- Beranda
- Stories from the Heart
Aku dan Gadis Lugu
...
TS
spv7hqfj
Aku dan Gadis Lugu
SELAMAT DATANG

Cover by Agan Yushito13
Sebelumnya ane minta maaf buat para reader kalo tulisan ane acak acakan. Ane cuma berharap para readers bisa mengambil hikmah dari cerita ane ini.
Jangan lupa baca Sticky Rules SFTH ya gan? ane males kalo harus nulis ulang,
Jangan lupa juga buat ninggalin jejak sekedar ngasih kritik dan saran,
atau nebak2 jalan cerita BANTU RATE YA GAN hehehehe.
KASIH CENDOL JUGA BOLEH

ASALKAN JANGAN ADA BATA DIANTARA KITA GAN

AND THEN, DILARANG OOT

Spoiler for Top Thread:
Spoiler for CHAPTER 1:
Spoiler for CHAPTER 2:
Quote:
Diubah oleh spv7hqfj 22-07-2016 13:16
anasabila memberi reputasi
1
251.4K
902
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
spv7hqfj
#434
Eps. 26 - Jangan Pergi
“El, kamu tuh yang norak, memangnya jalan nenek moyang kamu seenaknya maen salip kiri kanan!” jawabku kesal.
“Sudah-sudah.. yuk ah kita jalan..” ajak Tika.
Kami pun berjalan .
Tempat yang pertama kali kami kunjungi adalah ‘Keraton Jogjakarta’.
>>>>>
“Yuk dek.” Ajakku kepada Tika. Tanganku hampir saja meraih tangannya agar kami berdua bisa bergandengan tangan. Tetapi..
PLAKK!! Tanganku ditepuk lumayan keras oleh Elissa.
“Eh Tik kesana yuk foto yuk foto” ujar Elissa kepada Tika.
#JANGKRIK
Yah, sepanjang hari aku hanya menjadi orang ketiga (Sebenarnya orang ketiganya itu siapa sih?). Berjalan di belakang mereka mengikuti kesana kemari kemanapun kaki melangkah, menjadi fotografer dadakan untuk mereka berdua, dan yang terparah adalah menjadi tukang angkut barang belanjaan. Kalau Tika sih hanya belanja pernak-pernik saja, tetapi Elissa kebalikannya. Sungguh wow!
Mungkin Elissa ingin membuka sebuah Toko Oleh-oleh sepulang ini.
Senja perlahan mulai tenggelam.Kami memutuskan untuk istirahat sejenak dan mengisi perut kami yang sudah mulai berorasi. Pilihannya adalah ‘Nasi Kucing’
Kami duduk bersama.
“Dekl.. suapin.. hehe” pintaku.
“hihi.. nih mas.. aaaaaaaaaaaa” jawab Tika sambil memposisikan dirinya yang hendak menyuapiku.
DUKKKK!!!
Tiba-tiba Elissa menyenggong punggungku dengan sikunya.
Suapan yang hampir sampai dimulutku menjadi berubah arah melenceng sedikit dari targetnya dan tumpah mengenai bajuku.
“Hahahahah..” Elissa tertawa puas.
“Parah kamu El..” kataku kesa sambil membersihkan sisa-sisa nasi yang mengenai bajuku.
“Ya kamu manja banget jadi cowok pake acara minta disuapin segala wuuuu”
Tika tersenyum kecil melihat Elissa yang meledekku. Tega kamu TIkaaaaa.
Tak terasa waktu Isya telah tiba. Kami harus segera pulang.
-SKIP-
Suatu hari..
Sepulang sekolah
Cengkik,..cengkik..cengkik…cengkik..
Suara sepeda Tika yang ku kayuh menyusuri jalan yang kiri kanan nya membentang luas area persawahan.
Angin sepoy menerpa kami bedua yang sedang berboncengan menuju rumah Tika. Terik matahari siang ini tidak begitu terasa menyengat.
“Mas, setelah lulus SMA mau kuliah atau kerja?”
sebuah kalimat tanya dari Tika.
“Emhhh… nikahin kamu Tik, ehhe”
“iihhh.. mas kelewat jauh deh mikirnya, masih terlalu cepat mas”
Sungguh malu rasanya saat Tika menjawab candaanku seperti itu. Aku rasa Tika sudah bisa berpikir rasional dan sedikit menjadi lebih dewasa. Tidak sepertiku.
