- Beranda
- Stories from the Heart
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
...
TS
beavermoon
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
Selamat datang di BeaverMoon Land
Sudah lama tak berjumpa dengan halaman ini dan biasanya cuma liat info-info HT doang.
Dan pada akhirnya ane kembali dengan membawa kisah yang ngga terlalu bagus

Spoiler for Tanya Jawab:
Q : Bang bakalan panen kentang lagi ngga?"
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)
Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)

Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
Jadi buat agan dan aganwati sekalian yang mau mengikuti thread ini seharusnya baca AKU, KAMU, DAN LEMONterlebih dahulu. Cuma kalo mau baca ini dulu ya nggapapa ngga ada larangannya

Selamat membaca

Spoiler for INDEX:
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Diubah oleh beavermoon 28-01-2020 19:37
i4munited dan 13 lainnya memberi reputasi
14
77.9K
Kutip
417
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#178
Episode 15...
Ternyata ini update terakhir di cerita ini...
Terima kasih buat para pembaca yang nyata maupun "tidak" atas partisipasinya selama cerita ini berlangsung, dan mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.
Biasanya sih kalo akhir cerita ada tag "TAMAT", berarti kalo ngga ada.................
Ternyata ini update terakhir di cerita ini...
Terima kasih buat para pembaca yang nyata maupun "tidak" atas partisipasinya selama cerita ini berlangsung, dan mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.
Biasanya sih kalo akhir cerita ada tag "TAMAT", berarti kalo ngga ada.................
Spoiler for Episode 15:
Kemarau setahun terganti hanya dengan hujan sehari, badai sehari terganti hanya dengan pelangi yang beberapa saat, beberapa kesalahan dapat tergantikan hanya dengan sebuah kata maaf yang tulus. Beberapa penggambaran yang dapat aku simpulkan selama beberapa hari belakangan ini, dimana aku kembali bertemu dengan orang yang pernah aku cinta dan masih aku cinta. Masalah demi masalah yang pernah kami alami dulu dapat terlupakan dan berganti menjadi sebuah kenangan yang lebih indah.
Dan pagi ini aku menyadari bahwa cinta mungkin tak harus memiliki, cinta yang tulus dapat membiarkannya pergi entah kemana dan tidak tau kapan untuk kembali. Namun sebuah kepercayaan dan kesetiaan akan selalu membimbing cinta yang tulus pada jalan yang benar dan waktu yang tepat.
Bukan sebuah alasan ketika aku hanya berdiam diri di kamar ini, bukan sebuah alasan ketika aku tau dia akan kembali pergi dan tidak mencegahnya kembali. Karena aku percaya pada suatu keyakinan dimana suatu saat jika waktu sudah menunjukkan waktunya dia akan kembali dan mungkin akan membawa cerita cinta yang lebih indah dan mungkin akan menyentuh kata sempurna, namun kesempurnaan yang ku tau hanya milik Tuhan semata.
Kulihat dua amplop yang sedang kupegang ini, aku sudah mengetahui amplop yang sudah terbuka. Sebuah surat dan juga sebuah CD yang menjadi saksi bisu pada cerita cintaku, dan satu lagi yang masih menyisakan misteri yang belum terpecahkan hingga saat ini. Sudah beberapa kali aku mencoba untuk membukanya namun hatiku masih ragu entah kenapa.
Aku berjalan menelusuri kamarku untuk kembali mengingat memori-memori yang mungkin masih dapat muncul ke otakku untuk beberapa saat hingga akhirnya kutinggalkan kamar ini menuju halaman depan rumaku. Suasana yang masih hening membuatku cukup nyaman, dan kemudian kunyalakan lagi sebatang rokok ini.
Aku duduk di pinggir kolam dan kumasukan kedua kakiku ke dalamnya, kubuka kembali buku misterius ini yang seharusnya sudah kuselesaikan sejak beberapa hari yang lalu namun waktu itu kedatangan Widya pada malam hari membuatku berhenti untuk membacanya. Dan saat ini aku dapat menyelesaikannya dengan santai karena Widya sudah tidak akan kembali ke rumah ini lagi dengan senyumannya yang berpredikat mematikan.
“Dua lembar lagi...” Kataku seorang diri
Lagi dan lagi, sebuah kisah dengan akhir yang hampir sama dengan apa yang kujalani dalam hidupku. Sebuah perpisahan yang mengharukan menjadi penutup pada buku misterius ini. Keikhlasan dalam menjalani sebuah hubungan sebenarnya dapat saling menguatkan satu sama lain, meski akhirnya tidak bisa kita tebak dan tidak bisa kita pilih. Tuhan telah merencakan ini semua dan memang benar, kita hanya bisa mengikuti Tuhan yang berlakon sebagai sutradara, penulis, editor, dan juga produser. Peran yang kita mainkan sudah ia rencanakan dan ketika peran kita sudah habis pasti akan ada sebuah peran yang lebih baik di masa yang akan datang. Sebuah masa dimana kita kembali dikumpulkan pada orang-orang yang kita cintai di kehidupan berikutnya.
Kututup buku misterius ini dan aku sangat berterima kasih kepada siapapun orang yang telah membuat cerita ini hingga aku bisa semakin belajar mengenai sebuah keikhlasan dalam menjalani kehidupan kita hingga nanti aku akan bisa mengerti apa itu keikhlasan yang sesungguhnya.
Tidak lama kemudian datanglah Reza dengan mobilnya yang sangat mewah masuk ke halaman rumahku, ia datang bersama dengan Nanda yang pulang lebih awal pada hari ini entah karena apa. Nanda melambaikan tangannya padaku kemudian masuk ke dalam rumah, sedangkan Reza menghampiriku dan ikut duduk di sampingku.
