- Beranda
- Stories from the Heart
Muda Liar dan Bebas (--)
...
TS
valerossi86
Muda Liar dan Bebas (--)
Tes... satu, dua, tiga...
Ehem... Gimana ya mulainya?
Oke, berhubung trit proyek serius ane lagi hiatus sementara, ane mau coba lanjutin proyek iseng ane yang aslinya ada di trit kandang beruang. Yup, ini bakal jadi join project antara ane dengan Om robe16. Yup, it's gonna be a multiple POV story. Jadi jangan pusing kalo ngerasa ceritanya rada aneh.
Apa? Ga ngerti maksud multiple POV story? Well, coba liat trit ini sebagai contohnya deh. Mudah-mudahan bisa dimengerti dengan baik.
Judulnya norak? Emang. Dan suka-suka aing athuuuu, atu da aing nu TS-na...
itu ada tanda minus dua di judul maksudnya apaan yes? ya artinya ini bukan trit plus-plus... masak gitu aja ga ngerti?
walaupun norak tapi agak familiar yes? ya emang hasil translate dari judul lagu ini sik:
Thank you banget Om awayayebuat banner image dari cerita ini...

Ceritanya sih simple aja: tentang dua anak muda kira-kira di umur akhir belasan atau maksimal ya 20 lah... muda, jenius, liar, tapi punya sisi kelam...
Ya udah lah ga usah berlama-lama, ane coba serahkan ke Om robe16 buat mulai mukadimah atau prolog dari cerita ini...
--------------------------------------------------------
Houston to Grizly... Houston to Grizly... Please commence the game at once, over.
--------------------------------------------------------
Indeks:
Adrenaline Junkies?!
Riot at Tango Lima
Double Trouble: Double The Fun
Cameo: Untitled Update
Cameo: The Police
Rendezvous Avec Dom, Jack & Jim
Chaos Magnet
Cameo: Pukulan Tapak Suci
Cameo: The Police #01
Intisari
kita udah gede kaleeeee
Cameo: The Police #02
Sehari Bersama Mina
Knowing You, Nin
STRDY NGHT VGLNT
Social EXperiment
Cameo: The Police #03
Beh... Plis deh!
Family Time
Obrolan Ga Penting di Sudut Utara Jakarta
30 x 15 = ...
Hidup itu Keras, Coy!
Letter "L"
bromance
Crap
Dia... Dia... Dia... Dji Sam Soe!
Ehem... Gimana ya mulainya?
Oke, berhubung trit proyek serius ane lagi hiatus sementara, ane mau coba lanjutin proyek iseng ane yang aslinya ada di trit kandang beruang. Yup, ini bakal jadi join project antara ane dengan Om robe16. Yup, it's gonna be a multiple POV story. Jadi jangan pusing kalo ngerasa ceritanya rada aneh.
Apa? Ga ngerti maksud multiple POV story? Well, coba liat trit ini sebagai contohnya deh. Mudah-mudahan bisa dimengerti dengan baik.
Judulnya norak? Emang. Dan suka-suka aing athuuuu, atu da aing nu TS-na...

itu ada tanda minus dua di judul maksudnya apaan yes? ya artinya ini bukan trit plus-plus... masak gitu aja ga ngerti?
walaupun norak tapi agak familiar yes? ya emang hasil translate dari judul lagu ini sik:
Thank you banget Om awayayebuat banner image dari cerita ini...


Ceritanya sih simple aja: tentang dua anak muda kira-kira di umur akhir belasan atau maksimal ya 20 lah... muda, jenius, liar, tapi punya sisi kelam...
Ya udah lah ga usah berlama-lama, ane coba serahkan ke Om robe16 buat mulai mukadimah atau prolog dari cerita ini...
--------------------------------------------------------
Houston to Grizly... Houston to Grizly... Please commence the game at once, over.
--------------------------------------------------------
Indeks:
Adrenaline Junkies?!
Riot at Tango Lima
Double Trouble: Double The Fun
Cameo: Untitled Update
Cameo: The Police
Rendezvous Avec Dom, Jack & Jim
Chaos Magnet
Cameo: Pukulan Tapak Suci
Cameo: The Police #01
Intisari
kita udah gede kaleeeee
Cameo: The Police #02
Sehari Bersama Mina
Knowing You, Nin
STRDY NGHT VGLNT
Social EXperiment
Cameo: The Police #03
Beh... Plis deh!
