Kaskus

Story

galonze.b.c.n.bAvatar border
TS
galonze.b.c.n.b
1 Flat! 2 Wanita! 2 Cerita!
 1 Flat! 2 Wanita! 2 Cerita!

1 Flat2 Wanita 2 Cerita

 1 Flat! 2 Wanita! 2 Cerita!



Quote:


Spoiler for Rules:


Spoiler for F.A.Q:


Quote:
Diubah oleh galonze.b.c.n.b 11-06-2016 21:40
jabo218Avatar border
njek.lehAvatar border
sormin180Avatar border
sormin180 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
1.1M
3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
galonze.b.c.n.bAvatar border
TS
galonze.b.c.n.b
#2917
Part 86 Pregnant
Mentari pagi bersinar cerah pagi hari itu, cahayanya menyeruak masuk kedalam melalui celah celah kaca mobil, gue membuka mata dengan perlahan, dengan mata yang masih berat dan setelah sadar sepenuhnya, guepun celingukan mencari mila.

Tak lama kemudian mila datang dengan membawa dua mangkuk bubur ayam, gue lalu buru buru membukakan pintu mobil untuk mila, “nih buat kamu” ucap mila sambil menyodorkan satu mangkuk bubur yang dipegang oleh dia, “makasih” jawab gue.

“gimana tidurnya semalem? Nyenyak?” tanya gue.

“eh, kurang nyenyak sih, aku gak biasa tidur didalem mobil, kaki sama leherku juga agak pegel pegel nih” jawab mila sambil menyantap bubur dimangkoknya.

gue lalu mengeluarkan beberapa koyo dari dashboard mobil “sama aku juga, makannya tadi malem aku beli ini, coba deh pake biar ga pegel pegel lagi”

“iya makasih yang…” jawab mila, kemudian setelah selesai sarapan bubur ayam tersebut, gue dan mila sama sama memasangkan koyo koyo itu di kedua kaki, perjalanan bandung ke puncak memang sangat melelahkan sekali hari itu.

“lanjut jalan pulang lagi yu?” ucap gue.

“mas, kapan kapan kita kesana lagi ya, seneng banget deh rasanya kemaren…” ucap mila sambil tersenyum.

“iya, nanti kalo dapet cuti lagi kita jalan jalan lagi” jawab gue sambil menyalakan kembali mesin mobil dan beranjak pergi meninggalkan tempat yang kita singgahi ini.


------



“ihhhhh yaammmpuunnn ini si Tante…..” ucap mila sambil melihat hapenya dan berbaring disamping gue dengan balutan piyama biru tua menutupi tubuhnya yang berbanding kontras dengan warna kulitnya yang putih mulus.

“Tante siapa sayang?” tanya gue yang sedang tiduran disamping dia.

“enggak, itu kemaren ada ibu ibu yang dateng ke café ku, dia pesen cathering buat kantornya. Kita ngobrol ngobrol bentar, terus dia nawarin anaknya buat kenalan sama aku” ucap dia tanpa menengok karna jari jemarinya sibuk mengetik.

“owh, kamu kasih tau dia enggak kalo udah punya pacar?” tanya gue.

“udah,…. Tapi masih kekeuh aja dia..” ucap mila kemudian memperlihatkan layar handphonenya dan menunjukan percakapan sms dia dengan si tante itu. Gue arahkan mata gue untuk membaca teks demi teks dilayar hp mila.

Quote:


Setelah membaca sms itu, gue langsung melongo ke mila “ini beneran ay? Kamu mau ketemu sama cowok anak si ibu ini?”tanya gue, mila hanya menggeleng sambil tertawa.

“Lagian mas juga sih…. lama banget lulusnya..” ucap dia menyindir.

“emang kenapa kalo masih lama lulusnya? Mas kan sambil kerja, ya wajar aja lah…” jawab gue.

“iya sih, tapi liat nihhhh….. ini akibatnya niiiiiihhhh…” ucap mila menyodorkan handphonenya sangat dekat dengan muka gue dan membuat gue sedikit menghindar.

“kamu gak mau tapi balesan sms nya kayak nunjukin kalo kamu gak nolak” ucap gue balik menyndir dia, mila hanya tersenyum mendengar jawaban gue.

