- Beranda
- Stories from the Heart
I Am (NOT) Your Sister
...
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
465K
3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
natashyaa
#1586
A Part 49
“Ibu… kenapa?”
“…sakit…”
“Ibu.. Ani janji Ani gak bakal nakal lagi, Ani janji Ani bakal jadi anak yang baik, Ani bakal ngejaga dan ngerawat ibu..”
“Ibu.. jangan pukul aku…!!!”
Ah ternyata mimpi buruk. Aku terbangun, nafasku terengah-engah setelah mengalami mimpi barusan. Aku tidak menyangka aku bisa mengingat hari itu lagi, entah apa yang terjadi hari ini, aku tiba-tiba bisa melihat masa laluku kembali, aku ingat ibu kandungku dan semua perlakuannya. Aku takut!
Jam menunjukan pukul 9, aku bangkit dari kasur dan keluar kamar. Seluruh ruangan gelap kecuali kamar kak Fe yang masih menyala. Tadinya aku mau ke kamar kak Fe, tapi aku takut menganggunya. Jadi aku putuskan untuk ke luar duduk di kursi teras depan mencari udara segar, sambil menunggu ayah pulang.
Sambil duduk, aku terus memikirkan hal itu, memori masa kecilku, padahal sudah lama sekali aku tidak mengingatnya. Aku benar-benar ketakutan ketika mengingat betapa kesakitannya ibu kandungku waktu itu, dia selalu berteriak sendiri dan mengerang kesakitan, aku sebagai anak kecil mencoba membujuknya dan menenangkannya, tapi aku selalu dibentuk bahkan dipukuli dengan tongkat. Teringat itu, aku menjadi sedih sekaligus takut, aku sedih karena ibu kandungku seperti itu, aku sedih tidak bisa menyelamatkan dia ketika dia bunuh diri, tapi aku takut ketika mengingat perlakuan dia kepadaku.
Aku mendengar suara pintu kebuka, kemudian orang yang membuka pintu itu, yaitu kak Fe menghampiriku, sepanjang hari ini dia benar-benar mengkhawatirkanku. Kata-kata yang keluar dari mulutnya jelas terdengar di telingaku, tapi aku mengabaikanya karena aku masih fokus mengingat masa kecilku.
“Tunggu kak!” Giliranku memanggil kak Fe ketika dia hendak kembali masuk ke rumah.
“Apa?” Katanya
“Aku takut!”
Perasaanku tidak menentu, saat ini aku benar-benar ketakutan, bahkan air mataku tidak bisa kubendung lagi.
“Lo takut kenapa?” Tanya dia sambil mengusap-ngusap rambutku.
“Aku baru ingat ternyata hari ini adalah hari kematian ibu aku.”
“Aku sedih, aku ingat semua itu kak, aku tidak bisa menyembuhkan ibu aku.”
“Aku tidak ingin kehilangan dia, bahkan pas pemakaman aku tidak berada di sana. Aku tidak boleh berada disana.”
“Sampai sekarang aku tidak tahu dimana makam ibu aku.”
“Aku takut kak….”
Kak Fe hanya diam saja mendengar perkataanku
“Aku takut kehilangan ibu kakak juga, aku sudah sangat menyayangi ibu kakak, aku menyayangi keluarga ini, aku sayang kakak.. Aku tidak mau merasakan kehilangan lagi.”
“Cukup!” Kata dia tegas kepadaku.
“Ayo masuk ke dalam, disini dingin.”
“Lo butuh istirahat, kalau lo mau, lo tidur di kamar gue aja.”
kak Fe langsung masuk ke dalam rumah, disusul olehku dibelakangnya, aku menyeka air mataku sambil jalan.
Aku mengikuti kak Fe sampai ke kamarnya dan aku kemudian tiduran di kasurnya sambil terus mengingat-ngingat perkataanku tadi. Aku benar-benar menyayangi keluarga ini, ibu dan kak Fe adalah sesuatu yang berharga buatku saat ini. Ibu, dia benar-benar sangat baik kepadaku dan menerimaku walaupun aku bukan anak kandungnya, tapi aku selalu diperlakukan seperti anak kandungnya. Aku sangat menyayangi dia dan tidak ingin kehilangan dia, ibu merupakan sosok ibu yang selalu aku dambakan sebelumnya. Sementara kak Fe, aku tau dia awalnya tidak mau menerima keberadaanku. Tapi, dibalik sifatnya yang dingin dan jutek seperti itu, aku tau dia adalah seorang yang baik sekali, aku sangat bangga punya saudara seperti dia, bahkan aku sendiri tidak munafik kalau aku juga mengidolakan dia. Pokoknya aku bersyukur sekali dengan kondisiku sekarang, aku tidak ingin kehilangan mereka berdua.
Ahh.. memikirkan hal menyenangkan itu ternyata malah membuatku tertidur.
Ketika aku terbangun, kak Fe berada di sebelahku menemaniku. Dalam keadaan tidur pun dia masih menawan, aku menyingkirkan tangannya yang menghalangi badanku. Aku bangkit dari kasur, aku mau ke kamarku, oh ya sebelum aku ke kamarku, tidak lupa aku menyelimuti kak Fe. Sleep tight ya my sister. :’)
“…sakit…”
“Ibu.. Ani janji Ani gak bakal nakal lagi, Ani janji Ani bakal jadi anak yang baik, Ani bakal ngejaga dan ngerawat ibu..”
