tersenyum
“Widya... Widyanti Pratiwi...” Jawabnya
Dengan cepat aku menghampirinya lalu memeluknya, air mata ini masih tidak bisa dihentikan. Semuanya terurai begitu saja setelah menahan sejak lama, ia menyentuh pundakku dan mengusapnya secara perlahan.
“Kamu mau tau jawaban atas perasaan waktu itu?” Tanyaku lirih
Ia mengangguk pelan dan aku dapat merasakannya
“Aku suka sama kamu Bram, dan aku akan selalu cinta sama kamu...”
Denganmu, aku merasa nyaman hingga aku melupakan perasaanmu demi egoku. Darimu, aku merasa sebuah ketulusan cinta yang datang dari lubuk hati yang paling dalam. Bersamamu, aku akan terus berjuang demi cinta yang telah engkau berikan tanpa mengharapkan sebuah balasan.
.
.
.
.
.
.
Sebuah pesan singkat dari Widyanti Pratiwi atau yang lebih kita kenal dengan Widya
“Bram itu tidak BUTA!!!”
Kami berdiri di antara banyak pasang mata yang sudah siap dimanjakan oleh penampilan kami. Nada demi nada sudah mulai terdengar, aku mulai menggerakkan tangan dan juga kakiku sehalus mungkin mengikuti ritme.
Nada semakin meninggi dan gerakan semakin menyulitkan, namun semuanya tidak semenyulitan saat latihan. Hingga akhirnya semuanya yang menatap kami sedari tadi memberikan tepuk tangannya dengan sangat meriah. Aku bersama dengan rekan-rekanku sangat senang dengan apresiasi penonton di hari terakhir festival ini.
Aku dan juga rekan-rekanku sudah berganti pakaian menjadi baju biasa dan sedang berbincang setelah pertunjukkan usai, beberapa dari kami sedang membereskan perlengkapannya dan ada juga yang sudah pulang.
“Terima kasih pada penampilan terakhir hari ini, aku cukup senang dengan reaksi penonton yang sangat meriah.” Kata Ketua Tim
“Semua orang lebih fokus ke Widya, kau cukup bisa menarik perhatian orang banyak.” Kata Felipe sambil menepuk pundakku pelan
“Aku bukan apa-apa tanpa kalian dan semua kru yang telah bekerja keras selama festival ini berlangsung. Terima kasih semuanya.” KAtaku
“Apa yang akan kau lakukan setelah ini?” tanya Ketua Tim
“Aku akan pulang ke kampung halamanku...”
“Indonesia? Apa ada seseorang yang menunggumu di sana?” Tanya Anna
“Ada seseorang yang masih setia menungguku di sana dan lagipula aku sudah berjanji padanya untuk pulang.” Kataku
“Siapa orang yang beruntung itu? Apa dia pacarmu?” Tanya Felipe
“Dia adalah tunanganku...”
“Kau tidak pernah cerita kalau kau sudah memiliki tunangan.” Kata Ketua Tim
“Aku memang tidak pernah bercerita pada kalian karena dia tidak pernah mau mempublikasikan hubungannya ke orang banyak. Dan lagipula dia sosok yang pemalu sejak aku mengenalnya semasa sekolah dulu.” Jawabku
“Dia lelaki yang sangat beruntung bisa mendapatkan hatimu, kembalilah untuk menemuinya dan segerakan hubunganmu dengannya. Menikahlah agar kalian berdua berbahagia memiliki keluarga.” Kata Anna
Aku tersenyum mendengar perkataan itu dan tak lama kemudian kami berpisah untuk menuju rumah kami masing-masing. Kunaiki mobil kecil merah ini melalui beberapa persimpangan hingga kuhentikan laju mobil ini di sebuah toko yang menjual kue-kue dengan motif-motif yang menggemaskan. Aku masuk ke dalam toko itu dan melihat sekeliling hingga mataku tertuju pada sebuah kue berukuran sekelapan tangan dengan dekorasi piano hitam lengkap dengan tutsnya.
“Ada yang bisa kubantu Nona Manis?” Tanya seorang Ibu dari balik etalase kue
“Aku akan membeli kue piano itu...” Jawabku sambil menunjuk kue tersebut
“Pilihan yang baik, kau suka rasa dark chocolate dengan potongan wafer?” Kata Ibu tersebut
“Aku hanya menyukai pianonya saja tidak yang lain...” Jawabku lagi
“Teringat akan seseorang?” Tanya Ibu tersebut lalu memberikan kuenya padaku
“Tunanganku sedang menunggu di Benua jauh sana dan aku akan segera menemuinya...”