“Udah lu buka amplopnya?” Tanya Reza
Aku menggelengkan kepalaku dan mungkin ini saatnya aku membuka amplop hitam ini untuk yang kedua kalinya. Beberapa tebakan sudah ada dalam benakku, namun aku tidak terlalu berharap dengan apa yang kutebak. Kubuka amplop ini dan lagi-lagi aku menemukan sebuah surat yang dituliskan menggunakan pulpen bertinta biru khas Widya. Kubaca kata demi kata dengan seksama agar aku tidak kehilangan momen yang berharga dari Widya.
Kuambil sesuatu yang ada di dalam amplop hitam ini lagi, dan aku menemukan dua kertas dengan gambarnya yang sangat jelas. Yang pertama terlihat seperti sebuah tiket pesawat menuju paris dengan namaku disana dan tanggal keberangkatannya, yang kedua terlihat seperti tiket pagelaran yang diadakan di Pantai Azur, Cannes.
“Jadi lu bakalan pergi ke sana?” Tanya Reza
Kumasukkan benda-benda ini ke dalam amplop lagi dan kemudian aku menggelengkan kepalaku. Sebuah keputusan yang telah kupilih dan aku akan percaya dengan apa yang akan terjadi setelah aku memilih untuk tidak pergi menemui Widya di sana.
“Dan kayaknya gue bakalan berhenti ngejar Milka lagi...” Kata Reza
“Loh kenapa? Kan udah deket lagi.” Tanyaku heran
“Belajar dari apa yang udah lu alamin dan itu semua menjadi pelajaran buat gue. Gue yakin kalo emang kita dikasih waktu buat ketemu lagi, maka di saat itulah gue akan menyatakan semuanya.” Reza menjelaskan
Aku hanya bisa tersenyum mendengar apa perkataan dari Reza dan aku akan mendukung apa yang telah ia pilih. Kupandangi langit yang sudah menjelang siang ini dan dengan cepat aku mendorong Reza masuk ke dalam kolam, aku ikut menyusulnya untuk masuk ke dalam kolam berenang.
“Gila lu ya berenang siang-siang!” Protes Reza
“Welcome to the new life!!!” Kataku
Nanda yang melihat itu ikut masuk ke dalam kolam berenang dan membuat kami bertiga tertawa dengan lepasnya. Sesuatu yang baru dapat menjadi pembuka pada kehidupan yang baru pula. Kebahagiaan dapat muncul dari mana saja dan kapan saja, setidaknya masih ada orang yang setia di samping kita untuk mendukung apa yang kita kerjakan baik itu keluarga, sahabat atau siapapun.
Dan sore yang sudah bersiap menuju malam ini aku dan Reza sudah bersiap-siap untuk pergi ke sebuah tempat yang tidak asing lagi bagi kita. Kulajukan mobil tuaku menuju kafe langganan kami. Suasana yang masih sepi membuat Barista kafe ini cukup dikejutkan dengan kedatanganku bersama dengan Reza yang lebih awal.
Setelah memesan minuman dan beberapa cemilan, kami berbincang bersama di meja yang menghadap langsung menuju Barista tersebut. Hingga akhirnya pintu kafe ini terbuka, mataku dan juga Reza tertuju pada sekumpulan wanita yang masuk ke dalam kafe ini dan duduk tidak jauh dari tempat kami.
“Lu mau yang mana? Gue yang baju pink dikuncir kuda deh...” Kata Reza
“Masalahnya itu cewe mau ngga sama lu?” Tanyaku
“Yah lu mah gitu sih...” Kata Reza sambil memukulku pelan
Dan inilah akhirnya dimana dua orang sahabat yang saling menghibur satu sama lain mengakhiri kisah cinta mereka dengan hampir sempurna. Reza mencoba untuk berkenalan dengan salah satu dari kumpulan wanita-wanita itu dengan caranya yang tentu saja membuatku tertawa. Entah dia berhasil atau gagal aku tidak perduli, usahanya patut diacungi jempol.
Kulihat sekeliling kafe ini, dimana aku pernah bersama dengan Widya beberapa tahun lalu, dimana aku masih sempat bersamanya beberapa hari yang lalu, hingga saat ini ia sudah tidak bersamaku lagi untuk mengejar cita-citanya. Widya, bawalah pergi cintaku dan ajaklah cintaku untuk menari-nari bersamamu di sana.
.
.
.
Malam ini aku sudah bersiap-siap menuju kafe seperti biasanya, rumah sudah dalam keadaan sepi. Ayah dan juga Ibu sudah pergi, diikuti pula dengan Nanda yang sudah pergi dengan pacar barunya. Kunyalakan mobil tuaku dan melaju dengan kecepatan sedang. Kuparkirkan mobilku dan kemudian masuk ke dalam dengan keadaan yang sudah cukup ramai seperti malam minggu biasanya. Aku duduk di tempat seperti biasanyan dan memesan kopi hitam dengan takaran gula yang selalu sama, hanya seujung sendok saja. Aku mulai berbincang dengan Barista kafe ini dengan santainya, hingga kedatangan tamu wanita yang membuat Barista kafe ini sedikit sibuk.
“Mas, Lemon tea satu gulanya seujung sendok.” Katanya
Aku cukup terkejut melihat wanita itu, dan aku menyadari bahwa aku pernah bertemu dengannya di kampus bukan untuk yang pertama kalinya.
“Yang tadi di kampus kan?” Tanyaku
“Yang tadi ngelempar kaleng ke tong sampah kan?” Tanyanya balik kepadaku
“Iya, maaf soal kejadian tadi sore.” Kataku
Ia mengangguk dan tersenyum kepadaku.
“Bram...” Kataku mengulurkan tanganku
“Dinda...” Katanya menjabat tanganku
Sebuah awal yang baru dengan orang-orang yang baru, mungkin ini akan menjadi sebuah awal dimana kehidupanku akan kembali berlanjut. Indah atau tidaknya tergantung kita menyikapinya, karena kita hanya pemeran yang sudah diarahkan oleh penulis, sutradara, editor dan juga produser yang berkualitas yaitu Tuhan.
