- Beranda
- The Lounge
(Cerpen Ramadhan) Cak Dlahom : Masuk Islam Dulu, Baru Puasa Ramadhan
...
TS
xplodingunicorn
(Cerpen Ramadhan) Cak Dlahom : Masuk Islam Dulu, Baru Puasa Ramadhan

Assalamualaikum Gan!!!
Daftar Isi
1. (Cerpen Ramadhan) Cak Dlahom : Masuk Islam Dulu, Baru Puasa Ramadhan
2. (Cerpen Ramadhan) Cak Dlahom : Membaca Syahadat Menyaksikan Romlah atau Ini
1. (Cerpen Ramadhan) Cak Dlahom : Masuk Islam Dulu, Baru Puasa Ramadhan
2. (Cerpen Ramadhan) Cak Dlahom : Membaca Syahadat Menyaksikan Romlah atau Ini
Quote:
Mukadimah
Menyambutbulan Ramadhan yang penuh berkah ini, ane di sini mau share kumpulan cerpen yang akan gue bikin berseri antara cerpen yang satu dengan yang lainnya. Cerpen ini ane sadur dari Mojok.co yang ditulis Cak Rusdi Mathari .Cerita ini terinsipirasi dari cerita-cerita yang disampaikan ulama-ulama besar kayak Emha Ainun Nadjib, Syekh Maulana Hizboel Wathany Ibrahim. Semoga kumpulan cerpen ini bakal menginspirasi agan dan sista semuanya dalam memaknai bulan Ramadhan ini maupun hidup kita semua. Kurang lebihnya mohon maaf. Penghargaan sebesar-besarnya buat Cak Rusdi Mathari
Quote:
Masuk Islam Dulu, Baru Puasa Ramadan

"Syahadat itu hal paling dasar dalam Islam. Pondasi. Itu sebabnya, orang yang masuk Islam pertama-tama harus baca syahadat."
Quote:
Di kampungnya, Mat Piti sebetulnya orang yang biasa-biasa saja. Tidak melarat dan tidak kaya, tapi orang-orang mengenalnya sebagai dermawan. Suka menyantuni anak yatim. Membantu orang yang kesusahan. Membayari utang orang-orang yang terjerat utang. Mendatangi tetangga yang sakit dan mendoakan, dan sebagainya.
Di bulan Ramadan, setiap hari dia mengirim takjil ke masjid. Di rumahnya yang juga biasa-biasa saja, siapa saja boleh datang untuk menikmati buka puasa bersama-sama, kecuali pada hari pertama puasa. Di hari pertama itu, dia hanya khusus mengundang Cak Dlahom. Tak ada yang lain dan itu bukan tanpa alasan.
Cak Dlahom sudah tua. Hidup sendirian. Istri tak punya, anak entah di mana. Pekerjaannya hanya luntang-lantung. Ke sana ke mari.
Kadang dia dijumpai di pinggir kali, meracau berbicara dengan air. Kadang dia memanjat pohon dan mengaji keras-keras. Kadang dia tidur di kandang kambing milik Pak Lurah, menciumi kambing-kambing lalu menangis. Kadang dia mendatangi masjid, dan hanya berdiri memperhatikan orang-orang yang salat dengan tatapan mata yang bisa menjatuhkan cecak di dinding.
Orang-orang kampung karena itu menyisihkan Cak Dlahom. Dianggap kurang waras. Anak-anak sering menggangu dan menertawakan kelakuan Cak Dlahom. “Dlahom gila… Dlahom gila…”
Orang-orang semacam Cak Dlahom itulah yang diprioritaskan oleh Mat Piti di bulan Ramadan. Dia menganggap Cak Dlahom bukan saja miskin tapi juga fakir. Orang yang serba kekurangan. Dipinggirkan, dilupakan, dan karena itu patut mendapat perhatian dan kasih sayang. Lebih dari itu, Mat Piti suka mendengarkan Cak Dlahom berbicara. Dia merasa sering ada pesan tertentu di balik ocehan Cak Dlahom, yang tentu tak dipahami oleh hampir semua orang di kampungnya.
