- Beranda
- Stories from the Heart
Aku dan Gadis Lugu
...
TS
spv7hqfj
Aku dan Gadis Lugu
SELAMAT DATANG

Cover by Agan Yushito13
Sebelumnya ane minta maaf buat para reader kalo tulisan ane acak acakan. Ane cuma berharap para readers bisa mengambil hikmah dari cerita ane ini.
Jangan lupa baca Sticky Rules SFTH ya gan? ane males kalo harus nulis ulang,
Jangan lupa juga buat ninggalin jejak sekedar ngasih kritik dan saran,
atau nebak2 jalan cerita BANTU RATE YA GAN hehehehe.
KASIH CENDOL JUGA BOLEH

ASALKAN JANGAN ADA BATA DIANTARA KITA GAN

AND THEN, DILARANG OOT

Spoiler for Top Thread:
Spoiler for CHAPTER 1:
Spoiler for CHAPTER 2:
Quote:
Diubah oleh spv7hqfj 22-07-2016 13:16
anasabila memberi reputasi
1
251.8K
902
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
spv7hqfj
#543
Eps. 31 - Ratna
“kamu gak ke kantin?” tanya Dodi.
“gak ah Di, males..” jawabku tanpa menoleh kearahnya. Memilih untuk tidur.
“sudahlah Bi, lupakan saja si Tika. Lama-lama aku kasian lho sama kamu. Sudah Tika pergi, Ehhhh sekarang Elissa sudah punya pacar juga. Apel gak dapet, jeruk juga gak dapet. Ckckckck…”
“terserah!”
“hadehhh.. yoweslah aku ke kantin dulu”
Entah mengapa akhir-akhir ini aku jadi sulit tidur. Minimal jam 1 dini hari aku baru bisa terlelap. Hal itu membuat rasa kantuk saat sekolah bertambah menjadi dua kali lipat.
Ternyata, tidak hanya aku yang lebih memilih tinggal di kelas. Ada beberapa murid yang sedang asik bercengkrama dengan teman-temannya. Aku ingin tidur, hanya itu. Kedua tangan ku lipat diatas meja untuk ku jadikan bantalan. “Ahhhh….” Dan kupejamkan mataku.
CETAAKKKK!!!!
Aduhh..!! “apa-apaan sih Eeeeeellll…..” kata-kataku terhenti saat melihat sosok wanita didepanku saat ini.
Seorang siswi, dengan potongan rambut sebahu sedikit bergelombang warna hitam. Dengan anting bulat sederhana berwarna keemasan di masing-masing telinganya. Kulit sawo matang. Ditambah dua gigi susu yang (maap) sedikit menonjol kedepan. Dia tersenyum kepadaku. Lebih tepatnya tersenyum mengerikan. Emmmhh…ada sedikit yang berbeda darinya. Ratna?? Bukan. Makhluk yang satu ini bukan bernama Ratna. Aku tidak mengenalnya.
“Sayaaaaaaaaaaaang….”
Tiba-tiba siswi tersebut memelukku. Menarik kepalaku kearah dadanya. Membuatku sulit untuk benafas. Sontak saja perkataan siswi tersebut membuat seisi kelas melihat kearah kami berdua.
“APphhhh…apphhh,,hahppp” aku berusaha untuk mengatur nafasku. Tak lama dia pun melepaskan pelukannya.
“Aku kangeeeeeeeeennnn……” kata siswi tersebut. Aku perhatikan dia secara seksama. Aku tidak mengenalnya. Sumpah!
“Kamu siapa?” tanyaku kepadanya.
CETAAKKKK!!!!! Lagi-lagi kepalaku di jitak. Bukan oleh Elissa, tetapi oleh siswi yang sekarang sedang berdiri dihadapanku.
“Aku calon istri kamu!!” jawabnya mantap.
WHAT!!!!!!!!!!????? Aku terpana setelah mendengar perkataannya barusan. Ini orang sudah gila kali ya? Baru saja datang sudah mengaku-ngaku calon istriku. Calon istriku hanya satu, satu!! Tika saja.
“Au ahh..” jawabku. Aku acuhkan saja orang gila ini. Dan melanjutkan tidurku lagi.
“iihhh…bangun! Bangun!” siswi tersebut menggoyang-goyangkan badanku agar aku bangun.
“iya iyaaaaaaa..” jawabku lemas.
“Nahhh gitu dong.”
Siswi tersebut sekarang duduk disebelahku. Menatapku dengan centil malu-malu kucing.
“Nanti pulang sekolah kerumahku ya? Orang tuaku juga ingin bertemu kamu Bi, sudah lama ndak ketemu.”