Dan pagi ini aku menyadari bahwa cinta mungkin tak harus memiliki, cinta yang tulus dapat membiarkannya pergi entah kemana dan tidak tau kapan untuk kembali. Namun sebuah kepercayaan dan kesetiaan akan selalu membimbing cinta yang tulus pada jalan yang benar dan waktu yang tepat.
Bukan sebuah alasan ketika aku hanya berdiam diri di kamar ini, bukan sebuah alasan ketika aku tau dia akan kembali pergi dan tidak mencegahnya kembali. Karena aku percaya pada suatu keyakinan dimana suatu saat jika waktu sudah menunjukkan waktunya dia akan kembali dan mungkin akan membawa cerita cinta yang lebih indah dan mungkin akan menyentuh kata sempurna, namun kesempurnaan yang ku tau hanya milik Tuhan semata.
Kulihat dua amplop yang sedang kupegang ini, aku sudah mengetahui amplop yang sudah terbuka. Sebuah surat dan juga sebuah CD yang menjadi saksi bisu pada cerita cintaku, dan satu lagi yang masih menyisakan misteri yang belum terpecahkan hingga saat ini. Sudah beberapa kali aku mencoba untuk membukanya namun hatiku masih ragu entah kenapa.
Aku berjalan menelusuri kamarku untuk kembali mengingat memori-memori yang mungkin masih dapat muncul ke otakku untuk beberapa saat hingga akhirnya kutinggalkan kamar ini menuju halaman depan rumaku. Suasana yang masih hening membuatku cukup nyaman, dan kemudian kunyalakan lagi sebatang rokok ini.
Aku duduk di pinggir kolam dan kumasukan kedua kakiku ke dalamnya, kubuka kembali buku misterius ini yang seharusnya sudah kuselesaikan sejak beberapa hari yang lalu namun waktu itu kedatangan Widya pada malam hari membuatku berhenti untuk membacanya. Dan saat ini aku dapat menyelesaikannya dengan santai karena Widya sudah tidak akan kembali ke rumah ini lagi dengan senyumannya yang berpredikat mematikan.
“Dua lembar lagi...” Kataku seorang diri
Spoiler for Buku Harian:
Perpisahan bukanlah akhir dari segalanya, selalu ada awal yang baru untuk hidup kita yang lebuh baik dan itu semua sudah direncanakan oleh Tuhan dengan sebaik mungkin. Kita selalu mengeluh dengan apa yang datang pada hidup kita, padahal sudah jelas bahwa Tuhan yang merencanakan itu dan semuanya pasti memiliki tujuan untuk pembelajaran hidup kita. Aku percaya akan datangnya sebuah awal yang baru, dengan orang yang berbeda, dengan konteks yang berbeda, dan dengan akhir yang berbeda pula.
Aku turun dari mobil ini bersama dengan Mita dan kemudian kami berjalan bersama menuju tempat yang sudah diberitau oleh teman-teman kami, berjarak sekitar hampir lima puluh meter dari jalan raya akhirnya aku dan Mita tiba di tempat ini. Meskipun pada siang hari namun tempat ini sangatlah sejuk dengan pepohonan yang sangat rindang.
Aku mulai bersalaman dengan teman-temanku hingga akhirnya aku bersalaman dengan Inggar, ia tidak nampak menunjukkan wajahnya di hadapanku. Sebuah kain yang menutupi wajahnya dan juga kacamata hitam berhasil menyembuyikan kecantikannya pada siang hari ini.
“Akhirnya kamu tau semuanya...” Kata Inggar
“Apa harus ada lagi yang kamu sembunyiin dari aku?” Tanyaku kepadanya
Inggar hanya menggelengkan kepalanya kepadaku. Aku melihat ke arah surat yang sedang kupegang, surat yang sebelumnya telah Inggar berikan padaku beberapa hari yang lalu dan tepat di hari ini aku baru bisa membacanya.
Kubuka secara perlahan dan kemudian kubaca dengan seksama, tulisan yang sangat aku kenal dengan baik. Tulisan yang tidak terlalu rapih namun masih dapat dibaca adalah ciri khasnya, air mata ini sudah menetes tanpa perlu aku suruh lagi. Semuanya sudah sangat jelas dan semakin jelas dengan apa yang kulihat di depan mataku ini.
“Maafin Inggar Rin, Inggar ngga bermaksud buat nyembunyiin semuanya...” Kata Inggar
Aku masih terus membaca surat ini hingga selesai, dan kemudian kertas yang kubaca terlepas begitu saja karena aku semakin melemah. Aku baru sadar bahwa ternyata selama ini ada kejujuran yang tidak pernah aku ketahui dan tidak pernah aku tanyakan. Inggar mendekat kepadaku dan kemudian memelukku dengan tangisannya yang semakin menjadi-jadi, aku hanya bisa menatapnya dan membalas pelukannya.
“Maafin aku Rin...” Katanya lagi
“Semuanya udah terjadi Nggar, ngga ada yang salah.” Kataku
Pandanganku beralih pada sebuah gundukan tanah yang sudah ditaburi oleh bunga-bunga dan sebuah papan yang menancap pada gundukan tanah itu. Sebuah nama sudah tertulis dengan jelasnya dan aku sangat mengenal orang itu. Aku mengajak Inggar untuk mendekat ke arah gundukan tanah itu dan disana aku merasakan betapa sedihnya aku harus ditinggalkan orang yang berarti dalam kehidupanku.
Aku sudah tidak perduli dengan keadaan tanah yang masih lembab, aku sudah tidak perduli dengan kotornya baju dan celanaku, aku memilih untuk berlutut di depan makam ini. Sudah terbaring di dalamnya seseorang yang sudah lama aku kenal, sudah terbaring di dalamnya seseorang yang kucinta.
