- Beranda
- Stories from the Heart
FLIPPED
...
TS
lieutenant.dan
FLIPPED
FLIPPED
“My heart stopped. It just stopped beating. And for the first time in my life, I had that feeling. You know, like the world is moving all around you, all beneath you, all inside you, and you're floating. Floating in midair. And the only thing keeping you from drifting away is the other person's eyes. They're connected to yours by some invisible physical force, and they hold you fast while the rest of the world swirls and twirls and falls completely away.”
― Wendelin Van Draanen, Flipped
― Wendelin Van Draanen, Flipped
SEPENGGAL CERITAKU, UNTUK MU MENTARIKU
Quote:
Spoiler for INDEKS:
Diubah oleh lieutenant.dan 13-06-2016 22:09
anasabila memberi reputasi
1
6.6K
82
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
lieutenant.dan
#38
PART 5
Juni 2009. Setelah perjalanan selama 15 jam akhirnya bis yang ku naiki memasuki terminal bogor. Dari terminal bogor, aku harus 2 kali ganti angkutan umum. Jam menunjukan pukul 6 pagi saat aku turun dari angkot. Di depan ku terpampang dengan jelas logo universitas ku, buku dan pohon dengan latar warna biru, Searching and Serving The Best, Bogor Agricultural University, atau orang lebih mengenalnya IPB. Inilah tempatku akan mengabdi selanjut nya, pikirku.
aku memutus kan untuk berkeliling sebentar di daerah sekitar kampus, hanya sekedar untuk melihat lihat. banyak sekali kios-kios yang ku lewati, kebutuhan perkuliahan, sampai pakaian, Lengkap sekali. Setelah selese melihat lihat dan membeli makan dan minum, aku memutuskan untuk masuk kedalam area kampus melalui pintu samping yang berada di ujung kios kios yang berjajar tadi. Hal pertama yang ku tangkap dari kampus ku ini, hijau dan sejuk, banyak pohon besar dimana mana. Aku langsung berjalan memasuki salah satu fakultas yang gedung nya dekat dengan gerbang tadi, fakultas A. Terlihat ada beberapa mahasiswa yang sedang sibuk dengan kegiatan masing masing, ada beberapa yang sekilas memperhatikan ku, dengan tas gunung dan kardus, aku seolah tahu apa yang ada dipikiran mereka, mahasiswa baru. Aku memberanikan diri bertanya kepada salah satu mahasiswa berjalan melewatiku.
Sesuai dengan petunjuk tadi aku akhirnya sampai di pelataran sebuah masjid, masjid 3 tingkat. Kulangkahkan kaki ku ke arah teras masjid, lantai paling bawah, ku copot sepatu dan lansung rebahan melepas penat. ku ambil hape dari dalam tas dan mengetik sms untuk memberi kabar kepada kakek dan nenek, serta Ratih, tentunya. Sambil beristirahat dan menyantap makanan yang aku beli tadi, aku kembali mengecek jadwal daftar ulang, yang ternyata baru dilaksanakan besok. Itu berarti aku harus menginap di masjid ini satu malam batinku. Bukan hal yang baru bagiku menginap di masjid, bahkan aku sering menginap di ladang saat masa panen dulu, menjaga agar hasil panen tidak dimakan binatang atau dicuri orang.
pagi itu aku terbangun dari tidur, tapi kali ini mimpi itu datang lagi, mimpi seorang anak di sebuah darmaga, melihat ke arah kapal yang menjauh dari pantai dengan tatapan sedih. Mimpi itu seperti sebuah film , berputar terus menerus hingga akhirnya aku terbangun. Aku langsung mandi dikamar mandi masjid dan bersiap untuk melakukan pendaftaran ulang. Kardus aku titipkan di tempat penitipan barang masjid, aku hanya menggendong tas, agar tidak ribet. Jarak masjid ke gedung yang menjadi tempat daftar ulang terbilang lumayan jauh, kampus ini besar juga rupanya. Setalah sampai di tempat pendaftaran ulang aku mengambil beberapa document yang sudah kusiapkan tadi malam dan berjalan menuju pintu masuk gedung. Banyak sekali calon mahasiswa baru bertaburan disekitar gedung, hampir semua mahasiswa itu bersama orang tua mereka masing masing, Berbeda denganku yang hanya datang seorang diri, menyedihkan pikirku. Kemudian aku berjalan menuju pintu masuk ke gedung tersebut. Namun sebuah tepukan dipundak mengagetkan ku dan memaksaku menoleh ke belakang
Kami pun berdua berjalan cepat ke arah pintu masuk. Benar saja disana sudah ada 2 orang penjaga, seperti unit keamanan kampus berpakaian rapi dengan pantofel dan badge di pundak. Ku lirik cewek disampingku, muka nya pucat, cemas. Kitapun masuk antrian.
ku helakan nafas dan ku tarik tangan nya keluar antrian menjauh dari dari gedung ke bawah sebuah pohon besar disamping nya. Muka nya tampak bingung akan perbuatanku.