Maka seperti bulan-bulan Puasa yang sudah lewat, di hari pertama puasa Ramadan tahun ini, Mat Piti mengundang Cak Dlahom berbuka di rumahnya. Disediakan dan disuguhi aneka jamuan. Ote-ote udang, klepon, serabi, setup pisang , es campur, rawon, krupuk udang, telur asin dan sebagainya. Disiapkan pula sebungkus sarung dan kemeja baru untuk Cak Dlahom, selain amplop berisi beberapa lembar uang kertas sepuluh ribuan.
Cak Dlahom jadi tamu istimewa. Mat Piti dan anaknya, Romlah, menyambut dengan riang gembira. Mereka berbuka bersama. Dan usai sembahyang Maghrib, Mat Piti menemai Cak Dlahom yang duduk di teras, bersantai menikmati klepon, serabi dan minum kopi. Mulutnya terus klebat-klebut merokok kretek.
“Alhamdulillah ya, Cak, kita sudah melewati puasa hari pertama…”
“Puasa Ramadan itu hanya untuk orang Islam loh, Mat.”
“Ya iyalah, Cak, ya memang untuk orang Islam…”
“Kamu Islam, Mat?”
“Insya Allah saya Islam. Sampeyan gimana sih, Cak?”
“Lah aku kan cuma tanya, Mat.”
“Iya, tapi pertanyaan sampeyan aneh. Sudah jelas saya Islam, malah ditanya apa benar saya Islam.”
“Jadi benar kamu Islam?”
“Benarlah Cak. Saya Islam. Di KTP tertulis agama Islam. Saya juga sunat. Menikah ya baca syahadat. Saya salat, puasa, zakat, pernah naik haji.”
“Ya, tapi kapan kamu masuk Islam?”
“Ya sejak kecil. Sejak lahir…”
“Syarat masuk Islam itu apa, Mat?”
“Cak, kalau mau ngetes orang jangan kelewatan dong. Syarat masuk Islam ya baca syahadat. Itu ada di Rukun Islam. Rukun yang pertama.”
“Lalu kapan kamu baca syahadat masuk Islam?”
“Setiap salat saya kan baca syahadat, Cak?”
“Pas salat itu, baca syahadatmu apa diniatkan untuk masuk Islam?”
“Apa memang harus diniatkan, Cak?”
“Aku tanya, kamu malah balik nanya…”
“Tapi kan sudah saya jawab: sejak kecil dan di saat salat?”
“Syahadat itu, hal paling dasar dalam Islam, Mat. Pondasi. Itu sebabnya, orang yang masuk Islam, pertama-tama, harus baca syahadat. Disaksikan banyak orang.”
“Jadi maksud sampeyan, saya belum Islam? Lalu tak usah puasa karena belum baca syahadat masuk Islam?”
“Ya terserah kamu. Aku cuma bilang: puasa Ramadan hanya diwajibkan untuk orang Islam. Kamu mau masuk Islam atau ndak, itu urusanmu. Tak ada paksaan dalam beragama.”
“Sampeyan sendiri Islam, Cak?”
“Aku kan tidak puasa, Mat.”
Crot… Satu klepon pecah di mulut Mat Piti. Muncratan gula merah mengenai kaus putihnya. Cak Dlahom cekikikan, lalu meninggalkan Mat Piti yang masih kebingungan dan sibuk membersihkan lelehan gula klepon di bajunya. Cekikikannya terdengar bersamaan dengan azan Isya.
*diinspirasi oleh cerita yang disampaikan Syekh Maulana Hizboel Wathany Ibrahim.
Tunggu kelanjutannya di update berikutnya....
Diubah oleh xplodingunicorn 12-06-2016 14:30
ridwan890 memberi reputasi
1
4.4K
Kutip
23
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•106.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
xplodingunicorn
#23
Cerpen bersambung Cak Dlahom kembai hadir menemani puasa agan-sista sekalian. Setelah ngobrol bersama Cak Dlahom, akhirnya Mat Piti pun memutuskan untuk bersyahdat. Namun ternyata belum selesai sampai di sana. Mat Piti kembali mendapat pelajaran dari Cak Dlahom

Selepas salat ashar di masjid, Mat Piti memutuskan membaca syahadat. Terpengaruh ocehan Cak Dlahom, Mat Piti pun mau masuk Islam. Maka disaksikan jemaah masjid yang kebingungan, dia bersalaman dengan imam masjid, yang menurut gosip orang-orang di kampung, dulu adalah teman seperguruan Cak Dlahom di pesantren. Nasib membedakan keduanya. Cak Dlahom luntang-lantung dan dianggap kurang waras, temannya jadi imam masjid dan dihormati orang-orang kampung.