Kupegang papan yang menuliskan nama dari seseorang yang kukenal dan air mataku kembali menetes tanpa perlu kupaksa lagi. Ini bukan kali pertama aku kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupku. Papa sudah mengajarkan bagaimana aku harus bisa maju untuk terus melanjutkan kehidupanku hingga semua cita-citaku tercapai. Maka tidak perlu lagi kesedihan yang cukup mendalam ketika aku mengetahui bahwa ia telah pergi meninggalkanku untuk selamanya.
Semua orang sudah mulai pergi dari pemakaman ini, tersisa aku, Inggar dan juga Mita yang masih bersamaku pada siang ini. Aku bangun dan menyeka air mata yang sudah membasahi pipiku ini dan kemudian aku tersenyum.
“Ternyata kamu pinter bersandiwara ya, kenapa ngga ikut ekskul teater di sekolah malah milih basket?” Tanyaku pada gundukan tanah ini
Mita mendekapku dari belakang, ia mencoba untuk menenangkanku dan aku sangat menghargai apa yang telah ia lakukan. Aku kembali tersenyum melihat sebuah makam yang sudah terisi oleh jasad tak bernyawa, dan kali ini aku akan berusaha untuk lebih tegar menghadapi sebuah perpisahan yang entah kapan datangnya.
Siang ini menjadi sebuah perpisahan antara aku dan cinta pertamaku yang belum sempat aku perjuangkan dan aku nyatakan. Bukan sebuah alasan ketika aku tidak memperjuangkan cintaku padanya, namun aku percaya pada sebuah keyakinan bahwa ketika kita mencintai seseorang maka kita harus mengikhlaskannya untuk berada di manapun ia pergi. Sebuah ikatan terkadang membuat cinta yang kita punya berubah begitu saja karena tidak ada lagi ketulusan di dalamnya.
Sebuah keikhlasan mengajarkanku tentang itu, dan juga untuk beberapa hal yang akan datang pada hidupku. Aku harus bisa beradaptasi dengan semua yang baru, meninggalkan yang lama terdengar sangat egois namun itulah cara agar kita bisa melangkah maju untuk meraih apa yang kita cita-citakan.
Aku beserta Mita dan juga Inggar memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah baru milik Herman, ia sudah nyaman dengan suasana yang baru begitu juga aku yang harus terbiasa dengan suasana yang baru lagi.
“Rin, suratnya ngga lo bawa?” Tanya Mita
Aku hanya menggelengkan kepala dan kemudian kami meninggalkan pemakaman ini, bersama dengan kenangan yang pernah menghiasi hidupku.
Aku turun dari mobil ini bersama dengan Mita dan kemudian kami berjalan bersama menuju tempat yang sudah diberitau oleh teman-teman kami, berjarak sekitar hampir lima puluh meter dari jalan raya akhirnya aku dan Mita tiba di tempat ini. Meskipun pada siang hari namun tempat ini sangatlah sejuk dengan pepohonan yang sangat rindang.
Aku mulai bersalaman dengan teman-temanku hingga akhirnya aku bersalaman dengan Inggar, ia tidak nampak menunjukkan wajahnya di hadapanku. Sebuah kain yang menutupi wajahnya dan juga kacamata hitam berhasil menyembuyikan kecantikannya pada siang hari ini.
“Akhirnya kamu tau semuanya...” Kata Inggar
“Apa harus ada lagi yang kamu sembunyiin dari aku?” Tanyaku kepadanya
Inggar hanya menggelengkan kepalanya kepadaku. Aku melihat ke arah surat yang sedang kupegang, surat yang sebelumnya telah Inggar berikan padaku beberapa hari yang lalu dan tepat di hari ini aku baru bisa membacanya.
Kubuka secara perlahan dan kemudian kubaca dengan seksama, tulisan yang sangat aku kenal dengan baik. Tulisan yang tidak terlalu rapih namun masih dapat dibaca adalah ciri khasnya, air mata ini sudah menetes tanpa perlu aku suruh lagi. Semuanya sudah sangat jelas dan semakin jelas dengan apa yang kulihat di depan mataku ini.
“Maafin Inggar Rin, Inggar ngga bermaksud buat nyembunyiin semuanya...” Kata Inggar
Aku masih terus membaca surat ini hingga selesai, dan kemudian kertas yang kubaca terlepas begitu saja karena aku semakin melemah. Aku baru sadar bahwa ternyata selama ini ada kejujuran yang tidak pernah aku ketahui dan tidak pernah aku tanyakan. Inggar mendekat kepadaku dan kemudian memelukku dengan tangisannya yang semakin menjadi-jadi, aku hanya bisa menatapnya dan membalas pelukannya.
“Maafin aku Rin...” Katanya lagi
“Semuanya udah terjadi Nggar, ngga ada yang salah.” Kataku
Pandanganku beralih pada sebuah gundukan tanah yang sudah ditaburi oleh bunga-bunga dan sebuah papan yang menancap pada gundukan tanah itu. Sebuah nama sudah tertulis dengan jelasnya dan aku sangat mengenal orang itu. Aku mengajak Inggar untuk mendekat ke arah gundukan tanah itu dan disana aku merasakan betapa sedihnya aku harus ditinggalkan orang yang berarti dalam kehidupanku.
Aku sudah tidak perduli dengan keadaan tanah yang masih lembab, aku sudah tidak perduli dengan kotornya baju dan celanaku, aku memilih untuk berlutut di depan makam ini. Sudah terbaring di dalamnya seseorang yang sudah lama aku kenal, sudah terbaring di dalamnya seseorang yang kucinta.