“Kalo kamu dek?” tanyaku.
“mmhhh.. pengennya sih kuliah mas, tapi kasihan Ibu. Mungkin Tika kerja dulu sambil menabung mas”
“Yah, mas sih berdoa saja supaya keinginan kamu terwujud dek”
Sebuah obrolan singkat dari sepasang anak SMA yang beranjak dewasa. Sebuah obrolan yang mungkin nanti menjadi nyata untuk menggapai cita-cita.
>>>
Ku hentikan segera sepeda Tika. Kami berdua terlihat kaget saat banyak orang yang berkumpul dirumah Tika.
“Tika, yang sabar ya” sebuah kalimat dari seorang wanita tua tetangganya, berkata dengan diiringi tetesan air mata dipipinya.
“Yang tabah nak” kata wanita tersebut dan segera memeluk Tika.
Tika yang penasaran dengan apa yang terjadi segera melepas pelukan wanita itu dan berlari masuk kerumahnya, mungkin lebih tepatnya merasakan firasat buruk karena perkataan wanita tersebut.
“IBUUUUUUUUUUUUUUUUUUU….”
Ku dengar teriakan Tika yang begitu keras. Teriakan penuh dengan emosi dan kesedihandarinya. Aku masiih berdiri disamping wanita tersebut dan belum mengerti dengan apa yang terjadi.
Ku jatuhkan sepeda Tika dan berlari menyusulnya.
Langkahku terhenti saat melihat Tika menangis histeris, memeluk Ibunya yang terlelap dan diselimuti kain putih dan kain batik. Berkali-kali kata “Ibu, jangan tinggalin Tika sendiri buuuuuu” keluar dari mulutnya. Air matanya tak henti-hentinya mengalir, menetes dan ikut membasahi pipi Ibunya yang ada sedikit luka-luka goresan.
“Ikhlaskan Tik, Ibumu sudah tenang disisi-Nya.”
Seorang Lelaki tua duduk dan mengelus bahu Tika. Mencoba menenangkan gejolak kesedihannya.
.
.
.
.
Sore itu, Ibu Tika dimakamkan.
Kudengar dari Lelaki tua yang tadi mencoba menenangkan Tika, Ibunya kecelakaan dengannya saat hendak mengantar pesanan kain batik. Lelaki tua tersebut berkali-kali berkata dengan penuh isak disetiap kalimat yang keluar dari mulutnya.
Beruntung baginya karena dia selamat, sedangkan Ibu Tika…..kalian tau apa yang terjadi.
Hari sudah semakin gelap, Tika masih tidak mau beranjak dari tempat peristirahatan terakhir Ibunya.
Tika masih terdiam memandangi nisan Ibunya. Tak ada satu katapun keluar dari mulutnya.
“Dek, sudah gelap, pulang yuk dek” kataku lirih. Berusaha membujuk Tika agar tidak terlalu lama larut dalam kesedihan.
Tika tidak menjawabku. Dia tetap menatap Nisan Ibunya.
“Tik..” Ku pegang kedua bahunya.
Tika membalikkan badannya dan memelukku. Begitu keras tangisannya, pinggangku di peluk erat olehnya. Terasa sesak, tetapi kutahan. Mungkin pelukan ini akan membuatnya sedikit tenang.
>>>>>>>
Kukuruyuuuuuukkkkk……
Suara ayam berkokok.
Pukul 06.00
Sepanjang malam mataku tidak bisa terlelap. Aku masih memikirkan Tika. Aku merasa kasihan, Iba, campur aduk rasanya.
Kejadian kemarin membuatku sadar, aku bersyukur masih mempunyai orang tua walau mereka jauh dariku dan jarang sekali menemuiku. Sedangkan Tika? Bapaknya entah ada dimana, dan… Ibunya telah berpulang ke sisi-Nya.
Aku sekarang mengerti. Orang tuaku jauh dariku, bekerja, mencari nafkah, bukan untuk hal lain kecuali hanyalah untuk anaknya. Anak yang selama ini membenci meraka berdua, anak yang selama ini merasa dirinya tidak dianggap oleh mereka. Mungkin aku ini termasuk kategori anak Durhaka.