“Dan menikahlah...” Kata Ibu lalu tersenyum
Aku tersenyum untuk yang kesekian kalinya ketika seseorang menyuruhku untuk segera menikah. Setelah kubayar kue tersebut aku kembali melanjutkan perjalananku menuju apartemen dimana selama beberapa tahun belakangan aku tinggal seorang diri. Setibanya di apartemen langsung kubuka bungkusan kue tersebut, lalu aku mencoba untuk mengambil foto dari kue itu.
Sore ini langit cukup cerah dan dapat kulihat dengan jelas dari balik jendela kamarku, sebuah kue dekorasi piano ditemani secangkir coklat hangat sudah cukup untuk hari ini. Kulihat sebuah foto yang menempel di pintu kulkas dengan seksama, sebuah foto beberapa tahun lalu dimana aku merasa bahwa aku mencintainya.
Kuambil foto tersebut untuk kulihat lebih jelas, ada aku dan ada seseorang yang sudah berhasil membuatku percaya bahwa cinta itu bukan hanya sekedar obsesi melainkan ada cinta yang benar-benar tulus datang dari hati. Kuambil selembar kertas dari dalam tasku dan kusejajarkan dengan foto yang sudah kupegang.
“Bram, aku akan pulang...”
.
.
.
Beberapa jam sudah dilalui dan tak terasa navigator yang ada di hadapanku menunjukkan bahwa aku sudah tiba di Jakarta. Aku cukup merindukan keadaan ini, dimana cuacanya yang sedari dulu sudah bersahabat dan orang-orangnya yang sangat ramai.
Setelah melewati bagian imigrasi dan pengambilan koper, aku menunggu seseorang yang udah berjanji akan menjemputku. Tak membutuhkan waktu lama hingga ia datang menghampiriku. Sebuah pelukan hangat sebagai pembuka pertemuan kami kembali setelah beberapa tahun berpisah.
“Gimana pantai di sana? Apa lebih baik dari pantai sini?” Tanya Ajeng
“Ngga selalu lebih baik sih, kadang ombaknya ngga kalah sama pantai sini...” Jawabku
“Lo bakalan balik lagi ke sana?” Tanyanya lagi
“Ada urusan yang harus gue selesaiin dulu...” Kataku
“Bram?” Tanyanya menghentikan langkah kaki kami
Aku mengangguk dengan pasti. Kami melanjutkan perjalanan kami meninggalkan Bandara ini menuju sebuah tempat yang sudah tidak asing agi bagiku. Sebuah tempat dimana aku memiliki banyak cerita yang tersimpan di sana. Dan ada seseorang yang aku percaya masih menungguku meskipun aku meninggalkannya hanya demi karirku.
Beberapa jam melewati kemacetan pada siang menjelang sore ini hingga kami masuk ke dalam sebuah perumahan yang tidak asing bagiku. Beberapa rumah sudah kami lewati menuju sebuah pertigaan dan tepat diujung sana aku mengenal rumah besar itu. Ajeng menghentikan mobilnya di pinggir jalan tepat di depan rumah itu.
“Lo ngga mau ikut turun Jeng?” Tanyaku
“Gue nunggu undangan kalian aja nanti...” Jawabnya kemudian tersenyum
Aku pun ikut tersenyum mendengarnya. Setelah berpamitan dengan Ajeng, aku turun membawa koper milikku dan masuk ke dalam rumah tersebut. Tidak ada yang berbeda sejauh mataku memandang, kemudian aku mengentuk pintu yang ada di depanku beberapa kali. Pintu itu terbuka dan aku melihat seseorang yang cukup terkejut melihatku ada di sana.
“Ka Wid!” Katanya hampir tidak percaya
“Hai cantik, apa kabar kamu?” Kataku
Ia memelukku dengan erat untuk waktu yang cukup lama, kemudian ia melepaskan pelukannya dan kembali melihat ke arahku untuk yang kesekian kalinya.
“Ka Wid kemana aja? Udah berapa lama ngga ke sini?” Tanya Nanda
“Beberapa tahun aku ngejar impian aku Nda, dan sekarang aku kembali buat Abang kamu lagi. Mungkin Ka Wid minta dia buat ngelamar secepetnya.” Kataku
“Ka Wid serius? Mungkin Ka Wid ngobrol aja langsung sama Abang di atas...”
