- Beranda
- Stories from the Heart
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
...
TS
beavermoon
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
Selamat datang di BeaverMoon Land
Sudah lama tak berjumpa dengan halaman ini dan biasanya cuma liat info-info HT doang.
Dan pada akhirnya ane kembali dengan membawa kisah yang ngga terlalu bagus

Spoiler for Tanya Jawab:
Q : Bang bakalan panen kentang lagi ngga?"
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)
Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)

Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
Jadi buat agan dan aganwati sekalian yang mau mengikuti thread ini seharusnya baca AKU, KAMU, DAN LEMONterlebih dahulu. Cuma kalo mau baca ini dulu ya nggapapa ngga ada larangannya

Selamat membaca

Spoiler for INDEX:
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Diubah oleh beavermoon 28-01-2020 19:37
i4munited dan 13 lainnya memberi reputasi
14
77.7K
Kutip
417
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#160
Spoiler for Episode 14b:
“Katanya kamu ngga bisa ke sini?” Tanyaku
“Urusannya udah selesai tadi siang. Motor kamu masih bisa nyala kan?” Katanya
“Bisa kok, emang kenapa?” Tanyaku lagi
Aku mengeluarkan motor tua yang sudah berada di garasi sejak lama, setelah beberapa menit akhirnya motor ini mau menyala kembali. Widya sudah duduk di belakangku kemudian kami pergi ke sebuah tempat yang dirahasiakan olehnya. Selama di perjalanan kami saling berbicang hingga tidak terasa kami tiba di sebuah tempat yang cukup ramai oleh orang-orang pada sore hari.
Setelah kuparkirkan motorku, akhirnya kami duduk di sebuah bangku taman yang terbuat dari semen. Belum lama kami duduk Widya mengajakku menuju tempat dimana banyak sekali jajanan yang ada di pinggir jalan, hingga kami berhenti pada sebuah gerobak yang menjual bakso.
“Bang, baksonya dua porsi ya...” Kata Widya
“Pedes apa sedeng Neng?” Tanya penjual bakso tersebut
“Pedes banget...” Kataku menjawab
Widya melihat ke arahku dan tersenyum lagi.
Entah sudah berapa cc keringat yang keluar dari pori-pori kulit kami hingga membuat baju kami sedikit basah karena pedasnya sambel bakso ini. Dan akhirnya aku beserta Widya berhasil menghabiskan bakso kuah sambel itu. Dilanjukan pada sore ini, kami sedang menikmati orang-orang yang dengan senangnya bermain dan berkumpul di sini. Tiba-tiba Widya bangun dari duduknya dan pergi menuju sebuah pedagang yang menjual mainan gelembung sabun. Ia kembali dengan berlari-lari kecil dan nampaknya ia sangat senang dengan mainan barunya
“Kamu masih mau mainin itu lagi?” Tanyaku
“Kamu masih mau nemenin kan?” Tanyanya balik kepadaku
Hingga akhirnya kami berdua sama-sama memainkan gelembung tersebut, norak mungkin tapi aku sangat senang dengan memori yang ada di dalamnya. Sebuah memori yang mungkin tidak bisa terulang kembali, namun kali ini aku kembali mengulanginya bersama dengan orang yang sama, bersama dengan perasaan yang sama.
Hari sudah semakin sore dan sebentar lagi matahari akan membenamkan wajahnya di ufuk barat, aku dan juga Widya memutuskan untuk pulang ke rumah. Selama di perjalanan Widya masih bermain dengan gelembung yang tersisa, aku hanya bisa melihat keseruannya dari balik kaca spion motor tua ini. Widya memintaku untuk menepi sebentar dan ia menuju sebuah tempat sampah besar dan membuang mainan gelembung tersebut.
“Kok kamu buang?” Tanyaku seketika ia kembali duduk di belakang
“Udah cukup mainnya, sekarang waktunya meluk kamu dari belakang...” Jawabnya
Ia memelukku dari belakang dan kemudian kami melanjutkan perjalanan kami menuju rumah. Setibanya di rumah aku langsung memasukkan motor ini kembali pada sarangnya dan kembali menuju Widya yang sedang menunggu di luar.