“cieeee mas cemburuuuuuuu” ucap dia mengejek, gue baru akan menjawabnya namun mila langlung berbicara kebali, “kan udah dibilang tadi, ade gak enak nolaknya mas…. Dia baik loh orangnya, masa aku tolak gitu… lagian sih niatnya aku mau ngasih temen aku aja yang masih jomblo, atau kamu mas punya gak temen yang jomblo?” tanya mila.

tak lama setelah dia menawarkan itu, di otak gue langsung terbesit seseorang, “punya, punya de….”

“ya udah kasih aja nih…” ucap mila.

“iya nanti aku kasih tau dia dulu” ucap gue.

“emang siapa orangnya?” tanya dia.

“intan..., sayang…” ucap gue sngkat.

mila terdiam mendengar jawaban gue, “enggak deh enggak dia jangan dia pokoknya!!!” ucap mila menolak.

“cieeeee ade cembuuruuuuuu” ucap gue tersenyum membalas perkataan dia tadi. Mila hanya menatap gue seolah memberitahu kalo dia sedang serius.

sadar kalo dia sedang serius, gue langsung merubah ekspresi wajah gue menjadi serius “mmhhhhh, temen sayang…. Gak lebih dari temen…” ucap gue serius, mila menjawab dengan mengangguk perlahan, ia lalu menghela nafasnya dan kemudian mengatakan sesuatu. “mas, aku posesif ya? Maaf ya mas… bukan maksud buat kayak gitu…” ucap dia tertunduk. Mendengar ucapannya itu gue segera duduk dan menarik badan dia untuk duduk disamping gue.

“enggak kok sayang, mas ngerti kenapa kamu bisa sampe segitunya sama intan…” jawab gue sambil menariknya untuk rebahan di badan gue sambil duduk. Mila tidak menjawab, dia masih menundukan wajahnya kearah bawah.

“mas cuma pengen kamu percaya aja, kamu percaya kan?” tanya gue ke dia.

anggukan kecil dari dia membuat gue kembali tersenyum puas, “aku sayang kamu mas…” ucap mila tersdenyum kemudian mengecup bibir gue.

“aku sayang kamu juga…” ucap gue membalas kecupan dari dia. lama kami berciuman lama sekali hingga ciuman yang awalnya biasa biasa saja berubah menjadi ciuman yang makin lama menjadi semakin liar, nafas mila yang mulai tak beraturan membuat gue semakin bernafsu hingga kecupan gue menjalar menuju ke lehernya yang kuning langsat dan mulus. Wangi kulitnya yang khas itu semakin membakar nafsu gue…. Dan kita pun tahu apa yang selanjutnya kami lakukan berdua malam itu.



-----




Esoknya saat sedang di kantor, jam sudah menunjukan pukul 12.10 dan sudah waktunya untuk makan siang. Namun berkas berkas di meja masih menumpuk menunggu untuk segera diselesaikan.

“rangga….” Panggil yohanes, gue hanya mengangkat alis gue untuk menjawabnya dan tetap fokus membaca di layar komputer.

“masih sibuk kau?” tanya yohanes kembali.

“iya masih pak…, ada apa pak?” tanya gue kepada yohanes. Gue memanggil dia bapak karna dia sekarang adalah atasan gue dan gue ingin berlaku profesional dalam bekerja.

“ayo kita makan siang bareng anak anak, ka mau ikutan tidak?” tanya dia cepat setelah gue respon, mendengar tawarannya itu gue langsung mengecek jam ditangan gue. ah... ternyata jam sudah menunjukan pukul 12.15, pantes aja ruangan kerja mulai sepi.

“mau makan dimana pak?” tanya gue menengok kearah yohanes.

“alah jangan panggil pak, panggil aku biasa saja ini kan sudah jam istirahat. Kita makan di KFC depan kantor” jawab yohanes, “kau mau ikut?”ajak dia kembali.

gue berfikir sejenak, namun saat melihat beberapa dokumen yang masih tergeletak menumpuk diatas meja membuat gue langsung mendapat keputusan “gue nanti suruh OB dibungkus aja deh bro…” tolak gue dengan sedikit berat hati. sebenernya gue pun sama ingin makan bersama mereka diluar, dan tempat yang mereka tuju pun tidak jauh. Namun pekerjaan hari ini banyak sekali dan gue tak ingin menunda nunda pekerjaan karena sekarang fokus gue terbagi dua, kuliah dan bekerja.