“Ibu.. jangan pukul aku…!!!”
Ah ternyata mimpi buruk. Aku terbangun, nafasku terengah-engah setelah mengalami mimpi barusan. Aku tidak menyangka aku bisa mengingat hari itu lagi, entah apa yang terjadi hari ini, aku tiba-tiba bisa melihat masa laluku kembali, aku ingat ibu kandungku dan semua perlakuannya. Aku takut!
Jam menunjukan pukul 9, aku bangkit dari kasur dan keluar kamar. Seluruh ruangan gelap kecuali kamar kak Fe yang masih menyala. Tadinya aku mau ke kamar kak Fe, tapi aku takut menganggunya. Jadi aku putuskan untuk ke luar duduk di kursi teras depan mencari udara segar, sambil menunggu ayah pulang.
Sambil duduk, aku terus memikirkan hal itu, memori masa kecilku, padahal sudah lama sekali aku tidak mengingatnya. Aku benar-benar ketakutan ketika mengingat betapa kesakitannya ibu kandungku waktu itu, dia selalu berteriak sendiri dan mengerang kesakitan, aku sebagai anak kecil mencoba membujuknya dan menenangkannya, tapi aku selalu dibentuk bahkan dipukuli dengan tongkat. Teringat itu, aku menjadi sedih sekaligus takut, aku sedih karena ibu kandungku seperti itu, aku sedih tidak bisa menyelamatkan dia ketika dia bunuh diri, tapi aku takut ketika mengingat perlakuan dia kepadaku.
Aku mendengar suara pintu kebuka, kemudian orang yang membuka pintu itu, yaitu kak Fe menghampiriku, sepanjang hari ini dia benar-benar mengkhawatirkanku. Kata-kata yang keluar dari mulutnya jelas terdengar di telingaku, tapi aku mengabaikanya karena aku masih fokus mengingat masa kecilku.
“Tunggu kak!” Giliranku memanggil kak Fe ketika dia hendak kembali masuk ke rumah.
“Apa?” Katanya
“Aku takut!”
Perasaanku tidak menentu, saat ini aku benar-benar ketakutan, bahkan air mataku tidak bisa kubendung lagi.
“Lo takut kenapa?” Tanya dia sambil mengusap-ngusap rambutku.
“Aku baru ingat ternyata hari ini adalah hari kematian ibu aku.”
“Aku sedih, aku ingat semua itu kak, aku tidak bisa menyembuhkan ibu aku.”
“Aku tidak ingin kehilangan dia, bahkan pas pemakaman aku tidak berada di sana. Aku tidak boleh berada disana.”
“Sampai sekarang aku tidak tahu dimana makam ibu aku.”
“Aku takut kak….”
Kak Fe hanya diam saja mendengar perkataanku
“Aku takut kehilangan ibu kakak juga, aku sudah sangat menyayangi ibu kakak, aku menyayangi keluarga ini, aku sayang kakak.. Aku tidak mau merasakan kehilangan lagi.”
“Cukup!” Kata dia tegas kepadaku.
“Ayo masuk ke dalam, disini dingin.”
“Lo butuh istirahat, kalau lo mau, lo tidur di kamar gue aja.”
kak Fe langsung masuk ke dalam rumah, disusul olehku dibelakangnya, aku menyeka air mataku sambil jalan.
Aku mengikuti kak Fe sampai ke kamarnya dan aku kemudian tiduran di kasurnya sambil terus mengingat-ngingat perkataanku tadi. Aku benar-benar menyayangi keluarga ini, ibu dan kak Fe adalah sesuatu yang berharga buatku saat ini. Ibu, dia benar-benar sangat baik kepadaku dan menerimaku walaupun aku bukan anak kandungnya, tapi aku selalu diperlakukan seperti anak kandungnya. Aku sangat menyayangi dia dan tidak ingin kehilangan dia, ibu merupakan sosok ibu yang selalu aku dambakan sebelumnya. Sementara kak Fe, aku tau dia awalnya tidak mau menerima keberadaanku. Tapi, dibalik sifatnya yang dingin dan jutek seperti itu, aku tau dia adalah seorang yang baik sekali, aku sangat bangga punya saudara seperti dia, bahkan aku sendiri tidak munafik kalau aku juga mengidolakan dia. Pokoknya aku bersyukur sekali dengan kondisiku sekarang, aku tidak ingin kehilangan mereka berdua.
Ahh.. memikirkan hal menyenangkan itu ternyata malah membuatku tertidur.
Ketika aku terbangun, kak Fe berada di sebelahku menemaniku. Dalam keadaan tidur pun dia masih menawan, aku menyingkirkan tangannya yang menghalangi badanku. Aku bangkit dari kasur, aku mau ke kamarku, oh ya sebelum aku ke kamarku, tidak lupa aku menyelimuti kak Fe. Sleep tight ya my sister. :’)
0