Cekreeekkkkk…
Pintu kamarku terbuka.
“Tobiiiiii, ayok berangkat!”
Elissa mengangetkanku yang sedari tadi melamun.
“duluan aja El, aku gak sekolak dulu”
Tanganku ditariknya.
“BURUAN MANDI! Kamu harus sekolah”
“Hadehh, iya iya”
>>>
Hari ini aku kesekolah dengan kantung mata dan matahari menghiasi wajahku.
“Kamu abis begadang?” tanya Elissa.
“bukan begadang lagi El, gak tidur malah”
TAKKK!!!! Kepalaku dijitak.
Elissa belum tahu jika Ibunya Tika meninggal. Entah kenapa aku tidak memberitahunya saat itu.
Dikelas, aku tidak melihat Tika. Sepanjang jam pelajaran Tika belum muncul juga.
Esok harinya, Tika masih belum datang.
Esoknya lagi, Tika belum datang juga.
Sepulang sekolah aku memutuskan untuk pergi kerumah Tika. Tetapi saat aku sampai disana, tetangga bilang Tika sedang pergi entah kemana bersama Rani kakaknya.
Lalu kucoba membuka Hpku, berusaha mencari-cari kontak mbak Rani.
“Tuut..tuuuu..tuuutt, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.”
Suara khas operator seluler.
Ahhh, kenapa tidak aktif.
Kuputuskan kembali kerumah dengan tangan kosong tanpa hasil.
Esoknya, sepulang sekolah ku coba kembali pergi kerumah Tika bersama Dodi.
“Bi, masih jauh?” tanya Dodi.
“sebentar lagi Di sabar” jawabku.
“dari tadi bilang sebentar lagi sebentar lagi, sudah berapa kali kamu bilalng begitu Bi” kata Dodi kesal.
“hehehe…”
Akhirnya kami sampai.
“Permisi..”
Seorang wanita cantik membuka pintu rumah Tika. Mbak Rani.
“Ehhh, Tobi, sini masuk…Tikaaaa ada Tobi nih” teriak mbak rani,
Tak lama Tika muncul.
“Mas…” sapa Tika lirih. Wajahnya terlihat pucat sayu.
…
“Tika, besok sekolah ya,.Tobi sudah seperti orang gila disekolah kalo ndak ada kamu Tik” ejek Dodi padaku.
“hehehe.” Aku hanya terkekeh.
Mbak rani berjalan kearah kami, membawa 2 gelas minuman.
“Nih…diminum dek” kata mbak rani kepadaku dan Dodi.
“iya mbak terima kasih” jawabku.
Yahh cukup lama kami ngobrol sekedar berbasa basi, sampai akhirnya mbak Rani berkata,
“Tobi, gpp kan kalo Tika mbak ajak ke Bekasi? Dia akan sekolah disana.”
Aku kaget mendengar perkataan mbak Rani. Aku tidak bisa berkata-kata.
“Yaudah mbak tinggal dulu ya, kamu ngobrol dulu aja sama Tika” kata mbak rani, lalu berjalan kearah belakang rumah.
“Ssst…sssst..” aku berusaha memberi kode dan menyikut pelan lengan Dodi agar dia pergi juga.
“Apaan bi? Mau nambah air lagi?” jawab Dodi.
Kode yang kuberikan ternyata kurang mempan, akhirnya mataku melotot kearah Dodi.
“hehehe iya iya…aku keluar dulu ya Tik, mau cari angin segar”
-
-
-
“Dek, kamu serius mau pergi?”
“…” tika hanya mengangguk.
“Dek, kamu tinggal dirumah mas aja gimana? Kan ada Elissa juga? Jadi kamu ada yang jagain dan ada temen juga dek, Nanti aku bilang ke mbak Rani deh, ya?”
Aku berusaha membujuk Tika agar tidak pergi
“Gak mas, aku gak mau ngerepotin mas, aku kan cuma pacar, bukan istrinya mas.”jawab Tika.
Aku diam.
“kalo begitu aku bakal lamar kamu Tik, ya ya ya?” kataku. Ku pegang tangan Tika agar dia mengerti.
“Mas, kalau kita nikah, gimana sekolah kita mas? Mas mau dikeluarin dari sekolah?” jawab Tika lirih. Dia menatap mataku dengan penuh perasaan cinta dan sayang.