Tangan mereka bersalaman erat. Lalu dengan dibimbing imam masjid itu, Mat Piti membaca syahadat: “Asyhaduallah ilaha illallah, wa asyahdu anna Muhammadur Rasullullah.”
Jemaah menyambutnya dengan mengucapkan “Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaha illallah, wallahu akbar” hingga tiga kali. Mat Piti terisak. Dia kemudian dipeluk dan memeluk imam masjid. Satu per satu, jemaah menyalaminya, tapi tidak ada Cak Dlahom di antara mereka.
Mat Piti mendapati Cak Dlahom, saat bersiap pulang dari masjid. Cak Dlahom hanya berdiri membisu di depan pintu masuk masjid dengan tatapan yang seperti sengaja menuggu Mat Piti. Cak Dlahom memang menunggu Mat Piti, mengundangnya makan di rumahnya usai salat maghrib. Mat Piti menyanggupi, dan usai maghrib dia mendatangi rumah Cak Dlahom yang berdekatan dengan kandang kambing milik pak lurah.
Cak Dlahom berseri-seri menyambut Mat Piti. Dia segera membuka koran yang menutup nasi kebuli dengan lauk kambing goreng, dan dua gelas es kelapa muda bergula Jawa. Dia mendapat makanan itu dari pak lurah, yang hari itu mengadakan buka bersama di pendopo kelurahan.
Keduanya makan dengan lahap. Rumah Cak Dlahom yang (biasanya) beraroma tahi kambing, terasa penuh suka cita. Selesai makan, mereka duduk di lincak bambu sambil terus menikmati es kelapa muda.
“Alhamdulillah, Cak. Saya sekarang sudah jadi Islam.”
“Yakin, Mat, kamu sudah Islam?”
“Loh sampeyan ini gimana, Cak? Sampeyan sendiri yang bilang, saya harus baca syahadat untuk disebut orang Islam?”
“Betul, tapi kamu tahu syahadat itu apa?”
“Ya, syarat masuk Islam.”
“Syahadat itu menyaksikan, Mat.”
“Lah apa lagi ini, Cak?”
“Coba kamu ingat-ingat lagi, kalimat syahadat yang kamu baca tadi…”
“Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah…”
“Lalu kapan kamu menyaksikan Allah?”
“Ya ndak bisalah, Cak.”
“Kenapa ndak bisa Mat?”
“Allah kan tidak terlihat…?”
“Kata siapa? Allah bilang di Al-Quran: ‘Dialah yang awal dan yang akhir, yang tampak dan yang tak tampak, dan Dia yang mengetahui segala sesuatu.’ Jadi Allah itu tampak, Mat.”
“Tampak itu, mungkin maksudnya, alam semesta ini termasuk kita sebagai perwujudan-Nya, Cak. Bukan Allah kelihatan, seperti saya melihat sampeyan?”
“Itu kan penafsiranmu Mat. Redaksi Allah jelas: ‘…Dia yang tampak dan tidak tampak…’”
“Kalau menurut sampeyan, Cak?”
“Mat, cepat banget kamu menghabiskan es kelapamu.”
“Loh apa hubungannya dengan pertanyaan saya, Cak?”
“Buka puasa itu mestinya sedikit-sedikit, Mat. Perlahan-lahan. Jangan kekenyangan. Kalau kekenyangan, kamu akan kepayahan. Tidak bisa bergerak. Malas tarawih. Berbahaya bagi kesehatanmu.”
“Iya, sih. Perut penuh banget ini, Cak. Tapi sampeyan belum jawab pertanyaan saya…”
“Seperti kamu menghabiskan buka puasa, sebaiknya kalau mau tahu sesuatu urusan agama, juga pelan-pelan. Sedikit-sedikit. Kalau sekaligus langsung banyak, akan berbahaya bagi dirimu. Kalau kekenyangan mungkin masih ndak apa-apa, Mat, tapi kalau terus kamu gila? Kamu akan merasa pintar, merasa lebih tahu dari yang lain.”