Dahiku berkerut setelah mendengar ajakan darinya. “makin gila aja nih anak” batinku.
“kamu siapa sih?” tanyaku heran.
Siswi tersebut tidak menjawab pertanyaanku, dia lebih memilih untuk mengusap alis kananku.
“ihhh apa apaan sih?” aku menepis tangannya.
“Inget bekas luka di alis kamu ndak?” tanya dia.
Alis? Bekas luka? Apa maksudnya? Lama ku berpikir dan akhirnya ku temukan jawabannya.
“KAMUUUUUU??????”
“iya iya iya..” jawabnya sambil mengangguk angukkan kepalanya tersenyum kepadaku.
“KAMUUUUU???
“ehem,,ehem.eheemm” masih dalam ekspresi yang sama seperti sebelumnya. Menunggu tebakan dariku.
“KAMU WONG GENDENG! (orang gila)” jawabku. Lalu kembali melipat kedaua tanganku dan tidur.
Ternyata dia tidak putus asa. Badanku kembali digoyang goyangkan olehnya.
“iiihhh banguuuunnnnn Bi banguuunn” rengeknya padaku.
Merasa sudah tidak tahan oleh perlakuannya kepadaku, tiba-tiba ada ide yang melintas di pikiranku. Ku lihat sekeliling kelas,
Aku beranjak dari tempat dudukku, berjalan menuju meja sebelahku, meja terdekat. Yang kebetulan ada seorang siswa sedang duduk dengan teman-temannya.
“Hooyy,,, Tono. Sori aku lupa, ayo ayo kita pergi” Aku menarik paksa tangan siswa tersebut dan mengajaknya keluar kelas. Meninggalkan orang gila yang tadi mengganggu tidurku.
--
“apa-apaan sih Bi? Tanya Tono yang tangannya sedang aku pegang dan kutarik. Agar tetap berjalan bersamaku.
“sssstt udah diem aja, nanti aku traktir makan dikantin Ok?” bujukku.
Alangkah terkejutnya diriku disaat aku menoleh kebelakang. Orang gila tadi mengikuti kami berdua.
ASTAGA! Bagaikan dikejar-kejar oleh hantu Valak.
“Ton, satuuuuu…duaaaaa…” aku memberi aba-aba kepada Tono.
“TIGA! “ dalam hitungan ketiga, aku lari menjauh dari hantu yang mengikutiku.
“TOBIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII!!!!!” Teriakan yang menggema sepanjan gedung kelas yang berderet. Teriakan hantu yang tiba-tiba datang menemuiku disiang bolong.
AAAAAARRRGGGGHHHHHHHH TOLOOOOOOOONG!!!!
Aku terbangun dari tidurku. Haduh. Ternyata hanya mimpi.
“TOBIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII” Dodi berteriak tepat di telingaku. Membuatku kaget dan terbangun dari tidurku. Ku usap mata mencoba untuk mengumpulkan sedikit demi sedikt nyawaku yang sebagian masih ada di alam mimpi.
“Edaaaann, tidur udah kayak kebo! Susah dibangunin! Tuh guru udah dateng” kata Dodi.
“oh…oh iya Di thanks” jawabku.
“Oh iya, tadi aku ketemu siswi sebelah, kamu dapet salam dari dia”
“siapa?” tanyaku sambil membuka tas, berusaha mengambil buku Fisika.
“emmhhh, siapa ya?? Ratna kalo ndak salah.”
“ooohhh…”
Pelajaran hari ini sangat membosankan. Seharian sampai pelajaran terkahir selesai aku hanya berpangku tangan mendengarkan guru ceramah. Tidak ada yang special.
-BEL TANDA PULANG SEKOLAH-
“duluan ya?”
“oke”
“jalan yuk maen kemana gitu”
“boleh-boleh. Aku juga lagi suntuk dirumah”
Yah itulah sedikit percakapan yang kudengar dari beberapa murid saat pelajaran terakhir selesai. Aku bereskan buku yang sedari tadi ada di mejaku, ku masukkan kedalam tas selempang milikku. Dan bergegas keluar kelas.
“Hai” sapa seorang murid.
“Ratna?” tanyaku agak ragu.
“iya, hehe. Jalan yuk? Hari ini ndak sibuk kan?” tanya ratna.
“ka..ka..kamu kok tau kelasku?”
“yaaaaa tauuuulaaahh kan dari kelas satu aku selalu memper…..” ratna menghentikan omongannya.
“memper…..?????” tanyaku.