Bodohnya aku, cinta memang buta. Aku malu dengan kata-kataku sendiri.
“Terus gimana dong dek? Mas gak bisa jauh dari kamu dek”
Tika diam.
“Mas maunya putus?”
SKAKKK!!!!
Pertanyaan Tika langsung menghujam tepat dijantungku.
“Maksud kamu nanya gitu apaan sih dek? Kamu udah gak cinta sama mas?” aku terlanjur emosi dengan pertanyaannya.
Aku menunduk. Berpikir. Mengapa Tika bertanya seperti itu. Hatiku kalut.
Tangan Tika menggenggam erat tanganku,
“Maaaaassssss, adek cinta dan sayang banget sama mas, mas jangan cemberut gitu. Mas adalah cinta pertama dan terakhir untukk adek. Kalau mas juga cinta dan sayang sama adek, mas mau kan ijinin Tika pergi?”
Aku diam. Aku tidak bisa menjawab. Gejolak perasaaan didalam dada bercampur aduk. Otakku yang biasanya lancar berpikir, sekarang menjadi beku tak berfungsi.
Mungkin hanya perasaan yang beraksi sekarang, antara aku dan Tika.
“Dek, mas bakalan ikut kamu pindah kesana juga!” kataku.
Kami terdiam.
“Mas, kasian Elissa, mas kan sudah dititipkan untuk menjaga Elissa disini?”
“Kalau begitu aku ajak pindah juga Elissa” jawabku cepat.
“Mas!!!!!” Tika membentakku.
Lagi lagi aku diam.
“Maaaaaaaasss, janji ya sama adek? Setelah lulus, lamar aku mas”
Seketika aku merasakan bahagia, aku merasa senang dengan apa yang dikatakan oleh Tika. Yah walaupun saat itu kami masih remaja dan perkataan Tika terlalu berlebihan untuk wanita seumurannya.
“AkU JANJI DEK!!!” jawabku mantap. YAKIN!
Kami berdua akhirnya berpelukan. Lama. Ingin rasanya kuhentikan waktu, agar ku bisa memeluknya selamanya. Aku tak ingin melepaskan pelukan ini. Pelukan ini rasanya begitu nikmat,melebihi ciuman pertamaku dengan Tika.
“EHM!!”
JANGKRIK!!!
Dodi muncul disaat yang tidak tepat.
“Pulang yuk bi, sudah sore” ajak Dodi.
Akhirnya dengan berat hati, aku pulang, berpisah dengan Tika.
.
.
.
.
.
Besok sore Tika dan mbak Rani akan berangkat ke Bekasi.
-BERSAMBUNG-
Selamat berbuka puasa bagi yang menjalankan
“Sudah-sudah.. yuk ah kita jalan..” ajak Tika.
Kami pun berjalan .
Tempat yang pertama kali kami kunjungi adalah ‘Keraton Jogjakarta’.
>>>>>
“Yuk dek.” Ajakku kepada Tika. Tanganku hampir saja meraih tangannya agar kami berdua bisa bergandengan tangan. Tetapi..
PLAKK!! Tanganku ditepuk lumayan keras oleh Elissa.
“Eh Tik kesana yuk foto yuk foto” ujar Elissa kepada Tika.
#JANGKRIK
Yah, sepanjang hari aku hanya menjadi orang ketiga (Sebenarnya orang ketiganya itu siapa sih?). Berjalan di belakang mereka mengikuti kesana kemari kemanapun kaki melangkah, menjadi fotografer dadakan untuk mereka berdua, dan yang terparah adalah menjadi tukang angkut barang belanjaan. Kalau Tika sih hanya belanja pernak-pernik saja, tetapi Elissa kebalikannya. Sungguh wow!
Mungkin Elissa ingin membuka sebuah Toko Oleh-oleh sepulang ini.
Senja perlahan mulai tenggelam.Kami memutuskan untuk istirahat sejenak dan mengisi perut kami yang sudah mulai berorasi. Pilihannya adalah ‘Nasi Kucing’

Kami duduk bersama.
“Dekl.. suapin.. hehe” pintaku.
“hihi.. nih mas.. aaaaaaaaaaaa” jawab Tika sambil memposisikan dirinya yang hendak menyuapiku.