Setelah dia memakai kemeja pemberian ku yang tentu saja kebesaran, kami kembali lagi ke antrian masuk ke dalam gedung. Setelah berhasil lolos dari para petugas kami dihadapakan oleh sederet petugas lain yang bertugas menerima doument document pendaftaran ulang dari para calon mahasiswa. Setelah proses administrasi selesai, kami melanjutkan ke lantai dua dimana akan ada cek medis dan pembagian almamater plus jas laboratorium.dan sebelum keluar gedung petugas memberi ku sebuah amplop yang berisikan nomor tulisan nomor Gedung dan nomor kamar. Ya, sebuah Asrama. Setelah semua selese, aku langsung keluar dari gedung dan berjalan ke arah pohon besar tadi untuk mengambil kemeja ku kembali sesuai dengan kesepakatan ku dengan Andrea.
Aku hanya mengangguk dan berjalan menjauh kearah dimana aku datang tadi, ke arah masjid kampus. Sesampainya di masjid aku langsung mengambil kardusku dan bergegas menuju Asrama khusus putra yang letaknya tidak jauh dari masjid melewati jalan setapak. Asrama putra berada di tengah2 hutan dekat dengan pintu gerbang kampus bagian belakang, jauh dari mana mana, sedang kan asrama putri letak nya dekat pintu gerbang samping yang tadi pagi aku lewati. Tidak adil pikirku. Kita mahasiswa seperti di asingkan diperadaban. Kukeluarkan amplop yang tadi diberikan untuk melihat sekali lagi nomor gedung dan kamar, gedung C* kamar nomor ***. Asrama ini terdiri dari 3 gedung asrama terpisah, C1, C2, C3. Bentuk gedung nya persegi panjang dengan 2 lantai, jadi ada lorong yang panjang dan ada lorong yang pendek. Setelah mendapatkan kunci dari pengurus asrama gedung masing masing, Kucari kamar tersebut yang posisi nya ternyata di lantai 2, kudapati kamarku berada di lorong yang panjang. Nampak sudah ada beberapa mahasiwa yang juga mencari kamar seperti ku. Akhirnya kutemukan kamar dengan nomor seseuai dengan kertas yang pegang. Tanpa aba aba lansgung Kubuka kamar tersebut.
Juni 2009. Setelah perjalanan selama 15 jam akhirnya bis yang ku naiki memasuki terminal bogor. Dari terminal bogor, aku harus 2 kali ganti angkutan umum. Jam menunjukan pukul 6 pagi saat aku turun dari angkot. Di depan ku terpampang dengan jelas logo universitas ku, buku dan pohon dengan latar warna biru, Searching and Serving The Best, Bogor Agricultural University, atau orang lebih mengenalnya IPB. Inilah tempatku akan mengabdi selanjut nya, pikirku.
aku memutus kan untuk berkeliling sebentar di daerah sekitar kampus, hanya sekedar untuk melihat lihat. banyak sekali kios-kios yang ku lewati, kebutuhan perkuliahan, sampai pakaian, Lengkap sekali. Setelah selese melihat lihat dan membeli makan dan minum, aku memutuskan untuk masuk kedalam area kampus melalui pintu samping yang berada di ujung kios kios yang berjajar tadi. Hal pertama yang ku tangkap dari kampus ku ini, hijau dan sejuk, banyak pohon besar dimana mana. Aku langsung berjalan memasuki salah satu fakultas yang gedung nya dekat dengan gerbang tadi, fakultas A. Terlihat ada beberapa mahasiswa yang sedang sibuk dengan kegiatan masing masing, ada beberapa yang sekilas memperhatikan ku, dengan tas gunung dan kardus, aku seolah tahu apa yang ada dipikiran mereka, mahasiswa baru. Aku memberanikan diri bertanya kepada salah satu mahasiswa berjalan melewatiku.