“hehhe gpp, yuk jalan” ratna langsung menarik tanganku. Heran dengan diriku sendiri, mengapa aku tidak memberontak?
“Suiit..suiiittt.. sukses ya?” teriak seseorang dibelakangku. Ku menengok ke sumber suara, ternyata Dodi lah penyebabnya.
Aku tidak menjawab ejekannya. Hanya mengepalkan jari-jariku kearah Dodi.
“Mau kemana?” tanyaku kepada ratna.
“kerumahku” jawab ratna singkat.
“haaaaahhhh????”
“kenapa?”
“eh…emmmhh gpp hehe” jawabku.
Bukannya menuju tempat parkir untuk mengambil sepeda, Ratna malah membawaku keluar area sekolah dan berdiri di trotoar.
“Lhoo??? Katanya mau kerumah kamu? Kok sepedanya ndak diambil?
Ratna diam tak menjawab sambil melihat ke kanan dan kekiri. Sesekali dia mengeluarkan Hpnya dan mengetik sesuatu. Tak lama, tiba-tiba sebuah mobil sedan warna hitam ber-plat AB berhenti di depan kami.
“Masuk!” perintah Ratna.
“Lho??? Sepeda kamu?”
Ratna tidak menjawab pertanyaanku. Dia malah membuka pintu samping mobil dan mendorongku agar masuk.
-Didalam mobil-
“Mau kemana kita?” tanyaku. Aku serasa diculik.
“Diem aja! Gak usah banyak tanya.” Jawab Ratna tegas.
Waduh, bisa gawat kalo Tika tahu aku sedang diculik. Aku diam memandang pemandangan luar dari balik kaca mobil bagian kanan. Cukup lama dan akhirnya kami berdua sampai disebuah rumah dikawasan perumahan. Ratna membuka pintu mobil lalu menarik lagi tanganku sambil berkata .” ayo turun, udah sampai”
“Siang Non Ratna,” sapa seorang bapak-bapak. Kulihat dari tampilannya, sepertinya dia satpam penjaga rumah.
Ratna tidak membelas sapaan bapak-bapak tersebut. Dia hanya melempar senyum kepada bapak-bapak tersebut. Dari mobil hingga aku masuk kesebuah ruangan yang terbilang cukup luas, Ratna masih memegang tanganku. Aku seperti dihipnotis olehnya tanpa perlawanan.
Kulihar sekeliling ruangan tersebut. Penuh dengan bingkai foto yang memajang dirinya, sebuah meja belajar, tempat tidur dan TV. Tidak jauh berbeda denganku.
“Duduk!” perintah Ratna.
Akupun duduk di sebuah kasur. Mungkin ini adalah tempat tidur Ratna. Sekarang Ratna berdiri tepat didepanku.
“Buka!” perintahnya lagi,
“HAAAAAAAHHH???????” aku tidak percaya apa yang ratna barusan ucapkan.
-Bersambung-
“gak ah Di, males..” jawabku tanpa menoleh kearahnya. Memilih untuk tidur.
“sudahlah Bi, lupakan saja si Tika. Lama-lama aku kasian lho sama kamu. Sudah Tika pergi, Ehhhh sekarang Elissa sudah punya pacar juga. Apel gak dapet, jeruk juga gak dapet. Ckckckck…”
“terserah!”
“hadehhh.. yoweslah aku ke kantin dulu”
Entah mengapa akhir-akhir ini aku jadi sulit tidur. Minimal jam 1 dini hari aku baru bisa terlelap. Hal itu membuat rasa kantuk saat sekolah bertambah menjadi dua kali lipat.
Ternyata, tidak hanya aku yang lebih memilih tinggal di kelas. Ada beberapa murid yang sedang asik bercengkrama dengan teman-temannya. Aku ingin tidur, hanya itu. Kedua tangan ku lipat diatas meja untuk ku jadikan bantalan. “Ahhhh….” Dan kupejamkan mataku.
CETAAKKKK!!!!
Aduhh..!! “apa-apaan sih Eeeeeellll…..” kata-kataku terhenti saat melihat sosok wanita didepanku saat ini.
Seorang siswi, dengan potongan rambut sebahu sedikit bergelombang warna hitam. Dengan anting bulat sederhana berwarna keemasan di masing-masing telinganya. Kulit sawo matang. Ditambah dua gigi susu yang (maap) sedikit menonjol kedepan. Dia tersenyum kepadaku. Lebih tepatnya tersenyum mengerikan. Emmmhh…ada sedikit yang berbeda darinya. Ratna?? Bukan. Makhluk yang satu ini bukan bernama Ratna. Aku tidak mengenalnya.
