TS
mabdulkarim
Kumpulan cerita Karim
ini thread digunakan selain cerita random world, ini merupakan kumpulan cerita ane yang kagak perlu di jadiin thread..
denah STM Panzer
Quote:
War, new imperilism, industrial age:Hetazania Dacians
genre: strategi, aksi, politik
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14.
15
genre: strategi, aksi, politik
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14.
15
Quote:
Naninu
genre: komedi
Naninu:Memory
Naninu:Masih dunia paling lain
Naninu:Cerita paling amburadul
Naninu-panzer short story
genre: komedi
Naninu:Memory
Naninu:Masih dunia paling lain
Naninu:Cerita paling amburadul
Naninu-panzer short story
Quote:
STM Panzer
genre: komedi
STM Panzer: Supranatural
Naninu-Panzer short story
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 1/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 2/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan 3/3
STM Panzer= melawan gaib 1/2
STM Panzer= melawan gaib 2/2:
genre: komedi
STM Panzer: Supranatural
Naninu-Panzer short story
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 1/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan bagian 2/3
STM Panzer: Pekerjaan sambilan 3/3
STM Panzer= melawan gaib 1/2
STM Panzer= melawan gaib 2/2:
Quote:
STM Panzer x Naninu: Laknad project (masuk kategori lain di polling
)
Genre: Aksi, gore, sci fic, silat,komedi, petualangan
prolog
1
2
3
4
5
6
)Genre: Aksi, gore, sci fic, silat,komedi, petualangan
prolog
1
2
3
4
5
6
Quote:
Lain-lainnya
Jung Kosim
Jung Kosim
denah STM Panzer
Polling
0 suara
Lebih suka cerita apa?
Diubah oleh mabdulkarim 08-06-2016 18:42
0
8.1K
Kutip
69
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•356Anggota
Tampilkan semua post
TS
mabdulkarim
#69
Spoiler for Jung Kosim:
Jung Kosim
Kakekku selalu menceritakan hal ini padaku sebelum tidur: sekitar ribuan tahun lalu, kapal-kapal Jung seperti kapalku ini mengarungi samudra luas nan ganas untuk mencapai Tiongkok, India, Arab, dan pantai Afrika Timur bahkan Madagaskar selama ribuan tahun. Keahlian bangsa ini menguasai laut membuat kerajaan-kerajaan maritim seperti Sriwijaya, Singhasari, dan Majapahit disegani banyak bangsa karena merupakan penguasa laut selatan, sebanding dengan Tiongkok penguasa laut utara. Ketika Majapahit runtuh, Demak melanjutkan dominasi maritim yang cukup singkat dan berakhir selamanya karena Panjang masuk ke dalam pedalaman yang juga mematikan wawasan kemaritiman Jawa. Namun kerajaan-kerajaan Nusantara masih berwawasan maritim seperti halnya berkuasa perdagangan dan dilanjutkan oleh Banten, Aceh, Makassar, Ternate dan Tidore. Tapi perlahan-lahan, negeri-negeri tersebut takluk oleh Belanda sehingga para pelaut Nusantara hanya duduk diam di atas kapal menonton frigate-frigate Belanda menguasai laut.
Indonesia sudah merdeka, tapi negeri ini masih berporos daratan selama puluhan tahun. berapa tahun belakangan ini Indonesia mulai kembali fokus menjadi negeri maritim seperti Majapahit dan Sriwijaya. Aku senang dengan Indonesia kembali menjadi negara maritim dan dengan kapal ini, aku akan mengarungi laut luas ini untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi bangsa maritim.
“Kakek, kalau kau masih hidup lihatlah aku sekarang!” gumamku sembari mengemudikan kemudi. Kakekku adalah seorang pelaut handal yang membantu negara mempertahankan kemerdekaan dengan membantu para pejuang pindah dari Bali-Jawa lewat kapal Pinisi-nya. Pasti dia senang bukan main kalau belayar bersamaku.
“Sadar oi, Kosim! Mbah Taqiyuddin sudah wafat 10 tahun lalu!” celetuk Hendra, sahabatku dari SD yang merangkap juga sebagai wakilku.
“Aku tahu, Hen. Tak usah keras-keras juga,” balas aku tersenyum tipis. “Lebih baik kau suruh anak buah kita atur layar karena angin mulai berubah haluan.”
“Oke” kata Hendra lalu pergi menghampiri anak buahnya yang sedang main ponsel di geladak. Dengan kerasnya, ia langsung memperintahkan mereka untuk mengatur layar. Ah, aku jadi ingat beberapa minggu lalu saat Hendra berdiri di ujung depan kapal sambil mendengarkan lagu Titanic yang diputarkan anak buahnya dan memeluk bantal panjang di sore hari. Mengkhayal kali ya lagi berduaan dengan istrinya.
Kapal ini merupakan kapal replika jung yang ada di relief candi Borobudur dan aku berikan modifikasi sehingga kapal ini agak beda dari kapal-kapal jung lainnya. Kapal ini lumayan besar dan sebanding dengan beberapa kapal Nusantara seperti Padekawang dan Pinisi. Terbuat dari kayu jati terbaik yang tak memakai paku untuk menghayati dunia pelayaran para leluhur. Karena tak memakai mesin jadinya kapal ini hanya bisa bergerak kalau angin ada.
Kalau ditanya apakah kapal ini merupakan kapal ekspedisi sejarah akan kujawab tidak! Aku membuat kapal ini secara pribadi untuk memenuhi hasratku belayar mengarungi samudra. Tak murah membuat kapal ini dan memakan waktu 3 tahun untuk merealisasikan impianku yang semenjak SD karena perlu adanya riset, dana, dan kru-krunya. Riset ditangani aku sendiri yang belajar dari para sejarawan ternama dan tukang bikin kapal seperti Hendra –yang ikut ekspedisi ini untuk menjadi pelaut. Kalau dana aku pakai uang tabunganku yang sumber duitnya 60% dari penghasilanku sebagai novelis, juragan restoran di Semarang, Demak, dan Lasem, dan perantara penjual tanah di Pantura Jawa. Sisanya dari sumbangan para pencinta kapal. Oh ya, kru-kru kapal ini terdiri dari 30 orang dan merupakan para peluat handal dari Bugis yang aslinya para nelayan miskin di daerah Wajo. Harus kuakui keahlian mereka mengatur kapal ini lebih jago sehingga aku banyak belajar dari mereka soal dunia maritim dalam praktek lapangannya.
Sudah lebih dari lima bulan ini aku dan kru-kru belayar. Titik awal kami memulai petualangan laut ini di Tuban dan mulai mengarungi laut Jawa ke barat menjelajahi selat Malaka. Setelah sampai di Aceh, kami mulai bergerak balik ke timur untuk menunjungi daerah Nusa Tenggara, Maluku, dan kepulauan Talaud dan Sangihe. Di sepanjang perjalanan, aku sering menyewakan kapal ini untuk tumpangan atau sekedar menikmati bagaimana belayar memakai jung. Terkadang juga aku mendapatkan hibah dari pemerintah setempat yang menanggap kami melestarikan kemaritiman Nusantara. Lumayan uangnya buat makan kru-kru, perawatan kapal, dan beli novel dan komik.
Dua hari lalu, kami baru saja meninggalkan Sangihe dan bergerak ke Palawan. Untuk pertama kalinya, kami akan pergi ke negeri lain setelah mengelilingi seluruh daerah Indonesia timur. Rencananya kami akan pergi ke Hongkong, Shanghai, Seoul, Osaka, dan melintasi Pasifik untuk mencapai San Fransisco sebagai titik akhir dari ekspedisi kami. Ekspedisi ini kira-kira akan memakan waktu sekitar dua-tiga bulan dan setelah semuanya berakhir, aku dan semua anak buah akan pulang.
“Kalau sudah selesai ekspedisi ini, aku akan membukukan kisah-kisah belayarku ke buku. Pasti laku dipasaran,” pikirku sedikit senang. “Nantinya akan jadi film, tapi kayaknya tak seru kalau ceritanya damai-damai saja.”
“B-Bajak laut!” teriak panik seorang kru yang ada di tiang tertinggi kapal. Semua orang di kapal ini terkejut bukan main termasuk aku.
“Bohong!” seru aku tak percaya. Ini bukan April Fool’s!
“Lihat saja sendiri, kapten!” kata kru tersebut menuruni tiang. “15 bergerakke arah kita dari utara. Mereka bersenjatakan RPG dan senapan serbu!”
Aku langsung mengeluarkan teropongku dan melihat ke utara. Aku mengeleng-geleng tak percaya. Lanun! bajak laut! Tapi kok bisa? Memangnya ini Somalia atau selat Malaka? Oh ya, kalau tidak salah aku berada di laut Sulawesi dan jarak kapal ini dengan daerah Sulu lumayan dekat sih, mungkin sekitar sepuluh mil. Aku jadi ingat kalau banyak kejadian pembajakan kapal di daerah Sulu beberapa bulan terakhir sehingga membuat pelayaran lewat Sulu dilarang oleh aparat, tapi aku lupa soal itu dan para anak buah juga tak ada yang ingat kalau Sulu banyak pembajakan. Ah, aku ingat cerita kakekku
“H-Hendra, kita harus bagaimana? Mengaku kalau kita raja bajak laut?” tanyaku cemas.
“B-Belayar ke barat laut. Secepatnya kita harus masuk ke teritori Indonesia agar mereka tak mengejar kita,” jelas cepat Hendra. “Sim, jangan bercanda One Piece! Ini kondisi genting!”
“O-Oke.”
Dengan cekatan, semua kruku mengubah arah layar dan kami mulai bergerak ke arah barat lautu. Arah angin juga sudah berubah ke selatan sehingga kemungkinan kabur dengan selamat terbuka sedikit. Tapi aku ragu apakah kami bakal selamat mengingatspeedboatmereka cukup cepat? Ah, bukan saatnya untuk melamun. Saat untuk kabur!
Aku langsung mengemudikan kapal ini dengan lihai. Hendra terus memerintahkan anak buahnya untuk bersiap-siap untuk bertempur kalau musuh sudah dekat. Persenjataan di kapal ini ada tapi cuma pisau, badik, dan parang saja. Tak akan mungkin bisa menandingi rentetan senapan bajak laut tersebut terlebih RPG. Sekali tembak ke kapal ini, nyawa aku dan semua kru melayang.
Kapal ini bergerak cepat ke selatan. Para bajak laut terus mengejar kami dengan kecepatan tinggi. Mereka beberapa kali mencoba menembaki kami, tapi beruntung tak ada yang kena, sepertinya. Jarak kami dengan mereka mulai sedikit jauh, tapi tak ada jaminan kalau kami bakal selamat. Semoga bensin mereka habis, amin!
“Harusnya kau kasih tahu aku kalau kita mau lewat Sulu,” kata Hendra sedikit kesal. “Kalau kau mengasih tahuku dari kemarin pas kita dekat Sangihe, pasti akan kurekomendasikan jalur timur Mindanau.”
“Maaf, kelupaan,” kataku mencoba bersikap tak bersalah. “Kelupaan kalau Sulu banyak masalah. Lagi pula tak ada yang mengingatkan aku.”
“Aku tak pegang GPS karena yang pegang kau jadi aku hanya ikuti perintah kamu saja,” terang Hendra kesal. “Harusnya kau berdiskusi kepada aku untuk menentukan rute seperti yang waktu kita di daerah kepulauan Riau. Salah rute kita ketemu bajak laut!”
“Harusnya aku tak ikut ekspedisi gilamu ini,” gumam Hendra kedengaran. Tapi kamu menikmatinya kan?
“Iya, tapi aku heran kenapa di daerah ini aku tak menemukan kapal-kapal TNI?”
“Mungkin belum saatnya kita tak ketemu,” ujar Hendra. “Semoga kita ketemu mereka untuk diberikan perlindungan.”
“Hen, apakah kita bisa menggunakan meriam-meriam kecil itu?” tanya aku sembari menunjuk beberapa replika cetbang yang terpasang di geladak kapal. Cetbang merupakan meriam kapal pra-Eropa yang dipakai Majapahit dan aku memerintahkan Hendra untuk membuat cetbang-cetbang tersebut. Dengan memakai cetbang, orang-orang akan tertarik menaiki kapal kami dan juga aku bisa merasakan bagaimana menjadi pelaut zaman Majapahit.
“Sebenarnya itu replika yang kubuat dari tembaga. Kalau digunakan bisa juga sih, tapi kita tak punya meriam ataupun belerang,” jelas Hendra.
“Kita punya beberapa bir, korek, dan...”
“Kau benar-benar serius mau menembaki mereka dengan cetbang?” tanya Hendra memastikan.
Aku menangguk. “Angin tak akan selamanya mendukung kita. Mereka terus mengejar kita dan satu-satunya harapan adalah melawan dengan cetbang.”
“Tapi apakah kau tahu cara membuat tembakan dari bir dan korek?”
“Tidak,” geleng aku tak tahu karena aku jelek kimianya pas SMA. Hendra langsung menepuk jidatnya dan pergi meninggalkanku. Entah dia mau melakukan apa kepada cetbang-cetbang tersebut. Terlihat ia mengeluarkan beberapa petasan dari tas rangkul besarnya yang selalu ia bawa-bawa dan memasukannya kedalam cetbang dengan dibantu beberapa anak buahku. Oh tidak, apakah hatinya sudah tergerak? Alhamdullilah. Tapi bagaimana bisa ada petasan di tasnya Hendra? Oh ya, aku ingat kalau ia beli banyak petasan di Manado beberapa waktu lalu, tapi apakah Hendra tak takut kalau barang-barang tersebut disita petugas negara lain?
“Tembak!” teriak Hendra dan cetbang-cetbang yang sudah diarahkan ke para bajak laut ditembakan oleh para kru. Ledakan cetbang cukup keras dan membuat semua orang di kapal ini mesti menutup telinganya. Tembakan tersebut banyak yang mengenai sasaran dan ada juga yang meleset mengingat jarak tembak yang tak pasti. Tembakan tersebut mampu meledakan beberapaspeedboatdan juga menjatuhkan para pengendaranya. Ah, aku jadi ingat perang mercon pas malam ramadan saat aku SD kelas 6 kalau melihat tembakan-tembakan tersebut.
“Tembak terus!” perintah Hendra. Tembakan terus dilancarkan dan membuat para bajak laut membalasnya dengan tembakan membabi buta. Beberapa anak buahku terkena dan mesti dibawa ke kabin untuk perawatan serius dengan obat seadanya.
Para bajak laut mulai bergerak menjauh untuk menghindari tembakan kami. Hendra memerintahkan semua anak buah untuk berhenti menembak untuk menghemat petasan yang mulai menipis. Dari teropong, aku melihat para bajak laut yang tinggal seperlima dari sebelumnya meninggalkan tempat ini dan sepertinya mereka sudah menyerah.
Semua orang bersorak ria. Aku langsung sujud syukur kepada Allah karena kami selamat, tapi perjuangan kami harus mengorbankan delapan orang tewas dan lima belas terluka parah.
“Beruntung aku bawa petasan. Kalau tidak kita sudah ditawan mereka dan minta uang tebusan, dan kita bakal dipenggal karena siapa yang mau bayar!” Hendra tertawa kecil.
“Tapi kenapa tidak dari awal kita menyerang mereka?” tanyaku heran.
“Karena aku tak yakin apakah cetbang-cetbang tersebut mampu menjadi meriam dan kekhawatiranku kalau cetbang malah meledak kalau dicoba cukup besar. Tapi berkat ide gilamu, aku ikut-ikutan jadi gila,” jelas Hendra. “Ngomong-ngomong di mana kita sekarang?”
Aku membuka GPS dan melihat kami berada 25 mil dari Tarakan. Sepertinya akan lebih baik bermalam di Tarakan.
“Langit sudah memerah dan Hendra, perintah anak buah kita untuk bergerak ke arah tenggara menuju Tarakan.”
“Baik, kapten!” Hendra seraya pergi ke tengah geladak. Sepertinya pertempuran hari ini akan menjadi cerita seru di novelku. Oh ya, kenapa aku tak rekam pertempuran tadi! Aduh, bodohnya diriku! Kalau aku rekam pasti video tersebut ditonton jutaan orang dan aku bisa dapat duit dari iklan video-videoku.
Kakekku selalu menceritakan hal ini padaku sebelum tidur: sekitar ribuan tahun lalu, kapal-kapal Jung seperti kapalku ini mengarungi samudra luas nan ganas untuk mencapai Tiongkok, India, Arab, dan pantai Afrika Timur bahkan Madagaskar selama ribuan tahun. Keahlian bangsa ini menguasai laut membuat kerajaan-kerajaan maritim seperti Sriwijaya, Singhasari, dan Majapahit disegani banyak bangsa karena merupakan penguasa laut selatan, sebanding dengan Tiongkok penguasa laut utara. Ketika Majapahit runtuh, Demak melanjutkan dominasi maritim yang cukup singkat dan berakhir selamanya karena Panjang masuk ke dalam pedalaman yang juga mematikan wawasan kemaritiman Jawa. Namun kerajaan-kerajaan Nusantara masih berwawasan maritim seperti halnya berkuasa perdagangan dan dilanjutkan oleh Banten, Aceh, Makassar, Ternate dan Tidore. Tapi perlahan-lahan, negeri-negeri tersebut takluk oleh Belanda sehingga para pelaut Nusantara hanya duduk diam di atas kapal menonton frigate-frigate Belanda menguasai laut.
Indonesia sudah merdeka, tapi negeri ini masih berporos daratan selama puluhan tahun. berapa tahun belakangan ini Indonesia mulai kembali fokus menjadi negeri maritim seperti Majapahit dan Sriwijaya. Aku senang dengan Indonesia kembali menjadi negara maritim dan dengan kapal ini, aku akan mengarungi laut luas ini untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi bangsa maritim.
“Kakek, kalau kau masih hidup lihatlah aku sekarang!” gumamku sembari mengemudikan kemudi. Kakekku adalah seorang pelaut handal yang membantu negara mempertahankan kemerdekaan dengan membantu para pejuang pindah dari Bali-Jawa lewat kapal Pinisi-nya. Pasti dia senang bukan main kalau belayar bersamaku.
“Sadar oi, Kosim! Mbah Taqiyuddin sudah wafat 10 tahun lalu!” celetuk Hendra, sahabatku dari SD yang merangkap juga sebagai wakilku.
“Aku tahu, Hen. Tak usah keras-keras juga,” balas aku tersenyum tipis. “Lebih baik kau suruh anak buah kita atur layar karena angin mulai berubah haluan.”
“Oke” kata Hendra lalu pergi menghampiri anak buahnya yang sedang main ponsel di geladak. Dengan kerasnya, ia langsung memperintahkan mereka untuk mengatur layar. Ah, aku jadi ingat beberapa minggu lalu saat Hendra berdiri di ujung depan kapal sambil mendengarkan lagu Titanic yang diputarkan anak buahnya dan memeluk bantal panjang di sore hari. Mengkhayal kali ya lagi berduaan dengan istrinya.
Kapal ini merupakan kapal replika jung yang ada di relief candi Borobudur dan aku berikan modifikasi sehingga kapal ini agak beda dari kapal-kapal jung lainnya. Kapal ini lumayan besar dan sebanding dengan beberapa kapal Nusantara seperti Padekawang dan Pinisi. Terbuat dari kayu jati terbaik yang tak memakai paku untuk menghayati dunia pelayaran para leluhur. Karena tak memakai mesin jadinya kapal ini hanya bisa bergerak kalau angin ada.
Kalau ditanya apakah kapal ini merupakan kapal ekspedisi sejarah akan kujawab tidak! Aku membuat kapal ini secara pribadi untuk memenuhi hasratku belayar mengarungi samudra. Tak murah membuat kapal ini dan memakan waktu 3 tahun untuk merealisasikan impianku yang semenjak SD karena perlu adanya riset, dana, dan kru-krunya. Riset ditangani aku sendiri yang belajar dari para sejarawan ternama dan tukang bikin kapal seperti Hendra –yang ikut ekspedisi ini untuk menjadi pelaut. Kalau dana aku pakai uang tabunganku yang sumber duitnya 60% dari penghasilanku sebagai novelis, juragan restoran di Semarang, Demak, dan Lasem, dan perantara penjual tanah di Pantura Jawa. Sisanya dari sumbangan para pencinta kapal. Oh ya, kru-kru kapal ini terdiri dari 30 orang dan merupakan para peluat handal dari Bugis yang aslinya para nelayan miskin di daerah Wajo. Harus kuakui keahlian mereka mengatur kapal ini lebih jago sehingga aku banyak belajar dari mereka soal dunia maritim dalam praktek lapangannya.
Sudah lebih dari lima bulan ini aku dan kru-kru belayar. Titik awal kami memulai petualangan laut ini di Tuban dan mulai mengarungi laut Jawa ke barat menjelajahi selat Malaka. Setelah sampai di Aceh, kami mulai bergerak balik ke timur untuk menunjungi daerah Nusa Tenggara, Maluku, dan kepulauan Talaud dan Sangihe. Di sepanjang perjalanan, aku sering menyewakan kapal ini untuk tumpangan atau sekedar menikmati bagaimana belayar memakai jung. Terkadang juga aku mendapatkan hibah dari pemerintah setempat yang menanggap kami melestarikan kemaritiman Nusantara. Lumayan uangnya buat makan kru-kru, perawatan kapal, dan beli novel dan komik.
Dua hari lalu, kami baru saja meninggalkan Sangihe dan bergerak ke Palawan. Untuk pertama kalinya, kami akan pergi ke negeri lain setelah mengelilingi seluruh daerah Indonesia timur. Rencananya kami akan pergi ke Hongkong, Shanghai, Seoul, Osaka, dan melintasi Pasifik untuk mencapai San Fransisco sebagai titik akhir dari ekspedisi kami. Ekspedisi ini kira-kira akan memakan waktu sekitar dua-tiga bulan dan setelah semuanya berakhir, aku dan semua anak buah akan pulang.
“Kalau sudah selesai ekspedisi ini, aku akan membukukan kisah-kisah belayarku ke buku. Pasti laku dipasaran,” pikirku sedikit senang. “Nantinya akan jadi film, tapi kayaknya tak seru kalau ceritanya damai-damai saja.”
“B-Bajak laut!” teriak panik seorang kru yang ada di tiang tertinggi kapal. Semua orang di kapal ini terkejut bukan main termasuk aku.
“Bohong!” seru aku tak percaya. Ini bukan April Fool’s!
“Lihat saja sendiri, kapten!” kata kru tersebut menuruni tiang. “15 bergerakke arah kita dari utara. Mereka bersenjatakan RPG dan senapan serbu!”
Aku langsung mengeluarkan teropongku dan melihat ke utara. Aku mengeleng-geleng tak percaya. Lanun! bajak laut! Tapi kok bisa? Memangnya ini Somalia atau selat Malaka? Oh ya, kalau tidak salah aku berada di laut Sulawesi dan jarak kapal ini dengan daerah Sulu lumayan dekat sih, mungkin sekitar sepuluh mil. Aku jadi ingat kalau banyak kejadian pembajakan kapal di daerah Sulu beberapa bulan terakhir sehingga membuat pelayaran lewat Sulu dilarang oleh aparat, tapi aku lupa soal itu dan para anak buah juga tak ada yang ingat kalau Sulu banyak pembajakan. Ah, aku ingat cerita kakekku
“H-Hendra, kita harus bagaimana? Mengaku kalau kita raja bajak laut?” tanyaku cemas.
“B-Belayar ke barat laut. Secepatnya kita harus masuk ke teritori Indonesia agar mereka tak mengejar kita,” jelas cepat Hendra. “Sim, jangan bercanda One Piece! Ini kondisi genting!”
“O-Oke.”
Dengan cekatan, semua kruku mengubah arah layar dan kami mulai bergerak ke arah barat lautu. Arah angin juga sudah berubah ke selatan sehingga kemungkinan kabur dengan selamat terbuka sedikit. Tapi aku ragu apakah kami bakal selamat mengingatspeedboatmereka cukup cepat? Ah, bukan saatnya untuk melamun. Saat untuk kabur!
Aku langsung mengemudikan kapal ini dengan lihai. Hendra terus memerintahkan anak buahnya untuk bersiap-siap untuk bertempur kalau musuh sudah dekat. Persenjataan di kapal ini ada tapi cuma pisau, badik, dan parang saja. Tak akan mungkin bisa menandingi rentetan senapan bajak laut tersebut terlebih RPG. Sekali tembak ke kapal ini, nyawa aku dan semua kru melayang.
Kapal ini bergerak cepat ke selatan. Para bajak laut terus mengejar kami dengan kecepatan tinggi. Mereka beberapa kali mencoba menembaki kami, tapi beruntung tak ada yang kena, sepertinya. Jarak kami dengan mereka mulai sedikit jauh, tapi tak ada jaminan kalau kami bakal selamat. Semoga bensin mereka habis, amin!
“Harusnya kau kasih tahu aku kalau kita mau lewat Sulu,” kata Hendra sedikit kesal. “Kalau kau mengasih tahuku dari kemarin pas kita dekat Sangihe, pasti akan kurekomendasikan jalur timur Mindanau.”
“Maaf, kelupaan,” kataku mencoba bersikap tak bersalah. “Kelupaan kalau Sulu banyak masalah. Lagi pula tak ada yang mengingatkan aku.”
“Aku tak pegang GPS karena yang pegang kau jadi aku hanya ikuti perintah kamu saja,” terang Hendra kesal. “Harusnya kau berdiskusi kepada aku untuk menentukan rute seperti yang waktu kita di daerah kepulauan Riau. Salah rute kita ketemu bajak laut!”
“Harusnya aku tak ikut ekspedisi gilamu ini,” gumam Hendra kedengaran. Tapi kamu menikmatinya kan?
“Iya, tapi aku heran kenapa di daerah ini aku tak menemukan kapal-kapal TNI?”
“Mungkin belum saatnya kita tak ketemu,” ujar Hendra. “Semoga kita ketemu mereka untuk diberikan perlindungan.”
“Hen, apakah kita bisa menggunakan meriam-meriam kecil itu?” tanya aku sembari menunjuk beberapa replika cetbang yang terpasang di geladak kapal. Cetbang merupakan meriam kapal pra-Eropa yang dipakai Majapahit dan aku memerintahkan Hendra untuk membuat cetbang-cetbang tersebut. Dengan memakai cetbang, orang-orang akan tertarik menaiki kapal kami dan juga aku bisa merasakan bagaimana menjadi pelaut zaman Majapahit.
“Sebenarnya itu replika yang kubuat dari tembaga. Kalau digunakan bisa juga sih, tapi kita tak punya meriam ataupun belerang,” jelas Hendra.