Family Time
Obrolan Ga Penting di Sudut Utara Jakarta
30 x 15 = ...
Hidup itu Keras, Coy!
Letter "L"
bromance
Crap
Dia... Dia... Dia... Dji Sam Soe!
Diubah oleh valerossi86 25-10-2016 17:29
pras219 dan anasabila memberi reputasi
2
64.7K
267
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
valerossi86
#131
STRDY NGHT VGLNT
"Jo...", ucap Mina lembut ke gua.
"Iya Min...",
"Tama sama Nindi bingung tuh mau ngapain malem mingguan. Katanya terserah kamu aja."
"Dasar Grizzly geblek..."
"Hihihihi... Maklumin aja lah Jo... Dia dari dulu emang begini... Badan boleh gede tapi kelakuan rada labil gitu..."
Dan tiba-tiba muncul ide gila di otak gua.
"Tapi beneran nih terserah gua?"
"Kata Tama sih gitu..."
"Oke... Gua lagi ada ide nih soalnya..."
"Kok gua jadi ngerasa ga enak ya Jo?"
"Katanya terserah gua?"
"..."
--------------------------------------------------------
Dua jam kemudian kita berempat udah ada lagi di apartemen Mina. Tadi gua juga sempet mampir ke rumah sebentar buat ngambil perlengkapan yang kira-kira dibutuhkan buat rencana gua malem ini. Dan sekalian juga nerima 'jatah tambahan' dari bokap sembari ngabarin mau jalan malem minggu lah.
Bukan, bukan duit yang gua maksud dengan jatah tambahan tadi. Maksud gua itu ya satu-dua gamparan dari bokap yang dilakukan dengan senyum. Kalo soal duit sih di rekening gua ada lumayan cukup lah dari ortu gua plus hasil dari kerja sampingan.
"Oke Jo... Rencana lu apaan buat malem minggu ini?", tanya Mawar ke gua.
"Well, tadi lu bilang terserah gua kan? Let's just make it straight: rencana ini seharusnya lebih cocok buat jadi rencana malem sabtu kita ketimbang rencana malem minggu, War."
"Rencana malem sabtu?", tanya Nindi bingung.
"Rencana malem minggu?", Mina gak kalah bingung.
"Wait a minute, wait a minute mate... Are you really sure about this?"
"Yup... You said that tonight's activity will be up to me..."
"Tapi kan kita sama cewek-cewek Jo..."
"Justru itu kenapa gua ngajakin lu pada ngelakuin ini... This plan needs 'em..."
"Bisa lu ceritain rencana lu dulu ga Jo ke kita?", potong Mina.
"Oke, ga masalah... Tapi sebelumnya tolong ganti baju kalian dengan ini...", kata gua sembari ngambil beberapa potong baju dari kantong besar yang tadi gua bawa dari rumah.
"Anjrit! Baju apaan nih?!", seru Nindi.
"Udah, ganti dulu nanti gua ceritain apa rencana gua!"
--------------------------------------------------------
Kita berempat sekarang udah ada di atas mobil MPV punya Mina yang sedang melaju ke salah satu zona paling gak aman di Jakarta kalo udah malem: Tanah Abang. Sepanjang perjalanan gua kontak salah satu kerabat deket gua yang biasa dagang di sekitar Pasar Tanah Abang. Sebut saja dia dengan Pak Cik.
Pak Cik ini pedagang kain skala kecil yang beruntung akhirnya bisa dapet lapak kecil di salah satu pojokan Pasar Tanah Abang. Doi masih ada hubungan darah sama bokap gua tapi doi sama sekali ga mau ngerepotin bokap gua. Gua kadang suka nganter nyokap belanja ke sini dan biasanya kita emang selalu sempetin mampir di lapaknya. Di situ keliatan hidupnya cukup struggle dengan kondisinya yang kayak gitu. Anaknya satu dan masih SD kelas dua. Kalo kita mampir ke kiosnya kita biasanya selalu beli apa yang sedang dia jual dengan harga yang pasti kita lebihin karena emang niatnya bantu. Tapi biasanya Pak Cik selalu berkeras dirinya ga perlu dibantu dan selalu berusaha buat kasih kembalian ke kita.