“beneran? Ntar nyesel kau gak makan bareng kita…” ucap yohanes bercanda. Dia memang atasan yang paling mengerti gue, selain orangnya yang baik. Di luar lingkungan kantor pun kita sudah dekat sekali, jadi dia jarang sekali memberikan gue pekerjaan yang memberatkan karna tahu posisi gue yang sekarang ini sedang kuliah sambil bekerja.

“nanti aja deh bos…. Jangan ganggu lah… lagi sibuk nih…” ucap gue menahan diri. Yohanes langsung mengernyitkan dahinya.

“ahh…. Dasar kau… ya sudah aku makan duluan, jangan lupa makan kau, kau pingsan aku juga yang repot” ucap dia sambil tertawa.

“ahhhh sialan lo dasar!” ucap gue.

“eh ya sudah, biar ku saja yang bungkus kan, kau mau makan apa?” tanya dia kembali sebelum keluar.

“samain aja deh gong… selera kita kan sama kalo makan ditempat gituan…” jawab gue tanpa pikir panjang. Yohanes mengangguk dan mengacungkan jempolnya, dia pun melangkah pergi keluar meninggalkan gue.

Langsung saja gue kembali terlarut dengan pekerjaan dihadapan gue ini, membaca dokumen dokumen yang berkaitan dengan pekerjaan yang sedang gue garap ini. Mata gue ini memang kuat sekali menatap layar monitor, mungkin karna sejak jaman kuliah dulu sering ngegame berjam-jam bareng anak anak kampus.

Namun hari ini seperti ada yang mengganjal gue untuk meneruskan pekerjaan gue ini. Entah kenapa konsentrasi gue ini sering mendadak hilang. Gue coba untuk tetap fokus namun sulit sekali rasanya untuk fokus. Sepertinya rutinitas gue ini membuat gue jenuh….

Minggu Kemarin pekerjaan sebanyak ini ada dimeja gue…. Masih bisa diselesaikan.
Tiga hari yang lalu pekerjaan sebanyak ini ada dimeja gue… masih bisa diselesaikan.
dan sekarang…. pekerjaan sebanyak ini gue pasti sanggup menyelesaikanya, namun hari ini nampak begitu…. Berat!

“Drrrtt…. Drrtt….” handphone yang gue letakan dimeja bergetar, saat gue lihat kelayar… ternyata mila menelfon.

Quote:


Gue tutup telpon itu dan gue pandangi wallpaper handphone gue yang fotonya adalah foto mila yang sedang duduk sambil tersenyum, wanita ini memang selalu membuat semangat dan tenaga gue pulih secara tiba tiba.

Gue pun langsung beranjak dari meja gue dan keluar ruangan untuk menyusul yohanes makan, kubik kubik meja yang biasanya penuh dengan kegiatan orang orang kantor kini terlihat lenggang ditinggal makan siang. Hanya terlihat masih ada beberapa orang yang duduk berdekatan sambil makan dari bekal yang mereka bawa dari rumah.

“eh, ngga, sini makan disini” ucap mereka saat melihat gue masuk kedalam tempat makan.

“eh, iya sebentar…” ucap gue pada mereka. Disana sudah ada yohanes, putri, desi. Mereka semua teman teman kantor gue yang seru seru orangnya, rasanya jika tidak ada mereka kantor berasa sepei. Apalagi putri yang anaknya supel dan asik banget bergaul dengan dia. makannya setiap makan siang di kantor gue sering sekali bergabung dengan mereka, yohanes pun sama, kita sering makan bersama namun dia tidak memperlakukan kita seperti bawahan saat diluar kantor, dia selalu bilang yang penting profesional aja kalo lagi kerja, sisanya kita bawa have fun.

“kata bos tadi gak mau ikut diajak makan?” tanya putri yang menyambut gue ketika duduk dimeja makan mereka.