Kupegang papan yang menuliskan nama dari seseorang yang kukenal dan air mataku kembali menetes tanpa perlu kupaksa lagi. Ini bukan kali pertama aku kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupku. Papa sudah mengajarkan bagaimana aku harus bisa maju untuk terus melanjutkan kehidupanku hingga semua cita-citaku tercapai. Maka tidak perlu lagi kesedihan yang cukup mendalam ketika aku mengetahui bahwa ia telah pergi meninggalkanku untuk selamanya.
Semua orang sudah mulai pergi dari pemakaman ini, tersisa aku, Inggar dan juga Mita yang masih bersamaku pada siang ini. Aku bangun dan menyeka air mata yang sudah membasahi pipiku ini dan kemudian aku tersenyum.
“Ternyata kamu pinter bersandiwara ya, kenapa ngga ikut ekskul teater di sekolah malah milih basket?” Tanyaku pada gundukan tanah ini
Mita mendekapku dari belakang, ia mencoba untuk menenangkanku dan aku sangat menghargai apa yang telah ia lakukan. Aku kembali tersenyum melihat sebuah makam yang sudah terisi oleh jasad tak bernyawa, dan kali ini aku akan berusaha untuk lebih tegar menghadapi sebuah perpisahan yang entah kapan datangnya.
Siang ini menjadi sebuah perpisahan antara aku dan cinta pertamaku yang belum sempat aku perjuangkan dan aku nyatakan. Bukan sebuah alasan ketika aku tidak memperjuangkan cintaku padanya, namun aku percaya pada sebuah keyakinan bahwa ketika kita mencintai seseorang maka kita harus mengikhlaskannya untuk berada di manapun ia pergi. Sebuah ikatan terkadang membuat cinta yang kita punya berubah begitu saja karena tidak ada lagi ketulusan di dalamnya.
Sebuah keikhlasan mengajarkanku tentang itu, dan juga untuk beberapa hal yang akan datang pada hidupku. Aku harus bisa beradaptasi dengan semua yang baru, meninggalkan yang lama terdengar sangat egois namun itulah cara agar kita bisa melangkah maju untuk meraih apa yang kita cita-citakan.
Aku beserta Mita dan juga Inggar memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah baru milik Herman, ia sudah nyaman dengan suasana yang baru begitu juga aku yang harus terbiasa dengan suasana yang baru lagi.
“Rin, suratnya ngga lo bawa?” Tanya Mita
Aku hanya menggelengkan kepala dan kemudian kami meninggalkan pemakaman ini, bersama dengan kenangan yang pernah menghiasi hidupku.
Spoiler for Surat Terakhir:
“Teruntuk Airin, seseorang yang sudah lama ku kenal...”
“Hai Rin, apa kabar? Udah lama ya kita ngga ketemu. Bukannya aku mau sombong tapi ada beberapa hal yang harus kamu tau.”
“Yang pertama kamu harus tau dulu Inggar itu siapa, dia bukan orang baru dalam kehidupan aku. Dia adalah saudara dari keluarga Ibuku dan kebetulan dia dipindahkan ke sini buat nemenin aku selama orang tua kita pergi kerja.”
“Yang selama ini kamu lihat mungkin dia anak baru yang pindah dan semakin deket sama aku, trust me it’s wrong!”
“Dan kamu masih inget pada malam dimana dia dateng ke rumah kamu? Dan dia bilang kalo dia suka sama aku? Itu cuma sandiwara yang aku buat. Aku sengaja nyuruh Inggar dateng ke rumah kamu supaya kamu ngga bisa mencintai aku lagi, sejujurnya aku tau apa yang kamu rasain selama ini.”
“Sandiwara yang aku buat untuk menutupi hal kedua yang harus kamu tau Rin, soal penyakit yang udah beberapa tahun ada di dalam tubuh aku. Aku ngga perlu kasih tau itu penyakit apa, yang jelas penyakit ini bikin aku jadi orang yang bener-bener lemah dan mungkin anak TK bisa lebih kuat dari aku.”
“Penyakit yang aku derita ini udah bikin fisik aku lemah ditambah lagi aku harus mengalami kerontokan pada rambut aku. Ini emang ngga lucu tapi aku ngga mau ketemu kamu ketika kepalaku mirip lampu taman yang ada di sekolah, bulet, licin dan mengkilap.”
“Aku turut berdua atas kepergian Papa kamu waktu itu, aku ngga bisa dateng karena aku udah ada di rumah sakit ngejalanin terapi yang harus aku jalanin, dan terapi itu bikin aku tambah sakit. Seluruh badan aku rasanya tersiksa, apalagi kepalaku yang semakin hari semakin pusing ngga karuan.”
“Dan mungkin ini adalah hal terakhir yang bisa aku sampaiin buat kamu, sejujurnya sedari kita pertama kenal aku udah ada rasa sama kamu. Aku baru bisa bilang sekarang kalo aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu.”
“Aku ngga punya cukup keberanian untuk bilang ini semua, karena aku masih ragu sama apa yang kamu rasain dan ternyata aku salah. Inggar tau kalo kamu suka sama aku, dia cerita semuanya ke aku. Namun semuanya udah terlambat, aku udah ngga bisa dateng ke rumah kamu buat nyatain semuanya. Selang yang ada di mulutku, beberapa kabel yang menempel pada badanku ngga ngizinin aku buat ngungkapin semuanya ke kamu. Maafin aku rin...”
“Seandainya waktu bisa diputar balik mungkin dengan cepat aku akan bilang bahwa aku suka sama kamu, but show must go on. Peranku di dunia ini udah abis, masih ada kamu yang harus nyelesaiin film karya Tuhan ini dan semoga setelah peran kamu selesai kamu bisa dapet penghargaan yang layak.”
“Ikhlaskan sebuah raga yang pergi, ikhlaskan sebuah nyawa yang telah melayang, dan ikhlaskan sebuah cinta yang membekas di hati.”
“Dari aku untukmu”
“Herman...”