Yang ngehe, biasanya gak lama setelah kita mampir di lapak Pak Cik suka ada preman nyamperin lapaknya dan malakin dia karena dianggapnya baru abis nerima duit dari kita.
Beberapa kali setelah itu gua coba kontak Pak Cik buat tanya-tanya soal Preman yang suka malakin doi itu. Awalnya doi emang agak males jelasin ke gua, tapi setelah gua bilang gua cuma pingin tau aja dan gak lebih dari itu akhirnya dia cerita dikit tentang kelompok preman itu.
Dari sini sebenernya rencana malem ini mau gua mulai.
--------------------------------------------------------
Mobil Mina udah masuk ke Jalan Kebon Jati dan jalan pelan-pelan sembari nyisir gang-gang yang ada di sepanjang jalan itu. Dan pada salah satu gang, keliatan Target Operasi kita malem ini: pimpinan kelompok preman yang biasa malakin Pak Cik.Dan yang bikin kita seneng: dia lagi jalan kaki sendirian.
Setelah itu semua sesuai rencana gua. Mobil pura-pura dibikin mogok, terus Mina & Nindi yang udah pake dress yang sexy banget keluar mobil dan pura-pura panik. Gua & Mawar? Diem-diem turun dari mobil dan ngumpet. Jelas aja itu preman langsung tertarik sama Mina & Nindi dan keliatan mau modusin mereka dengan sok-sokan mau bantu betulin mobil.
Mina & Nindi juga di awal keliatan pura-pura takut sama itu preman dan akhirnya kepaksa nerima itu preman yang niat mau bantuin. Kemudian kap mesin dibuka dan itu preman mulai coba ngeliat apa yang salah dengan mesinnya.
Dan di sini giliran gua dan Mawar beraksi.
Kap mesin tau-tau gua tutup dan preman itu kejepit di situ. Gak cukup, kap mesin gua buka dan Mawar mukul tengkuk preman itu pake balok. Dan akhirnya dia pingsan.
Tapi kita agak apes juga soalnya pas kita mau angkut itu preman ke dalem mobil ada salah satu anak buahnya ngeliat dan mulai teriakin kita. Itu preman akhirnya bisa kita masukin juga ke mobil dan segera aja Mina ngebut ke arah Jalan KH. Mas Mansyur biar ga dikejar sama anak buahnya. Di dalem mobil preman itu mumpung masih pingsan kita iket pake kawat. Dan terus kita gerak terus ke arah Kasablanka sampe tembus ke arah BKT. Dan akhirnya kita sampe di tujuan kita: ex. bedeng proyek di salah satu sisi BKT.
--------------------------------------------------------
"Yo Coy! Bangun juga akhirnya lu...", kata gua ke preman itu pas dia akhirnya mulai buka mata.
"Anj*ng! Di mana nih gua? Siapa lu?", kata dia mencoba berontak dari iketannya di atas kursi.
"Kita? Anggep aja utusan Tuhan buat kasih lu mimpi buruk. Yah, itu juga kalo lu percaya Tuhan.", jawab Mawar.
Di dalem bedeng itu cuma ada gua dan Mawar. Nindi & Mina sengaja gua suruh keluar soalnya emang bakal ada sesuatu yang kejam terjadi di sini.
"T*i lah lu pada!", balas si Preman.
"Eh, nama lu siapa ya?"
"Ban*sat!"
Dan gua mulai kesel. Gua pegangin pipi preman itu dan maksa buat mulutnya kebuka dan nyekokin air dari botol.
"Gimana? Seger? Rada bau pesing ya?"
Langsung dia muntah.
"Makanya kalo ditanya tuh jawab.", ucap gua lembut.
"Jali! Gua biasa dipanggil Jali!"
"Oke deh Jal. Jal... Kayaknya lu lebih cocok disebut Dajal ya kalo inget segala kelakuan lu..."
"..."