“ayoo makan saja sekarang, kita pesan saja dulu ngga” ucap yohanes menimpal. Akhirnya kita berdua pun memesan makanan yang sama.
sambil menunggu pesanan makanan datang, kita hanya mengobrol ringan saja, namun saat sedang mengobrol, yohanes hanya fokus saja dengan handphonenya.

“Makan kali…. Malah main hape..” ucap putri mencubit kecil tangan yohanes. “sini makannya disampingku” ucap putri kembali sambil meminta waiter membawakan menu yohanes kesamping dia.

“elu sama atasan sendiri gak sopan! Main cubit cubit aja lu!” ucap desi bercanda.

“apaan sih! dianya aja nyantai kok…” balas putri sewot.

“entar aku potong gaji paling des….” Ucap yohanes meladeni desi sambil duduk disamping putri.

muka putri seperti tiba tiba kaget mendengarnya, dia pun buru buru nyengir sambil minta maaf “eh, maaf pak. Ga akan saya ulangi lagi…” ucap dia dengan gaya standar pegawai meminta maaf kepada atasan.

gue hanya tertawa saja melihat ekspresinya itu, kemudian kita asyik bersenda gurau sambil menikmati makan siang yang sudah tersedia didepan kita. Sesekali gue berbicara juga dengan anak anak kantor yang lain yang kebetulan makan disitu. Namun kebanyakan lebih berbincang dengan teman teman dimeja gue ini.

Pilihan yang tepat memang pergi makan diluar, gue bisa melepas penat dari pekerjaan dan rasa jenuh kuliah gue ini. Namun sepertinya ada yang aneh dengan kedua teman dihadapan gue ini. Sepertinya ada yang aneh dengan putri! Iya dia! entah sudah berapa kali dia mencubit atau mengelus tangan yohanes secara disengaja maupun tidak, gue pun berfikir sepertinya mereka berdua sepertinya punya hubungan yang lebih.
Gue merasa kasihan dengan amel jika memang benar mereka punya hubungan, menurut gue amel sudah perfect untuk yohanes, walaupun dia kadang judes tapi amel itu pinter,dewasa dan cantik. Tapi jika dilihat lihat putri saat ini jauh lebih menarik dibanding kan dengan amel.

“ini makan siang aku bayarkan saja” ucap yohanes sambil berdiri dan menyadarkan lamunan gue.

“eh eh, gak usah gong, biar gue yang bayar aja…” tolak gue kepada yohanes.

“santai lah…, next time kau yang bayarin” ucap yohanes bersikukuh.

“ihhhhh… kaum lelaki lagi pada debat siapa yang mau bayarin… kitamah kaum wanita cuma diem aja manut manut ngikutin yang bayarin” ucap putri bercanda sambil melihat kearah desi.

“dasar kamu put!” ucap gue melirik dia.

Setelah jam makan siang selesai, kita semua kembali ke kantor untuk menlanjutkan pekerjaan kita. Sementara gue diperintahlan oleh yohanes untuk ngekor ke dalam ruangan dia. dia bilang ada yang ingin dibicarakan saja berdua. Dan wajahnya nampak serius kali ini.

“Bukan soal kerjaan sih sebenernya…” ucap yohanes dengan serius dan logatnya mendadak hilang.

“ Lah Terus? Kenapa bro?” tanya gue, sepertinya memang ada pembicaraan serius… biasanya dia penuh senyum dan tawa, sekarang raut mukanya tidak menunjukan kedua ekspresi iru dihadapan gue.

sebelum yohanes menjawab, pintu ruangannya diketuk dan kepala putri kembali muncul “pak.. lupa ngasih tau, nanti jam 4 kita ada meeting ya” ucap dia dengan nada profesional tapi santai.

“iya saya inget, kamu siapkan semuanya ya…” jawab yohanes.

“oke pak..” jawab dia, “kalo yang ini ngapain pak masih disini?” canda dia sambil melirik dan menunjuk kearah gue. Putri tersenyum kemudian menutup pintu ruangan gue. gue hanya tertawa saja dibuatnya.

“hhaaahhhhhhhh” yohanes menghela nafas saat pintu sudah kembali ditutup. Gue terus melihat yohanes masih memandangi pintu itu selama beberapa saat.