“Hai Rin, apa kabar? Udah lama ya kita ngga ketemu. Bukannya aku mau sombong tapi ada beberapa hal yang harus kamu tau.”
“Yang pertama kamu harus tau dulu Inggar itu siapa, dia bukan orang baru dalam kehidupan aku. Dia adalah saudara dari keluarga Ibuku dan kebetulan dia dipindahkan ke sini buat nemenin aku selama orang tua kita pergi kerja.”
“Yang selama ini kamu lihat mungkin dia anak baru yang pindah dan semakin deket sama aku, trust me it’s wrong!”
“Dan kamu masih inget pada malam dimana dia dateng ke rumah kamu? Dan dia bilang kalo dia suka sama aku? Itu cuma sandiwara yang aku buat. Aku sengaja nyuruh Inggar dateng ke rumah kamu supaya kamu ngga bisa mencintai aku lagi, sejujurnya aku tau apa yang kamu rasain selama ini.”
“Sandiwara yang aku buat untuk menutupi hal kedua yang harus kamu tau Rin, soal penyakit yang udah beberapa tahun ada di dalam tubuh aku. Aku ngga perlu kasih tau itu penyakit apa, yang jelas penyakit ini bikin aku jadi orang yang bener-bener lemah dan mungkin anak TK bisa lebih kuat dari aku.”
“Penyakit yang aku derita ini udah bikin fisik aku lemah ditambah lagi aku harus mengalami kerontokan pada rambut aku. Ini emang ngga lucu tapi aku ngga mau ketemu kamu ketika kepalaku mirip lampu taman yang ada di sekolah, bulet, licin dan mengkilap.”
“Aku turut berdua atas kepergian Papa kamu waktu itu, aku ngga bisa dateng karena aku udah ada di rumah sakit ngejalanin terapi yang harus aku jalanin, dan terapi itu bikin aku tambah sakit. Seluruh badan aku rasanya tersiksa, apalagi kepalaku yang semakin hari semakin pusing ngga karuan.”
“Dan mungkin ini adalah hal terakhir yang bisa aku sampaiin buat kamu, sejujurnya sedari kita pertama kenal aku udah ada rasa sama kamu. Aku baru bisa bilang sekarang kalo aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu.”
“Aku ngga punya cukup keberanian untuk bilang ini semua, karena aku masih ragu sama apa yang kamu rasain dan ternyata aku salah. Inggar tau kalo kamu suka sama aku, dia cerita semuanya ke aku. Namun semuanya udah terlambat, aku udah ngga bisa dateng ke rumah kamu buat nyatain semuanya. Selang yang ada di mulutku, beberapa kabel yang menempel pada badanku ngga ngizinin aku buat ngungkapin semuanya ke kamu. Maafin aku rin...”
“Seandainya waktu bisa diputar balik mungkin dengan cepat aku akan bilang bahwa aku suka sama kamu, but show must go on. Peranku di dunia ini udah abis, masih ada kamu yang harus nyelesaiin film karya Tuhan ini dan semoga setelah peran kamu selesai kamu bisa dapet penghargaan yang layak.”
“Ikhlaskan sebuah raga yang pergi, ikhlaskan sebuah nyawa yang telah melayang, dan ikhlaskan sebuah cinta yang membekas di hati.”
“Dari aku untukmu”
“Herman...”
Lagi dan lagi, sebuah kisah dengan akhir yang hampir sama dengan apa yang kujalani dalam hidupku. Sebuah perpisahan yang mengharukan menjadi penutup pada buku misterius ini. Keikhlasan dalam menjalani sebuah hubungan sebenarnya dapat saling menguatkan satu sama lain, meski akhirnya tidak bisa kita tebak dan tidak bisa kita pilih. Tuhan telah merencakan ini semua dan memang benar, kita hanya bisa mengikuti Tuhan yang berlakon sebagai sutradara, penulis, editor, dan juga produser. Peran yang kita mainkan sudah ia rencanakan dan ketika peran kita sudah habis pasti akan ada sebuah peran yang lebih baik di masa yang akan datang. Sebuah masa dimana kita kembali dikumpulkan pada orang-orang yang kita cintai di kehidupan berikutnya.
Kututup buku misterius ini dan aku sangat berterima kasih kepada siapapun orang yang telah membuat cerita ini hingga aku bisa semakin belajar mengenai sebuah keikhlasan dalam menjalani kehidupan kita hingga nanti aku akan bisa mengerti apa itu keikhlasan yang sesungguhnya.
Tidak lama kemudian datanglah Reza dengan mobilnya yang sangat mewah masuk ke halaman rumahku, ia datang bersama dengan Nanda yang pulang lebih awal pada hari ini entah karena apa. Nanda melambaikan tangannya padaku kemudian masuk ke dalam rumah, sedangkan Reza menghampiriku dan ikut duduk di sampingku.
“Udah lu buka amplopnya?” Tanya Reza
Aku menggelengkan kepalaku dan mungkin ini saatnya aku membuka amplop hitam ini untuk yang kedua kalinya. Beberapa tebakan sudah ada dalam benakku, namun aku tidak terlalu berharap dengan apa yang kutebak. Kubuka amplop ini dan lagi-lagi aku menemukan sebuah surat yang dituliskan menggunakan pulpen bertinta biru khas Widya. Kubaca kata demi kata dengan seksama agar aku tidak kehilangan momen yang berharga dari Widya.
Spoiler for Surat Terakhir:
“Awalnya aku ragu untuk kembali, dan aku juga takut dengan keadaan yang pasti akan berbeda ketika dulu aku meninggalkan kamu tanpa adanya sebuah kejelasan. Hingga akhirnya keraguanku hilang ketika aku kembali melihatmu untuk yang pertama kalinya setelah aku menghilang.”
“Hai Bram, apa kabar? Kamu lagi baca surat ini sendiri atau sama siapa? Ngga penting sih lagi sama siapanya yang jelas kamu udah baca surat dari aku lagi.”