"Sekarang kita olah raga dikit ya... Nama olah raganya 'papan air'... atau kalo di Amrik sonoh disebutnya water board... Bikin sehat dan seger nih olah raganya... Dan tenang aja, air yang dipake air bersih kok...", kata gua ke Jali.
Mawar nutupin muka Jali pake sehelai kain ukuran sarung tangan dan jambak rambutnya sampe dongak. Dan gua mulai beraksi dengan ngeuyur muka yang udah ketutup kain itu dengan air segalon.
Begitu kain dibuka keliatan muka Jali kesiksa banget kayak abis tenggelam gitu. Bahkan Mawar juga jadi keliatan ga kuat gitu ngeliat ekspresi Jali.
"Jo, lu masih mau terusin?", bisik Mawar.
"Yup. Bakal gua terusin sampe mentalnya rusak parah dan doi ga punya niat idup lagi..."
"Tapi Jo... Udah, kalo ga kuat lu tunggu di luar aja ga papa kok... Kayaknya gua bisa handle ini semua... Paling lu cuma nunggu paling lama tiga jam lah..."
Mawar akhirnya bergerak keluar.
"Gimana? Olah raga papan air lagi kita?"
"Nggak! Nggak! Ampuuun!"
--------------------------------------------------------
Waktu udah menunjukkan jam 0200. Kita baru aja ninggalin Jali tergantung kebalik di fly over pramuka. Dia masih hidup karena emang gua emang ga pengen dia mati. Cuma, ya... Dua gigi depannya ilang setelah tadi gua cabut dengan paksa, tulang kering kanan patah akibat gua gebuk pake linggis, nafas megap-megap gara-gara papan air, muka lebam di sana-sini, apalagi ya? Oh iya, kita juga ninggalin dia telanjang pas ngegantung di fly over.
Mina ngeliatin gua dengan agak ngeri gitu setelah kita bergerak dari situ.
"Jo, lu rada sakit ya?", tanya Nindi.
"Mungkin gitu ya Nin? Gua suka kesel aja dengerin cerita Pak Cik yang suka dipalak dan beberapa kali digebukin kawanan mereka. Mungkin ini yang bisa gua lakuin buat Pak Cik."
"Sekalian pelampiasan gairah psikopat terpendam ya?", tanya Mawar.
Gua cuma senyum aja tanpa ngejawab pertanyaan Mawar.
--------------------------------------------------------
Oke... Mungkin agak di luar perkiraan ya apdetnya... Efek nonton a clockwork orange jadi rada begini nih...
"Iya Min...",
"Tama sama Nindi bingung tuh mau ngapain malem mingguan. Katanya terserah kamu aja."
"Dasar Grizzly geblek..."
"Hihihihi... Maklumin aja lah Jo... Dia dari dulu emang begini... Badan boleh gede tapi kelakuan rada labil gitu..."
Dan tiba-tiba muncul ide gila di otak gua.
"Tapi beneran nih terserah gua?"
"Kata Tama sih gitu..."
"Oke... Gua lagi ada ide nih soalnya..."
"Kok gua jadi ngerasa ga enak ya Jo?"
"Katanya terserah gua?"
"..."
--------------------------------------------------------
Dua jam kemudian kita berempat udah ada lagi di apartemen Mina. Tadi gua juga sempet mampir ke rumah sebentar buat ngambil perlengkapan yang kira-kira dibutuhkan buat rencana gua malem ini. Dan sekalian juga nerima 'jatah tambahan' dari bokap sembari ngabarin mau jalan malem minggu lah.
Bukan, bukan duit yang gua maksud dengan jatah tambahan tadi. Maksud gua itu ya satu-dua gamparan dari bokap yang dilakukan dengan senyum. Kalo soal duit sih di rekening gua ada lumayan cukup lah dari ortu gua plus hasil dari kerja sampingan.
"Oke Jo... Rencana lu apaan buat malem minggu ini?", tanya Mawar ke gua.
"Well, tadi lu bilang terserah gua kan? Let's just make it straight: rencana ini seharusnya lebih cocok buat jadi rencana malem sabtu kita ketimbang rencana malem minggu, War."
"Rencana malem sabtu?", tanya Nindi bingung.
"Rencana malem minggu?", Mina gak kalah bingung.