“Kamu mau langsung pulang?” Tanyaku
“Iya, besok masih ada urusan...” Katanya
Kemudian ia memelukku untuk waktu yang cukup lama dan aku tau apa yang sedang ia lakukan. Sebuah salam perpisahan yang tidak secara langsung disampaikan olehnya, ia tidak mau mengulang seperti beberapa tahun yang lalu ketika ia pergi tanpa adanya perpisahan.
“Makasih ya Bram...” Bisiknya
“Buat apa?” Tanyaku berpura-pura tidak tau
“Semuanya...”
Kemudian ia menciumku lagi dan lebih lama dari biasanya, aku dapat melihat wajahnya lebih dekat kali ini karena mataku tidak mau untuk terpejam. Terakhir kalinya aku akan melihat wajah ini lagi dan mungkin ia tidak akan pernah kembali lagi.
Dengan cepat ia masuk ke dalam mobilnya, aku dapat melihat dari kaca mobilnya bahwa ia sedang menyeka air matanya. Tidak lama kemudian mobil itu pergi meninggalkan rumahku semakin jauh dan akhirya tidak terlihat lagi.
Aku masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang sebenarnya tidak bisa dijelaskan lagi. Jalanku melamban dari biasanya hingga bisa masuk ke dalam kamar yang ternyata sudah ada Reza dan Nanda di dalamnya.
“Ka Wid mana Bang?” Tanya Nanda
“Udah pulang tadi, ada urusan jadi buru-buru.” Kataku
Aku berjalan menuju balkon dan kunyalakan sebatang rokok, kuhembuskan asapnya dan menghilang begitu saja diterpa oleh angin sore ini. Seperti halnya perasaanku yang terbawa kembali oleh Widya yang pergi lagi dan lagi untuk meninggalkanku. Ketika aku sudah kembali percaya akan datangnya cinta yang telah lama menghilang, justru cinta itu kembali dipertanyakan dan membuat pendirianku goyah.
Tak terasa malam sudah menjelang dan aku masih berdiri di balkon ini menatapi langit yang cerah bertahtakan banyak bintang di atas sana.
“Keindahan yang semu...” Kataku seorang diri
Aku mendengar ada suara ketukan dari luar pagar, dengan cepat aku turun ke bawah dan membuka pintu gerbang itu.
“Ajeng...” Kataku cukup kaget
“Loh masih inget sama gue ternyata, hai Bram.” Katanya
“Apa kabar? Udah lama ngga ketemu.” Kataku menyalami tangannya
“Baik kok baik. Gue ke sini ngga lama kok cuma mau ngasih ini.” Kata Ajeng
Lagi dan lagi aku melihat sebuah amplop hitam, sebuah benda yang pernah membuatku merasa cukup sedih karena harus berpisah dengan cinta yang sudah kupercaya. Namun kali ini aku tersenyum menerima benda itu dan nampaknya Ajeng sudah menyadari semuanya.
“Jadi lo ngga mau ngejar dia?” Tanya Ajeng
Aku hanya menggelengkan kepala kemudian tersenyum lagi.
“Oh iya ada satu titipan lagi...” Kata Ajeng
Ia mendekatkan wajahnya padaku dan tak kusangka Ajeng akan menciumku untuk waktu yang sangat lama.
“Tapi itu bukan dari dia, dari gue sendiri. Gue salut sama lo Bram...” Kata Ajeng
Kemudian Ajeng pergi meninggalkan ku. Di depan gerbang ini aku hanya dapat melihat sebuah amplop hitam ini lagi yang mungkin isinya sama atau bahkan bisa sangat berbeda dari yang sebelumnya.
“Lu ngeliatin apaan dah?” Tanya Reza
“Ngga. Eh masang bel berapaan ya? Gue suka ngga denger kalo ada orang dateng.” Kataku mengalihkan perhatian
“Ngga tau sekarang berapa, besok gue panggilin tukang deh santai aja.” Kata Reza
Kemudian kami berdua masuk ke dalam rumah menuju balkon kamarku. Di sana ada aku dan juga Reza yang saling beradu asap rokok pada malam ini.