“Sayaaaaaaaaaaaang….”
Tiba-tiba siswi tersebut memelukku. Menarik kepalaku kearah dadanya. Membuatku sulit untuk benafas. Sontak saja perkataan siswi tersebut membuat seisi kelas melihat kearah kami berdua.
“APphhhh…apphhh,,hahppp” aku berusaha untuk mengatur nafasku. Tak lama dia pun melepaskan pelukannya.
“Aku kangeeeeeeeeennnn……” kata siswi tersebut. Aku perhatikan dia secara seksama. Aku tidak mengenalnya. Sumpah!
“Kamu siapa?” tanyaku kepadanya.
CETAAKKKK!!!!! Lagi-lagi kepalaku di jitak. Bukan oleh Elissa, tetapi oleh siswi yang sekarang sedang berdiri dihadapanku.
“Aku calon istri kamu!!” jawabnya mantap.
WHAT!!!!!!!!!!????? Aku terpana setelah mendengar perkataannya barusan. Ini orang sudah gila kali ya? Baru saja datang sudah mengaku-ngaku calon istriku. Calon istriku hanya satu, satu!! Tika saja.
“Au ahh..” jawabku. Aku acuhkan saja orang gila ini. Dan melanjutkan tidurku lagi.
“iihhh…bangun! Bangun!” siswi tersebut menggoyang-goyangkan badanku agar aku bangun.
“iya iyaaaaaaa..” jawabku lemas.
“Nahhh gitu dong.”
Siswi tersebut sekarang duduk disebelahku. Menatapku dengan centil malu-malu kucing.
“Nanti pulang sekolah kerumahku ya? Orang tuaku juga ingin bertemu kamu Bi, sudah lama ndak ketemu.”
Dahiku berkerut setelah mendengar ajakan darinya. “makin gila aja nih anak” batinku.
“kamu siapa sih?” tanyaku heran.
Siswi tersebut tidak menjawab pertanyaanku, dia lebih memilih untuk mengusap alis kananku.
“ihhh apa apaan sih?” aku menepis tangannya.
“Inget bekas luka di alis kamu ndak?” tanya dia.
Alis? Bekas luka? Apa maksudnya? Lama ku berpikir dan akhirnya ku temukan jawabannya.
“KAMUUUUUU??????”
“iya iya iya..” jawabnya sambil mengangguk angukkan kepalanya tersenyum kepadaku.
“KAMUUUUU???
“ehem,,ehem.eheemm” masih dalam ekspresi yang sama seperti sebelumnya. Menunggu tebakan dariku.
“KAMU WONG GENDENG! (orang gila)” jawabku. Lalu kembali melipat kedaua tanganku dan tidur.
Ternyata dia tidak putus asa. Badanku kembali digoyang goyangkan olehnya.
“iiihhh banguuuunnnnn Bi banguuunn” rengeknya padaku.
Merasa sudah tidak tahan oleh perlakuannya kepadaku, tiba-tiba ada ide yang melintas di pikiranku. Ku lihat sekeliling kelas,
Aku beranjak dari tempat dudukku, berjalan menuju meja sebelahku, meja terdekat. Yang kebetulan ada seorang siswa sedang duduk dengan teman-temannya.
“Hooyy,,, Tono. Sori aku lupa, ayo ayo kita pergi” Aku menarik paksa tangan siswa tersebut dan mengajaknya keluar kelas. Meninggalkan orang gila yang tadi mengganggu tidurku.
--
“apa-apaan sih Bi? Tanya Tono yang tangannya sedang aku pegang dan kutarik. Agar tetap berjalan bersamaku.
“sssstt udah diem aja, nanti aku traktir makan dikantin Ok?” bujukku.
Alangkah terkejutnya diriku disaat aku menoleh kebelakang. Orang gila tadi mengikuti kami berdua.
ASTAGA! Bagaikan dikejar-kejar oleh hantu Valak.
“Ton, satuuuuu…duaaaaa…” aku memberi aba-aba kepada Tono.
“TIGA! “ dalam hitungan ketiga, aku lari menjauh dari hantu yang mengikutiku.
“TOBIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII!!!!!” Teriakan yang menggema sepanjan gedung kelas yang berderet. Teriakan hantu yang tiba-tiba datang menemuiku disiang bolong.
AAAAAARRRGGGGHHHHHHHH TOLOOOOOOOONG!!!!
Aku terbangun dari tidurku. Haduh. Ternyata hanya mimpi.
“TOBIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII” Dodi berteriak tepat di telingaku. Membuatku kaget dan terbangun dari tidurku. Ku usap mata mencoba untuk mengumpulkan sedikit demi sedikt nyawaku yang sebagian masih ada di alam mimpi.