"Wait a minute, wait a minute mate... Are you really sure about this?"
"Yup... You said that tonight's activity will be up to me..."
"Tapi kan kita sama cewek-cewek Jo..."
"Justru itu kenapa gua ngajakin lu pada ngelakuin ini... This plan needs 'em..."
"Bisa lu ceritain rencana lu dulu ga Jo ke kita?", potong Mina.
"Oke, ga masalah... Tapi sebelumnya tolong ganti baju kalian dengan ini...", kata gua sembari ngambil beberapa potong baju dari kantong besar yang tadi gua bawa dari rumah.
"Anjrit! Baju apaan nih?!", seru Nindi.
"Udah, ganti dulu nanti gua ceritain apa rencana gua!"
--------------------------------------------------------
Kita berempat sekarang udah ada di atas mobil MPV punya Mina yang sedang melaju ke salah satu zona paling gak aman di Jakarta kalo udah malem: Tanah Abang. Sepanjang perjalanan gua kontak salah satu kerabat deket gua yang biasa dagang di sekitar Pasar Tanah Abang. Sebut saja dia dengan Pak Cik.
Pak Cik ini pedagang kain skala kecil yang beruntung akhirnya bisa dapet lapak kecil di salah satu pojokan Pasar Tanah Abang. Doi masih ada hubungan darah sama bokap gua tapi doi sama sekali ga mau ngerepotin bokap gua. Gua kadang suka nganter nyokap belanja ke sini dan biasanya kita emang selalu sempetin mampir di lapaknya. Di situ keliatan hidupnya cukup struggle dengan kondisinya yang kayak gitu. Anaknya satu dan masih SD kelas dua. Kalo kita mampir ke kiosnya kita biasanya selalu beli apa yang sedang dia jual dengan harga yang pasti kita lebihin karena emang niatnya bantu. Tapi biasanya Pak Cik selalu berkeras dirinya ga perlu dibantu dan selalu berusaha buat kasih kembalian ke kita.
Yang ngehe, biasanya gak lama setelah kita mampir di lapak Pak Cik suka ada preman nyamperin lapaknya dan malakin dia karena dianggapnya baru abis nerima duit dari kita.
Beberapa kali setelah itu gua coba kontak Pak Cik buat tanya-tanya soal Preman yang suka malakin doi itu. Awalnya doi emang agak males jelasin ke gua, tapi setelah gua bilang gua cuma pingin tau aja dan gak lebih dari itu akhirnya dia cerita dikit tentang kelompok preman itu.
Dari sini sebenernya rencana malem ini mau gua mulai.
--------------------------------------------------------
Mobil Mina udah masuk ke Jalan Kebon Jati dan jalan pelan-pelan sembari nyisir gang-gang yang ada di sepanjang jalan itu. Dan pada salah satu gang, keliatan Target Operasi kita malem ini: pimpinan kelompok preman yang biasa malakin Pak Cik.Dan yang bikin kita seneng: dia lagi jalan kaki sendirian.
Setelah itu semua sesuai rencana gua. Mobil pura-pura dibikin mogok, terus Mina & Nindi yang udah pake dress yang sexy banget keluar mobil dan pura-pura panik. Gua & Mawar? Diem-diem turun dari mobil dan ngumpet. Jelas aja itu preman langsung tertarik sama Mina & Nindi dan keliatan mau modusin mereka dengan sok-sokan mau bantu betulin mobil.
Mina & Nindi juga di awal keliatan pura-pura takut sama itu preman dan akhirnya kepaksa nerima itu preman yang niat mau bantuin. Kemudian kap mesin dibuka dan itu preman mulai coba ngeliat apa yang salah dengan mesinnya.
Dan di sini giliran gua dan Mawar beraksi.
Kap mesin tau-tau gua tutup dan preman itu kejepit di situ. Gak cukup, kap mesin gua buka dan Mawar mukul tengkuk preman itu pake balok. Dan akhirnya dia pingsan.