DUKKKK!!!
Tiba-tiba Elissa menyenggong punggungku dengan sikunya.
Suapan yang hampir sampai dimulutku menjadi berubah arah melenceng sedikit dari targetnya dan tumpah mengenai bajuku.
“Hahahahah..” Elissa tertawa puas.
“Parah kamu El..” kataku kesa sambil membersihkan sisa-sisa nasi yang mengenai bajuku.
“Ya kamu manja banget jadi cowok pake acara minta disuapin segala wuuuu”
Tika tersenyum kecil melihat Elissa yang meledekku. Tega kamu TIkaaaaa.
Tak terasa waktu Isya telah tiba. Kami harus segera pulang.
-SKIP-
Suatu hari..
Sepulang sekolah
Cengkik,..cengkik..cengkik…cengkik..
Suara sepeda Tika yang ku kayuh menyusuri jalan yang kiri kanan nya membentang luas area persawahan.
Angin sepoy menerpa kami bedua yang sedang berboncengan menuju rumah Tika. Terik matahari siang ini tidak begitu terasa menyengat.
“Mas, setelah lulus SMA mau kuliah atau kerja?”
sebuah kalimat tanya dari Tika.
“Emhhh… nikahin kamu Tik, ehhe”
“iihhh.. mas kelewat jauh deh mikirnya, masih terlalu cepat mas”
Sungguh malu rasanya saat Tika menjawab candaanku seperti itu. Aku rasa Tika sudah bisa berpikir rasional dan sedikit menjadi lebih dewasa. Tidak sepertiku.
“Kalo kamu dek?” tanyaku.
“mmhhh.. pengennya sih kuliah mas, tapi kasihan Ibu. Mungkin Tika kerja dulu sambil menabung mas”
“Yah, mas sih berdoa saja supaya keinginan kamu terwujud dek”
Sebuah obrolan singkat dari sepasang anak SMA yang beranjak dewasa. Sebuah obrolan yang mungkin nanti menjadi nyata untuk menggapai cita-cita.
>>>
Ku hentikan segera sepeda Tika. Kami berdua terlihat kaget saat banyak orang yang berkumpul dirumah Tika.
“Tika, yang sabar ya” sebuah kalimat dari seorang wanita tua tetangganya, berkata dengan diiringi tetesan air mata dipipinya.
“Yang tabah nak” kata wanita tersebut dan segera memeluk Tika.
Tika yang penasaran dengan apa yang terjadi segera melepas pelukan wanita itu dan berlari masuk kerumahnya, mungkin lebih tepatnya merasakan firasat buruk karena perkataan wanita tersebut.
“IBUUUUUUUUUUUUUUUUUUU….”
Ku dengar teriakan Tika yang begitu keras. Teriakan penuh dengan emosi dan kesedihandarinya. Aku masiih berdiri disamping wanita tersebut dan belum mengerti dengan apa yang terjadi.
Ku jatuhkan sepeda Tika dan berlari menyusulnya.
Langkahku terhenti saat melihat Tika menangis histeris, memeluk Ibunya yang terlelap dan diselimuti kain putih dan kain batik. Berkali-kali kata “Ibu, jangan tinggalin Tika sendiri buuuuuu” keluar dari mulutnya. Air matanya tak henti-hentinya mengalir, menetes dan ikut membasahi pipi Ibunya yang ada sedikit luka-luka goresan.
“Ikhlaskan Tik, Ibumu sudah tenang disisi-Nya.”
Seorang Lelaki tua duduk dan mengelus bahu Tika. Mencoba menenangkan gejolak kesedihannya.
.
.
.
.
Sore itu, Ibu Tika dimakamkan.
Kudengar dari Lelaki tua yang tadi mencoba menenangkan Tika, Ibunya kecelakaan dengannya saat hendak mengantar pesanan kain batik. Lelaki tua tersebut berkali-kali berkata dengan penuh isak disetiap kalimat yang keluar dari mulutnya.
Beruntung baginya karena dia selamat, sedangkan Ibu Tika…..kalian tau apa yang terjadi.
Hari sudah semakin gelap, Tika masih tidak mau beranjak dari tempat peristirahatan terakhir Ibunya.