Quote:
Sesuai dengan petunjuk tadi aku akhirnya sampai di pelataran sebuah masjid, masjid 3 tingkat. Kulangkahkan kaki ku ke arah teras masjid, lantai paling bawah, ku copot sepatu dan lansung rebahan melepas penat. ku ambil hape dari dalam tas dan mengetik sms untuk memberi kabar kepada kakek dan nenek, serta Ratih, tentunya. Sambil beristirahat dan menyantap makanan yang aku beli tadi, aku kembali mengecek jadwal daftar ulang, yang ternyata baru dilaksanakan besok. Itu berarti aku harus menginap di masjid ini satu malam batinku. Bukan hal yang baru bagiku menginap di masjid, bahkan aku sering menginap di ladang saat masa panen dulu, menjaga agar hasil panen tidak dimakan binatang atau dicuri orang.
pagi itu aku terbangun dari tidur, tapi kali ini mimpi itu datang lagi, mimpi seorang anak di sebuah darmaga, melihat ke arah kapal yang menjauh dari pantai dengan tatapan sedih. Mimpi itu seperti sebuah film , berputar terus menerus hingga akhirnya aku terbangun. Aku langsung mandi dikamar mandi masjid dan bersiap untuk melakukan pendaftaran ulang. Kardus aku titipkan di tempat penitipan barang masjid, aku hanya menggendong tas, agar tidak ribet. Jarak masjid ke gedung yang menjadi tempat daftar ulang terbilang lumayan jauh, kampus ini besar juga rupanya. Setalah sampai di tempat pendaftaran ulang aku mengambil beberapa document yang sudah kusiapkan tadi malam dan berjalan menuju pintu masuk gedung. Banyak sekali calon mahasiswa baru bertaburan disekitar gedung, hampir semua mahasiswa itu bersama orang tua mereka masing masing, Berbeda denganku yang hanya datang seorang diri, menyedihkan pikirku. Kemudian aku berjalan menuju pintu masuk ke gedung tersebut. Namun sebuah tepukan dipundak mengagetkan ku dan memaksaku menoleh ke belakang
Quote:
Kami pun berdua berjalan cepat ke arah pintu masuk. Benar saja disana sudah ada 2 orang penjaga, seperti unit keamanan kampus berpakaian rapi dengan pantofel dan badge di pundak. Ku lirik cewek disampingku, muka nya pucat, cemas. Kitapun masuk antrian.
Quote:
ku helakan nafas dan ku tarik tangan nya keluar antrian menjauh dari dari gedung ke bawah sebuah pohon besar disamping nya. Muka nya tampak bingung akan perbuatanku.
Quote:
Setelah dia memakai kemeja pemberian ku yang tentu saja kebesaran, kami kembali lagi ke antrian masuk ke dalam gedung. Setelah berhasil lolos dari para petugas kami dihadapakan oleh sederet petugas lain yang bertugas menerima doument document pendaftaran ulang dari para calon mahasiswa. Setelah proses administrasi selesai, kami melanjutkan ke lantai dua dimana akan ada cek medis dan pembagian almamater plus jas laboratorium.dan sebelum keluar gedung petugas memberi ku sebuah amplop yang berisikan nomor tulisan nomor Gedung dan nomor kamar. Ya, sebuah Asrama. Setelah semua selese, aku langsung keluar dari gedung dan berjalan ke arah pohon besar tadi untuk mengambil kemeja ku kembali sesuai dengan kesepakatan ku dengan Andrea.
Quote:
Aku hanya mengangguk dan berjalan menjauh kearah dimana aku datang tadi, ke arah masjid kampus. Sesampainya di masjid aku langsung mengambil kardusku dan bergegas menuju Asrama khusus putra yang letaknya tidak jauh dari masjid melewati jalan setapak. Asrama putra berada di tengah2 hutan dekat dengan pintu gerbang kampus bagian belakang, jauh dari mana mana, sedang kan asrama putri letak nya dekat pintu gerbang samping yang tadi pagi aku lewati. Tidak adil pikirku. Kita mahasiswa seperti di asingkan diperadaban. Kukeluarkan amplop yang tadi diberikan untuk melihat sekali lagi nomor gedung dan kamar, gedung C* kamar nomor ***. Asrama ini terdiri dari 3 gedung asrama terpisah, C1, C2, C3. Bentuk gedung nya persegi panjang dengan 2 lantai, jadi ada lorong yang panjang dan ada lorong yang pendek. Setelah mendapatkan kunci dari pengurus asrama gedung masing masing, Kucari kamar tersebut yang posisi nya ternyata di lantai 2, kudapati kamarku berada di lorong yang panjang. Nampak sudah ada beberapa mahasiwa yang juga mencari kamar seperti ku. Akhirnya kutemukan kamar dengan nomor seseuai dengan kertas yang pegang. Tanpa aba aba lansgung Kubuka kamar tersebut.
Quote:
Diubah oleh lieutenant.dan 12-06-2016 23:02
0