“Jadi gimana lu sama Widya?” Tanya Reza
“Dia besok bakalan pergi lagi ninggalin gue.” Kataku
“Loh kok lu biasa aja?” Tanya Reza keheranan
“Terkadang apa yang kita cintai itu ngga selamanya ada di samping kita, mungkin dia bakalan lebih baik jauh dari kita.” Kataku
“Gue udah ngga ngerti lagi jalan cerita cinta lu sama Widya.” Kata Reza
“Kalo lu mau ngerti ikut gue ke dalem.” Kataku
Aku dan Reza masuk ke dalam dan kunyalakan laptop beserta proyektornya. Aku mulai memutarkan film yang ada di dalam laptopku, dan kembali mengingatkan memoriku tentangnya lagi
Tak terasa film yang sudah kami tontonpun habis, aku mendengar suara isakan yang ternyata berasal dari Reza. Ia meneteskan air mata setelah menonton film ini.
“Jadi ini kenapa lu ngga mau ngejar Widya?” Tanya Reza
Aku hanya mengangguk pelan
“Ternyata kisah cinta lu mengharukan juga ya.” Kata Reza
Apa yang seharusnya bisa aku milikki mungkin pada akhirnya akan pergi meninggalkanku, karena terkadang apa yang kita cintai bisa lebih baik jika itu jauh dari kita. Sebuah keikhlasan kembali dipertanyakan dan ego mulai menggebu-gebu, tergantung bagaimana kita menyikapinya dan memilih antara sebuah keikhlasan yang sederhana atau sebuah ego yang bisa mendapatkan segalanya.
“Urusannya udah selesai tadi siang. Motor kamu masih bisa nyala kan?” Katanya
“Bisa kok, emang kenapa?” Tanyaku lagi
Aku mengeluarkan motor tua yang sudah berada di garasi sejak lama, setelah beberapa menit akhirnya motor ini mau menyala kembali. Widya sudah duduk di belakangku kemudian kami pergi ke sebuah tempat yang dirahasiakan olehnya. Selama di perjalanan kami saling berbicang hingga tidak terasa kami tiba di sebuah tempat yang cukup ramai oleh orang-orang pada sore hari.
Setelah kuparkirkan motorku, akhirnya kami duduk di sebuah bangku taman yang terbuat dari semen. Belum lama kami duduk Widya mengajakku menuju tempat dimana banyak sekali jajanan yang ada di pinggir jalan, hingga kami berhenti pada sebuah gerobak yang menjual bakso.
“Bang, baksonya dua porsi ya...” Kata Widya
“Pedes apa sedeng Neng?” Tanya penjual bakso tersebut
“Pedes banget...” Kataku menjawab
Widya melihat ke arahku dan tersenyum lagi.
Spoiler for Flashback:
Sepulang sekolah, aku sedang menaiki sepeda motor tua ini bersama dengan Widya menuju ke arah rumahku. Setibanya di rumah kami bertemu dengan Ayah dan juga Ibu yang sedang berbincang di pinggir kolam untuk menemani Nanda yang sedang berenang.
“Kok kalian pulang lebih sore dari biasanya?” Tanya Ayah
“Tadi ada tambahan materi jadinya baliknya lama.” Kataku
“Kalian makan dulu gih, ada gudeg di dalem.” Kata Mama
“Aku makan di luar aja deh, lagi pusing banget.” Kataku
“Emang ada makanan yang ngga bikin pusing Bram?” Tanya Widya
“Ada, ikut aja ntar aku tunjukkin.” Kataku
“Aku ngga diajak Bang?” Tanya Nanda muncul dari dalam air
“Motornya cuma muat berdua Nda, kamu kan gendut ngga cukup jadinya.” Godaku
Nanda menyiramku dengan air dari kolam berenang dan membuat seragamku sedikit basah. Setelah menghindar dari Nanda akhirnya aku dan juga Widya pergi menuju sebuah tempat yang sering kami lewati setelah pulang sekolah. Dan tibalah kami di sebuah taman yang cukup ramai jika sore hari, banyak sekali pedagang yang menjajakan dagangannya dan juga orang-orang yang berkumpul. Aku membawa Widya pada sebuah gerobak yang menjual bakso. Setelah kami memesan untuk kami berdua akhirnya kami duduk di sebuah bangku yang terbuat dari besi-besi.