Tika masih terdiam memandangi nisan Ibunya. Tak ada satu katapun keluar dari mulutnya.
“Dek, sudah gelap, pulang yuk dek” kataku lirih. Berusaha membujuk Tika agar tidak terlalu lama larut dalam kesedihan.
Tika tidak menjawabku. Dia tetap menatap Nisan Ibunya.
“Tik..” Ku pegang kedua bahunya.
Tika membalikkan badannya dan memelukku. Begitu keras tangisannya, pinggangku di peluk erat olehnya. Terasa sesak, tetapi kutahan. Mungkin pelukan ini akan membuatnya sedikit tenang.
>>>>>>>
Kukuruyuuuuuukkkkk……
Suara ayam berkokok.
Pukul 06.00
Sepanjang malam mataku tidak bisa terlelap. Aku masih memikirkan Tika. Aku merasa kasihan, Iba, campur aduk rasanya.
Kejadian kemarin membuatku sadar, aku bersyukur masih mempunyai orang tua walau mereka jauh dariku dan jarang sekali menemuiku. Sedangkan Tika? Bapaknya entah ada dimana, dan… Ibunya telah berpulang ke sisi-Nya.
Aku sekarang mengerti. Orang tuaku jauh dariku, bekerja, mencari nafkah, bukan untuk hal lain kecuali hanyalah untuk anaknya. Anak yang selama ini membenci meraka berdua, anak yang selama ini merasa dirinya tidak dianggap oleh mereka. Mungkin aku ini termasuk kategori anak Durhaka.
Cekreeekkkkk…
Pintu kamarku terbuka.
“Tobiiiiii, ayok berangkat!”
Elissa mengangetkanku yang sedari tadi melamun.
“duluan aja El, aku gak sekolak dulu”
Tanganku ditariknya.
“BURUAN MANDI! Kamu harus sekolah”
“Hadehh, iya iya”
>>>
Hari ini aku kesekolah dengan kantung mata dan matahari menghiasi wajahku.
“Kamu abis begadang?” tanya Elissa.
“bukan begadang lagi El, gak tidur malah”
TAKKK!!!! Kepalaku dijitak.
Elissa belum tahu jika Ibunya Tika meninggal. Entah kenapa aku tidak memberitahunya saat itu.
Dikelas, aku tidak melihat Tika. Sepanjang jam pelajaran Tika belum muncul juga.
Esok harinya, Tika masih belum datang.
Esoknya lagi, Tika belum datang juga.
Sepulang sekolah aku memutuskan untuk pergi kerumah Tika. Tetapi saat aku sampai disana, tetangga bilang Tika sedang pergi entah kemana bersama Rani kakaknya.
Lalu kucoba membuka Hpku, berusaha mencari-cari kontak mbak Rani.
“Tuut..tuuuu..tuuutt, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.”
Suara khas operator seluler.
Ahhh, kenapa tidak aktif.
Kuputuskan kembali kerumah dengan tangan kosong tanpa hasil.
Esoknya, sepulang sekolah ku coba kembali pergi kerumah Tika bersama Dodi.
“Bi, masih jauh?” tanya Dodi.
“sebentar lagi Di sabar” jawabku.
“dari tadi bilang sebentar lagi sebentar lagi, sudah berapa kali kamu bilalng begitu Bi” kata Dodi kesal.
“hehehe…”
Akhirnya kami sampai.
“Permisi..”
Seorang wanita cantik membuka pintu rumah Tika. Mbak Rani.
“Ehhh, Tobi, sini masuk…Tikaaaa ada Tobi nih” teriak mbak rani,
Tak lama Tika muncul.
“Mas…” sapa Tika lirih. Wajahnya terlihat pucat sayu.
…
“Tika, besok sekolah ya,.Tobi sudah seperti orang gila disekolah kalo ndak ada kamu Tik” ejek Dodi padaku.
“hehehe.” Aku hanya terkekeh.
Mbak rani berjalan kearah kami, membawa 2 gelas minuman.
“Nih…diminum dek” kata mbak rani kepadaku dan Dodi.
“iya mbak terima kasih” jawabku.
Yahh cukup lama kami ngobrol sekedar berbasa basi, sampai akhirnya mbak Rani berkata,
“Tobi, gpp kan kalo Tika mbak ajak ke Bekasi? Dia akan sekolah disana.”