Aku menyetujui perkataan Nanda. Kami masuk ke dalam rumah dan menaiki anak tangga menuju sebuah kamar yang tidak akan pernah asing bagiku. Nanda membuka pintu tersebut dan aku mengikutinya dari belakang. Suasana yang tidak sedikitpun berubah, semuanya masih tertata rapih dengan tempat yang masih sama pula. Miniatur-miniatur mobil tua masih lengkap, sebuah plester yang masih menempel di dinding, dan di sampingnya terletak sebuah gitar akustik yang masih kukenal.
Di balkon itu aku kembali melihat sesosok lelaki yang sedang memandangi indahnya langit sore ini, kepulan asap tidak akan pernah hilang darinya. Aku percaya bahwa ia masih menungguku hingga saat ini. Aku melangkah dengan sangat pasti menuju ke arahnya, jantungku berdegup lebih cepat dibandingkan saat aku harus tampil di hadapan banyak orang.
“Kamu ngga pernah berubah ya, masih suka di balkon ini sambil minum kopi yang ngga pernah manis dan rokok yang ngga ada habisnya.” Kataku
Ia tidak menjawab pertanyaanku, ia masih terdiam begitu saja. Aku berpikiran bahwa ia marah keapdaku karena ini bukan kali pertama aku meninggalkannya lalu aku kembali begitu saja ke dalam kehidupannya yang sebenarnya aku tidak tau apa yang terjadi.
“Maafin aku Bram, waktu itu aku harus kembali menghilang demi cita-citaku. Aku tau itu egois dan ngga mikirin perasaan kamu, dan aku masih sadar akan satu hal. Kamu ngga pernah tau perasaan aku yang sebenarnya. Kalo aku boleh jujur, dari dulu aku...”
“Ka Wid...” Kata Nanda memotong perkataanku
Aku melihat ke arah Nanda, ia memberi isyarat kepadaku untuk langsung berbicara di hadapan Bram. Aku mengangguk menyetujuinya lalu aku melangkah ke hadapannya.
“Bram...”
Ia melihat ke arahku dan seketika aku lemah tak berdaya, semua tulang yang ada di dalam tubuhku serasa mencair dna tak kuat lagi menahan badanku. Aku terduduk lemas melihatnya hari ini, bukan rasa senang yang aku dapatkan melainkan rasa tak percata ketika aku melihatnya.
“Bram, kamu kenapa?” Tanyaku dengan sangat lemah
Ia melihat ke arahku seraya tersenyum. Mataku sudah tak sanggup lagi menahan air mata, semuanya menetes dengan sangat cepat dan mengalir melewati pipiku. Semuanya berubah dalam sekejap dan semuanya terasa sangat berbeda sekarang. Nanda menghampiriku dan membawaku untuk duduk di hadapan Bram. Beberapa kali Nanda mencoba untuk menenangkanku dan aku berusaha sekuat mungkin untuk menghentikan air mata ini.
“Abang...” Kata Nanda
Ia melihat ke arah Nanda
“Abang masih inget ngga ini siapa?” Tanya Nanda
Ia melihat ke arahku dan kemudian ia tersenyum
“Widya... Widyanti Pratiwi...” Jawabnya
Dengan cepat aku menghampirinya lalu memeluknya, air mata ini masih tidak bisa dihentikan. Semuanya terurai begitu saja setelah menahan sejak lama, ia menyentuh pundakku dan mengusapnya secara perlahan.
“Kamu mau tau jawaban atas perasaan waktu itu?” Tanyaku lirih
Ia mengangguk pelan dan aku dapat merasakannya
“Aku suka sama kamu Bram, dan aku akan selalu cinta sama kamu...”
Denganmu, aku merasa nyaman hingga aku melupakan perasaanmu demi egoku. Darimu, aku merasa sebuah ketulusan cinta yang datang dari lubuk hati yang paling dalam. Bersamamu, aku akan terus berjuang demi cinta yang telah engkau berikan tanpa mengharapkan sebuah balasan.
.
.
.
.
.
.
Sebuah pesan singkat dari Widyanti Pratiwi atau yang lebih kita kenal dengan Widya
“Bram itu tidak BUTA!!!”
TAMAT
©BeaverMoon Land, 2016
©BeaverMoon Land, 2016
khuman dan Herisyahrian memberi reputasi
2
Kutip
Balas