“Bram kamu yakin ini bisa ngilangin pusing?” Tanya Widya ragu
“Bisa kok udah terbukti sama keluarga aku, ngga mesti bakso sih yang penting ininya.” Kataku
Aku mengambil wadah yang berisi sambel dan menuangkannya sangat banyak di dalam mangkokku hingga membuat warnanya menjadi sangat merah. Dengan ragu Widya menuangkan sambel pada mangkoknya hingga warnanya sudah sangat mirip dengan punyaku.
Kami mulai memakannya pada sore ini dan tidak terasa kami sudah berkeringat dengan parahnya hingga membuat wajah kami penuh dengan kucuran keringat. Cukup lama untuk kami menghabiskan semangkok bakso yang sangat pedas ini hingga tidak ada yang tersisa di dalamnya.
“Iya Bram bener juga bisa ngilangin pusing.” Kata Widya
Setelah meredakan rasa pedas yang menggila akhirnya kami bisa menikmati sore ini dengan santainya. Hembusan angin dapat menyejukan kami dan rasanya aku sudah mulai mengantuk, tiba-tiba saja Widya bangun dari duduknya dan berlari menghampiri sebuah pedagang yang menjual mainan gelembung. Ia kembali sambil berlari kegirangan seperti anak kecil yang baru mendapat mainan baru.
“Kamu ngapain sih main kayak gitu udah kayak anak kecil...” Kataku
“Biarin ih Bram kamu mah, kan menghibur diri sendiri.” Katanya
Ia mulai meniupkan gelembung itu hingga menjadi bentuk bola-bola sabun yang melayang-layang di udara dan setelah itu Widya mengejar gelembung-gelembung itu untuk dipecahkan. Aku hanya bisa tersenyum melihat apa yang sedang ia lakukan.
“Bram sini temenin main...”Katanya
Dengan terpaksa aku menghampirinya dan ikut bermain bersamanya.
“Kok kalian pulang lebih sore dari biasanya?” Tanya Ayah
“Tadi ada tambahan materi jadinya baliknya lama.” Kataku
“Kalian makan dulu gih, ada gudeg di dalem.” Kata Mama
“Aku makan di luar aja deh, lagi pusing banget.” Kataku
“Emang ada makanan yang ngga bikin pusing Bram?” Tanya Widya
“Ada, ikut aja ntar aku tunjukkin.” Kataku
“Aku ngga diajak Bang?” Tanya Nanda muncul dari dalam air
“Motornya cuma muat berdua Nda, kamu kan gendut ngga cukup jadinya.” Godaku
Nanda menyiramku dengan air dari kolam berenang dan membuat seragamku sedikit basah. Setelah menghindar dari Nanda akhirnya aku dan juga Widya pergi menuju sebuah tempat yang sering kami lewati setelah pulang sekolah. Dan tibalah kami di sebuah taman yang cukup ramai jika sore hari, banyak sekali pedagang yang menjajakan dagangannya dan juga orang-orang yang berkumpul. Aku membawa Widya pada sebuah gerobak yang menjual bakso. Setelah kami memesan untuk kami berdua akhirnya kami duduk di sebuah bangku yang terbuat dari besi-besi.
“Bram kamu yakin ini bisa ngilangin pusing?” Tanya Widya ragu
“Bisa kok udah terbukti sama keluarga aku, ngga mesti bakso sih yang penting ininya.” Kataku
Aku mengambil wadah yang berisi sambel dan menuangkannya sangat banyak di dalam mangkokku hingga membuat warnanya menjadi sangat merah. Dengan ragu Widya menuangkan sambel pada mangkoknya hingga warnanya sudah sangat mirip dengan punyaku.
Kami mulai memakannya pada sore ini dan tidak terasa kami sudah berkeringat dengan parahnya hingga membuat wajah kami penuh dengan kucuran keringat. Cukup lama untuk kami menghabiskan semangkok bakso yang sangat pedas ini hingga tidak ada yang tersisa di dalamnya.