“Edaaaann, tidur udah kayak kebo! Susah dibangunin! Tuh guru udah dateng” kata Dodi.
“oh…oh iya Di thanks” jawabku.
“Oh iya, tadi aku ketemu siswi sebelah, kamu dapet salam dari dia”
“siapa?” tanyaku sambil membuka tas, berusaha mengambil buku Fisika.
“emmhhh, siapa ya?? Ratna kalo ndak salah.”
“ooohhh…”
Pelajaran hari ini sangat membosankan. Seharian sampai pelajaran terkahir selesai aku hanya berpangku tangan mendengarkan guru ceramah. Tidak ada yang special.
-BEL TANDA PULANG SEKOLAH-
“duluan ya?”
“oke”
“jalan yuk maen kemana gitu”
“boleh-boleh. Aku juga lagi suntuk dirumah”
Yah itulah sedikit percakapan yang kudengar dari beberapa murid saat pelajaran terakhir selesai. Aku bereskan buku yang sedari tadi ada di mejaku, ku masukkan kedalam tas selempang milikku. Dan bergegas keluar kelas.
“Hai” sapa seorang murid.
“Ratna?” tanyaku agak ragu.
“iya, hehe. Jalan yuk? Hari ini ndak sibuk kan?” tanya ratna.
“ka..ka..kamu kok tau kelasku?”
“yaaaaa tauuuulaaahh kan dari kelas satu aku selalu memper…..” ratna menghentikan omongannya.
“memper…..?????” tanyaku.
“hehhe gpp, yuk jalan” ratna langsung menarik tanganku. Heran dengan diriku sendiri, mengapa aku tidak memberontak?
“Suiit..suiiittt.. sukses ya?” teriak seseorang dibelakangku. Ku menengok ke sumber suara, ternyata Dodi lah penyebabnya.
Aku tidak menjawab ejekannya. Hanya mengepalkan jari-jariku kearah Dodi.
“Mau kemana?” tanyaku kepada ratna.
“kerumahku” jawab ratna singkat.
“haaaaahhhh????”
“kenapa?”
“eh…emmmhh gpp hehe” jawabku.
Bukannya menuju tempat parkir untuk mengambil sepeda, Ratna malah membawaku keluar area sekolah dan berdiri di trotoar.
“Lhoo??? Katanya mau kerumah kamu? Kok sepedanya ndak diambil?
Ratna diam tak menjawab sambil melihat ke kanan dan kekiri. Sesekali dia mengeluarkan Hpnya dan mengetik sesuatu. Tak lama, tiba-tiba sebuah mobil sedan warna hitam ber-plat AB berhenti di depan kami.
“Masuk!” perintah Ratna.
“Lho??? Sepeda kamu?”
Ratna tidak menjawab pertanyaanku. Dia malah membuka pintu samping mobil dan mendorongku agar masuk.
-Didalam mobil-
“Mau kemana kita?” tanyaku. Aku serasa diculik.
“Diem aja! Gak usah banyak tanya.” Jawab Ratna tegas.
Waduh, bisa gawat kalo Tika tahu aku sedang diculik. Aku diam memandang pemandangan luar dari balik kaca mobil bagian kanan. Cukup lama dan akhirnya kami berdua sampai disebuah rumah dikawasan perumahan. Ratna membuka pintu mobil lalu menarik lagi tanganku sambil berkata .” ayo turun, udah sampai”
“Siang Non Ratna,” sapa seorang bapak-bapak. Kulihat dari tampilannya, sepertinya dia satpam penjaga rumah.
Ratna tidak membelas sapaan bapak-bapak tersebut. Dia hanya melempar senyum kepada bapak-bapak tersebut. Dari mobil hingga aku masuk kesebuah ruangan yang terbilang cukup luas, Ratna masih memegang tanganku. Aku seperti dihipnotis olehnya tanpa perlawanan.
Kulihar sekeliling ruangan tersebut. Penuh dengan bingkai foto yang memajang dirinya, sebuah meja belajar, tempat tidur dan TV. Tidak jauh berbeda denganku.
“Duduk!” perintah Ratna.
Akupun duduk di sebuah kasur. Mungkin ini adalah tempat tidur Ratna. Sekarang Ratna berdiri tepat didepanku.
“Buka!” perintahnya lagi,
“HAAAAAAAHHH???????” aku tidak percaya apa yang ratna barusan ucapkan.
-Bersambung-
JabLai cOY dan fabillillah memberi reputasi
2