Tapi kita agak apes juga soalnya pas kita mau angkut itu preman ke dalem mobil ada salah satu anak buahnya ngeliat dan mulai teriakin kita. Itu preman akhirnya bisa kita masukin juga ke mobil dan segera aja Mina ngebut ke arah Jalan KH. Mas Mansyur biar ga dikejar sama anak buahnya. Di dalem mobil preman itu mumpung masih pingsan kita iket pake kawat. Dan terus kita gerak terus ke arah Kasablanka sampe tembus ke arah BKT. Dan akhirnya kita sampe di tujuan kita: ex. bedeng proyek di salah satu sisi BKT.
--------------------------------------------------------
"Yo Coy! Bangun juga akhirnya lu...", kata gua ke preman itu pas dia akhirnya mulai buka mata.
"Anj*ng! Di mana nih gua? Siapa lu?", kata dia mencoba berontak dari iketannya di atas kursi.
"Kita? Anggep aja utusan Tuhan buat kasih lu mimpi buruk. Yah, itu juga kalo lu percaya Tuhan.", jawab Mawar.
Di dalem bedeng itu cuma ada gua dan Mawar. Nindi & Mina sengaja gua suruh keluar soalnya emang bakal ada sesuatu yang kejam terjadi di sini.
"T*i lah lu pada!", balas si Preman.
"Eh, nama lu siapa ya?"
"Ban*sat!"
Dan gua mulai kesel. Gua pegangin pipi preman itu dan maksa buat mulutnya kebuka dan nyekokin air dari botol.
"Gimana? Seger? Rada bau pesing ya?"
Langsung dia muntah.
"Makanya kalo ditanya tuh jawab.", ucap gua lembut.
"Jali! Gua biasa dipanggil Jali!"
"Oke deh Jal. Jal... Kayaknya lu lebih cocok disebut Dajal ya kalo inget segala kelakuan lu..."
"..."
"Sekarang kita olah raga dikit ya... Nama olah raganya 'papan air'... atau kalo di Amrik sonoh disebutnya water board... Bikin sehat dan seger nih olah raganya... Dan tenang aja, air yang dipake air bersih kok...", kata gua ke Jali.
Mawar nutupin muka Jali pake sehelai kain ukuran sarung tangan dan jambak rambutnya sampe dongak. Dan gua mulai beraksi dengan ngeuyur muka yang udah ketutup kain itu dengan air segalon.
Begitu kain dibuka keliatan muka Jali kesiksa banget kayak abis tenggelam gitu. Bahkan Mawar juga jadi keliatan ga kuat gitu ngeliat ekspresi Jali.
"Jo, lu masih mau terusin?", bisik Mawar.
"Yup. Bakal gua terusin sampe mentalnya rusak parah dan doi ga punya niat idup lagi..."
"Tapi Jo... Udah, kalo ga kuat lu tunggu di luar aja ga papa kok... Kayaknya gua bisa handle ini semua... Paling lu cuma nunggu paling lama tiga jam lah..."
Mawar akhirnya bergerak keluar.
"Gimana? Olah raga papan air lagi kita?"
"Nggak! Nggak! Ampuuun!"
--------------------------------------------------------
Waktu udah menunjukkan jam 0200. Kita baru aja ninggalin Jali tergantung kebalik di fly over pramuka. Dia masih hidup karena emang gua emang ga pengen dia mati. Cuma, ya... Dua gigi depannya ilang setelah tadi gua cabut dengan paksa, tulang kering kanan patah akibat gua gebuk pake linggis, nafas megap-megap gara-gara papan air, muka lebam di sana-sini, apalagi ya? Oh iya, kita juga ninggalin dia telanjang pas ngegantung di fly over.
Mina ngeliatin gua dengan agak ngeri gitu setelah kita bergerak dari situ.
"Jo, lu rada sakit ya?", tanya Nindi.
"Mungkin gitu ya Nin? Gua suka kesel aja dengerin cerita Pak Cik yang suka dipalak dan beberapa kali digebukin kawanan mereka. Mungkin ini yang bisa gua lakuin buat Pak Cik."
"Sekalian pelampiasan gairah psikopat terpendam ya?", tanya Mawar.
Gua cuma senyum aja tanpa ngejawab pertanyaan Mawar.
--------------------------------------------------------
Oke... Mungkin agak di luar perkiraan ya apdetnya... Efek nonton a clockwork orange jadi rada begini nih...
pulaukapok memberi reputasi
1