“Tunggu, tunggu, Cak… Sampeyan sendiri apa sudah pernah menyaksikan, Cak?”
“Sering, Mat.”
“Menyaksikan, melihat Allah?”
“Aku melihat ciptaan-Nya.”
“Ya Allah, Cak, Cak… Kalau cuma begitu saya juga sering, Cak…”
“Seperti halnya aku menyaksikan Romlah lebih sering daripada kamu—bapaknya.”
“Siapa, Cak…?”
“Romlah. Anakmu, Mat.”
Kalimat terakhir diucapkan Cak Dlahom sambil tersenyum penuh arti. Mata Mat Piti melotot sendiri. Dia setengah tidak percaya, Cak Dlahom yang dianggap kurang waras oleh orang-orang kampung, ternyata juga memperhatikan Romlah, anaknya yang terkenal cantik.
Dia membatin: Cak Dlahum memang jancuk. Katanya sinting, tapi masih perhatian pada perempuan, dan perempuan itu adalah Romlah, anak gadis semata wayangnya.
Memperhatikan Mat Piti, Cak Dlahom ngikik. Dia tahu Mat Piti penasaran dan karena itu dia menepuk pundak Mat Piti. “Kamu misuhi aku ya Mat? Hahaha…”
Mat Piti kaget. Dia bingung karena Cak Dlahom tahu yang dipikirkannya. Sambil menghabiskan sisa es kelapanya, Mat Piti pamit pulang. Dia meninggalkan rumah Cak Dlahom, dan baru merasakan, tahi kambing dari kandang di dekat rumah Cak Dlahom benar-benar menebarkan aroma yang khas.
Tunggu kelanjutannya di update berikutnya....
Quote:
Membaca Syahadat Menyaksikan Romlah

"Seperti menghabiskan buka puasa, sebaiknya kalau mau tahu sesuatu urusan agama juga pelan-pelan. Kalau sekaligus langsung banyak, akan berbahaya bagi dirimu"
-Cak Dlahom-
-Cak Dlahom-
Quote:
Selepas salat ashar di masjid, Mat Piti memutuskan membaca syahadat. Terpengaruh ocehan Cak Dlahom, Mat Piti pun mau masuk Islam. Maka disaksikan jemaah masjid yang kebingungan, dia bersalaman dengan imam masjid, yang menurut gosip orang-orang di kampung, dulu adalah teman seperguruan Cak Dlahom di pesantren. Nasib membedakan keduanya. Cak Dlahom luntang-lantung dan dianggap kurang waras, temannya jadi imam masjid dan dihormati orang-orang kampung.
Tangan mereka bersalaman erat. Lalu dengan dibimbing imam masjid itu, Mat Piti membaca syahadat: “Asyhaduallah ilaha illallah, wa asyahdu anna Muhammadur Rasullullah.”
Jemaah menyambutnya dengan mengucapkan “Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaha illallah, wallahu akbar” hingga tiga kali. Mat Piti terisak. Dia kemudian dipeluk dan memeluk imam masjid. Satu per satu, jemaah menyalaminya, tapi tidak ada Cak Dlahom di antara mereka.
Mat Piti mendapati Cak Dlahom, saat bersiap pulang dari masjid. Cak Dlahom hanya berdiri membisu di depan pintu masuk masjid dengan tatapan yang seperti sengaja menuggu Mat Piti. Cak Dlahom memang menunggu Mat Piti, mengundangnya makan di rumahnya usai salat maghrib. Mat Piti menyanggupi, dan usai maghrib dia mendatangi rumah Cak Dlahom yang berdekatan dengan kandang kambing milik pak lurah.
Cak Dlahom berseri-seri menyambut Mat Piti. Dia segera membuka koran yang menutup nasi kebuli dengan lauk kambing goreng, dan dua gelas es kelapa muda bergula Jawa. Dia mendapat makanan itu dari pak lurah, yang hari itu mengadakan buka bersama di pendopo kelurahan.
Keduanya makan dengan lahap. Rumah Cak Dlahom yang (biasanya) beraroma tahi kambing, terasa penuh suka cita. Selesai makan, mereka duduk di lincak bambu sambil terus menikmati es kelapa muda.