“Iya Bram bener juga bisa ngilangin pusing.” Kata Widya
Setelah meredakan rasa pedas yang menggila akhirnya kami bisa menikmati sore ini dengan santainya. Hembusan angin dapat menyejukan kami dan rasanya aku sudah mulai mengantuk, tiba-tiba saja Widya bangun dari duduknya dan berlari menghampiri sebuah pedagang yang menjual mainan gelembung. Ia kembali sambil berlari kegirangan seperti anak kecil yang baru mendapat mainan baru.
“Kamu ngapain sih main kayak gitu udah kayak anak kecil...” Kataku
“Biarin ih Bram kamu mah, kan menghibur diri sendiri.” Katanya
Ia mulai meniupkan gelembung itu hingga menjadi bentuk bola-bola sabun yang melayang-layang di udara dan setelah itu Widya mengejar gelembung-gelembung itu untuk dipecahkan. Aku hanya bisa tersenyum melihat apa yang sedang ia lakukan.
“Bram sini temenin main...”Katanya
Dengan terpaksa aku menghampirinya dan ikut bermain bersamanya.
Entah sudah berapa cc keringat yang keluar dari pori-pori kulit kami hingga membuat baju kami sedikit basah karena pedasnya sambel bakso ini. Dan akhirnya aku beserta Widya berhasil menghabiskan bakso kuah sambel itu. Dilanjukan pada sore ini, kami sedang menikmati orang-orang yang dengan senangnya bermain dan berkumpul di sini. Tiba-tiba Widya bangun dari duduknya dan pergi menuju sebuah pedagang yang menjual mainan gelembung sabun. Ia kembali dengan berlari-lari kecil dan nampaknya ia sangat senang dengan mainan barunya
“Kamu masih mau mainin itu lagi?” Tanyaku
“Kamu masih mau nemenin kan?” Tanyanya balik kepadaku
Hingga akhirnya kami berdua sama-sama memainkan gelembung tersebut, norak mungkin tapi aku sangat senang dengan memori yang ada di dalamnya. Sebuah memori yang mungkin tidak bisa terulang kembali, namun kali ini aku kembali mengulanginya bersama dengan orang yang sama, bersama dengan perasaan yang sama.
Hari sudah semakin sore dan sebentar lagi matahari akan membenamkan wajahnya di ufuk barat, aku dan juga Widya memutuskan untuk pulang ke rumah. Selama di perjalanan Widya masih bermain dengan gelembung yang tersisa, aku hanya bisa melihat keseruannya dari balik kaca spion motor tua ini. Widya memintaku untuk menepi sebentar dan ia menuju sebuah tempat sampah besar dan membuang mainan gelembung tersebut.
“Kok kamu buang?” Tanyaku seketika ia kembali duduk di belakang
“Udah cukup mainnya, sekarang waktunya meluk kamu dari belakang...” Jawabnya
Ia memelukku dari belakang dan kemudian kami melanjutkan perjalanan kami menuju rumah. Setibanya di rumah aku langsung memasukkan motor ini kembali pada sarangnya dan kembali menuju Widya yang sedang menunggu di luar.
“Kamu mau langsung pulang?” Tanyaku
“Iya, besok masih ada urusan...” Katanya
Kemudian ia memelukku untuk waktu yang cukup lama dan aku tau apa yang sedang ia lakukan. Sebuah salam perpisahan yang tidak secara langsung disampaikan olehnya, ia tidak mau mengulang seperti beberapa tahun yang lalu ketika ia pergi tanpa adanya perpisahan.
“Makasih ya Bram...” Bisiknya
“Buat apa?” Tanyaku berpura-pura tidak tau
“Semuanya...”
Kemudian ia menciumku lagi dan lebih lama dari biasanya, aku dapat melihat wajahnya lebih dekat kali ini karena mataku tidak mau untuk terpejam. Terakhir kalinya aku akan melihat wajah ini lagi dan mungkin ia tidak akan pernah kembali lagi.
Dengan cepat ia masuk ke dalam mobilnya, aku dapat melihat dari kaca mobilnya bahwa ia sedang menyeka air matanya. Tidak lama kemudian mobil itu pergi meninggalkan rumahku semakin jauh dan akhirya tidak terlihat lagi.