“Kata maaf mungkin bisa menghilangkan suatu permasalahan, tapi kata maaf mungkin ngga bisa untuk menutupi luka hati yang kembali terbuka.”
“Ternyata aku masih ngga bisa buat jujur ke kamu tentang semuanya. Dari mulai apa yang aku lakukan selama aku pergi, kenapa tiba-tiba aku kembali, dan bagaimana perasaan aku yang sebenarnya ke kamu. Aku ngga pernah ragu atas perasaan yang udah kamu tunjukkan saat itu, dan hingga aku kembali lagi aku percaya bahwa perasaan itu masih ada.”
“Maafin aku yang harus kembali menghilang dengan tiba-tiba dari kehidupanmu, maafin aku yang hanya bisa mengungkapkan semuanya lewat surat ini, dan maafin aku yang harus menggantungkan semua perasaan yang udah kami beri padaku.”
“Kalo boleh aku jujur, sebenarnya aku sangat menaruh hati sama kamu. Aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. Tapi aku ngga cukup nyali buat bilang itu semua ke kamu sebelum aku memutuskan untuk pergi lagi. Rasa sesal selalu ada, namun aku percaya akan satu hal. Bahwa sebuah perasaan dengan keikhlasan yang tulus dapat membimbing kita kejalan yang benar hingga waktu memberikan kita ruang untuk saling bertemu lagi. Dan aku akan membuktikan ini semua untuk yang kedua kalinya.”
“Aku pergi ke sebuah tempat dimana semua cita-citaku ada di sana, dan aku percaya bahwa karirku akan meninggi di sana. Lagi-lagi sebuah keegoisan diriku yang belum bisa tertahankan dan juga obsesiku yang masih melambung dengan tingginya, hingga aku mengorbankan perasaanku sendiri, aku mengorbankan kamu untuk cita-citaku.”
“Maaf Bram, ini yang udah aku pilih. Sebuah keraguan muncul ketika kamu ngga sama sekali berubah seperti waktu dulu dan jujur aku hampir aja ngebatalin kepergianku untuk menetap sama kamu di sini, tapi lagi dan lagi berbicara tentang ego dan obsesikku yang belum bisa tertahankan. Maaf Bram, sekali lagi maaf.”
“Dan mungkin jika kamu ada waktu, kamu bisa lihat bagaimana aku di tempatku dan cita-citaku. Ada di dalam amplop semuanya dan aku harap kamu bisa dateng dan lihat bagaimana aku menari-nari dengan indahnya seperti dulu.”
“Aku harap ini semua ngga merubah perasaanmu. Tapi aku ngga bisa maksain ini semua, kamu berhak untuk mencintai wanita lain. Satu yang aku percaya, bahwa aku akan selalu ada di hatimu. Begitu juga kamu yang akan selalu ada di hatiku.
“Tidak akan pernah terganti...”
“Je t’aime...”
“Widyanti Pratiwi, Your Ballerina.”
“Hai Bram, apa kabar? Kamu lagi baca surat ini sendiri atau sama siapa? Ngga penting sih lagi sama siapanya yang jelas kamu udah baca surat dari aku lagi.”
“Kata maaf mungkin bisa menghilangkan suatu permasalahan, tapi kata maaf mungkin ngga bisa untuk menutupi luka hati yang kembali terbuka.”
“Ternyata aku masih ngga bisa buat jujur ke kamu tentang semuanya. Dari mulai apa yang aku lakukan selama aku pergi, kenapa tiba-tiba aku kembali, dan bagaimana perasaan aku yang sebenarnya ke kamu. Aku ngga pernah ragu atas perasaan yang udah kamu tunjukkan saat itu, dan hingga aku kembali lagi aku percaya bahwa perasaan itu masih ada.”
“Maafin aku yang harus kembali menghilang dengan tiba-tiba dari kehidupanmu, maafin aku yang hanya bisa mengungkapkan semuanya lewat surat ini, dan maafin aku yang harus menggantungkan semua perasaan yang udah kami beri padaku.”
“Kalo boleh aku jujur, sebenarnya aku sangat menaruh hati sama kamu. Aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. Tapi aku ngga cukup nyali buat bilang itu semua ke kamu sebelum aku memutuskan untuk pergi lagi. Rasa sesal selalu ada, namun aku percaya akan satu hal. Bahwa sebuah perasaan dengan keikhlasan yang tulus dapat membimbing kita kejalan yang benar hingga waktu memberikan kita ruang untuk saling bertemu lagi. Dan aku akan membuktikan ini semua untuk yang kedua kalinya.”
“Aku pergi ke sebuah tempat dimana semua cita-citaku ada di sana, dan aku percaya bahwa karirku akan meninggi di sana. Lagi-lagi sebuah keegoisan diriku yang belum bisa tertahankan dan juga obsesiku yang masih melambung dengan tingginya, hingga aku mengorbankan perasaanku sendiri, aku mengorbankan kamu untuk cita-citaku.”
“Maaf Bram, ini yang udah aku pilih. Sebuah keraguan muncul ketika kamu ngga sama sekali berubah seperti waktu dulu dan jujur aku hampir aja ngebatalin kepergianku untuk menetap sama kamu di sini, tapi lagi dan lagi berbicara tentang ego dan obsesikku yang belum bisa tertahankan. Maaf Bram, sekali lagi maaf.”
“Dan mungkin jika kamu ada waktu, kamu bisa lihat bagaimana aku di tempatku dan cita-citaku. Ada di dalam amplop semuanya dan aku harap kamu bisa dateng dan lihat bagaimana aku menari-nari dengan indahnya seperti dulu.”