Aku kaget mendengar perkataan mbak Rani. Aku tidak bisa berkata-kata.
“Yaudah mbak tinggal dulu ya, kamu ngobrol dulu aja sama Tika” kata mbak rani, lalu berjalan kearah belakang rumah.
“Ssst…sssst..” aku berusaha memberi kode dan menyikut pelan lengan Dodi agar dia pergi juga.
“Apaan bi? Mau nambah air lagi?” jawab Dodi.
Kode yang kuberikan ternyata kurang mempan, akhirnya mataku melotot kearah Dodi.
“hehehe iya iya…aku keluar dulu ya Tik, mau cari angin segar”
-
-
-
“Dek, kamu serius mau pergi?”
“…” tika hanya mengangguk.
“Dek, kamu tinggal dirumah mas aja gimana? Kan ada Elissa juga? Jadi kamu ada yang jagain dan ada temen juga dek, Nanti aku bilang ke mbak Rani deh, ya?”
Aku berusaha membujuk Tika agar tidak pergi
“Gak mas, aku gak mau ngerepotin mas, aku kan cuma pacar, bukan istrinya mas.”jawab Tika.
Aku diam.
“kalo begitu aku bakal lamar kamu Tik, ya ya ya?” kataku. Ku pegang tangan Tika agar dia mengerti.
“Mas, kalau kita nikah, gimana sekolah kita mas? Mas mau dikeluarin dari sekolah?” jawab Tika lirih. Dia menatap mataku dengan penuh perasaan cinta dan sayang.
Bodohnya aku, cinta memang buta. Aku malu dengan kata-kataku sendiri.
“Terus gimana dong dek? Mas gak bisa jauh dari kamu dek”
Tika diam.
“Mas maunya putus?”
SKAKKK!!!!
Pertanyaan Tika langsung menghujam tepat dijantungku.
“Maksud kamu nanya gitu apaan sih dek? Kamu udah gak cinta sama mas?” aku terlanjur emosi dengan pertanyaannya.
Aku menunduk. Berpikir. Mengapa Tika bertanya seperti itu. Hatiku kalut.
Tangan Tika menggenggam erat tanganku,
“Maaaaassssss, adek cinta dan sayang banget sama mas, mas jangan cemberut gitu. Mas adalah cinta pertama dan terakhir untukk adek. Kalau mas juga cinta dan sayang sama adek, mas mau kan ijinin Tika pergi?”
Aku diam. Aku tidak bisa menjawab. Gejolak perasaaan didalam dada bercampur aduk. Otakku yang biasanya lancar berpikir, sekarang menjadi beku tak berfungsi.
Mungkin hanya perasaan yang beraksi sekarang, antara aku dan Tika.
“Dek, mas bakalan ikut kamu pindah kesana juga!” kataku.
Kami terdiam.
“Mas, kasian Elissa, mas kan sudah dititipkan untuk menjaga Elissa disini?”
“Kalau begitu aku ajak pindah juga Elissa” jawabku cepat.
“Mas!!!!!” Tika membentakku.
Lagi lagi aku diam.
“Maaaaaaaasss, janji ya sama adek? Setelah lulus, lamar aku mas”
Seketika aku merasakan bahagia, aku merasa senang dengan apa yang dikatakan oleh Tika. Yah walaupun saat itu kami masih remaja dan perkataan Tika terlalu berlebihan untuk wanita seumurannya.
“AkU JANJI DEK!!!” jawabku mantap. YAKIN!
Kami berdua akhirnya berpelukan. Lama. Ingin rasanya kuhentikan waktu, agar ku bisa memeluknya selamanya. Aku tak ingin melepaskan pelukan ini. Pelukan ini rasanya begitu nikmat,melebihi ciuman pertamaku dengan Tika.
“EHM!!”
JANGKRIK!!!
Dodi muncul disaat yang tidak tepat.
“Pulang yuk bi, sudah sore” ajak Dodi.
Akhirnya dengan berat hati, aku pulang, berpisah dengan Tika.
.
.
.
.
.
Besok sore Tika dan mbak Rani akan berangkat ke Bekasi.
-BERSAMBUNG-
Selamat berbuka puasa bagi yang menjalankan

JabLai cOY dan fabillillah memberi reputasi
2