“Gong….” Panggil gue. Yohanes langsung menengok dan gue menatap dia curiga… sepertinya dia…

“kenapa kau ngga?” tanya yohanes bingung saat melihat tatapan gue.

“gong! Jangan bilang kalo elu…” ucap gue pendek. Mata gue mengernyit menatap yohanes.

“jangan apa?” tanya dia dengan sedikit gugup.

“Putri?” ucap gue singkat. Mendengar nama itu, yohanes seperti mendadak langsung kaget.

“eh.. kok… kau… bisa tau?” tanya dia pelan. Gue tidak menjawab, gue masih belum percaya dengan apa yang terjadi.

yohanes pun menghela nafasnya “Sekeliatan itu ya aku dengan dia?” tanya dia dengan suara pelan setelah ia dapat mengatur dirinya.

“engga…, Cuma gue udah mulai ngeh aja waktu dari tadi makan siang” ucap gue singkat.

“terus gimana?” tanya dia.

“gimana apanya? Ya jangan lah! Kalo lu sama dia, yang disono (amel) mau dikemanain?” tanya gue kepada yohanes.

“justru itu… aku lagi jenuh jenuhnya sama dia sekarang… akhir akhir ini juga kita jadi sering berantem…” ucap yohanes serius.

“gong…. Yang namanya hubungan kan gak selalu selamanya adem ayem.. pasti aja ada ribut ributnya. Gue sama mila juga sama gitu, kadang kita sering ribut kalo lagi sama sama jenuh. Tapi ya kita bisa mertahanin hubungan kita sampe sekarang kan? Karna kita punya komitmen buat terus bersama! Coba deh lu pikir pikir lagi, lu sama amel kan udah tunangan, masa sih lu mau ninggalin yang lama buat yang baru? Lu bisa kebayang gak hancurnya dia kalo tau lu sekarang lagi deket sama orang lain?” tanya gue kedia.

tanpa menjawab, yohanes masih diam saja. Tatapan matanya dia arahkan kearah langit langit ruangan ini, “udah lah, kita kan bukan anak anak lagi sekarang. gak bisa maen maen lagi sama cewek. Dan kayaknya lu juga dulu pernah bilang kalo gak suka sama cowok yang sering mainin cewek! Iya kan? Masa mau ngejilat ludah sendiri?” ucap gue sambil beranjak berdiri dari kursi.

“sekarang gue mau balik lagi kerja. Mending sekarang lu ketemu sama amel, terus lu ajak jalan dia. kalo diliat liat emang putri lebih cantik sih menurut gue, tapi kan amel punya sesuatu yang lebih dibanding dia kan? Dan itu Cuma elu yang tau!” ucap gue, “gue balik ke meja ya…” gue melangkah keluar, yohanes hanya diam dan mengangguk saja menerima masukan dari gue itu.

Setelah semua urusan dikantor selesai, gue sesegera mungkin untuk cepat cepat pulang ke flat, disana mungkin mila sudah menunggu untuk makan malam berdua.

Saat masuk kedalam flat, keadaan sangat sepi, lampu tengah rumah pun sama sekali belum dinyalakan, hanya lampu kamar dia saja yang sudah menyala. Saat gue masuk kekamar, mila masih rebahan dikasur sambil menangis.

“hey hey sayang…., kenapa?” tanya gue sambil duduk disampingnya.

“mas….” Ucap dia lemas.

“wajahmu pucet de, kamu belum makan?” tanya gue yang dijawab oleh dia dengan menggelengkan kepala.

“aku gak mau makan…”

“loh? Kenapa? Itu mukamu pucet sayang.., belum diisi perutnya…”

“gak apa apa… aku gak mau makan…eneg mas...”

“kamu kenapa sayang?”









“mas… kamu sayang kan sama aku? kamu gak bakal tinggalin aku kan mas? Kamu bakal perjuangin aku kan mas?” tanya dia mulai menangis dan menggenggam erat tangan gue.







“iya sayang pasti… kamu kenapa?” tanya gue panik.









“mas…”











“aku…..”









“Hamil…..”
efti108
JabLai cOY
oktavp
oktavp dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.