“Aku harap ini semua ngga merubah perasaanmu. Tapi aku ngga bisa maksain ini semua, kamu berhak untuk mencintai wanita lain. Satu yang aku percaya, bahwa aku akan selalu ada di hatimu. Begitu juga kamu yang akan selalu ada di hatiku.
“Tidak akan pernah terganti...”
“Je t’aime...”
“Widyanti Pratiwi, Your Ballerina.”
Kuambil sesuatu yang ada di dalam amplop hitam ini lagi, dan aku menemukan dua kertas dengan gambarnya yang sangat jelas. Yang pertama terlihat seperti sebuah tiket pesawat menuju paris dengan namaku disana dan tanggal keberangkatannya, yang kedua terlihat seperti tiket pagelaran yang diadakan di Pantai Azur, Cannes.
“Jadi lu bakalan pergi ke sana?” Tanya Reza
Kumasukkan benda-benda ini ke dalam amplop lagi dan kemudian aku menggelengkan kepalaku. Sebuah keputusan yang telah kupilih dan aku akan percaya dengan apa yang akan terjadi setelah aku memilih untuk tidak pergi menemui Widya di sana.
“Dan kayaknya gue bakalan berhenti ngejar Milka lagi...” Kata Reza
“Loh kenapa? Kan udah deket lagi.” Tanyaku heran
“Belajar dari apa yang udah lu alamin dan itu semua menjadi pelajaran buat gue. Gue yakin kalo emang kita dikasih waktu buat ketemu lagi, maka di saat itulah gue akan menyatakan semuanya.” Reza menjelaskan
Aku hanya bisa tersenyum mendengar apa perkataan dari Reza dan aku akan mendukung apa yang telah ia pilih. Kupandangi langit yang sudah menjelang siang ini dan dengan cepat aku mendorong Reza masuk ke dalam kolam, aku ikut menyusulnya untuk masuk ke dalam kolam berenang.
“Gila lu ya berenang siang-siang!” Protes Reza
“Welcome to the new life!!!” Kataku
Nanda yang melihat itu ikut masuk ke dalam kolam berenang dan membuat kami bertiga tertawa dengan lepasnya. Sesuatu yang baru dapat menjadi pembuka pada kehidupan yang baru pula. Kebahagiaan dapat muncul dari mana saja dan kapan saja, setidaknya masih ada orang yang setia di samping kita untuk mendukung apa yang kita kerjakan baik itu keluarga, sahabat atau siapapun.
Dan sore yang sudah bersiap menuju malam ini aku dan Reza sudah bersiap-siap untuk pergi ke sebuah tempat yang tidak asing lagi bagi kita. Kulajukan mobil tuaku menuju kafe langganan kami. Suasana yang masih sepi membuat Barista kafe ini cukup dikejutkan dengan kedatanganku bersama dengan Reza yang lebih awal.
Setelah memesan minuman dan beberapa cemilan, kami berbincang bersama di meja yang menghadap langsung menuju Barista tersebut. Hingga akhirnya pintu kafe ini terbuka, mataku dan juga Reza tertuju pada sekumpulan wanita yang masuk ke dalam kafe ini dan duduk tidak jauh dari tempat kami.
“Lu mau yang mana? Gue yang baju pink dikuncir kuda deh...” Kata Reza
“Masalahnya itu cewe mau ngga sama lu?” Tanyaku
“Yah lu mah gitu sih...” Kata Reza sambil memukulku pelan
Dan inilah akhirnya dimana dua orang sahabat yang saling menghibur satu sama lain mengakhiri kisah cinta mereka dengan hampir sempurna. Reza mencoba untuk berkenalan dengan salah satu dari kumpulan wanita-wanita itu dengan caranya yang tentu saja membuatku tertawa. Entah dia berhasil atau gagal aku tidak perduli, usahanya patut diacungi jempol.
Kulihat sekeliling kafe ini, dimana aku pernah bersama dengan Widya beberapa tahun lalu, dimana aku masih sempat bersamanya beberapa hari yang lalu, hingga saat ini ia sudah tidak bersamaku lagi untuk mengejar cita-citanya. Widya, bawalah pergi cintaku dan ajaklah cintaku untuk menari-nari bersamamu di sana.
.
.
.
Malam ini aku sudah bersiap-siap menuju kafe seperti biasanya, rumah sudah dalam keadaan sepi. Ayah dan juga Ibu sudah pergi, diikuti pula dengan Nanda yang sudah pergi dengan pacar barunya. Kunyalakan mobil tuaku dan melaju dengan kecepatan sedang. Kuparkirkan mobilku dan kemudian masuk ke dalam dengan keadaan yang sudah cukup ramai seperti malam minggu biasanya. Aku duduk di tempat seperti biasanyan dan memesan kopi hitam dengan takaran gula yang selalu sama, hanya seujung sendok saja. Aku mulai berbincang dengan Barista kafe ini dengan santainya, hingga kedatangan tamu wanita yang membuat Barista kafe ini sedikit sibuk.
“Mas, Lemon tea satu gulanya seujung sendok.” Katanya
Aku cukup terkejut melihat wanita itu, dan aku menyadari bahwa aku pernah bertemu dengannya di kampus bukan untuk yang pertama kalinya.
“Yang tadi di kampus kan?” Tanyaku
“Yang tadi ngelempar kaleng ke tong sampah kan?” Tanyanya balik kepadaku
“Iya, maaf soal kejadian tadi sore.” Kataku
Ia mengangguk dan tersenyum kepadaku.
“Bram...” Kataku mengulurkan tanganku
“Dinda...” Katanya menjabat tanganku
Sebuah awal yang baru dengan orang-orang yang baru, mungkin ini akan menjadi sebuah awal dimana kehidupanku akan kembali berlanjut. Indah atau tidaknya tergantung kita menyikapinya, karena kita hanya pemeran yang sudah diarahkan oleh penulis, sutradara, editor dan juga produser yang berkualitas yaitu Tuhan.
khuman dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas