- Beranda
- Stories from the Heart
FLIPPED
...
TS
lieutenant.dan
FLIPPED
FLIPPED
“My heart stopped. It just stopped beating. And for the first time in my life, I had that feeling. You know, like the world is moving all around you, all beneath you, all inside you, and you're floating. Floating in midair. And the only thing keeping you from drifting away is the other person's eyes. They're connected to yours by some invisible physical force, and they hold you fast while the rest of the world swirls and twirls and falls completely away.”
― Wendelin Van Draanen, Flipped
― Wendelin Van Draanen, Flipped
SEPENGGAL CERITAKU, UNTUK MU MENTARIKU
Quote:
Spoiler for INDEKS:
Diubah oleh lieutenant.dan 13-06-2016 22:09
anasabila memberi reputasi
1
6.5K
82
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
lieutenant.dan
#10
PART 2
Kebahagiaan hidup, sering aku berpikir, apakah aku sudah bahagia selama ini? Apakah aku bisa lebih bahagia dari ini? Aku masih belum bisa menemukan jawaban dari 2 pernyataan itu. Orang bilang, bahagia itu sederhana. Semua nya tergantung definisi bahagia dan sederhana, dan definisi dari 2 kata tersebut selalu berbeda pada setiap orang. Bahagia itu ketika kita bisa berkumpul bersama keluarga dalam keadaan sehat tanpa kurang suatu apapun. Lagi-lagi pernyataan itu membuatku bertanya, bagaimana aku bisa merasakan kebahagian keluarga? Sedangkan ayah dan ibu pun aku tak punya. Tapi aku selalu memakai definisi bahagia dari kakek “le, bahagia itu bersyukur, banyak banyak bersyukur dengan apa yang sudah dituliskan Gusti Allah”. Ya, aku sangat bersyukur mempunyai Kakek dan nenek yang mau mengasuh ku walaupun tiada darah mengalir di antara kita. nenek dengan kasih sayang nya dan kakek dengan pembelajaran hidup nya. Aku sangat bersyukur, tapi belum tentu aku bahagia.
Hari sudah gelap pada saat kami pulang dari mengantar pesanan bibit. Aku langsung bergegas ke kamar mandi membersihkan badan dan wudhu. Setelah sholat isya aku hanya merapikan document yang akan aku bawa pada saat masuk kuliah bulan depan. Membolak balik kertas dan mengecek apakah sudah lengkap. Terpampang dengan jelas Lambang Universitas yang nanti akan menjadi kampusku. Buku dan Pohon, berlatar warna biru. Salah satu universitas negeri yang populer di jawa barat. Ada sedikit rasa yang mengganjal dan tidak puas karena sebenarnya aku lebih berminat mengabdi di angkatan bersenjata daripada harus berjibaku dengan teori dan buku buku. Kupastikan semua document sudah lengkap dan kumasukan kedalam sebuah map. Ketukan di pintu kamar akhirnya memaksaku meletakan kertas kertas itu dan membukakan pintu.
Suara nenek bergetar dan mata nya berkaca. Tidak tega rasanya melihat nenek seperti ini. Diusia nya yg sudah tua, hanya aku orang yang mampu menjaga nenek setiap hari, selain kakek tentunya. Sedangkan satu satunya anak nenek, yaitu om satrio sudah dipindah tugaskan ke daerah perbatasan yang hanya bisa memberi kabar lewat telephone. Selain itu, om satrio juga sudah berkeluarga dan mempunyai 2 anak, semua cewek. Tetapi kelaurga nya tidak tinggal di Magelang, melainkan di daerah kalimantan sana.
Hari senin pagi yang cerah. Setelah percakapan dengan nenek dan kakek tadi malam, sekarang keraguan ku sudah memudar menyisakan keyakinan. pagi ini aku akan menemui Ratih di sekolah sesuai dengan janji ku lewat sms tadi malam. Aku segera memacu motor menuju ke sekolah setelah berpamitan kepada kakek dan nenek. Kurang lebih 10 menit aku berkendara menembus udara khas Magelang yang sangat bersih dan dingin apalagi dipagi hari. Sesampainya di sekolah langsung ku parkirkan motor dan berjalan menuju bagian TU untuk mengurus hasil Ujian nasional. Setelah di nyatakan lulus 100% pada minggu lalu, kesibukan kita hanya mondar mandir disekolahan untuk mengurus sesuatu ataupun sekedar bertemu dengan teman dan mengenang apa saja yg sudah kita lalui selama 3 tahun ini. Di lorong menuju kantor, seseorang meninju lengan kanan ku dari belakang, aku pun menoleh.
Bayu dan wawan adalah sahabat karibku selama di sekolah ini, Bayu anak IPA sama denganku, sedangkan wawan anak IPS. Bayu si anak basket berperawakan tinggi putih dengan rambut rapih dan tentu saja, bayak kaum hawa terpesona pada nya. Sedangkan wawan berwajah jawa tulen kulit gelap badan tegap, bersama dengan ku kami lebih tertarik bola kaki daripada bola tangan seperti bayu. Mereka dan anak angkatanku sering memanggil ku tentara karena postur tubuh dan gaya rambut ku yang sama dengan prajurit TNI. Aku pun sama sekali tak keberatan dengan sebutan tersebut. Kami pun berjalan bertiga menuju kantor TU.
2 jam aku mengurus document dan semua nya sudah selesai. Tiba-tiba hp ku berbunyi menandakan sebuah panggilan. Kuambil hp dari dalam tas dan nama Ratih tertulis dilayar. Aku tersenyum dan mengangkatnya
Telfon kumatikan dan kutinggal kan 2 teman ku yang masih sibuk. aku pun berlari ke kantin. Sesampainya di kantin aku langsung menuju dimana Ratih biasanya duduk, pagi ini kantin tak begitu ramai, hanya ada beberapa murid kelas 3 yg sedang duduk dudduk.
Ratih melanjutkan memakan bakso nya. Ratih, cewek yang menurut ku manis, tinggi nya seleherku, kulit putih berkacamata. Dia adalah murid terpandai di jurusan IPA. kami berteman akrab sejak SD karena kami memang satu komplek dan kakek nenek juga dekat dengan kedua orang tua Ratih. Kakek nenek sudah menganggapnya cucu sendiri.
Kucubit pipi nya dan dia hanya membalas dengan senyuman manisnya. Kami memang sudah terbiasa seperti ini. Teman teman sering menganggap kami lebih dari sekedar teman. Setelah makan kami lanjutkan ngobrol dan bertemu dengan teman lainnya yang kebetulan hari itu dateng ke sekolah. Sebelum dzuhur kami membubarkan diri dan kembali kerumah masing2.
Aku langsung menuju ke parkiran motor dan langsung meraih helm half face dan bersiap pulang kerumah. Ku jalan kan motorku pelan menuju gerbang sekolah. Deg, baru saja sampai di depan gerbang, mataku langsung tertuju pada sosok yang turun dari sebuah mobil yg baru saja berhenti. Dia adalah sosok yang secara diam diam aku menaruh hati padanya. Mata kami bertemu dan dia sukses membuat aku gugup. Gugup yang sudah 2 tahun ini aku rasakan bila bertemu. Cewek yang selama 2 tahun aku kagumi dan menyayangi nya diam diam. Dia berjalan ke arah ku. Ku hentikan sepeda motorku tepat didepan nya.
Kebahagiaan hidup, sering aku berpikir, apakah aku sudah bahagia selama ini? Apakah aku bisa lebih bahagia dari ini? Aku masih belum bisa menemukan jawaban dari 2 pernyataan itu. Orang bilang, bahagia itu sederhana. Semua nya tergantung definisi bahagia dan sederhana, dan definisi dari 2 kata tersebut selalu berbeda pada setiap orang. Bahagia itu ketika kita bisa berkumpul bersama keluarga dalam keadaan sehat tanpa kurang suatu apapun. Lagi-lagi pernyataan itu membuatku bertanya, bagaimana aku bisa merasakan kebahagian keluarga? Sedangkan ayah dan ibu pun aku tak punya. Tapi aku selalu memakai definisi bahagia dari kakek “le, bahagia itu bersyukur, banyak banyak bersyukur dengan apa yang sudah dituliskan Gusti Allah”. Ya, aku sangat bersyukur mempunyai Kakek dan nenek yang mau mengasuh ku walaupun tiada darah mengalir di antara kita. nenek dengan kasih sayang nya dan kakek dengan pembelajaran hidup nya. Aku sangat bersyukur, tapi belum tentu aku bahagia.
Hari sudah gelap pada saat kami pulang dari mengantar pesanan bibit. Aku langsung bergegas ke kamar mandi membersihkan badan dan wudhu. Setelah sholat isya aku hanya merapikan document yang akan aku bawa pada saat masuk kuliah bulan depan. Membolak balik kertas dan mengecek apakah sudah lengkap. Terpampang dengan jelas Lambang Universitas yang nanti akan menjadi kampusku. Buku dan Pohon, berlatar warna biru. Salah satu universitas negeri yang populer di jawa barat. Ada sedikit rasa yang mengganjal dan tidak puas karena sebenarnya aku lebih berminat mengabdi di angkatan bersenjata daripada harus berjibaku dengan teori dan buku buku. Kupastikan semua document sudah lengkap dan kumasukan kedalam sebuah map. Ketukan di pintu kamar akhirnya memaksaku meletakan kertas kertas itu dan membukakan pintu.
Quote:
Suara nenek bergetar dan mata nya berkaca. Tidak tega rasanya melihat nenek seperti ini. Diusia nya yg sudah tua, hanya aku orang yang mampu menjaga nenek setiap hari, selain kakek tentunya. Sedangkan satu satunya anak nenek, yaitu om satrio sudah dipindah tugaskan ke daerah perbatasan yang hanya bisa memberi kabar lewat telephone. Selain itu, om satrio juga sudah berkeluarga dan mempunyai 2 anak, semua cewek. Tetapi kelaurga nya tidak tinggal di Magelang, melainkan di daerah kalimantan sana.
Quote:
Hari senin pagi yang cerah. Setelah percakapan dengan nenek dan kakek tadi malam, sekarang keraguan ku sudah memudar menyisakan keyakinan. pagi ini aku akan menemui Ratih di sekolah sesuai dengan janji ku lewat sms tadi malam. Aku segera memacu motor menuju ke sekolah setelah berpamitan kepada kakek dan nenek. Kurang lebih 10 menit aku berkendara menembus udara khas Magelang yang sangat bersih dan dingin apalagi dipagi hari. Sesampainya di sekolah langsung ku parkirkan motor dan berjalan menuju bagian TU untuk mengurus hasil Ujian nasional. Setelah di nyatakan lulus 100% pada minggu lalu, kesibukan kita hanya mondar mandir disekolahan untuk mengurus sesuatu ataupun sekedar bertemu dengan teman dan mengenang apa saja yg sudah kita lalui selama 3 tahun ini. Di lorong menuju kantor, seseorang meninju lengan kanan ku dari belakang, aku pun menoleh.
Quote:
Bayu dan wawan adalah sahabat karibku selama di sekolah ini, Bayu anak IPA sama denganku, sedangkan wawan anak IPS. Bayu si anak basket berperawakan tinggi putih dengan rambut rapih dan tentu saja, bayak kaum hawa terpesona pada nya. Sedangkan wawan berwajah jawa tulen kulit gelap badan tegap, bersama dengan ku kami lebih tertarik bola kaki daripada bola tangan seperti bayu. Mereka dan anak angkatanku sering memanggil ku tentara karena postur tubuh dan gaya rambut ku yang sama dengan prajurit TNI. Aku pun sama sekali tak keberatan dengan sebutan tersebut. Kami pun berjalan bertiga menuju kantor TU.
2 jam aku mengurus document dan semua nya sudah selesai. Tiba-tiba hp ku berbunyi menandakan sebuah panggilan. Kuambil hp dari dalam tas dan nama Ratih tertulis dilayar. Aku tersenyum dan mengangkatnya
Quote:
Telfon kumatikan dan kutinggal kan 2 teman ku yang masih sibuk. aku pun berlari ke kantin. Sesampainya di kantin aku langsung menuju dimana Ratih biasanya duduk, pagi ini kantin tak begitu ramai, hanya ada beberapa murid kelas 3 yg sedang duduk dudduk.
Quote:
Ratih melanjutkan memakan bakso nya. Ratih, cewek yang menurut ku manis, tinggi nya seleherku, kulit putih berkacamata. Dia adalah murid terpandai di jurusan IPA. kami berteman akrab sejak SD karena kami memang satu komplek dan kakek nenek juga dekat dengan kedua orang tua Ratih. Kakek nenek sudah menganggapnya cucu sendiri.
Quote:
Kucubit pipi nya dan dia hanya membalas dengan senyuman manisnya. Kami memang sudah terbiasa seperti ini. Teman teman sering menganggap kami lebih dari sekedar teman. Setelah makan kami lanjutkan ngobrol dan bertemu dengan teman lainnya yang kebetulan hari itu dateng ke sekolah. Sebelum dzuhur kami membubarkan diri dan kembali kerumah masing2.
Quote:
Aku langsung menuju ke parkiran motor dan langsung meraih helm half face dan bersiap pulang kerumah. Ku jalan kan motorku pelan menuju gerbang sekolah. Deg, baru saja sampai di depan gerbang, mataku langsung tertuju pada sosok yang turun dari sebuah mobil yg baru saja berhenti. Dia adalah sosok yang secara diam diam aku menaruh hati padanya. Mata kami bertemu dan dia sukses membuat aku gugup. Gugup yang sudah 2 tahun ini aku rasakan bila bertemu. Cewek yang selama 2 tahun aku kagumi dan menyayangi nya diam diam. Dia berjalan ke arah ku. Ku hentikan sepeda motorku tepat didepan nya.
Quote:
Diubah oleh lieutenant.dan 11-06-2016 19:28
0