“Kita punya beberapa bir, korek, dan...”
“Kau benar-benar serius mau menembaki mereka dengan cetbang?” tanya Hendra memastikan.
Aku menangguk. “Angin tak akan selamanya mendukung kita. Mereka terus mengejar kita dan satu-satunya harapan adalah melawan dengan cetbang.”
“Tapi apakah kau tahu cara membuat tembakan dari bir dan korek?”
“Tidak,” geleng aku tak tahu karena aku jelek kimianya pas SMA. Hendra langsung menepuk jidatnya dan pergi meninggalkanku. Entah dia mau melakukan apa kepada cetbang-cetbang tersebut. Terlihat ia mengeluarkan beberapa petasan dari tas rangkul besarnya yang selalu ia bawa-bawa dan memasukannya kedalam cetbang dengan dibantu beberapa anak buahku. Oh tidak, apakah hatinya sudah tergerak? Alhamdullilah. Tapi bagaimana bisa ada petasan di tasnya Hendra? Oh ya, aku ingat kalau ia beli banyak petasan di Manado beberapa waktu lalu, tapi apakah Hendra tak takut kalau barang-barang tersebut disita petugas negara lain?
“Tembak!” teriak Hendra dan cetbang-cetbang yang sudah diarahkan ke para bajak laut ditembakan oleh para kru. Ledakan cetbang cukup keras dan membuat semua orang di kapal ini mesti menutup telinganya. Tembakan tersebut banyak yang mengenai sasaran dan ada juga yang meleset mengingat jarak tembak yang tak pasti. Tembakan tersebut mampu meledakan beberapaspeedboatdan juga menjatuhkan para pengendaranya. Ah, aku jadi ingat perang mercon pas malam ramadan saat aku SD kelas 6 kalau melihat tembakan-tembakan tersebut.
“Tembak terus!” perintah Hendra. Tembakan terus dilancarkan dan membuat para bajak laut membalasnya dengan tembakan membabi buta. Beberapa anak buahku terkena dan mesti dibawa ke kabin untuk perawatan serius dengan obat seadanya.
Para bajak laut mulai bergerak menjauh untuk menghindari tembakan kami. Hendra memerintahkan semua anak buah untuk berhenti menembak untuk menghemat petasan yang mulai menipis. Dari teropong, aku melihat para bajak laut yang tinggal seperlima dari sebelumnya meninggalkan tempat ini dan sepertinya mereka sudah menyerah.
Semua orang bersorak ria. Aku langsung sujud syukur kepada Allah karena kami selamat, tapi perjuangan kami harus mengorbankan delapan orang tewas dan lima belas terluka parah.
“Beruntung aku bawa petasan. Kalau tidak kita sudah ditawan mereka dan minta uang tebusan, dan kita bakal dipenggal karena siapa yang mau bayar!” Hendra tertawa kecil.
“Tapi kenapa tidak dari awal kita menyerang mereka?” tanyaku heran.
“Karena aku tak yakin apakah cetbang-cetbang tersebut mampu menjadi meriam dan kekhawatiranku kalau cetbang malah meledak kalau dicoba cukup besar. Tapi berkat ide gilamu, aku ikut-ikutan jadi gila,” jelas Hendra. “Ngomong-ngomong di mana kita sekarang?”
Aku membuka GPS dan melihat kami berada 25 mil dari Tarakan. Sepertinya akan lebih baik bermalam di Tarakan.
“Langit sudah memerah dan Hendra, perintah anak buah kita untuk bergerak ke arah tenggara menuju Tarakan.”
“Baik, kapten!” Hendra seraya pergi ke tengah geladak. Sepertinya pertempuran hari ini akan menjadi cerita seru di novelku. Oh ya, kenapa aku tak rekam pertempuran tadi! Aduh, bodohnya diriku! Kalau aku rekam pasti video tersebut ditonton jutaan orang dan aku bisa dapat duit dari iklan video-videoku.
0
Kutip
Balas