Aku masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang sebenarnya tidak bisa dijelaskan lagi. Jalanku melamban dari biasanya hingga bisa masuk ke dalam kamar yang ternyata sudah ada Reza dan Nanda di dalamnya.
“Ka Wid mana Bang?” Tanya Nanda
“Udah pulang tadi, ada urusan jadi buru-buru.” Kataku
Aku berjalan menuju balkon dan kunyalakan sebatang rokok, kuhembuskan asapnya dan menghilang begitu saja diterpa oleh angin sore ini. Seperti halnya perasaanku yang terbawa kembali oleh Widya yang pergi lagi dan lagi untuk meninggalkanku. Ketika aku sudah kembali percaya akan datangnya cinta yang telah lama menghilang, justru cinta itu kembali dipertanyakan dan membuat pendirianku goyah.
Tak terasa malam sudah menjelang dan aku masih berdiri di balkon ini menatapi langit yang cerah bertahtakan banyak bintang di atas sana.
“Keindahan yang semu...” Kataku seorang diri
Aku mendengar ada suara ketukan dari luar pagar, dengan cepat aku turun ke bawah dan membuka pintu gerbang itu.
“Ajeng...” Kataku cukup kaget
“Loh masih inget sama gue ternyata, hai Bram.” Katanya
“Apa kabar? Udah lama ngga ketemu.” Kataku menyalami tangannya
“Baik kok baik. Gue ke sini ngga lama kok cuma mau ngasih ini.” Kata Ajeng
Lagi dan lagi aku melihat sebuah amplop hitam, sebuah benda yang pernah membuatku merasa cukup sedih karena harus berpisah dengan cinta yang sudah kupercaya. Namun kali ini aku tersenyum menerima benda itu dan nampaknya Ajeng sudah menyadari semuanya.
“Jadi lo ngga mau ngejar dia?” Tanya Ajeng
Aku hanya menggelengkan kepala kemudian tersenyum lagi.
“Oh iya ada satu titipan lagi...” Kata Ajeng
Ia mendekatkan wajahnya padaku dan tak kusangka Ajeng akan menciumku untuk waktu yang sangat lama.
“Tapi itu bukan dari dia, dari gue sendiri. Gue salut sama lo Bram...” Kata Ajeng
Kemudian Ajeng pergi meninggalkan ku. Di depan gerbang ini aku hanya dapat melihat sebuah amplop hitam ini lagi yang mungkin isinya sama atau bahkan bisa sangat berbeda dari yang sebelumnya.
“Lu ngeliatin apaan dah?” Tanya Reza
“Ngga. Eh masang bel berapaan ya? Gue suka ngga denger kalo ada orang dateng.” Kataku mengalihkan perhatian
“Ngga tau sekarang berapa, besok gue panggilin tukang deh santai aja.” Kata Reza
Kemudian kami berdua masuk ke dalam rumah menuju balkon kamarku. Di sana ada aku dan juga Reza yang saling beradu asap rokok pada malam ini.
“Jadi gimana lu sama Widya?” Tanya Reza
“Dia besok bakalan pergi lagi ninggalin gue.” Kataku
“Loh kok lu biasa aja?” Tanya Reza keheranan
“Terkadang apa yang kita cintai itu ngga selamanya ada di samping kita, mungkin dia bakalan lebih baik jauh dari kita.” Kataku
“Gue udah ngga ngerti lagi jalan cerita cinta lu sama Widya.” Kata Reza
“Kalo lu mau ngerti ikut gue ke dalem.” Kataku
Aku dan Reza masuk ke dalam dan kunyalakan laptop beserta proyektornya. Aku mulai memutarkan film yang ada di dalam laptopku, dan kembali mengingatkan memoriku tentangnya lagi
Spoiler for Flashback:
Hari libur bukanlah menjadi hari yang tenang saat ini, menjelang ujian aku mencoba untuk lebih sering belajar daripada bersantai. Widya sudah berada di rumahku sejak pagi hari hingga tak terasa sore sudah datang dan penat di pikiran kami tak bisa dihindarkan lagi.
“Bram pusing...” Kata Widya
“Yaudah istirahat aja dulu Wid.” Kataku
“Kamu ngga punya film yang seru gitu?” Tanyanya
“Buka aja di laptop Wid, kan selera kita beda-beda.” Kataku
Ia menyalakan laptop milikku dan membuka folder-folder film yang ada di sana, dan untungnya aku sudah mengerti cara menyembunyikan folder yang berisi...