“Alhamdulillah, Cak. Saya sekarang sudah jadi Islam.”
“Yakin, Mat, kamu sudah Islam?”
“Loh sampeyan ini gimana, Cak? Sampeyan sendiri yang bilang, saya harus baca syahadat untuk disebut orang Islam?”
“Betul, tapi kamu tahu syahadat itu apa?”
“Ya, syarat masuk Islam.”
“Syahadat itu menyaksikan, Mat.”
“Lah apa lagi ini, Cak?”
“Coba kamu ingat-ingat lagi, kalimat syahadat yang kamu baca tadi…”
“Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah…”
“Lalu kapan kamu menyaksikan Allah?”
“Ya ndak bisalah, Cak.”
“Kenapa ndak bisa Mat?”
“Allah kan tidak terlihat…?”
“Kata siapa? Allah bilang di Al-Quran: ‘Dialah yang awal dan yang akhir, yang tampak dan yang tak tampak, dan Dia yang mengetahui segala sesuatu.’ Jadi Allah itu tampak, Mat.”
“Tampak itu, mungkin maksudnya, alam semesta ini termasuk kita sebagai perwujudan-Nya, Cak. Bukan Allah kelihatan, seperti saya melihat sampeyan?”
“Itu kan penafsiranmu Mat. Redaksi Allah jelas: ‘…Dia yang tampak dan tidak tampak…’”
“Kalau menurut sampeyan, Cak?”
“Mat, cepat banget kamu menghabiskan es kelapamu.”
“Loh apa hubungannya dengan pertanyaan saya, Cak?”
“Buka puasa itu mestinya sedikit-sedikit, Mat. Perlahan-lahan. Jangan kekenyangan. Kalau kekenyangan, kamu akan kepayahan. Tidak bisa bergerak. Malas tarawih. Berbahaya bagi kesehatanmu.”
“Iya, sih. Perut penuh banget ini, Cak. Tapi sampeyan belum jawab pertanyaan saya…”
“Seperti kamu menghabiskan buka puasa, sebaiknya kalau mau tahu sesuatu urusan agama, juga pelan-pelan. Sedikit-sedikit. Kalau sekaligus langsung banyak, akan berbahaya bagi dirimu. Kalau kekenyangan mungkin masih ndak apa-apa, Mat, tapi kalau terus kamu gila? Kamu akan merasa pintar, merasa lebih tahu dari yang lain.”
“Tunggu, tunggu, Cak… Sampeyan sendiri apa sudah pernah menyaksikan, Cak?”
“Sering, Mat.”
“Menyaksikan, melihat Allah?”
“Aku melihat ciptaan-Nya.”
“Ya Allah, Cak, Cak… Kalau cuma begitu saya juga sering, Cak…”
“Seperti halnya aku menyaksikan Romlah lebih sering daripada kamu—bapaknya.”
“Siapa, Cak…?”
“Romlah. Anakmu, Mat.”
Kalimat terakhir diucapkan Cak Dlahom sambil tersenyum penuh arti. Mata Mat Piti melotot sendiri. Dia setengah tidak percaya, Cak Dlahom yang dianggap kurang waras oleh orang-orang kampung, ternyata juga memperhatikan Romlah, anaknya yang terkenal cantik.
Dia membatin: Cak Dlahum memang jancuk. Katanya sinting, tapi masih perhatian pada perempuan, dan perempuan itu adalah Romlah, anak gadis semata wayangnya.
Memperhatikan Mat Piti, Cak Dlahom ngikik. Dia tahu Mat Piti penasaran dan karena itu dia menepuk pundak Mat Piti. “Kamu misuhi aku ya Mat? Hahaha…”
Mat Piti kaget. Dia bingung karena Cak Dlahom tahu yang dipikirkannya. Sambil menghabiskan sisa es kelapanya, Mat Piti pamit pulang. Dia meninggalkan rumah Cak Dlahom, dan baru merasakan, tahi kambing dari kandang di dekat rumah Cak Dlahom benar-benar menebarkan aroma yang khas.
*diinspirasi oleh cerita yang disampaikan Syekh Maulana Hizboel Wathany Ibrahim.
Tunggu kelanjutannya di update berikutnya....
ridwan890 memberi reputasi
1
Kutip
Balas