“Love Actually film apa Bram?” Tanya Widya
“Tonton aja seru kok.” Kataku
Aku meninggalkan lembaran fotokopian yang sedang kukerkajan untuk ikut menonton bersama dengan Widya. FIlm sudah dimulai dan aku sudah mulai fokus dengan alur ceritanya. Film yang menceritakan tentang bagaimana kita menyikapi tentang cinta yang datang pada kehidupan kita dan bagaimana kita menyelesaikan tentang cinta itu. Ada banyak kisah yang menceritakan tentang cinta mereka dan aku terpaku pada satu kisah dimana ada sebuah cinta segitiga di dalamnya. Ketika sang lelaki merelakan wanita yang ia cintai menikah dengan sahabatnya sendiri, dan setelah mereka menikah si lelaki jujur pada sang wanita tentang perasaanya yang sudah ia pendam sejak lama. Dan itulah yang mengajarkan bagaimana sebuah keikhlasan dapat membawa kita pada suatu keputusan yang benar. Hingga tak terasa film yang kami tonton pun habis.
“Udah jangan nangis lagi...” Kataku menghapus air matanya
“Tapi sedih banget Bram, kamu bisa bayangin kan kalo jadi salah satu dari mereka.” Kata Widya
Aku memeluknya agar membuatnya sedikit tenang setelah menonton itu.
“Bram pusing...” Kata Widya
“Yaudah istirahat aja dulu Wid.” Kataku
“Kamu ngga punya film yang seru gitu?” Tanyanya
“Buka aja di laptop Wid, kan selera kita beda-beda.” Kataku
Ia menyalakan laptop milikku dan membuka folder-folder film yang ada di sana, dan untungnya aku sudah mengerti cara menyembunyikan folder yang berisi...
“Love Actually film apa Bram?” Tanya Widya
“Tonton aja seru kok.” Kataku
Aku meninggalkan lembaran fotokopian yang sedang kukerkajan untuk ikut menonton bersama dengan Widya. FIlm sudah dimulai dan aku sudah mulai fokus dengan alur ceritanya. Film yang menceritakan tentang bagaimana kita menyikapi tentang cinta yang datang pada kehidupan kita dan bagaimana kita menyelesaikan tentang cinta itu. Ada banyak kisah yang menceritakan tentang cinta mereka dan aku terpaku pada satu kisah dimana ada sebuah cinta segitiga di dalamnya. Ketika sang lelaki merelakan wanita yang ia cintai menikah dengan sahabatnya sendiri, dan setelah mereka menikah si lelaki jujur pada sang wanita tentang perasaanya yang sudah ia pendam sejak lama. Dan itulah yang mengajarkan bagaimana sebuah keikhlasan dapat membawa kita pada suatu keputusan yang benar. Hingga tak terasa film yang kami tonton pun habis.
“Udah jangan nangis lagi...” Kataku menghapus air matanya
“Tapi sedih banget Bram, kamu bisa bayangin kan kalo jadi salah satu dari mereka.” Kata Widya
Aku memeluknya agar membuatnya sedikit tenang setelah menonton itu.
Tak terasa film yang sudah kami tontonpun habis, aku mendengar suara isakan yang ternyata berasal dari Reza. Ia meneteskan air mata setelah menonton film ini.
“Jadi ini kenapa lu ngga mau ngejar Widya?” Tanya Reza
Aku hanya mengangguk pelan
“Ternyata kisah cinta lu mengharukan juga ya.” Kata Reza
Apa yang seharusnya bisa aku milikki mungkin pada akhirnya akan pergi meninggalkanku, karena terkadang apa yang kita cintai bisa lebih baik jika itu jauh dari kita. Sebuah keikhlasan kembali dipertanyakan dan ego mulai menggebu-gebu, tergantung bagaimana kita menyikapinya dan memilih antara sebuah keikhlasan yang sederhana atau sebuah ego yang bisa mendapatkan segalanya.
khuman dan Herisyahrian memberi reputasi
2
Kutip
Balas